Pagi hari setelah melaksanakan kewajiban dua rakaat, Humaira beranjak menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan seperti biasanya.
Namun, ia tidak mendapatkan makanan sama sekali yang bisa dimasak.
Humaira tak kehilangan akal, ia pun pergi ke halaman belakang untuk mengambil ubi kayu dan mengambil daunnya untuk ia masak nanti.
"Bang, aku minta uang, enggak ada lagi persediaan makanan di dapur, semuanya telah habis, gas juga mau. habis," ucap Humaira kepada suaminya yang baru bangun tidur.
"Alah ! uang terus yang ada di otak Kamu, baru seminggu yang lalu aku kasih lima puluh ribu, sekarang sudah minta uang lagi, dasar boros ! " ucap Imron seraya pergi ke kamar mandi, untuk mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.
"Ya sudah, hari ini aku enggak bisa masak apapun, jangan salahkan aku," teriak Humaira, ia Jengkel menghadapi suami pelit seperti Imron.
Imron telah selesai mandi, ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor, dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja lengan panjang berwarna biru muda, dilengkapi dasi panjang dan sepatu kulit berwarna hitam.
Imron menyemprotkan minyak wangi ke beberapa bagian tubuhnya, wajahnya memang tampan, dan berhidung mancung, rambut nampak klimis, ia nampak berseri-seri.
Humaira merebus ubi, ia juga membuat secangkir kopi.
Imron telah siap, dan ia pun duduk di ruang makan.
"Huma ... ! Mana sarapan ? Sudah siang begini belum ada apa-apa di meja makan, dasar pemalas ! " teriak Imron, ia memukul meja makan.
Humaira datang membawa singkong rebus dan secangkir kopi panas.
"Ini sarapan!" hardik Imron, suaranya menggema memekakkan Indra dengar.
Imron melemparkan singkong yang ada di hadapannya, sehingga berhamburan ke lantai.
Humaira terkejut melihat pemandangan di depan matanya, segera ia membereskan kekacauan yang baru saja terjadi dengan air mata yang jatuh berlinang.
Imron hanya meminum seteguk air kopi, tanpa mempedulikan istrinya yang berada dihadapannya, ia segera beranjak menuju ke kamar untuk mengambil kunci motor.
"Kan' tadi sudah kubilang, enggak ada apa-apa lagi di dapur, yang ada cuma itu, makanya, Abang kasih aku uang !" ucap Humaira dengan suara parau, ia sangat kesal dengan sikap suaminya itu.
"Hari ini enggak ada uang belanja, lebih baik aku sarapan di kantor saja." jawab Imron.
Imron menghidupkan motor dan berlalu pergi begitu saja, tanpa pamit dan juga salam.
Bukan hanya sekali dua kali, Imron menyakiti hati Huma, namun ia bertahan demi mempertahankan rumah tangganya.
Tak lama kemudian, Humaira pergi ke warung Mpok Leha, walaupun dengan perasaan malu, ia memberanikan diri untuk berhutang.
Sementara Imron sedang menikmati sarapan pagi di warung nasi dekat dengan tempat kerjanya.
Ia menyantap nasi uduk buatan Bik Jum yang terkenal sangat enak dan nikmat, dengan begitu lahapnya.
"Mpok ! Apa boleh Saya ngutang dulu ? Beras satu kilogram, gas, dan tempe satu saja ! " ucap Humaira penuh harap.
"Ngutang terus kamu Huma, yang kemaren saja belum di bayar, ini sudah mau nambah ! " Jawab Mpok Leha kesal.
"Nanti kalau sudah ada rejeki, saya bayar Mpok,
" balas Huma memelas.
"Oke ! Aku beri waktu seminggu, harus sudah Kamu lunasi semuanya," ucap Mpok Leha.
"Baik Mpok, akan saya usahakan" balas Huma.
"Pokoknya aku enggak mau tahu, jangan cuma janji-janji saja, ingat itu !" Seru Mpok Leha.
"Baiklah Mpok Insya Allah ! Saya akan bayar semuanya," jawab Humaira.
Akhirnya Huma pun pulang dengan belanjaan yang tak seberapa itu, asal bisa mengganjal perut suaminya malam nanti.
Humaira segera membereskan rumah, menyapu, ngepel, mencuci baju dan memasak tempe sedikit, sisanya mau dimasak sore nanti menjelang Imron pulang.
Setelah sarapan, Humaira berkeliling kampung, untuk menawarkan jasa mencuci baju, menyetrika, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Setelah seharian berkeliling, sudah ada seratus ribu rupiah, ada sekitar lima rumah yang memakai jasanya, dari sekian banyak yang ia datangi.
Sebelum pulang ke rumahnya, Humaira membayar utang ke warung Mpok Leha terlebih dahulu.
"Ini Mpok utangku yang tadi, sekalian sama yang kemarin."
Humaira menyerahkan selembar uang merah kepada Mpok Leha.
"Tumben lu, cepat banget bayarnya, nih kembaliannya."
Mpok Leha menyodorkan uang kembalian sebesar dua puluh ribu rupiah.
"Iya, Sudah ada rezekinya Mpok ! "
Humaira tersenyum, ia pun mengambil uang kembalian yang diberikan oleh Mpok Leha dan berlalu pergi.
Sesampainya di rumah, Humaira membersihkan badannya kemudian melaksanakan kewajiban empat rakaat di sore hari, lalu ia beranjak ke dapur untuk memasak.
Humaira mengolah tempe tadi menjadi tempe goreng tepung, dan menumis bunga pepaya yang tadi dipetiknya dari depan rumah.
Halaman rumah yang tidak seberapa luas itu, Humaira manfaatkan dengan bercocok tanam.
Ia menanam pepaya, berbagai jenis cabe, kacang panjang, ubi kayu, bayam, dan aneka rimpang seperti jahe, kunyit, lengkuas, dan lain-lain.
***
Tin...
Tin...
Imron membunyikan klakson, suaranya mengagetkan Humaira yang sedang termenung, iya bun bergegas menuju ke halaman untuk membuka untuk membuka pintu pagar.
"Lama kali kau membukakan pintu pagar, ngapain saja kau?" hardiknya.
"Maaf, Bang!" jawab Humaira.
"Sudah sana siapkan air hangat buat mandiku, habis itu siapkan makanan, sudah lapar aku," ucap Imron.
"Iya, Bang tunggu sebentar."
Humaira bergegas ke dapur untuk memasak air hangat dan menyiapkan makanan untuk suaminya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Imron menuju ke ruang makan, dan membuka tudung saji.
"Makanan apa pulak ini? Tak' mau aku makan, enggak selera aku, suami capek pulang kerja, ini yang kau suguhkan buat aku, dasar istri enggak guna."
Dengan kasar imron membalikkan meja makan dengan penuh emosi, sehingga berhamburan semua makanan yang ada di situ.
Humaira terkejut melihat semua itu, air matanya jatuh berderai, tak sanggup rasanya ia berkata apapun lagi.
Pengorbanan nya selama ini tidak pernah dihargai oleh suaminya.
"Itulah yang Kau bisa, kerjaannya cuman nangis terus, kalau begini caranya, lebih baik kita masing-masing," hardik Imron.
"Hari ini, detik ini juga, Kau aku talak wahai Humaira Salsabila," tekan Imron.
" Benarkah apa yang kamu ucapkan itu bang?" ucap humaira dengan terisak.
"Kenapa semudah itu kau ucapkan kata itu Bang? Tak bisakah kita perbaiki semuanya," imbuhnya lagi masih tersedu.
"Alah merengek pula kau, sudah tak mempan aku, sekarang juga kau angkat kaki dari rumahku dan jangan bawa apa-apa selain baju-baju butut kamu," ucap Imron kian meradang.
"Baiklah, jika itu keinginanmu, aku akan segera bersiap."
Humaira segera mengemasi barang-barangnya, sebelum pergi ia menyempatkan untuk sholat Maghrib terlebih dahulu.
"Alah pake sholat dulu, kelamaan," ucap Imron begitu melihat Humaira sedang sembahyang.
'Kurasa tiada guna aku bertahan, apalagi harus memohon, sudah seringkali dia menyakiti hatiku seperti ini, namun aku tetap bertahan dan bersabar, mungkin perpisahan ini lebih baik daripada saling menyakiti perasaan, atau tidak adanya kenyamanan kedua belah pihak.' batin Humaira.
"Sudah sana pergi, engga usah drama..." usir Imron.
"Nanti surat cerai nyusul, akan aku kirimkan ke rumah orang tuamu" ucapnya lagi.
Humaira segera beranjak pergi, tak mau lagi berlama-lama, karena percuma saja memohon, untunglah aku belum memiliki anak dengan nya.
Ketika ia hendak membuka pintu, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depan pintu, dalam hati Humaira bertanya-tanya, siapakah wanita dihadapannya itu.
"Laras..." Pekik Bang Imron kaget.
"LARAS? Siapa dia Bang?" tanya Humaira.
"Dia pegawai baru di perusahaanku," jawab Imron.
"Ngapain kamu kesini? Kan bisa urusan kantor diselesaikan besok saja," ujar Imron.
"Aku kesini mau menanyakan kejelasan hubungan Kita," Laras menatap Imron tajam.
"Aduh, apa pula kamu ini," balas Imron yang mulai gusar.
"Ini, coba lihat!"
Laras menyerahkan selembar kertas surat pernyataan dari dokter kepada Imron.
"Kamu hamil?"
Imron terkejut melihat surat pernyataan dari dokter yang diberikan oleh Laras.
"Oh! Jadi begini kelakuanmu di luaran Bang! Baiklah sudah jelas semuanya sekarang,"
Humaira mulai tersulut emosi.
'Pantas saja dengan mudahnya ia mengucapkan kata talak,' batin Humaira, ia pun segera berlalu pergi, tak mau lagi berlama-lama melihat suaminya yang pelit bersama selingkuhannya.
"Dan jangan lupa, aku tunggu surat cerai darimu" ucap Huma sambil menahan air matanya agar jangan sampai terjatuh di depan mereka.
"Baguslah! Tidak ada lagi halanganku untuk mendekati Bang Imron," ucap Laras dengan penuh kemenangan.
Humaira pun menghentikan langkahnya kemudian menoleh dan berkata, "Baiklah silahkan kalian bersenang-senang kalian memang cocok dan serasi."
Humaira mengatur nafas agar tak meledak kemarahannya itu.
Humaira selalu diam bila selama suaminya marah atau berbuat kasar kepadanya, tapi tidak untuk sekarang, ini tidak bisa dibiarkan.
"Kau!"
Imron menghampiri Humaira, ia hendak menamparnya, dengan cepat Humaira menghindar, sehingga tamparannya meleset.
"Tak kubiarkan lagi kamu menyakitiku, Bang ! aku sudah bukan istrimu lagi," ucapnya.
Humaira pun berlalu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, ia meninggalkan rumah penuh duka itu.
Ternyata, ada beberapa kamera yang mengabadikan kejadian barusan, beberapa tetangga di sekitaran komplek rumah kami, karena mereka mendengar kami ribut-ribut.
"Apa ini, kalian bubar semua..." ucap Bang Imron kepada tetangga yang selalu ingin tahu urusannya itu.
"Hu... ! " teriak mereka kompak
"Eh ! Bang Imron, enggak baik berduaan dengan wanita yang bukan muhrim," ucap Bu Romlah.
"Ayo ibu-ibu kita usir wanita ini, sebelum terjadi yang tak diinginkan," ucap yang lain.
"Eh... Eh apa-apaan ini engga bisa, aku ini calon istri Bang Imron, kalian ga bisa seenaknya" ucap Laras
"Dasar pelakor tak tau malu" ucap yang lain.
Next
_____
Dengan bersusah payah, akhirnya Humaira berhasil keluar dari kerumunan para tetangga di sekitar halaman rumahnya yang sedang beradu mulut, ia sudah tak mempedulikan lagi semua itu.
Humaira berjalan menyusuri komplek perumahan di dekat rumahnya, yang mungkin tidak akan pernah lagi ia akan kembali.
Humaira berjanji di dalam hatinya, ia tidak akan mengharapkan harta apapun dari mantan suaminya yang sangat pelit itu, Ia ingin membuktikan kalau ia juga bisa mandiri dan sukses walaupun tanpa bantuan dari Imron.
Malam semakin larut, Humaira masih berada di jalanan, ia terus melangkah menyusuri jalan di sekitar komplek perumahan yang tidak begitu jauh dari rumah yang pernah tempati bersama Imron, yang kini telah menjadi mantan suaminya.
Dengan bermodalkan uang sebesar dua puluh ribu rupiah, sisa upah hasil kerjanya tadi siang, menjadi pegangannya untuk saat ini.
Humaira terus berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti, ia sebenarnya sangat kebingungan, karena untuk ongkos pulang ke kampungnya yang berada di luar kota, jelas tidak akan cukup.
Humaira tertunduk lesu, sesekali ia mengusap air mata di wajahnya dengan saputangan berwarna merah muda.
Sepanjang perjalanan Humaira senantiasa berdoa dalam hati agar dilindungi dan dijauhkan dari segala macam marabahaya.
Kakinya telah lelah untuk melangkah, ia ingin beristirahat sejenak di warung yang berada di seberang jalan yang baru saja tutup.
Humaira menoleh ke arah kiri dan kanan sambil menyeret kopernya, namun ketika ia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba, dari arah sebelah kiri jalan, melintas sebuah mobil Xenia berwarna hitam.
Angga yang sedang asyik melakukan panggilan telepon di dalam mobil tersebut, ia sangat terkejut melihat seorang wanita yang sedang menyebrangi jalan
Angga membanting setirnya ke arah yang berlawanan demi menghindari wanita yang berada di depannya, namun sisi mobil sedikit menyentuh tubuh Humaira, sehingga ia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Angga segera membawa Humaira ke rumah sakit terdekat dibantu oleh beberapa warga yang kebetulan melintasi jalan tersebut.
Sesampainya di rumah sakit humaira segera ditangani oleh tim medis.
Angga berjalan mondar mandir di depan ruangan tunggu tempat Humaira sedang dirawat,
Ia mencemaskan keadaan wanita yang baru saja ditabraknya itu, berkali-kali ia mengintip ke dalam melalui sela-sela kaca jendela yang tertutup gorden.
Angga mengeluarkan gawainya untuk melakukan sambungan telepon, ia ingin mengabarkan keluarganya.
["Halo! Assalamualaikum Rani! Mas Angga enggak bisa pulang hari ini, lagi ada musibah,"] ucap Angga.
["Besok kalau sempat ajak ayah sama ibu pergi ke rumah sakit ya?"] imbuhnya lagi.
["Siapa yang sakit mas Angga?"] tanya Rani.
"[Mas nggak tahu siapa namanya, mas hampir saja menabrak orang, sekarang sedang menunggunya sadar, dia pingsan,"] balas Angga.
["Baiklah Mas! Besok aku ajak ayah sama ibu ke rumah sakit,"] ucap Rani.
["Iya, Mas tunggu. Assalamualaikum,"] balas Angga.
["waalaikumsalam."] Rani memutuskan sambungan telepon.
***
Keesokan harinya
Setelah semalaman Humaira pingsan, pagi harinya humaira terbangun, ia melihat ke sekeliling ruangan sambil memicingkan matanya.kemudian ia berusaha untuk duduk, tapi ia masih merasakan sakit di kepalanya.
"A.. aku di.. dimana ini." Humaira sambil memegang kepalanya.
"Eh, kamu sudah siuman, " balas Angga.
"Kamu siapa?" Humaira bertanya.
"Kenalkan Aku Angga, maaf aku yang membawamu kesini, tadi malam kamu kecelakaan," balas Angga.
"Kamu gimana keadaannya? Apa sudah mendingan?" tanya Angga.
Beberapa saat kemudian, dokter pun datang bersama perawat. Kemudian memeriksa humaira.
"Keadaannya sudah mulai membaik, tinggal lecet-lecet sedikit, kalau nanti siang sudah kuat, sudah boleh pulang." ucap dokter, kemudian ia berlalu pergi untuk memeriksa pasien yang lainnya.
"Baik Dok," jawab Humaira.
Dalam hati, humaira merasa bingung, akan kemana ia setelah ini.
"Udah jangan bengong, nanti aku antarkan pulang. O ya, rumah kamu dimana? Atau ada keluarga kamu yang bisa dihubungi enggak?"
"Keluargaku jauh ada di kota lain," jawab Humaira, ia masih enggan menceritakan padanya kalau ia meninggalkan rumah.
"Tak apa, biar aku antar," ucap Angga dengan tulus.
"Terima kasih, tidak usah repot-repot," jawab Humaira sungkan.
"Nggak apa-apa, nggak repot juga, sudah seharusnya aku bertanggung jawab" ucapnya lagi.
"Terima kasih banyak Angga," imbuh Humaira.
"Iya, sama-sama, aku juga minta maaf sudah membuat kamu jadi begini, untung kamu enggak kenapa-napa," ucapnya.
Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka, terlihat keluarga Angga memasuki ruangan rumah sakit, tempat Angga dan Humaira berada.
"Rani!" ucap Humaira terkejut, netranya membulat melihat kedatangan Rani.
"Huma!" balas Rani tak' kalah terkejutnya, ia sama sekali tidak menyangka, kalau orang yang ditabrak oleh kakaknya ternyata sahabatnya sendiri.
"Loh! Kalian sudah saling kenal" Angga menatap Humaira dan Rani keheranan.
"Iya, Huma ini teman kerjaku dulu waktu di catering" jawab Rani.
"Tapi setelah menikah, saya sudah tak bekerja lagi," sela Humaira.
"Apa kabar, Ran? Masih kerja di catering kah?" tanya Humaira.
"Alhamdulillah kabar baik, aku sudah tidak kerja lagi disitu, Huma. Sekarang aku sedang merintis usaha catering sendiri," balas Rani.
"Alhamdulillah, semoga sukses ya Ran?" ucap Humaira.
"Aamiin.," balas Rani.
"Om, Tante, " Humaira bersalaman dengan kedua orang tua Angga yang baru saja masuk.
"Gimana keadaannya, Nak apa sudah baikan," tanya Rena seraya menatap Humaira.
"Huma, Tante! Alhamdulillah sudah mendingan. Kata dokter siang ini sudah boleh pulang," Humaira menyalami Rena.
"Keluargamu apa sudah diberitahu, Nak" ucap Om Burhan
"Belum Om, keluarga saya jauh, disini saya tinggal dengan suami saya, tapi baru saja kami bercerai" ucapku dengan berderai air mata, malu sebenarnya jika harus jujur, tapi aku tak tau harus bagaimana, mengingat keluarga ku jauh, dan uang pun tak punya.
"Kamu sudah bercerai dengan Bang Imron?" Rani membulatkan netranya, ia sangat terkejut mendengar Humaira dan Imron sudah bercerai, menurutnya mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
"Kasian sekali kamu Huma, tinggal di rumahku saja dulu, ya kan Ma, Pa?" imbuhnya lagi.
"Iya, sementara kamu dirumah kami dulu," ucap Om Burhan.
"Terimakasih Om, Tante tapi saya tidak mau merepotkan kalian," ucap Humaira, ia merasa terharu.
"Tidak merepotkan kok, nak Huma, biar kamu tinggal bersama kami sementara waktu, setelah keadaannya membaik dan benar-benar pulih, baru pulang kampung,"
"Baiklah Om, Tante, terimakasih banyak atas kebaikan keluarga Om," ucap Humaira.
"Iya sama-sama," balas Om Burhan Tante Rena.
"jangan sungkan ya, anggap kami sebagai keluargamu juga," ucap Tante Rena lagi.
"Iya Tante, terimakasih untuk semua kebaikan keluarga Om dan Tante" jawab Humaira terharu, kebaikan keluarga Angga mengingatkan ia kepada keluarganya di kampung
"Ayo kita siap-siap, sebentar lagi kan' kita mau pulang," ucap Angga menyadarkan Humaira yang sedang melamun.
Rani dan Tante Rena membereskan barang-barang milik Humaira, sementara Om Burhan pergi ke bagian administrasi rumah sakit.
Angga membantu mengangkat barang-barang milik Humaira ke mobil milik Om Burhan.
Suster pun datang memeriksa keadaan Humaira terlebih dahulu, sebelum mereka pulang.
"Sebelum pulang makan dulu lalu minum obatnya ya?" ucap suster.
"Dan ini resep dokter yang harus ditebus, untuk beberapa hari kedepan setelah obatnya habis, cek lagi kesini ya" ucap Suster dengan ramahnya.
"Baik, Suster terimakasih" jawab Humaira.
Setelah makan dan minum obat, mereka pun pulang, Humaira ituntun oleh Rani dan Tante Rena.
"Huma...!" seseorang berteriak memanggil Humaira ketika ia sedang berada di area parkir.
Next
"Huma" seseorang berteriak memanggil Humaira ketika ia sedang berada di parkiran.
Humaira yang sedang berjalan dipapah oleh Rani dan Tante Rena, seketika menoleh ke arah belakang, ia mencari sumber suara, yang sepertinya sudah tidak asing lagi baginya.
"Eh Maya, apa kabar May? kamu ngapain di sini?" Jawab Humaira. Maya adalah tetangganya dari kampung, rumah mereka saling berhadap-hadapan.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" Maya kembali bertanya.
"Ceritanya panjang, lain kali saja ceritanya ya?" jawab Humaira.
"Kamu kok semakin kurus aja sih, Hum?" Maya memperhatikan Humaira dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Mendengar hal itu, Humaira hanya tersenyum kecut, ia teringat kembali dengan kehidupan rumah tangganya bersama Imron.
"O iya! Maya, kenalin ini Tante Rena, Om Burhan, Angga, dan ini Rani" lalu mereka pun bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Kamu ngapain sih kesini? Siapa yang sakit?" tanya Humaira.
"Aku enggak sakit kok, cuma mau medical check up, buat lamaran kerja ke Jepang," jawab Maya.
"Wah hebat kamu May, syukurlah kalau kamu enggak sakit, semoga hasilnya bagus ya," balas Humaira.
"May, gimana keadaan keluarga di kampung?" tanya Humaira.
"Alhamdulillah, sehat-sehat semuanya," balas Maya.
"Kamu kapan mau pulang kampung, Huma? Sejak menikah, belum pernah pulang kampung," tanya Maya.
"Nanti pulangnya, tunggu baikan dulu," jawab Humaira.
"Huma, aku minta nomor handphone kamu, dong?" pinta Maya.
"Waduh! Aku enggak punya handphone" jawab Humaira jujur, selama menikah dengan Imron, jangankan handphone untuk makan saja susah.
"Sini, simpan di handphone aku saja," sela Rani, seraya mengeluarkan gawainya.
Setelah saling menyimpan nomor handphone, mereka pun berpisah.
Humaira dan Angga sekeluarga menaiki mobil Burhan, yang pun melaju dengan kecepatan sedang.
***
Setelah berpisah dengan Humaira di parkiran, Maya memasuki rumah sakit, ia menuju ke ruangan Dokter Sheila, seorang dokter muda yang cantik yang akan memeriksaku, beliau seorang dokter umum, sebenarnya Maya sudah check up beberapa hari yang lalu, sekarang ia akan mengambil hasilnya.
'Semoga semua baik-baik saja, aamiin.' batin Maya.
"Maya Sofia" ucap perawat memanggil namanya.
Maya bergegas masuk, sepintas ia melihat Laras' masuk ke ruangan Dokter kandungan.
'Laras? Ngapain dia kesitu' batin Maya, ia merasa keheranan tapi dipedulikannya, karena Maya sudah dipanggil oleh perawat.
Maya segera masuk ke ruangan yang dipanggil Suster tadi.
"Silahkan Mba!" ucap Dokter Sheila tersenyum manis menampakkan lesung pipi nya.
"Jadi gimana hasil Check up saya Dok?" tanya Maya yang duduk di depannya.
"Semuanya baik, tapi masih ada yang harus di check ulang untuk memastikannya lagi, di sini ada kista, tapi masih sangat kecil, sementara saya akan memberikan resep, nanti seminggu kemudian kita check lagi ya," tuturnya.
"Kista?" ucap Maya kaget.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir, masih bisa sembuh, diminum saja obatnya dan jauhi pantangannya." ucap dokter memberikan semangat.
"Baik Dok, terimakasih," jawab Maya sambil menerima resep dan bergegas pergi menuju ke apotek rumah sakit.
***
'Laras mana ya tadi?' batin Maya.
Ngapain dia ada tadi di dokter kandungan? Dia kan belum menikah? batinnya lagi.
"Maya Sofia!" Petugas apoteker memanggil Maya, ia pun segera beranjak mengambil obat dan bergegas meninggalkan rumah sakit.
"Maya!" Seseorang memanggil Maya ketika ia telah sampai di parkiran.
"Eh Laras, ngapain disini?" tanya Maya
"A aku... cek kesehatan," jawab Laras gugup.
"Ooh!" jawab Maya singkat, namun dalam hatinya ia kurang puas dengan jawaban Laras', ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Laras'.
"Laras', masih ada lowongan kah di tempat kerjamu?" tanya Maya.
"Aku rencananya mau ikut tes kerja ke Jepang, tapi kondisiku masih harus dipulihkan dahulu, mana tau enggak lulus ke Jepang, bisa aku ikut kerja di tempat kamu," ucap Maya
"Belum tau juga, mungkin kalau Office Girl ada sepertinya, coba besok datang temui satpam di tempatku bekerja" jawab Laras.
"Baiklah, terimakasih informasinya ya" jawab Maya.
"By the way kamu mau kemana sekarang?" tanya Maya.
"Aku sedang menunggu jemputan.
Eh Maya Minggu ini kamu datang ya ke acara pernikahanku, cuma syukuran saja, enggak banyak undangan, hanya keluarga dan teman-teman dekat saja," ucapnya antusias.
"O ya! Selamat ya? Iya Insyaallah aku datang," jawab Maya.
"Ya sudah, aku pulang duluan ya!" Maya menaiki ojeg online, yang tadi dipesannya melalui aplikasi.
"Ok, see you" Laras melambaikan tangannya.
Selepas kepergian Maya, beberapa saat kemudian datanglah Imron menjemput Laras, Lalu mereka berdua pergi menuju rumah makan yang tak jauh dari rumah sakit.
"Bang, kok lama banget jemput nya, pegel tau! Mana lapar," ucap Laras sambil mencebikan mulutnya.
"Macet Dek! Ayolah kita makan sudah lapar kali ini pun, enggak ada makan apa-apa dari tadi pagi Abang,"
Mereka mencari rumah makan yang tidak jauh dari rumah sakit.
Imron melambaikan tangannya memanggil pramusaji restoran.
Setelah makanan tersedia di meja makan mereka pun makan dengan lahapnya terutama Imron.
"Bang, jadi kan acara kita Minggu ini? Orang tua Abang datang kah?" tanya Laras.
"Terus siapa siapa aja yang diundang?" imbuhnya lagi.
"Mungkin hanya saudaraku yang disini saja yang datang, beberapa teman dekat dan tetangga sekitar saja," jawab Imron.
"Aku sudah mengundang beberapa teman dekat, kalau keluargaku di Jambi hanya doa saja, enggak bisa datang katanya," Laras berbicara dengan mulut yang belepotan.
"Jorok kali Kau! Lap dulu tuh mulut! Belepotan makannya macam anak kecil" ucap Imron yang telah selesai makan.
"Ish! Abang, bersihin napa'? Biar romantis macam di film-film, " ucap Laras' sambil me-lap mulut dan menyelesaikan makannya.
"Halah tak payahlah, tak suka aku macam itu," balas Imron.
"Habis ini kita ke butik ya Bang, kita cari dulu baju pengantin buat kita" ajak Laras.
"Enggak usah Butik-butik deh, kita sewa aja dari tukang rias nya nanti, biar murah sedikit." Imron menghidupkan motornya.
"Pelit sekali sih Bang!" ucap Laras.
Imron menghidupkan motornya, kemudian segera melaju membelah kota Jakarta menuju ke tempat kost Laras.
"Hei Laras, lama sekali baru sampai, jalan-jalan dulu ya?" tanya Maya yang sedang duduk-duduk di depan kost-an nya, mereka tetangga kost beda kamar.
"Iya nih, kami makan-makan dulu," ucapnya sambil bergelayut manja di lengan Imron.
Tiba-tiba handphone Maya berdering.
"Halo, eh Huma ya? Gimana sudah baikan? Kapan mau pulang?" ucap Maya sambil masuk menuju kamarnya.
"Hah... Huma?" Dalam hati Imron dan Laras'.
"Beda orang mungkin Dek!" bisik Imron.
"Ah iya mungkin Bang! Huma kan bukan cuma dia saja" timpal Laras.
"Okelah Abang pulang dulu lah ya" ucap Imron kepada Laras.
"Baiklah, hati-hati di jalan Bang!" ucap Laras.
Imron hanya membalas dengan senyuman sambil melajukan motornya.
NEXT