Malam itu hujan turun dengan deras, menimpa atap rumah besar bergaya kolonial di pinggiran kota. Petir sesekali menyambar, menyalakan cahaya kilat yang membuat bayangan pepohonan di halaman rumah terlihat seperti raksasa menari. Di dalam rumah, suasana tidak kalah mencekam.
Nayla berlari menyusuri koridor panjang dengan napas terengah, dadanya naik-turun seiring rasa panik yang tak terkendali. Ia baru saja mendengar suara letusan senjata dari arah ruang tamu. Jeritan majikannya, nyonya Ratih, masih terngiang jelas di telinganya.
"Ya Tuhan... jangan sampai..." bisik Nayla dengan suara bergetar.
Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu kamar bayi. Dengan cepat ia mendorong pintu dan melihat seorang bayi mungil di dalam boks kayu, menangis keras ketakutan mendengar suara ribut di luar. Tanpa pikir panjang, Nayla menggendongnya.
"Shhh... tenang, Nak... tenang, aku di sini..." ucap Nayla pelan, mencoba meredam tangis sang bayi.
Namun, langkah-langkah berat terdengar mendekat. Suara pintu ditendang keras bergema dari arah ruang tengah. Nayla tahu, ia tak punya banyak waktu.
Dengan sigap, ia meraih tas bayi di sudut kamar, memasukkan beberapa popok dan botol susu, lalu menutupinya dengan kain. Ia menempelkan bayi itu ke dadanya, menahan napas, lalu berjalan cepat menuju pintu belakang rumah.
Baru saja ia melewati dapur, suara laki-laki kasar terdengar.
"Cari! Jangan biarkan ada saksi hidup!"
Tubuh Nayla langsung kaku. Ia merapat ke dinding, memeluk bayi itu erat-erat. Keringat dingin membasahi keningnya meski udara malam sangat dingin.
Langkah-langkah semakin mendekat. Ia menoleh kanan-kiri, mencari celah untuk melarikan diri. Lalu matanya tertumbuk pada pintu kecil menuju gudang penyimpanan. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke dalam, menutup pintunya pelan, dan menahan napas.
Di dalam gelap, ia hanya bisa berdoa. "Tolong, Tuhan... lindungi bayi ini... jangan biarkan mereka menemukannya..."
Detik-detik terasa seperti jam. Suara langkah-langkah itu semakin dekat, lalu menjauh. Nayla menunggu lebih lama, baru berani bergerak. Dengan hati-hati ia keluar, berjalan menuju halaman belakang.
Namun, sebelum ia mencapai gerbang kecil, sorotan lampu senter mengenai wajahnya.
"HEI!"
Nayla terkejut. Jantungnya hampir copot. Ia berlari sekuat tenaga sambil menggendong bayi. Dari belakang, terdengar suara teriakan dan langkah kaki mengejarnya.
Di tengah hujan deras, ia terus berlari. Lumpur mengotori kakinya, napasnya semakin berat, tapi ia tak berhenti. Bayi di pelukannya kembali menangis keras.
"Ssttt... jangan, Nak... sebentar lagi kita aman..." Nayla berusaha menenangkan, meski dirinya sendiri ketakutan setengah mati.
Saat itulah, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di ujung jalan. Lampu depan menyilaukan pandangannya. Pintu terbuka, dan seorang pria keluar. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam meski samar diterangi hujan.
"Cepat masuk!" serunya lantang.
Nayla terdiam sejenak, ragu apakah ia harus percaya pada orang asing ini. Tapi suara teriakan para pengejar semakin dekat. Tanpa pilihan lain, ia melompat masuk ke mobil itu.
Begitu pintu ditutup, mobil melaju kencang menembus hujan. Nayla menoleh ke pria yang duduk di belakang kemudi.
"Siapa kau?" tanyanya, suaranya penuh waspada.
Pria itu hanya menoleh sebentar. "Arkan. Kau?"
"Nayla..." jawabnya singkat, masih terengah.
Arkan menatap bayi yang digendong Nayla. "Itu... anak mereka?"
Nayla mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku harus melindunginya... mereka semua mati... hanya dia yang tersisa..."
