Bab 1

Hiks hiks...  Suara tangis menggema sepanjang lorong mansion,  menuju sebuah kamar mewah. Terdapat seorang wanita yang sedang terisak dengan mengenakan sebuah gaun mewah dan riasan cantik.

"Dengar, tangisanmu tidak akan berarti.  Jadi , tersenyumlah Celina,  sebelum aku merobek mulut jalangmu itu!" Bentak seorang pria sembari mencengkeram rahang yang merupakan tunangan wanita muda bernama Celina.

Knock...knock...

"Permisi tuan,  tuan Mikhael sudah tiba." Ucap salah seorang bawahan pria laknat,  yang merupakan tunangan dari Celina.

"Celina,  dengarkan aku baik-baik,  inilah kesempatan terakhirmu.  Jadi,  jangan sia-siakan tubuhmu ini." Ucapnya tanpa perasaan, kemudian bergegas menemui tamu yang dimaksud.

Menutup kembali pintu kamar, dan

"Selamat datang, tuan Mikhael, wanita istimewa itu sudah menanti di dalam." Ucapnya dengan bangga.

Sebuah cek senilai lima juta dollar di lemparkan begitu saja ke wajah pria laknat itu.  "Segera pergi, dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Tegas pria konglomerat yang bernama Mikhael.

Dengan tidak tahu malu,  pria itu pun pergi.

•••

Mikhael melangkah menuju sebuah kamar dimana Celina berada.

Celina sudah duduk membelakangi dengan gaun yang mengekspos bagian punggung mulus nan seksinya.

"Bagaimana bisa kau berniat melayaniku dengan kondisi menyedihkan seperti ini. Kau benar-benar membuat gairahku turun drastis." Tegas Mikhael sembari menatap tajam ke arah Celina, tatkala melihat wajah sembab Celina.

"Maafkan aku tuan, apa yang harus aku perbuat agar tuan kembali bergairah?" tanya Celina. Meski terdengar tidak tahu malu,  namun apa lagi yang dapat dipertahankannya dengan kondisi yang sudah dijual, pikirnya.

"Dengar,  aku sudah membayarmu dengan jumlah uang yang tidak sedikit,  jadi bayar dengan tubuhmu tanpa kekecewaan."

"Apa yang harus kulakukan,  aku bahkan belum pernah berciuman, aku hanya sempat menonton film seks beberapa saat lalu.." batin Celina. 

Dengan berani,  Celina berdiri meraih tengkuk leher Mikhael lalu mengecup bibir tebalnya.

"Sial, wanita ini benar-benar tidak pernah melakukan apapun?" batin Mikhael, namun hanya membiarkan saja tindakan Celina.

Mengecup bibir dengan bersusah payah,  lalu leher dan area tubuh bagian dalam.  Tak hanya itu, Celina juga merogoh isi celana dalam milik Mikhael.  Tatapan mata Mikhael membulat, dengan deru napas yang terus memacu kencang.

Dengan tangan gemetar hebat,  Celina melahap batang penis milik Mikhael. Tiba-tiba,  Mikhael meraih pergelangan tangan Celina,  dan melempar pelan tubuh Celina ke atas tempat tidur kingsize mewah bak singgasana itu.

Mikhael melumat bibir Celina dengan kecupan rakus dan menuntut,  diikuti jemarinya yang mulai menggerayangi area tubuh Celina.

Uhk..  Ah..  Desah nakal Celina pun lolos dari mulutnya.

Mikhael membuka lebar kedua paha Celina dan mulai menjelajahi area sensitif di sana.

Ahkk..  Mmm.. Hmpp...  Desah panjang Celina,  tatkala lidah nakal Mikhael menjamah liang senggama miliknya.

"Dasar mulut jalang, bagaimana bisa aku seakan begitu menikmati kegiatan mesum ini.." batin Celina.

"Keluarkan saja dan jangan di tahan."Ucap Mikhael.

Untuk pertama kali di dalam hidupnya,  Celina merasakan titik klimaks kenikmatan surha dunia tiada tara, walau baru menggunakan lidah nakal Mikhael saja.

