Pole dance atau tari tiang semakin digandrungi oleh wanita-wanita urban atau yang hidup diperkotaan. Penggemarnya sudah berambah ke berbagai latar belakang, mulai dari artis, pilot, hingga ibu rumah tangga. Tari tiang ini adalah bagian dari sebuah olahraga senam yang mengandalkan kekuatan otot dalam menopang tubuh di sebuah tiang. Tapi kali ini Emily telah menggabungnya menjadi sebuah olahraga yang menarik banyak perhatian mereka semua.
Emily sedang melakukannya. Ya, tarian yang ia berikan terkesan sangat vulgar dan juga seksi, tapi ia masih tetap menggunakan pakaiannya itu. Walaupun hanya sebatas crop top dan juga rok mini saja.
"Lihatlah, ia sangat seksi sekali. Siapa namanya?" tanya seseorang yang saat ini sedang mengisi sebuah kursi VVIP yang tepat berada di hadapan Emily. Tapi, wanita itu tak mendengarnya karena masih sibuk dengan pekerjaannya itu.
Pria berkepala plontos itu menoleh ke arah Emily dan tersenyum, "Oh, dia adalah Emily. Ya, aku akui bahwa wanita itu sangatlah seksi sekali. Ia bahkan memiliki banyak penggemar di club malam ini."
Pria itu tersenyum saat mendengar jawabannya, "Emily.. nama yang indah untuknya."
"Kau benar sekali, Tuan," jawab pria berkepala plontos itu kembali.
Pria matang berusia 30 tahun dan memiliki paras wajah bak dewa Yunani itu kerap kali membuat pengunjung club malam itu merasa iri karena semua hal yang ia miliki. Kedua sorot matanya pun tajam dan berwarna hazel. Rambut cokelatnya itu juga berhasil membuat ketampanannya meningkat. Ia masih menonton Emily hingga semuanya terselesaikan. Bahkan, kedua rekannya itu masih saja mengomentari Emily yang terkesan sangat seksi itu. Ia hanya tersenyum sambil terus menikmati semuanya malam itu.
Setelah penampilannya selesai, wanita itu pun tersenyum kepada para pengunjung dan setelah itu pergi berlalu dari atas panggung. Ia bahkan tak sempat untuk melihat ke semua pengunjung itu, selain gelap, tentu saja karena ia merasa cukup lelah untuk malam ini.
"Kau sangat luar biasa," goda Sandra, managernya itu. Bahkan ia selalu hadir ketika Emily tampil. Penampilannya memang selalu di tunggu-tunggu oleh mereka semua.
Emily tersenyum dan menerima air mineral pemberian dari Sandra, "Terima kasih, kau sangat tahu jika aku sedang merasa haus."
"Kau ini, aku adalah managermu, jadi wajar sekali aku mengetahuinya," ujar Sandra seraya terkekeh.
Satu hal lainnya adalah, ketika Emily tampil di atas panggung perdananya itu, ia tentu saja selalu menggunakan topeng hitam untuk menutupi setengah wajahnya saja. Itu karena ia tak ingin jika semua orang yang datang mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
"Ini, kau memang luar biasa," ujar Sandra yang memberikan sebuah amplop putih yang sangat tebal.
Emily tersenyum saat mendapatkannya. Tentu saja, satu kali tampil ia telah berhasil mendapatkan $2000 dan itu sangatlah banyak untuknya.
"Senang bekerja sama denganmu. Kalau begitu aku permisi dulu," ujar Sandra dan setelah itu pergi berlalu dengan perasaan yang sangat senang. Tentu saja karena komisi yang ia dapatkan sangatlah banyak sekali.
Emily tersenyum dan setelah itu mengganti pakaiannya. Bagaimana pun juga ia harus kembali pulang sebelum pukul 1 dini hari. Apalagi kali ini ia merasa cukup lelah akibat tak banyak beristirahat belakangan ini.
Ia melirik ke arah arlojinya itu, ternyata saat ini waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Masih ada waktu untuk mengganti semua pakaiannya saat ini sebelum kembali pulang.
***
Emily membuka kedua matanya secara perlahan saat ia mendengar teriakan dari Rose, saudara perempuannya itu.
