Udara malam bulan Juli terasa dingin menusuk, namun bukan suhu yang membuat Alana menggigil, melainkan kenyataan pahit yang baru saja menghantamnya. Tangannya gemetar saat ia meletakkan ponsel di nakas, layar yang baru saja menampilkan serangkaian pesan itu seperti api yang membakar matanya. Pesan-pesan singkat, foto-foto usang yang tiba-tiba dikirimkan oleh nomor tak dikenal, semuanya adalah bukti yang tak terbantahkan. Kenzo, suaminya, pria yang selama ini ia puja sebagai sosok sempurna, telah mengkhianatinya. Dan yang lebih menyakitkan, selingkuhannya adalah Risa, adik tirinya sendiri.
Dunia Alana seolah runtuh dalam sekejap. Cermin kehidupannya yang selama ini ia kira utuh dan indah, kini pecah berkeping-keping. Setiap pecahan memantulkan bayangan dirinya yang hancur, dikelilingi oleh puing-puing kepercayaan yang tak bersisa. Tenggorokannya tercekat, napasnya memburu, dan denyut di pelipisnya bertalu-talu seperti genderang perang.
"Tidak mungkin," bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Ia ingin menolak, berteriak bahwa ini semua adalah lelucon kejam, fitnah belaka. Namun, hatinya tahu. Ada rasa sakit yang begitu familiar, firasat buruk yang selama ini ia abaikan, kini menjelma menjadi monster yang melahap jiwanya.
Kenzo. Nama itu terucap pahit di bibirnya. Enam tahun pernikahan mereka, enam tahun yang ia pikir dipenuhi cinta dan kebahagiaan. Kenzo adalah pria impian. Tampan, karismatik, sukses dalam kariernya sebagai arsitek terkemuka. Ia selalu memperlakukan Alana dengan penuh perhatian, selalu ada di setiap momen penting, dan yang terpenting, ia adalah ayah yang luar biasa bagi Arya dan Luna, buah hati mereka. Kenzo adalah segalanya bagi Alana. Ia adalah jangkar dalam badai, pelabuhan saat lelah, dan bintang penuntun di kegelapan. Bagaimana mungkin pria seperti itu tega mengkhianatinya?
Dan Risa. Adik tiri Alana. Adik yang sejak kecil selalu ia lindungi, ia sayangi. Meskipun mereka bukan saudara kandung, Alana selalu memperlakukan Risa seperti adik kandungnya sendiri. Ibu Alana meninggal saat ia kecil, dan ayahnya menikah lagi dengan ibu Risa ketika Alana berumur delapan tahun. Sejak saat itu, Risa, yang setahun lebih muda darinya, menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Mereka berbagi kamar, berbagi rahasia, berbagi tawa dan tangis. Alana bahkan rela mengalah dalam banyak hal demi Risa. Saat Risa kesulitan membayar kuliah, Alana yang baru saja bekerja keras mengumpulkan uang untuk membantu. Saat Risa sakit, Alana yang selalu siap sedia menemaninya di rumah sakit. Mengapa Risa, orang yang ia sayangi seperti darah dagingnya sendiri, tega menikamnya dari belakang?
Kilasan-kilasan masa lalu berkelebat dalam benak Alana, menyakitkan seperti pecahan kaca yang menusuk-nusuk ingatannya. Ia teringat bagaimana Kenzo selalu memuji masakan Risa saat mereka makan malam bersama. Ia teringat bagaimana Kenzo seringkali menawarkan diri untuk mengantar Risa pulang jika sudah terlalu larut, alasannya sederhana, "Demi keamanan Risa." Alana selalu melihat itu sebagai bentuk perhatian seorang kakak ipar. Bahkan, ia seringkali merasa terharu melihat keakraban Kenzo dengan Risa, berpikir betapa beruntungnya ia memiliki suami dan adik yang saling menyayangi. Kebodohan apa ini? Kebodohan yang justru menuntunnya pada jurang kehancuran.
Pernah suatu ketika, sekitar setahun yang lalu, Alana memergoki Kenzo dan Risa sedang tertawa terbahak-bahak di dapur, Risa bahkan menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo. Alana merasa sedikit tidak nyaman saat itu, tapi Kenzo segera menjelaskan, "Risa baru saja menceritakan lelucon lucu, Sayang. Dia butuh hiburan, dia kan baru putus cinta." Alana percaya begitu saja. Ia selalu percaya. Ia tidak pernah punya alasan untuk meragukan Kenzo, apalagi Risa.
Air mata akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya yang dingin. Ia jatuh terduduk di lantai kamar, memeluk lututnya erat-erat, seolah berusaha menahan dirinya agar tidak hancur berkeping-keping. Isakannya tertahan, tak ingin membangunkan Arya dan Luna yang pulas di kamar mereka masing-masing. Mereka adalah alasan mengapa Alana harus tetap kuat, alasan mengapa ia tidak boleh runtuh.
Arya, putra sulungnya yang berusia lima tahun, dan Luna, putrinya yang berusia tiga tahun, adalah anugerah terindah dalam hidupnya. Wajah polos mereka yang damai dalam tidur, senyum ceria mereka yang selalu berhasil menghapus segala lelah, kini menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan yang menyelimutinya. Bagaimana ia akan menjelaskan ini pada mereka? Bagaimana ia bisa menghadapi tatapan polos mereka sementara hatinya sendiri hancur?
Kemarahan kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya. Amarah pada Kenzo, yang telah merusak janji suci pernikahan. Amarah pada Risa, yang telah mengkhianati kepercayaan dan kasih sayangnya. Ingin rasanya ia bangun, berteriak, melabrak keduanya tanpa mempedulikan apa pun. Memecahkan semua perabot di rumah ini, menuntut penjelasan, melampiaskan segala rasa sakit yang menghimpit dadanya.
Namun, bayangan Arya yang dengan wajah berseri bercerita tentang cita-citanya menjadi astronot, dan Luna yang manja memeluk lehernya sambil tertawa, tiba-tiba muncul di benaknya. Tidak. Ia tidak bisa. Ia tidak boleh bertindak gegabah. Emosi sesaat hanya akan membawa mereka pada kehancuran yang lebih parah. Jika ia melabrak mereka sekarang, apa yang akan terjadi? Kekacauan. Perdebatan sengit. Perceraian yang menyakitkan dan penuh drama di mata anak-anaknya. Alana tidak ingin Arya dan Luna tumbuh besar dengan bayang-bayang perpisahan orang tua yang penuh drama. Mereka berhak atas kehidupan yang lebih baik, masa depan yang stabil.
Alana memaksa dirinya menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan badai di dadanya. "Tenang, Alana. Tenang," ia berbisik pada dirinya sendiri. Ini bukan waktunya untuk panik. Ini waktunya untuk berpikir.
Ia menyeka air matanya dengan kasar, matanya sembab, namun ada percikan api di sana, api tekad yang baru saja menyala. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban yang tak berdaya. Ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja setelah menghancurkan hidupnya. Jika Kenzo dan Risa berpikir mereka bisa hidup bahagia di atas penderitaannya, mereka salah besar.
Pembalasan. Kata itu berdengung di kepalanya. Bukan pembalasan yang kasar, bukan tindakan impulsif yang akan merugikannya. Tapi pembalasan yang cerdas, terencana, dan efektif. Pembalasan yang akan membuat mereka merasakan sedikit saja dari rasa sakit yang sedang ia alami.
Alana bangkit perlahan, kakinya terasa kaku, namun pikirannya mulai bekerja. Jika ia ingin membalas dendam, ia harus cerdik. Ia harus berpikir seperti musuh, melihat celah, mencari kelemahan.
Langkah pertama adalah pengumpulan bukti. Pesan dan foto yang ia terima adalah permulaan. Ia membutuhkan lebih banyak. Lebih detail. Lebih tak terbantahkan. Ia harus mencari tahu seberapa jauh hubungan mereka, berapa lama mereka sudah melakukannya, di mana dan kapan. Apakah ini hanya perselingkuhan sesaat atau hubungan yang serius? Pertanyaan-pertanyaan itu menusuknya, tapi ia harus tahu.
Mata Alana menyapu sekeliling kamar tidur mereka. Kamar yang dulunya menjadi saksi bisu cinta dan kebahagiaan mereka, kini terasa dingin dan asing. Parfum Kenzo yang masih tercium samar di bantal, boneka beruang dari hadiah ulang tahun pernikahannya di sudut ruangan, semua terasa mengolok-oloknya. Ia harus menyingkirkan semua emosi yang mengganggu. Ia harus menjadi pribadi yang rasional.
"Oke, Alana. Pikirkan. Apa yang Kenzo pedulikan paling utama?" ia bermonolog. Tentu saja, citranya. Kenzo adalah pria yang sangat menjaga citranya di mata publik, di hadapan rekan kerja, di hadapan keluarganya, dan terutama di hadapan klien-kliennya yang terhormat. Ia adalah arsitek yang terkenal dengan integritas dan profesionalismenya. Sebuah skandal perselingkuhan, apalagi dengan adik iparnya sendiri, akan menghancurkan karier yang telah ia bangun dengan susah payah. Itu adalah titik lemah pertamanya.
Lalu, Risa. Apa yang Risa pedulikan? Risa selalu mendambakan kehidupan yang mapan dan mewah. Ia selalu cemburu pada Alana yang "lebih beruntung" karena menikahi Kenzo. Risa bekerja sebagai desainer interior junior di sebuah firma kecil, penghasilannya tidak seberapa. Alana tahu, Risa sangat menginginkan gaya hidup yang bisa diberikan oleh Kenzo. Itu adalah titik lemah kedua. Risa tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan selain "cintanya" pada Kenzo, atau lebih tepatnya, obsesinya terhadap Kenzo dan kehidupannya.
Strategi Alana mulai terbentuk. Ia tidak akan mencari kekerasan. Ia akan mencari keruntuhan. Keruntuhan finansial, keruntuhan sosial, keruntuhan moral. Ia ingin mereka merasakan kehilangan, kehilangan segala sesuatu yang paling mereka hargai.
Ponselnya kembali di genggamannya. Ia membuka galeri foto, melihat foto-foto Arya dan Luna. Senyumnya samar, diwarnai rasa pedih. "Demi kalian, Nak," bisiknya. "Mama akan kuat. Mama akan pastikan kalian tidak menderita."
Pagi itu, Alana bangun dengan perasaan hampa, namun pikirannya penuh dengan rencana. Ia berpura-pura seperti biasa, menyiapkan sarapan untuk Kenzo dan anak-anak. Kenzo terlihat seperti biasa, ceria dan penuh perhatian. Ia mencium kening Alana, bertanya tentang tidurnya, bahkan bercanda dengan Arya dan Luna di meja makan. Setiap tawa Kenzo, setiap sentuhan tangannya, terasa seperti tusukan belati. Bagaimana bisa ia bersikap begitu normal setelah semua ini? Apakah ia tidak merasa bersalah sedikit pun? Atau memang ia adalah seorang aktor ulung?
Alana berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan emosinya. Ia mengangguk, tersenyum palsu, menjawab seadanya. Air kopi terasa pahit di lidahnya, namun ia tetap meneguknya. Ini adalah permulaan. Permulaan dari sebuah permainan, di mana ia harus menjadi pemain terbaik.
Setelah Kenzo berangkat ke kantor, dan anak-anak sibuk bermain di ruang keluarga, Alana segera membuka laptopnya. Ia mulai mencari informasi. Informasi tentang hukum perceraian, tentang hak asuh anak, tentang pembagian harta gono-gini. Ia ingin tahu semua opsi yang ia miliki. Ia juga mencari tahu tentang firma hukum terbaik yang spesialis dalam kasus perceraian berprofil tinggi. Ia tahu, Kenzo akan menggunakan pengacara terbaik, jadi ia juga harus siap.
Selain itu, ia mulai mempertimbangkan aset-aset Kenzo. Proyek-proyek besarnya, reputasinya di kalangan arsitek, bahkan saham-saham yang ia miliki di berbagai perusahaan. Alana ingat, Kenzo pernah menyebutkan memiliki beberapa properti atas namanya. Semua itu adalah target.
Ia juga teringat akan kebiasaan Kenzo yang seringkali menyimpan berkas-berkas penting di laci meja kerjanya di rumah, atau di laptopnya. Ia seringkali melihat Kenzo bekerja hingga larut malam di ruang kerjanya. Kemungkinan besar, ada banyak informasi berharga di sana.
"Risa," gumam Alana lagi. "Apa yang harus kulakukan padamu?" Kemarahan pada Risa mungkin lebih dalam, lebih pribadi. Pengkhianatan dari orang terdekat selalu lebih menyakitkan daripada pengkhianatan dari orang asing. Risa telah menghancurkan ikatan persaudaraan yang mereka miliki.
Alana memutuskan untuk mengumpulkan informasi tentang Risa juga. Di mana ia bekerja? Siapa teman-temannya? Gaya hidup seperti apa yang ia jalani? Apakah ia memiliki rahasia lain yang bisa Alana manfaatkan? Semakin banyak informasi yang ia miliki, semakin kuat posisinya.
Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka yang dingin. Alana harus bersandiwara di hadapan Kenzo, berpura-pura menjadi istri yang bahagia dan tidak tahu apa-apa. Setiap kali Kenzo menyentuhnya, hatinya mencelos. Setiap kali ia melihat senyum Kenzo, ia merasa mual. Ia bahkan harus menahan diri untuk tidak menghardik Risa saat adik tirinya itu datang berkunjung, dengan senyum manis dan pertanyaan basa-basi tentang kabar Alana.
"Kak Alana, kok akhir-akhir ini sering terlihat melamun?" tanya Risa suatu sore, saat ia datang untuk menjemput Luna yang baru saja bermain di rumah teman. Risa mencoba menyentuh lengan Alana, namun Alana refleks menariknya.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah," jawab Alana singkat, berusaha terdengar datar. Matanya menatap tajam ke arah Risa, berusaha membaca ekspresi di wajah wanita itu. Apakah ada rasa bersalah? Penyesalan? Tidak, yang ia lihat hanya kepolosan yang dibuat-buat, atau mungkin, memang kekosongan.
Risa hanya tersenyum tipis. "Kakak terlalu keras bekerja, mungkin butuh liburan."
Alana hanya membalas dengan senyuman pahit. "Mungkin."
Ia mengamati Risa. Pakaian yang dikenakan Risa terlihat lebih modis dan mahal dari biasanya. Ada perhiasan baru di pergelangan tangannya. Apakah ini semua pemberian Kenzo? Rasa mual kembali menyerang.
Malam itu, setelah Kenzo tertidur pulas, Alana diam-diam menyelinap ke ruang kerja Kenzo. Jantungnya berdebar kencang, namun tekadnya lebih kuat. Ia tahu risiko yang ia ambil, tetapi ia tidak punya pilihan. Dengan hati-hati, ia mencari laci yang tidak terkunci, membuka setiap folder di laptop Kenzo, mencari petunjuk, bukti, atau apa pun yang bisa ia gunakan. Ia menemukan beberapa berkas keuangan yang mencurigakan, transfer uang dalam jumlah besar ke rekening yang tidak dikenal, dan beberapa email yang samar-samar merujuk pada "pertemuan rahasia." Tidak ada yang secara eksplisit menyebutkan nama Risa, tapi Alana tahu itu adalah petunjuk awal. Ia memotret semua dokumen penting dengan ponselnya, berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak.
Ia juga mencari tahu tentang kebiasaan Kenzo dalam menyimpan data-data penting. Ia ingat Kenzo pernah mengatakan bahwa ia menggunakan cloud storage untuk menyimpan beberapa proyek pentingnya. Itu adalah celah lainnya.
Dalam beberapa hari berikutnya, Alana bertindak seperti seorang detektif swasta. Ia mulai mengamati gerak-gerik Kenzo dan Risa. Ia memperhatikan waktu-waktu mereka saling mengirim pesan, pertemuan-pertemuan mereka yang "kebetulan," bahkan perubahan kecil dalam rutinitas mereka. Ia melihat Kenzo seringkali pulang terlambat, alasannya selalu sama: "Banyak pekerjaan." Dan Risa, yang biasanya sering berkunjung ke rumah Alana, kini lebih jarang terlihat, atau jika ia datang, itu hanya sebentar saja.