"Ini mungkin akan terasa sedikit sakit," ucap Mikhael dan mulai mengarahkan batang penisnya.

Ahkk.. Hhh mmm.. "sakit,  sangat sakit,  sampai rasanya tubuhku terkoyak hebat.." batin Celina.

Tetesan darah perawan Celina membasahi seprei putih tempat mereka sedang bercinta.

"Mulai saat ini,  seluruh tubuh ini bahkan napasmu ialah milikku seorang." Tegas Mikhael,  lalu mulai memaju mundurkan gerakan demi gerakan.

Suara desahan nakal Celina benar-benar menggema memenuhi ruangan kamar mewah itu.

" Celina hanya mampu menahan semua keluhnya, tanpa berani untuk protes.

Dan..  Ahk... Erang Mikhael lalu segera mencabut batang miliknya,  sehingga cairan putih kental itu membasahi area wajah hingga perut Celina.  Dengan napas terengah,  Mikhael pun tumbang.

Mikhael kembali mengenakan pakaiannya,  sementara Celina masih terbaring lemas dan bahkan tak berani pergi sejengkalpun,  meski hanya untuk membasuh bekas cairan kental dari Mikhael.

"Mulai detik ini,  kau hanya akan tunduk pada semua ucapanku. Tetap diam,  tanpa protes dan tunggu saja aku di sini.  Pelayan akan melayanimu." Tegas Mikhael,  lalu bergegas pergi dari sana.

Setelah kepergian Mikhael,  barulah Celina berani bangkit dan bersamaan dengan datangnya dua orang pelayan wanita.

"Permisi,  nyonya. Kami adalah pelayanan yang akan melayani nyonya.  Sekarang, kami akan membantu nyonya untuk membersihkan diri. Karena tuan berpesan,  agar nyonya tetap selalu rapi dan terhormat."

"Ya,  terima kasih atas bantuan kalian untuk ke depannya juga."Ucap Celina dengan wajah tersenyum,  meski terdapat banyak tanda merah di area tubuhnya.

Mereka pun membantu Celina untuk mandi,  hingga berganti pakaian indah.  Setiap harinya,  Celina hanya diperbolehkan untuk mengenakan gaun indah,  dan selalu rapi wangi.

Celina Bellroze

Putri seorang keluarga 'Baron', bangsawan ditingkat terendah.

Dua puluh dua tahun, seorang wanita baik-baik namun terjerumus ke jurang dalam,  akibat sebuah pengkhianatan dari orang-orang kepercayaannya.

Beberapa waktu pun berlalu,  hari berganti hari bahkan tak terasa sudah beberapa minggu berlalu.  Selama itulah,  Mikhael tak kunjung kembali untuk berkunjung. Sementara itu,  elina disibukan dengan berbagai pendidikan tata krama dan lainnya.

Karena saat ini,  Celina adalah wanita milik seorang pria keturunan bangsawan yang kaya raya. Namun,  tak pernah sakalipun Celina berniat untuk protes. Mengingat hidupnya yang saat ini sudah berubah drastis,  dipenuhi dengan kemewahan.

"Grand Duke Mikhael De Gonzalez"

Hallo,  ini adalah cerita pertama yang berlatar kerajaan dengan gambar pakaian modern, agar memudahkan para pembaca berimajinasi.  Kalau menggunakan contoh gambar art atau 2D juga bisa, agar memiliki dua sudut pandang imajinasi. 😀

Selamat menikmati

Bab 2

Celina harus menjalani kehidupan yang pahit,  setelah wafatnya kedua mendiang ayah dan ibunya.  Celina kehilangan kehidupan sebagai keturunan keluarga bangsawan, akibat fitnah keji dari keluarga tunangannya. Meski itu hanyalah hasil dari perjodohan, tunangan keji yang tega menjual Celina pada seorang pria bangsawan juga. Karena jika Celina tidak menuruti keinginan Deego si tunangan laknat,  maka saudara laki-laki Celina akan berada dalam bahaya besar.

Mengingat Celina hanya memiliki Calven,  hal itu membuat Celina tidak memiliki pilihan yang lain.

Calven,  seorang anak laki-laki remaja yang sedang menempuh pendidikan tingkat atas di sebuah sekolah yang cukup bergengsi.

Kedua orang tua Celina wafat dalam sebuah kejadian tragis,  dan semenjak itulah kehidupan Celina berubah drastis. Celine dituduh bersekokongkol untuk melakukan pengkhianatan dengan kedua mendiang orang tuanya.  Karena mereka adalah bangsawan,  tentu hal itu sangat berbahaya dan fatal.

Tak cukup sampai di situ saja,  Celine juga dituduh berselingkuh dari Deego,  tragisnya itu merupakan ulah dari Deego sendiri.

•••

•Mansion Kediaman Grand Duke Mikhael De Gonzalez•

Mengingat semua kenangan pahit itu,  perasaan Celina benar-benar seperti tersayat-syat oleh belati tajam.

"Celina Bellroze bodoh! Apa yang perlu kau ratapi lagi.. Tak ada yang tersisa,  orang-orang yang kau percayai sudah mengkhianatimu dan bahkan menghancurkanmu tanpa sisa.. Lebih baik kau angkat dagumu,  dan hiduplah dengan lebih layak.." batin Celina..

Detik itu juga,  Celina bertekat untuk memulai kisah yang baru,  bukan sebagai Celina yang lemah,  namun Celina yang jauh lebih tangguh.

"Calven,  adik laki-lakiku yang baik.. Kau tak perlu tahu,  seberapa kejamnya dunia yang telah kulalui.. Kau adalah cahaya kehidupanku.. " ucap Celina di hadapan sebuah bingkai foto keluarganya.  Terlihat senyum bahagia terukir diwajah mereka dulu.

Knock...knock..

"Permisi, nyonya,  Tuan besar sudah tiba di kediaman." Ucap salah seorang pelayan dari balik pintu.

Celina pun bergegas untuk menyambut kedatangan Mikhael kembali.

"Selamat datang kembali, Tuan Mikhael. " Ucap Celina tersenyum  ramah,  dengan etika bangsawan.

Mikhael melangkah mendekati Celina,  "kau masih saja terlihat menyedihkan dengan wajah sembab sepertinya itu. Sampai kapan kau akan bersikap menyedihkan seperti ini,  bahkan ketika aku tiba setelah sekian lama!" Ucap Mikhael dengan menaikan nada bicaranya di ujung kalimat.

Celina meremas jemarinya meski terlihat tenang,  karena itulah etika yang harus dijunjung.

"Maafkan aku tuan,  ke depannya kejadian seperti kuusahakan tidak akan terulang."

Tsk.. "Membosankan dan membuatku tidak bergairah. Kau sama saja seperti kedua orangtuamu yang keji itu!" Cela Mikhael.

Sontak ucapan Mikhael membuat Celine tersentak, karena Mikhael harus menyangkut pautkan mendiang orangtuanya yang sudah tiada.

"Bersikaplah lebih bijak lagi, atau hiduplah seperti tikus mati,  jika kau merasa tidak berguna lagi." Tegas Mikhael, lalu melangkah pergi.

Tubuh Celina terasa begitu ringan dan hampir saja Celina terjatuh. Akibat ucapan dari Mikhael yang mengungkit perihal mendiang ayah dan ibunya.

•••

"Ruang Kerja Mikhael"

Mikhael seperti biasa berkutat dengan segala urusan kerajaan yang terus menumpuk.

Bzztt...

"Pangeran bodoh ini lagi-lagi menggangguku.. " ucap Mikhael,  lalu menjawab panggilan tersebut.

Pangeran: "Selamat sore,  Grand Duke, ah atau kupanggil saja saudara sepupu tercinta.." Ucap pangeran dengan disusul suara gelak tawa.

Mikhael: "Pangeran,  aku sedang cukup sibuk,  lekas beritahu aku apa yang kau inginkan." Tegas Mikhael.

Pangeran: "Kau masih saja pemarah,  bagaimana bisa gadis itu merasa betah dan nyaman denganmu."

Sontak,  Mikhael menghentikan aktifititasnya dan terlihat sedikit kesal.

Mikhael: "Jangan campuri urusan pribadiku,  pangeran Josavat. "

Pangeran: "Ya,  maafkan aku,  Mikhael,  aku hanya ingin minum teh bersamamu,  tidakkah kau bisa?"