Rose sudah menikah sejak satu tahun yang lalu, tapi sampai saat ini mereka masih belum dikarunia seorang anak. Entah kenapa, mungkin menurutnya karena di antara mereka berdua tak memiliki banyak waktu untuk 'membuatnya' sehingga pikir-pikir ada benarnya juga. Apalagi Rose adalah salah satu wanita sosialita yang sangat gemar menghabiskan uang setiap waktu.
Tak munafik, Emily juga seperti itu, tapi perbedaannya adalah ia yang sangat suka bekerja terlebih dahulu sebelum berbelanja atau pun sebagainya. Tapi tidak dengan Rose, ia masih bergantung pada kedua orang tuanya dan juga suaminya yang sangat kaya raya itu.
"Emily, ayo bangun. Ini sudah pukul 11 siang tapi kau rupanya belum bersiap-siap juga," teriak Rose dan kedengarannya sangat antusias sekali.
Ia cukup terkejut karena Rose datang ke rumah orang tuanya itu secara tiba-tiba. Ia bahkan tak pernah mempersiapkan sarapan terlebih dahulu. Tidak tentu saja karena Rose tak pandai memasak. Berbeda dengan Emily yang sangat pandai dalam bidang itu. Terlihat sekali perbedaannya, bukan?
"Prada sedang mengatakan diskon 10%, sebaiknya kau bersiap-siap karena aku tak ingin terlambat," ujar Rose seraya melihat dirinya di pantulan cermin besar itu.
Emily masih mencoba untuk menatapnya. Cukup sulit karena ia masih merasa mengantuk sekali, "Kau pergilah lebih dulu. Aku akan menyusulmu nanti."
Rose menatapnya dan terdiam sejenak, "Jika di pikir-pikir, kau ada benarnya juga. Baiklah, segera bersiap-siap. Liam akan mengantarkanmu nanti. Oke?"
Emily mengangguk dan setelah itu Rose terlihat pergi berlalu dari dalam kamarnya yang bernuansa pink tersebut.
Emily pun bangkit berdiri dan segera bersiap-siap secepat kilat. Mungkin ia akan berdandan seadanya saja, tak seperti Rose yang terkesan berlebihan sekali padahal ia hanya akan mengikuti diskon saja siang ini.
"Hoam, sepertinya aku juga harus menikmati sarapanku yang terkesan telat ini," gumam Emily seraya memejamkan kedua matanya sejenak di dalam bath up itu.
Di lain sisi, saat ini terlihat Liam yang sedang memainkan ponselnya. Rumah megah itu memang terlihat sepi sekali, hanya ada asisten dan juga bodyguard saja di sana. Itu karena kedua orang tua Rose dan Emily sedang berada di luar negeri untuk melakukan pertemuan dengan rekan kerja Ayah mereka. Tentu saja sekaligus dengan menikmati liburan untuk keduanya. Sudah biasa sekali bagi keluarga Orlando.
"Sayang, aku akan pergi lebih dulu, kau tunggu Emily di sini. Ia sedang bersiap-siap di dalam kamarnya," ujar Rose kepada Liam yang terlihat malas sekali pagi ini. Ia juga terlihat menahan kekesalannya itu.
"Kenapa aku harus menunggu di sini? Lalu, kau akan pergi ke mana?" tanya Liam kemudian.
"Oh, tenanglah sayang. Kau hanya perlu menunggu Emily saja. Aku akan pergi lebih dulu menuju ke mall itu. Kami tak ingin Prada akan kehabisan barang-barangnya sekejap saja tanpa menyisakannya kepada kami. Baiklah, aku tak punya waktu lagi. Sampai jumpa," ujar Rose dan setelah itu pergi berlalu meninggalkan Liam seorang diri.
Liam menghela napas panjang. Sejujurnya, ia sangat ingin menikmati malam-malam yang sangat bergairah seperti layaknya pasangan suami istri kebanyakan. Bahkan, ia ingin jika semua itu dilakukan setiap harinya.
Tapi tidak dengan rumah tangganya. Rose sering kali menolak kewajibannya sebagai seorang istri karena lelah. Selain itu ia juga mengatakan jika sedang tak mood untuk melakukannya. Dan setelah itu Liam dengan sangat terpaksa melakukannya seorang diri saja. Begitu seterusnya hampir setiap hari.
Liam memejamkan kedua matanya. Ia cukup pusing siang ini. Seharusnya ia beristirahat di akhir pekan atau pun menikmati hari-hari yang sangat luar biasa itu. Tapi ternyata Rose malah mengajaknya untuk pergi berbelanja. Sial sekali.
Beberapa saat kemudian, terlihat Emily dengan pakaian oversize hitam yang tak memperlihatkan celana pendeknya itu. Seolah-olah ia tak menggunakan apa pun di bagian bawahnya saat ini.
"Maaf, Liam, kau sudah menunggu lama sekali untukku. Baiklah, ayo," ujar Emily seraya berjalan menuju ke arah halaman depan.
Liam meneguk salivanya dalam-dalam saat melihat Emily tadinya. Baiklah, dua kata yang ada di dalam benaknya saat ini..
Seksi.
Menggoda.
***
Selama di perjalanan, mereka hanya berbicara sesekali dan itu pun Liam yang selalu memulainya terlebih dahulu. Emily yang hanya menjawab semuanya seadanya sambil memainkan ponselnya dan terlihat fokus di sana. Tentu saja karena ia tengah membaca sebuah pesan dari Sandra mengenai pekerjaan malamnya yang begitu rahasia itu.
Emily telah sampai di tempat tujuan, tapi kali ini ia masih bersama dengan Liam di dalam mobil sport merah itu. Rasanya masih mengantuk sekali karena Rose membangunkan dirinya dari tidur yang harusnya memiliki waktu panjangnya itu.
Keduanya terlihat terdiam sesaat setelah sampai di tempat tujuan tersebut. Terlihat Liam yang seketika menatapnya. Pandangan yang diberikan pun juga terlihat penuh dengan sesuatu yang cukup sulit untuk ditebak.
"Apakah kau ingin ku antar ke dalam sana?" tanya Liam seraya menatapnya.
Emily masih mencoba untuk mengumpulkan semua nyawanya. Apalagi ia belum menyentuh sarapannya itu sejak tadi.
"Ehm, mungkin aku tak akan menyusulnya. Aku cukup lapar sekali dan mengantuk juga," gumam Emily kemudian.
Liam lalu meraih ponselnya dan setelah itu menghubungi Rose.
Tak selang beberapa menit, wanita itu pun menerima panggilannya.
"Ya, ada apa? Kau cukup menggangguku."
"Aku juga tak akan menghubungimu jika tak ada sesuatu yang penting."
"Baiklah, maaf. Ada apa, sayang?"
"Emily harus sarapan, mungkin kami akan menyusulnya setelah itu. Atau, tidak sama sekali. Ia begitu lelah sepertinya."
"Ah, ia tak mengatakannya dari awal. Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Ini tidak bisa direncanakan begitu saja, Rose."
"Hm, tapi baiklah, terserah kalian saja. Lebih baik segera ajak Emily ke rumah kita karena aku pikir ia akan lebih aman jika berada bersama dengan kita, apalagi Ayah mengatakan jika ia tak ingin anak bungsunya itu seorang diri di rumah. Emily akan menginap satu minggu di sana, dan ini sebuah paksaan dari kita semua."
Liam melirik ke arah Emily sejenak, wanita itu terlihat tertidur rupanya, "Baiklah. Kalau begitu aku akan segera mengajaknya pergi ke rumah kita."
"Tentu, terima kasih. Hei, ini milikku."
Liam menaikkan sebelah alisnya dan setelah itu memutuskan panggilan tersebut. Ia tahu jika istrinya itu sedang berada di dalam pertempuran sengit dengan wanita lainnya di luar sana.
"Emily?" panggil Liam pelan sambil menatap puas wajah cantik itu.
Emily membuka kedua matanya sejenak, "Ehm, ya?"
"Kita akan pergi ke rumahku. Kau bisa sarapan di sana dan juga beristirahat," ujar Liam kemudian.
