Bab 1

Aura menatap koper merah mudanya yang tergeletak mengenaskan di aspal panas. Pakaian-pakaian dalam, sehelai dress payet, dan beberapa buku kuliahnya tampak sedikit mengintip dari celah ritsleting yang terbuka sebagian-semua barang berharganya kini menjadi tontonan gratis bagi pejalan kaki yang lewat. Ia mengepalkan tangan, kuku-kuku jarinya yang dicat perak menusuk telapak tangan. Rasa panas yang membakar kulitnya tidak seberapa dibandingkan bara api amarah yang menyala di dadanya.

Lima bulan. Hanya lima bulan tunggakan sewa.

"Dasar tidak tahu diri! Sudah untung kamu saya biarkan tinggal selama ini, malah enak-enakan tidak bayar! Mau jadi gelandangan, hah?!" Suara melengking Bu Rini, si pemilik kos, menusuk gendang telinga Aura, membuat beberapa tetangga kos lain menutup pintu mereka dengan cepat, tidak ingin terlibat.

Bu Rini, dengan daster batik yang selalu terlihat basah oleh keringat dan raut wajah yang selalu siap mencaci, berdiri di ambang pintu kamar Aura yang terbuka lebar. Tangan kanannya masih memegang sisa tumpukan barang Aura yang baru saja ia lempar keluar. Rambutnya yang diikat seadanya terlihat berantakan, dan wajahnya memerah karena emosi yang memuncak.

"Lima bulan itu bukan 'hanya,' Aura! Lima bulan itu setengah tahun! Kamu pikir saya ini panti asuhan? Saya juga punya tagihan! Kamu pikir uang sewa itu tumbuh di pohon? Kamu ini cantik, punya pekerjaan, harusnya punya tanggung jawab!"

Aura merasakan matanya memanas, tetapi ia menahan air mata itu dengan sekuat tenaga. Menangis di depan Bu Rini hanya akan memberinya kepuasan. Ia mendongakkan dagunya, menampilkan leher jenjang dan garis rahang yang keras. Tubuhnya saat ini dibalut oleh dress pendek berwarna hitam berbahan licin. Kain itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, mempertegas bentuk dadanya yang montok dan memamerkan kakinya yang panjang. Ia tahu penampilannya sering memancing pandangan mata, dan pada saat ini, ia menggunakannya sebagai perisai, sebagai pengalih perhatian dari rasa malunya.

"Saya bilang saya akan bayar minggu depan setelah dapat jadwal manggung yang pasti!" jawab Aura, suaranya sedikit bergetar, tetapi ia berusaha keras membuatnya terdengar tajam. "Tidakkah Ibu bisa bersabar sedikit saja? Saya bukan lari! Kenapa harus mengusir seperti ini? Mempermalukan saya!"

"Bersabar katamu? Kamu bilang begitu sejak bulan kedua! Tidak ada lagi tawar-menawar! Pergi! Kalau berani kembali ke sini, saya panggil polisi!" Bu Rini menyentakkan tangannya ke udara, lalu membanting pintu kamarnya, mengunci diri di dalamnya, seolah Aura adalah wabah penyakit.

Aura berdiri diam selama beberapa detik, membiarkan kemarahan dan keputusasaan merambat di sekujur tubuhnya. Ia adalah Aura. Siapa pun yang melihatnya akan melihat seorang wanita muda yang menawan, yang pandai membawa diri, yang setiap malam berdiri di atas panggung menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan suara merdu dan goyangan yang enerjik. Ia bekerja keras-penyanyi dangdut di klub malam adalah pekerjaan utama yang menghasilkan banyak uang, sementara di pagi hari ia tetap berusaha mengambil pekerjaan serabutan atau sesekali menjadi model iklan produk lokal untuk menutupi biaya kuliahnya yang mahal di jurusan komunikasi.

Namun, semua uang itu seolah menguap. Biaya kuliah yang mendadak naik, tagihan yang tak terduga, dan kebutuhannya sehari-hari yang cukup tinggi sebagai anak rantau yang sendirian di kota besar. Gaji manggungnya baru cair akhir bulan, dan ia sudah kehabisan napas. Sekarang, ia resmi tidak punya tempat tinggal.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengambil kopernya. Gagangnya terasa panas di telapak tangannya. Ia menyeretnya, menyuarakan gesekan roda pada aspal kasar, suara yang terasa seperti irama langkah menuju kehancuran. Ia sudah tidak punya orang tua; mereka meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu. Di kota ini, satu-satunya tempat yang tersisa, satu-satunya tempat yang bisa memberinya perlindungan, adalah rumah kakaknya.

Kakakku, Maya. Jauh di lubuk hati, Aura merasa malu. Ia sudah berjanji tidak akan pernah merepotkan Maya, yang hidupnya sudah mapan dan tenang. Tapi saat ini, itu adalah satu-satunya jalan.

Perjalanan dari kosnya yang kumuh di pinggiran kota ke rumah kakaknya di kawasan perumahan elit terasa seperti perjalanan ke dimensi lain. Taksi yang ia tumpangi melaju membelah jalanan yang semakin bersih dan sepi. Ketika taksi itu berhenti di depan gerbang hitam tinggi, Aura merasa gugup.

Rumah itu besar. Bukan sekadar besar, tetapi megah, dengan desain minimalis modern yang elegan, dikelilingi taman yang terawat indah. Rumah itu memancarkan aura ketenangan dan kekayaan yang mutlak. Aura menarik napas, merapikan sedikit dress-nya yang mungkin sudah kusut dan membetulkan tatanan rambutnya. Ia menyentuh tombol interkom.

Gerbang terbuka, dan Aura menyeret kopernya melintasi halaman berbatu. Ketika ia berdiri di depan pintu utama yang tinggi, ia mengetuk.

Pintu terbuka, dan di sana berdiri Maya, kakaknya. Wajahnya yang cantik dan teduh menunjukkan sedikit keterkejutan, tetapi senyum hangat langsung mengembang. Maya selalu terlihat rapi, bahkan di rumah, dengan blouse santai dan celana panjang linen.

"Aura? Ya ampun, ada apa? Kenapa bawa koper besar?" tanya Maya, matanya menelisik ke arah koper merah muda di samping Aura.

Aura merasakan sedikit sesak di tenggorokannya. Ia memeluk kakaknya erat-erat, mencari kehangatan yang sudah lama ia rindukan. "Aku... aku diusir dari kos, Kak. Aku enggak bisa bayar lima bulan."