Arkan terdiam cukup lama. Sorot matanya berubah, seolah ada sesuatu yang tengah dipikirkannya dalam-dalam. Mobil terus melaju meninggalkan rumah besar yang kini hanya terlihat samar dalam gelap hujan.
Malam itu menjadi awal dari sesuatu yang Nayla tak pernah bayangkan.
Keesokan paginya, Nayla terbangun di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Ia terkejut mendapati dirinya tidur di sofa dengan bayi masih di pelukan. Di meja ada termos berisi air hangat, susu formula, dan beberapa perlengkapan bayi yang sudah disiapkan.
Saat ia masih bingung, Arkan keluar dari kamar, mengenakan kemeja rapi.
"Kau sudah bangun?" tanyanya tenang.
Nayla bangkit, berdiri kikuk. "Kenapa kau membawaku ke sini? Aku... aku tidak mengenalmu..."
Arkan duduk di kursi, menatap Nayla lekat-lekat. "Kalau semalam aku tidak menolongmu, kau mungkin sudah mati sekarang."
Nayla terdiam. Ia sadar, Arkan benar.
"Aku tidak butuh ucapan terima kasih," lanjut Arkan. "Tapi aku butuh bantuanmu."
"Hah? Bantuan?" Nayla mengerutkan kening.
Arkan bersandar ke kursinya. "Aku butuh seorang istri... setidaknya untuk sementara."
Nayla hampir menjatuhkan bayi dari gendongannya. "Apa maksudmu?! Kau orang gila, ya?"
Arkan tidak tersenyum. Tatapannya tetap serius. "Dengarkan dulu sebelum kau menolak. Aku akan membayarmu satu miliar rupiah. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi istriku."
Nayla membeku. Kata-kata itu terasa seperti lelucon yang terlalu jauh.
"Kenapa aku?" tanyanya penuh curiga.
"Karena semalam, tanpa kau sadari, kau sudah masuk ke dalam hidupku," jawab Arkan datar. "Aku sedang berada dalam masalah besar, Nayla. Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk menjalani peran ini. Dan kau... kau terlihat tidak punya siapa-siapa. Itu artinya, kau tidak punya alasan untuk mengkhianatiku."
Nayla tercekat. Kata-kata itu menusuk hatinya. Benar, ia tidak punya siapa-siapa. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya hanya diwarnai kerja keras sebagai pembantu rumah tangga.
Tapi menyamar jadi istri orang asing? Itu gila.
"Aku... aku tidak bisa," ucapnya pelan.
Arkan menatapnya lagi, kali ini matanya melirik bayi di pelukan Nayla. "Kau ingin melindungi anak itu, bukan? Kalau kau menolak, mereka yang memburu kalian akan menemukannya. Tapi kalau kau bersamaku, dia akan aman. Aku punya kekuatan untuk itu."
Nayla terdiam. Ia menatap bayi mungil yang masih terlelap. Hatinya remuk. Ia tidak ingin anak itu berakhir seperti nasib majikannya semalam.
"Bayi itu... dia butuh status. Butuh keluarga. Kalau tidak, siapa pun bisa mengklaimnya, merebutnya darimu."
Ucapan Arkan membuat Nayla menunduk. Benar. Seorang pembantu sepertinya, mana mungkin bisa mempertahankan hak asuh bayi seorang miliarder?
Nayla menggigit bibir. "Kalau aku setuju... apa jaminannya kau tidak akan mencelakai kami?"
Arkan berdiri, lalu berjalan pelan mendekat. Ia menatap Nayla lurus-lurus. "Aku tidak pernah menyakiti orang yang kuanggap milikku."
Entah kenapa, ada sesuatu dalam tatapan mata pria itu yang membuat Nayla percaya. Meski samar, ia merasa Arkan menyembunyikan luka besar di balik wajah dinginnya.
Akhirnya, dengan napas berat, Nayla mengangguk. "Baiklah... aku akan melakukannya. Demi bayi ini."
Senyum tipis muncul di bibir Arkan, pertama kalinya sejak mereka bertemu. "Kau membuat keputusan yang tepat."