Emily mengangguk dan setelah itu membiarkan Liam untuk kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumah megah milik pria itu. Apalagi, sesekali Emily juga pernah menginap di rumah kakak iparnya itu karena Rose memaksanya. Walaupun ia sudah mengatakan jika rasanya tak enak sekali untuk menginap di rumah mereka karena takut akan mengganggu rumah tangga mereka berdua.
Tapi kali ini semuanya sangat terpaksa. Ia juga mendengar perkataan Ayahnya untuk menyuruhnya segera menginap di rumah mereka. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyetujuinya, asalkan pekerjaan malamnya aman terkendali.
***
Sesampainya di sana, Emily merasa jika rasa kantuknya itu menghilang seketika. Ia pun berjalan menuju ke arah dapur untuk segera melihat beberapa bahan makanan yang bisa ia masak siang ini.
"Apakah kau akan memasak?" tanya Liam yang kali ini telah berdiri di ambang pintu dapur.
Emily menatapnya dan tersenyum, "Ya, tentu saja. Apakah aku bisa mendapatkan bahan-bahan makanan yang lainnya? Sepertinya semua ini akan terlihat kurang untuk hari ini."
"Maaf karena kami tak terlalu banyak menyimpan bahan makanan setiap harinya karena Rose tak pernah memasak, kami selalu menyuruh staff koki untuk melakukannya atau kami akan memesan makanan diluar sana. Jadi, untuk siang ini kau bisa mengatakan apa yang ingin kau makan, aku akan membelinya untukmu," jawab Liam seraya berjalan mendekatinya.
Emily tersenyum prihatin mendengarnya. Rose memang sungguh keterlaluan sekali. Ia bahkan tak pernah menyentuh semua peralatan dapur itu. Tapi tunggu dulu, apa yang sudah pria ini katakan tadi? Ia akan membelikan Emily makanan? Bahkan ia bisa menyuruh asistennya saja tanpa harus membelinya sendiri. Tapi... sudahlah, Emily menganggap bahwa Liam adalah kakak laki-laki untuknya dan juga Rose. Ia memang begitu jarang sekali berkomunikasi dengannya, maka dari itu rasa canggung di antara keduanya juga begitu terasa bagi Emily kali ini.
"Ehm, tak masalah, aku melihat spageti dan juga telur. Ini sudah sangat membantu. Maaf untuk soal Rose, aku akan berbicara dengannya nanti mengenai hal ini," jawab Emily dan setelah itu sedikit membungkukkan tubuhnya agar ia bisa mengambil semua bahan makanan itu.
Liam seketika mengedarkan pandangannya menuju ke arah paha belakang Emily yang sangat seksi itu. Oh, rupanya wanita itu terlihat seperti sedang tidak menggunakan celana pendek, "Tidak usah, aku bahkan tak merasa keberatan sama sekali untuk hal itu. Asalkan Rose senang maka aku juga demikian."
Emily tersenyum. Jika di pikir maka Rose begitu beruntung untuk memilikinya. Lihatlah, Liam bahkan sama sekali tak merasa marah mengenai hal tersebut. Terlihat pula Emily yang kembali pada posisi berdirinya itu, namun ia kembali menundukkan tubuhnya sejenak untuk mengecek sesuatu yang lainnya di sana.
"Apakah kau menginginkannya juga?" tanya Emily yang masih mengambil bahan-bahan makanan itu.
Liam meneguk salivanya kembali dan mencoba untuk berpikir jernih, "Ya, aku sangat menginginkannya juga."
Emily tersenyum. Itu artinya ia harus memasak dua porsi kali ini. Tentu saja untuknya dan juga Liam, kakak iparnya itu.
"Baiklah, aku akan segera memasaknya, tunggu sebentar," jawab Emily kemudian dan setelah itu ia pun mulai sibuk dengan kegiatannya.
Liam masih setia duduk di kursi yang berada di belakang Emily saat ini. Sebuah pemandangan yang indah karena bisa melihat seorang wanita memasak, apalagi memasak makan siang untuk dirinya juga. Itu adalah satu hal yang sangat ia inginkan sekali sejak dulu.
"Apakah kau lebih suka memasak?" tanya Liam sambil menemani kegiatannya itu kali ini.
