Bab. 1. Kembali.
Suara langkah kaki membuat Hendra yang terfokus pada tumpukan berkas itu teralihkan. ketika menatap ke depan. Rahangnya seketika mengeras melihat Sileut tubuh seorang gadis yang amat di bencinya.
"Hai, Honey. Aku sangat merindukanmu. Apa kabar?" sapa Luna ramah.
Gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai itu berjalan dan hendak memeluk tapi tak sampai Hendra mundur beberapa langkah dan mengisyaratkan Luna untuk berhenti.
"Kenapa kau kembali?" tanya Hendra.
"Aku kangen." Luna menjawab.
Luna perlihatkan deretan giginya yang putih tanpa merasa bersalah dengan ulahnya dua tahun yang lalu.
Cih!
"Pergi kau! aku tak ingin melihatmu lagi!" Hendra menghardik Luna.
"Hahaha---kenapa galak sekali. Sayang, apa kau tak kangen padaku?" Luna mengejek Hendra.
"Nggak, silakan pergi dari kantor ini dan jangan kembali lagi!" Hendra mengusir Luna.
Namun Luna diam saja. Bahkan ia melipat kedua tangan dan senyum semrigah di wajahnya. Sangat percaya diri kalau Hendra akan memeluknya lagi dan menghujani cinta yang melimpah seperti dua tahun yang lalu.
Merasa ucapanya tak di perhatikan Luna. Ia memanggil Andi.
"Andi tolong ke ruanganku!" perintah Hendra dari telepon gengamnya.
Tak lama kemudian, Andi datang.
"Tolong usir gadis itu. pastikan tak masuk ke sini lagi!"
Andi menuruti perintah Hendra.
"Silakan Nona, aku antar keluar."
"Aku masih ingin di sini Andi!" tak mau di suruh pulang. Luna kesal, melirik tajam ke arah Andi. Ia tidak suka Andi sejak dulu, sering perintah Hendra memecatnya. Namun Hendra selalu menolak bujukan Luna.
Panggil satpam kalau dia tak ingin keluar!"
"Kau!" Luna mendesis geram.
Terpaksa Luna keluar dari ruangan itu. Tak ingin di seret oleh satpam bak hewan akan di jegal. Kaki kirinya di hentakan mengeluarkan emosinya.
Mahendra Bastian, lelaki 30 tahun itu merasa tak suka dengan kembalinya Luna. Kenangan pahit dua tahun silam, terasa mencekam dan mencabik- cabik perasaanya. CEO dari Perusahaan Snack terbesar itu memiliki sikap yang angkuh, bengis dan tak mentolerir kesalahan.
Seringkali orang bertanya, apa yang membuatnya menjadi demikian?
Jawabannya adalah Luna. Gadis itu menancapkan luka sedemikian dalam hingga membuat Hendra tenggelam di dalamnya.
Flashback on.
"Luna, please jangan pergi, sebagai gantinya kita liburan ke Bali aja yuk!" bujuk Hendra
"Nggak Hendra, aku harus pergi. Ini impianku!" Luna bersih keras.
Selain Luna ingin menjadi model di Kancah Internasional, ia juga sudah mulai bosan dengan Hendra. Apalagi kini ia berkenalan dengan lelaki asal Paris dari Sosmed. Luna ngotot ingin menemui cowok itu di sana.
"Tapi aku takut kamu selingkuh di sana sayang," Hendra merengek tak ingin kekasihnya pergi.
Merayu Luna agar mau liburan bersama. Namun Luna tetep kekeh dengan pendiriannya. Impiannya adalah menjadi model Internasional. Saat Agency vians grup mengontraknya untuk menjadi model peragaan busana di Paris Luna tak ingin menyia- yiakan kesempatan itu. Ia menerima kontrak itu tanpa persetujuan Hendra.
Luna gayatri adalah seorang Model Ibu kota. Saat ini di bawah naungan Agency Vians grup. Dari dulu mimpinya bisa memperagakan busana kelas perancang dunia.
Luna berdecak kesal. Mulutnya di monyongkan, baginya ini konyol. Padahal banyak sekali pasangan yang bisa jaga hubungan walau jarak jauh.