Maya menghela napas panjang, bukan karena marah, melainkan karena kesedihan yang tulus. Ia melepaskan pelukan itu, memegang wajah adiknya dengan kedua tangan. "Ya Tuhan, Aura. Kenapa enggak bilang dari dulu? Kenapa kamu selalu menanggung semuanya sendiri?"

"Aku enggak mau merepotkan," bisik Aura.

"Kamu adikku, kamu enggak pernah merepotkan. Ayo masuk, ayo masuk." Maya menarik tangan Aura dan kopernya, membawanya masuk ke dalam rumah.

Aura melangkah masuk, matanya langsung terperanjat. Interior rumah itu bahkan lebih mewah dari yang ia bayangkan. Semua perabotan dipilih dengan selera tinggi, menciptakan suasana yang sekaligus berkelas dan nyaman.

"Duduk dulu, aku ambilkan minum," kata Maya, dan Aura duduk di sofa kulit yang empuk di ruang tamu.

Tak lama kemudian, Maya kembali, tetapi ia tidak sendirian. Di belakangnya, berdiri seorang pria.

Inilah suami kakaknya.

Napas Aura tertahan di paru-parunya. Ia pernah melihat pria itu di foto-foto, tetapi berhadapan langsung dengannya adalah pengalaman yang sangat berbeda.

Pria itu tinggi menjulang. Ia mengenakan kaus polo berwarna gelap yang memeluk bahunya yang lebar dan lengan yang berotot. Ia memiliki postur tubuh atletis yang luar biasa. Wajahnya-ya ampun-wajahnya sungguh tampan. Rahang tegas, hidung mancung, dan mata hitam pekat yang tajam dan dingin. Ia memancarkan aura kekuasaan dan kepercayaan diri yang hampir menakutkan.

"Sayang, kenalkan, ini adikku, Aura. Aura, ini Baskara, suamiku," ujar Maya dengan lembut.

Aura berdiri, mengulurkan tangan. "Aura," katanya, suaranya sedikit lebih parau dari biasanya. Ia merasa terpesona. Pria ini adalah definisi dari kesempurnaan seorang pria.

Baskara menyambut tangannya, cengkeramannya kuat dan hangat, tetapi matanya tetap datar, hampir tidak menunjukkan emosi apa pun. "Baskara."

Maya segera memecah keheningan yang sedikit canggung itu. "Baskara, tolong dengarkan sebentar. Aura diusir dari kosnya karena tunggakan. Dia sudah tidak punya tempat tinggal. Aku sudah bilang dia bisa tinggal di sini, setidaknya sampai dia stabil dan bisa mencari kos baru. Apa kamu keberatan?"

Aura menahan napas, menatap wajah Baskara. Keputusannya adalah kunci. Ia adalah pemilik dari segalanya di rumah ini.

Mata Baskara yang dingin beralih dari Aura ke Maya, lalu kembali ke Aura. Ia hanya berdeham sekali. "Terserah kamu, Sayang. Rumah ini cukup besar. Tapi dia harus tahu batasannya."

Rasa lega membanjiri hati Aura. "Terima kasih, Mas Baskara. Saya janji tidak akan merepotkan."

Baskara tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, lalu berbalik, berjalan menuju ruang lain. Kehadirannya menghilang, tetapi aura dinginnya seolah masih tertinggal di ruangan itu.

"Syukurlah," desah Maya. "Aku harus berterima kasih padamu nanti."

"Dia memang begitu, Aura. Datar dan dingin, tapi hatinya baik. Jangan diambil hati."

Maya kemudian membawa Aura ke sebuah kamar tamu di lantai bawah yang indah dan nyaman. Setelah Aura meletakkan kopernya, Maya mengajaknya ke ruang keluarga.

Di karpet berbulu tebal, seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun sedang asyik dengan tumpukan balok mainan. Ini Kian, anak tunggal Maya dan Baskara. Kian mendongak, matanya yang besar dan cerdas langsung bersinar begitu melihat Aura.

"Tante Aura!" Kian berteriak, berlari dan memeluk kaki Aura.

Aura membungkuk, memeluk keponakannya erat-erat. Ia dan Kian memang sangat akrab.

"Wah, sudah besar, ya, jagoan Tante!" Aura tertawa, mencubit pipi Kian.

"Aura, dengarkan aku," kata Maya, suaranya kembali serius. "Aku baru saja dapat panggilan darurat dari rumah sakit. Ada operasi mendadak. Aku harus segera pergi."

Aura mengernyit. "Sekarang? Kenapa mendadak?"

"Begitulah pekerjaan dokter. Aku harus pergi. Karena kamu ada di sini, aku ingin minta tolong." Maya memegang tangan Aura dengan tatapan penuh permohonan. "Tolong jaga Kian selama aku pergi, ya? Sampai sore. Baskara sibuk, dia ada rapat penting di kantornya."

Aura mengangguk cepat. "Tentu, Kak. Aku akan jaga dia. Enggak usah khawatir."

Setelah memberikan beberapa instruksi cepat tentang jadwal makan dan tidur siang Kian, Maya bergegas pergi. Ia adalah dokter bedah ternama dan sibuk, tetapi kesibukan itu sepadan dengan kehidupan yang ia jalani: suami tampan dan kaya raya, rumah mewah, pekerjaan bergengsi.

Aura memperhatikan Maya yang pergi dengan tergesa-gesa. Perasaan iri yang tajam menusuknya. Di satu sisi, ia mencintai kakaknya, tetapi di sisi lain, ia tidak bisa menahan rasa cemburu yang menggerogoti. Kenapa hidup Maya begitu sempurna? Semua yang Maya inginkan, ia dapatkan. Suaminya memiliki banyak perusahaan terkenal dan sangat sukses. Sementara Aura? Berjuang mati-matian, mempertaruhkan masa depan demi kuliah, dan berakhir diusir dari kos dengan status sebagai penyanyi dangdut yang dipandang sebelah mata.

Ia mendesah. Sekarang, ia adalah pengemis yang harus tinggal menumpang.

Aura kembali ke ruang keluarga. Hanya ada dia, Kian, dan... Baskara.

Suami kakaknya itu tidak jadi pergi. Ia duduk di salah satu kursi di sudut ruangan, di depan sebuah meja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen. Ia memakai kacamata baca, dan jari-jarinya yang panjang sedang memegang pulpen, menandatangani beberapa kertas dengan ekspresi yang begitu serius dan intens.

