Ibu Asih dan ibu Imelda terlihat sangat senang datang berkunjung ke rumah Terryn. Mereka datang membawakan buah-buahan serta stok cemilan untuk Terryn. keduanya masih berbincang dengan seru ketika turun dari mobil.
Bergantian mereka mengucapkan salam, ibu Asih dan ibu Imelda saling bertukar pandangan ketika pintu rumah terbuka dengan lebar tapi tak satu pun ada yang menyahuti salam mereka.
“Yiiin … Ini Ibu datang, kamu di mana, Nak?” ibu Asih mengetuk pintu kamarnya dan membukanya sedikit , tidak ada sosok Terryn maupun Deva di dalam sana. Ibu Imelda menuju dapur memanggil bi Ira dan Terryn tapi tak ada sahutan juga. Ibu Imelda mencoba menelpon Deva tapi tidak diangkat, lalu mencoba menelpon Terryn. Bahunya cukup tersentak ketika mendengar dering ponsel Terryn di atas meja makan.
“Anak-anak kemana semua sih? Pintu dibiarkan terbuka lebar gitu aja.” gumam Ibu Imelda dengan keheranan. Ibu Asih yang melihat pintu samping terbuka segera menyusul ke sana, perasaannya mulai tidak enak ketika melihat ada pot yang tumbang. Ibu Asih mendekat dan memekik kaget melihat Terryn terbaring di lantai teras samping yang basah.
“Anakkuuu!” pekiknya dengan sangat panik, ibu Imelda segera menyusulnya dan turut panik juga.
“Astagaaa … Terryn Sayang! Kenapa bisa jadi begini? Suamimu mana? Terryn?” ibu Imelda menepuk pelan pipi Terryn.
“Dartoooo! Dartoooo! Kesini cepaaaat … Kami ada di teras samping!” ibu Imelda berteriak memanggil sopir pribadinya. Tak lama laki-laki paruh baya itu datang dengan tergesa-gesa.
“Iya, Nyonya ada … Yaa Tuhan! Nyonya Terryn kenapa ini?” Darto pun terkejut melihat Terryn yang terbaring tak sadarkan diri.
“Bantu angkat ke mobil, bawa menantuku ke rumah sakit cepat!” ibu Imelda dan ibu Asih gemetar mereka takut terjadi sesuatu yang buruk pada Terryn dan kandungannya. Mereka tidak tahu sudah berapa lama Terryn terbaring di sana dengan wajah yang sudah sangat pucat itu.
Bergegas Darto mengangkat sendirian tubuh Terryn yang tidak terlalu berat, kedua ibu itu pun menyusul dengan cepat. Ibu Asih menutup dan mengunci semua pintu lalu buru-buru masuk ke dalam mobil.
“Ayo cepat Darto, cari rumah sakit terdekat, aku takut menantuku kenapa-kenapa!” ibu Imelda kembali mencoba menelpon ponsel Deva. Sementara yang punya ponsel sedang berkeliling mencari buah mangga pesanan istrinya di pasar buah.
“Adoooh … Kemana siih anak itu?! Aku sudah bilang jaga istrinya baik-baik, ini ditinggal sendirian, itu bi Ira kemana kok gak keliatan juga?” sungut ibu Imelda dengan kesal. Ibu Asih tidak banyak bicara dia hanya memeluk tubuh putrinya yang dingin.
Jalanan desa yang belum diaspal membuat mereka terguncang di atas mobil, ibu Asih mempererat pelukannya pada Terryn.
“Hati-hati Darto! Kamu tahu ‘kan kalau menantuku sedang hamil!”
“I-iya, Nyonya Besar, maaf jalanannya memang kurang mulus.” Jawab Darto takut-takut.
Mungkin sudah puluhan kali ibu Imelda mencoba menghubungi Deva tapi tak kunjung juga putranya itu menjawab panggilan ponselnya. Mobil mereka nyaris saja berpapasan, mobil Deva baru saja masuk arah jalan desa setelah beberapa menit yang lalu mobil ibu Imelda berbelok berlawanan ke arah rumah sakit pinggir kota.
“Yiiin! Aku udah pulang niih … Bukain dong pintunya, Sayang!” seru Deva berulang kali ketika ketukannya serta salamnya tidak dapat sahutan Terryn. Deva merogoh kantong celana serta kantong jaketnya, ponsel yang dicarinya tidak ditemukan. Mangga yang dibawanya diletakkan di lantai, dia bergegas mencari benda itu di dalam laci mobilnya. Dahinya berkerut ketika melihat dua puluh empat panggilan tidak terjawab dari ibunya.
“Halo, Bu. Kenapa telp—“
“Segera susul ibu ke rumah sakit dekat gerbang kota, istrimu kami bawa ke sana. Dia kami dapati tergeletak pingsan di teras samping rumah, sepertinya Terryn terpeleset dan jatuh. Cepat!”
Deg …
Jantung Deva rasanya tidak berdetak di tempatnya, Terryn terjatuh dan pingsan. Dia sudah tidak mendengar kata-kata ibunya lagi. Ponselnya di lempar ke jok mobil di sampingnya. Lalu melajukan mobilnya seperti orang kesetanan.
“Terryn Arunika … Aku baru meninggalkanmu sebentar saja dan sudah celaka seperti ini?” nafas Deva nyaris tertahan, beberapa penduduk desa berhenti di sisi jalan ketika melihat mobilnya melaju dengan kencang. Mereka sudah tahu siapa pemilik mobil itu tapi untuk melihatnya melaju seperti sedang balapan para penduduk itu menatap mobil Deva yang melintas kencang dengan heran.
Ibu Imelda dan ibu Asih menghembuskan nafas lega mereka setelah dokter menyatakan jika Terryn baik-baik saja. Namun, dokter menyarankan untuk tetap menginap dan melihat perkembangan janin dalam rahim Terryn yang sempat mengalami flek. Terryn tidak diperbolehkan banyak bergerak dan tekanan darah Terryn yang cukup rendah membuat Terryn harus istirahat total.
Dengan nafas yang memburu Deva masuk ke dalam kamar perawatan Terryn, laki-laki itu cukup lega ketika melihat Terryn sudah sadarkan diri.
“Kau nyaris membunuhku Terryn … yaa Tuhaaan … Aku baru saja meninggalkanmu sebentar, sebentar saja Terryn dan kau sudah begini? Bagian dari mana kata ‘jaga dirimu baik-baik’ yang tidak kamu pahami hah?” Deva menyugar rambutnya gemas. Deva tidak sadar jika telah mengomeli Terryn di depan ibu dan ibu mertuanya.
“Maaf, Kak. Terryn gak tahu kalo di situ licin, Terryn cuma mau benerin pot yang tumbang karena angin dan—“
“Pot? Pot yang tumbang? Pot itu tidak lebih berharga dari nyawamu dan nyawa calon anak kita, Sayaang. Saat aku pulang nanti semua pot yang ada di teras samping akan aku singkirkan!” seru Deva sambil berjalan mondar mandir di ujung tempat tidur Terryn. ibu Imelda berdehem beberapa kali untuk memberitahu Deva agar dia sedikit tenang.
Deva berhenti seketika dan menoleh pada ibunya, ibu Asih dan dokter yang sedang bersama ibunya.
“Maaf … Dok, sa-saya gak tahu ada Bu Dokter di sini, saya sangat cemas dengan istri saya.” Deva mendadak menjadi salah tingkah dan sedikit malu. Dia begitu emosi atas sikap Terryn yang tidak mendengarkan kata-katanya sehingga tidak memperhatikan sekelilingnya.
“Tidak apa, wajar kalau suaminya cemas. Sejauh ini ibu Terryn baik-baik saja, tapi tetap harus menginap dulu yaa karena ada sedikit flek yang dialami oleh ibu Terryn. Semoga tidak berlanjut dan ibu Terryn boleh pulang. Oh ya, saya ingin bicara sebentar dengan pak Deva, kita ke ruangan saya ya?” dokter itu pun mempersilakan Deva.
“Aku belum selesai denganmu, Terryn Arunika!” desisnya sebelum Deva berlalu dari hadapan Terryn.
Terryn benar-benar takut melihat Deva yang sangat marah besar padanya. Ibu Imelda hanya geleng-geleng melihat putranya yang mengomel sementara ibu Asih hanya menghela nafas mendengar penuturan putrinya.
“Mana Terryn tahu, Bu, kalau Terryn bakalan jatuh kayak gitu. Kalau Yin tahu bakal jatuh Yin gak mau pergi ke teras samping. Baru kali ini Yin liat kak Deva ngamuk kayak gitu.” Wajah Terryn tertekuk dia tidak terima diomeli suaminya.
“Sepertinya istri Anda memiliki riwayat penyakit paru-paru yaa? Tolong pertimbangkan kondisi istri Anda, semakin besar kehamilannya maka akan semakin sulit juga istri Anda untuk bernafas. Keadaan ini akan mengganggu asupan oksigen yang dibutuhkan oleh ibu Terryn dan janinnya. Apa Pak Deva sudah mengantisipasinya? Dengan tabung oksigen di rumah mungkin?” tanya dokter itu dengan raut wajah serius.
“Iya, Bu Dok. Kami menyiapkan tabung oksigen portable di rumah, Terryn sudah menggunakannya beberapa kali.” jawab Deva yakin.
“Sebaiknya Pak Deva membawa ibu Terryn tinggal di kota sementara. Jarak yang jauh dari rumah sakit akan memakan waktu yang lama jika sesuatu terjadi lagi pada istri Anda. Saya khawatir jika paru-paru istri Anda tidak akan bertahan lama seiring kehamilannya yang masuk ke trimester akhir nanti. Dia harus berada dalam pengawasan ketat dokter ahli.”
“Saya juga sedang mempertimbangkan itu, Bu Dok. Kebetulan rumah kami di kota tidak jauh dari rumah sakit tempat dia kontrol. Terima kasih atas sarannya.” Deva tersenyum ramah pada dokter cantik di depannya itu, kemudian dia berdiri menyalami dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.
Terryn pura-pura tertidur ketika Deva masuk ke dalam kamar perawatannya, matanya dibuka sedikit untuk mengintip di mana suaminya itu duduk. Wajah Deva sangat kusut setelah keluar dari ruangan bu dokter tadi.
“Bu, sepertinya Deva harus bawa Terryn kembali ke kota. Sulit untuk mengontrol kondisi Terryn jika kami masih tinggal di desa. Dokter tadi menyarankan agar Terryn benar-benar dalam pengawasan dokter, paru-paru Terryn sudah cukup mengkhawatirkan seiring berkembangnya janin dalam kandungan Terryn.”
“Ibu dukung yang terbaik menurut kalian saja, Ibu akan lakukan apapun jika kau butuh sesuatu dari Ibu.” ibu Imelda menepuk lembut punggung tangan putranya.
“Ibu juga Nak Deva dan tolong ijinkan Ibu untuk tinggal bersama kalian yaa, Ibu ingin menjaga Terryn sebaik mungkin. Anak itu memang bandel.” sahut ibu Asih dari ujung sofa.
“Terima kasih Bu, Deva baru saja mau meminta supaya Ibu bisa ikut tinggal bersama kami. Deva takut kejadian ini akan terulang lagi, ketika Deva tidak ada si bandel itu akan berjalan-jalan lagi mengurus hal yang tidak penting.” Deva sengaja mengeraskan suara agar Terryn mendengarnya.
“Yaa sudah … Kasihan Terryn dari tadi kamu omelin, kamu udah kayak emak-emak merepet ke anaknya aja!” ibu Imelda meminta Deva menahan emosinya, hormon wanita hamil itu tidak stabil dan tidak baik jika putranya membuat menantunya itu menjadi bersedih.
Mereka bertiga pun berbincang membicarakan persiapan mereka kembali ke kota nanti setelah Terryn keluar dari rumah sakit. Terryn mendengarkan dengan seksama semua hal yang diatur oleh suaminya dan dia juga mendengar jika Deva meminta sejumlah asisten rumah tangga untuk membantu mereka mengurus rumah dan keperluan Terryn.
Hari ini benar-benar membuat Deva merasa kacau. Jantungnya masih belum terasa normal karena mendengar Terryn terjatuh di teras samping. Dipandanginya wajah Terrryn yang masih memucat, juga selang oksigen yang menempel di hidungnya. Terryn akhirnya benar-benar tertidur.
“Jangan seperti ini lagi, Terryn aku benar-benar seperti akan mati mendengarmu kenapa-kenapa. Aku tidak ingin sesuatu menimpamu, andai semua kejadian buruk bisa ditimpakan saja kepadaku. Aku rela menggantikan tempatmu untuk menahan semua rasa sakit dan sesak.” Deva mengelus kepala istrinya dan mengecup dahi Terryn dengan lembut.
“Home sweet home ….” bisik Terryn ketika sudah sampai di rumahnya bersama Deva di kota. Rumah yang dikiranya tidak akan ada jalan pulang kembali ke sana.
“Tunggu jangan turun dulu.” Bergegas Deva turun dari mobil dan membuka pintu untuk Terryn. Laki-laki itu pun meraih tubuh Terryn agar digendongnya masuk ke dalam rumah.
“A-aku bisa jalan sendiri, Kak!” seru Terryn terkejut melihat apa yang dilakukan Deva. Terryn menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika aksi Deva ini tidak dilihat oleh siapapun.
“Diam, tidak usah bergerak dan banyak bicara.” perintah Deva lagi sambil mempererat gendongannya. Deva membawanya masuk ke kamar tidurnya bukan di kamar Terryn seperti biasa.
“Mulai saat ini kamu tidur di sini agar aku bisa mengawasimu dengan mudah dari ruang kerjaku. Gak ada lagi alasan untuk memindahkan pot dan sebagainya.” Deva meletakkan tubuh Terryn di atas tempat tidurnya.
“Baik lah, Kak.” kali ini Terryn tidak membantah lagi, dia menerima semua apa yang Deva atur untuknya. Meskpun rasanya dia diperlakukan layaknya tahan rumah yang gerak geriknya selalu diawasi.
Melihat wajah murung istrinya Deva meraih kepala Terryn dan mengecup dengan dalam puncak kepalanya, dibelainya rambut serta pipi istrinya sambil meminta maaf.
“Maaf jika sikapku keras kepadamu, ini demi kebaikanmu dan kelangsungan degup jantungku. Kau tidak tahu bagaimana kacaunya organ ini di dalam sini jika mengingat kejadian tempo hari. Kau dan calon bayi kita adalah setengah dari nyawaku.” Deva meraih tangan istrinya dan mengecupnya dengan lembut.
“Aku akan menurunkan barang-barang, ingat pesan dokter untuk tidak banyak bergerak lebih dulu. Istirahatlah.” Deva membelai kepala istrinya lalu meninggalkan kamar.
Terryn menarik nafas panjang dan melihat ke sekeliling kamar Deva, masih seperti yang dulu ketika beberapa bulan yang lalu dia meninggalkan rumah ini. Tak ada yang berubah, mungkin hanya penghuninya saja yang berubah, Deva Danuarta kini menjadi sosok yang paling peduli pada dirinya, CEO Kutub Utara itu sudah bukan sosok yang dingin lagi, angkuh dan tak terjamah. Deva Danuarta kini menjadi pribadi yang hangat, sangat peduli dan lebih mandiri dan bisa mengurus rumah dengan baik. Tentu saja itu terbukti ketika dia menjadi Jang Nara ketika itu.
Terryn mengambil ponsel di dalam tas kecilnya lalu mencari kontak Ashiqa, sudah lama dia tidak memberi kabar pada sahabatnya itu.
“Hai Yiiin … Astaga kamu yaa! Kamu udah gak mau jadi sahabat aku lagi yaa?!” seru Ashiqa di ujung sana dengan nada setengah merajuk. Dia sudah duga Ashiqa akan mengatakan ini.
“Masih mau lhaa Chik, aku gak mau kehilangan sahabatku yang tajir melintir, aku masih butuh suntikan dana dari istri konglomerat untuk pengembangan kebun bungaku.” jawab Terryn sambil terkekeh.
“Iiisshh … Jadi bagaimana kabar kamu sekarang? Udah berapa bulan lho ini kamu gak pernah kasih kabar, ponsel kamu juga jarang aktif, nyebelin!” Ashiqa masih saja memarahi Terryn, suara celotehan Raka terdengar oleh Terryn, perempuan itu pun mengelus perutnya dengan lembut.
“Aku punya dua kabar, baik dan buruk, mau dengar yang mana terlebih dulu?” Terryn tersenyum pahit saat mengatak itu pada Ashiqa. Sahabatnya terdiam dan terdengar helaan nafas dari ujung telponnya.
“Kok gitu siiih … Yin? Baiklah aku mau tahu yang buruk dulu.”
“Hmmm … Kabar buruknya keadaan paru-paruku memburuk, sudah mulai ada kerutan di dalam sana yang membuat aku semakin sesak nafas di tiap harinya. Mungkin kelak aku harus transplantasi paru-paru, Chik.”
“Astagaaa … Yiin, apa memang sudah seburuk itu, Sayangku?” nada suara Ashiqa terdengar pelan di ujung kalimatnya.
“Well … Kabar baiknya adalah … Tadaaaa … aku sedang hamil lima bulan, eeh dikit lagi masuk enam bulan. Sejauh ini aku masih baik-baik saja dan saat ini aku sudah berada di rumah Deva lagi di kota.”
“Waaaah .... Terryyyn! Selamat yaa … Selamat Sayang … Akhirnya … Akhirnya Raka bakal punya teman main juga.Jadi kamu udah gak di rumah desa lagi? Kamu Kembali ke rumah itu untuk selamanya lagi kan?” berondong Ashiqa dengan pertanyaan.
“Kehamilanku harus dalam pengawasan dokter katanya, jadi aku memang harus pulang ke sini karena dekat dari rumah sakit tempatku dirawat dulu. Tadinya aku pikir aku gak bisa hamil sampai aku nekat untuk tidak meminum lagi obat-obatanku dan memulai program hamilku tanpa sepengetahuan Kak Deva. Masih rejeki aku, Chik, aku masih bisa hamil.”
“Sekali lagi selamat yaa Yiiin … Jaga diri kamu baik-baik, aku yakin suami kamu pasti akan menjagamu dengan sangat baik. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya lagi untuk tetap bersama kamu.”
“Iya bener Chik, sampai-sampai CEO itu bekerja dari rumah,udah jarang banget ngantor. Jadi tinggal Kak Desta aja sama Kak Willy yang jaga gawang di kantor.”
Ashiqa masih ingin mengobrol dengan Terryn tapi Raka terdengar menangis di belakangnya.
“Yin, nanti aku main ke rumah yaa, ini Raka udah ngantuk jadinya rewel. Jaga kesehatanmu baik-baik yaa,” Ashiqa pun menutup telponnya setelah Terryn mengiyakan.
Suasana kembali sepi, Terryn mengusap bahunya. Sejenak dahinya berkerut dan dia terdiam untuk merasakan sesuatu di balik dinding perutnya. Teryyn meletakkan telapak tangannya di atas perutnya, dia merasakan gerakan yang sangat lembut dan pelan, nyaris tak terasa. Namun, Terryn yakin jika dia baru saja merasakan gerak bayinya itu.
Mata Terryn berkaca-kaca, diusapnya sekali lagi nyawa kecil yang ada dalam rahimnya.
“Sayangnya Mama, Mama cuma bisa berharap kelak kita bisa bertemu dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun. Jika nanti Mama tidak bisa bertahan dan Tuhan memanggil Mama pulang, kamu temenin papa yaa? Kelak kamu yang akan jagain papa dan rawat papa dengan baik, Mama akan melihatmu dari jauh. Mama akan menjagamu dengan penuh cinta.” Air mata Terryn menitik jatuh dibarengi senyumnya yang ditarik lebar. Sebenranya Terryn takut mengatakan itu tapi kemungkinannya bisa saja terjadi dan dia harus bersiap dengan semua kemungkinan terburuk.
Dari balik pintu Deva mendengar kata-kata Terryn barusan, tangannya mengepal, dadanya terasanya nyeri mendengar Terryn sudah bersiap dengan kematiannya. Deva menjauh dari pintu dan memilih masuk ke kamara Terryn untuk menenangkan perasaannya.
“Kau tidak akan pergi secepat itu Terryn, tidak bisa … Kamu tidak boleh meninggalkan aku secepat itu.” Deva terduduk di pinggir ranjang sambil sambil menangis terisak. Deva adalah pria yang tangguh, dalam hal apapun dia bisa mengatasinya dengan tenang dan tegar tapi tidak dengan situasi istrinya.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan Terryn membuat Deva tidak berdaya. Tubuh Terryn yang kian kurus, tarikan nafasnya yang berat, serta wajahnya yang kerap pucat serta ujung kuku yang gelap membuatnya sangat takut. Dia takut jika Terryn kelak akan menyerah bergitu saja dan berhenti berjuang, Deva belum siap untuk kehilangan perempuan yang telah mengubah dunianya itu.
Deva menarik nafasnya lebih dalam, dan berusaha untuk lebih tenang. Dia tidak akan menampakkan kesedihannya itu di depan Terryn.
“Ayo Deva … Kamu bisa tersenyum di depannya, kamu yang akan menjadi sumber kekuatan Terryn, istrimu sangat membutuhkanmu saat ini dan kau harus bisa menjadi sandarannya sekarang.” Deva memandangi dirinya di pantulan cermin lalu berusaha menarik senyumnya sebaik mungkin dan menyembunyikan perasaannya jauh di dalam lubuk hatinya. Deva keluar dari kamar Terryn dengan wajah jauh lebih tenang dan ceria, di tangannya ada nampan berisi bubur ayam kesukaan Terryn yang dipesan online dari dekat kantor mereka. Pesanan itu tiba sesaat setelah mereka baru saja tiba juga di rumah.
“Yin, aku pesan ini lhoo … Kamu pasti suka karena udah lama gak makan ini!” seru Deva dengan riang, lalu duduk di dekat Terryn. Seketika ingatan Deva mundur ke belakang saat penyakit maagnya kambuh dan Terryn melayaninya makan di tempat tidur.
“Aku suapin yaa?” Deva menggerakkan sendoknya untuk mengaduk tiba-tiba Terryn memekik,
“Stoop! Yin ini tim bubur ayam tidak diaduk, biarkan seperti itu dan ambil dari sisinya lalu topingnya!”
Deva tersentak kaget lalu tertawa kecil mendengar kata-kata istrinya barusan, hal itu berlawanan dengan dirinya yang tidak akan memulai makan bubur ayam tanpa diaduk hingga semuanya tercampur rata.
“Baiklah … Tim bubur ayam yang tidak diaduk, buka mulutmu lebar-lebar karena semangkuk untuh ini harus berpindah ke dalam perutmu dan anakku yang ada di dalam sana akan menyantapnya juga sebagai tim bubur yang diaduk. Sempuna ….” Deva tersenyum lebar melihat Terryn yang melongo mendengar perkataannya barusan, tapi tetap menurut disuapi oleh Deva.
“Besok kita harus kontrol lagi ke rumah sakit yaa Yin, kita akan ketemu dengan dokter yang direkomedasikan sama kak Aluna dan kak Roby. Jika kondisimu memungkinkan kita akan berangkat ke luar negeri untuk pengobatanmu.”
Terryn nyaris saja tersedak mendengar kata-kata Deva barusan, dengan sigap Deva mengambilkan Terryn air minum dan mengusap punggungnya.
“Keluar negeri, Kak?” tanya Terryn lagi, dia teringat langkahnya yang nyaris saja keluar negeri tapi terhenti karena penyakitnya dan sekarang justru karena penyakitnya itu yang akan membawanya keluar negeri.
“Iya, Yin, aku sudah memikirkan itu dan Kak Aluna beserta suaminya akan membantu kita mencarikan dokter spesialis terbaik yang akan menangani kamu.” Deva kembali mengangkat sendoknya dan menaikkan alisnya sebagai tanda Terryn harus melanjutkan makannya kembali. Terryn tidak menyahut lagi dan menikmati kembali suapan suaminya, dia yakin jika Deva pasti akan melakukan yang terbaik untuknya.
Waktu pun bergulir membawa kehamilan Terryn di usia tujuh bulan, Deva tahu Terryn selalu berjuang keras untuk keadaannya dan sebaliknya Terryn tahu persis Deva tak pernah tidur nyenyak di sisinya untuk selalu menjaga Terryn sepanjang malam. Hal itu terjadi karena di suatu malam Terryn terjaga, dadanya sangat sesak hingga merasa tercekik. Deva merasakan gerakan Terryn yang gelisan sehingga dia terbangun dan dengan sigap memberikan segera bantuan oksigen portable pada Terryn.
kini keduanya duduk di bangku taman rumah sakit, air mata Terryn meleleh pelan sementara Deva merangkul bahu Terryn dengan erat seakan hendak menyalurkan kekuatannya pada istrinya itu. Saran dari dokter yang menangani Terryn terdengar mengejutkan bagi keduanya.
“Jadi aku harus menjalani operasi secar secepatnya yaa? Anak kita harus dilahirkan lebih cepat agar keadaannya selamat.” ucap Terryn lirih.
“Semua akan baik-baik saja, Yin. Bayi kita juga bayi yang sehat dan kuat, dia pasti akan baik-baik saja, kedua tanganku masih bisa untuk menjaga kalian berdua.”
“Bagaimana jika aku yang tidak berhasil, Kak?”
“Kau akan baik-baik saja, melahirkan bayi kita dan aku yang mengurusnya, kau harus tetap ada bersamaku karena anak kita pasti akan butuh dekapan mamanya yang hangat. Bau yang pertama kali dikenalnya pasti dirimu, iya kan’?” Deva mencoba menghibur Terryn.
“Apa aku ini induk kucing dan anak kita itu kitten yang mengendus bau?” tanya Terryn sambil memaksakan senyumnya.
“Bisa jadi dan aku adalah bapak kucing yang paling tampan sedunia, karena bayi kita adalah perempuan secantik mamanya. Kau akan baik-baik saja, jangan khawatir, ada aku.” Deva meraih Terryn ke dalam dekapannya dan memejamkan matanya dengan dalam-dalam seperih nyeri yang dirasakannya jauh di balik jantungnya.
Hari yang ditentukan akhirnya tiba, Terryn harus masuk ke ruang operasi untuk melahirkan bayinya. Seorang bayi perempuan yang cantik, tapi bayi mungil itu harus mendapatkan perawatan intensif karena usianya yang lahir prematur. Deva mencium kening Terryn yang masih tak sadarkan diri di ruang perawatannya setelah dipindahkan dari ruang operasi. Berbagai alat penopang kehidupannya membalut tubuhnya yang ringkih. Nyaris tak ada lagi cahaya kehidupan di sana, Deva menahan sesak melihat wanita yang telah menjadi ibu dari putrinya itu terbaring lemah tanpa daya.
“Cepatlah kembali Yin, putri kita cantik sekali, jangan iri yaa … Kata dokter dan suster putri kita sangat mirip denganku.” Deva menarik senyumnya dengan terpaksa untuk mengimbangi matanya yang basah. Dikecupnya ujung jemari Terryn lalu Deva berbalik meninggalkan ruangan Terryn untuk melihat putrinya yang juga sedang dirawat intensif di inkubator.
Dari balik jendela kaca Deva menatap putrinya yang mungil dan hampir sama rapuhnya dengan ibunya kini. Hati Deva seakan sudah retak-retak menunggu waktu untuk pecah berkeping karena kesedihan yang menghantamnya berkali-kali.
Sebuah tepukan hangat di bahu Deva menyadarkannya kembali, di lihatnya Desta dan Willy sudah berdiri di sampingnya.
“Selamat yaa Bro … Lu udah jadi bapak sekarang, gue doain Terryn lekas pulih dan kondisinya jauh membaik.” Willy ikut memperhatikan kotak inkubator yang ada di dalam ruang perawatan bayi. Deva hanya menggumam pelan untuk mengucapkan terima kasih.
“Sebagai hadiah atas kelahiran putri lu, gue bawa kabar baik. Perusahaan kita memenangkan tiga tender proyek raksasa, salah satu lawan terberat kita Seven Seas, si Arkhana berhasil kita singkirkan!” ucap Desta dengan bangga.
Deva mengangguk puas mendengar itu dan menepuk bahu Desta serta Willy bergantian, wajah Deva terlihat sangat lelah dan letih.
“Terima kasih banget yaa atas kerja keras lu berdua, gue gak tahu bakal jadi apa Melda’s kalo gak ada lu berdua yang handle semuanya.”
“Melda’s itu bagian hidup kita bertiga juga Va dan lu juga, selama kita masih bisa berjuang buat lu dan Melda’s sejauh itu juga gue ada buat lu.” sahut Desta yang diikuti anggukan mantap Willy.
“Gue mau ajak lu makan Va, kata ibu lu dari pagi lu belum makan, jangan sampai lu sakit, sekarang tanggung jawab lu nambah lagi dengan kehadiran dia.” Willy menunjuk kotak inkubator bayinya.
Deva pun membenarkan perkataan temannya dan mengikuti kemana kedua sahabatnya itu akan mengajaknya makan malam.
“Sepertinya Terryn memang harus transplantasi paru, pihak rumah sakit sudah mulai mencari donor paru untuk dia.” ujar Deva usai mereka menghabiskan seporsi nasi goreng kambing di rumah makan tidak jauh dari rumah sakit.
“Berarti kondisi Terryn emang udah parah yaa?” Desta menyeruput habis sisa es jeruknya. Willy hanya melipat tangan di dadanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Sayang gue suka masih terkadang suka minum kalo lagi ngumpul sama kerabat gue di acara keluarga dan Desta perokok aktif jadi gue dengan dia gak bisa jadi donor.”
Desta yang hendak menyulut sebatang rokok pun tidak jadi dan menyimpan batang rokoknya itu kembali ke dalam tempatnya.
“Sejak dokter bilang kemungkinan transplantasi paru, gue udah kepikiran akan mendonorkan paru-paru gue. Toh Terryn hanya butuh satu untuk bertahan hidup dan gue masih mampu untuk bertahan dengan satu paru-paru saja. Gue juga bukan perokok dan peminum, gue rasa gue bisa jadi pendonornya, semoga aja bisa.”
Perkataan barusan sukses membuat kedua melongo terkejut. Mereka tidak menyangka jika Deva akan bertindak sejauh itu mengorbankan satu paru-parunya untuk Terryn.
“Serius lu?” tanya Desta yang tiba-tiba merasa tenggorokannya menjadi kering.
“Terryn saat ini sedang berpacu bertaruh dengan waktu, dia harus hidup lebih lama untuk melihat putri kami tumbuh. Gue akan lakukan apapun untuk itu Guys.”
Willy dan Desta hampir menghela nafas bersamaan, mereka paham dengan perasaan Deva dan keputusan yang akhirnya dipilih Deva. Ketika cinta telah bicara maka pengorbanan dalam bentuk apapun akan dilakukan.
“Kalau emang itu menurut lu yang terbaik buat keluarga lu, gue dukung lu sepenuhnya Va, gue dan Desta akan selalu ada buat lu dan Melda’s. Soal kantor lu gak usah khawatir, ada orang-orang kepercayaan ibu lu juga yang udah bantuin kita selama ini.”
“Yuuup … Gue sepakat dengan apa yang Willy bilang barusan, gue bakal tetap ada buat lu kapanpun itu Bro. Tapi gue juga mau minta tolong niih sama lu berdua, kalo bisa gue minta waktu sehariiii aja buat temenin gue.”
“Maksud lu?” tanya Deva tidak mengerti, begitu pula Willy yang juga menatap ke arah Desta.
