Alexander memerhatikan Kimbeerly yang terus menampakkan senyum manisnya dengan sorakan semua orang yang hadir. Ya … mereka melangsungkan pernikahan hari ini. Semua orang turut bahagia dan sekarang waktunya membuktikan bahwa mereka saling mencintai lewat sebuah ciuman. Alexander menarik pelan tengkuk Kimbeerly dan melayangkan ciumannya yang lantas dibalas oleh Kimbeerly.
Suara teriakan dan sorakan penuh kebahagian memenuhi aula pernikahan dengan Alexander yang lantas melepaskan diri. Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman. Alexander menggenggam jemari Kimbeerly dengan erat dan gadis itu yang terus menampakkan senyum menawan.
“Aku akan selalu mencintaimu.”
Alexander menoleh melihat Kimbeerly yang kembali tersenyum setelah mengatakan perasaannya kepada Alexander. Alexander hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu. Ia segera membawa Kimbeerly berjalan ke depan untuk menjamu para tamu mereka yang sudah datang.
Alexander menyorot pada dua orang yang tampak terharu di depan sana. Itu kedua orang tua Kimbeerly yang kini menampakkan senyum bahagia karena putri dan menantu mereka datang menemui setelah perubahan status yang baru saja terjadi. Alexander menampakkan senyum tipisnya setelah berada di hadapan kedua orang tua Kimbeerly.
“Selamat atas pernikahan kalian, Kimbeerly dan Alexander. Aku bahagia sekali melihat kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri.” Victoria bicara sembari memeluk putrinya dengan penuh kasih dengan sorot mata yang juga menatap Alexander di samping putrinya.
Jeremy tidak bicara. Ia terus memerhatikan putrinya yang terus menampakkan senyum lebar hari ini. Ia tidak menyangka bahwa putri satu-satunya dalam keluarga mereka telah memiliki pasangan sekarang. Apalagi dengan sosok Alexander yang mengenal mereka dengan singkat. Jeremy bukannya tidak menyukai perubahan status anaknya, hanya saja ia merasa ini terlalu cepat. Jeremy masih ingin melihat Kimbeerly bersamanya dan menjadi anaknya yang tidak pernah jauh dari mereka. Sayangnya, ini sudah jalannya.
“Ayah.”
Jeremy menampakkan senyumnya dengan anggukan sederhana. Ia menyambut putrinya dalam dekap hangat sembari merasakan hatinya yang sedikit tidak rela melepaskan Kimbeerly untuk diserahkan kepada Alexander. “Selamat atas pernikahanmu, Putriku yang cantik.”
Kimbeerly mengangguk menanggapi ucapan selamat dari ayahnya. Ia melepaskan diri dan menatap ayahnya yang baru saja mengusap air mata yang hampir keluar. “Kau jangan menangis, Ayah. Selamanya aku akan menjadi putrimu dan tak akan kemana-mana.”
Jeremy menggeleng. Ia kembali memeluk Kimbeerly. “Ayah hanya sedikit tidak rela putri satu-satunya dalam keluarga Libason sudah memiliki pasangan sekarang apalagi akan meninggalkan rumah.”
Alexander tersenyum miring mendengar penuturan Jeremy. Wajahnya begitu tenang tetapi tidak dengan sorot mata elang itu. Tidak ada orang yang akan memperhatikan bagaimana dirinya sebenarnya. Alexander pandai memasang wajah dan menempatkan diri.
“Ehem!”
Deheman Alexander lantas membuat pelukan Jeremy dan Kimbeerly terlepas. Kedua orang itu menatap Alexander sebentar sebelum akhirnya tertawa kecil. Menyadari bahwa orang baru tengah tersinggung dengan percakapan mereka.
“Jangan katakan kau cemburu dengan ayah dan putrinya itu, Alexander.” Victoria mengomentari ekspresi dan cara bertingkah Alexander dengan tertawa.
Alexander tersenyum tipis. “Seharusnya memang tidak, tetapi siapa yang tahu tentang perasaan manusia? Aku bahkan tidak bisa mengendalikannya untuk tidak cemburu meskipun aku tahu mereka adalah seorang ayah dan anak.”
Ketiga orang itu tertawa menananggapi ucapan Alexander. Pria itu benar-benar tahu caranya membuat suasana hangat. Jeremy juga selalu memandang Alexander sebagai orang yang cerdas. Pria itu tidak pernah terlihat berpikir tetapi ucapannya selalu sesuai dengan hal apa yang terjadi. Wajar saja jika putrinya terpikat dengan pria seperti ini. Alexander pandai melakukan apapun.
“Baiklah, baiklah. Maafkan ayah mertuamu ini yang tidak mengerti dengan perasaanmu. Aku akan menyerahkan putriku untukmu,” ucap Jeremy seraya menjauhkan diri dari Kimbeerly dan mendorong pelan putrinya untuk mendekat kepada Alexander.
“Itu bukan salahmu, Tuan Libason. Itu salahku karena tidak memahami bahwa kalian sedarah yang malah membuatku terlihat konyol dengan ungkapanku yang tadi. Maafkan aku membuatmu tersinggung.” Alexander berujar sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Orang tuamu tidak datang, Alexander? Aku tak melihat mereka sejak acara dimulai.”
Alexander menaikkan satu alisnya dengan wajah lesu. Merasa bersalah lalu berujar, “Mereka meminta maaf padaku sebelumnya karena harus menunggu nenek yang sedang sakit parah di rumah sakit. Sebelumnya aku datang bersama Ayah tetapi dia dengan sangat menyesal tidak bisa menghadiri pernikahan putranya sendiri karena harus pergi ke luar kota. Aku akan meneleponnya nanti dan mereka juga menitipkan salam kepada kalian.”
Victoria dan Jeremy saling pandang. Merasa aneh dengan ungkapan Alexander. Hampir tidak ada orang tua yang ingin mengabaikan hari bersejarah anak mereka, apalagi untuk anak semata wayang dan ungkapan Alexander membuat mereka tidak yakin dengan kebenaran yang ada.
“Alexander berkata yang sebenarnya, Ayah and Ibu. Mereka mengatakan permintaan maafnya padaku tepat sebelum kita menikah dan memperlihatkan keadaan nenek Alexander yang begitu kritis. Ayahnya juga sedang dalam perjalanan bisnis penting hingga tidak bisa ikut serta dalam acara pernikahan kita. Meskipun ada rasa kecewa tetapi aku memaklumi keadaan mereka.” Kimbeerly berujar karena melihat raut tidak percaya dari kedua orang tuanya.
Alexander. Pria itu mengangguk menyetujui ucapan Kimbeerly sembari menampakkan wajah bersalahnya. Sorot mata itu terus meneliti raut wajah Jeremy juga Victoria. Jelas sekali mereka masih merasa belum percaya dengan apa yang Kimbeerly katakan, tetapi mencoba menutupinya dengan senyuman tipis. Alexander tersenyum sinis lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sedangkan Kimbeerly yang melihat Alexander mengalihkan pandangan, merasa bahwa pria itu sedang menutupi rasa sedihnya. Ia mengelus lengan Alexander, bermaksud menenangkan lelaki itu dari rasa tidak nyaman dan suasana canggung saat ini. Alexander kembali menoleh dan menampakkan senyuman tipis kepada Kimbeerly.
“Baiklah, Ibu … Ayah … aku harus menyambut beberapa teman dan tamu yang hadir. Sebelumnya terimakasih telah memberiku selamat dan merestui hubungan kami. Kalian begitu berarti bagiku sampai kapanpun dan dimanapun. Ku pikir aku memang harus hidup dengan kedua orang tuaku yang hebat ini, tetapi justru aku malah beralih kepada Alexander untuk menuju masa depan. Putri kalian ini memang kurang ajar.”
Jeremy dan Victoria saling menatap sebelum akhirnya tertawa. Mereka mengangguk menyetujui Kimbeerly dan setelahnya, Kimbeerly membawa Alexander pada salah satu meja, dimana teman-temannya berkumpul dan menikmati hidangan yang tersedia.
“Selamat atas pernikahanmu, Kimbeerly. Aku tidak percaya kau akhirnya menyusul jejakku.”
Kimbeerly menanggapi dengan senyuman atas ucapan salah satu temannya.
“Apalagi lelakimu sangat tampan dan terlihat … berwibawa,” sahut yang lain.
“Kimbeerly yang polos tidak akan lagi ada setelah malam pertama mereka.”
Semua orang yang ada disekitar tertawa mendengar celotehan salah satu orang. Sebaliknya, Kimbeerly mengalihkan pandangan dengan wajah memerahnya juga Alexander yang tampak biasa saja. Seolah tidak peduli dengan apa yang teman-teman Kimbeerly katakan dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Getar ponsel membuat Alexander tersadar. Ia melihat sebentar ponselnya lalu membisikkan sesuatu pada Kimbeerly. Gadis itu terlihat murung sebentar sebelum akhirnya mengangguk menyetujui.
“Aku tidak akan lama, Baby.” Alexander berujar kembali dalam sebuah bisikan untuk menenangkan Kimbeerly.
Alexander segera beranjak pergi. Meninggalkan Kimbeerly bersama dengan teman-temannya yang juga terlihat penasaran dengan apa yang akan dilakukan pria itu hingga membiarkan istrinya sendirian. Kimbeerly hanya mampu melihat kepergian Alexander dan mencoba mengalihkan rasa sedihnya dengan bercanda bersama teman-temannya.
“Ku rasa suamimu bukan pria yang memiliki waktu panjang.”
Kimbeerly merasa tersinggung dengan ungkapan salah satu temannya namun ia membalas dengan gelengan pelan. “Dia memiliki banyak waktu, hanya saja mungkin itu lebih penting.”
Teman-teman Kimbeerly saling menatap dengan rasa penasaran yang tidak mampu mereka lontarkan. Biarkan itu menjadi rahasia bagi mereka sendiri lalu hilang begitu saja.
“Kau sedang dimana, bodoh? Aku menunggumu sejak satu jam tadi.”
Alexander sedikit menjauhkan ponselnya begitu suara teriakan nan melengking menerpa pendengarannya. Ia berdehem sebentar lalu mulai bicara. “Kenapa malah menungguku? Aku tidak berjanji menjemputmu jika kau lupa. Dasar!”
“Apa?! Kau melupakan perkataanmu sendiri? Dasar pria suka mengingkari janji. Katakan saja jika kau enggan menemuiku dan lebih memilih pekerjaan barumu itu.”
“Gunakan dasimu dengan benar, Alexander.” Kimbeerly berujar setelah memperhatikan penampilan suaminya dari ranjang luas yang ia baringi. Sedangkan Alexander berada di depan kaca seluruh badan sembari memasang jam tangan.
“Aku sibuk memasang jam tangan,” ujarnya yang lantas membuat Kimbeerly menyingkap selimutnya dan mendekat.
“Katakan saja kau malas membenarkannya dan butuh bantuan.”
Alexander hanya menanggapi dengan senyuman tipis lalu membiarkan Kimbeerly sibuk dengan dasi yang ia kenakan. Sorot mata itu terus menatap wajah cantik Kimbeerly. Alexander tersenyum dalam hati. Ia merasa sedikit bersalah dengan apa yang ia lakukan saat ini tetapi egonya memutus semua perasaan yang hadir. Alexander mengalihkan pandangan setelahnya.
“Selesai.”
Alexander melihat pantulan dirinya di depan cermin lalu tersenyum simpul. Ini hari pertama ia masuk dalam perusahaan. Kimbeerly sudah menyiapkan segala keperluannya dengan baik serta wanita itu yang terus menampakkan senyumnya. Harusnya Alexander ikut senang dengan hal itu tetapi sekali lagi, ia membatasi diri agar tidak berlebihan.
“Terimakasih,” ucapnya yang lantas mencium kening Kimbeerly sebelum keluar dari kamar mereka.
Alexander berjalan menuruni setiap anak tangga. Rumah mewah dengan segala perselisihannya. Alexander tertawa sinis dalam hati. Sorot matanya mengedar, meneliti setiap bagian dengan begitu rinci dan menyimpannya dalam memori ingatannya dengan baik.
Tidak lama lagi. Pikirnya.
Alexander menampakkan senyum saat matanya menemukan sosok yang begitu ia kagumi dan benci dalam satu waktu. Itu … ayah mertuanya yang kini sedang menyambut kedatangannya dengan penampilan baru.
“Kau cocok mengenakan apapun,” ujar Jeremy begitu Alexander berada di hadapannya.
Alexander tersenyum sembari mengangguk pelan. “Terimakasih atas pujian anda, Tuan Libason.”
“Baiklah. Kita harus segera pergi ke kantor untuk menyambut Presdir baru kita.”
Alexander kembali mengangguk dengan menampakkan senyumnya. Setelahnya, mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan satu sopir yang akan menyetir. Jeremy dan Alexander duduk dibagian belakang sembari berbincang-bincang mengenai sebuah pengalaman.
Alexander mencermati bagaimana Jeremy bicara dan bertindak. Ia sesekali menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk. Ya … hari ini pertama kali Alexander bekerja di perusahan milik Jeremy dengan status presdir. Status tinggi yang tentu saja ia dapatkan dengan trik yang ia mainkan dan sesuai dengan rencana yang ia susun sekian lama. Ternyata begitu mudah Alexander mendapatkan apa yang ia mau dengan usahanya yang tidak berhenti. Setiap usaha tidak akan menghianati hasil, begitulah kira-kira yang ia pikirkan.
Alexander mengingat betul percakapan antara dirinya dan Jeremy sebelumnya. Dimana pria baya itu mengatakan sendiri agar Alexander menggantikan dirinya sebagai pemimpin di perusahaan Libason setelah Alexander mengungkapkan pengalamannya bekerja di perusahaan. Untuk kali ini, Alexander memang memiliki pengalamannya sendiri tentang perusahaan.
Mulanya, Alexander hanya mengungkapkan ingin membangun sebuah perusahaan sendiri dan meminta pendapat Jeremy, tetapi pria itu tampak berpikir dan akhirnya memberikan sebuah lembaran surat tentang kepemimpinan perusahaan. Peralihan jabatan dari Jeremy ke Alexander yang begitu mengesankan bagi Alexander karena bisa mendapatkan apa yang ia inginkan lebih mudah dari bayangannya.
“Kau tidak ingin masuk ke dalam?”
Alexander menyadarkan dirinya dan menoleh. Menyadari bahwa mobil telah berhenti tepat di depan sebuah perusahaan besar dan pintu mobil yang telah terbuka untuk mereka keluar. Alexander menampakkan senyuman tipis dan mulai turun dari mobil bersama dengan Jeremy.
“Mari,” ajak alexander sembari mempersilahkan Jeremy berjalan lebih dulu sebelum ia mengikuti. Bagaimanapun sopan santun adalah hal utama yang harus diperlihatkan pada semua orang, meski itu orang terdekat sekalipun.
Jeremy dan Alexander berjalan masuk dengan beberapa karyawan yang lalu-lalang dan menyapa mereka. Ekspresi penasaran tentang apa yang terjadi sebenarnya begitu terlihat jelas dari wajah karyawan yang telah melihat kehadiran Alexander di perusahaan ini. Namun, Alexander tidak peduli. Ia mengabaikan semua pandangan dan ekspresi mereka yang tidak berguna baginya. Alexander hanya akan membuang-buang waktu jika memikirkan hal seperti itu.
Mereka memasuki lift untuk sampai di ruangan yang telah dipersiapkan. Sesekali Jeremy melihat Alexander dan pria itu yang terlihat tenang.
“Kau tidak terlihat gugup sedikitpun. Apa memang kau sudah terbiasa?”
Alexander menanggapi dengan senyuman. “Kau hanya tidak melihatnya, Tuan Libason. Aku sebenarnya sangat gugup apalagi dengan jabatan yang akan aku terima. Aku tidak bisa berpikir dengan baik sekarang.”
Jeremy terkekeh dengan jawaban polos Alexander. Ia menepuk pundak Alexander pelan sekedar untuk menenangkan menantunya itu, dan Alexander yang membungkukkan badan hormatnya kepada Jeremy. Setelahnya, mereka masuk ke dalam ruangan rapat. Dimana banyak orang-orang penting di dalamnya dengan sebuah meja bundar panjang di tengah-tengah. Jeremy mengajak Alexander duduk bersebalahan dengan orang yang menyambut dengan senyuman.
“Maaf karena telah membuat kalian menunggu.” Jeremy berujar tak lama setelah mendudukkan diri.
“Langsung saja. Seperti apa yang telah diberitahukan kepada kalian bahwa hari ini aku membawa seseorang yang akan khusus kuperkenalkan kepada kalian sebagai penggantiku. Memimpin kalian dan perusahaan ini yang semoga saja akan maju lebih banyak dari ini. Dia … Alexander Lemos. Menantuku sekaligus penggantiku.”
Tepuk tangan meriah memenuhi ruangan dengan beberapa orang penting yang sengaja dikumpulkan. Alexander telah diperkenalkan sebelumnya oleh Jeremy sebagai presdir baru dan disambut banyak orang penting dan hari inilah adalah perkenalan secara resmi dengan mempertemukan mereka dalam satu ruangan. Saling melihat dan berpendapat sendiri dengan apa yang baru saja mereka lihat.
“Kalian bekerjalah dengan baik dan bantu menantuku jika dia mengalami masalah karena sejatinya kekompakan itu akan membuahkan hasil yang lebih memuaskan,” ujar Jeremy yang disambut tepuk tangan lagi oleh mereka.
Alexander tersenyum. Menampakkan wajah ragu juga bahagianya di depan semua orang tanpa dicurigai sedikitpun. Pria itu tak sengaja melihat salah satu orang yang terlihat tidak suka dengan keberadaannya. Ia tersenyum maklum. Bagaimanapun banyak orang yang mengincar jabatan tinggi dalam suatu perusahaan, apalagi jika mereka memang bekerja dengan teliti dan hati-hati. Alexander sedikit kasihan tetapi ia masih lebih tidak peduli apa pendapat orang. Ia juga memiliki usaha sampai bisa di sini.
Alexander berdiri. “Tolong bantu aku dan kita bisa mencapai keberhasilan nantinya,” ujar Alexander lantas membungkukkan badannya dan disambut dengan tepuk tangan lagi oleh mereka yang ada di sana.
Semua orang mulai berhamburan keluar setelah Jeremy memberikan intruksi untuk bubar setelah perkenalan resmi ini kecuali satu orang. Itu pria yang terlihat tidak menyukai Alexander dan masih senantiasa berdiri di samping Jeremy di sebelah kiri.
“Ku harap kau juga membantu menantuku menjalankan perusahaan ini, Ed.”
Pria itu mengalihkan pandangan dari Alexander lalu kepada Jeremy. Ia menampakkan senyuman tipis dan anggukan dengan Alexander yang lantas mengalihkan pandangan. Juga tidak begitu menyukai pria ini yang sebenarnya adalah adik kandung dari Jeremy.
Manusia memang penuh dengan kemunafikan, batinnya.
“Tentu saja aku harus bekerja sama dengannya, Tuan Jeremy. Bagaimanapun dia juga keponakanku.”
Jeremy menepuk punggung Edward pelan dan mengangguk diiringi dengan senyuman. Sedangkan Alexander ikut tersenyum tipis.
“Baiklah. Edward akan mengantarkanmu ke ruanganmu, Alexander. Semoga saja kau betah bekerja di sini dan aku harap dengan adanya dirimu perusahaan kita menjadi lebih baik lagi.”
“Aku tidak boleh mengecewakan mertuaku, kan?”
Seminggu sudah sejak Alexander memimpin perusahaan El group’s yang merupakan perusahaan milik keluarga Libason. Sejak saat itu pula ia terus menelusuri tentang orang-orang yang sudah masuk dalam rencananya sembari meneruskan lakunya sebagai pengganti presdir. Waktu yang ia rencanakan memakan waktu sangat lama, maka ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bersantai dan menikmati. Ini belum seberapa dengan semua rencana yang ia susun. Perjalanan masih lumayan panjang dan Alexander berusaha keras agar tidak memakan banyak waktu untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan.