Mikhael memijat kepalanya,  dan tentu saja hal tersebut tak dapat ditolak begitu saja.

Sementara disi lainnya...

Mansion ke dua,  wilayah Duchy Grand Duke Mikhael.

Celina sedang sibuk menata tanaman di area mansion tersebut.  Letak mansion masih di wilayah kekuasaan Mikhael dan menjadi satu bagian. Tentu saja wilayah tempat tinggal seorang Grand Duke sangatlah luas dan mewah. Sehingga,  Celina memiliki mansionnya sendiri.

"Nyonya,  sudah hampir senja,  apakah nyonya akan tetap disini?" tanya seorang pelayan pribadi Celina.

"Ya, aku ingin menikmati matahari terbenam seperti biasanya,  Mila." Ucap Celina dengan wajah tersenyum tipis.

"Kasihan nyonya Celina, sudah hampir satu bulan semenjak kembalinya tuan besar dari luar negeri, dan nyonya masih diabaikan.." batin Mila.

Baru saja dipikirkan, Mikhael pun sudah tiba di mansion ke dua.

"Permisi nyonya,  tuan Grand Duke datang berkunjung ke mansion." Ucap salah seorang pelayan lain.

Celina bergegas untuk menyambut kedatangan Mikhael dengan raut wajah berseri meski hanya kepalsuan semata.

•••

"Tuan sudah menunggu di ruang makan,  nyonya."

"Ruang makan,  tidak seperti biasanya.." batin Celina.

Lalu,  mereka pun duduk berhadapan di sana.  Menikmati makan malam yang penuh keheningan,  dan hanya ada suara sendok garpu di sana.

Mikhael menatap ke arah Celina dengan tatapan yang lekat, menatap ke area dada nan terlihat sedikit seksi.

"Ketika aku tidak berada disisimu secara pribadi,  jangan gunakan gaun yang memperlihatkan buah dadamu seperti itu." Ucap Mikhael,  memecahkan keheningan.

"Baik,  Tuan Mikhael." Ucap Celina dengan tersenyum paksa,  Mikhael sangat menyadari hal tersebut.

"Aku akan datang ke kamarmu malam ini,  jadi siapkan yang terbaik." Ucap Mikhael,  lalu melangkah pergi.

•••

Waktu untuk bertemu secara pribadi pun tiba.  Sudah beberapa bulan berlalu,  semenjak percintaan penuh gairah mereka di malam pertama waktu itu.

Celina didandani dengan sedemikian rupa,  wangi lezat pun seakan menggugah pria mana saja yang dekat dengannya.

Cekreak.. Bunyi gagang pintu,  dan muncullah Mikhael dari balik pintu.

"Selamat malam,  Tuan Grand Duke." Ucap Celina, lalu menyambut kedatangan Mikhael.

Keduanya saling bertatapan, dan Celina pun berusaha agar tidak membuat sebuah kesalahan lagi.

"Puaskan aku, dengan tubuhmu,  tanpa harus menyentuhku." Ucap Mikhael.

Sontak,  Celina pun bingung,  apa yang harus dilakukannya.  Disini Mikhael meminta Celina untuk masturbasi,  namun Celina si gadis polos belum memahami.

Perlahan,  Celina melepas seluruh pakaiannya lalu berbaring di sana.

"Bersandarlah,  dan buka lebar kedua kakimu.  Tunjukan padaku hal cabul yang mampu membuat penisku ereksi."

Celina sangat kikuk, tak tahu hal apa lagi yang harus diperbuat.

"Sentuh vaginamu dan bermainlah dengan tanganmu." Titah Mikahel,  namun karena Celina terlihat kikuk,  akhirnya Mikhael pun mengajari Celina.

"Sentuh dan gosok seperti ini."Ucap Mikhael sembari menggosok mrs.V milik Celina,  dan menusukan jemarinya ke dalam liang senggama.

Ughkk.. Lenguh Celina,  dan ahh... Desah Celina lagi,  tatkala Mikhael sembari mencumbunya dengan rakus.  Menjilati,  menghisap daun telinga,  tengkuk leher dan segala tempat yang meninggalkan tanda kepemilikan.