"Tak begitu, tapi terkadang aku menyukainya," jawab Emily.
Liam mengangguk. Emily memang sangat berbeda dengan Rose. Padahal, mereka berdua hanya terpaut tiga tahun saja.
"Apa kesibukanmu sekarang?" tanya Liam kembali.
Emily terdiam sejenak. Tak mungkin jika ia mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk bekerja. Apalagi mengatakan pekerjaan yang sesungguhnya itu kepada Liam. Tak boleh. Tentu saja, semua itu adalah rahasia.
"Aku tidak sedang melakukan apa pun. Begini-begini saja," jawab Emily pada akhirnya. Tak masalah jika Liam akan mengecapnya sebagai pribadi yang malas, itu lebih baik dari pada ia mengetahui pekerjaan rahasianya itu.
Liam tersenyum penuh arti mendengarnya, "Lalu, apakah kau tak memiliki seorang kekasih?"
"Tidak. Aku cukup malas untuk berkenalan dengan mereka semua," jawab Emily.
"Ada apa? Apakah salah satu dari mereka pernah menyakiti hatimu?" tanya Liam seketika.
Sebenarnya rumit sekali, maka dari itu Emily memilih untuk memfokuskan dirinya terhadap pekerjaannya saja. Hanya itu.
"Bukan begitu, maksudku, aku hanya ingin memfokuskan diri saja sebelum bekerja atau pun menikah nantinya," jawab Emily secara asal. Ia pun terlihat tengah menunggu spageti itu agar cukup lembek di dalam sana.
Liam lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya. Saat ini ia telah berdiri di samping wanita itu, "Masih cukup lama. Mungkin kita bisa menunggunya 20 menit lagi."
Emily menatap ke arah Liam. Kali ini jarak di antara keduanya sangat dekat sekali. Bahkan, ia baru mengetahuinya jika Rose sangatlah beruntung karena telah mendapatkan seorang suami yang sangat tampan sekali. Tinggi tubuh Emily pun hanya sebatas lengannya saja. Oh, Liam memang sangat luar biasa.
"Kau benar sekali," jawab Emily yang masih menatapnya kali ini. Ia akui bahwa Rose telah memenangkan semuanya. Pasti di luar sana ada banyak sekali wanita yang merasa iri dengannya.
Liam tersenyum dan tentu saja mereka masih saling menatap satu sama lain, "Kau cantik sekali."
Emily merasa terpukau mendengar suara bariton itu yang telah memujinya, "Terima kasih."
Namun, Emily pun seketika memalingkan wajahnya. Ia hanya merasa gugup saja saat pria itu melihatnya secara lekat. Selain itu ia juga merasa tak enak dengan suasana tersebut.
Di dalam benak Liam kali ini, tentu saja masih tetap berpegang teguh pada dirinya sendiri bahwa Emily sangat luar biasa.
Ohhh, bahkan ia sudah tak tahan lagi.
***
Makan siang di antara keduanya terlihat begitu sunyi karena tentu saja Emily begitu terlihat fokus dengan makanannya sendiri. Ia merasa canggung saat sedang bersama Liam seperti ini tanpa adanya kehadiran Rose atau pun orang lain. Lihatlah, kali ini hanya terdapat mereka berdua saja, bahkan semua asisten rumah tangga itu menghilang begitu saja.
"Rasanya enak sekali," puji Liam untuk masakan buatan dari Emily siang itu.
Emily menatapnya sejenak, ia bahkan merasa terkejut karena tentu saja ia hanya memasak spageti, tidak lebih dari itu semua,"Kau terlalu berlebihan, ini hanyalah spageti."
"Tapi rasanya begitu berbeda karena aku menyantapnya langsung denganmu," jawab Liam seketika dan tentu saja terlihat Emily yang terdiam sejenak. Ia hanya membalas jawaban tersebut dengan seulas senyuman saja dan setelah itu kembali terfokus dengan makanannya. Ah, semua itu terlalu berlebihan bagi Emily tentu saja.
Liam menatapnya dan tersenyum seorang diri setelah itu, "Menginaplah di sini."
Emily yang tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri lantas menatap kembali ke arah Liam dengan pandangan yang terkejut, "Ehm, terima kasih."
Emily bahkan merasa canggung sekali untuk menghadapi suasana seperti itu. Ah, ayolah Rose, kau harus kembali ke rumah secepatnya atau sekarang juga.
***
Setelah makan siang tadi, Emily memutuskan untuk pergi ke sebuah kamar yang selalu ditempatinya saat singgah atau pun menginap di rumah megah yang notabene adalah milik Liam.
Kali ini waktu telah menunjukkan pukul 6 sore dan itu artinya ia harus segera bersiap-siap untuk pergi bekerja. Masih ada banyak waktu karena penampilannya selalu tayang di saat pukul 10 malam. Atau terkadang lebih awal dari biasanya, mungkin pukul 9 malam, atau sesekali pernah di saat pukul 8 malam jika banyaknya pengunjung yang sudah tak sabar untuk segera melihat penampilannya itu.
Emily baru tersadar bahwa ia tak membawa pakaian apa pun hari ini. Apalagi semuanya terkesan dadakan sekali.
"Ah, apakah aku harus menghubungi Sandra saja?" gumam Emily.
Mungkin iya.
Setelah ia bersiap-siap nantinya, Emily akan segera menghubungi Sandra untuk mempersiapkan pakaiannya itu. Ia tak bisa kembali pulang karena jarak rumahnya itu cukup jauh dari posisinya saat ini. Selain itu, akan memakan banyak waktu jika ia mampir ke rumah orang tuanya itu hanya untuk mengambil pakaian saja.
Tak perlu menunggu lama lagi ia pun segera menuju ke dalam kamar mandi untuk segera mempersiapkan dirinya. Emily lebih suka jika ia pergi lebih awal sebelum semuanya terlihat ramai karena besar kemungkinan ia akan diketahui oleh mereka semua jika datang terlambat nantinya.
Rose masih belum kembali pulang. Ia yakin jika wanita itu masih berada di salon atau pun sedang melakukan perkumpulan arisan bersama dengan wanita sosialita lainnya.
Emily memang pernah melakukan itu, tapi dulu, sebelum ia bekerja sebagai seorang pole dancer.
Emily lalu berniat untuk menikmati air hangat yang ia rasakan di dalam bath up tersebut. Tentu saja rasanya sangat membuat dirinya tenang sesaat sebelum tampil di muka umum nantinya.
Tok! Tok!
Emily membuka kedua matanya. Ia merasa jika pintu kamarnya itu telah di ketuk oleh seseorang. Entah itu siapa, mungkin asisten rumah tangga mereka atau pun Rose yang telah kembali lebih awal. Emily tak menghiraukannya sejenak. Ia lalu kembali dengan kegiatannya itu dan mencoba untuk memikirkan sebuah kreasi tarian lainnya malam ini.
"Hm, jika di pikir-pikir, mungkin aku bisa menggunakan bikini saja. Sesekali tak masalah, bukan?" gumam Emily seraya tersenyum. Toh juga wajah nya tak terlalu terpampang jelas kepada mereka semua. Apalagi lampu remang-remang itu juga berhasil menyembunyikan sosok dirinya yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan topeng yang ia gunakan setiap tampil.
Setelah asyik dengan semua proposal tariannya itu, ia pun segera pergi untuk bersiap-siap dan menggunakan baju seadanya saja. Apalagi Rose pernah memberikannya beberapa potong pakaian agar bisa ia gunakan selama berada di rumah itu.
Saat berjalan mendekati tempat tidurnya tersebut, ia melihat sebuah tote bag cokelat yang berada di atas sana. Sepertinya terdapat pakaian di dalam sana.
Saat Emily memeriksanya, ternyata benar sekali dugaannya itu. Terdapat empat pakaian dan juga pakaian dalam yang tersedia di sana. Biasanya Rose yang selalu melakukan hal tersebut karena wanita itu begitu tanggap sekali jika berhadapan dengan pakaian atau pun barang modis lainnya.
"Tapi, kenapa Rose memberikan lingerie kepadaku? Kenapa ia tak memberikan baju kaos saja?" gumam Emily yang merasa heran.