Aura menatapnya. Pria itu tampak begitu sibuk dan dingin. Datar dan dingin-seperti patung marmer yang sempurna. Ia bahkan tidak mendongak sedikit pun sejak Maya pergi.

"Tante Aura, ayo kita main robot!" Kian menarik-narik ujung dress Aura.

Aura tersenyum, mengalihkan pandangannya dari Baskara. "Ayo, kita main!"

Mereka bermain di ruang keluarga. Kian, si anak cerdas itu, dengan cepat membuat Aura melupakan masalahnya. Mereka tertawa, membangun menara dari balok dan membuat suara-suara robot. Baskara masih di sudut, benar-benar mengabaikan mereka.

Sampai Kian tiba-tiba berteriak. "Ah! Aku lupa! Robot Optimus Prime yang baru ada di kamar atas! Aku mau main itu!"

"Robot yang mana, Sayang?"

"Yang di kamar mainan, di lantai atas, di atas lemari!" Kian menunjuk ke langit-langit.

Aura mengerutkan kening. "Di atas lemari?"

"Iya! Papa yang taruh di sana karena aku nakal! Tante, tolong ambilkan!" Kian memohon dengan mata berbinar.

Aura melihat ke arah Baskara. Pria itu seolah tidak mendengar apa-apa.

"Baiklah, Tante ambilkan," kata Aura, tidak ingin mengecewakan keponakannya. "Tapi Kian tunggu di sini, ya. Di ruang keluarga. Jangan kemana-mana."

Aura melangkah ke lantai atas. Kamar mainan itu luas dan cerah. Di salah satu sudut, berdiri lemari buku yang sangat tinggi. Kian benar, di atas lemari itu, di sudut paling tinggi yang nyaris menyentuh langit-langit, terselip sebuah kotak robot mainan.

"Tinggi sekali," gumam Aura.

Ia melihat sekeliling. Tidak ada tangga lipat. Yang ada hanya sebuah kursi kayu kecil di dekat meja belajar. Ini akan berbahaya, tetapi ia tidak mau Kian menangis.

Aura menyeret kursi itu ke dekat lemari. Ia menaikinya perlahan. Kursi itu memang kecil dan terasa sedikit goyah di bawah kakinya. Ia harus jinjit, ujung jarinya nyaris menyentuh kotak mainan itu.

Ia berusaha menjangkau lebih tinggi. Ia berpegangan pada tepi lemari, dan ketika ia mencoba meraih, kursi itu benar-benar bergoyang dan berderit keras. Keseimbangan Aura hilang.

Ia berteriak kecil saat tubuhnya limbung ke belakang. Ia tahu ia akan jatuh, mungkin terpelanting dan kepalanya terbentur.

Tetapi benturan itu tidak datang.

Sesuatu yang kuat, keras, dan hangat melingkari pinggang dan punggungnya.

Aura membuka mata. Ia terperanjat. Ia sudah berada dalam pelukan Baskara.

Pria itu entah sejak kapan sudah berada di sana, di kamar atas. Ekspresi datarnya sedikit retak, digantikan oleh kilasan kekhawatiran yang sangat cepat sebelum kembali ke ketenangan yang dingin. Ia pasti mendengar suara kursi yang berderit.

Jantung Aura berdebar kencang. Ia terperangkap dalam dekapan pria itu, tubuhnya yang montok menempel erat pada dada Baskara yang keras dan atletis. Aroma maskulin yang mewah dari parfumnya memenuhi indra penciuman Aura.

Mereka berdua saling berpandangan. Mata Baskara yang dingin dan tajam itu kini terkunci pada mata Aura. Keheningan mencekik ruangan. Di dalam keheningan itu, Aura tidak bisa lagi merasakan rasa iri atau malu, yang ada hanya gelombang ketegangan yang panas dan aneh.

Aura menatap bibir Baskara. Bibir yang terlihat kaku, tetapi tebal dan menggoda.

Tanpa berpikir, didorong oleh amarah, kekecewaan, dan hasrat yang tiba-tiba, Aura melakukan sesuatu yang bar-bar. Ia mendekatkan wajahnya, mendekati bibir pria itu.

Dan kemudian, ia menciumnya.

Awalnya, ciuman itu hanya sentuhan-sebuah tantangan impulsif. Tetapi kemudian, hal yang tidak terduga terjadi. Baskara, si pria patung es yang dingin itu, merespons.

Ia tidak mendorongnya. Sebaliknya, tangannya yang melingkari pinggang Aura menekan tubuhnya lebih erat. Tangan kirinya bergerak cepat ke belakang kepala Aura, menekan tengkuk lehernya, memaksa kepala Aura menengadah, dan memperdalam ciuman itu menjadi sesuatu yang panas, menuntut, dan penuh gairah yang terpendam.

Aura mengerang pelan, tenggelam dalam sensasi ciuman itu. Ia memeluk leher Baskara, membiarkan dirinya terseret dalam pusaran nafsu yang tiba-tiba meledak.

Tetapi seperti percikan api yang menyambar bensin, semuanya berhenti secepat ia dimulai.

Tiba-tiba, Baskara membeku. Kekuatan di tangannya lenyap. Pandangan di matanya yang sebelumnya gelap karena nafsu, kembali jernih, kembali dingin, kembali datar.

Ia tersadar.

Dengan gerakan yang cepat dan tanpa emosi, Baskara melepaskan genggamannya. Ia tidak mendorong Aura dengan lembut. Ia hanya melepaskan pegangannya, membiarkan tubuh Aura yang sedang lemas karena ciuman itu terjatuh ke lantai kayu yang keras.

Gedebuk!

Aura merasakan sakit di sikunya dan di hatinya. Ia mendongak, menatap Baskara yang kini berdiri di atasnya, merapikan pakaiannya seolah baru saja terkena noda.

"Jangan ulangi itu," kata Baskara, suaranya kembali sedatar dinding. Ia bahkan tidak menawarkan tangan untuk membantu Aura berdiri.

Aura merasa terhina, marah, dan sakit hati. Ia bangkit, wajahnya memerah karena emosi yang campur aduk.

"Egois!" teriak Aura, suaranya tajam. "Lelaki brengsek! Kamu yang duluan membalasnya! Kamu yang menciumku balik! Kamu yang tergoda! Lalu kamu membuangku seperti sampah!"

Baskara menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Itu bukan godaan. Itu hanya kesalahan yang cepat saya sadari. Kamu hanya adik ipar saya. Jangan pernah lupa batasanmu. Dan kamu," katanya, menunjuk pada Aura, "jangan bersikap murahan hanya karena kamu sedang putus asa."

"Bar-bar!" Aura berteriak lagi. Ia tidak peduli jika Kian mendengarnya, atau jika tetangga mendengar. "Kau hanya pria pengecut yang tidak bisa mengakui nafsunya sendiri!"

Baskara hanya mendengus. Ia mengambil kotak robot dari atas lemari dengan sekali jangkauan yang mudah, tanpa perlu kursi goyang.

"Aku mengizinkanmu tinggal di sini atas dasar kemanusiaan untuk istriku," kata Baskara. "Jika kamu berpikir kamu bisa menggunakan tubuhmu untuk mendapatkan keuntungan, kamu salah kamar, Aura. Dan sekarang, ambil ini. Lalu jaga keponakanmu. Ingat posisimu."

Ia menjatuhkan kotak robot itu di kaki Aura dan berbalik, melangkah keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun. Meninggalkan Aura sendirian di kamar mainan yang mewah, dikelilingi oleh keheningan yang mematikan, dengan rasa sakit di siku, dan luka yang menganga di harga dirinya. Aura mengepalkan tangan, menatap punggung pria itu yang menghilang.

Bab 2

Rasa sakit di siku Aura tidak sebanding dengan perihnya harga diri yang terkoyak. Ia berdiri kaku di ambang pintu kamar mainan, mematikan. Ia telah dipermalukan dua kali dalam satu hari: pertama oleh pemilik kos yang melemparkan barangnya, dan kedua oleh suami kakaknya yang mencampakkannya setelah menghayati ciuman yang ia berikan.

Ia mendengus, mengendalikan kemarahan yang membakar. Ia harus kembali ke bawah. Ia adalah orang dewasa yang harus bertanggung jawab menjaga keponakannya. Menyimpan dendam dan hasrat anehnya pada Baskara-pria yang baru saja ia cium dan caci maki-harus ia singkirkan untuk sementara.

Aura mengambil kotak robot Optimus Prime yang tergeletak di kakinya. Ia merapikan sedikit lipatan pada dress hitamnya, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan menuruni tangga. Ia memasang topeng senyum palsu untuk Kian.

"Tadaa! Lihat, Tante dapat mainanmu!" seru Aura ceria saat tiba di ruang keluarga.

Mata Kian langsung berbinar-binar, melupakan sejenak keterlambatan tantenya. "Yess! Terima kasih, Tante Aura! Tante memang jagoan!"

Aura meletakkan kotak itu di karpet berbulu. Kian segera merobek bungkusnya dengan antusiasme khas anak-anak, berteriak kegirangan saat melihat figur robot yang mengilap. Aura duduk di sebelahnya, menyandarkan punggungnya ke sofa.

Saat itulah ia menyadari ada sosok lain di ruangan itu. Baskara sudah berdiri, tidak lagi di meja kerjanya. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang begitu pas di tubuh atletisnya, membuat Aura terpaksa mengakui, meski dalam hati, betapa mempesonanya pria itu. Pria itu sudah berubah dari pekerja serius menjadi seorang CEO yang siap memimpin rapat. Aura merasakan hatinya berdesir, diikuti oleh gelombang kebencian yang langsung menenggelamkannya.

Baskara berjalan mendekati Kian. Ekspresinya masih datar, tetapi ada sedikit kelembutan yang muncul di sudut matanya ketika ia menatap putranya.

"Jagoan Papa," suara Baskara terdengar lebih rendah dari biasanya. Ia membungkuk sedikit, membuat dirinya sejajar dengan Kian. "Papa harus pergi sekarang. Ada rapat penting sampai malam."

Kian yang tadinya sangat fokus pada robot barunya, mendongak. Kebahagiaan di wajahnya meredup.

"Papa pergi lagi?" tanya Kian, nada suaranya terdengar merajuk.

Baskara mengangguk. Ia mengangkat tangan dan dengan lembut mencium kening Kian. Sentuhan itu sangat kontras dengan cara ia menjatuhkan Aura beberapa menit yang lalu.

"Iya, Sayang. Pekerjaan. Ada banyak hal yang harus Papa urus di kantor," jawab Baskara sabar. "Tapi nanti malam, Papa usahakan telepon Mama agar kamu bisa bercerita tentang robot barumu ini, ya?"

Kian mendorong robotnya ke karpet dengan sedikit kasar. "Papa sibuk terus. Mama juga sibuk terus. Kian mainnya sama Bi Inah atau Kak Wulan. Sekarang ada Tante Aura. Tapi Papa sama Mama enggak pernah main lama-lama sama Kian."

Pernyataan lugu Kian menusuk hati Aura, tetapi seolah tidak mempan pada Baskara. Pria itu hanya berdiri tegak kembali.

"Papa bekerja keras untuk masa depan Kian, Nak. Itu sama saja seperti bermain, hanya saja mainan Papa lebih besar," ujar Baskara, mencoba menjelaskan dengan cara yang rumit bagi anak seusia Kian. Ia melirik sekilas ke arah Aura. Tatapan itu cepat dan tanpa emosi, namun cukup untuk membuat Aura merasakan dinginnya penghakiman.

"Tante Aura, Papa dan Mama memang begitu. Selalu sibuk. Rumah ini besar, tapi Kian sering sendirian," bisik Kian pada Aura, seolah memberinya informasi rahasia.

"Maafkan Papa, Nak," kata Baskara, sedikit tertekan. Ia kemudian menoleh ke Aura, tatapannya kini berubah menjadi formal dan otoriter.

"Aura," panggilnya. Aura mendongak, merasakan perlawanan otomatis dalam dirinya. "Saya sudah meminta Bi Inah untuk menyiapkan makan siangmu dan Kian. Tugasmu adalah memastikan dia tidak rewel dan tidak keluar dari area rumah. Dan jangan ajari dia hal-hal yang tidak-tidak. Jaga sikapmu."

Kata-kata "jaga sikapmu" ditekankan, jelas merujuk pada insiden ciuman di lantai atas. Aura mengepalkan tangannya di balik punggung. Ia merasa wajahnya memanas karena amarah. Bagaimana mungkin pria ini bisa bersikap begitu egoistik dan munafik?

"Tentu saja, Mas Baskara," jawab Aura, dengan senyum manis yang dipaksakan dan suara yang begitu sopan hingga terdengar seperti ejekan. "Saya tahu batas-batas. Saya tahu posisi saya sebagai tamu di rumah ini."

Baskara menatapnya selama sedetik. Ada percikan tak terbaca di mata mereka, sebuah pertempuran sengit yang tersembunyi di balik kesantunan semu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Baskara berbalik dan melangkah keluar, derap sepatunya di lantai marmer menggema seolah menegaskan kekuasaannya. Pria itu menghilang di balik pintu utama, meninggalkan keheningan dan ketegangan yang kental.

Aura menghela napas panjang. Ia benci pria itu. Ia benci kehidupannya sendiri yang membuatnya harus menumpang dan menerima perlakuan seperti itu. Ia benci fakta bahwa suaminya Kakaknya itu sangat tampan dan memiliki uang tak terbatas, sementara ia harus berjuang mati-matian, menari di bawah sorot lampu redup, mengorbankan waktu kuliahnya demi uang sewa.

Perangkap Kehidupan Sempurna

Waktu berlalu. Ruangan mewah itu terasa seperti sangkar berlapis emas. Aura berusaha keras mengalihkan pikirannya dari Baskara dengan bermain bersama Kian. Mereka pindah ke area kolam renang indoor, bermain kapal-kapalan dengan mainan robot.

Aura mengamati Kian. Anak itu cerdas, lucu, dan sangat baik. Tapi Kian jelas kesepian. Ia merindukan orang tuanya. Kehidupan mewah ini, rumah besar ini, hanya terasa sebagai latar belakang yang indah untuk kesendiriannya.

"Rumah ini besar, tapi Kian sering sendirian."

Kata-kata Kian kembali terngiang. Aura memandang sekeliling. Rumah ini bukan sekadar rumah; ini adalah markas kekayaan dan kesuksesan yang diukir oleh Baskara. Di taman belakang terdapat gazebo bergaya Bali, di sampingnya ada lapangan basket kecil, dan kolam renang itu sendiri berukuran olimpiade.

Ini semakin memicu rasa iri yang mendalam di hati Aura. Kakaknya, Maya, mendapatkan segalanya tanpa perlu melewati jalan berbatu seperti dirinya. Maya tidak perlu menjual penampilannya di panggung yang remang-remang. Maya tidak perlu memikul beban kuliah dan biaya hidup sendirian.

Maya dan Baskara: pasangan yang sempurna, kaya raya, berpendidikan tinggi, dan mapan.

Aura merasa sangat kecil. Ia merasa dirinya hanyalah debu yang singgah, yang mungkin akan segera disapu bersih begitu Baskara jenuh dengan kehadirannya. Namun, emosi itu cepat berubah menjadi resolusi.

Aku tidak akan membiarkan mereka meremehkanku. Aku akan tunjukkan bahwa aku juga bisa menjadi seseorang.

Ia memandang bayangan dirinya yang terpantul di air kolam. Tubuhnya yang berisi, payudaranya yang besar menggoda, dan bokongnya yang padat-aset yang selama ini ia gunakan untuk mencari nafkah di dunia malam. Ia memang harus bekerja sebagai penyanyi dangdut untuk menopang kuliahnya dan kebutuhan lain, tetapi ia tidak pernah merasa rendah diri. Ia adalah seorang survivor.

Namun, di hadapan Baskara, semua itu terasa seperti aib.

Menggali Informasi di Dapur

Untuk meredakan gejolak dalam hatinya, Aura memutuskan untuk mencari secangkir kopi. Ia berjalan ke dapur. Dapur itu luar biasa-berdesain island mewah dengan peralatan stainless steel terbaru. Di sana, ia bertemu dengan Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di sana, dan Kak Wulan, seorang asisten pribadi yang merangkap nanny sementara untuk Kian.

"Bi Inah, Kak Wulan," sapa Aura ramah. "Saya boleh buat kopi sendiri?"

"Silakan, Non Aura. Biar saya buatkan saja," tawar Bi Inah lembut.

Saat kopi disajikan, Aura memanfaatkan kesempatan itu untuk sedikit menggali informasi.

"Kalian sudah lama bekerja di sini, ya?" tanya Aura santai, menyesap kopi panasnya.

"Lumayan, Non. Saya sudah hampir sepuluh tahun. Sejak Den Kian masih bayi," jawab Bi Inah sambil memotong sayuran.

"Mas Baskara itu memang selalu sibuk, ya?" pancing Aura, mengusap mug kopinya.

Bi Inah dan Kak Wulan saling pandang. Kak Wulan, yang lebih muda, berbisik, "Kalau Bapak, sibuknya itu sudah level dewa, Non. Perusahaannya banyak sekali, namanya ada di mana-mana. Mulai dari properti, logistik, sampai investasi asing. Dia orang yang sangat, sangat serius."

Aura mengangguk. Informasi itu menegaskan betapa jauhnya jurang pemisah antara dirinya dan pria itu.

"Tapi... hubungan Bapak dan Ibu Maya selalu baik-baik saja, kan?" tanya Aura, pura-pura khawatir sebagai adik.

Bi Inah berdeham. "Oh, tentu saja, Non. Mereka pasangan ideal. Sama-sama sibuk, sama-sama sukses. Ibu Maya itu dokter spesialis yang pintar sekali. Cuma ya itu, Non. Karena sama-sama sibuk, mereka jarang di rumah bareng-bareng. Kasihan Den Kian."

"Ya, Kian tadi bilang dia kesepian," ujar Aura, mencoba bersimpati. "Seharusnya dengan kekayaan sebanyak itu, setidaknya Baskara bisa meluangkan waktu lebih untuk anaknya."

Kak Wulan tersenyum pahit. "Bapak Baskara itu orang yang sangat disiplin dan berorientasi pada hasil, Non. Uang baginya adalah kekuasaan, dan dia tidak akan membiarkan kekuasaan itu lepas. Bahkan saat di rumah pun, dia masih bekerja, seperti tadi pagi. Ruang kerjanya itu seperti kantor cabang kedua."

Aura merasakan sedikit kepuasan. Ternyata, tidak semua yang mengilap itu emas. Kehidupan Maya dan Baskara terlihat sempurna dari luar, tetapi di dalamnya, ada kerapuhan emosional Kian dan mungkin juga hubungan mereka yang terancam oleh obsesi Baskara pada pekerjaan.

Jadi, dia hanya pria kaya raya yang dingin dan workaholic. Lebih mudah untuk membencinya jika aku tahu dia tidak sempurna.

Namun, memori akan ciuman panas di lantai atas itu kembali menyeruak. Aura tahu, ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan dingin Baskara-api yang dapat membakar siapa pun yang mendekat, termasuk dirinya. Ia harus waspada, tetapi pada saat yang sama, rasa penasarannya menguat.