Nayla menatapnya penuh waspada, tapi juga pasrah. Ia tahu, sejak malam berdarah itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dan benar, dalam waktu semalam, ia telah berubah dari seorang pembantu tak berarti menjadi seorang istri kontrak... sekaligus ibu bagi bayi yang baru saja ia selamatkan.
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis apartemen mewah yang tak pernah Nayla bayangkan bisa ia tinggali. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian sederhana dari semalam. Bayi mungil itu tidur pulas di dalam boks portabel yang semalam sudah disiapkan oleh Arkan.
Nayla memandang wajah polos si kecil dengan hati bergetar. Air mata hampir menetes setiap kali ia mengingat kejadian malam itu. Nyawa-nyawa melayang, rumah megah yang selama ini ia tinggali sebagai pekerja luluh lantak oleh darah dan jeritan. Dan kini, hanya bayi ini yang tersisa.
"Kalau bukan karena kamu, Nak... mungkin aku sudah kabur sejauh-jauhnya dari semua ini," bisik Nayla, mengelus pipi bayi itu lembut.
Bunyi ketukan pelan terdengar dari arah pintu. Nayla menoleh dengan cepat, hatinya langsung dipenuhi waspada.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Arkan dengan jas rapi, rambut disisir sempurna, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Ia masuk sambil membawa nampan berisi sarapan.
"Kau belum makan sejak semalam," katanya datar, meletakkan nampan di atas meja.
Nayla sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pria setegas itu sempat-sempatnya menyiapkan makanan untuknya.
"Aku tidak lapar," jawab Nayla pelan.
Arkan meliriknya singkat. "Kalau kau mati kelaparan, bagaimana bisa menjaga bayi itu? Makanlah."
Nada suaranya terdengar seperti perintah, tapi bukan tanpa alasan. Nayla menunduk, lalu perlahan menarik piring roti panggang dan segelas susu. Ia makan dalam diam, sementara Arkan berdiri di dekat jendela, menatap kota dari ketinggian lantai dua puluh.
Suasana hening. Hanya suara bayi yang sesekali bergerak kecil dalam tidurnya.
"Arkan," panggil Nayla akhirnya.
Pria itu menoleh. "Ya?"
"Kau bilang... aku harus menyamar menjadi istrimu. Bisa kau jelaskan lebih detail?" suara Nayla bergetar, tapi tatapannya berusaha tegas.
Arkan menyilangkan tangan di dada, matanya tetap tajam. "Aku berada dalam tekanan besar. Beberapa pihak berusaha menjatuhkanku, terutama keluarga besar yang ingin merebut warisan. Kalau aku punya istri dan anak, statusku akan jauh lebih kuat di mata mereka. Aku butuh tameng... dan kau akan menjadi tameng itu."
Nayla menelan ludah. "Jadi, semua ini hanya sandiwara?"
"Awalnya, ya."
"Dan kau pikir aku bisa berpura-pura menjadi istri seorang pria kaya raya yang bahkan baru kukenal semalam?" Nayla menantangnya.
Arkan tersenyum tipis, sinis tapi entah kenapa tetap memikat. "Kau tidak punya pilihan lain. Kalau tidak, anak itu akan diambil dari tanganmu. Dan kau tahu betul, mereka yang memburumu semalam tidak akan berhenti sampai mendapatkannya."
Hati Nayla mencelos. Benar. Ia bukan siapa-siapa. Tanpa perlindungan Arkan, ia dan bayi itu hanya akan menjadi mangsa empuk.
"Berapa lama aku harus menjalani peran ini?" tanya Nayla lagi.
"Selama diperlukan." Jawaban Arkan singkat, padat, dan membuat Nayla semakin resah.
Hari-hari pertama bersama Arkan terasa asing. Apartemen mewah itu bak penjara emas bagi Nayla. Ia tidak bebas keluar, karena Arkan khawatir para musuhnya masih mencari. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk-beberapa staf kepercayaan yang semua tunduk penuh pada Arkan.
Meski begitu, Arkan selalu memastikan Nayla dan bayi itu mendapatkan semua yang mereka butuhkan. Dokter pribadi datang memeriksa bayi, memastikan kesehatannya. Perawat juga dipanggil untuk membantu Nayla yang masih canggung mengurus anak kecil.