Sebenarnya ia merasa tak masalah jika harus menggunakan semua itu. Tapi tetap saja ia lebih suka menggunakan kaos oversize ketika sedang berada atau menginap di luar rumah. Apalagi di sini terdapat Liam, jadi rasanya canggung sekali.
"Bagaimana jika aku menggunakan semua ini saat malam hari saja? Mungkin setelah kembali pulang dari club malam itu," gumam Emily kemudian dan setelah itu memutuskan untuk memberitahukan Sandra soal pakaian yang akan ia gunakan nantinya.
Setelah sibuk dengan percakapan di antara keduanya, rupanya Sandra tak memiliki bikini. Hanya pakaian yang biasa di pakai oleh Emily saja.
"Sungguh, aku tak membawanya. Tapi, bagaimana jika aku membelinya saja?"
"Hei, tak usah. Aku sudah mendapatkannya dari Rose. Baiklah, terima kasih. Aku akan menggunakan lingerie merah saja."
"Wow, luar biasa. Penonton akan semakin tertarik denganmu. Baiklah, ayo datang kemari sebelum pukul 9 malam karena kau harus pentas pukul 9.30. Oke?"
"Tentu saja. Sebentar lagi aku akan pergi ke sana. Tunggu aku di tempat biasa."
"Tentu saja, sayang. Baiklah, berhati-hati di jalan."
"Terima kasih."
Setelah panggilan itu terputus, Emily lalu menggunakan lingerie merah yang sangat seksi itu di dalam tubuhnya. Setelah itu ia pun menggunakan baju oversize yang berada di lemari kamarnya itu. Semua make up miliknya telah ia bawa sehingga lebih baik ia menggunakannya saja di tempat tujuan bersama dengan Sandra.
"Semuanya siap, aku akan pergi makan malam dengan Rose dan Liam terlebih dahulu," gumam Emily dan setelah itu ia pun berjalan menuju ke arah lift untuk segera menuju ke lantai bawah.
Tak perlu menunggu lama lagi, pintu lift pun terbuka, di sana memperlihatkan Liam yang tengah menikmati makan malamnya itu. Hanya seorang diri rupanya.
Emily berjalan menuju ke arah meja makan dan merasa canggung kembali. Apalagi saat Liam menatapnya kali ini.
"Di mana Rose?" tanya Emily kemudian seraya menyantap makan malamnya dengan cepat.
Liam menatapnya dan tersenyum, "Ia baru saja pergi untuk membeli sesuatu. Mungkin sebentar lagi akan kembali pulang."
Emily mengangguk. Mungkin ia akan berterima kasih kepada Rose soal lingerie itu nantinya. Atau besok pagi, entahlah.
Emily selalu melihat ke arah ponselnya untuk mengecek waktu saat ini. Bahkan ia menyantap makanannya itu dengan secepat kilat.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampaikan salamku untuk Rose," ujar Emily kemudian. Ia pun segera pergi berlalu dengan sedikit berlari. Kali ini ia akan menggunakan taksi saja karena mobilnya itu berada di rumahnya.
Drrt! Drrt!
Liam menatap ke arah ponselnya itu dan segera menerima panggilan dari Rose.
"Ya?"
"Beritahu Emily, aku belum bisa kembali pulang dan makan malam bersama dengan kalian semua. Aku akan sedikit terlambat malam ini."
"Tentu saja. Have fun, sayang."
"Aw, terima kasih."
Setelah panggilan tersebut usai, Liam menatap kembali kepergian Emily yang sudah tak terlihat lagi di hadapannya saat ini seraya tersenyum penuh arti. Ia lalu meneguk air mineralnya itu sejenak dan kembali menatap ponselnya itu sambil membalaskan beberapa pesan yang dikirimkan untuknya. Bahkan dengan semua pesan dari teman-temannya itu baru sempat ia balas saat ini.
"Ah, baiklah kalau begitu," gumam Liam dan setelah itu bangkit berdiri untuk berjalan menuju ke arah parkiran mobil mewahnya. Sambil menunggu kehadiran Rose, mungkin ada baiknya ia berkeliling sejenak atau pun hanya sekadar menikmati malam yang menurutnya begitu terasa lain dari malam-malam sebelumnya.
***