“Ma ....”
“Tidak!”
“Ma, biarkan aku menyelesaikan dulu ucapanku!”
“Tidak! Mama bilang sekali tidak ya tidak!” Gloria Liem menyentak. Nada bicaranya kian tinggi dan ketus.
Gabriel mengusap wajah piasnya yang terasa kebas. Skenario ini memang sudah dipikirkannya sejak tadi, sebelum dia datang ke rumah ini. Pasti jelas keluarga besar takkan setuju atas keputusan yang diambilnya. Seharusnya Gabriel juga tidak perlu datang ke sini, malam ini. Buat apa? Buang-buang waktu saja. Toh, pada akhirnya, tetap saja—Mama, Papa, Cici dan adiknya takkan setuju dengan hal ini.
Rencana meminta restu buat menikahi perempuan muslim sebaik dan secantik Nadya, pilihan Gabriel bukanlah perkara mudah. Nyatanya, dia takkan pernah dapat restu dari kedua orang tuanya. Sejak awal mereka memang tidak pernah menyukai Nadya. Bagi keduanya, Nadya hanyalah penghambat masa depan Gabriel.
Gabriel melirik Nadya yang duduk di sebelahnya. Gadis itu meremas lutut. Mukanya kelihatan tegang, menahan segalanya. Mulai dari rasa takut, gugup, berdebar dan bergetar hingga panas dingin karena ujung-ujungnya rencana minta restu untuk menikah tidak dikabulkan. Gagal total. Tidak sesuai harapan.
Gabriel menatap Liem Ko-en—Papanya, kemudian. “Pa ..., tolong izinkan aku menikahi Nadya!”
Koen Liem menggeleng. “Tidak, Gabriel. Kami tidak akan merestui pernikahan kalian. Kamu seharusnya tahu kalau sejak awal kami tidak akan pernah setuju dengan rencana ini!”
“Tapi aku mencintai Nadya, Pa!” Gabriel menekan kata-katanya. Dia menegaskan bahwa tidak ada wanita yang lebih baik daripada Nadya saat ini untuk menjadi calon istrinya. Tidak akan pernah ada!
“Cinta macam apa yang berani menentang restu orang tua, Iyel? Cinta macam apa, itu?” Gloria berseru kesal. “Kalau kamu mencintai dia dan dia mencintai kamu, seharusnya kalian mengerti kalau kalian tidak akan pernah bersama. Perbedaan agama yang kita anut akan jadi penghalang besar dalam perjalanan rumah tangga kalian. Seharusnya kamu paham itu!”
Gabriel menggeleng, muka tegangnya kian memerah. “Tidak, Ma. Ini tidak akan menghalangi kami. Aku ....”
Gabriel menelan ludah tercekatnya sekali, ditatapnya wajah kedua orang tua. Gloria sejak tadi menahan tangisan dan kesal bersamaan, kemudian Koen Liem diam tidak bersuara karena dia bosan mendengar perdebatan soal pernikahan yang tidak kunjung berakhir sejak berminggu-minggu lalu. Cici Gina dan Gamaliel hanya memerhatikan, tidak sanggup berkomentar sejak tadi. Lagi pula, kata-kata apa yang hendak mereka katakan malam itu.
Tak ada. Sebab suara mereka takkan diterima oleh Gabriel. Saat ini yang pria itu butuhkan adalah restu dari Koen Liem dan Gloria. Itu saja. Tidak banyak. Dia juga tidak datang ke rumah ini karena menuntut harta warisan. Jauh dari itu semua, Gabriel tidak butuh harta.
“Aku telah pindah keyakinan. Aku yakin aku akan menikahi Nadya. Jadi aku memutuskan akan masuk ke dalam agama Islam, meninggalkan kepercayaan keluarga kita!” Gabriel melanjutkan ucapannya. Jelas ketika dia mengatakan itu, reaksi pertama orang-orang yang menatapnya adalah terkejut bukan kepalang.
“Apa?” Gloria berteriak lantang. Lantas reflek berdiri. “Apa kamu gila, Gabriel? Kenapa kamu melakukan itu, hah? Kenapa hanya mau menikahi dia, kamu sampai-sampai meninggalkan agama kita. Kamu tahu Gabriel, kita adalah penganut agama Kristen yang taat. Tidak sepatutnya kamu meninggalkan semua ini hanya karena ingin bersama dia. Kamu benar-benar bodoh, Gabriel!”
“Ma .... Jika itu satu-satunya cara supaya aku bisa menikah Nadya, maka itu cara satu-satunya juga yang harus aku lakukan agar bisa bersama dia. Aku yakin atas keputusan yang aku ambil sekarang!”
“Di luar sana banyak wanita yang jauh lebih baik dari Nadya, Gabriel. Banyak! Bahkan kalau kamu mau, kamu bisa memilih satu-persatu. Theresia juga adalah pilihan yang terbaik. Tapi tidak dengan perempuan ini! Mama bilang ya, dia memang cantik. Dia baik. Dia berpendidikan. Dia masuk tipe keluarga ini sebagai calon menantu. Mungkin dia menantu idaman buat para mertua di luar sana. Tapi latar belakang agama kita beda, Gabriel! Maka dari itu Mama tidak akan pernah setuju dengan rencana kamu yang tolol ini!”
“Ma ...!”
“Keluar!” Gloria berseru marah. Amarahnya saat ini benar-benar menggebu tak tertahan. Bahkan suasana terasa mencekam manakala dia tidak bisa menahan emosi.
Sekali lagi Gabriel mengusap wajah piasnya yang terasa kebas. Beginilah jadinya jika dia berusaha meminta restu. Alih-alih dapat restu, dia malah dimaki dan diteriaki kasar. Hal paling tidak enak didengar ini memang sudah Gabriel pikirkan sejak berhari-hari lalu.
“Pa ....” Gabriel kembali menatap Koen Liem, berharap ayahnya itu bisa menerima keadaan ini. Sayangnya, jawaban Koen Liem masih sama. Dia setuju dan sepemikiran dengan Gloria.
“Apa yang kamu harapkan dari Papa, Gabriel? Kamu berharap Papa akan setuju dengan permintaan kamu? Memangnya apa yang kamu dapatkan setelah pindah agama.” Koen Liem mengembuskan napas sengal-samar, “Jika itu keputusan kamu, sebaiknya kamu pergi dari sini. Karena kami tidak akan pernah memberikan restu sama sekali.”
Gabriel mengeraskan rahangnya. Sejujurnya dia kesal.
Namun tidak bisakah Papanya tidak mengatakan hal itu di depan Nadya atau bahkan di depan mukanya? Mau bagaimanapun saat ini Gabriel telah memilih memasuk Islam, bukan lagi beragama Kristen seperti yang dianut kedua orang tuanya. Tidak perlu menghina begitu. Apalagi di depan Nadya, calon istrinya. Baiklah, jika itu keputusan mereka, maka Gabriel akan tetap pada pendiriannya.
“Papa boleh mengatakan segala keburukan tentang aku. Tetapi tolong, jangan pernah mengatakan apapun tentang keyakinanku saat ini. Karena itu tidak ada kaitannya dengan semua ini.” Gabriel menelan ludahnya sekali lagi. Kemudian dia berdiri, tangannya menggamit tangan Nadya. “Aku tidak butuh restu kalian lagi saat ini kalau pada akhirnya masih saja begini keputusan kalian. Aku bisa melakukan segalanya sendiri, bahkan tanpa kalian. Jika ini keputusan yang kalian pilih, maka aku juga akan memilih keputusanku sendiri.”
“Ya, silakan. Tapi perlu kamu ingat, Gabriel. Setiap apa yang kamu inginkan pasti ada konsekuensinya. Kamu harus tahu ini.” Koen Liem mengingatkan.
Gabriel yang akan beranjak pergi selintas melirik sang Papa. Nada bicara orang tua ini kedengarannya seperti mengancam. Namun Gabriel tidak ambil pusing sama sekali. Apa yang akan terjadi kedepannya, dia akan menanggung segala resiko itu.
••••
“Soal tadi ....”
“Jangan dipikirin!” Gabriel memotong kalimat Nadya.
Dua orang itu sudah berada di dalam mobil, menuju kepulangan. Gabriel akan mengantar Nadya pulang selepas keluar dari rumah kedua orang tuanya. Kendaraan yang Gabriel kemudi sudah masuk di jalan tol dalam kota. Jalan agak lengang, langit hitam bertabur bintang gemintang nan terang. Kota kami bermandikan cahaya malam itu.
Nadya menghela napas sengal. “Setelah aku pikir-pikir, sepertinya lebih baik kita batalkan saja acara pernikahan ini. Aku tidak bisa melawan restu. Papa dan Mama Koko tidak menerima keadaanku dan itu menjadi bumerang untukku. Jadi sebaiknya, lebih baik kita akhiri saja rencana ini. Aku tidak bisa melanjutkannya kalau ada pihak yang tidak setuju dengan pernikahan kita!”
Mendengar ucapan Nadya barusan, Gabriel yang sedang mengemudikan mobilnya segera menepikan kendaraan ke bahu jalan. Untungnya jalan tidak terlalu ramai lalu lalang kendaraan lainnya. Gabriel menatap tak senang wajah Nadya, calon istrinya malam itu. Wajah Gabriel kentara geram.
“Kamu bilang mengakhiri? Kamu bilang kita usai di sini? Kamu serius?”
“Aku hanya tidak mau mengambil kamu dari Tuhan kamu, Ko. Dan begitu sebaliknya. Mama kamu benar soal tadi. Cinta kita terhalang oleh tembok pembatas yang berbeda.”
“Tapi aku yang memutuskan, Nad. Kamu harus tahu, perjuanganku buat mendapatkan kamu itu sulit. Belum lagi meyakinkan Abi (ayah Nadya) kalau aku serius ingin menikahi kamu. Meyakinkan Mas Angga. Juga satu keyakinan demi bisa bersama kamu. Demi bisa pernikahan kita diterima negara, dicatat oleh pengadilan agama. Dan demi bisa se-amin dan seiman dengan kamu. Bahkan aku tidak peduli kalau harus meninggalkan Tuhanku. Aku telah memikirkan segalanya. Namun apa yang kamu bilang barusan? Kamu bilang mau mengakhirnya. Coba kamu pikir, jadi di sini hanya aku sendiri yang berjuang buat kita? Cuma aku yang peduli soal pernikahan ini?”
Gabriel men-jeda kalimatnya sejenak. Menatap mata sendu Nadya yang tidak melontarkan secuil kalimat apapun.
“Nad, aku bisa sampai ditahap ini karena kita. Karena kebersamaan kita. Aku tidak peduli tentang Mama dan Papa yang tidak setuju soal pernikahan kita. Bahkan kalau dunia menolak pun, aku akan tetap memilih bersama kamu. Aku nggak masalah kalau aku menjadi anak pembangkang, itu semua kulakukan demi kamu. Tapi coba kamu pikirkan langkah kita sejauh ini, masa harus berhenti begitu saja. Berhenti setengah jalan!”
“Ko ....”
“Setop, Nad. Kamu nggak usah bilang apapun. Kamu pasti kecapean karena kepikiran ucapan Mama dan Papa tadi. Aku akan cepat mengantar kamu pulang. Kamu butuh istirahat.” Gabriel lagi-lagi memotong kalimat Nadya.
Otomatis ucapan pria ini membuat Nadya harus menahan semua perkataan yang hendak dilontarkan. Gabriel melanjutkan perjalanan kendaraan, sebentar lagi mereka akan tiba di rumah Abi, ayahnya Nadya. Gadis ini tinggal berdua bersama ayahnya, tanpa sang ibu. Karena Nadya sudah menjadi anak piatu sejak kecil. Sedangkan Mas Angga, dia tinggal bersama istrinya, di rumah lain. Mereka kan mandiri.
Nadya itu anak seorang yang taat beragama. Abi seorang dosen agama sekaligus dewan kemakmuran mesjid di tempat tinggal mereka. Mas Angga seorang pengusaha, yang sama-sama punya ilmu pendidikan agama yang tinggi. Nadya pun sama. Mereka dididik untuk taat pada perintah Tuhan.
Melihat betapa damainya keluarga Nadya, Gabriel yang notabene-nya seorang keturunan Tionghoa penganut kepercayaan protestan, merasa bahwa apa yang dipilihnya sudah tepat. Nadya adalah perempuan yang sempurna untuk Gabriel, bukan Theresia yang dijodohkan Mama untuknya.
“Oke, kita jangan bahas apapun saat ini.” Nadya berkata lirih. Gabriel melanjutkan perjalanan kendaraan. Sudah tugasnya mengembalikan Nadya ke rumah Abi sebelum pukul sepuluh malam.
“Gabriel langsung pulang?”
“Eh, Abi.” Nadya menatap ayahnya agak terkejut. Sebab pria tua itu menyapa di depan pintu, pas ketika Nadya menutup bingkai itu rapat-rapat seusai Gabriel berpamitan pulang.
“Dia nggak mampir dulu, Nak? Nggak ngobrol sama Abi?” Pak tua melanjutkan pertanyaannya.
Nadya menggeleng tipis, “Nggak, Bi. Katanya ada urusan, jadi nggak bisa mampir.”
“Oh, pantas saja.” Giliran abi yang menggeleng tipis. Nadya mengulum senyum samar, kemudian permisi sama abi, hendak masuk ke dalam kamar.
Ketika mobil Gabriel masuk ke dalam halaman selasar rumah abi, dia tidak ingin mampir dulu. Gabriel masih ada tugas lain yang harus dikerjakannya malam ini. Seperti tugas kantor yang mangkrak. Soalnya Gabriel ambil cuti seharian buat mempersiapkan diri bertemu dengan Mama dan Papanya di rumah. Kalau bertemu di kantor, rasanya takkan etis sama sekali. Ini kan perbincangan masalah keluarga dan pribadi. Bukan masalah pekerjaan.
Gabriel yang sekarang berusia dua puluh delapan tahun adalah seorang wakil direktur Indofarma grup. Kepala grup yang menjabat saat ini adalah kakeknya, sedangkan posisi wakil kepala grup diisi oleh sang Papa. Kalau dalam struktural organisasi perusahaan, posisi Gabriel empat atau lima langkah lebih rendah dari sang Papa. Sebab nyatanya, di atas Gabriel masih ada CFO dan Co-CEO yang lebih memiliki status tertinggi dalam hirarki kepemimpinan.
Mereka yang membantu pekerjaan ayah dan kakeknya. Sedangkan Gabriel hanya bagian inti dari jajaran direksi. Bukan orang yang terlalu berwenang terhadap organisasi konsorsium ini. Konsorsium yang dibangun menggurita di mana-mana. Di pelosok penjuru negeri hingga di sub kawasan Asia tenggara, mereka punya. Keluarga Liem adalah pembesar di negeri ini yang menguasai setengah perdagangan nasional dan lima belas persen perdagangan Asean.
“Aku sudah sampai di apartemen.” Gabriel mengirim pesan, sesaat setelah Nadya masuk ke dalam kamarnya—seusai mengganti pakaian dan sebagainya yang berurusan dengan dunia wanita.
Pesan itu segera terbaca. Ada tanda bahwa si penerima pesan sudah membuka pesan. Centang dua itu sudah berwarna biru. Detik berikutnya, panggilan masuk dari orang yang sama di gawai Nadya. Perempuan itu lekas menjawab. Sebab dia terlihat sedang online di jejaring aplikasi pesan instan.
“Assalamuallaikum ....”
“Iya, Ko. Waallaikum salam.”
“ ..., lagi ngapain?”
“Baru masuk kamar.”
“Abi nggak nanya aku?”
“Tadi nanya.” Nadya menjawab singkat. Dia duduk di depan meja rias. Melepas anting-anting di telinga, meletakkan perhiasan itu di dalam kotak khusus. Lalu menghapus make-up di wajah. Menatap pantulan mukanya yang pias nan menawan.
“Maaf bilang sama abi nggak bisa mampir.”
Nadya mengangguk, “Nggak apa-apa, Ko. Abi ngerti, kok. Cuma ditanya kenapa nggak mampir. Aku bilang Ko Iyel lagi ada urusan penting, makanya nggak bisa mampir.”
“Lain kali deh, mampir. Pas dekat-dekat acara.”
Nadya mendeham. Responnya malam itu tidak terlalu semangat, tidak seperti malam-malam sebelumnya saat Koko Gabriel menelpon. Biasanya Nadya akan antusias mendengar suara Gabriel saat bercerita atau mengeluh kesah. Namun malam ini tidak.
Sejujurnya yang membuat Nadya tidak terlalu semangat merespon ucapan lawan bicara adalah kepikiran bagaimana cara mengakhiri hubungan ini. Jika tahu pada akhirnya akan begini, Nadya mungkin tidak akan mau menerima pernyataan cinta Gabriel. Pernyataan yang mengajaknya untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lainnya. Bahkan menjalin hubungan ini. Apalagi mendekati jelang pernikahan. Itu tidak masuk ke dalam to do list Nadya dalam buku catatan hariannya.
Lima atau tiga tahun lalu mereka bertemu dalam sebuah acara reunian. Dari sana kedekatan kembali terjalin. Gabriel yang merupakan kakak kelas Nadya, mencoba mengajaknya berkomunikasi lagi. Sekian lama tidak bertemu, malam itu mengubah segalanya menjadi seperti saat ini. Sungguh, demi Allah! Nadya merasa dilema. Sebab dia telah mengambil Gabriel dari Tuhan dan keluarganya.
Panggilan telepon yang terhubung itu terputus. Gabriel yang pertama mengakhirinya. Pria itu lantas menutup layar telepon. Sepuluh menit dia berada di dalam mobil sembari menelpon Nadya, calon istrinya, Gabriel lalu melangkah keluar dari kendaraan. Mobilnya diparkir di halaman depan apartemen. Tepat di depan lobi pintu masuk yang ....
“Hai, Iyel. Apa kabar?”
Muka Gabriel langsung masam ketika perempuan itu menyapa. Nada suaranya memang lembut dan enak didengar. Wajahnya yang cantik membuat pria mana saja di belahan bumi ini tidak akan menolak pesonanya. Cuma, Gabriel tidak suka melihat dia di sini. Theresia adalah sumber masalah.
“Kenapa kamu ada di sini?” Gabriel bertanya, bukan menjawab pertanyaan Theresia barusan.
“Mau ketemu kamu.”
Gabriel menatap tak senang wajah perempuan jangkung di depannya. “Sorry, aku sedang tidak mau bertemu siapapun saat ini. Apalagi kamu.”
Gabriel melangkah masuk ke dalam lobi apartemen, menuju ke lift yang mengantarnya naik ke atas. Ke lantai unit miliknya, nomor 44, lantai enam. Apartemen St. Arandelle, di seberang super blok flat Batavia tower nine. Salah satu bangunan apartemen paling elit di kawasan padat bangunan tinggi, perkantoran, pusat perbelanjaan dan sebagainya. Di belakang unit apartemen berdiri mall paling besar dan megah di ibukota. Diapit oleh hotel St. Regina IV.
“Iyel bisakah kita seperti dulu!” Theresia berseru, sedikit agak meninggikan suaranya. Sontak saat itu Gabriel berhenti melangkah. Menoleh sekilas ekor matanya ke arah Theresia yang memelas iba. Air mukanya telah berubah sendu dan teduh.
“Tidak akan pernah bisa lagi. Aku tidak mau menjalin hubungan apapun dengan kamu setelah apa yang kamu lakukan kepadaku dulu!”
“Tapi itu cuma sebuah kesalahan, Iyel. Aku khilaf. Aku tidak bermaksud ....”
“Sudahlah, Theresia!” Gabriel memotong kalimatnya. “Nggak usah banyak bersilat lidah. Sekali kamu membuatku kecewa, maka aku akan terus mengingatnya. Satu lagi, soal perjodohan Mama, jangan harap kamu bisa mendapatkan jawaban iya dariku. Karena sekali aku menegaskan akan menikahi Nadya, maka itu keputusan mutlakku. Kamu tak perlu susah payah untuk mendekatiku lagi!”
Gabriel kemudian melangkah menjauh, kali ini benar-benar lenyap dari pandangan mata Theresia. Perempuan itu menghapus air mata yang gugur di pipi. Sialan. Soal dirinya yang pernah membuat Gabriel kecewa masih saja diingat. Padahal itu sudah berlalu.
••••
“Dokter Nadya dijemput sama calon suaminya lagi?”
“Iya, dokter Jimmy. Bentar lagi dia sampai.” Nadya mengulum senyum. Sekali tangannya melihat ke arloji yang melingkar di tangan. Saat itu sudah masuk jam makan siang.
Setengah jam lalu Gabriel mengirim pesan pada gadis ini, memintanya menunggu sebentar, dia akan sampai di rumah sakit. Mereka akan makan siang bersama, seperti yang sudah-sudah. Nadya bekerja di rumah sakit swasta sebagai dokter bedah spesialis.
Nadya meraih tasnya, bersiap hendak pergi meninggalkan ruangan kerja. Memang ada Jimmy di sana, niatnya mengajak Nadya makan siang bersama di kantin rumah sakit. Sayangnya, Jimmy kalah cepat. Gabriel lebih dahulu mengajak perempuan itu pergi.
Pas sekali di depan lobi rumah sakit, kendaraan Gabriel telah markir. Pria itu menunggu di luar kendaraan. Ketika Nadya sudah hadir di depan muka, segera Gabriel membuka pintu mobil. Nadya masuk ke dalam dan Gabriel menyusul. Siang ini mereka akan makan di tempat yang berbeda. Di restoran terkenal, yang berdiri persis di depan pintu masuk CBD*.
*Central Business District
“Nad ....”
“Ko ....”
“Kamu duluan, Nad!”
Nadya mengangguk, bibirnya mengulum senyum samar. Kendaraan Gabriel telah melaju di jalan protokol negara, tumpah di jalan bersama kendaraan lain. Waktu itu mobil menyesakkan jalan, sehingga macet beberapa meter di depan.
“Ko ..., tentang pernikahan kita. Apa bisa ditunda saja dulu. Kita nggak bisa menikah kalau nggak dapat restu dari Mama sama Papanya Koko!”
“Nad ....” Gabriel menatap sinis perempuan yang duduk di sebelahnya. “Kenapa bahas itu lagi, sih? Kan aku sudah bilang, nggak usah dipikirin tentang Mama sama Papa. Toh kalau sampai tiba waktunya mereka bosan, kedepannya mereka bakal menerima kehadiran kita apa adanya. Kita nggak bisa mikirin ego mereka terus, Nad. Kita perlu mikirin masa depan kita sendiri. Kita punya rencana yang harus kita penuhi. Kita sudah serius buat membangun rumah tangga kita. Jadi buat apa mikirin orang lain.”
Gabriel menatap ke depan sekali. Mobilnya melaju pelan, mereka berada di barisan belakang kendaraan yang sedang menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.
“Nad ..., aku sampai dititik ini karena keseriusanku. Karena aku yakin sama pilihan aku. Karena aku yakin, kamu adalah yang terbaik untukku. Selama abi memberikan restunya untuk mendapatkan kamu, maka aku nggak perlu mikirin hal lain.”
Nadya menggigit bibir bawahnya. Lantas mengembuskan napas panjang. Tangan memegang tali sabuk pengaman. Jantungnya berdegup kencang karena ucapan Gabriel barusan itu ada benarnya. Mereka sampai di titik ini karena mereka telah berkomitmen. Apalagi Gabriel punya keseriusan yang tidak dimiliki pria lain manapun. Itu yang membuat Nadya memantapkan hati memilih dia sebagai calon suami.
Ingat juga kalau usia Nadya itu tidak muda lagi. Usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Di usia begitu dia harus menikah. Meskipun abi tidak menuntut untuk segera memiliki tambatan hidup, tetapi setidaknya Nadya memiliki pikiran untuk membangun rumah tangga. Di saat yang sama, Gabriel menjadi pria yang mengisi hati Nadya saat ini. Jadi buat apa menunda-nunda kalau ada yang mengajak serius untuk menikah.
“Ko ..., maaf.” Nadya mencicit.
Gabriel mengulas senyum tipis. Tangannya mengusap puncak kepala calon istrinya itu. “Jangan sedih begitu. Aku nggak marah dan kamu nggak salah. Kamu cuma khawatir sama pernikahan kita nanti.”
Gabriel menelan ludahnya sesaat, sembari melanjutkan perjalanan kendaraan menuju ke restoran yang telah di-reservasi beberapa jam lalu.
“Kita sholat dulu ya, sebelum makan. Biar kita sama-sama tenang pikirannya.”
Nadya mengangguk. Sejak Gabriel memilih masuk ke Islam, pria itu memang benar-benar mendalami ilmu agamanya. Abi akan menuntun jalan Gabriel supaya dia menjadi seorang mualaf yang sempurna. Bahkan Gabriel tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya. Gabriel benar-benar serius dengan apa yang dipilihnya. Nadya menjadi merasa bersalah kalau ingat bahwa dirinya egois dengan meminta mengakhiri hubungan mereka seperti yang diucapkannya semalam.
Masih di waktu yang sama.
Siang itu jam 12;22. Beberapa menit selepas Gabriel dan Nadya sholat di mesjid besar, mampir sebentar. Nadya menunggu Gabriel di depan mesjid, sedang mengenakan sepatu pantofelnya. Sekali Nadya memerhatikan prianya itu. Dia sangat menawan dan adem saat dilihat kala selesai sholat.
Benar kata Gabriel tadi, sholat membuat pikiran mereka tenang. Itulah kenapa Gabriel selalu membawa Nadya ke mesjid, jika gadis itu gundah gulana memikirkan nasib acara pernikahan mereka kedepannya. Hanya menyoal waktu, terhitung dua Minggu lagi acara itu akan tiba. Dan menyoal waktu pula, orang tua Gabriel pasti pelan-pelan akan menerima kehadiran Nadya dan pernikahan ini.
Namun masalahnya selalu ada-ada saja hal yang dipikirkan menyoal bagian ini. Tak ada habisnya. Seperti Nadya yang berubah pikiran untuk menikah atau sebagainya. Tetapi beruntung, Gabriel sosok yang sangat pengertian. Jadi dia akan terus meyakinkan Nadya supaya terus maju kedepan, menghadapi hari esok mereka yang kian dekat.
“Tadi pihak WO telepon, mereka minta ketemuan, bahas tentang konsep pernikahan. Sama kita belum nyari katering buat acara nanti.” Gabriel berkata pas setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
“Kalau katering, aku tanya sama Mas Angga deh. Kita pakai aja yang dulu pernah dipakai sama beliau.” Nadya menjawab pelan.
Gabriel mengangguk. Mobil itu kemudian melaju keluar meninggalkan pekarangan mesjid. Tujuan mereka saat ini makan siang di restoran. Cuaca saat itu terik sekali. Selain itu, panas juga tak tertahan. Kota kami tidak hujan selama sepekan terakhir, itulah kenapa rasanya suhu di ibukota jauh lebih panas daripada sebelum-sebelumnya.
Sepuluh menit, sampailah Gabriel dan Nadya di restoran Perancis, milik seorang koki terkenal asal Turki. Ini pertama kalinya mereka ke sini. Ketika masuk, di depan pintu pelayan dua-tiga datang, menyambut dengan ramah, menunjuk jalan, ke tempat di mana meja yang sudah di-reservasi sebelumnya.
Pelayan wanita menarik kursi untuk Nadya, lalu Gabriel setelahnya. Mempersilakan melihat buku menu makan. Di sana tertera banyak pilihan. Nadya mengamati satu-persatu. Sembari mencari apa yang akan dipesan, dua pelayan lain datang membawa dua gelas jus jeruk segar. Diletakkan di atas meja, tepat di depan Gabriel dan Nadya.
“Main course-nya beef burguignon sama ratatouille. Terus hidangan penutupnya ..., minta mousse.” Nadya menyebutkan pesanannya usai melihat isi daftar menu makanan. Pelayan wanita yang berpakaian rapi itu segera mencatat pesanan pelanggan terhormatnya siang ini.
“Aku pesan main course yang sama. Untuk dessert, aku mau mille-Feuille sama croissant.” Giliran Gabriel yang menyebutkan pesanannya.
Pelayan itu mengangguk. Pesanan kedua orang tamu yang telah me-reservasi tempat ini sudah dicatat sempurna. Tinggal dibawa ke meja dapur para koki yang ahli dalam membuat hidangan nikmat.
Pelayan itu meninggalkan meja Nadya dan Gabriel untuk sesaat. Sembari menunggu pesanan datang, Gabriel mengajak Nadya bicara beberapa hal. Di antaranya adalah tentang rencana pernikahan mereka atau membahas hal-hal random. Sekali Nadya meraih gelas jus, menyedot minuman itu sampai setengah.
Beberapa saat kemudian, pesanan datang. Pelayan menghidangkan makanan ke atas meja dengan ramah dan sopan. Setelah itu, mereka pergi. Nadya segera menyantap makanan itu. Makan siang kali ini bukan yang pertama bagi Nadya dan Gabriel. Sepanjang tiga tahun, ketika keduanya memilih untuk serius terhadap hubungan ini, sudah banyak sekali waktu makan siang yang mereka lewati bersama.
Nadya yang bekerja di rumah sakit sebagai dokter, dua tahun ini memang sering dijemput Gabriel buat diajak makan siang. Sedangkan Gabriel yang bekerja di perusahaan keluarga, lima belas menit lebih awal meninggalkan ruangannya buat menjemput Nadya di tempat kerja. Sejenis simbiosis mungkin?
Gabriel dan Nadya sebenarnya adalah adik dan kakak kelas saat sekolah di SMA Internasional. Abi awalnya tidak mengizinkan, katanya tidak sesuai dengan sekolah yang abi ketahui. Tetapi karena ini kesempatan bagus buat Nadya, maka abi akhirnya menyetujui hal itu. Meski biaya masuk sekolah internasional itu besar, tetapi abi bisa memenuhi kebutuhan Nadya.
Dari perkenalan singkat, Nadya dan Gabriel akhirnya saling tahu. Tetapi tidak sedekat sekarang. Cukup tahu masing-masing saja. Namun dulu Gabriel adalah kakak kelas paling populer. Tanyakan saja kepada koki masak di kantin sekolah. Bah! Dia paling paham seluk beluk soal Gabriel. Atau Nadya akan berpapasan dengannya sekali pada hari Senin. Saat Gabriel sedang olahraga di ruang gym sekolah. Atau ketika telanjang dada, berenang di kolam pribadi milik yayasan yang setara kolam renang olympic.
“Nad, kok melamun? Makanannya nggak dihabisin? Kenapa?” Gabriel menegur. Nadya yang sedang mengenang sesuatu tersadar. Oke, saat ini Nadya sedang tidak bisa fokus pada satu masalah. Otaknya terbayang banyak beban pikiran. Makanya Nadya tidak bisa konsentrasi.
“Nggak apa-apa, Ko.”
“Yakin?”
Nadya mengangguk. Gabriel merespon singkat. Bilang ‘oh’, terus melanjutkan makannya. Satu sendok masuk ke dalam mulut. Tetapi sesekali Gabriel akan melirik Nadya yang tidak menyentuh makanannya, justeru mengacak-acak hidangan itu sampai tidak berbentuk. Diantaranya tumpah ke atas meja, tanpa Nadya sadari.
“Nad ..., kenapa lagi?”
“Eh ..., nggak, Ko.” Cepat-cepat perempuan itu menyahut. Gestur badannya gelagapan.
“Kamu masih kepikiran soal pernikahan kita, kan?”
“Nggak, Ko. Bukan itu.”
“Ngaku saja, Nad. Bilang sama aku apa yang kamu pikirin. Jangan dipendam sendiri. Siapa tahu aku bisa bantu cari solusinya.” Gabriel menatap lekat-lekat wajah merah Nadya. Gadis itu masih menggeleng, tapi kali ini agak tipis. Gabriel memegang kedua tangan Nadya kemudian, mengusapnya pelan. “Nad, ayo cerita. Apa ini karena rencana pernikahan kita?”
Nadya tidak bisa bohong. Gabriel benar. Dia tidak salah menebak. Maka Nadya mengangguk kali ini.
“Masih terngiang, Ko.”
“Tentang?” tanya Gabriel dengan dahi mengerut. Ada banyak hal yang membuat Nadya seperti ini. Jadi Gabriel tidak bisa menebak yang mana yang membuat calon istrinya itu terbawa beban pikiran.
“Tentang restu Mama sama Papanya Koko.”
Gabriel menghela napas sengal. “Itu lagi,” katanya sembari mendorong kursi ke belakang. Dia melepaskan pegangan tangan, menatap Nadya lagi-lagi dengan raut wajah tak seperti sebelumnya.
“Ko ..., maaf. Aku benar-benar nggak bisa begini. Ucapan abi benar tempo bulan. Aku nggak bisa egois dengan membuat calon suamiku harus pindah agama. Apalagi harus dimusuhi keluarga sampai kedua orang tuanya marah besar. Aku juga nggak bisa egois dengan menyeret Koko pergi menjauh dari Tuhan Koko.”
“Nad ....” Gabriel menelan ludah kesalnya, “Tolong jangan bahas itu lagi, Nad. Kita kan sepakat buat melupakannya. Lagian apa yang aku pilih itu sudah jalanku sendiri. Bukan jalan hidupnya kedua orang tuaku atau Tuhanku. Jika seandainya aku ternyata berdosa kepada Tuhanku yang terdahulu, aku akan menanggungnya nanti di akhirat. Yang terpenting saat ini aku bisa bersama kamu. Kita seiman dan seamin. Kebersamaan kita bukan karena kata orang.”
“Tapi apa ini jalan satu-satunya buat kita bersama?” Nadya menatap nyalang Gabriel. Wajahnya sudah sendu, hampir menangis. Tapi tertahan. Nadya kuat, tetapi dia rapuh kalau dihadapkan pada situasi ini.
“Iya, ini jalan satu-satunya untuk kita bersama. Jika kamu menyesal, kita tidak akan pernah melangkah sejauh ini, Nad. Lima tahun kita bersama. Dekat bagai kekasih, tapi kita tidak pacaran karena aku tahu, abi tidak suka hal ini. Dia hanya mau sama orang yang benar-benar serius sama putrinya. Terus mendapatkan hati abi sama Mas Angga itu susah. Sampai aku menukar semuanya dengan sesuatu yang mahal. Kalau kamu kepikiran begitu terus, apakah kita layak dapat hidup bahagia setelah menikah nanti?”
Gabriel menelan ludahnya sekali lagi. Wajah itu benar-benar amat tegang. Pembicaraan mereka sekarang benar-benar sesuatu yang menguras emosi.
“Nad, aku sudah bilang sebelumnya. Urusan Mama sama Papa itu belakangan. Ini hanya menyoal waktu. Kapan hari mereka bosan dengan sikap egois mereka, maka mereka akan menerima kamu. Kita hanya perlu bersabar dan menunjukkan keseriusan kita kepada mereka bahwa kita benar-benar bisa meruntuhkan dinding ego itu. Yakinlah sama aku, Nad.”
Nadya meraih tisu yang ada di depan mukanya. Selembar tisu itu digunakan untuk menghapus air mata yang meleleh, turun di pipi. Mendengar penuturan Gabriel membuat Nadya memang terus merasa bersalah. Ingatannya pasti akan tertuju kepada keluarga besar Gabriel.
Keluarga itu bukanlah keluarga sembarangan. Keluarga terkaya di negara kita. Punya bisnis menggurita. Konsorsium yang dibangun membentuk koloni perusahaan raksasa yang menembus pasar global. Nama Bapak dan kakeknya Gabriel beberapa kali masuk ke dalam majalah bisnis Indonesia.
Nama Cici Gina dan Gamaliel juga tak kalah dengan pesohor bisnis muda lainnya, dimuat dalam majalah mingguan pebisnis muda yang berpengaruh. Apalagi Gabriel? Dia pun sama. Orang yang memiliki nama besar dan berperan penting dalam bisnis keluarga besarnya. Sekali biodata pria ini pernah dimuat dalam majalah Leisure time sebagai generasi muda Asia paling tajir.
Anak perusahaan Indofarma grup tersebar di mana-mana. Ada yang bergerak di bidang tekstil, startup, pertambangan, perbankan, bio gas, minyak bumi, fashion, teknologi dan digital atau bahkan dalam bidang keuangan, kecantikan dan maskapai penerbangan serta pembiayaan keuangan lainnya. Jadi keluarga besar Gabriel punya nama yang sangat tersohor dan mentereng.
Kalau dibandingkan dengan keluarga Nadya, jauh beda statusnya. Keluarga Nadya hanya terpandang dikalangan tetangga komplek saja dan teman-teman bisnis Mas Angga. Tak ada yang bisa dokter muda ini banggakan sebagai kepercayaan diri untuk bersanding dengan Gabriel.
Nadya pamit pergi ke kamar mandi sebentar. Dia ingin merapikan mukanya yang kacau karena hampir menangis dan butuh waktu sendiri sesaat. Gabriel mengerti situasi ini, maka dibiarkannya Nadya meninggalkan meja makan mereka. Tepat sesaat kemudian, satu pesan masuk di telepon genggam Gabriel.
“Sekarang elo menang, memang. Elo bisa dapetin Nadya dengan mudah. Tapi ingat, Briel, gue masih ada di dunia ini. Siapa saja yang berani mengambil orang yang gue suka, gue pastiin dia nggak bakal lama memilikinya.”
Gabriel menelan ludah tercekat. Orang itu lagi. Dia tahu, persaingan mendapatkan Nadya memang tidak mudah. Namun bukan berarti Gabriel akan gentar dengan isi pesan ini. Karena dia telah menang soal percintaan.