Namun, tetap saja... Nayla merasa terasing.
Malam itu, saat bayi menangis keras karena kolik, Nayla berusaha menenangkannya sendirian. Tangannya gemetar saat mencoba memberikan susu, tapi bayi itu menolak dan terus menangis.
"Shhh... tenanglah, Nak... tolonglah berhenti menangis... aku tidak tahu harus bagaimana..." Nayla hampir menangis sendiri.
Pintu kamar terbuka. Arkan masuk, wajahnya masih dingin tapi matanya sedikit khawatir. Tanpa banyak bicara, ia mengambil bayi dari pelukan Nayla, menggendongnya dengan cara yang begitu natural, seakan ia sudah sering melakukannya.
"Dia tidak lapar. Perutnya kembung," ucap Arkan singkat.
Dengan lembut, ia menepuk-nepuk punggung bayi itu sambil mengayunkan perlahan. Tidak lama kemudian, suara tangisan reda. Bayi itu terlelap kembali di bahu Arkan.
Nayla terdiam, menatap pemandangan itu dengan mata melebar. Ada sesuatu yang bergetar di hatinya.
"Kau... kau terbiasa mengurus bayi?" tanya Nayla ragu.
Arkan menoleh singkat, ekspresinya sulit ditebak. "Aku pernah punya adik kecil. Aku yang merawatnya."
Nayla tercekat. Itu pertama kalinya Arkan membicarakan masa lalunya.
Keesokan harinya, Arkan mengajak Nayla keluar untuk pertama kalinya. Mobil hitam dengan sopir pribadi membawa mereka ke sebuah butik mewah. Nayla mengenakan pakaian sederhana yang jelas kontras dengan interior butik yang penuh gaun berkilauan.
"Apa kita... benar-benar harus di sini?" tanya Nayla canggung, menatap gaun-gaun yang harganya mungkin setara dengan gaji setahun seorang pegawai biasa.
Arkan menatapnya datar. "Kalau kau akan menjadi istriku di mata publik, kau harus terlihat pantas."
Seketika, beberapa pramuniaga menyambut mereka dengan senyum ramah. Nayla diseret masuk ke ruang fitting, mencoba gaun demi gaun. Ia merasa seperti boneka yang dipakaikan baju.
Namun saat ia keluar dengan gaun biru tua yang jatuh anggun di tubuhnya, Nayla melihat pantulan dirinya di cermin besar. Ia nyaris tidak mengenali perempuan itu.
Arkan yang duduk menunggu di sofa menoleh, matanya terhenti sesaat. Ada sesuatu di sana-sekelebat kekaguman-meski cepat ia sembunyikan dengan wajah datarnya.
"Itu yang terbaik sejauh ini," katanya singkat.
Nayla menggigit bibir. "Aku bukan pameran, Arkan. Aku bukan barang yang bisa kau pajang untuk membuatmu terlihat berkelas."
Arkan berdiri, melangkah mendekat. Sorot matanya menusuk. "Kau bukan barang. Tapi mulai sekarang, kau adalah bagian dari hidupku. Suka atau tidak, kau harus siap menanggung konsekuensinya."
Nayla menatapnya dengan dada berdebar. Pria ini... selalu dingin, tapi setiap kata-katanya seakan mampu menghujam sampai ke hati terdalam.
Hari demi hari, sandiwara itu mulai dijalani. Foto-foto kebersamaan mereka sengaja tersebar di media sosial lewat tangan orang-orang Arkan. Publik mulai percaya: Arkan, pria dingin nan misterius, ternyata sudah berkeluarga dengan seorang wanita sederhana dan bayi mungil yang menggemaskan.
Namun di balik semua itu, Nayla tahu... ini hanyalah permainan.
Malam itu, saat ia berdiri di balkon apartemen memandangi lampu kota, Arkan menghampirinya.
"Kau mulai terbiasa dengan peranmu?" tanyanya, nada suaranya lebih lembut daripada biasanya.
Nayla menghela napas. "Aku tidak tahu. Rasanya aneh... berpura-pura bahagia, sementara aku bahkan tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."
Arkan menatapnya lama, seolah sedang menimbang sesuatu. Lalu ia berkata pelan, "Kau tidak perlu tahu semua tentangku, Nayla. Yang perlu kau tahu hanya satu: selama kau di sisiku, kau aman. Dan bayi itu pun aman."
Nayla menoleh, menatap matanya. "Tapi sampai kapan, Arkan? Sampai kapan aku harus hidup dalam kebohongan ini?"
Untuk pertama kalinya, wajah dingin itu terlihat rapuh. Ada luka lama yang samar-samar tercermin di mata Arkan.
"Sampai aku bisa memastikan tidak ada lagi yang berani menyentuh kalian," jawabnya akhirnya.
Dan malam itu, Nayla menyadari satu hal: di balik perjanjian gila ini, ada sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup mereka berdua selamanya.
Malam hujan kembali turun. Tidak sederas malam pertama saat tragedi itu menimpa Nayla, tetapi cukup untuk membuat kaca jendela apartemen dipenuhi titik-titik air.
Nayla duduk di lantai kamar bayi, bersandar pada dinding sambil menatap boks kecil tempat si mungil tidur nyenyak. Ia menelusuri wajah polos itu dengan mata sembab. Bayi itu tampak damai, seakan dunia di sekelilingnya tidak pernah retak, seakan ia tidak tahu bahwa kedua orang tuanya sudah tiada.
Nayla menggenggam jari-jemarinya sendiri erat, menahan gemetar.
"Kenapa aku?" bisiknya pada diri sendiri. "Kenapa aku yang harus melewati semua ini? Aku hanya seorang pembantu, aku tidak pantas berada di sini..."
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Ia teringat wajah nyonya Ratih, majikannya, yang terakhir kali menjerit sebelum suara tembakan mengakhiri segalanya. Nayla menggigit bibir hingga terasa asin. Bayangan itu begitu jelas-darah, jeritan, langkah-langkah terburu.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka pelan.
"Nayla."
Arkan berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja putihnya yang kini dilonggarkan. Rambutnya agak berantakan, seolah ia juga belum tidur. Sorot matanya menelisik, tajam namun ada sesuatu di sana... kekhawatiran?
Nayla buru-buru mengusap air matanya. "Aku... hanya memastikan dia tidur dengan tenang."
Arkan masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia menatap Nayla yang duduk di lantai. "Kau belum juga tidur."
"Aku tidak bisa tidur," jawab Nayla singkat.
Arkan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di dekat boks bayi. Hening menyelimuti mereka beberapa saat. Hanya suara hujan yang terdengar.
"Aku tahu kau ketakutan," ucap Arkan akhirnya, nada suaranya lebih lembut daripada biasanya.
Nayla mendongak, menatapnya penuh curiga. "Tentu saja aku ketakutan. Aku melihat orang-orang mati di depan mataku. Aku tidak tahu siapa yang mengejarku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa percaya padamu."
Kata-kata itu meluncur begitu saja, membuat jantung Nayla berdebar. Tapi ia tidak peduli. Ia butuh mengatakannya.
Arkan menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya tetap datar, tapi mata itu... mata itu tampak berbeda.
"Kau benar. Kau tidak punya alasan untuk percaya padaku," katanya tenang.
Nayla sedikit terkejut. Ia mengira Arkan akan marah, akan menghardiknya karena berani berkata seperti itu.
"Tapi aku beri kau pilihan, Nayla," lanjut Arkan, suaranya tegas namun tidak menekan. "Kau bisa pergi besok, kalau kau mau. Aku tidak akan menghentikanmu. Tapi kau tahu risikonya. Bayi itu... akan menjadi rebutan. Dan kau... tidak akan bisa melindunginya sendirian."
Nayla terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia tahu Arkan benar.
"Kalau kau bertahan bersamaku," kata Arkan lagi, "maka aku pastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh kalian."
Nayla menunduk. Air matanya kembali jatuh.
"Kenapa?" suaranya serak. "Kenapa kau peduli pada kami? Aku bukan siapa-siapa bagimu. Bayi ini juga bukan darah dagingmu."