"Hisap penisku dengan mulut cabul ini,  cepat!"

Celina pun melahap penis yang sudah tegak itu dan dengan semangat Mikhael memaju mundurkan mr.p miliknya.

Ah.. Aghk... Desah kasar lolos dari mulut Celina,  tatkala Mikhael mulai menghujam liang miliknya.  Mengingat sudah beberapa bulan berlalu,  dan mereka baru melakukannya sebanyak dua kali ini.

Ahh.. Hmmpp.. Ahh... Celina benar-benar berantakan dan cairan kental dari mr. P Mikhael membasahi wajah cantik Celina.

"Mulai saat ini, jangan tunjukan gaya pakaian sensual di depan orang lain, mengerti."

"Baik,  Tuan."

Malam penuh keringat dan Celina pun tepar tak berdaya,  setelah Mikhael kembali meminta untuk bercinta hingga pagi menjelang,  entah berapa kali,  mungkin saja Mikhael sudah menahannya sejak lama.

Pangeran Josavat

Viscount Deego/Mantan tunangan laknat

Bab 3

Ugh.. Lenguh Celina,  tatkala mendapati ada begitu banyak bekas tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh Mikhael.

"Setidaknya,  dengan tubuh ini,  aku masih berguna bagi Grand Duke.." gumam Celina.

Seperti biasanya, Mikhael langsung beranjak dari tempat tidur tanpa sepengetahuan Celina. Mikhael kembali bersikap acuh,  dan Celina juga sudah mulai terbiasa dengan semua itu. Tak peduli,  meski dirinya hanya sebatas pemuas nafsu bagi Mikhael.

Beberapa hari berlalu,  Celina pun pergi berkeliling area duchy sebagai pelepas rasa jenuh.

Baru saja menghirup udara segar,  Celina pun harus berhadapan dengan persoalan baru.

Celina berpapasan dengan seorang wanita muda dengan gaun mewah dan dua pelayan pribadi yang mengikuti dari arah belakang.

"Hei! Berani sekali kau melewati tempat ini,  bahkan tanpa sopan santun!" Bentak wanita muda itu dengan sorot mata merendahkan Celina.

"Ah, akhirnya ketenanganku pun mulai terusik.." batin Celina.

"Maaf,  bukankah aku sudah memberikan hormat melalui gerakan tubuhku yang sedikit menundukkan kepala. Apakah itu masih belum?" ucap Celina.

"Sialan,  dasar jalang! Beraninya kau menatapku dengan mata kotormu itu! " Bentak si wanita.

"Maaf,  Tuan putri,  nyonya sudah bertindak benar.  Biarkanlah kami pergi." Ucap pelayan Celina.

Plakh.. wanita itupun mendaratkan pukulan tangannya pada pelayan Celina.

"Kau hanya pelayan rendahan,  tak pantas ikut campur. Aku bisa saja melenyapkanmu!" Celanya.

"Sikap Nona benar-benar sudah kelewat batas.  Pelayanku hanya meminta untuk membiarkan kami pergi. Mengapa nona harus berlaku kasar?" ucap Celina.

"Ah,  kau berani memanggilku Nona!  Apa kau tahu siapa aku,  huh!"

Saat hendak mendaratkan pukulan pada Celina,  Gtqnd Duke Mikhael pun tiba di sana.

"Keributan macam apa ini, putri Titania? " Ucap Mikhael yang baru tiba di sana.

"Mikhael, akhirnya kau datang juga," ucap wanita yang bernama Putri Titania.

"Wanita ini bersikap tidak sopan dan bahkan pelayannya berani bicara padaku.  Aku hanya memberikan sedikit pelajaran saja,  Mikhael." Ucapnya manja,  lalu merangkul Mikhael.

Melihat pemandangan itu,  Celina sedikit tidak nyaman namun tak ada juga alasan baginya untuk cemburu.

"Sudah berapa kali kukatakan,  panggil aku Grand Duke,  jangan memanggil namaku dengan sembarangan."  Tegas Mikhael lalu melepaskan rangkulan Titania.

"Baiklah, Grand Duke, kau masih saja bersikap dingin padaku."

"Putri Titania,  harap bersikaplah sopan selama berada di area duchy,  karena aku tidak pandang bulu dalam menerapkan disiplinku." Tegas Mikhael dengan tatapan dingin pada Titania.

"Kau lebih membela jalang ini,  dibandingkan aku yang sudah lama mengenalmu?" Teriak Titania yang terlihat kekanakan.

"Pergilah, dan jangan lagi buat keributan seperti ini di duchy." Tegas Mikhael pada Celina dan Titania dengan tindakan tegas yang sama.

Versi 2D

•••

Titania Alfentuz, putri dari Kerajaan Utara.

Versi 2D

Titania sedang berkunjung ke duchy, karena Mikhael ialah teman sejak kecilnya.  Namun Titani memiliki sikap yang tidak menyenangkan. Titania sangat egois dan kejam pada orang-orang yang dianggap saingan bahkan walau sekadar rasa tidak senang semata.

Mansion ke tiga,  tempat khusus bagi para tamu yang datang ke Kerajaan Barat.

"Sial! Siapa wanita jalang itu! Apakah kalian sudah mencari tahunya? " ucap Titania pada salah seorang utusan mata-mata pribadinya.

"Nona itu adalah putri dari Baron Bellroze, bangsawan yang sudah jatuh  miskin bahkan sudah tidak ada lagi." Ucap si pesuruh.

"Lantas, mengapa jalang itu bisa berada di sini?"

"Untuk perihal itu,  sepertinya karena Grand Duke Mikhael sangat bermurah hati, Tuan Putri."

Prang!! 

Titania membanting cangkir keramik yang berada di atas meja hadapannya,  dan hampir mengenai si pesuruh.

"Sejak kapan Mikhael bermurah hati,  pria itu selalu bersikap dingin padaku,  semenjak Tuan dan Nyonya sudah tiada.  Bukankah itu adalah masalah ayah,  mengapa harus aku yang terkena imbasnya!"

"Tenanglah Tuan Putri.  Bukankah kita bisa gunakan wanita itu untuk mainan anda saja.  Wanita itu bahkan seorang anak bangsawan yang jatuh, bukan?" Ucap si pesuruh memprovokasi Titania.

"Ah,  kau benar.  Aku bisa gunakan jalang itu untuk mainanku, itulah akibatnya jika berani mengangkat kepala di hadapan Putri Titania Alfentuz. "

Titania memang sangat keji,  menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tak peduli meski orang-orang tak bersalah akan menderita karenanya.

•••

Malam perjamuan makan bersama.

Makan malam itu diadakan di aula utama duchy kekuasaan Grand Duke Mikhael.

Seperti biasa,  Titania akan selalu menempel pada Mikhael tanpa ada rasa malu.

"Tuan Duke,  bisakah malam ini kita berdansa?" ucap Titania memohon.

Kejadian itu dilihat langsung oleh Celina yang menikmati makan malam di meja yang berbeda namun masih satu aula.

"Aku sibuk,  jadi jangan coba mengusikku."

Huhh.. "Dasar Mikhael dingin!" Gerutu Titania.

Mikhael menatap ke arah meja seberangnya,  dengan tatapan tajamnya pada Celina.

"Hawa di tempat ini sepertinya kurang cocok untuk seorang bangsawan yang sudah jatuh. Apakah kau merasa tidak nyaman,  Nona Celina Bellroze?" ucap Titania yang mulai menggangu Celina.

"Aku hanya datang karena diundang,  jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengeluhkan hal yang hanya sebatas asumsi orang lain."

Byurr.. Titania dengan berani menumpahkan anggur merah ke gaun milik Celina tepat di hadapan semua tamu.

Ah,  "maafkan aku, Celina Bellroze,  tanganku cukup licin malam ini. Apakah kau akan marah atau menghukum kesalahan kecilku ini?" ucap Titania memandang rendah Celina.

"Apa, tuan putri itu memanggil nona itu Bellroze?  Bukankah itu keluarga bangsawan yang sudah jatuh miskin karena berbagai kasus?"

"Ya,  bagaimana bisa dia dengan tidak tahu malu berada di tempat seperti ini? "

"Mengapa Grand Duke terlalu bermurah hati mengundangnya? "

"Gadis itu memang cantik, namun tetap saja statusnya hanyalah seorang putri bangsawan yang jatuh,  bukan? "

Riuh suara orang-orang yang juga memandang rendah Celina,  hanya karena status sosialnya.  Begitulah kehidupan para bangsawan,  tak peduli dengan kepedihan orang lain.  Selama itu tidak menguntungkan,  maka mereka akan terus mencemoohnya.

Mikhael melangkah ke arah mereka dengan raut wajah nan dingin.

"Ini hanyalah sebuah kejadian kecil,  mengapa tidak kembali menikmati jamuan yang ada." Ucap Mikhael,  dsn para tamu pun bubar untuk kembali berpesta.

Sementara itu Celina pun pamit undur diri untuk membersihkan dirinya yang cukup berantakan itu.

"Putri Titania,  besok pagi aku sudah harus melihatmu kembali ke kerajaan Utara."

"Tuan Duke,  tidak bisakah aku tinggal sebentar lagi? "

"Sudah berulang kali kukatakan,  kau boleh datang berkunjung tapi tidak membuat masalah apapun.  Namun,  sepertinya kau tidak mengindahkan ucapanku."

"Tuan Duke kau keterlaluan, aku akan mengadukan hal ini pada ayah!"

"Silakan,  jika kau tidak ingin menginjakkan kakimu di kerajaan Barat ini lagi. Aku sudah muak dengan tingkah kekanakanmu yang terus mengusik ketenangan hidup orang lain.  Kau benar-benar memalukan,  Titania Alfentuz!"  Cela Mikhael dengan tatapan tajamnya.

"Sial!  Semua ini karena jalang itu! Lihat saja,  aku akan kembali membuatnya pergi dari duchy ini! "  gumam Titania.

•••

Beberapa hari kemudian...

°Mansion ke dua Kediaman Celina°

"Sejak kejadian siang hari itu bahkan malam menyebalkan itu,  Tuan Grand Duke masih saja mengacuhkan aku.. Ya,  apa lagi yang kuharapkan.. Bisa hidup layak pun sudah bersyukur. Konyolnya aku,  yang mulai mengharapkan hal lebih.." gumam Celina.

Karena merasa bosan,  Celina pun berdiri di balkon kamarnya,  dengan piyama tipis namun masih mengenakan outer. 

Seeokor anak anjing berlari bersama seorang pria tinggi tegap,  dan berhenti tepat di depan balkon kamar Celina.

Pria tampan itu pun melemparkan senyumannya pada Celina,  Celina pun spontan membalas senyuman itu.

"Hai,  Nona manis!" Ucapnya.

"Nona manis,  bukankah pria ini terlalu cepat menilaiku.. " gumam Celina,  lalu bergegas masuk kembali ke kamarnya.

Pria yang bersama anjing itu pun tersenyum dan mulai penasaran akan sosok anggun Celina.

"Celina Bellroze,  bukan? " gumam si pria,  lalu melangkah pergi dengan rasa penarasan yang kian bertambah.

"Sudah hampir satu tahun berada di duchy,  dan ini pertama kalinya ada pria yang bersikap ramah dan baik padaku.." gumam Celina tersenyum.

Ya,  Celina hanya putri seorang Baron,  itu adalah status yang rendah bagi bangsawan lainnya. Sehingga Celina pun tidak banyak bergaul dengan dunia luar. Celina hanya sempat mengenal Deego dengan waktu yang cukup lama. 

Akan tetapi,  Deego bukanlah pria yang ramah seperti Celina harapkan.  Namun Celina bahkan tak memiliki kekuatan untuk menolak perintah orang tua.  Kehidupan seorang putri bangsawan rendah,  sudah ditentukan dan tak seakan tak memiliki hak untuk memilih.

😊😊😊

Karena ini berlatar Kerajaan,  maka aku gunakan cash 2D dan real.

Bagaimana pendapat kalian,  kalian lebih suka cash Manusia pada umumnya atau gambar 2D?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED