"Bu, hari ini Ibu libur kerja kan? Kalau Ibu libur, rencananya saya mau ke salon sebentar. Boleh kan, Bu?"
Yuni, Asisten Rumah Tangga sekaligus pengasuh Silla, anak perempuan semata wayang kami bertanya saat aku sedang konsentrasi mengupas kentang dan wortel yang rencananya akan dimasak bersama ayam yang sudah dipotong kecil-kecil untuk diolah menjadi sup ayam, kesukaan Silla dan Mas Arman, suamiku.
Di hari Sabtu dan Minggu seperti ini yang merupakan hari libur kerja, aku memang biasanya terjun sendiri ke dapur untuk menyiapkan makanan buat Silla dan Mas Arman yang sekali-kali kadang ingin juga mencicipi masakan istri dan ibunya ini.
Jadilah, pagi ini selepas salat subuh aku bergerak menuju dapur dan berkutat dengan alat dapur sementara Yuni kusuruh bersih-bersih rumah.
Namun, belum selesai ia membersihkan bagian dapur di mana aku sedang beraktivitas saat ini, Yuni sudah minta diizinkan keluar.
"Kamu mau ngapain ke salon? Potong rambut?" tanyaku sembari menoleh padanya.
Kulihat rambut ART-ku itu memang sudah panjang hingga melewati batas bahu. Mungkin itu membuatnya gerah saat melakukan pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawabnya dan membuatnya ingin segera memotong rambut.
Namun, di luar dugaan, gadis itu justru menggelengkan kepalanya.
"Bukan, Bu. Mau perawatan aja. Facial, creambath sama luluran. Mungkin agak lama makanya Yuni izin dulu," ucapnya sembari melempar pandangan ke samping seolah ingin menghindari kontak mata denganku.
Facial? Luluran? Ups, apa mungkin aku saja yang kurang suka pergi ke salon karena berpikir semua itu bisa dilakukan di rumah seperti yang selama ini kulakukan?
Ya. Aku memang lebih suka melakukan treatment sendiri di rumah. Setelah membeli produk kecantikan dan skin care yang diperlukan maka aku akan melakukan perawatan sendiri di kamar ketimbang jauh-jauh pergi ke salon. Lebih efisien soal waktu dan biayanya menurutku. Lumayan bisa menghemat uang juga karena tak perlu membayar jasa si mbak salon. Bukan hanya luluran, facial dan creambath pun semuanya dilakukan sendiri di waktu-waktu senggang, seperti hari libur begini.
Namun, mungkin diriku beda dengan Yuni yang sepertinya rela menguras uang gajinya demi bisa perawatan di salon.
Kulihat pakaian gadis berusia dua puluh dua tahun itu sudah rapi. Kaos ketat dipadu dengan rok pendek selutut membalut tubuhnya yang tinggi, langsing dan semampai, membuat penampilan ART-ku itu terlihat cantik dan seksi. Wajahnya yang lumayan manis juga dipoles make up tipis. Siap pergi.
"Izinin aja Ma. Yuni kan juga butuh refreshing. Capek di rumah terus jagain Silla dan beres-beres rumah. Sekali-kali mungkin pengen keluar," celetuk Mas Arman tiba-tiba dari balik sekat ruang tengah menuju dapur.
Senada dengan Yuni, penampilan Mas Arman pun terlihat rapi. Kaos brand ternama dipadu Jeans dari merek terkenal melekat di tubuhnya. Membuat penampilan lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu terlihat modis dan enerjik. Mas Arman memang tampan. Tak salah jika banyak wanita menyukainya meski sudah beristri.
Mendengar celetukan suamiku yang kelihatannya memaklumi keinginan Yuni, aku pun hanya mengangkat bahu dengan pasrah. Ya mungkin sekali-kali gadis itu juga perlu waktu untuk refreshing dari penatnya mengerjakan pekerjaan rumah.
Tak mengapa sekali-sekali kuizinkan gadis itu keluar asal tidak berlama-lama karena aku juga perlu istirahat siang nanti setelah lima hari capek berkutat dengan pekerjaan di kantor. Hari ini harusnya bisa istirahat setelah capek mengolah masakan di dapur, tetapi tak bisa karena Yuni hendak pergi.
"Ya sudah. Pergi aja, Yun. Tapi jangan lama-lama ya, kalau bisa jam 2 udah di rumah. Minta mbaknya jangan lama-lama ngelulurnya biar siang udah bisa pulang. Oke?" sahutku sembari memasukkan potongan kentang dan wortel ke dalam panci, siap untuk direbus bersama potongan daging ayam yang sudah lebih dulu direbus di atas kompor.
"Baik, Bu. Kalau gitu Yuni berangkat dulu ya, Bu. Permisi...." Yuni menyampirkan sling bag di pundaknya lalu berjalan keluar rumah dengan langkah pelan setelah melempar pandang sekilas pada Mas Arman. Entah apa maksudnya, tapi aku hanya menganggap itu ungkapan minta diri.
Sepeninggal Yuni, Mas Arman beranjak menuju kamar dan kembali lagi dengan penampilan rapi dan tubuh tercium bau wangi parfum yang khas, membuatku bertanya-tanya di dalam hati. Mas Arman mau kemana kok jadi ikut-ikutan mau pergi, bukannya memilih me time di rumah mengingat waktu kami berkumpul hanya bisa dilakukan pada saat hari libur kerja seperti ini?
Belum sempat bertanya, Mas Arman sudah duluan membuka mulutnya.
"Mas, juga mau keluar sebentar ya, Nis? Mau cari angin dulu di stadion. Silla juga lagi nonton teve. Jadi kamu bisa nerusin masak tanpa terganggu sama dia. Oke?" ucapnya dengan nada tenang seolah-olah tak tahu perasaanku yang mendadak bertanya-tanya sendiri kenapa saat Yuni baru saja pergi, Mas Arman juga minta izin keluar rumah? Ada apa ini?
Melihat Mas Arman meraih kunci mobil, aku hanya diam sembari menepis prasangka yang menyelusup dalam benak.
Ah, apa mungkin kepergian Mas Arman ada kaitannya dengan kepergian Yuni? Tapi tidak mungkin! Terlalu rendah dan tak dewasa rasanya jika menuduh Mas Arman berbuat yang tidak-tidak dengan pembantu itu. Terlalu paranoid rasanya.
"Ya, sudah. Pergi saja tapi jangan lama-lama ya, Mas. Soalnya aku mau istirahat siang, capek dan ngantuk. Jadi nanti gantian ya awasi Silla," ujarku yang disambut Mas Arman dengan anggukan kepala tanda setuju.
Usai mendapat persetujuan dariku, bergegas lelaki yang sudah mendampingi hidupku selama tujuh tahun itu melenggang menuju garasi dan mengeluarkan mobil sport kesayangannya menuju halaman rumah. Sesaat kemudian deru halus mesin mobil yang dikendarainya meninggalkan rumah menuju jalan raya di depan sana.
***
Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul dua siang, tetapi tanda-tanda Yuni atau pun Mas Arman kembali belum juga kelihatan.
Berkali-kali kuintip halaman dari gorden jendela yang kusibakkan, berharap mobil Mas Arman sudah kembali, tetapi nihil. Hingga lelah kepala ini berkali-kali mengintip ke luar, mobil suamiku belum juga kembali.
Kututup mulut yang sedari tadi menguap menahan kantuk. Hari libur begini selain berkutat di dapur, memasak untuk anak dan suami, siang hari biasanya kugunakan untuk tidur sekedar melepas penat dan letih setelah lima hari bekerja di luar rumah.
Namun, karena Yuni dan Mas Arman yang tadinya kuandalkan untuk bisa bergantian menjaga Silla yang baru saja bangun dari tidur siang, tak juga kembali dari luar, jadilah aku hanya bisa berbaring sembari menemani putri tunggalku itu menonton televisi.
Beberapa saat berlalu tanda-tanda Yuni ataupun Mas Arman pulang tak juga kelihatan. Penasaran kuambil ponsel dan menelpon suamiku. Tersambung tapi tak diangkat.
Akhirnya kukirim pesan wa menanyakan keberadaannya sekaligus meminta ia segera pulang ke rumah, tetapi pesan dariku tak dibaca. Wa nya pun terlihat terakhir aktif pada jam ia berangkat pagi tadi. Ah, kemana gerangan Mas Arman selama itu tidak online? Sudah hampir empat jam sejak ia pergi, ia tak menyentuh ponselnya. Hatiku kembali diganggu prasangka mendapati kenyataan itu.
Penasaran, kuhubungi pula nomor telepon Yuni. ART itu memang kufasilitasi sebuah telepon genggam agar saat aku di kantor, masih bisa berhubungan dengannya untuk menanyakan dan memantau keadaaan Silla, tetapi anehnya nomor telepon Yuni malah dalam keadaan mati. Wa nya pun terakhir aktif beberapa jam yang lalu. Berkali-kali dihubungi berkali-kali pula operator provider menyampaikan informasi bahwa nomor telepon yang dihubungi sedang tak bisa menerima panggilan.
Ah, ada apa sebenarnya ini? Kenapa nomor wa Mas Arman tidak aktif dan nomor telepon Yuni juga tidak bisa dihubungi? Ada apa dibalik semua ini? Tak urung seribu pertanyaan berkecamuk di benak ini.
***
"Assalamualaikum."
Suara salam dari luar menyadarkan aku yang sedang berbaring dengan seribu kecamuk di depan televisi.
Buru-buru aku melangkah menuju pintu dan membukanya dengan tak sabar. Di depan teras kulihat Yuni sedang berdiri menunggu pintu dibuka dengan rambut terlihat basah dan kedua tangannya mencengkram erat Sling bag yang melingkar di dadanya.
Gadis itu menatapku dengan pandangan datar seolah tak merasa bersalah meski sudah mangkir dua jam dari waktu semula yang kuberikan padanya. Benar-benar membuatku hilang kesabaran dibuatnya.
"Kok baru pulang, Yun? Kemana aja dari tadi?" tanyaku tak mampu menahan rasa jengkel dan emosi karena gadis itu terang-terangan melawan perintahku untuk segera pulang setelah selesai dari salon.
"Maaf, Bu. Tadi banyak yang antri di salon, jadi kelamaan," ucapnya sembari ngeloyor masuk tanpa menghiraukan kejengkelanku.
"Kalau sudah tahu rame, kenapa nggak pindah salon aja sih, Yun? Ditungguin sampai sepi kan lama jadinya. Lagipula kamu perawatan apa aja kok nggak ada bau lulur?" tanyaku sembari mengendus aroma tubuh Yuni yang tak mengeluarkan bau lulur melainkan aroma parfum biasa. Wangi tapi beda dengan bau harum lulur biasanya.
"Ng-tadi memang nggak luluran, Bu. Kan sudah Yuni bilang antri jadi batal luluran. Cuma facial sama creambath aja bisanya," ucap gadis itu lagi sembari menjauhkan tubuhnya dari jangkauan penciumanku.
Mendengar perkataanya kembali kuteliti raut wajah Yuni. Kelihatannya make up yang dipakai gadis itu seperti baru dipulaskan di wajahnya. Bedak dan lipstik yang digunakan kelihatan baru dipoles. Apa gadis ini memolesnya setelah facial? Ah, bisa jadi. Tapi tunggu dulu, dia bilang baru saja creambath, betulkah? Wangi yang menguar dari rambut gadis itu bukan seperti wangi krim atau pun masker rambut. Tapi wangi shampoo dan conditioner biasa. Lalu apa maksudnya dengan mengatakan dia habis ke salon? Hanya untuk mengelabuiku sematakah?
Tapi kalau tidak ke salon, kemana gadis itu selama lima jam kepergiannya?
Sedang aku menatap dengan pandangan tak percaya pada Yuni, pintu depan diketuk dari luar. Mas Arman membuka pintu sendiri dan masuk dengan wajah terlihat cerah dan segar seperti orang yang baru saja habis mandi.
Pikiran buruk pun serta merta tanpa mampu dicegah menyeruak ke dalam hati.
Ah, sebenarnya Mas Arman dan Yuni kemana sih? Pergi barengan, meskipun tidak satu kendaraan dan pulang pun berbarengan? Benarkah mereka tidak ada apa-apa di luar sana dan hanya kebetulan saja pergi dan pulang berbarengan?
Ya Tuhan, salahkan jika aku menaruh curiga pada suami dan pembantuku ini?
"Mas, kamu darimana? Kok dihubungi wa kamu nggak aktif? Telepon juga nggak dijawab? Kamu kemana aja sih?"
Kutinggalkan Yuni untuk sementara dan bergegas menyusul Mas Arman yang sedang melenggang santai menuju kamar tanpa merasa bersalah sedikit pun telah pergi berjam-jam tanpa pemberitahuan padaku tadi.
Mendengar teriakanku, Mas Arman menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya menghadapku. Ada kilat tak suka bermain di mata tajamnya saat mendapatiku terus mengejarnya dengan pertanyaan tentang kepergiannya barusan yang mencurigakan.
Entahlah, aku merasa Mas Arman memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Sikapnya menjelaskan hal itu. Selama ini Mas Arman hampir tak pernah keluar rumah berjam-jam sendirian seperti tadi, tapi kali ini ia melakukannya. Wajar saja rasanya jika aku menaruh rasa curiga.
Aku merasa Mas Arman memang sedang tak jujur padaku. Tapi apa yang membuatnya tega melakukan hal itu? Benarkah tadi ia pergi sendirian ke stadion? Atau sebenarnya tadi ia sedang berdua bersama Yuni, mengantar gadis itu yang konon katanya hendak pergi ke salon? Ah, semua ini memang menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan yang bukan tanpa alasan.
"Mas kan udah bilang tadi, Mas pergi ke stadion, cari udara segar sama teman-teman. Apa itu semua nggak jelas bagi kamu? Perlu bukti apa supaya kamu percaya?" Mas Arman justru balik bertanya dengan nada keras seolah tak suka dengan pertanyaan yang kuajukan tadi. Mata tajamnya menatapku tak berkedip.
Entah mengapa lelaki yang biasanya berpembawaan diri tenang itu, kali ini seperti kehilangan kesabarannya menghadapiku karena privasinya dipertanyakan.
Tapi aku sudah kepalang tanggung. Rasa curiga karena kepergian dan kepulangannya yang bersamaan dengan kepergian dan kepulangan Yuni dari salon, membuat benakku diliputi tanda tanya dan rasa curiga yang tak mampu ditepis.
Namun, untuk terus mencecarnya dan meneruskan pertengkaran dengan Mas Arman rasanya juga tak tepat karena saat ini ART-ku itu pasti sedang mendengar pertengkaran kami ini. Bisa besar kepala dia jika benar Mas Arman tadi pergi bersamanya dan kami ribut karena suamiku tak mau mengakui hal itu serta memilih berbohong padaku demi membela dirinya.
Berpikir begitu, akhirnya aku pun memilih untuk diam dan pura-pura percaya demi bisa menguak kebenaran semua perkataan Mas Arman nanti.
Aku bertekad akan mengorek semua hal yang sepertinya memang Mas Arman sembunyikan dariku. Untuk itu aku harus bersikap tenang agar semua rencana yang ada di benak ini bisa terwujud.
Tak berlebihan rasanya jika aku bersikap waspada seperti ini. Bukan mencari-cari masalah dan perkara dengan suami tetapi demi menyelamatkan rumah tangga kecil kami yang bisa saja saat ini sedang dihantui ketidakjujuran. Sebagai istri tak mungkin bagiku membiarkan semua itu terjadi begitu saja tanpa usaha untuk menghindarinya.
"Baiklah, Mas. Aku percaya. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ya. Aku kan sudah bilang tadi tolong gantian jagain Silla karena aku juga butuh istirahat, tapi bukannya dengerin, kamu malah pergi nggak pulang-pulang. Wajar jika aku kesal dan bertanya-tanya bukan? Tapi baiklah, maafkan aku jika aku berlebihan dan marah-marah seperti tadi, tapi ke depannya jangan diulangi lagi. Oke?" ucapku pada akhirnya.
Enggan rasanya meneruskan pertengkaran ini. Aku tak mau keributan yang terjadi antara aku dan Mas Arman didengar oleh Yuni. Jika memang Mas Arman ada sesuatu dengan gadis ART kami itu, aku tak mau ia bersorak gembira dan merasa berada di atas angin karena Mas Arman terlihat lebih membelanya dari pada aku.
Ya, aku akan berusaha mengorek kebenaran yang sedang disembunyikan Mas Arman dan Yuni nanti.
***
"Yun, tolong kamu terusin goreng ikannya ya, Ibu mau giling bumbu gulai dulu," perintahku pada Yuni yang baru saja masuk ke dapur.
Ini hari Minggu. Hari ini masih menjadi jatahku untuk memasak buat Mas Arman dan Silla, sementara tugas Yuni masih sama, membersihkan rumah dan beres-beres.
Namun, karena hari sudah siang dan kebetulan Yuni ke dapur maka kuminta pada gadis itu untuk meneruskan menggoreng ikan di atas kompor.
Tetapi bukannya sigap memenuhi perintahku, gadis itu justru menatapku dengan tatapan protes.
"Sebentar, Bu. Saya mau bikin teh panas dulu buat Pak Arman. Barusan Bapak minta dibikinkan," sahutnya sembari mengambil cangkir dan bungkus teh di lemari dapur lalu bersiap-siap menyeduh minuman itu, tetapi buru-buru kucegah.
"Biar Ibu saja yang bikininkan, Yun. Kamu bantu Ibu goreng ikan saja," ujarku sembari mengambil alih pekerjaannya, tetapi gadis itu menolak.
"Biar saya saja, Bu. Soalnya Pak Arman nyuruh saya, bukan Ibu...."
"Yuni, Arman itu suami saya. Wajar kalau saya mau melayani dia. Kenapa kamu jadi rese begini, sih? Saya harap kamu mengerti kedudukan kamu di rumah ini ya, Yun, jangan berlebihan!" sahutku dengan emosi yang mulai meluap.
Ya siapa yang tidak kesal jika ART sendiri terang-terangan membantah perintah majikannya? Meskipun yang memperkerjakan ia di rumah ini adalah Mas Arman tapi tak sepatutnya ia membantahku yang notabene adalah majikannya.
Mendengar bentakanku, Yuni bersurut mundur. Wajahnya tampak pias. Namun, tak kutemukan rona takut di wajahnya. Entah apa maunya gadis ini? Ingin rasanya kupaksa ia untuk jujur, mengatakan tujuannya melakukan itu, tapi aku takut dibilang mengada-ada karena bukti-bukti yang mendukung kecurigaanku juga belum kumiliki.
Hanya saja aku memang menaruh rasa curiga padanya, ia melakukan semua itu karena ingin memiliki Mas Arman.
Jika sudah begini, haruskah kuputuskan ikatan kerja dengan gadis ini agar tak perlu lagi dihantui rasa curiga dan tak nyaman dengan keberadaan gadis itu di rumah ini? Agar tak ada lagi rasa curiga dan pertengkaran dengan suamiku lagi? Tapi kalau demikian bagaimana nanti aku masuk kerja sementara mencari ART baru itu sulit dan butuh waktu? Ah, pusing kepalaku memikirkannya.
Yang pasti aku memang harus segera mencari solusi agar rumah tanggaku bersama Mas Arman tidak diganggu pihak ketiga, apalagi jika pihak ketiga itu adalah ART-ku sendiri.
Ya, sepertinya aku harus segera memecat Yuni agar Mas Arman tak lagi bisa macam-macam di belakangku bersama gadis ini. Bagaimana pun juga menyelamatkan rumah tangga yang sudah tujuh tahun dibangun bersama Mas Arman adalah sebuah keharusan bagiku.
"Nissa, ada apa ribut-ribut?"
Mendengar aku membentak Yuni, Mas Arman datang dan bertanya penuh rasa ingin tahu padaku. Matanya menyapu wajahku dengan tajam, meminta penjelasan.
Aku menghela nafas, bingung mau menjawab apa, khawatir jawaban itu justru menjadi sebab kesalahpahaman dan pertengkaran kami lagi seperti kemarin.
Namun, melihatku hanya diam, Mas Arman mengulangi lagi pertanyaannya.
"Nissa, tolong jelaskan kenapa kamu marah-marah sama Yuni seperti tadi?" ujarnya lagi.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Aku cuma nyuruh Yuni goreng ikan aja, tapi dia menolak. Jadi aku menegur dia. Itu aja." Akhirnya kujawab juga pertanyaannya dengan enggan.
Hatiku gundah melihat Mas Arman yang begitu protektif pada Yuni. Apa-apa yang bersangkutan dengan gadis itu, suamiku ini seperti ingin ikut campur terus.
Kadang aku bertanya-tanya sendiri siapa Yuni sebenarnya. Bagaimana bisa Mas Arman bertemu dia dan memperkerjakannya sebagai ART di rumah kami.
Setiap ditanya, Mas Arman hanya bilang Yuni adalah anak saudara ibunya di desa yang hendak mencari pekerjaan di kota ini. Karena aku butuh ART untuk mengasuh Silla pasca diterima sebagai ASN, jadilah kuterima Yuni bekerja di rumah ini.
Sebenarnya bukan aku tak pernah menaruh rasa curiga jika bisa saja Yuni adalah wanita selingkuhan Mas Arman yang sengaja dibawanya ke rumah ini, tetapi aku memilih diam untuk menghindari konflik dengannya karena enggan malu pada tetangga jika kami ribut-ribut. Terbukti sejak kehadiran Yuni sebulan lalu, lambat laun sikap Mas Arman padaku pun memang mulai berubah.
Kehangatan dan keromantisan yang sering ia tunjukkan padaku sekarang berganti dengan kemarahan jika sedikit saja aku menyinggung perasaannya atau mencurigainya seperti kemarin.
Mas Arman juga sering menunjukkan gelagat aneh akan hubungannya dengan Yuni. Seperti kali ini di mana ia justru lebih memilih menyuruh Yuni yang melayani kebutuhannya ketimbang menyuruhku, istrinya sendiri.
"Benar begitu Yuni? Ibu nggak marahin kamu tanpa alasan tadi?" Seolah tak percaya, Mas Arman kembali bertanya pada Yuni yang segera ditanggapi gadis itu dengan menundukkan wajahnya pura-pura sedih.
"Ngg...tadi saya memang diperintahkan Ibu untuk menggoreng ikan, tetapi saya minta Ibu sabar dulu sampai saya selesai bikin teh buat Mas, eh Bapak. Tapi bukannya sabar, ibu malah marah-marah dan mengatakan kalau Yuni ini cuma pembantu hu...hu...hu...." Yuni tergugu.
Gadis itu menundukkan wajahnya seolah tak mampu menahan luka hati karena kata-kataku yang dianggap menghina statusnya padahal itu kuucapkan hanya agar ia menyadari kedudukannya.
Namun, bukannya sadar, ia malah menggunakan kesempatan itu untuk membuat Mas Arman simpati dan menilaiku buruk karena telah menghina status pekerjaannya. Padahal jelas tidak begitu.
Kepura-puraan yang sungguh membuatku ingin mengusir gadis itu sekarang juga dari rumah ini, sayang aku belum menemukan penggantinya.
Hatiku rasanya panas bukan main. Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan. Berani-beraninya ia mengadu yang tidak-tidak pada Mas Arman, seolah-olah aku sengaja mengatainya pembantu dan merendahkan profesinya itu, padahal tidak sama sekali. Sialnya Mas Arman kelihatannya justru lebih percaya pada ucapan ART itu daripada denganku.