“Dua minggu dari sekarang lu berdua harus siap-siap jadi Best Man gue di nikahan gue sama Mega.” Desta mengembangkan senyumnya dengan lebar.
“Woooo hooo … Mau juga yaa Mega jadi bini lu?” Willy tertawa sambil meninju kecil bahu Desta.
“Weeeih … Selamat yaa Des, akhirnya berakhir juga masa jomblo lu!” seru Deva dengan gembira dan juga mendaratkan tinju di bahu Desta seperti yang dilakukan Willy.
“Tapi acaranya di mana? Gue gak bisa tinggalin Terryn dan anak gue jauh-jauh.” sahut Deva lagi yang mendadak teringat kondisi istrinya.
“Gak jauh, di hotel ibu lu, gue dikasih diskon sama ibu Imelda waktu tahu kalo gue yang mau nikah.” Desta tertawa senang dan membuat Willy dan Deva saling berpandangan lalu tertawa bersama.
“Dasar lu gak modal!” ejek Willy dengan bercanda.
“Yeeey … Dari pada lu ditinggal nikah mulu sama pacar lu, buruan nyusul tanggal kedaluarsa lu dikit lagi habis!” balas Desta dengan tawa yang terkekeh.
Deva melihat jam tangannya, dia sudah cukup lama bersama kedua kawannya,
“Gue harus balik sekarang ke rumah sakit lagi, makasih udah temenin gue makan malam. Lu, Desta, kalo lu butuh apa-apa buat persiapan pernikahan lu, ngomong aja ke gue yaa, lu siapkan momen terbaik dalam hidup lu, gue bakal bantu sebisa gue, apapun itu.”
Desta menatap penuh haru sahabatnya dan menjabat erat tangannya.
“Sori yaa Va, gue gak tunggu Terryn sampai pulih dulu, orang tua Mega udah tetapkan tanggalnya untuk hari baik kami. Terima kasih juga buat kepercayaan lu selama ini buat gue di Melda’s bareng Willy.” Desta pun meraih bahu Deva memeluknya sesaat dan menepuk-nepuk bahunya. Kemudian Deva meninggalkan kedua di rumah makan, Deva berjalan kaki sambil menghirup udara malam. Hari ini cukup melegakan, dia sudah resmi menjadi seorang ayah dan salah satu sahabat terbaiknya akan menikah.
“Deva, kamu dari mana, Nak?” tanya ibu Imelda yang baru saja keluar dari kamar perawatan Terryn. Ibu Imelda menyongsong puteranya dengan wajah yang terlihat lebih bahagia.
“Deva habis makan di rumah makan samping rumah sakit ini, Bu, bareng Desta dan Willy.”
“Ouh, baguslah, kamu jangan sampai sakit juga yaa, Nak. Oh iya, Terryn baru saja siuman tapi saat ini sedang diperiksa oleh dokter.”
Wajah Deva terlihat ikut cerah, dia memanjangkan lehernya untuk melihat dari jendela kecil di pintu kamar ruangan Terryn. Sekilas dia melihat dokter dan beberapa orang perawat tengah memeriksa tekanan darah serta ventilator yang digunakan Terryn. Mata istrinya sudah terbuka tapi masih terlihat lemah.
“Deva mau masuk, Bu.” Deva hendak mendorong pintu tapi ibunya mencegahnya.
“Tunggu, biarkan dulu dokternya bekerja, nanti kalau sudah selesai baru kamu masuk.”
Deva pun mundur dan menuruti perkataan ibunya meski dia sudah tidak sabar untuk menyapa Terryn.
“Ibu sudah dengar 'kan tentang rencana transplantasi paru untuk Terryn?” tanya Deva ketika keduanya duduk di bangku depan kamar pasien.
“Akhirnya dokter memutuskan untuk mengambil langkah itu ya?” Ibu Imelda justru balik bertanya pada puteranya.
“Jika kondisi paru Terryn semakin memburuk maka dibutuhkan satu paru pengganti, Bu. Pihak rumah sakit sedang memeriksa donor organ itu.”
“Kasihan menantuku harus menghadapi masa sulit seperti ini, terlebih di saat dia baru saja menjadi seorang ibu.” tatapan ibu Imelda menerawang jauh ke arah lorong rumah sakit yang sepi.
“Bu, jika donor itu tidak bisa ditemukan dalam waktu cepat, maka Deva akan mengajukan diri sebagai pendonor. Deva minta restu dan doa Ibu untuk keputusan Deva ini dalam menyelamatkan nyawa Terryn.”
Kalimat yang baru saja terdengar di telinga ibu Imelda sukses membuat perempuan paruh baya itu tersentak kaget dan menatap putranya dengan tatapan tidak percaya.
“Deva mohon, Bu ….”