Bab 2

Jilly POV

Bau disinfektan rumah sakit yang tajam kalah telak melawan aroma parfum mahal Rachel yang memenuhi ruangan. Itu adalah aroma mawar yang terlalu manis, nyaris membusuk, seolah dia sedang secara agresif menandai wilayah kekuasaannya di atas penderitaanku.

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, mempertahankan ritme napas yang teratur, berpura-pura memejamkan mata.

Klak. Klak. Klak.

Suara sepatu hak tinggi Rachel mengetuk lantai seperti palu yang menghantam sarafku. Dia tidak bisa diam. Aku mendengar suara gesekan kasar barang-barangku yang dipindahkan.

Dia menggeser meja nakas, lalu menyingkirkan tas pakaianku ke sudut ruangan yang paling gelap, seolah barang-barang itu adalah sampah yang mengganggu pemandangan indahnya.

"Elton, buah ini segar sekali. Kau mau?" suara Rachel terdengar riang, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Krak.

Aku mendengar suara gigitan apel yang renyah. Darahku mendidih. Dia memakan buah yang dibawakan perawat untukku dengan santai.

"Biarkan saja dia istirahat." Suara Elton terdengar datar. Dia tidak melarang Rachel. Dia tidak pernah melarangnya.

Aku membuka mata perlahan, memastikan tatapanku kosong dan tak berjiwa. Strategiku sederhana: diam dan berpura-pura lupa. Jika aku menunjukkan kemarahan, mereka akan tahu aku masih peduli. Jika aku menunjukkan ingatan, mereka akan waspada. Jadi, aku memilih menjadi selembar kertas kosong.

Elton duduk di kursi samping ranjang, menatapku dengan intensitas yang membuat bulu kudukku meremang. Bukan rindu yang kulihat di sana, melainkan rasa ingin tahu seorang predator. Dia mencari celah dalam pertahananku.

"Kepalaku masih sakit," gumamku pelan, sengaja membiarkan suaraku serak dan menghindari tatapannya.

"Dokter bilang tidak ada gegar otak serius." Suara Elton berat, sarat dengan nada curiga. "Kau yakin tidak ingat apa yang terjadi di dermaga?"

"Aku hanya ingat air. Dingin. Gelap," jawabku. Itu bukan kebohongan. Itu adalah satu-satunya hal yang ingin kuingat agar bara kebencianku tetap menyala.

Rachel tertawa kecil, suara yang terdengar mengilukan seperti pecahan kaca. "Mungkin dia trauma, Elton. Atau mungkin dia hanya mencari perhatian. Kau tahu kan, wanita suka mendramatisir keadaan."

Elton tidak menegurnya. Dia justru condong ke depan, menginvasi ruang pribadiku, menatap mataku lebih dalam. "Kita pernah ke Paris tahun lalu, Jilly. Kau ingat? Kita makan malam di menara Eiffel."

Rachel menyela dengan cepat, "Oh, Paris! Kita juga pernah ke sana berdua, kan Elton? Sebelum kau bersama Jilly. Kenangan kita jauh lebih indah."

Dia sengaja melakukannya. Mengaburkan ingatan, menyisipkan dirinya di setiap celah sejarah kami, membuatku merasa terisolasi bahkan dalam ingatanku sendiri.

Tiba-tiba, Elton bergerak. Dia bangkit dari kursinya dan membungkuk ke arahku. Wajahnya mendekat, napasnya yang berbau mint menerpa wajahku. Dia mencoba mencium keningku, sebuah gestur intim yang dulu akan membuatku melayang, tapi sekarang hanya memicu rasa mual yang hebat.

Tubuhku bereaksi sebelum otakku bisa mencegahnya. Aku tersentak mundur, menekan punggungku ke bantal sekuat tenaga. Perutku bergejolak, rasa sakit yang tajam menghantam ulu hatiku.

"Jangan." Bisikanku pecah, gemetar di udara.

Elton terhenti, alisnya berkerut tajam. "Jilly?"

Rasa sakit di perutku semakin menjadi-jadi. Keringat dingin mengucur di pelipisku. Ini bukan akting. Seluruh sel dalam tubuhku menolak keberadaannya. Aku memegangi perutku, mengerang pelan.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka. Dokter dan perawat masuk dengan tergesa-gesa, memecahkan ketegangan yang menyesakkan itu. Elton segera menarik diri, kembali memasang topeng dinginnya, berdiri menjauh seolah sentuhannya tadi tidak pernah terjadi.

"Kami perlu memeriksa pasien," kata dokter tegas.

Saat dokter memeriksa tekanan darahku, matanya tertuju pada bantal di belakang punggungku. Ujung buku catatan kecilku menyembul keluar. Itu buku tempat aku menulis rencana kepergianku, jadwal penerbangan yang kucari, dan daftar aset yang harus kujual.

Dokter menariknya keluar. "Apa ini mengganggu posisi tidur Anda, Nona?"

Jantungku serasa berhenti berdetak. Waktu membeku.

Elton melihat buku itu. Matanya menyipit. Dia mengenali sampul kulit itu. Dia pernah melihatku menulis di sana. Dia melangkah maju, tangannya terulur dengan otoritas penuh. "Biarkan aku melihatnya."

*Habis sudah.* Jika dia membaca halaman pertama, dia akan tahu aku tidak hilang ingatan. Dia akan tahu aku berencana kabur. Dan Elton yang posesif tidak akan membiarkan mainannya pergi begitu saja.

"Aduh!" Rachel tiba-tiba menjerit melengking.

Dia memegang kakinya, wajahnya berkerut kesakitan yang dibuat-buat. "Elton, kakiku kram! Sakit sekali!"

Perhatian Elton teralihkan dalam sekejap. Rasa kepemilikannya terhadap Rachel memaksanya berbalik, melupakan buku di tangan dokter, dan bergegas menghampirinya. "Kenapa? Kau butuh duduk?"

Aku menghembuskan napas yang tak sadar kutahan. Rachel, dalam upaya putus asanya mencari perhatian dan kecemburuannya melihat Elton fokus pada barangku, secara tidak sengaja menyelamatkanku.

Dokter meletakkan buku itu kembali ke meja nakas, tidak tertarik. Aku segera menyambarnya dan menyembunyikannya di balik selimut, tanganku gemetar hebat.

Elton memapah Rachel keluar dari kamar. "Kita cari dokter tulang," katanya, suaranya penuh kekhawatiran yang tidak pernah dia tunjukkan padaku.

Mereka pergi. Pintu tertutup.

Hening.

Aku membuka buku catatan itu dengan tangan yang masih gemetar. Di halaman yang berisi rencana pelarianku, aku merobeknya pelan-pelan, meremasnya menjadi bola kecil. Aku mengambil pena, dan di halaman baru, aku menulis dengan tulisan tangan yang sengaja kubuat berantakan dan rapuh:

*Siapa aku? Kenapa pria itu menatapku seperti aku adalah miliknya? Aku takut.*

Aku menciptakan jejak palsu. Permainan ini baru saja dimulai, Elton. Dan kali ini, aku yang memegang kendali.

Bab 3

Jilly POV

Apartemen ini terasa begitu asing, meski aku sudah menghabiskan tiga tahun hidupku di sini. Dinding-dinding abu-abu yang dulu kusebut elegan, kini terasa dingin dan menghimpit, layaknya penjara mewah yang kuncinya baru saja berhasil kucuri.

Aku sudah menerima tawaran pekerjaan itu. Sebuah firma arsitektur di kota pesisir, ratusan kilometer jauhnya dari tempat ini.

Mereka menginginkanku karena portofolioku—karya-karya yang selama ini selalu dicemooh Elton sebagai "sekadar hobi buang-buang waktu".

Di matanya, aku hanyalah aksesoris pemanis di samping seorang CEO sukses. Namun bagi dunia luar, ternyata aku memiliki nilai yang nyata.

Kotak kardus terakhir sudah terisi penuh. Aku tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian, buku-buku sketsa, dan laptopku.

Semua barang pemberian Elton—tas bermerek, perhiasan mahal, hingga gaun-gaun pesta—kutinggalkan begitu saja, tergeletak tanpa nyawa di dalam lemari.

Itu semua bukan milikku. Itu hanyalah kostum untuk peran boneka yang dia paksa aku mainkan.

Aku menatap cincin di jari manisku. Cincin pertunangan bertahta berlian itu terasa dingin dan memberatkan.

Aku masih ingat saat Elton memberikannya di sela-sela jam makan siangnya yang sibuk—tanpa kotak beludru, tanpa berlutut, hanya kalimat datar: "Pakailah, ibuku terus bertanya."

Dengan satu tarikan napas, aku menyentaknya lepas.

Bekas putih melingkar tertinggal di kulitku, satu-satunya bukti bahwa benda itu pernah menjeratku.

Aku berjalan ke dapur, membuka tutup tempat sampah, dan menghempaskan cincin seharga mobil mewah itu ke atas tumpukan sisa makanan semalam.

Denting logam yang beradu dengan tulang ayam terdengar lebih merdu daripada simfoni mana pun.

"Panggungku bukan di sini lagi," bisikku pada kekosongan ruangan itu.

Tepat saat itu, ponselku bergetar di atas meja. Nama "Elton" berkedip di layar.

Dulu, nama itu akan membuat jantungku melonjak kegirangan. Sekarang, rasanya seperti melihat panggilan dari penagih utang yang akan menyita hidupku.

Aku membiarkannya berdering tiga kali sebelum menggeser tombol hijau.