Tepat pukul satu siang, saat waktu istirahat. Alexander pergi dari ruangannya untuk makan siang, dan juga melihat salah satu orang dalam rencananya. Dia … salah satu anak buah kepercayaan Jeremy yang juga bekerja di perusahaan, tetapi khusus dibagian produksi dan hanya keluar ruangan saat jam makan. Alexander sudah memperhitungkan semuanya sejak awal, dan benar saja. Orang yang ingin ia temui baru saja keluar ruangan untuk pergi ke kafe perusahaan yang memang disediakan.
Alexander berjalan mendekat. Memperhatikan sosok itu dari belekang sebelum akhirnya ia menyapa lebih dulu.
“Selamat siang, Tuan John.”
Pria itu menoleh begitu namanya dipanggil seseorang. Ia menampakkan senyumnya setelah tahu bahwa itu adalah pemimpinnya dan sekaligus menantu dari Jeremy selaku boss-nya. “Ah, selamat siang juga, Tuan Lemos.”
“Apa anda akan makan siang? Jika benar ku pikir tidak ada salahnya kita makan bersama.”
John mengangguk menyetujui dengan senyuman lebar. “Ide yang bagus. Aku tak menyangka kau adalah pria yang begitu sopan dan baik hati. Aku kurang memperhatikan sekitar.”
Alexander hanya menanggapi dengan senyuman. Mereka terus berjalan menuju kafe perusahaan dan sesekali berbincang tentang pekerjaan. Sampai pada saat mereka akan memulai makan, Alexander berdehem yang membuat John menatap ke arahnya.
“Aku ingin bercerita disamping kita makan. Bisakah aku?” tanya Alexander meminta persetujuan John yang lantas mengangguk menyetujui.
Alexander tersenyum dan mulai menyendok makanannya. “Ku pikir ini cerita yang basi karena aku mendengarnya juga sudah sangat lama tetapi karena tidak ada yang pembahasan diantara kita, ku pikir tidak ada salahnya aku bercerita.”
Alexander masih saja merasa sungkan dengan apa yang akan ia ceritakan kepada John, sementara pria yang usianya jauh lebih tua dari Alexander itu melambaikan tangan. Bermaksud agar Alexander tidak perlu merasa sungkan dan santai saja.
“Ceritakan saja. Tidak perlu merasa sungkan. Lagipula kita perlu mendekatkan diri sebagai atasan dan bawahan. Bukankah begitu?”
Alexander mengangguk menyetujui. Ia lantas menyendok makanannya dan mulai makan pelan-pelan. Dilihatnya John yang juga mulai makan.
“Kejadian ini sudah sangat lama saat aku bertemu dengan temanku. Aku bertemu dengannya saat usiaku sepuluh tahun dan kami bertemu di sebuah taman.”
Alexander memulai ceritanya dengan sesekali kembali makan, dan John yang mendengarkan dengan suka rela.
“Dia bercerita padaku bahwa ia sudah tidak lagi memiliki orang tua karena sebuah kejadian. Di situ aku hanya diam dan mendengarkan saja. Dia bercerita bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh sekelompok orang di dalam rumah saat ia sedang bermain dengan teman-temannya dan menemukan kedua orang tuanya sudah tergeletak di lantai dengan banyak darah yang menggenang.”
John menghentikan aktifitasnya. Memperhatikan Alexander yang terlihat tenang menceritakan hal seperti ini dan juga John yang mengingat sesuatu tentang dirinya dan beberapa orang saat itu.
“Dia terlihat begitu sedih bahkan saat aku menawarinya sebuah roti dia hanya melihat tanpa berniat mengambilnya, padahal saat itu dia terlihat kelaparan dan tidak terawat. Dia juga bercerita bahwa sejak kejadian itu dirinya menjadi gelandangan dan hidup sesukanya. Tidak memiliki seorang pun untuk mendengarkan keluh kesahnya sebab ia tidak memiliki keluarga lain. Nenek dan kakeknya telah lama meninggal dan kedua orang tuanya juga dibunuh oleh sekelompok orang.”
John menundukkan kepalanya. Merasa bersalah meski ia tidak yakin apakah Alexander benar-benar memiliki teman seperti ini atau Alexander hanya mengada-ngada. Hanya saja, John merasa tidak asing dengan cerita ini dan apa yang ia lakukan di masa lalu. Jika cerita yang Alexander katakan ini adalah cerita dari anak dua orang itu, John sungguh merasa bersalah. Bagaimanapun juga ia masih memiliki perasaan kepada anak malang itu.
Alexander melihat sebentar ke arah John dan pria itu yang terus menundukkan wajahnya. Senyuman miring Alexander sunggingkan dan kembali melanjutkan ceritanya.
“Aku memintanya ikut bersamaku agar orang tuaku juga merawatnya, tetapi ia menolak dengan alasan ia tidak bisa berhenti memikirkan alasan dibalik dibunuhnya kedua orang tuanya. Ia hanya memiliki rumah peninggalan kedua orang tuanya dan tidak ingin pergi dari sana hanya demi mengingat kenangan tentang kedua orang tuanya. Setelah itu, dia izin pergi dan aku memintanya membawa roti yang sempat ia lihat. Kasihan sekali, tetapi aku tidak bisa berbuat banyak sebab aku sendiri tidak pernah merasakan hal itu.”
“Siapa nama temanmu itu? Bagaimana keadaannya?” tanya John mencoba menyembunyikan rasa penasarannya karena kasihan mendengar cerita Alexander.
Alexander menggeleng. “Aku tidak tahu siapa dia dan dimana dia saat ini. Aku hanya sekali bertemu dengannya saat berada di sebuah taman bermain. Dia begitu sedih dan aku tidak tahu harus berbuat apa karena aku sendiri tidak mengalami hal seperti itu. Hanya saja, aku merasa jika aku menjadi temanku maka aku akan membalas perbuatan orang-orang itu kepada keluarganya meski banyak resiko yang harus ia lalui.”
John melihat ke arah Alexander tidak percaya. Raut wajahnya tampak sekali ketakutan, tetapi juga berusaha menyembunyikan kebenaran. Ia tidak bisa membayangkan bahwa pemikiran Alexander bisa saja sama dengan pemikiran anak itu. Bisa saja anak itu kembali menampakkan diri dan membalas perbuatan mereka saat itu. John … ia harus berhati-hati mulai saat ini meski belum tentu anak yang Alexander ceritakan ini adalah korban dari kejadian masa lalunya.
Alexander mengedikkan bahunya dan ikut menatap John. Melihat pria itu yang terlihat sekali takut akan sesuatu tetapi Alexander tidak peduli. Ia mengalihkan pandangannya.
“Ku rasa dia hidup dengan baik sekarang. Aku juga tidak tahu pasti setelah pertemuan singkat kami waktu itu,” ujar Alexander dan kembali menata John.
John berdehem dan meminum kembali minumannya. Meneguknya kasar lalu meminta izin Alexander untuk pergi ke toilet. Sedangkan Alexander hanya diam dan memperhatikan kepergian John yang tiba-tiba. Senyumnya tersungging sinis dengan sorot mata elangnya yang terus menatap ke depan sana. Otaknya mulai berselancar dengan rencana-rencana yang akan ia lakukan setelah ini.
Alexander menghela napas pelan sebelum akhirnya beranjak. Meninggalkan area kafe dan berjalan menuju ruangan kerjanya karena waktu istirahat hampir habis. Mengabaikan John yang mungkin saja sedang berpikir tentang anak yang ia ceritakan itu dengan segala perasaan bersalahnya. Bisa Alexander lihat sendiri bahwa pria itu terlihat takut dan menyesali perbuatannya, tetapi memang nasi sudah menjadi bubur. Semua rencana Alexander tetap harus dijalankan apapun keadaannya.
Alexander memasuki ruangannya kembali. Mendudukkan diri di kursi dan membuka sebuah kotak yang selalu tersimpan rapi. Senyuman yang terus ia perlihatkan memudar dengan sorot mata elangnya menatap pada sebuah kertas yang ada ditangannya.
“Aku menemukan mereka.”