Bab 1

Hujan turun sejak pagi.

Bukan hujan deras yang mengamuk, tapi hujan diam- diam- rintik pelan yang mengiringi langit kelabu dan suara gemeretak jarum jam tua di dinding.

Aldian duduk di pojok kamarnya, berhadapan dengan tumpukan kardus yang belum sempat ia buka sejak pemakaman tiga minggu lalu.

Salah satu buku, buku harian itu kini tergeletak di lantai. Lembarnya terbuka sendiri oleh hembusan angin dari jendela yang tidak sempat Aldian tutup. Namun matanya tak lagi mampu membaca. Tidak lagi. Sudah cukup.

Ia terduduk di pojok kamar, tepat di antara kardus- kardus kenangan dan sisa masa lalu yang tak akan pernah kembali.

Kedua tangannya menutup wajah.

Lalu ia menangis.

Bukan tangisan pelan yang bisa disembunyikan. Tapi tangisan pecah- suara yang keluar dari kedalaman dada, seperti jeritan yang terlalu lama ditahan.

"Maaf... maaf, Nuna..."

Kalimat itu berulang, patah- patah.

Keluar seperti desakan napas yang pecah oleh sesak.

Suara yang bahkan tak terdengar oleh siapa pun, kecuali dinding- dinding kosong kamarnya.

Ia memeluk lututnya sendiri.

Dada terasa seperti diremas dari dalam. Nafasnya pendek- pendek, seolah udara di ruangan itu menghilang bersama kepergian satu- satunya orang yang masih memanggilnya "Kakak"

"Aku gagal..."

"Aku satu- satunya yang kamu punya... tapi aku malah sibuk jadi kuat."

"Sibuk jadi laki- laki dewasa."

"Sibuk bertahan, sampai lupa kalau kamu juga sedang menahan kerasnya dunia ini ..."

Air matanya jatuh membasahi lantai kayu. Basah. Hening. Luka.

Ia teringat malam- malam ketika Aruna masuk ke kamarnya hanya untuk duduk diam. Tak bicara. Hanya duduk. Kadang tertidur di kursi tanpa alasan.

Ia pikir saat itu, Aruna hanya sedang lelah belajar. Ia pikir, Aruna sudah cukup dewasa untuk tahu cara menjaga diri sendiri.

Ternyata tidak.

Ternyata, adiknya hanya ingin ditemani.

Ditemani dirinya.

Dan ia... terlalu buta untuk melihat itu.

Amanah itu jelas sekali teringat dalam otaknya.

Pesan terakhir dari ayah di rumah sakit

"Jagain adikmu, Di. Dia satu- satunya yang kamu punya sekarang."

Ia mengangguk waktu itu dengan mantap. Berjanji dalam hati.

Tapi apa arti janji jika pada akhirnya ia hanya tinggal sendiri.

Aldian menunduk. Menyeka wajahnya. Tapi air mata tidak bisa berhenti.

Karena ini bukan tentang kehilangan.

Ini tentang kegagalan.

Gagal menjaga.

Gagal mendengar.

Gagal memahami isyarat yang tidak pernah dikatakan dengan kata.

Dan di balik hujan yang mulai reda di luar sana, di dalam kamar itu... Aldian hancur untuk pertama kalinya, bukan karena kehilangan orang lain.

Tapi karena ia kehilangan dirinya sendiri.

Kardus- kardus di hadapannya penuh barang-barang milik adiknya, Aruna- atau biasa ia panggil "Nuna" saat kecil dulu, panggilan manja yang perlahan hilang seiring usia dan kehidupan yang memaksa mereka tumbuh lebih cepat.

Hari ini, ia memutuskan untuk mulai membereskan semuanya.

Tangannya bergerak perlahan, membongkar satu per satu barang yang dibungkus rapi seragam putih-abu yang masih wangi deterjen, album foto kecil, boneka kelinci yang salah satu telinganya robek... dan kemudian, di dasar kardus paling bawah, ada sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.