"Please, jangan pergi Luna. Aku tak mau kehilangan kamu!" pinta Hendra memelas.
Hendra merendahkan harga dirinya demi cinta untuk Luna. Spontan Luna balik badan, Lalu menatap tajam ke arah Hendra.
"Kau tak bisa halangi aku, Hendra! aku bukan istri kamu yang kau atur- atur seenaknya!" Luna protes.
Luna mulai kesal.
Deg!
Hendra kaget mendengar amarah Luna, gadis cantik di depannya ini yang biasanya yang lembut nan manja berubah garang. Namun Hendra berusaha mengerti. Ia mendekat dan
mengelus punggung Luna. Tapi Luna mengelak. Kakinya melangkah ke dekat jendela mengalihkan pandangannya keluar. Emosi naik turun bersarang di dada. Menurutnya Hendra bener- bener egois.
Hendra mengusap wajahnya kasar. Ia tau kekasihnya merajuk. Sebisa mungkin menahan emosi dan bersabar. Ia melangkah mendekat dan berdiri di belakang Luna dan membisikan kata yang lembut di telinganya
"Kau akan jadi istriku sayang, syaratnya hanya tak berangkat ke Paris."
Hendra merayu sembari tanganya memegang pundaknya namun Luna diam saja. Kemudian menjauhkan diri dari Hendra yang berusaha memeluknya.
Luna merasa Hendra hanya Menganggapnya boneka yang harus nurut setiap perkataan.
Suasana hening tak ada kata yang terucap dari bibir mereka. Luna kesal di kekang seperti ini. Ia ingin Masih ingin bebas meraih mimpi dan cita-cita.
Wajahnya memerah menahan amarah. Melihat Luna terdiam. Hendra menghela napas pelan, memandang kosong ke arah luar. Hatinya galau, filingnya tak enak. Merasa kalau Luna akan meninggalkanya.
"Apa kau masih ingin pergi, Luna. walau aku tetep melarangmu?" tanya Hendra dingin.
Sejak tadi Luna diam saja. Ia sudah tau karakter kekasihnya itu. menuntut memenuhi keinginannya.
"Iya. Aku ingin berkarir ke Paris, kalau kau tak mendukung Lebih baik Kita putus, maafkan aku!"
ucapan Luna tegas namun tak menatap wajah Hendra.
Sedetik kemudian, Luna mengambil tas di sofa melangkah keluar dari ruangan Hendra.
Flasback off.
Selama dua tahun ini, Hendra berusaha melupakan semua tentang Luna. Kenangan manis bersama berusaha ia hilangkan dari memori kepalanya. Hari pertama tanpa Luna, hatinya kosong. Dunia hampa. tak ada semangat kerja. Hendra mencoba mengalah demi cinta.
Namun tiba-tiba Luna menganti nomer ponselnya. Hendra kelimpungan. Luna bener- bener menghilang. Saat Andi menyusul ke Paris, dan meminta Luna untuk berbaikan dengan Tuannya, Luna tak menanggapi bahkan mengusir Andi. Mendengar itu Amarah, sakit hati dan benci untuk Luna menguasai hati Hendra. kesepian, hatinya kosong. Untuk mengisi kekosongan itu. Ia gila kerja. Hari-hari ia lalui bergelut dengan pekerjaan. Sepulang kerja, waktunya di habiskan di Club. Duduk di bar dan botol minuman keras di depannya. Ia nikmati bersama musik DJ yang mengalun keras.
Ketika ada wanita yang mengodanya.
Sama sekali tak melayaninya. Baginya wanita hanya permainkan hati dan perasaanya. Tak mengerti kemauan laki- laki. Untungnya ada Andi yang selalu di sampingnya. Ketika sudah mabuk parah, Andi memapah tubuh tuannya ke apartemenya. Hingga suatu hari ia mengalami Depresi. Terpaksa harus di rawat di RS beberapa hari. Sejak kejadian itu Hendra menghentikan kebiasaan minum dan menerima kenyataan kalau kekasihnya lebih mementingkan karir dari pada dirinya.
Di luar kantor.
Panasnya siang membakar bumi. Nafas Luna turun naik. Amarah menyempul keluar dari jiwanya. merasa harga dirinya di injak- injak. Tak percaya kalau Hendra akan memperlakukan dirinya seperti ini. Mengusirnya bak hewan yang menjijikan? Padahal dulu, Laki-laki itu sangat menyangung dan memanjakannya. Tapi kini?
Luna tak percaya kejadian yang baru saja di alami. Belum sempet dirinya merayu dan meminta uang dari Hendra sudah di usir?
Luna merasa kesal. Tapi bukan Luna kalau putus asa. Ia akan lakukan apa saja hingga Hendra kembali ke dalam pelukanya. Ia menerobos panasnya siang langkahkan kakinya menuju mobil. Menghidupkan mesin, lalu melajukan ke Apartemennya. Baru seminggu yang lalu ia membeli Apartemen di tengah kota.
'Aku pasti akan dapatkan kamu kembali Hendra!' seru dalam hati Luna. Sejenak ia berpikir. Kenapa Hendra berubah? apa dia sudah punya kekasih?
Bersambung.
Mobil Luna menerobos panasnya jalanan. Membelah kota, hatinya kesal. Bahkan jari- jari mencengkeram kemudi setir dengan keras. Kesal, shock akan perlakuan Hendra, Di usir bak binatang yang menjijikan. Berkali- kali memukul meluapkan kekesalanya.
Dari hati yang terdalam Luna merindukan kasih sayang Hendra Pujian, dan kata cinta selalu mengiringi hari- harinya. Pelukan hangat tak pernah lepas dari sang kekasih saat bertemu, di tambah lagi kecupan manis di puncuk kepalanya yang tak luput dari bibir manis Hendra.
Luna meminggirkan mobilnya saat
Suara ponsel mengagetkanya. Nama Steven tertera di layar ponsel. Luna mendengus kesal, ia memilih mengacuhkanya. Sedetik kemudian suara ponsel kembali berdering. Luna sengaja mematikanya.
"Huuh-ganggu saja!" gerutu Luna kesal.
Steven adalah kekasih Luna, namun sengaja ia menjauh dari laki-laki itu. Ia ingin fokus mendapatkan cinta Hendra kembali.
Luna menyesal telah meminggirkan mobilnya. Kembali ia gas mobilnya kembali ke Apartemen. Sampai di di parkiran Apartemen, bayangan sikap Hendra bersilewan di kepala. Hatinya tak Terima, namun mencoba bersabar.
Luna meraih tas kecil dan menentengnya.
Kakinya melangkah masuk ke dalam lift. Setelah sepuluh menit akhirnya Ia sampai di depan pintu apartemenya. Kartu di tempel di pintu, pintu lift terbuka. Dengan langkah gontai ia duduk di sofa empuk itu. Memejamkan mata sejenak.
"Apa Hendra sudah punya pacar?" Luna bergumam sendiri, ia teringat Andi lalu meraih ponsel dan menghubunginya.
Panggilan tersambung tapi tak di angkat. Tapi Luna tak putus asa, jemari lentiknya mengirimkan pesan untuk Andi. Luna ingin segera bertemu Andi. Ingin menanyakan semua tentang Hendra. Tak ingin menyimpan ganjalan itu di hati.
Luna: [Andi, temui aku nanti malam. Di Kafe Star.] Luna. send ke nomer Andi.
Luna menghela napas panjang. Sedikit hilangkan kesal yang mengunung.
***
Ting..
Dari nomer tak di kenal. Kening Andi berkerut menatap layar ponselnya. Ada pesan masuk dari nomer tak di kenal.
Andi: 'Ooh dari Nona Luna, ada apa nih ngajak ketemuan?'
Andi berpikir sejenak, Tapi segera memasukan kembali ponselnya dan tak membalas pesan dari Luna.
Di Kafe Star.
Waktu malam tiba, Mentari berganti bulan. Bintang- bintang di atas sana bersinar. Malam ini di langit bulan purnama memancarkan pesonanya, sangat indah. Suasana terasa sangat syahdu. Tapi tidak untuk Luna, hatinya galau, gusar dan was- was menunggu kedatangan Andi. Saat ini Luna udah berada di Kafe Star. Di depanya ada jus Strawberry yang sudah mulai mencair esnya. Netranya sesekali melihat keluar berharap Andi akan datang. Hampir setengah jam menunggu kehadiran Andi. Namun batang hidungnya belum juga nongol.
Ia mengambil ponselnya dari tas, jarinya memencet nomer Andi. Panggilan tersambung namun tak respon. Luna mendengus kesal. Menunggu adalah hal yang paling menjemukan bagi siapapun.
'Iissh, kemana sih Andi, lama banget!'
Luna mulai kesal, apalagi jarum jam merangkak meninggalkan angka tujuh.
Di saat gelisah memuncak menunggu, Tak sengaja matanya menangkap seseorang yang di nanti. Laki-laki tinggi berbadan sixpack memakai kaos panjang hodie hitam menghampiri Wajahnya dingin datar menatap Luna.
Lalu menarik kursi dan duduk di depanya. Luna lega akhirnya Andi datang.
"Ada apa Nona mengundangku?" tanya Andi.
Andi ingin to the point, tak ingin basa-basi dengan mantan pacar bosnya itu.
"Mau minum apa Andi, biar aku pesankan!" ujar Luna basa-basi.
"Nggak usah Nona, aku nggak haus!" Andi menolak tawaran Luna.
Sebenarnya ia malas untuk datang namun Andi paksakan menemui Luna. Penasaran menghantui jiwanya.
Luna mendesah. Padahal ia ingin berbaik hati sama Andi.
"Aku ingin bertanya padamu, apa Hendra sudah punya pacar?" tanya Luna akhirnya to the point.
Luna to the point, tak ingin bertele-tele. Walau hatinya bergejolak.
Mendengar itu Andi tertawa memperlihatkan giginya yang putih. Lalu sejenak menatap Luna tajam.
"Apa kau cemburu Nona Luna!" Andi mengejek Luna, bibirnya ia naikkan sebelah. Dalam hati Andi sangat puas mendengar itu.
Luna mengepalkan tangannya, giginya gemelatuk. tanganya Reflek memukul meja.
"Jawab saja Andi!" Luna kesal. Matanya melotot.
Andi menatap datar wajah Luna, melipat kedua tangan di dada.
"Pikir sendiri, Nona!" Andi bangkit lalu meninggalkan Luna sendiri.
"Awas kau, kalau aku kembali ke pelukan Hendra, kau orang pertama yang ku pecat!" Luna teriak hingga terasa suaranya akan habis.
Orang- orang di sekitarnya kaget mendengar teriakan Luna. Bahkan mereka ada yang bisik- bisik membicarakan tentang Luna.
Tanpa membalik badan Andi berkata, "Silakan Nona."
Andi melangkah tegap menuju ke dalam mobilnya. Tak peduli ancaman Luna, melajukan mobil menuju rumahnya.
Luna menyesap jus strawberry di depannya. Hatinya panas, tak ingin jadi perhatian orang ia beranjak. Kaki jenjangnya melangkah ke dalam mobil, tancap gas menuju ke Apartemennya. Sampai di Apartemen Luna membanting apa saja di temui. Guci yang berada di pojokan ia tendang. Rasa sakit di kaki tak di hiraukanya lagi, yang penting rasa sakit hatinya terlampiaskan. Pecahan guci berserakan.
Lemari hias tak luput dari sasaran amukannya. Ia meraih gelas dan piring di banting ke lantai.
Suara pecahan kaca mengema di ruangan ini.
Pecahan gelas kaca berserakan di lantai. Luna terduduk dan menangis.
"Huhuhuuu---" Menarik rambutnya sendiri hingga awut- awutan. Emosi Luna menjalar ke ubun- ubun. Bahkan beberapa kali sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Awas kau Hendra, Andi. Akan ku balas kalian!" teriak Luna keras mengelegar di ruangan ini. Untung apartemen Luna kedap suara, tak ada tetangga yang mendengar suara Luna.
****
Hendra duduk di balkon teras apartemen. Di depannya ada segelas wine keluaran terbaru. Baru saja dapat kabar dari Andi kalau Luna mencari tau kenapa bisa berubah drastis padanya? Hendra mencibir mendengar kabar itu namun tak di hiraukan.