Alana mencoba menelusuri riwayat panggilan Kenzo, namun Kenzo selalu menghapus riwayatnya. Itu saja sudah menjadi indikasi yang kuat. Namun, ia masih membutuhkan bukti yang lebih konkret.
Suatu sore, saat Kenzo sedang mandi, ponselnya berdering. Alana melihat nama "Risa" muncul di layar. Jantungnya berdegup kencang. Ini dia. Ia menahan napas, tidak mengangkatnya. Biarkan saja. Jika ia mengangkatnya, Kenzo akan tahu ia mencurigainya.
Ketika Kenzo keluar dari kamar mandi, ia segera melihat ponselnya. "Ah, Risa menelepon. Pasti ada perlu," katanya santai.
Alana hanya mengangguk, berusaha terlihat acuh tak acuh. "Mungkin soal pekerjaan."
Kenzo mengangguk, lalu membalas pesan Risa. Alana diam-diam melirik. Ia melihat Kenzo mengetik dengan cepat, lalu menyembunyikan layar ponselnya dari pandangan Alana. Itu adalah konfirmasi lain.
Alana mulai menyusun "papan bukti" di benaknya. Titik-titik mulai terhubung membentuk sebuah pola yang mengerikan. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya berhadapan dengan perselingkuhan, tetapi juga dengan sebuah plot yang telah dijalankan dengan sangat rapi oleh Kenzo dan Risa. Mereka berdua pasti telah merencanakan ini sejak lama. Mungkin, bahkan sebelum Kenzo dan Alana menikah. Kemungkinan itu membuat Alana semakin jijik.
Puncaknya terjadi seminggu kemudian. Alana mengikuti Kenzo. Ia memarkir mobilnya agak jauh dari kantor Kenzo dan mengawasinya. Ia melihat Kenzo keluar dari kantor lebih awal dari biasanya, dan bukannya pulang, ia malah melaju ke arah pusat kota. Alana mengikutinya dengan hati-hati, menjaga jarak. Kenzo berhenti di depan sebuah apartemen mewah di kawasan elit Jakarta. Alana melihatnya masuk.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, Alana melihat Risa keluar dari taksi dan berjalan menuju gedung apartemen yang sama. Risa mengenakan pakaian yang lebih rapi dari biasanya, rambutnya ditata dengan hati-hati, dan ia tersenyum lebar. Alana bisa merasakan gelombang amarah dan sakit hati yang luar biasa. Itu adalah apartemen yang Kenzo beli atas nama perusahaan, beralasan untuk "kebutuhan tamu atau proyek darurat." Sekarang Alana tahu, apartemen itu adalah sarang mereka.
Air mata Alana kembali menetes, namun kali ini bukan air mata keputusasaan. Ini adalah air mata amarah, air mata tekad. Ia memotret momen itu, memastikan wajah Risa dan Kenzo terlihat jelas dalam foto-foto tersebut, meskipun dari kejauhan. Bukti ini tidak terbantahkan.
Dalam perjalanan pulang, Alana tidak merasakan apa-apa kecuali kekosongan yang dingin. Rasa sakit itu begitu dalam, namun ia harus mengabaikannya. Ia harus fokus pada rencana.
Sesampainya di rumah, Alana segera menghubungi teman lama kuliahnya, Bima. Bima adalah seorang pengacara handal, spesialis dalam hukum keluarga. Ia tahu Bima bisa dipercaya dan akan memberikan nasihat terbaik.
"Bim, apa kabar?" sapa Alana, berusaha menstabilkan suaranya.
"Alana? Wah, tumben telepon. Baik-baik saja, ada apa?" jawab Bima, terdengar sedikit terkejut.
Alana menarik napas dalam-dalam. "Aku butuh bantuanmu, Bim. Penting sekali."
Ia kemudian menceritakan semuanya pada Bima, dari awal ia menemukan bukti, hingga ia melihat Kenzo dan Risa di apartemen. Ia berbicara dengan suara datar, tanpa emosi, seolah sedang menceritakan kisah orang lain. Bima mendengarkan dengan seksama, sesekali terdengar desahan napasnya.
"Aku mengerti, Alana," kata Bima setelah Alana selesai bercerita. "Ini situasi yang sangat sulit. Tapi kamu sudah melakukan hal yang benar dengan mengumpulkan bukti. Jangan bertindak sendiri tanpa nasihat hukum. Aku akan membantumu. Mari kita susun strateginya."
Bima menyarankan Alana untuk tidak terburu-buru mengajukan gugatan cerai. "Kita harus pastikan kamu punya posisi tawar yang kuat, Alana. Bukti-bukti ini sangat penting. Tapi kita perlu lebih dari sekadar foto. Kita butuh bukti finansial, bukti komunikasi yang lebih jelas, mungkin kesaksian dari orang-orang terdekat jika ada."
Alana mengangguk. "Aku mengerti, Bim. Aku akan mencari lebih banyak lagi. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja."
"Bagus. Dan ingat, Alana, jangan sampai Kenzo tahu kamu sudah tahu tentang ini. Bertindaklah seperti biasa. Biarkan dia lengah," saran Bima. "Ini akan menjadi permainan panjang, tapi kita akan memenangkannya."
Setelah berbicara dengan Bima, Alana merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tidak sendirian. Ia punya sekutu. Kini, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana yang lebih detail dan komprehensif.
Ia membagi rencananya menjadi beberapa fase.
Fase 1: Pengumpulan Bukti Intensif. Ia akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencari bukti tambahan. Memasang alat penyadap kecil jika memungkinkan, merekam percakapan, melacak transaksi keuangan, dan mencari saksi potensial jika ada. Ia harus menjadi bayangan yang tak terlihat.
Fase 2: Pengamanan Aset. Sebelum Kenzo menyadari apa yang terjadi, Alana harus mencari cara untuk mengamankan aset-aset yang menjadi haknya, atau setidaknya memblokir Kenzo agar tidak bisa mengalihkan aset-aset tersebut. Ini termasuk properti, rekening bank, dan investasi.
Fase 3: Keruntuhan Reputasi. Ini adalah bagian yang paling ia nantikan. Ia akan merancang cara untuk membongkar perselingkuhan Kenzo dan Risa di depan publik, namun tidak dengan cara yang gegabah. Ia ingin publik melihat Kenzo sebagai pengkhianat, dan Risa sebagai perusak rumah tangga. Citra Kenzo sebagai arsitek berintegritas akan hancur.
Fase 4: Perpisahan dan Hak Asuh. Alana ingin memastikan hak asuh Arya dan Luna sepenuhnya jatuh ke tangannya. Ia tidak ingin anak-anaknya memiliki ayah dan bibi yang terlibat dalam skandal. Ia akan berjuang mati-matian untuk itu.
Alana menatap foto Kenzo di meja kerjanya. Senyumnya terlihat begitu tulus, begitu menawan. Namun di balik senyum itu, tersimpan pengkhianatan yang keji. Hatinya sudah mati rasa terhadap rasa sakit itu. Yang tersisa hanyalah tekad baja.
"Kau akan membayar mahal untuk ini, Kenzo," bisiknya, suaranya dingin dan penuh janji. "Dan kau, Risa. Kau tidak akan pernah lagi bisa merusak kebahagiaan orang lain."
Perjalanan yang penuh duri, tetapi ia tidak gentar. Demi Arya dan Luna, demi harga dirinya yang telah diinjak-injak, Alana akan bangkit. Ia akan menunjukkan pada Kenzo dan Risa bahwa wanita yang mereka hancurkan, kini telah bertransformasi menjadi prajurit yang siap membalas dendam. Pertempuran baru saja dimulai, dan Alana bersumpah, ia akan menjadi pemenangnya.