Sebuah buku kecil bersampul kain abu-abu, dengan benang jahit sedikit terkelupas di pinggirnya.

Bukan buku pelajaran. Bukan agenda sekolah.

Ini... buku harian.

Ia menatap benda itu lama.

Jari- jarinya ragu untuk menyentuh, seolah khawatir akan merusak sesuatu yang rapuh.

Namun rasa ingin tahu, dan dorongan dari luka yang belum mengering, lebih kuat daripada rasa takutnya.

Dengan napas tertahan, ia membuka halaman pertama.

Tanggal 10 Januari

"Aku tidak tahu harus cerita ke siapa. Rasanya aku tenggelam, tapi tetap harus tersenyum agar tak membuat orang lain khawatir. Kalau aku mengeluh, nanti dianggap manja. Kalau aku menangis, nanti dikira lemah. Jadi aku diam. Karena diam lebih aman daripada dipertanyakan."

Lembaran kedua.

Tanggal 17 Januari

"Aku ingin cerita padanya... tapi dia sudah cukup lelah. Dia sudah kehilangan lebih dulu. Aku tak ingin menjadi beban kedua. Biarlah aku simpan semuanya sendiri."

Mata Aldian mulai memanas. Ia tahu siapa yang dimaksud dengan "dia". Meskipun tak disebut nama, ia tahu itu tentang dirinya.

Tentang kakak yang terlalu sibuk bertahan, hingga lupa bahwa ada adik yang perlahan tenggelam dalam kesendirian.

Halaman berikutnya mulai berubah nada. Bukan hanya sedih, tapi mengarah pada sesuatu yang lebih gelap... dan lebih dalam.

Tanggal 5 Februari

"Ibu wali kelas bilang aku harus 'diam'. Kalau tidak, semuanya akan tambah rumit. Dia bilang semua ini bisa merusak masa depanku dan reputasi sekolah. Aku takut. Aku malu. Tapi lebih dari itu... aku merasa kotor."

Aldian membeku.

Tangannya menggenggam kencang buku itu. Jemarinya gemetar. Kata- kata yang baru saja ia baca seperti pisau yang menyayat ulang luka di dadanya.

"Diam?"

"Reputasi?"

Kata- kata itu tak asing. Ia pernah mendengar guru- guru berbicara dengan nada yang sama saat ia mendatangi sekolah, menuntut kejelasan soal kematian Aruna.

Semua terdengar... terlalu rapi.

Terlalu formal.

Terlalu kosong.

Kini, potongan- potongan itu mulai menyatu di otak Aldian.

Aruna tidak mati karena 'kelalaian pribadi' seperti yang sekolah katakan.

Ia disuruh diam.

Ia ditekan.

Ia merasa malu atas sesuatu... yang mungkin bukan salahnya.

Aldian merasakan tubuhnya menghangat, bukan karena api, tapi karena kemarahan.

Rasa bersalah dan marah bercampur menjadi satu, membuat pandangannya kabur.

Hujan di luar masih turun. Tapi hujan di dalam dadanya lebih deras.

Dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman itu, Aldian berbisik pada dirinya sendiri.

"Ada yang disembunyikan."

Di tengah tangis yang belum sepenuhnya reda, Aldian memejamkan mata.

Dan seperti lembaran film yang kusut, satu per satu kenangan itu datang- tidak diundang, tapi juga tak mampu ia tolak.

ALdian Ingat saat Aruna kecil.

Sekitar usia lima tahun.

Rambutnya dicepol dua seperti telinga kelinci. Gigi depannya ompong sebelah. Suaranya cempreng tapi penuh semangat. Mereka bermain petak umpet di halaman rumah, saat matahari sore menggantung rendah dan pohon mangga tua menjadi tempat persembunyian favorit.

"Kakaaa, ayo cari aku!"

Suaranya terdengar dari balik tembok, jelas-jelas memberi petunjuk. Tapi itulah Aruna. Ia tidak pernah benar- benar ingin sembunyi. Ia hanya ingin ditemukan.

Dan Aldian, dengan pura- pura panik, akan menjawab,

"Wah, adikku hilang! Jangan- jangan diculik alien!"

Lalu terdengar tawa keras dari balik pot bunga.

Tawa yang sekarang hanya bisa hidup di dalam kepala Aldian.

Ingatan lain muncul.

Mereka berdua duduk di atas atap garasi rumah, menyantap mie instan yang dimasak diam- diam saat ibu tidur siang. Mie yang terlalu asin. Sendok plastik yang patah. Tapi malam itu, semuanya terasa sempurna.

"Kak, kalau aku udah gede nanti, kamu masih mau temenin aku?"

"Tentu. Bahkan kalau kamu punya pacar, aku bakal pura- pura jadi pacar kamu biar dia nggak macam- macam."

Aruna tertawa keras waktu itu.

"Ih, jijik! Kakak tuh aneh!"

"Tapi kamu sayang, kan, sama Kakak?"

Aruna menatap langit.

"Banget."

Aldian tersenyum getir saat kenangan itu berputar.

Kenangan yang terlalu indah, terlalu hidup... untuk dikubur bersama Aruna.

Ia menoleh ke arah boneka kelinci tua yang tergeletak di sudut kardus.

Telinga boneka itu robek, dijahit dengan benang warna- warni. Hasil jahitan pertamanya, saat ia belajar menjahit karena Aruna menangis bonekanya rusak.

Ia rela belajar menjahit, hanya demi senyum adiknya.

Dan kini, setelah semuanya hilang...

Ia baru sadar, tawa yang dulu dianggap biasa, adalah anugerah yang tidak akan pernah kembali.

Aruna bukan hanya adik.

Dia adalah separuh masa kecil Aldian.

Separuh tawa.

Separuh alasan untuk terus pulang ke rumah.

Kini semuanya tinggal diam.

Tinggal kenangan yang menampar.

Tinggal bayang yang menggantung di pojok-pojok ruangan.

Dan di tengah keheningan, Aldian memeluk lututnya lagi.

Ia tidak hanya merindukan Aruna. Ia merindukan dirinya sendiri-versi dirinya yang masih lengkap, yang masih punya alasan untuk tertawa tanpa luka.

Bab 2

Langit mendung menggantung di atas sekolah itu, seolah tahu bahwa ada sesuatu yang belum selesai di tempat ini.

Aldian berdiri di luar pagar besi tua, menunggu momen yang tepat untuk masuk.

Bel pulang akan berbunyi sebentar lagi. Suara riuh para siswa di dalam mulai terdengar samar.

Ia memilih berdiri di bawah pohon ketapang, menyamar di balik bayangannya, topi hitam menutupi sebagian wajah.

Sudah hampir sebulan sejak ia terakhir ke sini.

Kali ini, ia tidak datang sebagai keluarga korban.

Ia datang sebagai penyidik- bukan polisi, bukan wartawan, hanya seorang kakak yang kehilangan, yang mencium bau kebohongan dari setiap kalimat yang diucapkan guru- guru itu saat pemakaman.

Ia membawa buku harian Aruna di dalam tas kecilnya.

Sudah dibacanya berulang kali.

Setiap kalimatnya membakar satu demi satu kepercayaan pada sistem yang katanya "melindungi siswa."

Dan hari ini... ia ingin mulai dari ruang guru.

Saat bel sekolah berbunyi, gerbang dibuka. Siswa- siswi keluar berbondong- bondong.

Ia menyelinap masuk, mengikuti arus, langkahnya ringan, matanya mengamati. Tidak ada guru yang memperhatikan- semua sibuk menertibkan barisan, mengawasi murid- murid.

Ruang guru berada di sayap kiri gedung.

Ia tahu jalan ke sana. Dirinya pernah ke sana dulu. Pernah duduk di kursi tunggu, menanti wali kelas Aruna keluar sambil tersenyum palsu, menyampaikan "tak ada yang perlu dikhawatirkan".

Hari ini, Aldian yakin senyum palsu itu akan mulai dikupas satu persatu.

Namun langkahnya terhenti sesaat.

Di ujung lorong, tepat di depan ruang guru.

Seseorang tengah berdiri membelakanginya.

Seorang gadis. Rambut di kuncir kuda dengan seragam rapi tanpa ada lipatan yang nampak pada seragamnya.

Punggungnya tegak seperti tiang bendera. Ia sedang berbicara dengan guru lain, entah tentang apa, suaranya pelan tapi tegas.

Dan saat guru itu pergi, gadis itu berbalik.

Matanya langsung bertemu dengan milik Aldian.

'Gadis itu tampaknya tak asing' Batin Aldian tanpa sadar.

Untuk sesaat, waktu seperti menahan napas Aldian.

Aldian terpaku. Dadanya bergetar pelan.

Dia tidak pernah bertemu langsung sebelumnya.

Aldian ingat pernah melihat foto gadis itu di dokumentasi sekolah, dan sekali dalam layar laptop saat mencari nama- nama guru.

Tapi melihatnya dari dekat... seperti ada sesuatu yang mengganggu.

Gadis itu tampak berbeda dari gadis kebanyakan.

Matanya tajam, tapi kosong.

Langkahnya rapi, tapi kaku.

Wajahnya cantik dalam cara yang kedinginan.

Seolah segala yang ada dalam dirinya sudah diprogram sejak kecil, belajar, les, prestasi, disiplin dan..... diam.

Mereka saling menatap dalam beberapa detik.

Aldian refleks menunduk, menyibak pandangan.

Tapi Gadis itu tetap memandangnya.

Seperti tahu, seperti curiga.

"Kakak siswa baru ya?" tanyanya.

Suaranya jernih. Netral. Tidak ramah, tapi tidak juga mengusir.

Aldian ragu sejenak.

"Iya... Aku cuma mau... cari ruang tata usaha," jawabnya cepat, berbohong sehalus mungkin.

Gadis itu mengangguk kecil.

"Dari gerbang, belok kanan. Ruang TU- nya di belakang perpustakaan."

Nada bicaranya seperti robot. Sopan. Efisien. Tidak ada emosi.

Seperti dilatih.

"Makasih," balas Aldian, menatap cepat lalu melangkah pergi.

Tapi di langkah ketiga, ia menoleh sekali lagi.

Gadis itu masih berdiri di tempat. Matanya masih memandang.

Tatapan yang kosong... tapi entah kenapa terasa familiar bagi Aldian

Tatapan seperti milik adiknya, di hari- hari terakhirnya.

Dan dalam hati Aldian seolah tahu.

Gadis itu... mungkin akan jadi kunci.

Entah sebagai korban...

...atau sebagai bagian dari kebenaran yang selama ini dikubur rapi.

Langkah Aldian menyusuri lorong menuju ruang tata usaha terasa sunyi dan berat.

Derap sepatunya nyaris tak terdengar di atas lantai keramik yang sudah sedikit kusam.

Jam menunjukkan hampir pukul delapan pagi, namun suasana sekolah belum terlalu ramai-hanya beberapa guru yang melintas cepat dan beberapa staf yang sibuk dengan dokumen.

Ia sempat berdiri di depan pintu ruang TU, berpura- pura menunggu seseorang sambil sesekali melirik ke dalam. Matanya seolah- olah mencari- cari seseorang.

Namun setelah beberapa menit berlalu, Aldian menghela napas.

Lelaki itu pun memutar arah, wajahnya menegang.

"Kalau nggak ada bukti di sini, aku bisa mulai dari area sekitar dulu," pikirnya cepat.

Tanpa membuang waktu, Aldian melangkah lebih dalam ke kompleks sekolah.

Menyusuri lorong- lorong belakang yang tampak jarang dilewati.