Untuk pertama kalinya, Arkan terlihat ragu. Ia menghela napas panjang, lalu berkata pelan, "Karena aku pernah kehilangan orang yang kucintai... dan aku tidak ingin itu terjadi lagi."
Nayla terdiam, hatinya bergetar. Itu pengakuan paling jujur yang pernah ia dengar dari Arkan.
Hari-hari berikutnya, Nayla semakin larut dalam dilema.
Di satu sisi, ia takut pada dunia Arkan. Pria itu penuh rahasia. Telepon-telepon larut malam, pertemuan singkat dengan orang-orang berjas gelap, dan tatapan mata yang seolah selalu siap menghadapi perang. Ada kalanya Nayla merasa ia hanya pion kecil dalam permainan besar yang tidak ia pahami.
Tapi di sisi lain, ada momen-momen kecil yang perlahan menggoyahkan tembok ketakutannya.
Seperti pagi itu, saat Nayla ke dapur dan mendapati Arkan sedang menyiapkan botol susu untuk bayi. Tangannya terampil, wajahnya serius tapi tenang.
"Kau... benar-benar terbiasa melakukan ini," ucap Nayla tanpa sadar.
Arkan menoleh sebentar. "Aku bilang padamu, aku pernah mengurus adik kecilku."
"Di mana dia sekarang?" Nayla memberanikan diri bertanya.
Sekilas, ada bayangan gelap di wajah Arkan. Ia menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. "Dia sudah tiada."
Nayla tercekat. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi tatapan Arkan yang mendadak dingin membuatnya mengurungkan niat. Meski begitu, ada simpati yang tumbuh dalam hatinya.
Sore itu, Nayla membawa bayi jalan-jalan kecil di taman atap apartemen. Udara segar, bunga-bunga bermekaran, tapi hatinya masih dihantui pertanyaan besar.
Arkan muncul, mengenakan pakaian santai untuk pertama kalinya. Tanpa jas, tanpa kemeja kaku. Hanya kaus hitam dan celana panjang. Pemandangan itu begitu asing, membuat Nayla nyaris tidak mengenalinya.
"Kau tampak lebih rileks tanpa jas itu," ucap Nayla, mencoba mencairkan suasana.
Arkan meliriknya. "Kau menyindir?"
"Tidak. Aku hanya jujur."
Untuk sesaat, sudut bibir Arkan terangkat. Bukan senyum penuh, tapi cukup membuat Nayla terkejut.
Mereka duduk di bangku panjang, menatap matahari sore. Bayi itu tertidur di kereta dorong.
"Arkan," panggil Nayla pelan.
"Hm?"
"Aku... aku masih takut." Nayla menunduk, jemarinya saling meremas. "Aku takut semua ini hanya permainan. Aku takut suatu hari aku dan bayi ini akan dibuang begitu saja."
Arkan menoleh, menatapnya lekat-lekat. "Aku tidak main-main dengan nyawa, Nayla. Kau harus percaya itu."
"Tapi bagaimana aku bisa percaya?" suara Nayla bergetar. "Kau terlalu misterius. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kau lakukan."
Arkan menarik napas panjang. "Mungkin suatu hari aku akan memberitahumu. Tapi untuk sekarang... cukup percaya bahwa aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu."
Mata Nayla panas. Ia menatap pria itu, mencari tanda kebohongan, tapi tidak menemukannya. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia ingin mempercayainya.
Malamnya, Nayla sulit tidur. Ia berbaring di ranjang, memeluk bantal erat-erat. Pikirannya bercampur aduk. Ketakutan, keraguan, tapi juga rasa aman yang samar-samar mulai tumbuh ketika mengingat tatapan mata Arkan.
"Apa aku bodoh... kalau mulai percaya padanya?" gumamnya sendiri.
Ia menoleh ke arah pintu kamar, seolah membayangkan sosok Arkan di baliknya. Pria dingin itu, pria misterius yang bisa jadi ancaman sekaligus pelindung.
Dan malam itu, Nayla sadar... hatinya mulai rapuh. Ia tidak tahu apakah kepercayaan yang tumbuh ini akan menyelamatkannya, atau justru menghancurkannya lebih dalam.