Pagi menyapa Jakarta dengan kemacetan khasnya, namun bagi Alana, kebisingan jalanan terasa seperti melodi pengiring bagi badai di dalam dirinya. Sudah tiga hari sejak ia menyusun garis besar rencananya, dan setiap detik terasa seperti jarum jam yang berdetak di atas bom waktu. Aktingnya di hadapan Kenzo harus sempurna. Senyuman tipis, anggukan kepala yang seolah mengiyakan setiap perkataan Kenzo, bahkan sentuhan yang terasa hampa, semua itu adalah bagian dari topeng yang ia kenakan. Kenzo, di sisi lain, tampak seperti biasa: riang, sedikit melankolis saat ia harus pergi ke kantor, dan selalu menyempatkan diri untuk mencium kening Alana dan anak-anak sebelum berangkat. Sungguh ironis, batin Alana getir. Pria yang menghancurkan hatinya kini begitu piawai memainkan peran suami dan ayah yang sempurna.
"Mama, Kenzo janji mau ajak Arya ke taman bermain sepulang kerja nanti!" seru Arya suatu pagi, matanya berbinar penuh harap.
Alana memaksakan senyum. "Benarkah? Wah, asyik sekali itu." Ia melirik Kenzo, yang mengangguk sambil tersenyum.
"Tentu saja, Sayang. Janji Kenzo tidak pernah ingkar, kan?" Kenzo mengusap kepala Arya penuh kasih.
Kata-kata "janji tidak pernah ingkar" itu menusuk ulu hati Alana. Janji pernikahan mereka? Janji setia? Semua itu kini hanya bualan belaka.
Tantangan terbesar Alana di fase awal ini adalah mendapatkan bukti tanpa menimbulkan kecurigaan. Ia tidak bisa terang-terangan menggeledah ponsel Kenzo, atau memasang alat sadap sembarangan. Kenzo bukan pria bodoh; ia cerdik dan sangat teliti. Alana tahu ia harus lebih cerdik lagi.
Malam itu, setelah anak-anak terlelap dan Kenzo sibuk di ruang kerjanya, Alana mulai aksinya. Ia ingat Kenzo sering meninggalkan laptopnya tidak terkunci saat pergi sebentar ke kamar mandi atau dapur. Itu adalah celah yang harus ia manfaatkan. Dengan jantung berdebar, ia mendekati meja kerja Kenzo. Lampu ruangan yang redup seolah menambah ketegangan. Nafasnya tertahan, setiap gerakan harus tanpa suara.
Kenzo sedang menelepon seseorang, suaranya samar-samar terdengar dari dapur. Ini kesempatannya. Alana dengan cepat membuka laptop Kenzo. Matanya dengan cekatan mencari folder-folder tersembunyi, riwayat penelusuran, bahkan kotak masuk email. Kenzo memang sangat rapi, hampir tidak ada jejak mencurigakan di permukaan. Namun, Alana tahu Kenzo punya kebiasaan menyimpan file-file penting di folder tersembunyi yang ia namai dengan kode-kode aneh. Ia pernah tak sengaja melihat Kenzo melakukannya sekali.
Alana mencoba beberapa kombinasi nama proyek atau nama-nama kode yang Kenzo sering gunakan. Tangannya gemetar saat ia mengetikkan "Project Echo" – nama proyek fiktif yang pernah Kenzo gunakan untuk latihan desain. Bingo! Sebuah folder terbuka, namun isinya bukan file desain. Ada beberapa foto dan video. Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ia melihat foto-foto Kenzo dan Risa, berlibur di sebuah vila di puncak, tertawa, saling merangkul. Ada juga video singkat Kenzo mencium Risa di bibir, diiringi tawa renyah Risa.
Melihatnya secara langsung seperti ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar pesan atau firasat. Rasanya seperti seluruh udara di paru-parunya ditarik keluar. Rasa mual kembali menyeruak. Tapi Alana memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Ini adalah emas. Ini adalah bukti yang ia butuhkan.
Ia segera memindahkan semua file itu ke flash drive kecil yang sudah ia siapkan. Tak hanya itu, ia juga menemukan beberapa dokumen keuangan yang sangat mencurigakan: transfer sejumlah besar uang ke rekening atas nama Risa, dan beberapa pembelian barang mewah atas nama Risa yang tersembunyi dalam laporan keuangan perusahaan Kenzo sebagai "biaya operasional proyek." Kenzo bahkan mengatur agar gaji Risa di firma tempatnya bekerja sedikit lebih tinggi daripada desainer interior junior lainnya, dengan alasan "kontribusi ekstra." Kenzo seolah membangun sebuah sarang rahasia dengan Risa, menggunakan aset dan nama perusahaan.
Alana memotret setiap dokumen, setiap transaksi, setiap detail yang bisa ia tangkap. Waktu Kenzo kembali dari dapur, ia sudah menutup semua tab dan kembali ke posisinya semula, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sudah selesai makan malam, Sayang?" tanya Kenzo, tersenyum padanya.
Alana mengangguk. "Sudah, Mas. Maaf, aku tadi sambil membereskan kamar anak-anak."
Kenzo hanya mengangguk, lalu kembali fokus pada laptopnya. Alana merasa mual. Pria di depannya ini adalah seorang penipu ulung.
Esok harinya, Alana kembali menghubungi Bima.
"Bim, aku dapat banyak sekali. Foto, video, bahkan bukti transfer dan pembelian barang mewah atas nama Risa, disamarkan sebagai biaya perusahaan," lapor Alana, suaranya bergetar menahan amarah yang meluap.
"Bagus sekali, Alana! Ini lebih dari yang kita harapkan di awal," Bima terdengar antusias. "Dengan bukti ini, posisi tawarmu sangat kuat. Terutama soal pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak."
Bima menyarankan Alana untuk segera membuat salinan digital dari semua bukti itu dan menyimpannya di tempat yang aman, di luar rumah. "Skenario terburuk, jika Kenzo curiga dan menghapus semuanya, kamu sudah punya cadangan," kata Bima. "Dan pastikan tidak ada jejak di laptop atau ponselmu yang bisa mengarah padanya."
Alana segera melaksanakan saran Bima. Ia menyalin semua bukti ke cloud storage pribadi yang baru ia buat, juga ke hard drive eksternal yang ia titipkan pada ibunya. Ibunya, yang tinggal di kota lain, tidak akan tahu apa isinya, tapi setidaknya aman.
Namun, pengumpulan bukti tidak hanya berhenti di sana. Alana tahu ia harus mencari tahu seberapa dalam dan serius hubungan Kenzo dan Risa. Apakah ini hanya nafsu sesaat, atau mereka memang punya rencana untuk masa depan?
Ia mulai memperhatikan pola komunikasi Kenzo. Ia menyadari Kenzo sering menerima panggilan di jam-jam tertentu, selalu di luar ruangan atau di tempat sepi. Dan Risa juga seringkali "menghilang" dari lingkaran pertemanan mereka di media sosial, atau tiba-tiba memposting foto di tempat-tempat yang Alana tidak familiar.
Alana mencoba cara lain. Ia membeli kartu SIM prabayar baru dan ponsel murah. Dengan nomor baru ini, ia mulai mengirim pesan singkat ke Kenzo dan Risa, menyamar sebagai seseorang yang "melihat mereka bersama." Tujuannya bukan untuk memprovokasi, melainkan untuk melihat reaksi mereka.
Pesan pertama ia kirim ke Kenzo: "Senang melihatmu bahagia dengan Risa kemarin."
Tak lama, ponsel Kenzo bergetar. Alana mengintip. Kenzo tampak terkejut, lalu segera membalas pesan itu dengan marah: "Siapa ini? Jangan ikut campur urusan orang!" Ia kemudian menelepon nomor itu, tapi tentu saja, Alana tidak mengangkatnya.
Reaksi Kenzo sudah cukup. Ia marah karena ketahuan.
Kemudian, ia mengirim pesan ke Risa: "Cantik sekali kamu kemarin di apartemen itu. Pantas Kenzo tergila-gila."
Ponsel Risa berdering tak lama kemudian. Risa mengangkatnya, suaranya sedikit panik. "Halo? Ini siapa?" Tak ada jawaban, dan Risa menutup teleponnya. Tak lama kemudian, ia melihat Risa mengirim pesan ke Kenzo. Alana tidak bisa membaca isinya, tapi ia tahu mereka sedang berkomunikasi.
Ini membuktikan bahwa mereka berdua terlibat, dan mereka panik ketika rahasia mereka terancam terungkap.
Alana memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih berani. Ia menghubungi seorang kenalannya yang bekerja sebagai teknisi IT swasta, seorang pria yang dulunya adalah teman kuliahnya yang dikenal sangat tertutup dan handal. Alana menjelaskan situasinya secara garis besar, tanpa menyebutkan nama Kenzo dan Risa, hanya sebagai "klien yang ingin melacak aktivitas pasangannya."
"Bisakah kamu bantu aku melacak ponsel seseorang? Aku butuh riwayat percakapan, lokasi, dan email," pinta Alana.
Teknisi itu, Rizal, mengernyitkan dahi. "Itu ilegal, Mbak. Tapi jika Mbak punya akses fisik ke ponselnya, ada beberapa perangkat lunak yang bisa digunakan untuk mem-backup data. Atau, jika Mbak punya password akun cloud-nya, kita bisa mencoba melacaknya dari sana."
Alana memikirkan Kenzo yang seringkali meninggalkan ponselnya tanpa kunci di rumah. Dan ia juga tahu kata sandi cloud storage Kenzo, karena Kenzo pernah memintanya untuk mengunggah beberapa dokumen penting.
"Aku bisa dapatkan akses fisiknya dan password akun cloudnya," jawab Alana tegas.
"Baiklah. Aku akan berikan beberapa alat dan panduan. Tapi ingat, risiko ditanggung sendiri," kata Rizal.
Rizal kemudian memberikan Alana sebuah alat kecil yang disebut data extractor dan beberapa panduan teknis untuk mengunduh riwayat percakapan dari aplikasi pesan instan, riwayat lokasi, dan data email. Prosesnya rumit, membutuhkan ketelitian dan waktu.
Selama seminggu berikutnya, Alana memanfaatkan setiap kesempatan Kenzo lengah. Saat Kenzo mandi, saat ia tertidur pulas, Alana diam-diam menghubungkan data extractor ke ponsel Kenzo. Ia harus bekerja cepat, memindahkan data sebanyak mungkin sebelum Kenzo terbangun atau menyadarinya.
Malam-malam Alana dihabiskan untuk menganalisis data yang ia dapatkan. Ribuan pesan teks, ratusan email, rekaman panggilan singkat, dan riwayat lokasi yang menunjukkan Kenzo dan Risa seringkali berada di tempat yang sama, pada waktu yang bersamaan, di luar jam kerja.
Ada pesan-pesan mesra yang jelas menunjukkan mereka adalah sepasang kekasih. Risa mengeluh tentang "wanita itu" (merujuk pada Alana) dan berharap Kenzo segera "menyelesaikan masalahnya." Kenzo membalas dengan janji-janji manis, "bersabarlah, Sayang, sebentar lagi."
Yang paling mengejutkan Alana adalah sebuah pesan dari Risa: "Bagaimana dengan rencana kita untuk membeli vila di Bali itu? Aku sudah tidak sabar." Dan Kenzo membalas: "Tunggu saja, Sayang. Proyek besar itu sebentar lagi cair, setelah itu kita bisa beli vila impian kita. Dan kita akan meninggalkan semuanya."
Membaca pesan itu membuat Alana merasakan gelombang dingin menusuk tulang. Mereka tidak hanya berselingkuh, mereka memiliki rencana untuk masa depan. Mereka berencana membangun hidup baru bersama, meninggalkan Alana dan anak-anak. Rasa sakit itu kini bercampur dengan kemarahan yang membakar. Kenzo tidak hanya mengkhianatinya, ia berencana membuangnya.
Rasa jijik pada Risa juga semakin menjadi. Risa adalah seorang manipulator ulung. Selama ini, Alana melihat Risa sebagai adik yang sedikit manja, yang butuh perlindungan. Tapi sekarang ia melihat Risa sebagai serigala berbulu domba, yang dengan licik merebut apa yang bukan miliknya.
Bukti-bukti ini, Alana tahu, sudah lebih dari cukup. Bima akan sangat senang melihatnya. Namun, ia merasa masih ada yang kurang. Ia ingin menemukan bukti yang secara langsung mengaitkan Kenzo dan Risa dengan sebuah rencana finansial yang licik, yang menunjukkan bahwa mereka secara aktif menyedot kekayaan Kenzo untuk kepentingan pribadi Risa, atau untuk modal hidup baru mereka.
Ia kembali fokus pada dokumen keuangan yang ia temukan di laptop Kenzo. Ada beberapa transfer besar ke rekening bank asing, dengan keterangan yang sangat umum dan samar. Alana curiga ini ada hubungannya dengan vila di Bali yang disebut Risa.
Alana tahu ia tidak bisa melacak rekening bank asing sendiri. Ia butuh bantuan profesional. Ia kembali menghubungi Bima.
"Bim, aku butuh jasa forensic accountant," kata Alana tanpa basa-basi. "Ada transfer mencurigakan ke rekening asing, aku yakin ini ada hubungannya dengan rencana mereka."
Bima terdiam sejenak. "Itu akan memakan biaya besar, Alana. Dan juga berisiko."
"Aku tidak peduli biayanya, Bim. Aku ingin tahu segalanya," desak Alana. "Aku ingin mereka membayar mahal."
Bima menghela napas. "Baiklah. Aku punya kenalan yang sangat handal di bidang ini. Tapi ini akan menjadi langkah yang lebih jauh, Alana. Kamu sudah yakin dengan ini?"
"Lebih dari yakin, Bim. Mereka berencana membuangku dan anak-anak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Bima kemudian memperkenalkan Alana kepada Pak Danu, seorang akuntan forensik berpengalaman yang sering bekerja sama dengan Bima dalam kasus-kasus perceraian rumit. Pak Danu adalah seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan tatapan tajam, seolah bisa melihat setiap angka yang disembunyikan.
Alana menyerahkan semua bukti transaksi yang ia miliki kepada Pak Danu. Pak Danu dengan teliti memeriksa setiap detail, bertanya tentang pola pengeluaran Kenzo dan Risa, dan bagaimana Kenzo mengelola keuangannya.
"Ini memang pola yang mencurigakan, Bu Alana," kata Pak Danu setelah beberapa hari menganalisis data. "Transfer ini mengarah ke sebuah perusahaan fiktif di luar negeri yang terhubung dengan sebuah agen properti di Bali. Ada kemungkinan besar uang ini digunakan untuk membeli properti atas nama pihak ketiga, untuk menyamarkan kepemilikan Kenzo."
Alana mengepalkan tangannya. "Aku tahu itu! Mereka berencana melarikan diri dengan uangku dan anak-anakku."
Pak Danu menatapnya dengan simpati. "Kita akan buktikan itu, Bu Alana. Ini akan membutuhkan waktu, dan saya harus menyelidiki lebih jauh, mungkin dengan bantuan pihak ketiga di luar negeri. Tapi jika terbukti, ini bisa menjadi bukti yang sangat kuat di pengadilan. Tidak hanya perselingkuhan, tapi juga penggelapan aset."
Mendengar kata "penggelapan aset" membuat Alana merasakan secercah harapan. Ini bukan hanya tentang membalas dendam secara emosional, tetapi juga tentang melindungi masa depan finansialnya dan anak-anaknya.
Selama proses investigasi finansial ini, Alana masih harus menjaga sandiwaranya di rumah. Ia bahkan harus menemani Kenzo ke beberapa acara sosial, tersenyum manis di depan kolega dan teman-teman mereka. Setiap kali Kenzo merangkul pinggangnya, atau membisikkan kata-kata romantis di telinganya, Alana merasa seperti aktris terbaik di dunia. Ia tersenyum, mengangguk, dan berpura-pura bahagia. Namun, di dalam hatinya, ia sedang merencanakan kehancuran pria itu.
Pertemuan tak terduga dengan Risa di sebuah kafe semakin menguatkan tekad Alana. Risa sedang duduk di sudut, tertawa lepas dengan teman-temannya. Ia tampak begitu bahagia, seolah tidak ada beban di pundaknya. Alana mengamatinya dari jauh. Risa yang dulu adalah adik yang ia sayangi, kini terlihat seperti orang asing yang menjijikkan.
"Alana, apa yang kamu lihat?" tanya seorang teman yang menemaninya.
"Tidak ada, hanya melihat-lihat," jawab Alana, segera mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin Risa melihatnya, apalagi curiga.
Terkadang, rasa lelah melandanya. Lelah karena harus berpura-pura, lelah karena harus menahan amarah, lelah karena harus hidup dalam kebohongan. Ada saat-saat ia ingin menyerah, ingin saja berteriak dan mengakhiri semuanya. Namun, tatapan polos Arya dan Luna selalu menjadi pengingat. Mereka adalah sumber kekuatannya, dan mereka berhak mendapatkan yang terbaik.
"Mama sayang kalian," bisiknya setiap malam, memeluk erat kedua anaknya saat mereka terlelap. "Mama akan pastikan kalian bahagia."
Satu bulan berlalu. Pak Danu akhirnya datang dengan kabar penting.
"Bu Alana, saya sudah menemukan buktinya," kata Pak Danu, meletakkan beberapa lembar dokumen di meja. "Uang itu memang digunakan untuk membeli sebuah vila mewah di Bali, atas nama sebuah yayasan amal fiktif yang dikelola oleh kerabat jauh Risa. Kami juga menemukan beberapa transfer lain yang menunjukkan Kenzo membiayai gaya hidup Risa secara signifikan, jauh di atas kemampuan Risa sendiri."
Jantung Alana berdegup kencang. "Yayasan amal fiktif?"
"Ya. Ini adalah skema yang cukup rumit untuk menyamarkan aset. Kenzo jelas berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak langsung atas namanya atau nama Risa. Tapi kami berhasil melacaknya," jelas Pak Danu. "Ini adalah bukti penggelapan aset yang kuat, Bu Alana. Kita bisa mengajukan tuntutan pidana selain gugatan cerai."
Mendengar kata "pidana" membuat Alana terkesiap. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Namun, rasa sakit yang Kenzo dan Risa torehkan kembali melandanya. Penggelapan aset, di saat ia dan anak-anaknya berhak atas bagian dari kekayaan itu. Ini bukan hanya perselingkuhan, ini adalah kejahatan.
"Baik, Pak Danu. Saya akan menyerahkan sepenuhnya pada Anda dan Bima," kata Alana, suaranya mantap. "Lanjutkan semua ini."
Fase pertama, pengumpulan bukti intensif, telah selesai. Alana kini memiliki tumpukan bukti yang tak terbantahkan: foto dan video perselingkuhan, riwayat komunikasi mesra, bukti transfer uang besar dan pembelian aset atas nama Risa yang disamarkan, serta skema penggelapan aset yang melibatkan vila di Bali. Ia bahkan memiliki bukti bahwa Kenzo berencana "meninggalkan semuanya" bersamanya dan Risa.
Alana melihat tumpukan dokumen dan flash drive di mejanya. Di luar, Kenzo baru saja pulang, suaranya terdengar ceria menyapa Arya dan Luna. Kontras yang menyakitkan.
Ia tahu, pertempuran sebenarnya baru akan dimulai. Fase berikutnya, Pengamanan Aset dan Keruntuhan Reputasi, akan menjadi langkah yang lebih berisiko dan lebih terbuka. Ia harus siap menghadapi reaksi Kenzo yang mungkin akan sangat agresif. Namun, Alana tidak takut.
Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Kenzo dan Risa saat kebenaran terungkap. Rasa sakit yang pernah ia rasakan, kini perlahan berubah menjadi kekuatan. Kekuatan untuk melawan, untuk memperjuangkan haknya dan hak anak-anaknya.
"Kalian pikir bisa lolos begitu saja?" bisik Alana pada kehampaan ruangan. "Kalian salah besar. Simfoni pengkhianatan ini akan berakhir dengan lagu kehancuran kalian."
Alana membuka matanya. Ada kilatan dingin di sana. Persiapannya sudah matang. Kini saatnya ia melepaskan harimau yang selama ini tersembunyi di balik topeng istri yang patuh. Permainan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Matahari pagi di Jakarta menyinari gedung-gedung pencakar langit, memantulkan cahaya keemasan yang seolah menertawakan gejolak di hati Alana. Sudah seminggu sejak Pak Danu mengkonfirmasi bukti penggelapan aset yang dilakukan Kenzo. Bukti-bukti yang kini menumpuk di meja kerja Alana, tersimpan rapi dalam folder-folder berlabel kode, adalah senjata andalannya. Topeng istri yang bahagia masih harus ia kenakan, namun kini, ada aura dingin yang menyelubungi dirinya. Ia seperti ratu catur yang siap mengorbankan pion untuk memenangkan pertandingan.
Pagi itu, Kenzo bersiap-siap untuk pergi ke kantor. "Aku ada pertemuan penting hari ini, Sayang. Mungkin pulang sedikit terlambat," ujarnya sambil melonggarkan dasinya.
Alana hanya tersenyum tipis. "Hati-hati di jalan, Mas."
Di benaknya, Alana berpikir, Pertemuan penting? Atau pertemuan rahasia dengan Risa di apartemen itu? Rasa muak itu kembali, namun ia menelannya mentah-mentah. Sebentar lagi, Kenzo akan tahu arti sebenarnya dari "pertemuan penting."
Setelah Kenzo berangkat, Alana segera menghubungi Bima. "Bim, aku siap. Kita mulai langkah hukum hari ini."
Bima mengkonfirmasi pertemuan mereka di kantornya pada siang hari. Alana datang dengan semua bukti, sebuah flash drive yang berisi foto dan video, serta laporan keuangan dari Pak Danu. Meja kerja Bima dipenuhi tumpukan berkas.
"Baik, Alana. Kita akan memulai dengan mengajukan gugatan cerai secara resmi dengan dasar perselingkuhan dan penggelapan aset," jelas Bima, suaranya tenang namun tegas. "Kita juga akan mengajukan permohonan sita jaminan atas beberapa aset Kenzo, terutama properti yang terkait dengan Risa, dan mengajukan pemblokiran rekening. Ini untuk mencegah Kenzo mengalihkan aset-asetnya sebelum putusan pengadilan."
Alana mengangguk. "Itu yang aku inginkan. Aku tidak mau dia bisa lepas tangan dengan mudah."
"Proses ini akan memerlukan waktu, Alana. Mungkin akan menjadi kasus yang panjang dan melelahkan, terutama karena Kenzo pasti akan melawan," kata Bima mengingatkan. "Tapi kita punya bukti yang kuat. Dan untuk hak asuh anak, dengan bukti penggelapan aset dan perselingkuhan, posisimu sangat diuntungkan. Kita akan berargumen bahwa Kenzo tidak layak menjadi contoh bagi Arya dan Luna."
Hati Alana berdesir mendengar nama anak-anaknya. Demi mereka, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mengajukan permohonan sita jaminan secara rahasia ke pengadilan. Bima bekerja sama dengan beberapa rekanannya untuk memastikan proses ini berjalan cepat dan tanpa tercium oleh pihak Kenzo. Jika berhasil, aset-aset Kenzo akan dibekukan, termasuk apartemen yang menjadi "sarang" mereka dan rekening-rekening yang mencurigakan. Ini akan menjadi pukulan telak bagi Kenzo, terutama secara finansial.
"Kita akan menyerahkan surat panggilan dan gugatan cerai ke Kenzo besok pagi," kata Bima. "Itu akan menjadi kejutan besar baginya."
Alana tersenyum kecut. "Bagus. Biarkan dia merasakan kejutan yang setimpal."
Sementara proses hukum berjalan di balik layar, Alana juga mulai memikirkan Fase 3: Keruntuhan Reputasi. Ia ingin Kenzo tidak hanya menderita secara finansial dan hukum, tetapi juga secara sosial. Reputasi adalah segalanya bagi Kenzo, seorang arsitek ternama dengan citra profesional yang sangat dijaga.
"Bim, bagaimana cara membocorkan informasi ini tanpa terlihat seperti aku yang melakukannya?" tanya Alana. "Aku ingin reputasinya hancur, tapi aku tidak mau terlihat seperti wanita gila yang balas dendam."
Bima mengangguk, memahami kekhawatiran Alana. "Kita tidak akan melakukannya secara langsung, Alana. Ada banyak cara untuk menyampaikan informasi ke media tanpa nama kita tercantum di sana. Kita bisa memanfaatkan akun-akun anonim di media sosial, atau mengirimkan tip kepada wartawan-wartawan gosip yang sering mencari berita sensasional."
Alana memikirkan Risa. "Dan Risa. Aku ingin dia juga ikut merasakannya."
"Tentu saja. Peran Risa sebagai orang ketiga, ditambah dengan keterlibatannya dalam penggelapan aset, akan menjadi bahan bakar yang sempurna untuk media," kata Bima. "Kita akan menyoroti bagaimana seorang adik tiri bisa begitu tega merusak rumah tangga kakaknya sendiri."
Alana pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ada ketegangan yang mencekam, namun juga secercah kepuasan. Roda telah berputar. Pertempuran sudah di ambang pintu.
Keesokan paginya, ketika Kenzo sedang sarapan, ia mendengar suara ketukan di pintu. Alana sengaja meminta asisten rumah tangga untuk membuka pintu. Dua orang pria berjas rapi berdiri di ambang pintu, membawa sebuah amplop besar.
"Selamat pagi, Bapak Kenzo Adiputra?" tanya salah satu pria.
Kenzo mengernyitkan dahi. "Ya, saya sendiri."
"Kami dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Ini surat panggilan dan gugatan cerai dari istri Anda, Ibu Alana Putri."
Kenzo terdiam, wajahnya mendadak pucat pasi. Tangannya gemetar saat menerima amplop itu. Ia melirik Alana, matanya dipenuhi keterkejutan, kebingungan, dan kemudian kemarahan.
Alana menatapnya dengan tatapan datar, tanpa ekspresi. Ia tidak memberikan reaksi apa pun. Ia hanya menyesap kopinya, seolah tidak ada yang terjadi.
"Apa-apaan ini, Alana?!" Kenzo berteriak, suaranya menggelegar di ruang makan. Ia melemparkan amplop itu ke meja. "Apa maksud semua ini?"
Arya dan Luna yang sedang asyik bermain di ruang keluarga terdiam, menatap bingung ke arah orang tua mereka.
"Mas, jaga volume suaramu. Ada anak-anak," kata Alana dingin.
"Anak-anak?! Kamu pikirkan anak-anak saat melakukan ini?!" Kenzo menunjuk ke arah amplop gugatan cerai. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Mas," jawab Alana, suaranya tenang namun menusuk. "Setelah semua pengkhianatanmu, apa lagi yang Mas harapkan dariku?"
Wajah Kenzo memerah. "Pengkhianatan apa?! Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan!"
Alana tersenyum sinis. "Oh ya? Jadi, foto-foto dan video Mas dengan Risa itu apa? Transferan uang puluhan juta ke rekeningnya, pembelian vila di Bali atas nama yayasan fiktif yang dikelola keluarganya, itu semua apa, Mas?"
Kenzo terdiam, rahangnya mengeras. Matanya membelalak, menyadari bahwa Alana sudah tahu semuanya. Rasa terkejut bercampur rasa takut kini jelas terlihat di wajahnya.
"Bagaimana kamu-"
"Bagaimana aku tahu? Mas pikir aku bodoh? Aku buta? Aku selama ini percaya pada Mas, menutupi semua kebohongan Mas, tapi ternyata Mas dan adik tiriku sendiri menertawakanku di belakang punggungku!" suara Alana sedikit meninggi, namun ia segera menurunkannya lagi, teringat anak-anak.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Alana!" Kenzo mencoba membela diri, namun suaranya terdengar goyah. "Ada salah paham!"
"Salah paham? Villa di Bali itu juga salah paham? Rencana kalian meninggalkan aku dan anak-anak juga salah paham?" Alana menatapnya tajam. "Jangan menghina kecerdasanku, Mas. Aku punya semua buktinya."
Kenzo terdiam, tak bisa berkata-kata. Ia tahu Alana tidak main-main. Matanya memancarkan kemarahan, namun juga rasa putus asa.
Setelah pertengkaran singkat itu, Kenzo segera menelepon Bima, lalu pengacaranya sendiri. Suasana di rumah menjadi sangat tegang. Kenzo mengurung diri di ruang kerjanya, menelepon sana-sini dengan suara marah. Alana hanya fokus pada anak-anak, mengalihkan perhatian mereka dari ketegangan yang terjadi.
Dalam beberapa hari berikutnya, berita tentang gugatan cerai Alana terhadap Kenzo mulai menyebar di lingkungan mereka. Beberapa teman dan kerabat mulai menelepon Alana, menyatakan simpati, namun juga penasaran. Alana hanya menjawab singkat, "Biarkan proses hukum berjalan."
Sementara itu, Bima dan timnya bergerak cepat. Permohonan sita jaminan atas aset-aset Kenzo yang mencurigakan diajukan dan berhasil dikabulkan oleh pengadilan. Rekening-rekening yang terkait dengan Risa dibekukan, termasuk aset vila di Bali yang Kenzo coba samarkan. Ini adalah pukulan finansial pertama yang telak bagi Kenzo.
Kenzo tentu saja panik. Ia menghubungi Alana, memohon-mohon, mencoba merayu, bahkan mengancam.
"Alana, apa yang kamu lakukan?! Hidupku hancur jika ini terus berlanjut! Bisnisku akan runtuh!" teriak Kenzo di telepon.
"Itu yang pantas Mas dapatkan," jawab Alana dingin. "Mas menghancurkan hidupku, jadi wajar jika hidup Mas juga ikut hancur."
"Pikirkan anak-anak! Apa yang akan mereka katakan jika tahu ayah mereka bangkrut?!"
"Mereka akan bangga karena ibunya tidak membiarkan dirinya diinjak-injak," balas Alana tegas. "Dan Mas, percayalah, aku akan pastikan mereka tidak kekurangan apa pun. Termasuk biaya hidup setelah perceraian ini."
Kenzo semakin marah, namun Alana sudah tidak peduli. Hatinya sudah kebal.
Setelah sita jaminan berhasil, Alana dan Bima memulai fase selanjutnya: menyebarkan informasi ke publik secara strategis. Alana mengirimkan beberapa bukti kunci – foto dan video perselingkuhan Kenzo dan Risa, serta sebagian laporan keuangan yang menunjukkan penggelapan aset – ke beberapa akun gosip selebriti anonim di Instagram dan Twitter. Ia juga mengirimkan tip anonim ke beberapa wartawan gosip yang memang dikenal sering meliput skandal keluarga kaya.
"Jangan sebut namaku atau nama Alana," pesan Bima kepada salah satu wartawan yang dihubunginya. "Cukup beritakan fakta-fakta yang ada, dan biarkan publik menilai sendiri."
Dalam waktu singkat, berita itu meledak.
"Skandal Perselingkuhan Arsitek Ternama Kenzo Adiputra dengan Adik Iparnya Sendiri Terbongkar!"
"Penggelapan Aset Senilai Milyaran Rupiah Terindikasi dalam Kasus Perceraian Arsitek Kenzo Adiputra!"
Judul-judul berita sensasional memenuhi lini masa media sosial dan halaman-halaman utama portal berita online. Foto-foto Kenzo dan Risa yang sedang berlibur, atau sedang mesra di apartemen, tersebar luas. Laporan singkat tentang transfer uang dan pembelian vila fiktif juga menjadi sorotan.
Netizen riuh rendah. Ada yang mengecam Kenzo, ada yang menghujat Risa, ada juga yang bersimpati pada Alana. Citra Kenzo sebagai arsitek berintegritas dan profesional hancur dalam semalam. Proyek-proyek besar yang sedang ditangani Kenzo mulai dibatalkan. Klien-kliennya menarik diri, tidak ingin terlibat dalam skandal yang bisa merusak reputasi mereka juga. Saham perusahaannya anjlok.
Risa juga tidak luput. Nama dan wajahnya tersebar luas, dicap sebagai pelakor, perusak rumah tangga kakaknya sendiri. Reputasinya sebagai desainer interior junior juga hancur. Firma tempatnya bekerja segera memecatnya untuk menghindari dampak buruk dari skandal tersebut. Risa yang biasanya aktif di media sosial, kini menghilang total.
Alana menyaksikan semua itu dari balik layar ponselnya, dengan perasaan yang aneh. Tidak ada euforia kemenangan, hanya kepuasan yang dingin. Ia melihat bagaimana Kenzo dan Risa, yang dulunya begitu percaya diri dan sombong, kini terpojok, dikecam oleh publik. Itu adalah balasan yang setimpal.
Kenzo semakin panik. Ia mencoba menghubungi Alana berkali-kali, namun Alana menolak mengangkat panggilannya. Ia bahkan datang ke rumah Alana, mencoba menerobos masuk, namun Alana sudah menyuruh satpam untuk melarang Kenzo masuk tanpa izin.
"Alana, kumohon! Berhenti! Kamu menghancurkan hidupku!" teriak Kenzo dari luar gerbang rumah, suaranya serak.
Alana hanya diam di balik jendela, membiarkan Kenzo berteriak sampai lelah.
Risa juga mencoba menghubungi Alana, bahkan datang ke rumah orang tua Alana, memohon maaf dan meminta belas kasihan.
"Kak Alana, aku minta maaf! Aku menyesal! Aku tidak tahu harus ke mana lagi," Risa terisak-isak di telepon.
"Penyesalanmu tidak akan mengembalikan kepercayaanku, Risa," jawab Alana dingin. "Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai. Nikmati saja hasilnya."
Risa terus memohon, mengatakan bahwa ia dipecat, tidak punya uang, dan tidak ada yang mau membantunya. Alana hanya tersenyum getir. Itu adalah bagian dari rencananya. Ia ingin Risa merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, persis seperti ia kehilangan kepercayaan dan kebahagiaannya.
Meskipun Kenzo dan Risa kini terpojok, Alana tahu ia tidak boleh lengah. Bima mengingatkannya bahwa proses hukum masih panjang. Kenzo pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan, mencoba menyelamatkan apa pun yang tersisa.
Sidang perdana gugatan cerai mereka dijadwalkan sebulan kemudian. Selama masa tunggu itu, Alana mulai mempersiapkan dirinya secara mental. Ia juga mulai mengamankan masa depannya sendiri. Ia menghubungi seorang penasihat keuangan untuk mengatur ulang investasinya, dan mencari tahu cara terbaik untuk mengelola aset-aset yang kelak akan menjadi haknya.
Alana juga mulai kembali fokus pada dirinya sendiri. Ia kembali menekuni hobinya yang sempat terbengkalai, melukis. Melalui sapuan kuas di atas kanvas, ia melampiaskan segala emosi yang tertahan. Warna-warna gelap mendominasi, mencerminkan gejolak di hatinya, namun perlahan, warna-warna cerah mulai muncul, melambangkan harapan dan kekuatan yang baru.
Arya dan Luna adalah sumber kekuatannya yang tak terbatas. Alana menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka, membaca buku cerita, bermain bersama, dan memastikan mereka tetap bahagia di tengah badai yang melanda keluarga mereka. Ia tidak ingin mereka terpengaruh oleh drama orang dewasa.
Suatu malam, Alana sedang mengamati Arya yang tertidur pulas, memeluk erat boneka astronotnya. Wajah polos itu mengingatkannya pada janji yang ia buat. Janji untuk melindungi mereka, untuk memastikan mereka tidak menderita.
"Mama akan lakukan apa pun, Nak," bisiknya. "Apa pun."
Kenzo akhirnya mengajukan perlawanan di pengadilan, menyewa pengacara terbaik untuk membela dirinya. Ia mencoba menyangkal semua bukti, mengklaim bahwa foto dan video itu diedit, dan transfer uang itu adalah "pinjaman bisnis" untuk Risa. Ia bahkan mencoba memutarbalikkan fakta, menuduh Alana gila dan cemburu berlebihan.
Namun, Bima dan Pak Danu sudah siap dengan semua argumen balasan. Laporan forensik keuangan yang detail, kesaksian dari beberapa pihak yang mengetahui hubungan Kenzo dan Risa, dan analisis pakar tentang keaslian foto dan video, semua disiapkan untuk membungkam Kenzo.
Berita tentang persidangan mereka terus menjadi sorotan media. Setiap detail kecil tentang perselingkuhan dan penggelapan aset Kenzo diulas habis-habisan. Tekanan publik semakin menekan Kenzo. Klien-kliennya semakin menjauh, dan ia kehilangan sebagian besar kekayaan yang telah ia kumpulkan.
Suatu hari, Risa mencoba menemui Alana lagi. Kali ini ia datang dengan penampilan yang berantakan, wajahnya pucat dan matanya bengkak. Ia tidak lagi terlihat seperti Risa yang modis dan penuh percaya diri. Ia terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya.
"Kak Alana, tolong aku," isak Risa. "Aku tidak punya apa-apa lagi. Kenzo tidak mau membantuku. Dia marah padaku. Aku diusir dari apartemen."
Alana menatap Risa dengan tatapan dingin. "Sekarang kamu tahu rasanya kehilangan segalanya, Risa?"
Risa mengangguk, terisak-isak. "Aku sangat menyesal, Kak. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku."
"Penyesalanmu terlambat, Risa," kata Alana. "Aku sudah melewati batas kesabaranku. Sekarang, kamu harus menghadapi konsekuensinya."
Alana kemudian menutup pintu, meninggalkan Risa yang masih terisak di luar. Ia tidak merasakan sedikit pun belas kasihan. Hatinya sudah mengeras.
Beberapa minggu kemudian, tibalah hari putusan pengadilan. Ruang sidang dipenuhi oleh awak media dan beberapa kenalan. Alana datang dengan Bima, tampil tenang dan anggun. Kenzo datang dengan pengacaranya, wajahnya terlihat lelah dan penuh tekanan. Risa tidak hadir.
Hakim membacakan putusan.
"Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan oleh penggugat, Pengadilan Agama Jakarta Selatan memutuskan: Mengabulkan gugatan cerai penggugat, Ibu Alana Putri, terhadap tergugat, Bapak Kenzo Adiputra. Hak asuh anak, Arya Adiputra dan Luna Adiputra, sepenuhnya jatuh kepada Ibu Alana Putri. Tergugat wajib memberikan nafkah iddah dan nafkah anak setiap bulannya, serta pembagian harta gono-gini dengan persentase 70% untuk penggugat dan 30% untuk tergugat, mengingat adanya bukti penggelapan aset yang dilakukan tergugat."
Guguran palu hakim terdengar keras, mengakhiri babak ini. Alana merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. Ia tidak berteriak kegirangan, tidak pula menangis bahagia. Hanya ada rasa lega yang mendalam. Ia telah memenangkan pertempuran.
Kenzo tampak terpukul. Wajahnya semakin pucat, seolah baru saja dihantam palu godam. Ia menatap Alana dengan tatapan tidak percaya, dan juga kebencian. Namun, Alana tidak peduli. Kebenciannya tidak akan lagi menyentuhnya.
Di luar gedung pengadilan, wartawan segera menyerbu Alana.
"Bagaimana perasaan Anda, Ibu Alana?"
"Apakah Anda puas dengan putusan ini?"
Alana menatap kamera dengan tatapan tenang. "Saya bersyukur proses hukum berjalan adil. Ini adalah pelajaran bagi siapa pun yang berani mengkhianati kepercayaan dan menghancurkan rumah tangga."
Alana kemudian berjalan pergi, meninggalkan kerumunan wartawan yang masih sibuk mewawancarai Bima dan pengacara Kenzo. Ia tidak lagi melihat ke belakang. Ia telah menutup satu babak dalam hidupnya.
Hidup Alana memang tidak akan pernah sama lagi. Bekas luka pengkhianatan itu akan selalu ada. Namun, ia telah membuktikan pada dirinya sendiri, dan pada dunia, bahwa ia adalah wanita yang kuat. Ia tidak menyerah pada penderitaan, melainkan bangkit dan berjuang.
Kini, fokus Alana sepenuhnya adalah Arya dan Luna. Ia akan membangun kembali kehidupannya bersama mereka, menciptakan masa depan yang lebih baik, jauh dari bayang-bayang pengkhianatan dan kehancuran. Ia akan memastikan bahwa dari retakan cermin kehidupannya, akan tumbuh kembali taman bunga yang lebih indah dan kuat dari sebelumnya.