Angin malam bertiup sepoi, menembus kulit Hendra. Sentuhan angin mengingatkan luka yang di torehkan sosok Luna. Luka itu berhasil mencabik- cabik perasaanya hingga membuat Hendra tak percaya arti cinta. Torehanya sangat dalam hingga ia sangat membenci gadis bernama Luna Gayatri itu.
Setelah tersadar dari lamunanya. Ia menelfon Andi.
Hendra: [ Andi, kalau Luna tanya aku
sudah punya kekasih, jawab
saja sudah].
Andi : [Baik Tuan].
Sedetik kemudian Hendra menutup panggilanya dan Meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kembali menyesap Wine di hadapannya lalu kembali meletakan di atas meja. Memejamkan matanya sebentar. Sakit di hatinya kembali menyapa. Sekuat tenaga hilangkan dari jiwanya tak ingin rasa itu membuatnya rapuh dan putus asa.
Menyesap wajahnya sebentar, merinding mengingat nasibnya yang tak seberuntung orang lain, bisa menjalin kasih hingga usia senja. Padahal punya wajah sempurna dan harta melimapah, namun tak menjamin di hargai wanita.
Kini kantuk dan pusing mulai menyerang, apalagi satu botol wine telah tandas ke tubuhnya. Ia melangkah ke kamar dan merebahkan diri di atas bednya.
Hendra menarik napas dalam dan meletakan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu tangannya meraih remot kamar dan mematikan lampu. Waktu berputar cepat. Sinar mentari pagi pun datang.
Mata Hendra silau saat sinar itu masuk ke celah kamarnya. Mengejap beberapa kali mengumpulkan kesadaran seketika teringat ada rapat di kantor, Hendra gegas bangkit. Ritual mandi pagi ia lakukan secepat kilat setelah siap menuju ke mercedest metalic kesayangannya.
Hendra sampai di kantor, Andi menemui di ruangannya.
"Kau bertemu Luna, Andi?" tanya Hendra.
"Iya, dia ingin tau apa Tuan sudah pacar?" jawab Andi.
"lalu, apa Luna percaya?
"Sepertinya percaya Tuan." jawab Andi.
"Awasi Luna, jangan sampai dia menganggu hidupku lagi!" perintah Hendra tegas.
"Baik Tuan."
Hendra sangat membenci Luna. Cinta di hatinya menguap tak tersisa, hanya ada kebencian yang bersarang.
Apa yang akan di lakukan Luna, untuk meraih cinta Hendra kembali?
Bersambung.
Setelah rapat selesai, Hendra gegas ke Rumah Sakit. Ingin menjenguk Ayahnya yang masih di rawat. Ketika Andi ingin mengantar Hendra menolak. Kali ini ingin menyetir sendiri, sembari menikmati waktu senja sore.
Di tengah- tengah konsentrasinya mengemudi Mendadak ponselnya berbunyi. Ia ingin mengambil ponselnya dari dashboard. Namun dari arah berlawanan terlihat truk muatan sembako tengah oleng. Hendra yang kurang konsentrasi, membanting setir ke kanan. Namun tabrakan tak bisa di hindari.
Suara gelegar mengema di jalan itu.
Mobil mercedest metalik terbalik dan terpental sejauh lima meter dari tempat semula.
Mendengar dentuman keras itu. Orang-orang terkejut. Tak terkecuali Nita yang mengerem mendadak Honda Scopy itu. Orang- orang berlari ke arah mobil yang terbalik itu. ada kepulan asap keluar dari mobil itu. Nita yang penasaran segera tepikan Honda Scoopynya. Dan berlari ke arah mobil yang terbalik itu.
Sosok laki-laki tampan tak sadarkan diri. Ada darah di pelipis dan kedua sudut bibitnya.
Orang-orang mengerti mobil itu
"Pak, ada orang di dalam! dia terluka parah!" kata Nita panik, apalagi tubuh Hendra terjepit di antara setir mobil dan jok. Darah segar keluar dari kepala Hendra.
Suara istighfar terucap dari bibir kami yang menonton.
Nita di bantu beberapa orang berusaha menarik tubuh Hedra. Akhirnya dengan perjuangan tubuh Hendra berhasil di keluarkan. Ada dompet di jok depan, Nita penasaran. Ia memungutnya.
Untung Ambulans segera datang. Orang-orang mengangkat tubuh Hendra masuk ke ambulan. Nita mengendarai scopynya mengikuti ambulans itu sembari mengengam erat dompet kulit warna coklat itu.
Mobil ambulans meninggalkan tempat kejadian. Polisi mengamankan pengemudi truk tadi. Ada beberapa orang yang sengaja merekam kecelakaan ini. Pasti mereka akan mengungahnya di media sosial.
Sampai di Rumah Sakit, Nita memarkirkan motornya. Lalu berlari kecil masuk ke Rumah Sakit. Hendra masuk ke ruangan UGD.
Nita duduk di bangku panjang. Entah kenapa Nita merasa peduli dengan korban. Jarinya mengengam erat dompet warna coklat itu. Rasa penasarannya mengelitik, ingin rasanya mengetahui siapa pemilik dompet ini. Akhirnya ia membukanya.
KTP atas nama Mahendra Bastian. Lahir 2 Juli 1990. Status: belum menikah. Pekerjaan: Wiraswasta.
Segera Luna tutup kembali dompet itu. Merasa lancang telah membuka isi tapi bukannya identitas ini nanti akan di tanyakan dokter? Kepalanya celingak celinguk berharap seseorang mengaku dari keluarga laki- laki itu.
Seorang perawat cantik menghampiri Nita.
"Selamat sore, apa mba keluarga korban?" tanya suster.
Nita mendongak menatap lurus kepada perawat cantik itu. Sejenak termenung sangat ingin punya wajah cantik seperti suster yang ada di hadapanya kini. Dulu punya wajah cantik, tapi kini kecantikan berganti cacat di wajah, kebakaran hebat telah merengut kecantikan itu.
"Mba!" Suster itu menepuk pundak Nita yang tengah melamun. Ia terkesiap sadar dari lamunanya.
"Maaf mba, aku teringat seseorang. Aku bukan keluarga korban, tapi aku bawa ini." Nita menunjukan dompet warna coklat itu. Suster itu perlu mencatat identitas korban.
Suster itu menerima dari tangan Nita.
"Mba, jangan pulang ya. Sebelum ada anggota keluarga korban datang," kata suster ramah.
"Baik Mba."
Nita mengangguk lalu kembali duduk di bangku panjang. Suster itu balik badan dan kembali ke ruang resepsionis, Memasukan data Hendra.
Nita sejenak menikmati kemewahan dari rumah sakit ini. Lantai marmer, dinding warna crem. Sejauh mata memandang Rumah sakit ini bersih. Nita menarik napas pelan, ia sudah lama hidup sederhana. Kebakaran rumahnya telah merenggut kejayaan keluarga lima tahun yang lalu.
Mata Nita sesekali melihat lorong, berharap seseorang mengaku keluarga Hendra agar bisa pulang secepatnya. Takut orang tua mencari keberadaanya. Merasa menyesal tidak membawa ponsel saat ke luar rumah tadi.
Waktu berlalu tak terasa sudah setengah jam menunggu di sini. Seorang dokter paruh baya keluar dari ruangan UGD. Namun Dokter itu pergi berlalu pergi sebelum Nita bertanya. Nita hanya bisa bernapas panjang.
Seorang Laki-laki berjas rapi, melangkah dengan tergesa-gesa. Wajahnya di liputi kecemasan. Ia menghampiri resepsionis Suster cantik itu.
"Maaf suster, ada korban kecelakaan yang di rawat di sini?" tanya Andi panik.
Laki-laki muda itu cemas. Ia memberondong pertanyaan pada suster, ketakutan telah mendera lelaki itu. Nita hanya bisa menatap dari kejauhan.
"Iya Pak, Anda keluarga Tuan Mahendra Bastian?" tanya Suster ramah
"Saya Asistennya Suster!"
Laki-laki muda itu mengeluarkan kartu tipis berwarna hitam.