"Di mana kau?" Suara Elton terdengar tajam, menusuk tanpa basa-basi. "Aku pulang dan apartemen kosong. Rachel butuh bantuan memilih dekorasi untuk pesta amal besok, kau harus membantunya."

Dia bahkan tidak bertanya kabarku. Baginya, fungsiku hanyalah menjadi pelayan bagi wanita selingkuhannya.

"Aku bukan asisten pribadinya, Elton," jawabku datar, menahan gejolak emosi.

Hening sejenak di ujung sana. Elton tidak terbiasa mendengar penolakan dariku.

"Apa maksudmu? Jangan mulai bertingkah kekanak-kanakan, Jilly. Cepat pulang."

"Aku tidak akan pulang. Dan aku bukan milikmu lagi. Kau tidak punya hak sedikit pun untuk menyuruhku."

Aku memutus sambungan telepon sebelum dia sempat membalas.

Jantungku berpacu kencang, bukan karena takut, melainkan karena sensasi kebebasan yang memabukkan. Aku memblokir nomornya. Selesai.

Malam itu, aku terlelap di sofa, kelelahan setelah mengepak seluruh hidupku ke dalam kardus. Tidurku lelap tanpa mimpi, seolah otakku akhirnya mengizinkan tubuhku untuk benar-benar beristirahat.

Namun, pagi datang membawa kejutan yang brutal.

Aku terbangun dengan rasa mual yang hebat. Aku berlari terhuyung ke kamar mandi, memuntahkan isi perutku hingga hanya tersisa cairan pahit yang menyengat tenggorokan.

Tubuhku gemetar, keringat dingin membasahi piyamaku. Ini bukan masuk angin biasa. Insting wanitaku menjeritkan satu kemungkinan mengerikan yang paling kutakuti.

Dua jam kemudian, aku duduk terpaku di ruang tunggu rumah sakit, meremas amplop hasil laboratorium di tanganku. Kertas itu terasa panas, seolah membakar kulitku.

Positif. Hamil enam minggu.

Dunia seakan runtuh menimpaku dalam sekejap.

Aku baru saja membuang cincinnya. Aku baru saja memutuskan untuk pergi. Dan sekarang, sepotong kecil dari dirinya sedang tumbuh di dalam rahimku, mengikatku padanya untuk selamanya.

Aku berjalan keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai, sementara air hujan mulai turun membasahi wajahku, menyamarkan air mata yang mulai merebak.

Aku meraba saku, ingin menelepon Shawn—satu-satunya orang yang mungkin bisa membantuku berpikir jernih di tengah kekacauan ini.

Tapi gerakanku terhenti seketika. Sebuah mobil mewah meluncur pelan dan berhenti tepat di lobi rumah sakit.

Elton keluar dari kursi pengemudi. Dia mengembangkan payung, lalu berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu penumpang.

Rachel keluar dari sana, wajahnya berseri-seri. Tangannya memegang sebuah amplop rumah sakit yang identik dengan milikku.

Wanita itu tertawa manja, lalu memeluk lengan Elton erat-erat. Elton menunduk, mendengarkan celotehan Rachel dengan perhatian penuh.

Dia tersenyum—sebuah senyum tulus yang sudah bertahun-tahun lenyap dari wajahnya saat bersamaku.

Mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang sempurna.

Tanganku gemetar hebat hingga amplop hasil labku hampir terlepas. Aku menangkapnya tepat waktu, meremasnya hingga lecek dalam genggaman.

Tiba-tiba, Elton menoleh. Matanya menyapu area tempatku berdiri.

Jantungku berhenti berdetak. Apakah dia melihatku?

"Sayang, lihat ini!" seru Rachel keras, menarik wajah Elton kembali padanya. Dia menunjuk sesuatu di kertasnya dengan antusias.

Elton kembali fokus pada Rachel, melupakan sekilas bayangan yang mungkin dia lihat di tengah hujan.

Dia merangkul bahu Rachel, menuntunnya masuk ke dalam mobil, melindungi wanita itu dari setiap tetes air hujan seolah dia adalah barang pecah belah yang paling berharga.

Aku berdiri mematung di trotoar, membiarkan hujan mengguyurku tanpa ampun. Air dingin bercampur dengan air mata panas yang kini mengalir deras di pipiku.

Aku mengandung anaknya, berdiri kedinginan di sini, sementara dia merayakan kebahagiaan dengan wanita lain di dalam mobil hangat itu.

Aku berbalik, melangkah menjauh menembus hujan.

Langkahku berat, tapi aku tidak menoleh lagi. Pemandangan itu adalah jawaban Tuhan atas segala keraguanku.

Aku tidak akan memberitahunya.

Bayi ini tidak akan pernah menjadi senjata untuk mengemis cinta, dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh melihat ayahnya memuja wanita lain selain ibunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED