“Ibu yakin ingin menitipkan Yin sama ibu Imelda ? Ibu sendirian doong di sini, Yin gak mau Bu, Yin gak mau tinggalin Ibu.”Terryn yang baru saja lulus SMP dengan nilai yang tertinggi merajuk dalam pelukan ibunya.
“Kamu mau gapai cita-cita kamu kan Yin? Almarhum bapakmu pasti senang jika kamu bisa melanjutkan sekolahmu yang tinggi. Ibu hanya penjual kue di pasar, mau sampai mana Ibu sanggup sekolahkan kamu Yin?” ibu Asih mengelus kepala putrinya, sebenarnya dia berat melepas Terryn untuk tinggal bersama sahabatnya itu tapi demi janjinya kepada almarhum suaminya untuk bisa menyekolahkan Terry ibu Asih memilih agar Terry tinggal bersama mereka.
“Tapi Ibu janji yaa bakal telpon Terryn.”
Ibu Asih mengangguk, “Tak hanya telpon Sayang, sekali waktu Ibu akan jenguk kamu.”
Seminggu setelah kelulusan ibu Imelda datang menjemput Terryn bersama Aluna , putri sulung Ibu Imelda. Aluna sangat baik dan ramah kepada Terryn, mereka langsung akrab bahkan seperti kakak beradik. Terryn merasa nyaman di rumah barunya hingga dia bertemu dengan anak laki-laki itu lagi.
“Siapa kamu?” tanya seorang remaja laki-laki yang lebih tua sedikit dari Terryn tapi masih lebih muda dari Aluna.
“Saya Terryn Kak, saya anak ibu Asih,” jawab Terryn takut-takut.
Mata remaja pria itu menatap Terry tajam, gadis berkepang dan berkacamata itu hanya tertunduk tak berani mengangkat kepalanya.
“Ngapain kamu di rumah saya?” tanya dia lagi dengan nada dingin yang membuat Terryn merinding.
“Sa-saya …,” Terryn terbata dan ragu melanjutkan kalimatnya.
“Terryn akan tinggal di sini bersama kita, Mama akan menyekolahkannya. Terryn ini anaknya pintar lhoo di sekolah, nilainya yang tertinggi di kecamatan daerahnya,” sambung ibu Imelda tib-tiba dan merengkuh bahu Terryn hangat. Terry senang ibu Imelda memperlakukannya sama dengan Aluna.
“Oh ya Terryn, perkenalkan ini Deva, anak Ibu yang bungsu dia sekarang kelas tiga SMU jadi kalian bisa satu sekolah.”
“Apa Ma? Satu sekolah dengan anak cupu ini? Enggak! Jangan harap Deva mau temenin dia.” Deva berlalu dengan wajah yang ketus. Ibu Imelda menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maafkan Deva yaa Terryn, anak itu memang begitu pembawaanya, duuh ngidam apa siih dulu aku sampai anak itu jutek banget sama anak cewek. Ck … ck … ck.”
Terryn hanya tersenyum canggung dan mencoba memahami sikap Deva yang seperti itu.
Di kamarnya Deva berpikir keras, sepertinya Deva pernah melihat cewek culun itu tapi lupa di mana. Dia merasa dekat tapi tidak bisa mengingatnya dengan baik.
‘Bodo amat, mau kenal atau gak aku gak peduli.’ Deva akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Deva memang tidak bisa mengenali gadis itu dengan baik, karena kejadian terakhir bersama Terryn terjadi sangat cepat di saat Deva sudah hampir hilang kesadarannya di suatu peristiwa yang tak akan pernah bisa terlupa oleh Terryn.
Saat itu Deva masih SMP kelas tiga dan Aluna kelas satu SMU, mereka sekeluarga sedang dalam perjalanan wisata ke desa Terryn. Ibu Imelda adalah anak juragan perkebunan teh di mana banyak penduduk desa yang bekerja di kebun yang sangat luas itu, termasuk orang tua Ibu Asih dan ayah Terryn sendiri.
Saat itu cuaca memang sedang tidak bagus dan ayah Deva tetap memaksakan ingin kembali ke kota hari itu juga. Jalanan sangat licin sehingga terjadi kecelakaan dan membuat mobil mereka terperosok ke dalam jurang.
Terryn saat itu masih kelas satu SMP dan baru pulang dari rumah kakeknya. Jalanan sangat sepi di tengah hujan yang sangat deras. Terryn menyaksikan mobil yang keluarga Deva dalam keadaan rusak parah di bawah jurang. Bergegas dia mencari ayah dan ibunya serta orang-orang kampung agar menolong mobil yang kecelakaan itu.
Bersama orang tuanya dan beberapa orang kampung Terryn yang pemberani menuruni jurang untuk melihat kondisi para korban. Seorang anak laki-laki yang setengah sadar dan dalam keadaan terluka menggapai-gapai lemah ke arah Terryn. Terry melihatnya dan mencoba mengeluarkan anak laki-laki itu dari mobilnya sementara yang lain menyelamatkan ibu Imelda, suaminya dan Aluna yang juga terluka dan tak sadarkan diri.
“Tolong jangan tinggalkan aku, aku takut…,” wajah Deva pucat dengan luka di pelipisnya, Terryn membantunya untuk duduk di sebelahnya.
“Ayo Kak, duduk dulu disini, kita tunggu mereka untuk menaikkan Kakak ke atas. Aku tidak akan kemana-mana.” Sahut Terryn menenangkan Deva.
“Terima kasih sudah menolong kami,” ujar Deva lagi yang semakin melemah.
“Kakak yang sabar yaa sebentar lagi Kakak dan keluarga Kakak akan dibawa ke rumah sakit.”
“Selamatkan terlebih dahulu mamaku dan kakakku Aluna.” Setelah mengucapkan kalimat itu Deva rebah di pangkuan Terryn tak sadarkan diri. Terryn memanggil-manggil ayah dan ibunya agar Deva pun segera ditolong.
“Aku tak apa-apa jika kau tidak mengenaliku Kak Deva, aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, walau sikapmu dingin dan kasar seperti itu.” gumam Terryn pelan melihat Deva yang sedang bermain basket sendirian di halaman samping rumah mereka.
Tak ada yang meminta Terryn untuk mengerjakan pekerjaan rumah di kediaman keluarga ibu Imelda karena mereka memiliki sejumlah asisten rumah tangga. Akan tetapi Terryn anak yang rajin dia tidak mau diam saja, usai pulang sekolah dia membantu membersihkan rumah atau sekedar memasak di dapur bersama bi Inah.
“Aduuh Non Terryn, gak usah masuk ke dapur yaa, ini pekerjaan Bibi Inah dan mba Wati di sini. Non Terryn di kamar aja belajar kayak non Aluna atau apa saja.” Bi Inah merasa tidak enak karena Terryn turut membantu pekerjaan mereka.
“Gak apa-apa Bi, saya suka kok, hitung-hitung Terryn belajar memasak dan bisa tahu makanan kesukaan ibu Imelda, kak Aluna dan Kak Deva, juga tahu apa yang mereka tidak suka.” Terryn mengambil sayur yang ada di baskom kecil dan mulai menyianginya.
Bi Inah dan mba Wati saling pandang dan tersenyum, mereka suka dengan sikap rajin Terryn dan sopan santunnya.
“Baiklah, nanti Bibi ajari juga cara masak ikan kuah kuning kesukaan aden Deva dan udang asam manis kesukaan non Aluna.” Bi Inah akhirnya menyerah pada sikap gigih Teryn yang selalu ingin membantu mereka. Selama majikannya tidak menegur atau memarahi mereka karena membiarkan Terryn turut mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi tugas mereka.
“Bi Inah, masakan kali ini enak banget," puji Aluna di meja makan saat makan malam. Deva pun terlihat lahap menyantap masakan ikan kuah kuning yang tersaji di meja.
“Semua masakan ini dibuat oleh non Terryn, katanya dia mau tahu masakan kesukaan Non Aluna, Den Deva juga ibu.”
Terryn hanya tersenyum melihat ke arah Aluna yang mengangkat dua jempolnya, matanya melirik ke arah Deva yang hanya diam saja tanpa ekspresi apa pun.
‘Yaa ampuuun … orang ini memang luar biasa cuek yaa? Es batu kalah dingin ini.’ Terryn membatin melihat sikap dingin Deva.
“Jangan ngeliatin orang kayak gitu, gak sopan tau!” tegur Deva dengan ketus, dia meminum segelas air lalu mengelap mulutnya dan meninggalkan meja makan. Terryn terkejut dan segera memalingkan wajahnya. Aluna tersenyum kecil melihat sikap Terryn yang lucu di matanya.
“Jangan ambil hati yaa, Deva emang gitu dari dulu, gak ada manis-manisnya sama cewe. Takut kualat aja dia tuh sama aku kakaknya kalo mau judes-judes gitu hi hi hi….” Aluna tertawa kecil karena Terryn semakin terlihat salah tingkah dan senyum Terryn yang lucu.
“Kamu pintar masak Yin, cuma sayang, kita bakal jarang banget makan malam sama mama, mama orangnya sibuk banget. Apalagi hotel Ibu sekarang sedang berkembang dan ramai-ramainya pengunjung jadi Ibu sering pulang malam.” Aluna mengambil seporsi lagi udang asam manis yang dibuat Terryn tanpa nasi.
“Kak Aluna gak kesepian di rumah cuma sama kak Deva, bibi dan mba?” tanya Terryn sambil membereskan piring bekas makan mereka.
“Tadinya, tapi sekarang gak lagi karena ada kamu yang temani aku ngobrol dan hhmmmh … jago masak pula, ini lebih enak dari buatan bi Inah,” puji Aluna lagi.
“Terima kasih kalau Kak Aluna suka masakan saya.” Terryn tersenyum dengan sikap baik Aluna.
“Deva juga suka tuh sama masakan kamu, dia makan lahap banget sampai nambah kayak gitu, biasanya cuma sekali makan aja. Dia orangnya susah banget ngungkapin sesuatu di dalam pikirannya dia. Sebenarnya dia mau bilang terima kasih tapi gengsi.” Aluna setengah berbisik mengatakan kalimat terakhirnya. Deva yang sedang duduk di ruang tengah sambil memegang remot tivi sengaja mendehem agak keras, dia tahu kakaknya sedang membicarakannya.
Aluna menaruh telunjuk di depan bibirnya sebagai kode untuk tidak bersuara lagi, dan mereka berdua tertawa tertahan.
“Aku balik ke kamar dulu yaa Yin, kalo ada perlu masuk ke kamarku aja. Aku mau ujian besok.”
“Baik Kak, yang semangat yaa belajarnya.” Terryn mengacungkan lengannya tanda semangat, Aluna melakukan hal yang sama dan keduanya tertawa lagi.
Terryn ingin mencuci piring tapi segera dicegah oleh mba Wati.
“Duuuh … jangan Non Terryn, tadi kan Non sudah masak jadi cuci piring bagiannya Mba yaa? Non Terryn juga harus belajar lhoo kayak non Aluna.” Mba Wati merentangkan tangannya menghalangi Terryn masuk ke dapur. Terryn hanya mengangguk sambil tersenyum kecil kemudian balik badan menuju ke kamarnya. Dia juga baru ingat jika dia punya tugas pekerjaan rumah yang harus segera dikumpulkan besok pagi.
Terryn masih belajar ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya, dia bergegas membukanya karena suara Deva yang memanggil namanya.
“Buatkan aku susu hangat, Bi Inah lupa lagi siapkan itu di mejaku malam ini. Aku terbiasa belajar dengan meminum susu hangat di malam hari.” Deva hanya mengatakan itu lalu berbalik lagi menuju kamarnya, tetapi karena Terryn masih mematung dia pun memutar badannya dan menegur Terryn.
“Yaaah … malah bengong, wooy … denger gak sih aku bilang apa barusan?!”
Terryn tersentak kaget, baru kali ini Deva berbicara padanya untuk meminta sesuatu meski tidak menggunakan kata ‘tolong’ di depan atau di akhir kalimatnya.
“Eeeh … i-iya Kak, dengar, segelas teh hangat," jawab Terryn gugup dan salah sebut.
“Susu hangat cewe cupu, susu hangat bukan teh hangat. Makanya kalo orang lagi ngomong tuh didengerin pikiran jangan kemana-mana dulu," omel Deva kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
Terryn hanya menepuk jidatnya, lalu melangkah masuk ke dapur. Jam segini bi Inah dan mba Wati pasti sudah tidur jadi Deva tidak mau membangunkan mereka.
“Untung ganteng jadi biar jutek gitu manisnya gak hilang, aiihhh … ganteng-ganteng gitu kok judes amat yak? Kayak cewe lagi pms aja.”
“Siapa yang pms hah?” suara galak itu terdengar lagi di belakang Terryn dan membuat gadis itu terlonjak kaget.
“Astaghfirullah … gak Kak, gak ada.”
“Susunya mana?” tanya Deva tanpa ekspresi sedikit pun yang membuat kesan horor semakin menjadi.
“Iya, ini Yin baru panasin airnya sebentar.” Terryn mulai gondok dengan sikap Deva yang bossy dan tidak sabaran.
“Buruan gak pake ngomel.” Deva pun berlalu sambil memegang sebungkus roti coklat.
“Iya Kak,” jawab Terryn pelan dengan wajah yang sedikit ditekuk.
‘Ujian … apa bener ini aku sudah naksir cowok ini? Yaa ampuuun berasa salah orang banget,' keluh Terryn yang merasa konyol.
Deva tak pernah tahu jika sebelumnya di desa dulu Terryn sudah sering melihatnya, tetapi Terryn tidak punya keberanian untuk mengajaknya sekedar berkenalan atau berteman. Deva tipe penyendiri dan hanya bergaul dengan beberapa orang saja. Terry biasa datang ke villa ibu Imelda bersama ibunya membawakan mereka kue pesanan yang dibuat ibu Asih.
Terryn hanya mencuri-curi pandang ke arah Deva yang sedang menikmati kue bolu pisang buatan ibunya yang ternyata cocok di lidah Deva. Anak laki-laki itu tak pernah menyadari jika ada Terryn yang selalu memperhatikannya.
Hingga akhirnya ayah Terryn meninggal dunia karena sakit, ibu Imelda meminta pada ibu Asih agar dia menyerahkan pendidikan Terryn dan disekolahkan di kota. Awalnya ibu Asih menolak tetapi melihat prestasi Terryn yang sangat cemerlang akhirnya ibu Asih setuju untuk mengirim Terryn bersekolah di kota.
Lalu di sinilah Terryn berada, bersekolah di sekolah favorit namun Deva mengancam Terryn agar tidak bercerita kepada siapapun juga jika Terryn tinggal serumah dengannya. Awalnya Terry tidak paham dengan permintaan Deva hingga dia tahu siapa Deva sebenarnya Deva di sekolah.
“Lihat … lihat … kak Deva lagi main basket di lapangan … wiiih … keren banget!” seru beberapa siswi di sekolah mereka. Ternyata Deva adalah idola sekolah, digandrungi dan dipuja banyak cewek-cewek karena ketampanannya serta kepiawaiannya menggiring bola dan melewati lawan-lawannya.
Selain itu Deva juga jago bermain gitar, dia bisa menyanyi dan bersuara bagus tetapi dia lebih memilih memetik gitar saja. Latar belakangnya sebagai putra Imelda Larassati yang terkenal wanita pengusaha bertangan dingin dengan kekayaan berlimpah membuat Deva semakin diburu untuk dijadikan kekasih.
Terryn tak berkecil hati dengan semua kenyataan ini, paling tidak Terryn punya kesempatan untuk dekat dengan Deva. Meski di rumah Deva memperlakukannya seperti babu tak membuat perasaan Terryn surut padanya. Di sekolah mereka pura-pura tidak saling mengenal, berpapasan pun Terryn dilarang senyum kepada Deva jika tidak sampai di rumah Deva akan menyentil telinganya.
“Aaauwwhh … Kak Devaaa … sakit tahu…!” kali ini telinga kiri Terryn memerah karena sentilan jari Deva di telinga Terryn.
“Aku kan udah bilang, jangan senyum-senyum di depan aku kalau lagi di sekolah. Susah amat siih dibilanginnya!” hardik Deva sambil melotot ke arah Terryn yang mengusap telinganya.
“Deva! Jangan gitu dooong, kasihan kan Terryn. Lagian cuma senyum doang kan? Biasa aja deeh,” protes Aluna pada adiknya.
“Lagian anak ini dibilangin susah banget siih? Nanti kalau orang semua tahu kita serumah bakal repot!”
“Repot apanya? Gak jelas juga deeh kamu," sambung Aluna lagi sambil mengunyah snack yang dia pegang. Matanya menatap Terryn kasihan.
“Males banget kalau orang tahu aku tinggal serumah dengan cewek cupu ini, cewek-cewek di sekolah juga nanti pada heboh dan kepo tentang aku sama dia nih.”
“Gak bakalan kok Kak Deva, Terryn janji gak akan bilang ke siapa-siapa. Bener deeh.” Terryn mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.
“Narsis banget siih jadi orang, kepedean banget bakal di kepoin.” Bibir Aluna mengerucut dan terlihat lucu bagi Terrn. Sebagai anak satu-satunya dia merasa beruntung bisa merasakan jadi adik bagi Aluna dan menjadi … tepatnya babu bagi Deva yang sombong, dingin dan tak berperasaan ini.
Terryn menjaga baik rahasia itu bahkan hingga lulus sekolah dan lulus sarjana Terryn menjaga rahasia itu dengan aman meski Terryn dan Deva satu kampus semasa kuliah. Kepopuleran Deva di sekolah terulang kembali di masa perkuliahan. Sepertinya Deva memang ditakdirkan menjadi idola bagi kaum hawa di mana pun dia berada.
Kini bertahun berlalu, Aluna sudah berhasil menjadi dokter, Deva mendirikan perusahaan konsultan dan konstruksi karena latar belakangnya yang seorang arsitek. Terryn sendiri seorang lulusan teknik sipil tetapi dia bekerja di perusahaan kecil yang masih bagian di deretan gedung-gedung tinggi perkantoran di tengah kota.
Mereka bertiga tinggal di rumah yang dibelikan oleh ibu mereka berhubung mereka tinggal di pusat kota yang jauh dari rumah mereka semasa sekolah dulu.
Ibu Imelda memilih lokasi rumah yang dekat dengan rumah sakit tempat Aluna bekerja, Aluna sendiri sekarang sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Di rumah itu Terryn menolak untuk memakai jasa ART yang ditawarkan ibu Imelda dengan alasan Terryn masih sanggup mengerjakan semuanya sendirian.
“Terryn, kaos kakiku kalo sudah dicuci balikin ke tempatnya semula!”
“Terryn, siapkan sarapan!”
“Terryn, bersihin sepatuku!”
“Terryn, cuci mobil sekarang!”
“Terryn, masakin ikan kuah kuning!”
Tak ada komplain, semua tulus dilakukan Terryn untuk Deva juga Aluna dan kepada ibu Imelda yang sudah menyekolahkan hingga punya kehidupan yang lebih baik. Namun tak bisa dipungkiri Terryn, ada sesuatu di dalam hatinya yang semakin menjalar dan berakar kuat.
Cinta pertamanya pada Deva Danuarta, cinta yang semakin ingin dihilangkan Terryn justru semakin kuat menancap di hatinya. Hal ini disadarinya jika cinta Terryn pada Deva hanya hal yang mustahil, tak mungkin berbalas dan akan bertepuk sebelah tangan selamanya.
Musik berdentum keras di sebuah klub malam yang terkenal dan mewah. Sebuah perayaan ulang tahun sedang digelar di sana dan semuanya ikut berpesta dengan meriah suka cita.
Sebenarnya Deva enggan untuk ikut tapi kedua sahabatnya Desta dan Willy memaksanya untuk ikut. Deva yang tidak suka dengan klub serta miras hanya duduk di sudut sambil menunggu Desta dan Willy yang sangat menikmati pesta.
“Hai, aku Keke, kamu gak ikut turun?” sapa seorang cewek cantik dan berpakaian terbuka yang menonjolkan bahu serta pahanya yang mulus. Deva mendengus melihat penampilan perempuan yang memakai baju kekurangan bahan.
“Aku gak tertarik," jawabnya pendek sambil menenggak cola yang dipegangnya. Desta yang melihatnya dari lantai dansa memberinya kode untuk ikut turun tapi Deva hanya menggeleng.
“Kalau begitu aku temani kamu di sini aja deeh… tampaknya kamu udah lupa yaa sama aku. Kita pernah sekampus lhoo dulu.”
Deva hanya ber “ooh” saja mendengar celoteh gadis itu. Kepalanya benar-benar pusing mendengar dentuman musik yang begitu keras. Desta dan Willy hanya tertawa melihat Deva.
“Aku tuh dari dulu suka sama kamu Deva tapi sayang kamu gak perhatian sama cewek”
Deva melihat sekilas ke arah Keke yang baru saja mengatakan suka padanya. Deva tersenyum sinis, dia semakin enggan meladeni gadis yang semakin terlihat agresif. Keke meletakkan tangannya di paha Deva, dengan gerakan halus Deva menolaknya.
“Aku tuangkan lagi yaa minumannya.” tawar Keke dengan senyumnya yang menggoda. Tanpa Deva sadari Keke memasukkan sebutir obat yang larut cepat di dalam minuman cola milik Deva.
“Apa kau tidak mau bersulang untukku yang sedang berulang tahun?” tanya Keke dengan menyodorkan gelas minuman yang telah dicampurnya dengan sesuatu. Deva merasa tidak enak untuk menolaknya karena akhirnya dia tahu jika gadis ini lah yang sedang menyewa klub malam mewah ini untuk pestanya.
Deva menaikkan gelas colanya dan Keke mengambil gelas kecil yang berisi minuman keras import sambil tersenyum sangat manis. Laki-laki muda itu nyaris menghabiskan isi gelasnya. Keke masih mengajaknya mengobrol dan semakin agresif mendekati Deva. Tangan gadis itu berani menyentuh tubuhnya hal yang tidak berani dilakukan perempuan manapun juga.
Deva menepisnya tidak suka tetapi Keke yang sangat menyukai Deva sejak dulu semakin berani menempel padanya. Hanya butuh sekian menit Deva sudah mulai merasa oleng, Keke memberi kode pada kedua teman wanitanya agar membuat sibuk Desta dan Willy agar membawa kedua teman Deva itu menjauh dari Deva.
“Apa yang kau masukkan dalam minumanku tadi?” Deva memegang kepalanya yang terasa berat. Keke kemudian memberi kode lagi kedua bodyguardnya untuk memapah Deva pergi dan mengantar mereka ke hotel tempat Keke menginap malam itu.
Deva setengah sadar berada di atas tempat tidur Keke, gadis itu sudah berganti pakaian dengan baju lingerie yang seksi dan menggoda. Keke membuka kancing baju Deva dan mencumbu laki-laki itu. Kesadaran Deva masih tersisa untuk mendorong Keke menjauh.
“Jangan berbuat hal yang bodoh!” hardik Deva sambil berusaha mengancing kembali bajunya. Dia tidak peduli jika Keke semakin menggodanya .
“Deva, aku sudah lama menantikan momen ini bersamamu, aku cinta mati sama kamu Deva.” Keke mencoba mencium Deva tetapi lagi-lagi pemuda itu menolaknya dengan lebih kasar.
“Aku tidak sudi tidur dengan gadis murahan seperti kamu!”
“Jangan bilang kalau kamu itu gay!” hardik Keke tak kalah keras. Gadis anak konglomerat itu tak terima penolakan yang dilakukan Deva. Sudah lama dia merencanakan jebakan ini agar bisa membawa Deva sang dewa kampus ke tempat tidurnya. Memecahkan mitos jika dia tak tersentuh oleh wanita.
“Aku sudah punya tunangan dan kami tinggal bersama. Aku bukan penyuka sesama jenis, tunanganku pun lebih terhormat dari gadis sepertimu.”
“Terhormat? Gadis terhormat mana yang tinggal serumah dengan tunangannya hah? Toh jika kalian serumah kalian akan bercinta juga seperti kita sekarang.”
“Sebentar lagi kami akan menikah jadi kami sedang mempersiapkan pernikahan kami. Jangan ke ge er an kamu mengatakan kita saat ini bercinta karena aku tidak menyentuhmu sama sekali!”
“Iya, kita memang belum sempat bercinta tapi foto-foto kita ingin yang mengatakan sebaliknya.”
Keke menunjukkan fotonya bersama Deva yang sedang bertelanjang dada dan ada Keke di atasnya.
“Foto murahan itu tidak akan menunjukkan apa pun, percuma kamu cantik dan kaya raya jika kelakuanmu tak lebih dari sampah," desis Deva dengan geram.
Plaak! Satu tamparan mendarat di pipi Deva, Keke terlihat sangat marah dengan penghinaan Deva barusan. Baru kali ini ada laki-laki yang menolaknya terang-terangan selama ini laki-laki lah yang memohon di kaki Keke agar gadis itu mau berkencan dengannya. Ayah Keke yang seorang pengusaha kaya raya membuat Keke dengan mudah mendapatkan segalanya yang dia mau.
“Aku tidak akan membiarkan kamu dimiliki perempuan lain Deva, aku gak terima dan aku gak akan berhenti sebelum kamu jadi milikku!” ancam Keke sambil berteriak.
“Perempuan gila!” hardik Deva lagi sambil berusaha meninggalkan kamar hotel Keke. Satu hal yang disesalinya barusan adalah pernyataannya yang mengatakan jika dirinya sudah bertunangan dan akan segera menikah.
‘Lalu dengan siapa aku akan bertunangan dan menikah untuk membuktikan pada perempuan gila itu?’
Deva memesan taksi online, ponselnya sudah berkali-kali menerima panggilan tak terjawab dari Desta dan Willy. Rasanya gemas sekali Deva pada kedua sahabatnya yang karena ajakan mereka Deva nyaris celaka oleh perempuan gila itu.
‘Apa aku akan menikahi babu kumal Terryn itu? Aaahh … kenapa jadi begini sih?’ rutuk Deva dengan kesal.
Deva duduk diam di depan ibunya setelah ibunya puas memarahi putra bungsunya itu. Ibu Imelda gemas dengan kebodohan yang dilakukan anaknya yang nyaris masuk ke jebakan perempuan nakal.
“Sekarang kamu ngaku-ngaku punya tunangan dan akan menikah secepatnya, pacar aja kamu gak punya. Deva … Deva ….” Ibu Imelda geleng-geleng kepala. Deva memang sering dikejar perempuan yang menyukai putranya dan Keke benar-benar nyaris menghancurkan putra kesayangannya.
“Pak Juan, maaf mengganggu malam-malam begini, tolong kumpulkan semua informasi tentang gadis yang bernama Keke. Dia menyewa The Hitz malam ini untuk perayaan ulang tahunnya. Jangan ada detil yang terlewat. Iya, secepatnya. Oohh bukan pak Juan, gadis ini ingin berbuat sesuatu pada Deva dan saya hanya ingin tahu latar belakang keluarganya. Iya pak Juan, terima kasih.” Ibu Imelda mematikan telponnya. Dia menelpon tangan kanannya untuk memastikan siapa sebenarnya gadis yang sudah berani berbuat hal yang tidak baik kepada putranya.
“Kamu mau diantar sopir atau nginap di sini?” tanya ibunya yang melirik jam, sudah menjelang dini hari rupanya.
“Aku mau nginap aja Bu, kepalaku masih berat,” jawab Deva dengan lesu.