"Benar begitu, Nissa? Kamu menghina Yuni karena statusnya? Sadarlah, Nis, roda kehidupan ini berputar, hari ini mungkin dia cuma seorang pembantu, tapi besok lusa bisa saja berubah menjadi majikan. Jangan sombong!" tegas Mas Arman lagi dengan nada yang tak enak didengar telinga, membuatku merasa bingung karena terkesan ia seperti memusuhi istrinya sendiri.
"Siapa yang sombong, Mas? Maksud Mas apa ngomong begitu? Mas mau bilang kalau Mas lebih percaya pada Yuni daripada sama istri Mas sendiri? Keterlaluan!" Aku benar-benar merasa tersinggung mendengar perkataan Mas Arman hingga akhirnya mengucapkan kalimat yang harusnya tak keluar dari mulutku karena hanya akan membuat pembantu itu besar kepala.
Namun mendengar ucapan Mas Arman, hatiku memang menjadi kesal bukan main. Dengan kasar aku beranjak meninggalkan dapur di mana kami berada saat ini, tetapi belum sempat melangkah, Mas Arman keburu mencekal tanganku dan menahanku supaya tidak bisa pergi.
"Kamu mau ke mana? Mas belum selesai bicara. Tolong hargai suami kalau sedang ngomong! Ngerti?" bentak Mas Arman sembari menguatkan cekalannya hingga aku meringis kesakitan.
Aku berontak berusaha melepaskan cekalan itu tetapi tak bisa karena kalah tenaga. Menyadari hal itu aku hanya mampu menelan ludah dengan getir. Tak mengerti mengapa Mas Arman tiba-tiba jadi kasar dan tega begini padaku.
"Mas, kamu kenapa sih jadi kasar begini?" tanyaku sembari terus berontak. Tak mampu lagi menahan diri terus-menerus. Kata orang sabar itu ada batasnya, demikian pula yang terjadi padaku saat ini. Tak bisa lagi menahan sabar menghadapi sikap Mas Arman yang mulai kelewatan.
"Makanya dengarkan dulu suami bicara, jangan main pergi seenaknya saja! Jawab dulu pertanyaan Mas, kenapa kamu ribut terus sama Yuni? Apa belum puas juga dengan penjelasan kemarin hingga kamu masih marah-marah seperti ini? Iya?" Mas Arman melotot hingga rahangnya terlihat mengeras.
Melihat itu aku hanya mampu menggigit bibir. Betapa Mas Arman sudah jauh berubah. Entah apa yang membuatnya begitu, yang pasti sejak kedatangan Yuni ke rumah ini, hubunganku dengan Mas Arman mulai menjadi tegang.
"Aku nggak ngajak dia bertengkar, Mas. Aku cuma mau dia tahu kedudukannya di rumah ini kalau dia di sini itu kerja! Jadi, sudah sepatutnya dia menghormati orang yang sudah mempekerjakannya, Mas, bukan malah membantah perintahnya," ucapku membela diri tanpa rasa takut lagi.
Ya, aku tak peduli lagi siapa Yuni sebenarnya, bahkan jika gadis itu memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai pengasuh Silla, hari ini juga aku tidak peduli. Walau harus bersusah payah mencari penggantinya akan kulakukan demi bisa tenang tanpa kehadirannya di rumah ini lagi.
"Kamu bilang Yuni tidak menghormati kamu? Asal tahu ya Nis, yang dia ucapkan itu benar adanya. Tadi memang Mas yang meminta dia membuatkan teh panas. Kenapa Mas nyuruh dia bukannya kamu? Itu karena kamu kalau buat teh kurang panas dan kurang manis. Makanya Mas minta Yuni yang buat karena dia lebih tahu takarannya," ucap Mas Arman lagi seolah tak kuatir aku marah atau tersinggung mendengar perkataannya.
Cres! Rasanya ada sembilu tajam yang menusuk dan mengiris jantung ini. Mendengar suami sendiri terang-terangan memuji ART di depan istrinya. Siapa yang tidak terluka?
Jadi, itu alasannya Mas Arman lebih memilih teh buatan Yuni ketimbang teh seduhanku? Drama apa sebenarnya yang sedang Mas Arman dan Yuni pertontonkan di depanku saat ini?
"Baik, Mas. Silahkan kamu minta Yuni yang bikinkan teh buat kamu, aku nggak papa, kok. Bahkan aku nggak peduli kamu mau minta apa saja sama Yuni. Tapi jangan lupa kalau saat ini Mas tinggal di rumahku. Rumah yang kubeli jauh sebelum kita menikah. Jadi sudah seharusnya Mas menghargaiku karena aku juga punya hak menentukan siapa-siapa saja orang yang boleh tinggal bersamaku di rumah ini!" ucapku dengan keberanian yang tiba-tiba saja muncul.
Mungkin karena sudah terlalu sakit dan terhina akan kata-kata dan perlakuan yang Mas Arman berikan, membuat pada akhirnya keberanianku untuk melawan bangkit juga.
Sepertinya Mas Arman memang harus disadarkan akan posisinya di rumah ini, sama seperti Yuni.
"...dan kamu Yuni, ingat ya, kamu di sini itu bekerja atas izinku, jadi tolong jaga sikap jika kamu mau terus bekerja di sini. Kalau tidak, silakan keluar sekarang juga!" tandasku padanya dengan tegas.
Ya, menghadapi orang-orang seperti Mas Arman dan Yuni sepertinya memang perlu sedikit keberanian dan ketegasan agar kepala ini tidak diinjak-injak seenaknya.
Usai berucap begitu dengan langkah tenang dan jumawa kutinggalkan ruangan dapur menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuh dan benak yang terasa penat.
Sebelum berlalu masih sempat kulihat wajah Mas Arman dan Yuni yang seketika memerah mendengar ucapanku. Namun, aku tidak peduli, saat ini aku hanya ingin istirahat saja.
***
Dengan hati gundah kututup daun pintu kamar dengan keras. Tetapi belum tertutup sempurna, tangan Mas Arman menghalangi.
"Nisa, tunggu! Mas mau bicara!" ucapnya sembari dengan cepat menyelinap masuk mengejarku.
Kuurungkan menutup daun pintu kayu persegi empat itu dan membiarkan sosok Mas Arman masuk.
Lelaki itu tampak begitu tersinggung pada ucapanku dengan nya tadi. Terbukti wajahnya terlihat kelam dan sinar mata yang tajam menusuk. Namun, aku tak gentar. Kalau Mas Arman bisa tersinggung, aku juga jauh lebih bisa karena aku tak pernah memulai pertengkaran melainkan Mas Arman sendiri.
"Bisa kamu jelaskan apa maksud ucapan kamu tadi, Nissa? Kamu ingin mengancam dan mempermalukan aku di depan Yuni, begitu?" tanya Mas Arman dengan suara tertekan.
Tetapi jangan dikira aku takut. Tidak, sebagai seorang sarjana hukum dengan predikat kelulusan terbaik, aku tahu bagaimana cara melindungi dan mempertahankan hakku sebagai istri di depannya.
Bagaimana pun agama memerintahkan seorang istri untuk taat pada suaminya tetapi jika suami telah mulai bertindak semena-mena, maka istri pun berhak meminta keadilan. Bahkan Islam membolehkan istri meminta talak jika suami tak memperlakukan istrinya lagi dengan baik. Apalagi hukum negara yang jelas-jelas melarang seorang suami berlaku semena-mena pada istrinya. Tak akan kubiarkan Mas Arman melakukan itu lagi padaku. Tidak!
"Mas sudah dengar kan tadi aku bilang apa? Nggak perlu rasanya kuulangi lagi karena Mas pasti sudah dengar? Ini rumahku Mas, jadi tolong hargai aku atau kupersilahkan Mas keluar kapan saja Mas mau. Sekarang aku mau istirahat dulu, jadi tolong Mas tinggalkan kamar ini karena aku mau sendiri dulu!"
Kubuka kembali daun pintu kamar dengan lebar, mempersilahkan lelaki itu keluar, tetapi Mas Arman hanya tegak membisu dengan wajah memerah. Entah apa yang ada di benaknya, aku tak tahu dan tak peduli. Hatiku terlanjur sakit mendapat perlakuan tak sepatutnya darinya ini.