Ia melewati ruang guru, lalu menuju ke arah bangunan gudang tua yang berada di dekat taman belakang sekolah.

Pintu gudang itu sedikit terbuka, dan dengan sigap ia mendorongnya perlahan.

Dalam gelap dan debu, ia mengedarkan pandangan. Tumpukan alat peraga, kardus- kardus berlabel, dan bangku rusak memenuhi ruangan itu.

Tangannya menyibak tirai laba- laba di sudut atas kardus, mencari- cari-mungkin, petunjuk kecil, catatan, atau benda yang tertinggal dari masa adiknya. Tapi tidak ada apa- apa. Hanya debu dan kesunyian.

Saat ia hendak berbalik dan keluar, tiba- tiba terdengar suara langkah kaki cepat dan berat di luar gudang. Langkah yang tidak biasa. Langkah seorang pria dewasa- berat, dan tergesa.

Aldian membekukan diri.

"Siapa di dalam?" suara itu terdengar keras.

Seorang satpam.

Tanpa menunggu, Aldian langsung mencari tempat bersembunyi di balik tumpukan kardus tinggi.

Detak jantungnya memukul keras dadanya. Napasnya ditahan sedalam mungkin.

Pintu gudang terbuka lebar. Suara sepatu satpam menghantam lantai beton.

"Seperti aku tadi melihat ada bayangan masuk ke sini barusan," gumam sang satpam curiga.

Langkahnya semakin dekat.

Ia berhenti hanya beberapa meter dari tempat Aldian bersembunyi.

"Siapa pun kamu, ini area terlarang untuk murid. Kalau kamu bukan staf atau siswa, saya akan laporkan ke kepala sekolah," ucapnya tegas, sembari menyalakan senter dan menyorot ke segala penjuru.

Cahaya hampir mengenai wajah Aldian. Tangannya mengepal erat. Ia tahu satu gerakan salah saja bisa membuatnya ketahuan.

Namun tak lama kemudian, suara handy talky di sabuk satpam itu menyala.

"Pak Wawan, segera ke gerbang depan. Ada wali murid yang butuh bantuan."

Satpam itu mengumpat pelan, mematikan senternya.

"Huft... nanti balik lagi saja."

Langkahnya menjauh. Pintu gudang tertutup kembali dengan bunyi berderak.

Begitu suara itu hilang sepenuhnya, Aldian langsung keluar dari persembunyian, menarik napas berat yang sejak tadi ia tahan.

"Nyaris saja.." bisiknya pada dirinya sendiri, wajahnya masih tegang.

Aldian mengambil langkah cepat, menyelinap keluar gudang sekolah.

Melewati tembok- tembok tinggi di sisi selatan sekolah dan memanjat pagar kecil yang mengarah ke area kosong di samping kompleks.

Bajunya sedikit sobek, tapi itu tak penting bagi dirinya.

Untuk saat ini dia harus segera melarikan diri sebelum satpam tadi menemukan dirinya.

Dua hal yang pasti.

Hari ini ia nyaris tertangkap. Dan ia belum menemukan apa pun.

Namun tekadnya tak surut sedikit pun.

Bab 3

Langit malam menggantung kelam tanpa bintang.

Hanya sesekali bulan muncul malu- malu di balik awan tebal yang menggulung seperti arus ombak di lautan.

Angin malam berembus dingin, menyapu jalanan kota dan menyusup ke sela-sela jaket Aldian.

Namun tak ada sedikitpun raut gentar di wajahnya. Matanya justru tampak lebih tajam dari biasanya-seperti mata pemburu yang telah mengunci targetnya.

Dengan langkah tenang tapi mantap, ia berjalan menelusuri gang belakang sekolah, tempat di mana pagar besi setinggi dada tak terlalu sulit untuk dipanjat.

Tangannya cekatan menarik tubuhnya ke atas, lalu melompat masuk ke dalam area sekolah yang telah gelap dan sunyi total.

Tak ada suara selain derik ranting pohon dan suara gesekan daun kering yang terseret angin.

Gedung sekolah itu berdiri dalam diam, tampak seperti raksasa tua yang sedang tertidur lelap.

Aldian berjalan menyusuri sisi utara bangunan, melewati taman kecil yang penuh tanaman menjalar dan semak yang sudah tak terurus.

Tujuannya kali ini jelas, ruang guru di sayap kiri gedung.

Bangunan itu biasanya ramai di pagi dan siang hari, tapi malam ini sepi seperti kuburan.

Tidak ada lampu yang menyala di koridor. Bahkan suara langkahnya yang pelan sekalipun terdengar menggema menampar dinding lorong dengan tajam.

Sayap kiri gedung terletak agak terpisah dari ruang kelas utama.

Jalur menuju ke sana melewati sebuah jembatan kecil di atas kolam hias yang sekarang airnya kotor dan nyaris tak bergerak.

Aldian melangkah melewatinya tanpa ragu, bahkan ketika kayu lantai jembatan itu berderit lirih dibawah telapak sepatunya.

Ia tiba di depan pintu kaca ruang guru. Terkunci, seperti dugaannya.

Namun Aldian tak kehabisan akal. Ia mengeluarkan pin kecil dari saku jaketnya-alat seadanya yang biasa dipakai gengnya untuk hal-hal seperti ini.

Dengan keahlian yang telah diasah sejak remaja, hanya butuh beberapa menit sebelum kunci itu berdecit dan pintu terbuka perlahan.

Aroma ruangan yang tertutup lama menyeruak keluar- perpaduan kertas lama, tinta, dan jejak parfum yang tersisa di udara.

Tak ada rasa takut dalam diri Aldian.

Yang ada hanya tatapan tajam, dan dorongan dalam hati yang semakin membara.

Aldian melangkah masuk, membiarkan pintu menutup pelan di belakangnya.

Jari- jarinya menyusuri setiap meja, membuka laci demi laci, membaca setiap kertas yang menurutnya mencurigakan.

Malam ini bukan hanya tentang pencarian bukti.

Ini tentang kebenaran yang harus digali dari tempat paling gelap- tanpa peduli seberapa dalam ia harus masuk, dan seberapa gelap malam yang mengelilinginya.

Aldian menghela napas kasar, keringat dingin mengalir dari pelipisnya meski udara malam begitu menggigit.

Tangannya yang cekatan sudah mengobrak-abrik hampir semua laci, lemari, dan tumpukan berkas di ruang guru itu- tapi hasilnya nihil.

Tak ada dokumen mencurigakan. Tak ada catatan jadwal yang terlihat janggal. Tak ada surat.

Bahkan tidak satu foto pun yang bisa membuka sedikit celah atas apa yang ia curigai selama ini.

"Sial..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, tapi nadanya penuh kejengkelan.

Kepalanya tertunduk sejenak, tangan mengepal kuat di sisi meja.

"Seberapa rapih mereka menyembunyikan semuanya? Kenapa gak ada jejak sama sekali?" Kata Aldian dengan penuh kemarahan.

Kemarahan menyesak di dadanya. Ia ingin menghancurkan sesuatu- melempar kursi, menjungkirkan meja- tapi dia tahu, satu suara saja bisa membongkar kehadirannya di tempat ini.

Lalu...

Tap... Tap... Tap...

Langkah kaki. Berat. Teratur. Mendekat.

Aldian reflek membeku. Napasnya terhenti sepersekian detik. Ia menajamkan telinga, memastikan suara itu bukan hanya ilusi. Tapi langkah itu semakin dekat- dan berhenti tepat di depan pintu ruang guru.

Satpam.

Tanpa membuang waktu, Aldian bergerak cepat.

Ia melompat ke balik lemari arsip yang sedikit terbuka dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuhnya. Nafasnya tertahan, jantung berdetak kencang tak terkendali.

Ceklek.

Gagang pintu dicoba. Terkunci.

Tok. Tok. Tok.

"...Ada orang?" suara berat satpam memecah keheningan. Tak ada jawaban.

"Baru aja tadi aku liat kayak ada bayangan masuk..." gumamnya pada dirinya sendiri.

Satpam itu menempelkan wajah ke kaca pintu, mengintip ke dalam ruangan. Mata tuanya menyipit, mencoba menerobos gelapnya interior ruang guru.

Tapi tak ada gerakan. Tak ada bayangan. Tak ada suara.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Aldian, langkah kaki itu menjauh, kembali menyusuri lorong.

Satpam itu tampaknya menyerah dan melanjutkan patroli malamnya.

Begitu suara langkah menghilang, Aldian keluar perlahan dari tempat persembunyiannya.

Dengan cekatan dan penuh kehati- hatian, ia menutup kembali laci- laci yang sempat ia buka, merapikan sedikit agar tak meninggalkan jejak yang mencolok.

Dia tahu betul, satu ketidakteraturan bisa menimbulkan kecurigaan.

Dalam diam, ia meninggalkan ruang guru, menyelinap kembali melewati lorong gelap, menyeberangi jembatan kecil, dan keluar dari pagar sekolah yang tadi ia panjat.

Semua dilakukan dalam senyap, seolah angin malam sendiri yang membawanya pergi.

Meski tidak menemukan bukti apa- apa, malam itu justru semakin membakar tekad Aldian.

"Mereka pikir bisa sembunyi selamanya? Kita lihat saja..."

Langkah kaki Aldian terdengar lemah saat ia mendorong pintu rumahnya yang sederhana.

Kunci pintu bergemerincing sebelum akhirnya mengatup rapat di belakangnya. Malam sudah larut, tetapi mata lelaki itu masih menyala-bukan karena kantuk, tapi karena bara dalam hatinya yang belum juga padam.

Ia berjalan tanpa suara menuju ruang tamu, lalu menjatuhkan diri di kursi kayu panjang yang menghadap jendela.

Udara malam masih tersisa, dingin merambat masuk lewat celah ventilasi.

Aldian memejamkan mata, mencoba meredakan denyut sakit di lengannya yang terbalut perban.

Namun seketika, dalam gulita itu.

Wajah gadis berkuncir kuda, muncul begitu jelas.

Wajah yang lembut, polos... tapi juga penuh kepedulian.

Senyum sederhana yang muncul ketika gadis itu menjelaskan letak ruang Tatap Usaha.

Senyum yang tidak seharusnya mengganggu pikiran Aldian sekarang.

Aldian mendengus, mengusap wajahnya kasar dengan tangan satunya.

"Kenapa sekarang malah dia yang muncul di kepala gue..." gumamnya rendah, hampir seperti gerutuan.

Bayangan wajah gadis itu menari dalam pikirannya, mengaburkan batas antara kenyataan dan niat dendamnya yang telah lama ia pelihara.

Tapi ia menepis perasaan itu.

"Enggak... ini bukan waktunya goyah," bisiknya pada diri sendiri, tajam.

"Gue harus balas semua yang mereka lakuin ke adik gue... Harus."

Ia membuka matanya perlahan, menatap kosong ke langit- langit rumah. Matanya tak menyala karena emosi, melainkan penuh dengan tekad dingin.

"Sekalipun, Ratih dan keluarganya harus ngerasain luka yang sama..."

Aldian menggenggam ujung sandaran kursi kuat- kuat, hingga sendi- sendi jarinya memutih.

" Kalau perlu- gue akan pastikan mereka semua ngerasain yang adik gue rasain."

Udara malam makin menusuk, tapi tubuh Aldian tetap tak bergerak. Dingin tak mempan untuk membekukan dendam yang mulai mendidih lagi dalam nadinya.

Dan di tengah keheningan itu, hanya ada satu yang tersisa yaitu niat untuk menghancurkan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED