"Terima ... terima ...." Sorak-sorai para remaja berseragam putih Abu-abu memberi dukungan kepada kedua remaja yang berada di tengah lapangan bola, pria berbaju kaos bola sedang berlutut dan tangannya memegang bunga mawar putih beserta pot dari bahan plastik.
"Siti Nur Aisyah, maukah kamu menerima cintaku dan menjadi kekasihku?" tanya pria mengulangi pernyataannya kepada sang pujaan hati. "Jika kamu menerima cintaku maka terimalah bunga ini, dan jika kamu menolak kamu buang aja bunga ini," sambungnya.
"Iya," jawab sang gadis pelan.
"Iya apa nih?" tanya pria itu. "Iya mau jadi pacarku atau iya menolak?" tanya sang pria yang masih setia berlutut menunggu jawaban.
"Iya, aku mau jadi pacar Kak Krisna," sahut sang gadis dan langsung mengambil pot beserta bunga mawar yang ada di tangan pria itu.
"Yeeehhhhh ... selamat, ya," ucap semua penonton yang menyaksikan adegan tersebut.
"Cieee ... cieeee ...bosku akhirnya jadian juga," goda teman si pria.
"Kak Krisna romantis banget sih, pengen deh ditembak cowok ditempat kayak gini," ucap gadis berambut keriting.
"Emangnya ada yang mau sama kamu?" balas pria berbadan gemuk
"Adalah suatu saat nanti," ucap gadis itu sambil melengos.
"Romantis kok ga modal," ucap gadis berambut sebahu.
"Widia,mending kamu diam deh jangan ikut campur." Kata Krisna
"Gimana ga ikut campur, itu bunga kesayangan mama, kalo dicariin mama, gimana?" tanya Widia.
"Sudah itu jadi urusan kakak nanti, yang penting kan cinta kakak sudah diterima," jawab Krisna sembari bangkit dari posisinya dan berdiri tegap dihadapan gadis pujaan hati sambil tersenyum.
Hati Krisna kini berbunga karena setelah berkali-kali mengatakan cinta selalu ditolak, dan sekarang akhirnya diterima juga entah karena si cewek kasihan atau terpaksa, itu tak menjadi pikiran untuk Krisna karena baginya memiliki Aisyah gadis yang selama ini telah mengisi hati dan pikirannya.
"Tapi kok sama pot nya sih, Kak?" tanya Aisyah heran.
"Karena aku mau kamu merawat bunga ini, dengan begitu berarti kamu juga merawat cinta yang aku berikan ke kamu agar tumbuh subur dan kuat," jawab Krisna santai.
"Huuueeekk ... ternyata Kakak aku bucin juga, pengen muntah aku dengernya," kata Widia yang malas mendengar bucinan dari kakaknya.
"Siapa juga yang suruh kamu denger. Ini tuh khusus untuk pujaan hati, Aisyah seorang," goda Krisna sambil mengedipkan mata.
Aisyah yang digoda tersipu malu-malu, wajahnya merah merona membuat gadis itu makin cantik.
***
Sebuah motor KLX hitam melaju membelah jalan. Hamparan pohon sawit yang luas menghiasi disetiap sisi jalan raya, kondisi jalan yang lengang membuat si pengemudi menambah kecepatan laju motor hingga tibalah dia di depan gerbang sekolah menengah atas.
"Maaf, Sayang, aku telat," ucap si pria yang turun dari motor sambil melepas helm dan menghampiri gadis yang duduk di bangku panjang pinggir ruang kelas.
"Kok lama banget sih, Kak?" tanya Aisyah kesal, jika saja dia pulang bersama teman-temannya mungkin sekarang dia sudah rebahan di kamar, tetapi ini dia justru masih berada di halaman sekolah karena permintaan sang pacar yang akan menjemput dan mengantarnya pulang.
"Soalnya tadi ada urusan mendadak yang ga bisa ditunda," jelas Krisna.
"Sampe lupa jemput aku, dan biarin aku di sini nunggu sendirian. Kalo aku diapa-apain sama orang gimana, atau diculik?" Aisyah tampak sangat kesal.
"Ga akan ada yang bakal berani nyentuh kamu sayang, selain aku." Krisna tertawa kecil.
"Enak aja main pegang-pegang." Aisyah menepis tangan Krisna yang menyentuh punggung tangannya, dengan cepat Aisyah bangkit dari tempat duduk.
Krisna segera mengikuti langkah kaki Aisyah yang menuju ke arah motor. Krisna mempercepat langkahnya dari Aisyah dan memberikan helm merah muda untuk sang kekasih.
"Sini aku pakeiin," pinta Krisna sambil memasangkan helm ke kepala Aisyah.
"Makasih," balas Aisyah malas.
"Huuh gini amat, ya, dicuekin sama pacar," gumam Krisna.
Dalam perjalanan pulang Aisyah hanya diam, padahal Krisna sudah banyak bicara tetapi tak satu pun yang dijawab Aisyah. Hingga tiba di rumah kediaman keluarga Aisyah, gadis itu berusaha membuka helm yang dikenakan, tetapi entah kenapa kali ini sangat susah. Krisna yang melihat itu langsung membantu Aisyah untuk membuka helm tersebut.
"Susah banget sih di buka ini helm, Kakak kasih lem, ya," cibir Aisyah.
"Kalo, iya, emang kenapa?"
"Nyebelin!" Sesaat tatapan mata mereka beradu, mata indah milik Aisyah terpanah menatap mata hitam milik Krisna, tatapan yang begitu teduh dan menenangkan siapa pun yang melihat pasti akan demikian. Tanpa mereka sadari seorang wanita paruh baya memperhatikan mereka sedari tadi saat mereka turun dari motor.
" Heem." Deham ibu Mariam, ibundanya Aisyah yang membuat keduanya segera mengalihkan pandangan masing-masing.
"Tante, apa kabar?" tanya Krisna sambil meraih tangan Mariam dan mencium punggung tangan dengan takzim, begitupun dengan Aisyah. Keduanya terlihat canggung saat Mariam melihat mereka dalam posisi saling berdekatan.
"Alhamdulilah, tante baik." jawab Mariam.
Setelah kehadiran ibu Aisyah, Krisna segera pamit undur diri. Aisyah terus memandangi bayangan motor beserta sang pengemudi yang telah menghilang.
"Sudah jangan dilihatin terus, ayo masuk," ajak Mariam sembari menepuk pelan pundak sang putri hingga membuat Aisyah tersentak kaget. Sambil mengelus dada, Aisyah dan Mariam melangkah masuk ke rumah.
"Om, Swastyastu." Salam Krisna ketika tiba di kediaman rumah orang tuanya, tak ada sahutan dari dalam entah ke mana para penghuni rumah pergi. Krisna langsung masuk tak lupa melepas sepatu hitam yang dikenakan, kemudian melangkah menuju kamar.
"Kenapa bayangan Aisyah selalu muncul di mata aku, senyum manisnya, mata indahnya, ah semua yang ada pada diri Aisyah aku suka", gumam Krisna pada diri sendiri dan masih dalam posisi yang sama yaitu duduk di pinggir ranjang empuk. Tak henti-hentinya Krisna tersenyum.
"Kamu adalah ciptaan Tuhan yang sempurna Aisyah, sampai kapan pun kamu hanya akan menjadi milik aku, apa pun caranya akan aku lakukan asalkan kamu selalu ada bersamaku," gumam Krisna dalam hati sambil memandangi foto mereka.
***
Udara pagi yang masih berkabut tak menyulutkan semangat pemuda yang tengah asik berlari ringan di jalan raya yang masih sepi oleh penduduk. Sambil meregangkan Otot-otot ke dua tangan, jalan yang masih lengang membuat Krisna senantiasa bergerak untuk melatih Otot-otot kaki dengan cara berlari setiap pagi sudah menjadi rutinitas Krisna semenjak dia masuk menjadi anggota kepolisian. Krisna kerap berlatih tak kenal waktu demi meraih cita-cita yang kini sedang dia perjuangkan, tanpa lelah Krisna terus berlari hingga matahari menampakkan pesonanya.
"Astaga," ucap Krisna melirik arloji di tangan kiri yang menunjukan pukul 06:30.
Dengan tergesa-gesa Krisna segera berlari pulang tak peduli keringat yang terus turun membasahi kaos hitam miliknya. Rambut hitam yang basah oleh keringat membuat Krisna makin menambah kadar ketampanannya yang alami.
"Kamu kenapa, Aisyah, kok dari tadi cemberut terus?" tanya Widia.
"Kakak kamu tuh, ingkar janji lagi," kesal Aisyah.
"Janji apaan?" tanya Widia.
"Kemarin, Dia bilang mau antar aku ke sekolah, eh aku tungguin lama, ga nongol-nongol, tuh, kakak kamu," ucap Aisyah kesal.
"Oh itu, aku tadi subuh liat kak Krisna joging, dan saat aku mau berangkat sekolah belum balik dia," terang Widia.
"Mungkin lupa kali, kak Krisna," sambung Widia.
"Masa lupa sih, kan dia sendiri yang bilang."
"Mungkin terlalu fokus."
"Ya masa aku di lupain, sih."
"Sabar aja, kakak aku emang gitu orangnya."
"Bikin kesel aja tau ga pagi-pagi," gerutu Aisyah membuat Widia geleng kepala.
***
"Assalamualaikum!" ucap Aisyah, memberi salam kepada ibu Mariam, meraih tangan dan mencium punggung tangan dengan takzim.
"Waalaikum salam!" sambut Mariam dengan senyum lebar.
"Mama masak makan siang apa, hari ini?"
"Mama belum masak."
"Aisyah bantuin masak, ya, Ma," pinta Aisyah.
" Ya sudah sana ganti baju."
"Siipp Mama," Aisyah melangkah maninggalkan Mariam menuju kamar, dan mengganti pakaian seragam dengan kaos merah oblong dan celana jins selutut.
"Kita masak apa, Ma?" tanya Aisyah yang sudah berada di dapur sambil mengikat asal rambut panjang hitamnya.
"Masak, ikan santan gimana?" usul Mariam.
"Boleh Ma, tapi jangan sering-sering, ga baik untuk kesehatan," terang Aisyah.
"Iya, ibu dokter," ucap Mariam.
"Amin," ucap Aisyah meng-aminkan ucapan sang Mama.
****
Dreeet dreeettt dreeett
Suara getar ponsel, membuat Aisyah terbangun dari mimpi indah, segera Aisya mencari benda tersebut, dengan mata masih enggan untuk terbuka, tangan Aisyah meraba dibalik bantal dan menemukan benda yang dia cari, sejenak Aisyah memandang nama yang tertera di layar kemudian mengangkat dengan malas.
"Halo!"
"Hay sayang!"
"Heem."
"Kamu masih marah ya, sama aku?"
"Kamu pikir saja sendiri."
"Aku minta maaf."
"Sampai kapan, kamu terus minta maaf, dan selalu melupakan janji yang kamu buat sendiri?" ucap Aisyah kesal dengan sikap Krisna.
"Aku tau, aku salah tapi aku janji ga akan mengulangi lagi," ucap Krisna.
"Terserah kamu." Aisyah hendak menutup panggilan.
"Aku cinta sama kamu Aisyah," ucap Krisna dari sebrang.
"Aku, akan berusaha untuk tepat waktu, dan selalu ada untuk kamu."
"Maaf, aku tidak antar dan jemput kamu ke sekolah, tadi mendadak ada pelatihan dan sekarang aku harus ke sana, dan mungkin kita jarang bertemu," ucap Krisna membuat Aisyah gelisah.
"Kakak bakalan lama di sana?"
"Tidak, cuma sebentar di sana. Dan aku ke sini, mau pamit sama minta doa dan restu kamu untuk semangatin aku."
"Aku boleh nitip sesuatu ga, sama kamu?"
"Boleh, emang mau nitip apaan?"
"Tolong, jagain hati aku di sini," ucap Aisyah sambil menunjuk ke arah dada bidang Krisna.
"Pasti, tanpa kamu minta aku akan menjaga cinta kita," ucap Krisna yakin yang diberi hadiah senyuman indah oleh Aisyah.
***
Seorang gadis berambut hitam sebahu tengah duduk di bangku kayu panjang dipinggir kolam ikan buatan. Aisyah memberi makan ikan peliharaan, terdapat banyak jenis dalam kolam tersebut dari yang besar hingga yang kecil warna pun beragam campuran putih oren dan hitam berpadu menjadi satu. Tatapan mata Aisyah kosong ke depan, entah apa yang dia lihat sampai tanpa sadar seorang pria paruh baya menyadarkan Aisyah.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
"Apa yang kamu pikirkan, Nak?" tanya pria yang merupakan ayah Aisyah.
"Tidak ada, Bapak sendiri kapan pulang?" tanya balik Aisyah setelah mencium punggung tangan Gani.
"Dari tadi, bahkan Bapak sudah panggil-panggil, kamu tidak dengar," ucap Gani melangkah duduk di samping sang putri.
"Ada apa? Hem," tanya Gani. Aisyah menghela napas panjang, sebelum menceritakan hal yang mengganggu pikirannya.
"Bapak!"
"Iya." ucap Gani yang lengannya di gelendoti sama Aisyah.
"Bapak marah gak, kalo aku berteman dengan yang non-muslim?" tanya Aisyah.
"Kalau sekedar berteman, Bapak tidak masalah, karena berteman itu bisa dengan siapa saja, yang ga boleh itu jika teman kamu seorang brandal," jelas Gani mengusap rambut halus Aisyah.
"Kalau, lebih?" tanya Aisyah lagi dengan ragu, Gani menatap sang anak.
"Jangan bilang kamu?" tanya Gani terputus.
"Aisyah, pacaran sama kak Krisna, Pak," aku Aisyah, Gani sejenak terdiam, terdengar hembusan napas yang keluar dari mulut Gani.
"Kalian, sudah lama berhubungan?"
"Sudah tiga bulan," jawab Aisyah
"Kamu, cinta sama Krisna?" tanya Gani yang dijawab anggukan oleh Aisyah.
"Kamu tau kan, kalau Krisna itu berbeda dari kita." Aisyah hanya mengangguk.
"Aisyah, keluarga Krisna itu keluarga terpandang, sedangkan bapak hanya seorang mebel biasa, dan lagi agama kita yang berbeda, itu hanya akan membuat kalian sakit hati," terang Gani membuat hati Aisyah sakit.
"Tapi, kak Krisna dan Aisyah saling cinta, Pak," ucap Aisyah.
"Bapak tau nak, kalian tidak salah karena saling mencintai. Apalagi Krisna pria yang baik, tapi yang bapak takut orang tua Krisna menentang hubungan kalian, dan berusaha memisahkan kalian," ucap Gani merangkul pundak sang putri tak tega melihat putri satu-satunya menangis.
Dilain tempat, Krisna tengah memasukan pakaian yang akan dia bawa kedalam koper, dan memasukan perlengkapan lain yang dia butuhkan, mata Krisna tertuju pada bingkai foto dirinya dan seorang gadis cantik berambut hitam panjang, seulas senyum terbit dibibir Krisna, kemudian meraih bingkai dan mengeluarkan foto.
"Aisyah, tunggu aku pulang," gumam Krisna memandang foto dia dan Aisyah yang tengah tersenyum bahagia.
"Krisna !" panggil pria paruh baya yang duduk di sofa. Krisna yang merasa terpanggil segera turun menghampiri sang ayah.
"Kamu yakin, akan melanjutkan akademi ini?" tanya bagas.
"Iya Pa, ini sudah menjadi cita-cita Krisna, dan Krisna harap Papa bisa menerima keputusan Krisna," ucap Krisna.
"Sebenarnya, Papa tidak ingin kamu mengambil Akademi itu, Papa mau kamu meneruskan perusahaan keluarga, karena kamu adalah pewaris dan anak laki-laki dari keluarga Bagaskara," terang Bagas mencoba menasehati sang putra.
"Ini sudah menjadi keputusan Krisna, Pa," ucap Krisna tetep pada pilihannya.
"Lalu, siapa yang akan meneruskan dan pengganti Papa nanti di perusahaan?"
"Suami dari Widia nantinya, Pa."
"Itu tidak bisa Krisna. Hanya laki-laki keturunan asli keluarga Bagaskara yang bisa menggantikan bukan orang lain," kata Bagas dengan nada keras menegur sang putra yang keras kepala.
"Kalau begitu biar keturunan Krisna nanti yang akan menggantikan posisi, Papa," ucap Krisna.
"Baik, berikan Papa cucu segera!"
"Tunggu dia lulus dulu, Pa."
"Siapa?"
"Siti Nur Aisyah."
Bruk! Prang!
"Apa!" Bagas yang mendengar nama gadis yang disebut Krisna, sontak membuat Bagas geram dan menggebrak meja kaca hingga pecah.
"Krisna akan menikah, hanya dengan Aisyah," ucap Krisna tegas.
"Apa tidak ada gadis lain hah?"
"Krisna hanya mencintai Aisyah, Pa." Bagas semakin marah mendengar tolakan sang putra yang berani membantah.
"Apa yang gadis itu berikan? Apa dia telah memberikan ke suciannya?"
"Pa, jangan samakan Aisyah dengan gadis lain, Aisyah gadis baik-baik," ucap Krisna tak terima atas tuduhan sang Papa.
"Aisyah itu gadis biasa, tidak cocok untuk kamu, sampai kapan pun Papa tidak akan menerima Aisyah sebagai pendamping apa lagi istri kamu Krisna," tolak Bagas keras tepat di depan wajah tampan Krisna.
"Dengan atau tidak ada ya restu dari Papa, krisna akan tetap menikahi Aisyah," ucap Krisna melangkah pergi menjauh sambil menarik koper keluar dari rumah menuju garasi kemudian masuki mobil sedan warna hitam menyalakan dan melaju keluar meninggalkan kediaman Bagaskara.
Brak! Brak! Brak!
Suara gedoran pintu yang sangat keras membuat sang penghuni rumah terbangun. Pria paruh baya keluar dari kamar menuju arah suara disusul sang istri di belakang. Aisyah yang mendengar keributan ikut terbangun dan melangkah keluar.
Sementara diluar, seorang pria paruh baya tampak emosi menatap daun pintu yang terbuat dari kayu. Tak lama pintu terbuka dan menampakkan sang pemilik rumah.
"Ada apa, Bagas?" tanya Gani.
"Apa mau kamu, hah!" bentak Bagas.
"Apa maksud kamu?"
"Tidak usah pura-pura, kamu sengaja menjual anak kamu hah?" ucap Bagas.
"Siapa, yang menjual anak?" tanya Gani.
"Kamu sengaja menyuruh Aisyah, untuk mendekati anakku Krisna agar kehidupan kalian terjamin." Tuduh Bagas.
" Jangan sembarang bicara Bagas, walaupun aku miskin, aku tidak pernah sekalipun berpikiran untuk menjual anakku!" tegas Gani.
"Abdul Gani, kamu pikir aku akan begitu saja percaya dengan apa yang kamu bilang barusan hah,"sindir Bagas.
"Aku tidak pernah sedikit pun berpikir demikian, Bagas," ucap Gani.
"Tidak untuk sekarang, tapi untuk nantinya, saya yakin kamu akan melakukan itu."
"Astafirullah!" Gani mengelus dada.
"Tidak usah munafik, Gani, saya tahu rencana licik kamu."
"Terserah kamu, Bagas, percuma saya bicara sama orang keras kepala seperti kamu."
"Oke, kalau begitu kalian semua pindah dari tempat ini!"
"Apa, maksud kamu?"
"Apa belum jelas, aku mau kalian pergi dari sini!" ulang Bagas.
"Kenapa, saya harus pergi, ini rumah saya, kamu tidak berhak mengusir saya!" tegas Gani.
"Saya bisa membeli rumah beserta tanah kamu jika saya mau."
"Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah menjual tanah dan rumah ini!"
"Saya bisa mendapatkan apa saja yang saya inginkan jika kamu lupa,apa lagi hanya gubuk kecil seperti ini," ucap Bagas meremehkan.
"Saya tahu, rumah saya bagai semut di mata kamu, Bagas, rumah saya tidak sebagus dan semewah rumah kamu, tapi sampai kapan pun saya akan pertahankan rumah ini."
"Apa yang menarik dari rumah ini, sehingga kamu sangat mempertahankan?"tanya Bagas.
"Rumah ini memang sederhana, tetapi banyak kenangan yang ada. Rumah ini menjadi saksi saat di mana saya bekerja keras demi keluarga."
"Hanya itu? Saya bisa menukar gubuk kamu ini dengan istana, asal kalian pergi dari sini?" tawar Bagas.
"Tidak, berapa kali pun kamu terus mencoba agar saya mau menjual rumah ini, saya tidak akan pernah menjualnya," ucap Gani sambil Bagas dengan tatapan garang. "Ingat, tidak akan pernah," sambungnya sambil menunjuk dada Bagas.
"Baik, kalau begitu." Bagas tersenyum licik sambil bertepuk tangan pelan, tak lama ada tiga orang datang menghampiri mereka, Bagas memberi kode kepada para ajudan yang baru tiba.
"Siap bos," ucap salah satu pria, tanpa pikir panjang pria itu segera menghampiri Aisyah yang berada di samping Mariam dan membawa paksa Aisyah ke hadapan Bagas.
"Aisyah!" ucap Gani panik melihat Aisyah,yang diperlakukan kasar oleh orang-orang suruhan Bagas.
"Cantik juga," ucap Bagas merangkup wajah Aisyah.
" Jangan, kamu apa-apakan, Aisyah," pinta Gani.
"Saya, tidak akan menyakiti putri kamu, asal kamu menuruti apa yang saya mau," ucap Bagas sambil mengusap pipi Aisyah.
"Tolong, jangan sakiti Aisyah," ucap Gani yang khawatir melihat sang putri ketakutan.
"Boleh juga, dari pada kamu pacaran dengan putra saya, lebih baik kamu menikah dengan saya," ucap Bagas mengusap lembut rambut hitam Aisyah.
"Saya tidak mau, menikah dengan pria kejam seperti anda," ucap Aisyah berani.
"Hm, saya kira kamu gadis lugu, tapi ternyata sama juga dengan gadis-gadis yang pernah saya temui di luar sana." Bagas tersenyum mendengar penolakan Aisyah.
"Kalau begitu, biar para ajudan saya yang akan paksa kamu,"ucap Bagas memberi perintah kepada para ajudan untuk membawa Aisyah pergi, tetapi segera dihalau oleh Gani.
"Jangan, jangan bawa pergi, Aisyah," mohon Gani meraih tangan Bagas.
"Kenapa? Bukankah rumah ini sangat berharga bagi kamu, lantas kenapa kamu mencegah saya untuk membawa putrimu bukankah dia tidak berharga?" tanya Bagas.
"Aisyah, putri saya satu-satunya, saya mohon jangan bawa dia, jangan sakiti dia biarlah saya yang akan menggantikannya," ucap Gani bersungguh-sungguh.
"Saya, tidak butuh kamu tua bangka!" kata Bagas menepis tangan Gani dari lengannya.
"Saya mohon, Bagas." Gani berlutut di hadapan Bagas, berharap Bagas akan melepaskan Aisyah.
"Tidak ada tawar-menawar lagi, Gani."
" Saya mohon, baiklah jika kamu menginginkan rumah beserta tanah ini, akan saya berikan dan kami akan pergi jauh dari sini, tapi tolong lepaskan, Aisyah," pinta Gani masih bersujud.
"Saya mohon, Pak Bagas lepaskan putri kami, hiks...hiks ...." Mariam tak kuasa menahan isak tangis, melihat sang suami bersujud dan Aisyah terus meronta melepaskan diri dari cengkeraman para ajudan.
"Jangan Pa, jangan jual rumah kita!" Aisyah memohon dan terus berupaya melepaskan diri.
"Saya sudah tidak berminat dengan rumah dan tanah kamu, justru saya ingin, Aisyah." Kata Bagas sontak membuat Gani marah, dan kemudian bangkit memukul wajah Bagas keras sehingga Bagas tersungkur, salah satu ajudan yang melihat kejadian tersebut langsung menghampiri Bagas, sementara ajudan yang lain menghampiri Gani dan memukulinya,
Mariam yang tak terima melihat suaminya dihajar mengambil batu kemudian melemparkannya tepat ke arah ajudan,salah satu ajudan yang tekena lemparan batu menghampiri Mariam dan mengikat tangan ke belakang.
"Pak Bagas, lepaskan Bapak dan Mama saya, saya mohon, pak," pinta Aisyah merangkul kaki Bagas.
"Tidak cantik, saya tidak akan melepaskan mereka," ucap Bagas, memegangi sudut bibirnya yang berdarah akibat ulah Gani.
"Saya mohon, Pak." Ucap Aisyah menangis melihat kedua orang tuanya diperlakukan kejam oleh Bagas.
"Baiklah, saya akan melepaskan mereka,asal kamu mau berjanji?" ucap Bagas memberi pilihan.
"Apa pun, akan saya lakukan asal Bapak dan Mama saya bebas."
"Anak pintar, lepaskan!" Pinta Bagas kepada ajudannya.
"Jangan nak, lebih baik kami menderita dari pada harus melihat kamu sengsara nak." Ucap Gani memohon, agar Aisyah tak jadi menerima tawaran Bagas,setelah ajudan melepaskan Gani dan Mariam, Bagas menatap Aisyah.
"Saya sudah memenuhi keinginan kamu, sekarang saya ingin kamu membalasnya," ucap Bagas yang diangguki oleh Aisyah. "Saya mau, kamu pergi dari kehidupan Krisna selamanya bahkan kalau perlu tidak usah kembali lagi," pinta Bagas yang membuat hati Aisyah perih tak rela jika harus berpisah dengan Krisna, tetapi dia tidak punya pilihan lain jika tidak orang tuanya akan menderita.
"Baik, saya akan pergi jauh dari kehidupan kak Krisna,tapi jangan sakiti keluarga saya."
"Saya tidak akan menyakiti mereka, selama kamu menepati janji." Aisyah mengangguk mengiyakan permintaan Bagas dengan berat hati, ini semua dia lakukan demi keluarga.