Makan Siang dan Tatapan Pertama

Siang hari tiba. Aura membantu Bi Inah membawa makanan ke meja makan di ruang makan mewah. Aura duduk di samping Kian. Di tengah kemewahan itu, Aura yang hanya mengenakan dress kasualnya terasa sedikit salah tempat.

Kian mengoceh tentang robot barunya dan betapa enaknya makanan yang disajikan. Aura berusaha menjadi pendengar yang baik, mencoba menggantikan peran orang tua Kian yang absen.

Saat mereka makan, pintu utama terbuka. Aura mengangkat pandangan.

Baskara sudah kembali. Wajahnya yang tegang menunjukkan bahwa rapatnya pasti berjalan tidak mulus. Ia melepas jasnya, meninggalkannya di sofa ruang tamu, dan hanya menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kuat. Pria itu tampak marah dan frustrasi.

Ia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, melewati ruang makan.

"Papa!" seru Kian, gembira melihat ayahnya pulang.

"Sudah makan, Nak?" tanya Baskara, sedikit melembutkan ekspresinya.

"Sudah! Papa makan juga, ya!"

Baskara menatap piring di meja, lalu ke Kian, dan akhirnya, matanya bertemu dengan Aura.

Tatapan pertama setelah insiden ciuman mereka.

Aura tidak mengalihkan pandangan. Ia menahan napas. Ia menantangnya. Ia ingin melihat apakah pria itu akan menunjukkan rasa bersalah atau malu.

Baskara juga tidak mengalihkan pandangan. Namun, tatapan dinginnya seolah menembus Aura, seperti kaca yang tidak terpengaruh oleh panas. Tidak ada kilatan hasrat yang terlihat. Yang ada hanya peringatan dan penilaian.

Aura merasa terintimidasi. Ia kembali merasakan dirinya hanyalah penyanyi dangdut murahan yang tak layak duduk di meja makan Baskara.

"Tidak, Papa harus kembali. Hanya mengambil berkas yang tertinggal," kata Baskara pada Kian, suaranya kembali datar.

Ia menyesap air minumnya, lalu berjalan ke ruang kerjanya. Punggungnya lurus dan angkuh. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Aura, seolah wanita itu adalah perabotan yang tidak terlihat.

Aura merasakan amarahnya kembali mendidih. Dia memperlakukanku seperti sampah! Setelah apa yang terjadi di atas!

"Dasar dingin," gumam Aura pelan.

Kian menoleh. "Tante bilang apa?"

"Eh, enggak, Sayang. Tante bilang, robot Papa itu dingin. Kayak lemari es," elak Aura, mencoba tertawa.

Konflik Batin dan Eksplorasi

Setelah Kian tidur siang, Aura kembali ke kamar tamu di lantai bawah. Ia merasa canggung dan terperangkap. Ia tidak bisa pergi ke mana-mana-ia tidak punya uang dan takut bertemu Bu Rini.

Ia membuka kopernya. Di dalamnya, ada beberapa dress panggungnya yang berkilauan. Pikirannya melayang pada pekerjaannya. Malam ini, ia seharusnya ada jadwal audisi untuk klub yang lebih besar.

Apakah aku harus manggung lagi? Di rumah kakakku sendiri?

Manggung berarti ia harus keluar malam, memakai pakaian yang terbuka, dan pulang subuh. Itu akan sangat sulit untuk disembunyikan dari Maya, dan apalagi dari Baskara yang otoriter. Ia tidak ingin Maya khawatir atau Baskara semakin meremehkannya.

Di satu sisi, ia ingin berhenti dari dunia malam, tetapi ia harus membayar kuliahnya dan mencari kos baru. Uang adalah segalanya.

Aura berdiri, gelisah. Ia memutuskan untuk menjelajahi rumah itu sedikit, hanya untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia tahu itu melanggar 'batasan' yang ditetapkan Baskara, tetapi ia tidak peduli.

Ia berjalan ke ruang kerja Baskara, yang terletak di ujung lorong lantai bawah. Pintu kayu cokelatnya tertutup rapat. Aura mendekat, tangannya terangkat, ingin tahu apa yang ada di balik pintu itu.

Ia menyentuh kenop pintu. Dingin. Pikirannya dipenuhi gambaran: dokumen-dokumen penting, rahasia bisnis yang menggiurkan, dan mungkin... rahasia pribadi Baskara.

Saat tangannya hampir memutar kenop, ia menariknya kembali. Ini bukan hanya melanggar batas, ini adalah invasi.

Aura berbalik, berjalan menuju tangga. Ia naik ke lantai atas. Ia melewati kamar utama Maya dan Baskara yang tertutup. Pintu-pintu lain, kamar mandi mewah, kamar tamu lain-semuanya memancarkan ketenangan yang mahal.

Aura kembali ke kamar mainan, tempat insiden ciuman itu terjadi. Ia duduk di lantai kayu yang sama, menghela napas. Kenangan itu begitu jelas: sentuhan kuat Baskara, ciumannya yang menuntut, dan kemudian penolakan brutalnya.

Dia ingin menciumku. Dia hanya terlalu takut untuk mengakuinya.

Pria sedingin itu, dengan kehidupan yang begitu terstruktur, pasti terkejut dengan hasratnya sendiri. Aura yakin, di balik jas dan kekuasaan itu, ada pria yang terperangkap oleh aturan dan citra dirinya. Dan Aura, dengan segala kebar-barannya, adalah ancaman bagi citra dirinya itu.

Aura bersandar di dinding. Ia menyentuh bibirnya. Rasa ciuman itu masih samar-samar terasa.

Ia tahu bahwa pertempuran utamanya di rumah ini bukan mencari tempat tinggal, melainkan perang psikologis melawan Baskara. Pria itu sudah meremehkannya habis-habisan. Ia harus membuktikan dirinya-entah dengan menjadi penghuni yang sempurna atau dengan cara lain yang lebih berisiko.

Ia memutuskan untuk segera mencari pekerjaan baru di pagi hari. Pekerjaan yang lebih bermartabat, yang bisa membuatnya keluar dari dunia malam dan membayar sewa.

Tapi sampai pekerjaan itu datang, ia harus bertahan di bawah atap ini. Dan selama ia di sini, ia akan mengamati Baskara. Ia akan mencari tahu celah dalam tembok es yang didirikan pria itu.

Aura bangkit. Ia melihat kotak robot Optimus Prime di sudut. Ia mengambilnya, membawa kembali ke kamar Kian. Ia harus fokus pada apa yang penting: menjaga keponakannya dan menghormati Maya.

Namun, saat ia berjalan menuruni tangga, ia tidak bisa mengabaikan suara hatinya yang berbisik. Bisikan itu menyarankan untuk bermain sedikit api dengan pria dingin itu.

Aura tahu dia memiliki kekuatan: daya pikatnya, kepercayaan dirinya yang tinggi, dan fakta bahwa dia tidak takut pada Baskara.

Mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan sikap datar dan dinginmu itu, Tuan Baskara.

Aura tersenyum tipis. Senyum itu bukan lagi topeng, melainkan janji-janji untuk membuat kehidupan Baskara yang terlalu sempurna menjadi sedikit tidak nyaman.

Bab 3

Sore hari di rumah Baskara terasa tenang. Sinar matahari keemasan menyusup melalui jendela besar, menyebarkan kehangatan di lantai marmer yang dingin. Aura merasa lengket dan tidak nyaman setelah bermain di luar bersama Kian seharian. Ia ingin mandi, menghapus sisa keringat dan debu yang menempel di kulitnya.

Ia masuk ke kamar mandinya yang mewah. Aroma sabun mahal tercium, dan ia sudah membayangkan sensasi air hangat yang membasuh tubuhnya. Aura membuka keran shower, menunggu air hangat keluar. Ia menunggu, dan menunggu lagi.

Air yang keluar hanya berupa tetesan pelan, lalu benar-benar berhenti.

"Sial!" gumam Aura kesal.

Ia memutar keran ke kanan dan ke kiri berkali-kali, menggedor dinding shower, tetapi tidak ada yang terjadi. Airnya mati. Di hari sial yang sama, ia diusir dari kos, dan sekarang, ia tidak bisa mandi di rumah semewah ini? Ini benar-benar puncak kekesalan.

Aura tidak punya pilihan. Ia melilitkan sehelai handuk tebal berwarna putih di tubuhnya. Handuk itu melilit dari dada ke paha, tidak lebih. Kain itu menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Payudaranya yang besar terangkat dan ditekan oleh lilitan handuk, dan potongan pendek handuk itu memamerkan kakinya yang panjang dan bokongnya yang padat. Dalam kondisi darurat dan penuh amarah ini, ia tidak memikirkan penampilannya, tetapi nalurinya yang bar-bar mendorongnya untuk segera mencari siapa pun yang bisa membantu.

Ia membuka pintu kamar. Ia hanya bisa menghela napas. Jalan keluarnya hanya satu: Baskara.

Aura melangkah cepat menuju ruang keluarga. Dari kejauhan, ia mendengar suara tawa Kian.

Ketika ia tiba, ia melihat pemandangan yang tak terduga. Baskara sudah kembali dari kantor. Pria itu sudah berganti pakaian menjadi celana training dan kaus abu-abu, sepertinya baru saja selesai berolahraga atau sekadar mengganti setelan formalnya. Ia sedang berbaring di karpet ruang keluarga, bermain mobil-mobilan dengan Kian sambil tertawa kecil. Aura belum pernah melihat pria itu tertawa.

Melihat pria yang begitu dingin itu memiliki sisi hangat sebagai ayah membuat emosi Aura kembali bergejolak, bercampur dengan rasa iri dan hasrat yang terlarang.

"Mas Baskara!" panggil Aura, suaranya sedikit meninggi karena kesal.

Suara Aura yang tiba-tiba membuat Baskara dan Kian menoleh serempak.

Baskara langsung membeku. Tawa di wajahnya lenyap, digantikan oleh ekspresi terkejut yang nyata. Matanya langsung melebar saat melihat penampilan Aura.

Aura berdiri di sana, hanya dibalut handuk. Handuk putih itu, yang seharusnya menutupi, justru terasa seperti memamerkan. Rambutnya basah karena keringat, dan wajahnya menampilkan raut marah yang tidak tertahankan.

Mata Baskara yang tajam menyapu seluruh tubuh Aura, mulai dari bahu mulusnya, lilitan handuk yang tertekan di bagian dada, hingga kaki jenjangnya. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup lama untuk membuat Aura merasakan gelombang panas merambat di kulitnya. Ekspresi dingin Baskara kini tertutup oleh lapisan ketegangan dan kontrol diri yang sangat kuat.

"Aura?" tanya Baskara, suaranya terdengar tercekat dan lebih serak dari biasanya. Ia segera duduk tegak. "Ada apa? Kenapa kamu... hanya memakai ini?"

Aura tidak peduli dengan rasa malunya. Ia sedang marah.

"Airnya mati!" sembur Aura, berjalan mendekat. "Shower di kamarku tidak berfungsi. Aku butuh mandi sekarang. Aku merasa lengket dan tidak nyaman. Bisakah Anda perbaiki?"

Baskara mengalihkan pandangannya dari tubuh Aura, fokus pada wajah wanita itu, tetapi matanya terasa sulit dikendalikan.

"Aku... aku akan telepon teknisi," ujar Baskara, mencoba kembali ke sikap dingin dan datar. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping karpet.

"Telepon teknisi? Sekarang? Ini sudah sore, Mas! Aku butuhnya sekarang!" Aura meletakkan kedua tangan di pinggul, gerakan yang secara alami menonjolkan lekuk tubuhnya lebih jauh. "Aku enggak mau menunggu lama lagi! Itu artinya aku harus menunggu besok pagi!"

Kian, yang tadinya asyik dengan mobil-mobilannya, kini ikut mendongak, merasakan ketegangan di antara orang dewasa.

"Papa," panggil Kian polos. "Bukankah Papa bisa perbaiki airnya? Waktu itu, keran di kamar mandi atas bocor, Papa yang perbaiki. Papa bisa semuanya, kan?"

Pertanyaan lugu Kian menusuk tepat sasaran. Aura menatap Baskara dengan tatapan penuh selidik dan curiga. Kian benar. Pria sekaya dan sepintar Baskara, yang mengatur perusahaan raksasa, pasti memiliki kemampuan dasar perbaikan rumah.

Baskara terdiam. Ada perjuangan yang jelas terlihat di matanya. Antara mempertahankan citra CEO yang berjarak, dan membiarkan diri terlibat dalam situasi pribadi yang penuh godaan ini.

Akhirnya, dengan helaan napas yang keras, Baskara meletakkan ponselnya. Ia menatap Aura dengan ekspresi datar yang kembali, tetapi lebih intens. Tatapan itu seolah berbisik, 'Kau membuatku melakukannya, dan kau akan menyesal.'

"Baiklah," kata Baskara dingin. "Aura, tunggu di kamarmu. Aku ambil peralatan di gudang."

Lima menit kemudian, Baskara berdiri di ambang pintu kamar mandi Aura. Ia membawa tas peralatan kecil dan sebuah senter. Kausnya yang ketat semakin menonjolkan otot-ototnya.

"Minggir," perintah Baskara tanpa basa-basi.

Aura berdiri di samping pintu shower yang terbuat dari kaca, tubuhnya masih terbungkus handuk. Ruangan sempit itu terasa dipenuhi oleh aura dominan Baskara. Ia membungkuk, berjongkok di dekat dinding shower, mencari katup utama atau masalah pada pipa.

Aura memperhatikan punggung lebar Baskara. Ia melihat garis otot yang menegang saat pria itu berkonsentrasi. Pria itu tampak sangat fokus pada masalah pipa, mengabaikan fakta bahwa ia hanya berjarak beberapa inci dari wanita yang hanya berbalut sehelai kain.

Baskara mulai mengutak-atik sambungan di balik panel kecil. Bunyi ketukan logam dan gesekan terdengar.

Tiba-tiba, terdengar suara 'kretek!' dan air yang tadinya mampet tiba-tiba menyembur keluar dari shower head dengan tekanan tinggi.

Air itu langsung menyiram tubuh Baskara yang sedang jongkok dan juga membasahi handuk yang melilit tubuh Aura.

"Aduh!" seru Aura, sedikit terkejut, tetapi di otaknya, sebuah ide jahil langsung menyala.

Baskara terhuyung mundur sedikit karena semburan air yang tiba-tiba.

Saat itulah Aura menjalankan rencananya. Dengan gerakan dramatis yang terlalu dilebih-lebihkan, Aura berteriak, "Aduh! Aku terpeleset!"

Aura berpura-pura kehilangan keseimbangan di lantai keramik yang basah. Ia menjatuhkan tubuhnya ke depan, menuju Baskara.

Baskara, yang tidak siap dan masih terkejut dengan semburan air, hanya sempat berbalik setengah badan.

Aura jatuh, dan dalam prosesnya, ia sengaja menjatuhkan handuknya ke lantai.

Maka, tubuh Aura yang sepenuhnya telanjang jatuh menimpa tubuh Baskara yang terhuyung ke belakang.

Gedebuk!

Baskara jatuh telentang di lantai kamar mandi yang basah. Tubuh Aura yang panas dan telanjang menindih tubuhnya.

Kejadian itu begitu cepat dan keras. Aura yang jatuh di atasnya sedikit terengah-engah, tetapi matanya menatap Baskara dengan intensitas yang mengancam.

Pipi Baskara memerah. Wajahnya yang tegang dan basah karena air shower kini terkunci dalam ekspresi kaget yang bercampur dengan nafsu.

Aura dengan sengaja melakukan manuver berikutnya. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, lalu menjatuhkan kepalanya-dan otomatis payudaranya yang besar-ke wajah Baskara.

"Ma-Maaf, Mas! Aku benar-benar jatuh!" kata Aura, nadanya terdengar panik palsu.

Baskara hanya bisa mengerang pelan, napasnya terputus.

Aura merasa kemenangan. Ia tahu, meskipun pria itu dingin, tidak ada pria normal yang akan acuh tak acuh dalam situasi seperti ini. Aura menekan tubuhnya lebih erat, secara tidak sengaja menggerakkan pinggulnya sedikit di atas selangkangan Baskara.

Konflik dalam diri Baskara memuncak. Ekspresi datarnya runtuh. Ia menutup matanya, rahangnya mengeras, seolah berusaha melawan godaan yang membakar. Tangannya terangkat, bukan untuk mendorong Aura, melainkan untuk mencengkeram lantai kamar mandi.

Aura tidak memberi kesempatan. Ia membiarkan kontak yang terjadi, membiarkan Baskara merasakan setiap lekuk tubuhnya.

Tiba-tiba, mata Baskara terbuka. Mereka dipenuhi dengan kilatan amarah dan hasrat yang tak terbendung.

"Aura, hentikan!" desis Baskara, suaranya parau.

"Aku sudah bilang aku jatuh, Mas!" tantang Aura.

Baskara menolehkan wajahnya ke samping, menjauhkan dirinya dari tubuh Aura. Pria itu berusaha mati-matian untuk mengendalikan dirinya.

Dengan kekuatan yang luar biasa, Baskara meraih bahu Aura dan membalikkan posisi mereka, membuat Aura yang kini terbaring di lantai. Ia beranjak berdiri dengan cepat, wajahnya merah padam.

Baskara segera melangkah mundur, menjauh dari Aura. Ia basah kuyup dan tampak sangat marah-marah pada situasi, marah pada Aura, dan yang paling utama, marah pada dirinya sendiri.

"Pakai pakaianmu, sekarang!" Baskara berteriak, suaranya menggelegar di kamar mandi kecil itu. Aura belum pernah mendengar Baskara berbicara sekeras itu. "Jangan pernah, pernah kamu ulangi hal ini di rumah ini. Aku tidak akan segan-segan mengusirmu, bahkan sebelum Maya kembali."

Baskara memalingkan wajah, tidak ingin menatap Aura yang telanjang di lantai. Ia mengambil handuk Aura yang tergeletak dan melemparkannya kembali ke tubuh Aura dengan kasar.

"Airnya sudah benar. Aku akan mengunci kamar ini jika kamu berani lagi bertingkah," kata Baskara, dengan suara yang kembali dingin, tetapi bergetar. Ia berbalik dan meninggalkan kamar mandi, menutup pintu dengan bunyi 'Brak!' yang keras.

Aura terbaring di lantai basah, terengah-engah. Ia berhasil memancing reaksi yang sangat besar dari pria es itu. Ia merasa sakit di pinggulnya, tetapi hatinya dipenuhi campuran ketakutan, gairah, dan kemenangan.

Aku berhasil. Aku menghancurkan sikap datarnya.

Aura meraih handuk itu. Ia tahu ia telah melanggar batas yang sangat serius. Baskara bisa saja menendangnya keluar malam itu juga. Tetapi di sisi lain, ia juga tahu, pria itu tergoda. Godaan itu adalah senjata Aura. Dan ia tidak akan berhenti sampai ia benar-benar bisa mengendalikan Baskara, setidaknya untuk mengembalikan harga dirinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED