Adnan duduk bersandar di sebuah sofa dengan satu tangan memegang gelas berisi red wine kesukaannya. Sesekali tangannya menggoyang pelan gelas tersebut hingga isi di dalamnya menjadi sedikit berputar mengitari gelas, membuat aroma harum yang manis dan khas menguar sampai ke indra penciuman lelaki itu. Kemudian, diteguknya sedikit minuman tersebut sembari menatap lekat ke arah sosok yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah pias.
"Kenapa berdiri saja di situ, Nona? Kemarilah, kamu bukannya salah orang. Memang aku yang memintamu untuk melayaniku," ujar Adnan pada sosok yang mematung itu.
Mau tak mau, orang yang dipanggil Adnan dengan sebutan nona tadi sedikit mengangkat wajahnya. Namanya Renata, seorang wanita penghibur yang sebelumnya memang sengaja dipesan Adnan untuk melayaninya malam ini. Dan sebenarnya, Adnan harus menempuh sebuah perjalanan hidup yang panjang sebelum bisa membawa perempuan ini berdiri di hadapannya seperti sekarang.
Usia perempuan itu relatif tak muda lagi, berkisar di awal tiga puluhan. Tapi wajah dan tubuhnya tak kalah menawan dibandingkan dengan para gadis belia. Apalagi dengan gaun malam berwarna merah marun yang saat ini tengah dikenakannya. Sangat pas membalut tubuh langsingnya yang memiliki kulit seputih susu. Membuatnya terlihat anggun sekaligus seksi.
"Kenapa? Kamu takut aku tidak mampu membayarmu karena tarifmu lumayan mahal?" tanya Adnan saat Renata tak juga bergerak dari tempatnya semula.
Wajah perempuan cantik itu terlihat agak memucat. Ekspresinya lebih tepat dikatakan syok ketimbang terkejut. Tampaknya butuh waktu agak lama baginya untuk meyakinkan diri jika lelaki yang akan menggunakan jasanya kali ini adalah Adnan, sosok yang tak asing baginya. Sosok yang selama sepuluh tahun ini tak pernah dia lihat lagi sehingga nyaris dia lupakan.
"Adnan …." Renata menyebut nama Adnan lirih, nyaris berbisik. Suaranya terdengar bergetar, seirama dengan seluruh tubuhnya yang juga ikut bergetar. Dari sekian banyak lelaki, kenapa harus lelaki ini yang sekarang menjadi pelanggannya. Apakah ini sebuah kebetulan? Tapi melihat raut wajah Adnan yang tak menunjukkan raut terkejut sama sekali, tampaknya lelaki itu sudah tahu jika Renata yang akan datang untuk melayaninya.
Mungkinkah lelaki yang tengah asyik menikmati red wine di hadapan Renata saat ini memang sengaja mengatur pertemuan mereka dalam situasi seperti sekarang?
"Senang sekali kamu masih mengingat namaku. Tidak disangka, ya, kita akan bertemu lagi setelah sekian lama," sahut Adnan sambil tersenyum tipis, kemudian menyesap sekali lagi minuman yang ada di tangannya.
Renata kembali bergeming. Lelaki itu tampak begitu santai melihat kehadirannya saat ini, namun menggunakan kata tak disangka dalam kalimat yang diucapkannya barusan, seolah mereka bertemu secara tak sengaja. Sungguh pernyataan yang bertolak belakang dengan kenyataan.
"Kamu tidak lelah hanya berdiri di situ?" tanya Adnan.
Pertanyaan itu membuyaran lamunan Renata, membuat perempuan itu tersadar pada situasi yang sekarang tengah dia hadapi. Dia tidak sedang bermimpi atau pun berhalusinasi. Lelaki yang menyewa jasanya malam ini adalah Adnan, seseorang yang pernah mengukir kenangan indah dalam hidupnya sebelum akhirnya harus dia tinggalkan karena keadaan.
Dengan langkah yang sedikit kikuk, akhirnya Renata mendekat ke arah Adnan dan duduk di hadapan lelaki itu. Renata sedikit menundukkan pandangannya, tak sanggup menatap wajah lelaki yang saat ini tengah tersenyum miring ke arahnya, senyuman yang menyimpan ejekan dan juga penghinaan tanpa kata.
"Kenapa segugup itu? Aku yakin kamu sudah sangat berpengalaman dalam melayani pelanggan-pelangganmu. Aku tak ada bedanya dengan mereka semua, jadi tidak perlu tegang seperti itu," ujar Adnan sambil meletakkan gelas red wine di tangannya. Wajahnya masih memperlihatkan senyuman asimetris yang jelas bertujuan merendahkan.
Tak ada yang bisa Renata katakan untuk menanggapi kata-kata yang dilontarkan Adnan. Dia justru semakin menunduk dengan mulut yang membisu. Sungguh tak disangka jika pada akhirnya dia akan bertemu lagi dengan lelaki ini saat sedang melakoni pekerjaan rendahnya.
"Atau kamu menganggap aku tak memiliki uang? Tenang saja, seperti kataku tadi, aku punya uang yang cukup untuk membeli pelayananmu. Barusan aku sudah mentransfer penuh pembayaran pada bosmu" ujar Adnan lagi sembari bangkit dari duduknya.
Adnan mendekat ke arah Renata dan duduk persis di samping perempuan itu. Tangannya terulur meraih dagu Renata dan mengarahkan agak Renata melihat ke arahnya.
"Dan jika kamu bisa memuaskanku, tentu saja aku akan memberimu tip yang sesuai," gumam Adnan lagi.
Renata menelan ludahnya dengan agak kesulitan. Seperti ada yang mencekik lehernya saat dia mendengar gumaman rendah yang dilontarkan Adnan barusan. Selama ini, dia tahu jika pekerjaannya adalah pekerjaan yang teramat sangat kotor, tapi baru kali ini dia benar-benar merasa hina sampai tak sanggup hanya untuk sekedar mengangkat wajahnya.
"Lihat aku, Renata!" titah Adnan dengan suara yang tak ingin dibantah. Cengkramannya di dagu Renata semakin menguat saat perempuan itu tak juga mengangkat pandangan untuk melihat ke arahnya.
"Tidak mungkin kamu bersikap seperti ini di hadapan pelanggan-pelangganmu yang lain, jadi lakukan seperti biasanya kamu melakukan itu bersama mereka. Aku sudah membelimu untuk malam ini, jadi aku berhak mendapatkan pelayanan yang memuaskan!" Adnan akhirnya berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Sepertinya dia agak kesal pada Renata yang sejak tadi hanya bisa diam.
Renata memberanikan diri mengangkat wajahnya dengan dada yang bergemuruh tak menentu. Dia melihat kilatan kemarahan di mata Adnan, juga sorot mata penuh kebencian. Seperti ada yang menancap di dadanya melihat tatapan itu, terasa sakit dan juga menyesakkan.
"Maaf," gumam Renata akhirnya dengan suara yang masih terdengar agak bergetar. Perempuan itu kembali menunduk, lalu menghela nafasnya sejenak. Setelah beberapa saat, barulah sekali lagi dia mengangkat wajahnya dan menatap Adnan dengan tatapan yang lebih berani daripada sebelumnya.
"Anda lebih suka permainan seperti apa?" tanya Renata kemudian setelah berhasil menguasai dirinya. Dia bertanya dengan bahasa formal yang sopan, seperti saat dia melayani pelanggan-pelanggannya yang lain.
Kali ini Adnan yang tertegun dibuatnya. Dia agak terkesiap melihat Renata yang sudah terlihat lebih tenang daripada sebelumnya.
"Terkadang pelanggan saya punya permintaan terkait dengan gaya permainan kesukaan mereka. Makanya saya bertanya, Anda suka permainan yang seperti apa?" ulang Renata lagi. Sekuat tenaga dia berusaha membuat suaranya tak terdengar bergetar seperti sebelumnya, meski dadanya masih bergemuruh hebat.
Berganti Adnan yang menghembuskan nafas kasar. Entahlah, dia jadi merasa kesal melihat Renata tak lagi gugup dan kebingungan seperti tadi.
"Aku tidak punya permintaan khusus. Kerahkan saja kemampuanmu sebisa mungkin untuk membuatku puas," sahut Adnan kemudian dengan suara yang dingin.
Renata mengangguk. Dia meletakkan tas tangan yang sedari tadi dipegannya, kemudian kembali beralih ke arah Adnan. Perempuan itu tak punya pilihan selain melakukan tugasnya melayani Adnan, seperti halnya dia melayani lelaki lain yang memakai jasanya.
Dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan, Renata mendekatkan tubuhnya pada tubuh Adnan, tampak hendak mulai memulai pekerjaannya.
"Tunggu dulu," tahan Adnan saat Renata hendak mendekatkan wajah mereka untuk memberikan cumbuan.
"Bersihkan dirimu dulu!" titah Adnan dengan suara yang dingin seperti sebelumnya.
Renata agak tertegun dengan wajah yang terlihat tak mengerti. Tentu saja sebelum pergi menemui setiap pelanggannya, Renata sudah mandi, bahkan berendam dalam air yang dicampur dengan aroma terapi terlebih dahulu. Setelah berpakaian pun dia akan menggunakan parfum mahal, sehingga dari tubuhnya menguar aroma harum yang menggoda. Hal yang biasanya membuat pelanggan lain akan langsung menerkam tubuhnya tanpa basa basi karena tak tahan dengan godaan aroma tersebut.
"Karena pekerjaanmu adalah menjajakan tubuh, jadi bisa saja sebelum datang kemari, kamu lebih dulu melayani pelanggan lain dan tidak membersihkan diri lagi. Aku tidak mau mengambil resiko merasakan peluh lelaki lain di tubuhmu, jadi lebih baik kamu mandi dulu sampai tak ada aroma lelaki lain. Setelah itu, baru melayaniku." Adnan menjelaskan tanpa merasa bersalah sedikit pun. Tentu saja, karena tujuannya menyewa jasa Renata adalah untuk merendahkan dan mempermalukan perempuan itu secara langsung.
Renata tertegun, lalu tersenyum miris. Kini dia menyadari apa yang Adnan coba lakukan padanya. Lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapannya sebagai seorang pelanggan tak lain karena ingin membalas apa yang pernah dirinya lakukan di masa lalu.
Renata sudah biasa direndahkan oleh orang-orang yang mengetahui pekerjaan kotornya. Bahkan beberapa di antara pelanggannya juga pernah melecehkan dirinya. Tapi entah kenapa, rasanya tidak sesakit seperti yang dia rasakan saat ini. Sudah cukup memalukan dia datang ke hadapan Adnan sebagai seorang wanita panggilan, kini dia juga harus menerima penghinaan dari lelaki itu, lelaki yang dulu pernah mengukir kenangan paling indah dalam hidupnya.
"Kenapa bengong? Kamu tidak dengar apa yang kukatakan tadi?" tanya Adnan.
Lamunan Renata seketika terbuyar. Lelaki yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Adnan yang dikenalnya dulu. Adnan yang tak pernah sekalipun berkata kasar pada orang lain, apalagi menghina.
Ah, Renata lupa. Tentu saja banyak hal yang berubah setelah sepuluh tahun waktu berlalu. Bahkan dirinya sendiri yang dulunya adalah seorang gadis polos nan lugu, sekarang telah berubah menjadi perempuan penjaja kehangatan yang sudah pernah tidur dengan banyak lelaki. Lagipula, saat mereka berpisah dulu, Renata telah menorehkan luka yang teramat dalam pada Adnan. Dan jika saat ini lelaki itu datang dengan sejuta dendam, itu adalah sesuatu yang bisa Renata pahami.
"Kalau begitu, saya permisi mandi dulu," ujar Renata akhirnya sambil bangkit dari duduknya. Perempuan itu berlalu menuju kamar mandi yang ada di kamar hotel tersebut, diiringi oleh tatapan tajam dari sepasang mata tajam milik Adnan.
Sesampainya di kamar mandi, Renata langsung menanggalkan pakaiannya dan membasuh seluruh tubuhnya dengan air, lalu menggosoknya dengan sabun yang tersedia di sana. Sembari mandi dia termenung, teringat lagi pada bayangan senyum mengejek yang Adnan perlihatkan padanya.
Dadanya terasa sesak, bersamaan dengan airmata yang tiba-tiba saja jatuh tanpa alasan. Ada rasa nyeri yang tak dapat dia jelaskan jika dirinya mengingat senyuman lelaki itu. Namun, cepat-cepat Renata menghapus cairan bening hangat itu dari pipinya, kemudian segera menyelesaikan mandinya agar bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya
Setelah dirasa tubuhnya sudah lebih harum daripada sebelumnya, perempuan itu pun keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe.
Adnan masih duduk di tempat yang sama. Namun dia langsung bangkit saat melihat Renata sudah selesai membersihkan diri. Matanya tampak tajam nenatap perempuan yang melangkah perlahan ke arahnya itu.
"Saya sudah selesai mandi. Apa saya sudah bisa memulainya sekarang?" tanya Renata dengan agak ragu.
Adnan tak langsung menjawab. Matanya masih lekat menatap Renata, hingga membuat perempuan itu menjadi agak salah tingkah karenanya.
"Sepertinya kamu agak terburu-buru, ya? Kenapa? Ada pelanggan lain yang menunggumu malam ini setelah aku?" tanya Adnan kemudian. Suaranya terdengar lembut namun sarkas.
"Bubukan begitu," sahut Renata dengan agak terbata.
Tanpa diduga, Adnan tertawa. Tawa yang begitu renyah, namun mampu membuat Renata terkesiap dengan raut wajah yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata
"Baiklah, mungkin lebih baik kita langsung mulai saja," ujar Adnan setelah menghentikan tawanya. Lelaki itu menghenyakkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur, kemudian mengambil posisi setengah berbaring dengan punggung yang menyandar pada sandaran tempat tidur .
"Kemari dan mulailah. Aku ingin kamu yang melayaniku sepenuhnya sampai aku puas," titah Adnan lagi sembari menjentikkan jari, mengisyaratkan agar Renata mendekat padanya. Nada bicaranya lagilagi terdengar begitu menghina.
Renata menatap nanar kepada lelaki itu, kemudian mengangguk sembari berusaha untuk tersenyum. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di pinggiran tempat tidur menghadap ke arah Adnan. Dengan dada yang bergemuruh tak menentu, Renata mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Adnan.
"Puaskan aku tanpa menyentuh bagian wajahku. Aku hanya berciuman dengan pasanganku saja, tidak dengan perempuan panggilan." Sekali lagi Adnan melontarkan kata-kata yang mampu membuat ulu hati Renata terasa nyeri.
"Maaf, saya tidak tahu," sahut Renata lirih sambil menarik kembali wajahnya. Tanpa sadar perempuan itu menggenggam jari-jarinya yang bergetar hebat, berusaha menahan gemuruh di dadanya yang mulai menjadi tak terkendali.
I Renata menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Dia sungguh tak tahu harus bagaimana. Jelas sekali jika Adnan menyewanya malam ini bukan benar-benar untuk melampiaskan hasrat seperti para pelanggannya yang lain, tapi memiliki tujuan berbeda.
"Kenapa malah kembali melamun? Aku sudah membayarmu mahal, tapi kenapa kamu malah seperti terpaksa seperti itu?" tanya Adnan dengan nada tak senang.
"Ma-maaf ...." Renata kembali meminta maaf.
Hal itu ternyata membuat Adnan menjadi berang. Raut wajah lelaki itu terlihat agak mengeras dibandingkan sebelumnya.
"Tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain minta maaf? Apa kata maafmu itu bisa mengembalikan waktu dan uangku yang terbuang sia-sia karena ketidakcakapanmu? Asal kamu tahu saja, ada banyak hal di dunia ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf," sahut Adnan
Renata kembali menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Meskipun mungkin Adnan melontarkan ucapannya barusan hanya karena marah pada sikapnya saat ini dan tak ada hubungannya dengan yang terjadi di masa lalu, tapi tetap saja Renata merasa tertohok.
Dengan dada yang bergemuruh semakin tak terkendali, Renata pun akhirnya bangkit dari duduknya, masih dengan posisi menghadap ke arah Adnan. Terlihat perempuan itu menghela nafasnya sekali lagi, sebelum akhirnya menanggalkan bathrobe yang dia kenakan, sehingga tubuhnya polos di hadapan Adnan
Lelaki itu membeliak tanpa sadar, jelas terkejut dengan apa yang Renata lakukan. Tapi sejurus kemudian, dia kembali tersadar jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Renata si wanita bayaran, bukan kekasihnya yang dulu begitu dia puja.
Senyum miring kembali terlihat di wajah Adnan saat Renata mulai mengambil posisi di atas tubuhnya apalagi saat Renata mulai memberikan sentuhan-sentuhan di beberapa bagian sensitif dari tubuhnya
"Ya, benar seperti itu. Jangan buat aku membuang uang sia-sia. Lakukan pekerjaanmu dengan baik," gumam Adnan saat Renata mulai memberikan cumbuan padanya.
Adnan mencengkram rambut Renata dan mengarahkan wajah perempuan itu untuk memberikan sentuhan pada bagian-bagian tubuhnya yang lain, persis seperti perlakuan seorang tuan kepada budaknya, sedangkan Renata hanya menuruti semua itu dengan perasaan perih yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
"Aku sudah membelimu malam ini, jadi aku berhak melakukan apa saja padamu." Adnan kembali bergumam sambil menarik rambut Renata sekali lagi.
"Iya," jawab Renata. Perempuan itu berusaha menahan rasa sesak yang kini menghimpit dadanya, juga berusaha untuk menguatkan hatinya. Dia sudah pernah dilecehkan lebih parah daripada ini, bahkan sampai meninggalkan memar di beberapa bagian tubuhnya. Tapi entah kenapa, saat ini rasanya jauh lebih menyakitkan.
Mata Renata mengembun dan terasa panas, bersamaan dengan nafasnya yang juga mulai tersengal. Rasa-rasanya tangisnya akan pecah saat itu juga, tapi sekuat tenaga dia tahan agar hal itu tak sampai terjadi. Mau semenyakitkan apa rasa yang saat ini menghujam dadanya, dia harus tetap melakukan tugasnya sesempurna mungkin, memberikan kehangatan dan kepuasan pada siapa saja lelaki yang telah membayarnya.
Malam itu, sekali lagi Renata membuktikan jika dirinya adalah seorang perempuan penghibur yang sudah sangat profesional. Meski dadanya sesak, meski hatinya perih dan meski airmatanya harus sekuat tenaga dia tahan agar tidak jatuh, dia tetap memberikan pelayanan terbaik untuk lelaki yang telah menyewa jasanya. Tak peduli jika lelaki itu sengaja membayar untuk tujuan lain, yaitu merendahkannya.
Lenguhan panjang yang keluar dari bibir Adnan menjadi tanda berakhirnya tugas yang mesti Renata tunaikan. Renata beringsut, sedikit menjauhkan dirinya dari tubuh Adnan yang sedetik lalu baru saja meraih pelepasan. Nafas mereka berdua masih memburu setelah pergulatan panas yang baru saja mereka lakukan. Keduanya sama-sama terdiam dengan mata yang lurus menatap ke depan.
Harus Adnan akui, Renata sangat pandai dalam permainan tadi. Hal yang kemudian seakan mengingatkan lelaki itu pada sebuah fakta yang bahkan sampai saat ini masih sulit untuk dia percaya. Fakta jika Renata saat ini adalah seorang perempuan panggilan.
Entah apa yang Adnan rasakan sekarang. Dia benci namun juga merindukan perempuan yang baru saja berbagi peluh dengannya tadi. Meski mengetahui jika telah banyak lelaki yang telah menjamah tubuh perempuan itu, nyatanya dia tidak merasa jijik saat Renata menyentuhnya. Malah ada rasa iba yang menyusup di dalam hatinya saat melihat raut wajah Renata yang tampak terluka mendengar kata-kata merendahkan yang keluar dari mulutnya.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Logika langsung mengikis perasaannya. Dia kembali diingatkan dengan tujuan awalnya mencari Renata, yaitu membalas semua rasa sakit dan penderitaan yang selama sepuluh tahun ini dirinya rasakan.
Adnan pun bangkit dan langsung mengenakan pakaiannya kembali.
"Tugasmu sudah selesai. Pakai lagi bajumu," perintah Adnan pada Renata.
Renata mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Adnan sejenak, kemudian turun juga dari tempat tidur dan memungut bathrobe yang sebelumnya dia kenakan, lalu segera memakainya.
"Maksudku pakaianmu yang tadi. Aku sudah selesai denganmu, kamu sudah boleh pergi," ralat Adnan.
"Aku ... sudah boleh pergi?" ulang Renata ragu. Biasanya pelanggan yang menyewa jasanya untuk satu malam tak pernah membiarkannya pergi setelah mereka melakukan hubungan badan. Para lelaki itu akan meminta Renata untuk menginap karena akan mengulang kegiatan sebelumnya sebanyak beberapa kali sampai pagi menjelang.
"Iya, tentu saja. Memangnya apa yang kamu pikirkan? bermalam di sini denganku?" Adnan balik bertanya dengan agak sarkas. "Tidak, bukan begitu
"Aku tidak pernah membiarkan perempuan panggilan tidur di ranjang yang sama denganku." Adnan menyela sebelum Renata sempat menyelesaikan kata-katanya.
Bibir Renata langsung terkatup rapat. Seperti ada sebuah pisau yang kini Adnan tancapkan ke dadanya. Benar-benar terasa sakit dan menyesakkan. Namun begitu, senyuman tipis kemudian terulas di bibir Renata.
"Saya mengerti," ujarnya kemudian sambil berlalu menuju kamar mandi, tempat pakaiannya berada.
Tak lama kemudian, Renata keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang rapi seperti saat dia datang. Tatapan tajam Adnan langsung menyambut, membuat Renata tak kuasa untuk mengangkat wajahnya. Perempuan itu menghentikan langkahnya di hadapan Adnan dengan wajah yang agak menunduk.
"Saya sungguh sudah boleh pergi?" tanya Renata sekali lagi, masih dengan suara lirih dan ragu-ragu.
"lya." Adnan menjawab dengan nada datar.
"Kalau begitu, saya permisi," ujar Renata. Diraihnya tas tangan yang sebelumnya dia letakkan, kemudian beranjak untuk pergi.
"Tunggu dulu," tahan Adnan saat Renata hendak meninggalkannya.
Renata kembali menoleh ke arah lelaki itu dengan penuh tanda tanya.
"Tadi aku mengatakan akan memberimu tip jika kamu bisa memuaskanku," ujar Adnan sambil mengeluarkan dompetnya.
"Aku mengakui jika kamu memang sangat luar biasa. Kelihatannya kamu sudah sangat berpengalaman. Aku harus menghargai kemampuanmu itu."
Adnan mengeluarkan semua uang tunai yang ada di dompetnya, kemudian melemparnya ke arah Renata hingga lembaran berwarna merah itu pun beterbangan melewati wajah Renata, sebelum akhirnya mendarat di lantai.
"Ambillah. Kamu pantas mendapatkan itu," ujar Adnan sambil tersenyum miring. Sekilas kalimat yang diucapkannya terdengar seperti pujian, tapi sebenarnya sebuah peghinaan yang sangat kejam.
Renata membeku. Serasa ada yang hancur di dalam hatinya. Ditatapnya Adnan dengan tatapan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Rasa sakit itu terlampau besar hingga rasanya hampir membuatnya mati rasa.
Akhirnya Renata membalas senyuman Adnan dengan ikut tersenyum pula. Harga dirinya terluka. Ah, tidak. Dia tidak berhak berpikir tentang harga diri karena memang sudah tak memilikinya sejak lama. Sejak dirinya menjadi seorang perempuan bayaran, dia telah membuang harga dirinya entah kemana.
Seolah tak memiliki rasa malu, Renata berjongkok memunguti satu persatu lembaran uang merah yang dilempar oleh Adnan padanya barusan, lalu memasukkannya ke dalam tas tangannya.
"Anda sangat murah hati, Tuan Adnan. Terima kasih," ujar Renata sambil kembali tersenyum. Setetes airmata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya, namun cepat-cepat dia seka.
"Saya permisi." Renata bergegas melangkahkan kakinya menjauh dari Adnan, kemudian keluar dari kamar tersebut, sebuah kamar hotel yang tak akan pernah Renata lupakan seumur hidupnya.
Setelah berhasil meninggalkan bangunan hotel, barulah Renata menumpahkan apa yang sejak tadi dia tahan. Perempuan itu menangis dengan sangat memilukan di pinggir jalan, tak peduli jika banyak orang berlalu-lalang sambil memperhatikannya.
Puas menangis, Renata kemudian duduk di bangku halte sembari memikirkan nasibnya yang begitu malang. Dan dari semua hal buruk yang dia alami, bertemu lagi dengan Adnan adalah sesuatu yang paling tak ingin dia alami
Lelaki itu jelas sangat membenci Renata setelah apa yang terjadi di masa lalu. Adnan tak pernah tahu jika Renata melakukan itu semua bukan demi dirinya, tapi demi Adnan sendiri.
Saat Renata memutuskan semuanya, dia berharap Adnan akan terus hidup dan baik-baik saja meski kehilangan dirinya. Lelaki itu akan bertemu dengan perempuan lain yang akan membahagiakannya, dan mereka tak perlu bertemu lagi.
Tapi apa yang terjadi sekarang tak seperti yang Renata harapkan. Renata senang karena sepertinya sekarang Adnan telah hidup berkecukupan. Namun kenapa mereka harus kembali dipertemukan?
Sebuah notifikasi pesan membuat lamunan Renata tentang Adnan buyar. Setelah membaca pesan tersebut, segera dia menyeka sisa-sisa airmatanya, lalu beranjak. Renata menyetop sebuah taksi dan menaikinya hingga sampai di sebuah pemukiman.
Dia turun di pinggir jalan, lalu melanjutkan perjalannya masuk ke dalam sebuah gang dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian, sampailah dia di sebuah rumah kontrakan sederhana yang bangunannya telah lapuk termakan usia.
Renata masuk ke dalam rumah tersebut, tapi tak lama kemudian keluar lagi dengan penampilan yang berbeda. Perempuan itu mengenakan baju dan celana panjang serta telah menghapus make-upnya. Dia kemudian kembali menaiki taksi menuju ke suatu tempat. Dan kali ini, taksi yang ditumpanginya mengantarkannya ke sebuah rumah sakit.
Dengan langkah tergesa, Renata masuk ke dalam bangunan rumah sakit tersebut. Meskipun jam besuk sudah berakhir, petugas medis yang berjaga di pintu masuk tetap memperbolehkannya lewat. Tampaknya sosok Renata sudah dikenal oleh mereka semua sampai diberikan akses yang tidak didapatkan oleh pengunjung yang lain. Hingga akhirnya, sampailah Renata pada sebuah ruang perawatan yang membuat langkahnya terhenti.
Renata menghela nafasnya beberapa kali untuk menetralkan gemuruh di dadanya, kemudian barulah membuka pintu ruangan tersebut. Sesosok bocah perempuan berwajah pucat tampak terbaring di brankar rumah sakit dengan selang infus terpasang di salah satu tangannya. Matanya terpejam, namum kemudian mengerjap lemah saat menyadari kedatangan Renata.