Mata elang lelaki berambut gondrong itu memindai sekeliling rumah yang sepi. Berlahan, ia meraih kedua tangan kekasihnya dan mengajak gadis berusia dua puluh tahun itu berdiri dari duduknya.
Keduanya kini saling menatap, saling mengunci dalam diam. Jantung mereka berdegup lebih kencang ketika Ardi mengikis jarak, lalu berbisik di telinga sang gadis, “Izinkan aku menciummu untuk pertama dan terakhir kalinya, Andini.”
Mata Andini membulat kaget. Setahun bersama pemuda tegap dan atletis itu, mereka hanya sekedar berpegangan tangan. Kini, Ardi ingin menciumnya?
“Jangan, Mas ….” Andini berusaha melepaskan pelukan tangan kekar Ardi di tubuhnya. Pria itu ternyata tidak hanya menciumnya, tapi menginginkan yang lain. Andini yang mungil tidak berdaya begitu lelaki berotot itu sudah menyeretnya ke dalam kamar. Tubuh gadis berlesung pipi itu kemudian didesak hingga berbaring di ranjang. Andini membelalak. Otaknya seketika terasa kosong saat Ardi menindih tubuh dan menciumnya kasar, apalagi kemudian dengan cepat kekasih tercintanya itu melepaskan baju dan melemparkan begitu saja. Tubuh sixpack dan kokoh segera terpampang di depan Andini.
“Kau bilang sangat mencintaiku, jadi daripada kau serahkan kesucianmu pada duda itu, 'kan lebih baik aku yang mengambilnya,” ucap Ardi menarik paksa baju yang dikenakan Andini. Gadis yang sudah dijaganya selama mereka pacaran itu menjerit, berusaha menutupi tubuhnya. Namun, usaha Andini sia-sia karena Ardi sudah sangat bertekad untuk mengambil kehormatannya.
Andini hanya bisa menangis, ia benar-benar tak berdaya melawan Ardi yang sangat kuat. Lelaki cinta pertamanya itu berubah menjadi buas, mencabik-cabik tubuhnya yang belum pernah disentuh laki-laki. Gadis muda itu merintih kesakitan, tapi pria berusia dua puluh tiga tahun itu tak peduli. Ia menghisap madu itu sepuas hati.
Usai melampiaskan keinginannya, Ardi meninggalkan Andini yang masih menangis meratapi tubuhnya yang sudah tidak suci lagi. Ia tak menyangka kekasih hatinya itu tega menodainya. Bagaimana ia akan menghadapi Hendra—calon suaminya yang sudah datang melamar minggu lalu?
***
Satu jam sebelumnya.
“Mas … aku minta maaf, tolong besok-besok jangan datang lagi ke sini.” Andini berkata pelan kepada pemuda berambut gondrong yang duduk bersamanya di bangku depan rumahnya yang sepi di siang hari itu. Ibunya belum kembali dari berjualan sayur di pasar.
“Kenapa? Apa gara-gara duda tua yang melamarmu minggu lalu?” tanya Ardi sembari mengisap rokoknya dan mengembuskan ke udara dengan kesal.
“Aku terpaksa menerimanya, Mas. Aku tidak bisa menolak permintaan ibu yang ingin aku segera menikah. Ibu malu karena anak gadisnya jadi perawan tua, gak laku-laku,” jawab Andini sambil menarik-narik ujung baju yang dipakainya.
“Masa baru usia dua puluh tahun udah dibilang perawan tua, sih? Bilang sama ibumu, nanti kalau aku sudah dapat pekerjaan, aku yang akan melamarmu jadi istriku,” tukas pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu.
“Sampai kapan, Mas? Kita sudah pacaran lebih dari setahun. Aku sudah menolak banyak laki-laki yang datang melamar demi hubungan kita, tapi Mas belum juga memberiku kepastian. Aku sudah tidak bisa membujuk ibu lagi, Mas. Lamaran Pak Hendra sudah diterima ibu.” Andini bicara dengan air mata yang mulai menetes di pelupuk matanya. Impiannya yang ingin hidup bersama pria cinta pertamanya itu tidak akan terwujud. Ibunya sejak awal memang sudah tidak merestui dirinya berhubungan dengan Ardi yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, bisa dibilang seorang pengangguran.
Ardi bergeming melihat wanita cantik bertubuh mungil itu mulai terisak pelan. Hatinya ikut sakit mengingat gadisnya itu akan dimiliki oleh laki-laki lain. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperjuangkan cinta mereka. Hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama, Ardi tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehari-harinya, ia menjadi tukang angkat barang di pasar. Upah yang didapatkan hanya sekedar untuk makan dan beli rokok.
Bagaimana ia berani melamar Andini yang merupakan kembang desa yang banyak diincar kumbang-kumbang. Tentu saja, ia akan kalah bersaing. Apalagi ibunya Andini sudah pasti akan menolaknya. Hari ini saja, ia datang sembunyi-sembunyi menemui gadis yang hanya tinggal berdua saja dengan ibunya yang seorang janda.
Laki-laki itu membuang sisa rokoknya dengan kesal ke halaman rumah yang berjarak cukup berjauhan dengan rumah tetangga sekitar. Apalagi banyak pohon buah-buahan berdaun rindang di sekeliling rumah mungil yang berdiri di atas tanah cukup luas tersebut.
Ardi berdiri menghampiri Andini yang masih menangis. Gadis berlesung pipi itu sangat mencintai pria ganteng berkulit kecoklatan yang berada di hadapannya, tapi memilih Ardi menjadi suaminya, Andini juga ragu akan masa depan mereka nanti.
“Sudahlah, Dini. Aku memang laki-laki tak berguna. Aku juga tak yakin bisa membahagiakanmu, jika nekat untuk merebutmu dari laki-laki itu.” Ardi membawa kepala Andini yang duduk di kursi dalam dekapannya.
Mata elang lelaki berambut gondrong itu memindai sekeliling rumah yang sepi. Berlahan, ia meraih kedua tangan kekasihnya dan mengajak gadis berusia dua puluh tahun itu berdiri dari duduknya.
Keduanya kini saling menatap, saling mengunci dalam diam. Jantung mereka berdegup lebih kencang ketika Ardi mengikis jarak, lalu berbisik di telinga sang gadis, “Izinkan aku menciummu untuk pertama dan terakhir kalinya, Andini.”
Mata Andini membulat kaget. Setahun bersama pemuda tegap dan atletis itu, mereka hanya sekedar berpegangan tangan. Kini, Ardi ingin menciumnya?
Andini belum sempat menenangkan hatinya yang bergemuruh ketika tiba-tiba Ardi sudah menarik tangannya buru-buru masuk ke dalam rumahnya yang sepi.
***
Seminggu setelah kejadian itu, Andini mendatangi rumah orang tua Ardi, mencari pemuda yang tiba-tiba tidak pernah lagi datang menemuinya setelah mengambil paksa kehormatannya. Andini sudah bertekad, apapun yang terjadi, ia hanya akan menikah dengan Ardi. Ia akan menceritakan semuanya pada ibunya, agar sang ibu mau merestuinya dengan pria satu-satunya yang ada dalam hatinya.
Rumah orang tua Ardi seperti tak berpenghuni ketika Andini tiba di sana. Ia sudah tahu kalau Ardi hanya tinggal berdua dengan kakak laki-lakinya. Maka tak heran kalau rumah yang lumayan besar itu tampak kumuh dan tidak terawat. Ibunya Ardi sudah lama meninggal dunia, kala Ardi masih duduk di bangku SMP. Sang ayah pun sudah menikah kembali dan menetap di kota, meninggalkan dua anak remajanya yang kemudian mencari jalan hidup masing-masing. Tak berbeda dengan Ardi, sang kakak juga putus sekolah setelah ibu mereka meninggal dunia. Kakak Ardi juga mencari makan dengan bekerja serabutan.
Andini dengan ragu-ragu mengetuk pintu rumah itu. Berkali-kali ia lakukan, tapi tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Dengan putus asa wanita yang sudah ternoda itu membalikkan tubuhnya, ingin meninggalkan tempat itu. Namun, baru saja ia akan melangkah, terdengar kunci pintu dibuka.
“Siapa, sih? Ganggu orang tidur aja!” Suara berat dan serak menegur ketus.
Andini membalikkan tubuhnya kembali, menatap seraut wajah yang mirip dengan orang yang dicarinya berdiri di pintu. Sedikit takut, ia menyapa pria yang hanya memakai celana pendek selutut, memamerkan tubuh berototnya yang tidak memakai baju.
“Ma-maaf, Mas Dion. A-aku mencari Mas Ardi, ada gak?” tanya Andini gugup. Kakak Ardi itu terlihat masih mengantuk, mengucek-ucek mata merahnya. Rambut yang sama gondrongnya dengan sang adik tampak berantakan. Samar-samar Andini masih bisa mencium aroma alkohol yang menguar begitu mulut di depannya menguap lebar-lebar.
“Ardi gak ada! Udah gak pulang seminggu kayaknya. Ada apa cari dia? Kamu udah dikerjainnya, ya?" Dion tertawa sinis sambil melipat lengan kekarnya di dada. Memandangi wanita cantik di depannya dengan sorot mata lapar.
“Oh, kalau begitu saya permisi dulu ya, Mas Dion.” Andini tanpa berpikir panjang lagi langsung membalikkan tubuhnya, buru-buru meninggalkan tempat itu. Masih terdengar tawa geli Dion mengiringi langkah seribu gadis itu. Andini benar-benar takut membayangkan, seandainya kakak Ardi itu akan menyeretnya masuk ke dalam rumah seperti yang sudah dilakukan oleh Ardi minggu lalu.
Setelah sekitar lima menit berjalan hampir berlari, Andini memelankan langkahnya. Napas yang memburu ditenangkannya sesaat. Lalu, ia kembali berjalan menuju rumahnya yang berjarak sekitar satu kilo meter dari rumahnya Ardi. Tanpa disadarinya, airmata mengalir begitu saja di pipinya, begitu mengingat pria yang sudah mendapatkan cinta dan kesuciannya itu telah pergi dari kampung mereka. Andini benar-benar tak menyangka sama sekali, Ardi akan setega itu padanya.
Musnah sudah harapan Andini untuk bisa hidup bersama pria yang dicintainya itu, Ardi benar-benar sudah menghilang dan lari dari tanggung jawab. Meninggalkannya menanggung semua ini sendiri.
Andini menghapus air mata begitu tiba di depan rumahnya. Ia melihat pintu tempat tinggalnya itu terbuka lebar dan sebuah sepeda motor terparkir di halaman.
“Assalamualaikum.” Gadis itu mengucap salam begitu mau masuk ke dalam rumah. Matanya langsung menatap seorang laki-laki dewasa berusia empat puluhan dengan seorang lelaki tua berusia enam puluhan.
“Waalaikumsalam ….” Sang ibu yang duduk bersama dengan dua orang laki-laki itu yang menjawab. “Kok, lama perginya, Din? Kamu bilang jam setengah sepuluh sudah nyampe rumah. Ini sudah lewat jam sepuluh, lho? 'Kan ibu udah bilang akan ada tamu yang datang.”
“Maaf, Bu ....” Andini menundukkan kepalanya mendengar orang tua satu-satunya itu mengomel. Ibunya pagi tadi, memang sudah bilang bahwa Hendra--pria yang sudah melamarnya dua minggu yang lalu akan datang bertamu untuk menentukan hari pernikahan mereka. Andini memaksa pergi karena ingin memastikan sikap Ardi setelah peristiwa minggu lalu. Seandainya Ardi bersedia menikahinya, ia akan bicara terus terang kepada ibunya dan calon suaminya itu. Tentu saja ibunya tidak tahu, Andini pergi ke rumah Ardi pagi ini.
“Gak apa-apa, Dek Andini. Saya juga baru saja tiba, kok.” Pria yang masih terlihat tampan di usianya yang ke-40 tahun itu tersenyum lembut kepada gadis muda yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali melihatnya sebulan yang lalu.
“Ayo, duduk di sebelah ibu!” Sarinah—ibunya Andini memanggil anaknya yang masih berdiri di depan pintu.
Dengan kepala tetap menunduk, Andini kemudian duduk di kursi tamu sebelah ibunya. Ia tak mengangkat kepalanya sama sekali, hingga kemudian terdengar suara laki-laki yang lebih tua bicara.
“Baiklah, Bu, Nak Andini. Saya mewakili keluarga besar kami, ingin melanjutkan rencana pernikahan antara keponakan saya dengan Nak Andini.” Paman dari Hendra itu berhenti sejenak, menatap dua orang wanita berbeda usia yang duduk di depannya. “Bagaimana kalau pernikahan ini dilaksanakan akhir bulan ini? Masih ada waktu sekitar dua minggu untuk persiapan.”
Andini tersentak kaget, “Dua minggu lagi?” Matanya membulat menatap paman dan calon suaminya.
“Lho? Kenapa emangnya kalau dua minggu lagi, Din? Lebih cepat 'kan lebih baik.” Sarinah yang kini menatap heran putri semata wayangnya itu.
“Hm … aku 'kan belum mengenal Pak Hendra sebelumnya, Bu. Rasanya sangat canggung kalau tiba-tiba kami menjadi suami istri secepat ini.” Andini memberi alasan. Padahal sebenarnya, ia hanya ingin mengulur sedikit waktu. Ia takut seandainya perbuatan Ardi padanya minggu lalu akan membuahkan hasil. Ia tidak ingin nanti bingung menentukan siapa ayah biologis dari bayinya, seandainya, ia hamil setelah menikah dengan Hendra. Jika ternyata, ia hamil oleh perbuatan Ardi, tentu saja, ia akan membatalkan rencana pernikahannya dengan Hendra.
“Maksudmu apa, Dini? Ibu jadi gak ngerti. Dulu ibu menikah dengan ayahmu juga gak saling kenal, buktinya pernikahan kami awet sampai ayahmu meninggal dunia tahun lalu.” Sarinah menatap tajam wajah anaknya.
“Pak Hendra, kalau boleh, saya mau pernikahan kita dilaksanakan dua bulan lagi.” Tanpa mengindahkan ucapan sang ibu, Andini langsung bicara kepada pria yang ingin menikahinya itu. Matanya juga memohon kepada pamannya Hendra.
“Bagaimana, Dra?” tanya sang paman kepada keponakannya.
“Dua bulan terlalu lama itu, Dek Andini. Bagaimana kalau sebulan saja? Saya akan berusaha, agar kita bisa lebih akrab sebelum hari pernikahan nanti.” Hendra berusaha membujuk wanita muda dihadapannya dengan memberikan senyum terbaiknya.
Andini cukup terkesan oleh kelembutan dan senyum menawan dari pria dewasa yang bekerja di perusahaan kontraktor itu.
“Tolong menunggu lima minggu saja ya, Pak Hendra. Saya mohon ....” Andini dengan berat hati memberikan penawaran terakhirnya. Lima minggu ke depan cukup baginya untuk tahu, apakah ia hamil anaknya Ardi atau tidak.
“Baiklah, saya akan menunggu lima minggu lagi, tapi dengan syarat.” Hendra menggantung kalimatnya.
“Syarat apa?” tanya Andini heran. Matanya membulat menatap pria tampan di hadapannya itu.
“Kamu harus bersedia menemani saya mengobrol setiap kali saya datang ke rumah ini. Kamu yang ingin kita lebih akrab sebelum menikah, 'kan?” Hendra kembali menatap sang gadis dengan senyum menggoda.
“Baiklah ....” Andini menjawab pelan sembari menundukkan kepalanya kembali.
“Satu lagi, Dek Andini. Jangan panggil saya pak lagi, ya? Panggil abang aja, biar saya tidak terkesan sangat tua.” Hendra tertawa lebar memecah kekakuan di ruang tamu yang sempit itu. Tawa ceria pria yang sudah setahun menduda itu, disambut dengan senyum senang oleh pamannya Hendra dan ibunya Andini. Hanya Andini yang memaksakan senyum di bibir ranumnya. Senyum yang cukup bagi Hendra untuk memimpikan calon istrinya itu, sebelum tidur nanti malam.
Setelah Hendra dan pamannya pamit pulang serta sang ibu yang juga langsung berangkat untuk jualan ke pasar, Andini masuk ke dalam kamar tidurnya. Dihempaskannya tubuh lelah itu di pembaringan yang sama, tempat di mana Ardi mengambil miliknya yang berharga minggu lalu. Air mata Andini kembali mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa sakit sekali, kala mengingat laki-laki yang sudah mengambil semua cinta di hatinya itu. Bagaimana ia akan hidup dengan laki-laki lain? Jika di setiap helaan napasnya hanya nama Ardi yang terucap.
***
Apa yang ditakutkan oleh Andini tidak terjadi, dua minggu kemudian, ia mendapatkan tamu bulanannya. Wanita itu kembali menangis sedih di kamarnya setelah keluar dari kamar mandi. Meski lega, ia tidak hamil di luar nikah, tapi ini artinya ia harus siap melangsungkan pernikahan dengan Hendra. Hanya tersisa tiga minggu lagi, hari pernikahan itu akan tiba.
“Dini ….” Terdengar suara ibunya memanggil dari luar sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar yang sengaja ia kunci. Andini segera duduk dari tidur dan menghapus sisa air matanya.
“Iya, Bu. Sebentar!” jawab Andini dengan suara serak. Ia kemudian berjalan ke pintu dan membuka kuncinya.
“Kamu ngapain sore-sore udah ngurung diri di kamar. Tuh, ada calon suamimu datang.” Sarinah menatap penuh selidik wajah anaknya yang pura-pura menggaruk kakinya, agar sang ibu tidak melihat mata dan hidungnya yang masih merah.
“Aku lagi gak enak badan, Bu. Hari pertama datang bulan, terus juga sedikit pilek.” Andini mengusap hidung dengan punggung tangannya.
“Ya, udah. Nanti istirahat lagi. Temui dulu Nak Hendra di teras sana, ibu mau memetik sayur dulu di belakang,” ujar Sarinah seraya menjauh dari kamar anaknya menuju ke bagian belakang rumah. Ia sengaja memberi ruang untuk putrinya agar bisa mengobrol dengan calon menantu pilihannya itu.
Andini menghela napas panjang, mengusap kembali wajahnya, lalu berjalan ke teras depan rumah. Di sana, terlihat calon suaminya sedang duduk sembari melihat ayam-ayam peliharaan ibunya yang berlari ke sana ke mari.
“Gak masuk ke dalam, Bang?” sapa Andini sambil duduk di kursi sebelah pria yang tampak lebih muda dengan baju kaos warna putih berkerah yang sedikit ketat di tubuh kekarnya, dipadu dengan celana jeans berwarna biru muda.
“Eh, Dek Andini. Hm … di sini aja deh, sejuk nih, angin sore-sore.” Hendra menatap wajah wanita yang terus saja menghantuinya selama sebulan ini. Meskipun Andini masih saja tampak dingin kala ia datang bertamu ke rumah calon istrinya itu.
Kemudian, hanya keheningan yang melanda pasangan berbeda usia dua puluh tahun tersebut. Andini yang semakin pendiam membuat Hendra terkadang bingung mengajaknya mengobrol karena wanita muda itu hanya menjawab seadanya.
“Abang ingin mengajakmu jalan-jalan, mau gak?” Hendra memecah kesunyian.
“Hm … maaf ya, Bang. Aku lagi gak enak badan.” Andini menjawab tanpa menoleh kepada calon suaminya. Ia terus saja asyik mempermainkan kuku-kuku jemarinya.
“Sakit apa? Apa perlu abang antar berobat?” tanya Hendra khawatir.
“Enggak usah, memang begitu kalau lagi datang bulan,” balas Andini pelan.
“Oh ….” Kepala pria berambut sedikit cepak itu mengangguk maklum.
“Ya, udah, kalau begitu kita ngobrol di sini aja.” Hendra menatap calon istrinya yang terlihat lesu tidak bergairah. “Hm … mungkin ada yang ingin kamu tanyakan pada abang? Bagaimanapun juga sebentar lagi kita akan menjadi suami istri. Kita harus jujur satu sama lainnya.
Andini mengangkat wajahnya, menoleh kepada pria yang sejak tadi terus menatapnya. Sorot mata Hendra yang lembut, membuat Andini semakin resah. Sebenarnya, ia ingin jujur saja atas kondisinya yang sudah tidak gadis lagi, tapi bibirnya tak sanggup untuk mengutarakan, malah kemudian ia bingung sendiri dengan ucapannya terhadap Hendra. “Kenapa Abang dulu bercerai?
Hendra tersentak mendengar pertanyaan wanita muda yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Ia tak menyangka Andini akan menanyakan hal yang berusaha untuk ia lupakan. Perceraian akibat ulahnya sendiri.
“Sebenarnya abang malu untuk jujur padamu mengenai hal ini, abang harap kamu tidak berubah pikiran ya, setelah mendengarnya,” pinta Hendra sedikit ragu.
Andini tak menjawab permintaan Hendra, tapi dari sorot matanya yang terus menatap calon suaminya itu, membuat Hendra kembali melanjutkan ucapannya. “Abang bersalah sama istri abang waktu itu karena sempat menjalin hubungan iseng dengan seorang wanita saat ada proyek di kota lain. Ada teman kerja abang yang melaporkan kepada Tiara. Setelah itu, Tiara menggugat cerai setahun yang lalu. Enam bulan setelah kami resmi bercerai, Tiara menikah dengan mantan pacarnya waktu masih sekolah dulu. Abang gak tahu, apakah kami saling selingkuh atau tidak. Tapi yang ketahuan hanya abang. Jadi begitulah yang terjadi.
“Kenapa gak menikah saja sama selingkuhan Abang itu?” tanya Andini penasaran.
“Dia masih berstatus istri orang, dia bukan wanita baik-baik. Abang hanya mencari kesenangan sesaat aja. Tiara sering mengabaikan abang. Padahal, kami menikah hampir sepuluh tahun lamanya. Dulu, kami dijodohkan.” Hendra menutup ceritanya sembari meraih gelas tehnya yang sudah dingin.
Andini terdiam mendengar kisah masa lalu dari calon suaminya yang ternyata cukup dramatis. Dalam pikiran Andini berkecamuk, apakah ia akan menceritakan juga tentang masa lalunya?
“Bagaimana denganmu, Andini? Apakah kamu pernah punya pacar?” Pertanyaan yang ditakutkan oleh Andini akhirnya terdengar juga dari mulut Hendra.
“Hm … a-aku pernah punya pacar, Bang. Ta-tapi dia meninggalkan aku begitu saja.” Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Andini. Kedua tangannya langsung menutup wajahnya. Ia tak sanggup untuk berkata jujur seperti Hendra. Seakan ada kerikil yang mengganjal di tenggorokannya. Ia sangat malu untuk menceritakan tentang dirinya kepada calon suaminya yang kini menatap dengan wajah penasaran.
“Sudahlah, gak usah bercerita jika itu sangat memberatkanmu. Abang gak akan memaksamu. Sekarang yang penting kamu bisa menerima abang sebagai pendamping hidupmu di masa yang akan datang." Ucapan Hendra sesaat kemudian cukup membuat Andini bernapas lega.
Andini bergeming, ternyata Hendra cukup pengertian dan tidak memaksa lagi mendengar kisah masa lalunya. Kini, ia hanya pasrah apapun yang akan terjadi nanti setelah mereka resmi menikah.
***
Hari pernikahan Andini dengan Hendra pun tiba. Duda yang sudah mempunyai satu orang putri dengan istri pertamanya itu tampak sangat bahagia dan penuh semangat melaksanakan akad nikah setelah satu tahun lamanya menduda. Mulai hari ini, ia tidak akan kesepian lagi dalam menjalani hari-harinya. Meski wajah istri barunya itu masih tampak muram, Hendra tak peduli. Ia yakin suatu hari nanti, Andini pasti bisa menerimanya sebagai seorang suami. Ia akan membuat Andini jatuh cinta padanya.
Malam harinya, sekitar pukul sepuluh malam, Andini yang sudah satu jam merebahkan tubuhnya di ranjang merasakan tangan besar suaminya memeluk pinggangnya. Wanita itu langsung resah, ia tahu sang suami pasti menginginkan dirinya di malam pertama mereka sebagai suami istri. Hal yang ditakutkannya akan segera terjadi. Suaminya pasti akan tahu kalau ia sudah tidak gadis lagi.
“Kamu belum tidur kan, Din?” Hendra mencium rambut istrinya yang tidur membelakanginya. Harumnya rambut lebat Andini membuat Hendra semakin ingin melakukan kemesraan dengan istri kecilnya itu. Apalagi Andini tidak menolak tangannya yang memeluk erat pinggang ramping tersebut. Dengan lembut kemudian Hendra membalikkan tubuh Andini agar menghadap padanya.
“Kamu menangis? Kenapa?” tanya Hendra kaget begitu dilihatnya mata indah itu bak telaga bening yang sebentar lagi akan tumpah.
“Aku takut akan membuatmu kecewa, Bang.” Andini berucap pelan. Bibirnya bergetar menahan rasa pedih di hatinya. Malam pertama yang seharusnya sangat ditunggu oleh pasangan pengantin baru, dirinya malah masih saja teringat pada pria yang sudah membuat hatinya terluka. Pergi menghilang begitu saja, tapi dengan bodohnya Andini masih saja memikirkan laki-laki yang hingga detik ini tidak bisa lepas dari relung hatinya. Terpatri dengan kokoh, tak tergoyahkan. Setahun menjalin kasih secara diam-diam dengan Ardi, membuat Andini tidak bisa melupakan begitu saja sosok pria pertama yang mengenalkan arti cinta padanya. Ardi yang cuek dan sedikit kasar, malah membuat Andini semakin tergila-gila pada pria itu.
“Kecewa? Gak mungkinlah. Abang sangat bersyukur bisa membina rumah tangga lagi dengan wanita seperti kamu.” Hendra mencium kening dan mata istrinya dengan lembut.
Andini hanya bisa memejamkan matanya, lalu pasrah apapun yang akan dilakukan oleh suami sahnya itu di malam yang semakin dingin.
Wanita muda itu tak mau berpikir lagi, ia akan terima apa pun tindakan Hendra padanya, jika seandainya pria yang sudah mulai membuka bajunya itu akan murka, begitu mendapatkan Andini yang sudah tidak gadis lagi.
Hendra menciumi tubuh polos yang tampak pasrah yang ada dihadapannya. Ia tersenyum melihat wanita yang pantas jadi anaknya itu terlihat gugup dengan mata terpejam rapat-rapat. Ia tak akan terburu-buru, ia ingin memberikan malam yang indah dan romantis untuk Andini. Benar saja, perlakuan pria dewasa berwajah tampan itu sukses membuat Andini mendesah, menikmati permainan yang jauh dari rasa sakit yang pernah dirasakan saat Ardi menidurinya pertama kali dua bulan yang lalu. Andini pun mendapatkan pelepasan pertamanya malam itu. Sebuah rasa yang tidak bisa ia lukiskan. Ia jadi lupa dengan dirinya yang sudah tidak suci lagi. Ia memeluk erat tubuh pria kekar yang juga mendapatkan kepuasan bersamaan dengannya.
Andini bisa bernapas lega karena sesaat kemudian, sang suami langsung rebah di sisinya, lalu tertidur pulas. Tinggallah Andini yang kemudian menangis diam-diam karena kini tubuhnya sudah dimiliki oleh laki-laki yang baru saja memperlakukannya penuh kelembutan dan kasih sayang, tidak menyakitkan dan brutal seperti yang sudah dilakukan Ardi padanya. Ia berharap suaminya itu tidak akan berubah sikap setelah bangun tidur dari tidurnya.
Pagi harinya, Andini merasakan ciuman hangat di keningnya. Entah pukul berapa ia bisa tertidur semalam. Pelan matanya terbuka, menemukan seraut wajah yang sedang tersenyum lembut padanya. Suaminya terlihat sudah rapi dan wangi.
“Tidurnya enak banget, kecapean ya,” goda Hendra sembari mencubit pelan pipi istrinya yang menatapnya lekat. Wajah Andini kemudian menjadi merah merona, begitu mengingat kembali aktivitas semalam dengan suaminya. Andini menarik selimut yang masih menutupi tubuh polosnya dan menyembunyikan kepalanya. Tak sanggup rasanya, ia menatap wajah suaminya yang seolah-olah tidak terpengaruh oleh lancarnya permainan mereka tadi malam, tanpa ada hambatan sama sekali.
“Lho? Kok selimutan lagi? Apa kita akan tiduran aja kerjanya hari ini?” goda Hendra lagi sembari membuka selimut yang menutupi wajah istrinya itu.
“Aku malu, Bang. Aku bukan wanita yang terbaik untukmu.” Andini berkata lirih sambil memejamkan matanya.
“Gak usah malu, yang penting sekarang kamu adalah milikku seutuhnya. Begitu juga denganku yang akan berusaha menjadi suami terbaik buatmu. “Hm … sekarang aku ingin istri cantikku ini membuatkan kopi. Asem nih, mulut suamimu ini, belum dapat apa-apa sejak tadi.” Hendra mengelus pipi mulus istri kecilnya itu. Ia tahu kalau istrinya itu sudah tidak suci lagi usai mereka berhubungan tadi malam, tapi Hendra tidak mau mempermasalahkannya. Sebab, ia pun bukanlah seorang yang suci. Kini, ia hanya ingin hidup lebih baik bersama wanita muda yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Andini membuka matanya. Menatap manik hitam yang menatapnya penuh cinta. Hatinya mulai tersentuh oleh sikap suaminya yang tidak mempermasalahkan tentang dirinya yang sudah tak gadis lagi.
“Ayo, bangun. Abang tunggu di luar, ya?” Hendra kembali mencium kening Andini sekali lagi. Lalu, sambil tersenyum ia melangkah ke luar dari kamar pribadi Andini yang sudah direnovasinya seminggu sebelum hari pernikahan mereka.
Sebelumnya, Andini menolak diajak pindah ke rumah peninggalan orang tua Hendra yang terletak di kecamatan yang berbeda dengan rumah orang tua Andini. Hampir dua jam perjalanan jaraknya. Hendra memaklumi, istri kecilnya itu yang tidak mau tinggal jauh dari ibunya. Apalagi perusahaan kontraktor tempat Hendra bekerja sering mendapatkan proyek di daerah-daerah lain. Ke depannya, pria dengan jabatan kepala mandor itu harus rela hanya bertemu istrinya setiap akhir pekan. Jadi, memang lebih baik Andini tetap tinggal bersama ibunya. Perusahaan tempat Hendra bekerja memberi izin seminggu untuk menghabiskan waktu bersama istri barunya itu.
Andini bergegas ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal oleh aktivitas semalam.
“Abang ingin mengajakmu main ke pantai hari ini, kamu mau gak?” tanya Hendra begitu melihat istrinya keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah. Pria itu sedang duduk menonton berita televisi di ruang tengah.
“Hm … ke pantai ya, aku suka sih, tapi gak sekarang ‘kan? Aku masih capek,” jawab Andini dengan wajah memerah menahan malu.
“Iya, bukan sekarang, Sayang. Nanti sore aja, sekalian lihat matahari terbenam. Abang juga capek nih, mau tiduran aja sampe sore sama kamu,” goda Hendra sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Andini.
“A-aku bikinin Abang kopi dulu, ya.” Andini buru-buru berjalan ke dapur, meninggalkan suaminya yang terus menggodanya. Membuat ia menjadi salah tingkah.