Selesai lakukan pembayaran, Laki-laki berjas hitam itu menghampiri Nita yang tengah duduk.
"Mba yang membawa Tuan Hendra ke sini?" tanya Andi
Andi duduk di sebelah Nita, ia merasa berterima kasih membawa Bosnya ke Rumah Sakit. Namun ada ganjalan di hatinya. Siapa yang akan nunguin Tuan Hendra?
Nita mengangguk sebagai jawaban. Sesekali menunduk, enggan menatap wajah Andi, walau memakai masker Tapi berhadapan dengan lelaki berjas dan wangi membuatnya minder.
"Namaku Andi, asisten Tuan Hendra, Boleh aku minta bantuanya mba?"
"Minta bantuan apa Tuan, aku tak punya apa-apa." Nita binggung dengan permintaan Tuan Muda itu.
Laki-laki muda itu tersenyum mendengar jawaban Nita. Ingin sekali melihat gadis wajah gadis di depannya ini.
"Maaf nama kamu siapa?"
"Aku Nita Wulandari."
Andi mengulurkan tangan dan di sambut hangat oleh Nita.
"Maaf Bantuan apa ya Tuan?" Nita penasaran.
Jantung Nita berpacu, pikirannya melayang takut Andi meminta organ dalam tubuh diri untuk tuannya. Nita bergidik ngeri membayangkan itu.
Lagi-lagi Andi tersenyum melihat kecemasan di mata Nita.
Andi sejenak menghela napas. Menatap kosong di depannya. Ujian ini sangat berat di tanggung sendiri. Kedua bosnya, sama- sama di rawat di Rumah sakit. Ayah Hendra, di rawat karena terkena serangan jantung, Sedang Hendra kecelakaan.
"Tuan, apa yang harus aku bantu?" Kening Nita berkerut melihat Andi tengah melamun. Apa yang dia pikirkan?
"Aku takut Mba, kalau tuan Hendra lama di RS tapi tak ada yang menjaga. Apalagi sekarang Ayahnya sedang di rawat di RS."
Andi mengusap wajahnya gusar. Hening, tak ada suara yang keluar dari bibir mereka berdua.
Melihat Andi dalam kesusahan hati Nita tergerak ingin membantu.
"Lalu apa yang bisa aku bantu Tuan?"
Nita menawarkan diri. Tapi tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan UGD.
"Siapa keluarga dari Tuan Mahendra?" tanya Dokter.
"Saya Dokter." Andi mengacungkan tanganya ke atas.
"Mari ke ruangan saya!"
Andi langsung mengikuti dokter, Nita hanya bisa bengong melihat mereka berlalu dengan wajah tegang.
Sampai di ruangan Dokter, menjelaskan kalau benturan di kepala Hendra sangat berat, hingga dia mengalami koma. Dokter terpaksa mengabarkan itu walau berat. Mendadak mendung menyelimuti wajah Andi. Namun harus menerima kabar ini dengan sabar. Tapi pundak Andi terasa berat, apalagi Bos besar juga sedang sakit.
Sambil menahan napas berat Andi meminta ijin Dokter untuk menemui Hendra.
"Dokter, aku boleh menemui Bos saya?" pinta Andi.
"Silakan," jawab Dokter.
Ia sangat cemas atas keterangan Dokternya. Perasaannya campur aduk, takut kehilangan melanda jiwa Andi. Tak rela kalau Tuan mudanya akan meninggal dunia.
Dokter mempersilahkan Andi menjenguk Hendra. Saat ini Hendra sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Langkah kaki Andi berat menuju kamar Hendra di rawat, Sesekali menarik nafas pelan. Namun Hati terasa kosong. Sampai di depan pintu, Tangannya menarik handle, dengan pelan ia membukanya. Terlihat Hendra sedang terbaring dengan selang menempel di hidungnya. Kepala dan kakinya terbalut perban. Matanya terpejam, bunyi napasnya terdengar halus masih menandakan ada tanda kehidupan. Tak terasa air mata mengalir dari kedua matanya. Hati Andi remuk redam.
Apa Andi akan tetap meminta Nita untuk menjaga Hendra?
Bersambung.