"Ah, masih lama. Dua jam lagi..." gumam Alina sambil melirik jam dinding. Dia lagi rebahan mendengarkan musik di tempat tidur. Tapi dia merasa kayak ada yang salah..
"ASTOGE! JAM DELAPAN YA INI! UDAH JAM SEGINI AJA!"
Alina langsung panik. Ini jam delapan yang berarti dua jam lagi dia harus sampai sekolah! Tanpa mikir panjang, dia langsung menyambar handuk dan lari ke kamar mandi.
Setelah mandi dan pakai baju dengan kilat, Alina berdiri di depan cermin. Dia mengambil liptint merah muda dan maskara tipis, biar kelihatan fresh tapi nggak menor. Ketika sudah puas dengan penampilannya, dia buru-buru mengunci pintu rumah dan cek peta di ponsel untuk lihat rute ke sekolah.
"Serius harus jalan sejauh ini? Duh, kenapa gak ada angkot lewat sih disekitar sini?" Dia menghela napas panjang. Sebenarnya satu kilometer bukan masalah. Tapi siang itu panas banget, matahari terik kayak mengajak duel. Bikin dia jadi mikir dua kali buat jalan.
"Dua puluh menit ke sekolah, nembus cuaca kayak oven... fix ini sih tantangan baru," batinnya sambil menyiapkan mental buat berangkat.
"Yaudah deh, gas aja," gumamnya sambil jalan cepat.
Alina menyusuri jalan sambil melihat maps, melihat tembok tinggi di depannya yang nggak biasa. Seperti bukan pagar sekolah kebanyakan, ini lebih mirip tembok rumah sultan. Alina langsung bengong sambil terus jalan.
Dia lihat atap biru tua gedung utama sekolah. Temboknya tinggi melingkari kompleks itu. Pagarnya juga lebih mirip pagar rumah orang tajir. Dari luar, sekolahnya tampak lebih mewah dari apa yang disebut di brosur. Horizon International Academy benar-benar besar, luasnya sampai 30 hektare. Nggak cuma buat kelas, lahan itu juga buat fasilitas lain yang super lengkap.
Alina akhirnya sampai di jalan menuju gerbang utama. Di depannya berdiri gerbang besi dengan tulisan huruf "HIA" di tengahnya. Di atasnya terdapat bendera biru dan merah bertuliskan, "SELAMAT DATANG SISWA DAN SISWI BARU."
"Ya ampun formal banget," pikirnya sambil masuk. Gerbangnya terbuka lebar, untung nggak ada satpam yang jaga. Mungkin karena ini adalah hari kedatangan murid baru.
Langkahnya otomatis melambat. Dia nggak mau terlihat mencolok. Soalnya, hampir semua murid lain pasti pada datang memakai mobil-mobil mewah. Sementara Alina? Jalan kaki, bro.
Belum sempat dia masuk gerbang, tiba-tiba...
CEKREK!
CEKREEEK!
Cahaya kamera mendadak menyorot ke wajahnya. Alina langsung melindungi matanya dengan tangan, kaget banget. Teriakan-teriakan mulai terdengar. Langkahnya terhenti. Wartawan mulai bermunculan dari segala arah.
"Alina, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Rasanya bisa diterima di sini bagaimana?"
"Benarkah kamu...?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu bikin otaknya nge-blank. Sebelum dia sempat mengetahui apa yang terjadi, seseorang muncul entah dari mana. Seorang cowok tinggi, terganteng yang pernah Alina lihat. Dia pakai kacamata hitam dan topi. Cowok itu langsung masuk ke kerumunan dan berdiri di samping Alina.
Tanpa minta izin dulu, lengannya melingkar di pinggang Alina. Refleks, dia menarik Alina lebih dekat sambil menghalau kepadatan. Gesturnya tenang, kayak sudah sering banget mengahadapi wartawan kayak gini. Dengan suara rendah tapi tegas, dia berkata kepada orang-orang di sekitarnya,
"Hei... Kasih dia jalan dong," katanya, suaranya kalem tapi bikin semua orang di situ diam.
Alina hampir nggak sadar waktu cowok itu menuntun dia ke sebuah mobil mewah yang terparkir di dekat mereka. Sebelum sempat protes, Alina sudah duduk di kursi penumpang, sementara pria itu menutup pintu di sebelahnya.
Cowok itu pun masuk mobil, lalu menyentuh kedua pundak Alina sambil menatap kedua matanya.
"Lo oke kan?" tanyanya. Tatapannya dalam banget.
Alina berani bersumpah kalau saat itu jantungnya beneran kayak mau copot.
Alina cuma bisa mengangguk pelan. "Eh... iya. Gue... gue baik-baik aja kok," jawabnya gugup. Suara tenggelam saat berbicara di dalam mobil yang begitu mewah.
Cowok itu melirik Alina sekilas sebelum menyalakan mesin mobil. "Lo nggak boleh jalan sendirian di tempat kayak gini."
Kalimat itu membuat Alina bingung. "Maksud lo?"
Cowok itu menghela napas. "Wartawan tadi tuh bukan dari media resmi. Mereka cuma cari gosip murahan. Sekolah ini sering banget jadi target, soalnya banyak anak-anak dari keluarga terkenal yang sekolah di sini."
Alina cuma bengong.
Benar juga. Apa pentingnya dia mata para wartawan? Dia bukan siapa-siapa. Pandangannya tanpa sadar beralih ke kaca mobil, melihat pantulan dirinya sendiri. Alina jadi makin sadar betapa berantakannya dia sekarang. Tapi dia berharap cowok itu mengira wajahnya merah hanya karena kepanasan bukan deg-degan.
Tapi perhatian Alina teralihkan saat melihat logo kecil di lengan kaus polo cowok itu. Logo itu memuat nama ARION , diakhiri huruf Korea "권" (Kwon) dengan gaya elegan. Saat itulah Alina baru sadar di samping siapa dia duduk.
Jantungnya langsung berdegup kencang dan wajahnya langsung memanas.
Cowok ini bukan orang biasa. Dia Arion Mahendra Kwon, kapten tim sepak bola Horizon Tigers. Nama dia udah terkenal banget di televisi, apalagi sebagai anak orang kaya dan atlet berbakat. Alina ngerasa kayak ada di dalam mimpi.
Dia nanya pelan, "Eh, ini nggak bakal jadi masalah kan? Maksudnya, buat lo... atau kita, eh, gue maksudnya."
Arion cuma menyeringai santai. "Masalah? Tenang aja. Mereka nggak bakal berani ngapa-ngapain lo, asal lo nggak tampil kayak gini terus." Matanya melirik blouse gombrong yang dipakai Alina, terus ke celana jins robeknya.
"Blouse lo kegedean, terus celana lo sobek... Lo keliatan kayak habis nyungsep," komentar Arion sambil ketawa kecil.
Wajah Alina langsung merah. Dia baru sadar blouse ini salah ambil karena dia terburu-buru tadi pagi. Ini blouse milik Vera, teman serumahnya. Jins-nya juga robek karena tadi nyangkut di pagar waktu dikejar anjing di jalan.
Duh, malu banget!
Sambil membelokkan setirnya, Arion tiba-tiba mengambil sesuatu dari kursi belakang.
"Kayaknya lo butuh ini," kata Arion lagi sambil menyodorkan sebuah jaket hitam ke Alina. "Pakai. Atau gue robek jeans lo jadi lebih lebar sekalian biar makin matching."
Walaupun pakai kacamata hitam, jelas banget dia ngelihatin sobekan jins di paha Alina yang kelihatan kontras itu. Senyuman nakalnya bikin Alina merasa deg-degan, wajahnya langsung merah. Padahal mereka baru aja kenal, tapi cowok itu kayak punya pesona yang susah banget dihindarin.
"Apaan sih lo!" sergah Alina dengan suara tinggi. Wajahnya makin merah. "Lo tuh orang mesum ya?! Jangan liat gue kayak gitu!"
Arion cuma ketawa kecil sambil mengangkat bahu. "Tenang, gue cuman ngasih saran. Lo nggak mau kan keliatan kayak gembel pas ketemu mereka?"
"Mereka siapa sih?" tanya Alina curiga.
Arion gak langsung jawab. Dia hanya menunjukkan ke luar kaca mobil. Pandanga
n Alina mengikuti arah tunjukannya.
Di sana, Alina melihat sekelompok orang berkumpul di halaman berumput Horizon International Academy. Mereka berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, dikelilingi oleh kamera dan peralatan wawancara. Beberapa di antara mereka mulai melirik mobil Arion yang mendekat..
"HAH?!"
Alina otomatis panik.
Mulut Alina ternganga lebar. Jalanan di depan mereka dipenuhi mobil-mobil media dan wartawan yang sibuk banget, siap dengan kamera dan mikrofon. Sepertinya, semua berita lokal sampai nasional lagi ada di sini.
Alina langsung ngerasa gugup. Dia gak bisa berhenti memperhatikan sobekan di celananya yang makin gede aja, dan ia buru-buru mengambil jaket Arion buat menutupi pahanya supaya lebih tertutup.
"Makasi, ya... Gue gak bakal bisa tenang kalau lo gak ada di sini," kata Alina pelan, merasa malu tapi juga lega.
Di teras kantor sekolah, Direktur Eric udah berdiri bareng istri dan putrinya. Mereka semua senyum-senyum manis dan melambaikan tangan ke kamera. Arion yang mulai gandeng tangan Alina menuntun Alina menaiki tangga. Mereka langsung disambut hangat oleh Direktur Eric.
Salah satu wartawan yang lagi sibuk dengan kamera, tiba-tiba melihat mereka berdua dan mengikuti langkah mereka ke tangga.
"Nona Alina, apa betul ini Anda? Gadis yang sangat beruntung bisa masuk Horizon International Academy lewat jalur khusus?" tanya wartawan itu.
"Y-ya, benar," jawab Alina dengan suara pelan, merasa dadanya sesak banget.
Sebelum wartawan itu nanya yang lain, Alina udah lebih dulu bareng Direktur Eric yang lagi melirik Arion dengan tatapan penuh arti, kayaknya dia menyadari sesuatu.
Mata Direktur Eric langsung tertuju ke Alina, mukanya kelihatan kaget. "Alina? Saya kira kamu akan datang pakai kendaraan pribadi dan lewat pintu belakang seperti yang saya sarankan," gumamnya bingung.
Alina langsung menahan napas, merasa kayak ada yang salah. Dia sebenarnya bohong soal punya kendaraan. Dan lewat pintu belakang, itu artinya dia harus jalan lebih jauh dua kali lipat, yang dimana bikin dia tambah capek.
Direktur Eric sendiri sudah menawarkan Alina untuk tinggal di asrama sekolah, plus uang saku yang cukup besar, tapi Alina tolak karena gak mau tinggal satu kamar sama orang-orang yang gak se-level sama dia.
Alina juga merasa cukup berutang budi sama Direktur Eric, jadi dia gak mau bikin repot lagi sama masalah lain.
"Maaf, Pak. Ada sedikit perubahan rencana," kata Alina dengan suara rendah. "Saya cuma... mau ngerasain pengalaman baru aja."
Direktur Eric masih keliatan terkejut, tapi dia cuma balas, "Oh gitu ya, Alina. Baiklah, selamat datang, Arion. Kami senang sekali melihat kamu bawa teman baru."
Arion cuma senyum, tapi Alina sendiri sudah merasa pengin buru-buru kabur dari kerumunan itu. Makanya dia berharap banget Direktur Eric nggak nanya banyak soal dirinya.
Direktur Eric melanjutkan sambil merangkul istrinya, Suzenne, "Saya, istri saya, Suzenne, serta rekan saya yang terhormat, Pak Remi Mahendra Kwon yang tidak bisa hadir hari ini, kami telah memilih siswi ini jadi penerima beasiswa kami di HIA. Kami akan tanggung biaya sekolahnya, dan mendukung masa depannya. Ketika kami tahu dia bukan hanya kehilangan kedua orang tuanya, tapi juga memiliki cita-cita mulia menjadi seorang dokter, kami merasa terpanggil untuk membantu."
Suzenne yang senyum terus, langsung bilang, "Itu luar biasa, sayang," sambil menoleh ke suaminya.
Alina cuma bisa diam, merasa malu banget. Dia langsung menyesal karena menoleh ke arah Clarissa, yang berdiri di sisi Arion. Clarissa Clapton Wijaya adalah putri dari Direktur Eric. Dia sudah lama jadi model terkenal dan kelihatan jauh lebih cantik secara langsung dibandingkan di media sosialnya.
Alina terlihat lusuh jika dibandingkan sama Clarissa yang cantik, mirip seperti dewi. Clarissa pake gaun mini merah muda yang anggun, dan sepatu hak tinggi yang warnanya serasi dengan gaunnya.
Saat itu, tiba-tiba reporter tinggi paruh baya memanggilnya, "Eh... Nona."
Alina langsung kaget saat mendengar ada yang memanggil, sementara Direktur Eric menambahkan, "Namanya Nona Alina."
"Ah, ya. Terima kasih," kata reporter itu sambil mengangguk sedikit.
"Eh, Nona.. Alina, gimana rasanya bisa mendapatkan kesempatan luar biasa yang jadi impian seluruh siswa-siswi se-Indonesia?" tanya wartawan itu.
Pertanyaan itu langsung bikin Alina merasa kayak ditinju di perut. Dia narik napas panjang, mencoba untuk tetep tenang meskipun makin banyak perhatian yang fokus ke dia.
Dengan suara sedikit serak, Alina jawab, "Sebenarnya... ini seperti mimpi. Sejujurnya, saya gak pernah nyangka bisa lanjut sekolah setelah orang tua saya... meninggal."
Suaranya masih bergetar, meskipun dia berusaha tetap keliatan kuat, tapi rasa sakit itu nggak bisa ditutupi.
Reporter itu langsung minta maaf, "Maaf, Nona Alina, saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Anda."
"Gak apa-apa," jawab Alina pelan. "Saya tahu Anda hanya melakukan pekerjaan Anda."
Direktur Eric menyentuh bahunya dengan lembut, "Alina sudah melewati banyak hal yang sulit. Tapi saya yakin dia tidak mau orang lain tahu. Orang tua dia pasti akan sangat bangga sama dia, kalau mereka masih hidup. Saya pun sangat mengerti rasanya kehilangan, dan proses menyembuhkan luka seperti itu pasti butuh waktu."
Air mata Alina mulai menetes, tapi dia langsung buru-buru menyeka dengan cepat. "Tapi... saya berterima kasih sekali sama Direktur Eric yang sudah memberikan kesempatan ini. Dan juga pada Pak Remi yang sudah mendukung saya," ucapnya pelan.
Semua orang di sekitar mereka langsung diam, fokus pada Alina.
"Ya ampun itu sangat memilukan," kata seorang reporter sambil memperhatikan Alina.
Dan kemudian, wartawan lain langsung nanya lagi, "Arion, gimana perasaanmu tentang keputusan ayahmu dan keluarga Wijaya?"
Arion yang dari tadi diam aja langsung tersenyum, dan melihatnya langsung bikin hati Alina berdebar.
"Menurut saya itu luar biasa," jawab Arion.
"Sayangnya, Ayah gak bisa hadir. Makanya saya di sini sebagai pengganti dia. Saya harap dia nonton, supaya dia tau betapa bangganya saya karena dia bisa bantu Direktur Eric melakukan ini."
Alina merasa terharu banget, apalagi dengan kata-kata Arion dan dukungan dari Direktur Eric. Rasanya dada Alina kayak mau meledak.
"Dan saya pengen Alina tahu, dia gak sendirian," lanjut Arion sambil meraba punggung Alina dengan lembut. Alina langsung bergidik.
"Oh, Alina," Clarissa tiba-tiba ngomong juga. Nada suaranya manis banget, tapi terasa berlebihan. "Menurut saya, Alina sudah mengalami hari yang berat. Pasti luar biasa bisa saling bantu di tengah situasi sulit seperti ini."
Tatapannya penuh simpati, tapi ada kesan sinis di balik senyumnya. Clarissa juga mengedipkan matanya, kayaknya dia senang melihat orang-orang kasihan sama Alina.
Alina langsung menarik napas panjang, berusaha sabar. Sementara Clarissa terus nempel manja pada Arion. "Kenapa kita gak jalan-jalan aja?" tanya Clarissa.
"Mungkin kita bisa bantuin dia cari seragam sama buku-buku. Biar dia siap-siap buat hari pertamanya di sekolah, kan?" lanjut Clarissa lagi.
Alina sempet melirik Direktur Eric, berharap dia mengerti dan kasih izin. Kebetulan juga, Alina pengin segera keluar dari kerumunan itu.
"Kedengarannya ide yang bagus, sayang," jawab Suzenne sambil memperhatikan Arion dan Clarissa. "Kalian bantuin dia, sementara aku dan ayah mu tunggu di sana."
Alina merasa lega banget, 'Yah, setidaknya sekarang gue bisa nafas dengan tenang,' pikirnya.
Saat Arion menarik tangannya, Alina mulai tenang. Tapi tiba-tiba Clarissa menyalipnya dengan cepat, menyambar tangan Arion dan melewati Alina.
Alina mengangkat alis, nggak terkejut dengan kelakuan Clarissa. Tapi cuaca yang makin panas mulai mengganggu. Dia mulai berkeringat dan kepalanya pusing.
"Hei, cewek baru. Lo gak apa-apa?" tanya Arion.
"Huh.. Dia baik-baik aja, Arion!" Clarissa langsung menarik lengan Arion lagi dan bilang, "Dia bukan satu-satunya cewek di sini kok."
"Gue cuma ngelakuin apa yang ayah kita suruh," jawab Arion sambil menepis tangan Clarissa.
Alina tersentak, merasa bingung dan sedikit terluka. "Maksud lo apa? Apa yang dilakukan ayah lo?"
Arion menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya.
"Duh, Alina, jangan terlalu dipikirin deh," Clarissa memutar bola matanya dengan angkuh. "Dan tolong... jangan ganggu Arion gue lagi."
Arion mendesah, memandang Clarissa frustrasi. "Gue benci banget denger lo nyebut gitu, Clarissa. Telinga gue rasanya pengen pecah! Semua ini cuma akting demi nyenengin ayah kita!"
Clarissa cuma mendengus.
"Lo pergi dulu deh ke kantor. Gue pengen ngomong berdua sama cewek ini."
Alina penasaran dan sedikit khawatir, "Apa ya yang bakal dia bilang? Kenapa dia bisa begitu marah sama gue?"
Clarissa menghentakkan kakinya ke tanah, tapi entah kenapa, dia tetap bisa menjaga penampilannya.
Kuku panjang berwarna pink tua miliknya menusuk-nusuk dada Alina. "Gue nggak tau lo mau ngapain," katanya dingin, "Tapi jangan harap lo bisa main-main sama ayah gue. Gue nggak akan biarin cewek pemeras kayak lo ada di sekitar dia."
Alina menahan diri, mencoba tetap tenang meski merasa terpojok. Clarissa jelas punya kontrol penuh atas situasi ini, dan Alina harus terima itu.
"Gue punya hak di sini," kata Clarissa lagi, penuh keyakinan. "Sedangkan lo? Lo ada di sini cuma karena ayah gue."
Ekspresi Alina tetap datar. "Gue nggak tau lo siapa," jawabnya pelan, "Tapi gue gak pernah memeras siapapun."
Clarissa mengejek sambil menjatuhkan tangannya. "Ah, lo nggak usah bohong deh. Dengan duit dan reputasi ayah gue yang luar biasa itu, dia nggak perlu bantuin orang kayak lo cuma buat dapetin keuntungan politik."
"Gue nggak memeras dia," tegas Alina. Namun, kebingungannya mulai muncul.
"Tunggu... Apa dia bilang ke lo kalau gue gitu?" Alina merasa aneh sejak awal, tapi pikiran bahwa Eric Clapton Wijaya bantu cuma buat alasan pribadi agak nggak masuk akal. "Gimana mungkin dia sama para donatur lain bisa terlibat gitu aja?"
Clarissa menyilangkan tangannya dan mendekati Alina, sikapnya menantang. Alina perlahan mundur.
"Satu-satunya alasan yang masuk akal," kata Clarissa dengan suara rendah, "Adalah lo nyembunyiin sesuatu dari ayah gue. Dan gue pengen tau apa itu."
Alina ingin banget dorong Clarissa, berharap melihatnya tersandung sepatu hak tinggi. Tapi ia tarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
"Gue juga nggak tau kenapa ayah lo ngelakuin ini," balas Alina pelan. "Dia tiba-tiba dateng ke rumah sakit waktu gue lagi berduka, lumpuh atau apalah itu... dan dia nawarin beasiswa ke gue. Itu aja."
Clarissa menyipitkan mata, bibirnya mengerut tajam. "Itu nggak masuk akal," katanya, "Tapi karena lo orang yang dibantu ayah gue, gue bakal tahan diri buat nggak jahat. Setidaknya, nggak di depan kamera." Senyum sinis terbit di wajahnya.
"Gue ngerti," jawab Alina dengan tenang.
Clarissa mengangguk tipis, tetap dengan tatapan meremehkan. "Gue pergi dulu. Tunggu di sini." Dia melengos pergi.
Namun, Alina nggak berniat nunggu. Ia memutuskan untuk balik, lalu lari menuju gerbang. Kulitnya gatal karena bulu kuduknya terus meremang menghadapi Clarissa.
Setelah berhasil keluar, Alina ngos-ngosan. Dia pun langsung pesen Go-Jek. Alina melirik dompetnya dan meringis melihat sisa uang yang makin menipis. Setiap kali mengeluarkan uang, rasa cemas itu datang-sumber keuangan yang ia miliki hampir habis.
Sesampainya di rumah, pikirannya berkecamuk. Alina tau, dia harus segera cari kerja-apa aja yang halal, asal bisa menutupi kebutuhan sehari-harinya.
***
Tak terasa Alina ketiduran sampai pagi di sofa ruang tamu karena kelelahan. Saat terbangun, dia langsung siap-siap buru-buru, karena dia harus datang ke sekolah lebih awal buat ngambil seragamnya.
Untungnya, Alina berhasil mendapatkan seragamnya dari kantor tadi. Sekarang dia harus ke perpustakaan, tapi baru ingat kalau nggak tau lokasinya. Dia cuma ingat jalan menuju kantor, jalan yang sama yang bikin dia terjebak konfrontasi sama Clarissa kemarin.
Mengingat itu air mata Alina mulai turun lagi, dia nggak bisa nahan. Alina lelah sekarang, dan dia berkeringat. Belum lagi pas pulang nanti dia harus jalan kaki lagi.
Alina tarik napas panjang, mengipas-ngipasi matanya. Lalu merasa jantungnya berdebar lebih cepat ketika sesosok datang...
"Hei... lo baik-baik aja?"
Akhirnya, pandangan Alina jadi jelas dan dia lihat cowok di depannya, dia nggak kalah tampan dari Arion. Dia pake jersey dan bawa ransel HIA berwarna biru tua.
"Ya, cuma agak lelah," gumam Alina. "Dan... nyasar."
Alina sadar dia ngadepin jalan cowok itu di lorong kecil ini. "Oh, maaf ya."
"Kenapa lo minta maaf?"
Alina nunjuk jalan. "Gue ngahalangin jalan lo."
"Nggak juga." katanya, ngusap rambut hitam gelapnya.
Mereka jalan beriringan lewat lorong yang sepi. Pria itu tampak santai, sementara Alina sesekali mencuri pandang.
"Gue liat lo cukup terkenal," katanya tiba-tiba, ngebangunin Alina dari lamunan. "Kemarin, gue nonton wawancara lo di televisi. Lo keren."
Pas senyum, matanya mengerucut kayak anak anjing. Tangan Alina jadi gatel, dia buru-buru turunin tangannya, ngelawan dorongan aneh buat nyentuh wajah pria itu.
Alina senyum kecut. "Ah, itu... Mereka cuma bikin gue yang lagi berduka keliatan cakep di layar."
"Hmm.. maaf. Gue tau itu nggak gampang." Wajahnya jadi lebih prihatin. Tapi langsung berubah jadi senyuman lembut.
"Oke... bilang aja lo mau kemana. Gue temenin."
Alina ngutuk dirinya yang nggak pintar. Harusnya dia liat peta dulu sebelum datang, tapi sejak kemarin dia lebih fokus cari kerja sampai dia lupa mikirin sekolahnya.
"Toko buku."
"Lo beruntung." Pria itu ngedipin mata.
"Karena gue sama sekali nggak tau."
Sudut mulut Alina terangkat. "Hmmm... dan gimana itu bikin gue beruntung?"
"Karena kita bisa nyari bareng. Sebenarnya gue juga pengen nemuin." Dia ngelirik ke luar, terus dengan lembut genggam lengan Alina dan bawa ke pintu samping.
"Cuma ada satu hal yang lebih baik dari nyasar sendirian."
"Oh gitu ya." Alina bener-bener senyum. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, rasa sakit karena kematian orang tuanya agak mereda.
"Dan apa tuh?"
Dia menyenggol lengan Alina pakai bahunya. "Nyasar sama orang lain."
"Dengan gitu, lo bisa jalan-jalan sambil nunggu bel masuk. Selain itu, gue tau tata letak dasar sekolah, dan gue yakin kita bakal nemuin toko buku di tempat umum." Dia bukain pintu buat Alina.
"Kita bisa muter-muter danau waktu istirahat nanti. Yah... lo tau lah. Nggak mudah di tempat kayak gini." Dia perhatiin sekeliling.
"Kita bisa sembunyi dari para siswa kaya yang mungkin bakal ngasih lo pelajaran."
Perut Alina bergejolak. Tapi, perpustakaan itu tampak sepi. Meskipun ada beberapa siswa lewat. Mereka pake aksesoris bermerek yang harganya mungkin sama kayak sewa rumah Alina.
"Jadi, lo tau jalan? Kayaknya lo juga murid pindahan."
"Yup, bener. Kita punya banyak kesamaan." Dia memasukkan tangan ke saku sambil belok menuju ruangan lainnya.
"Gue murid pindahan dari sekolah lain pas ditawarin beasiswa sepak bola."
"Wah, keren."
Dengar kata sepak bola perut Alina tenggelam. Berarti dia kenal Arion Mahendra. Anak keturunan Korea nyebelin, yang bermarga Kwon itu.
"Kedengarannya lo nggak senang." Dia berpura-pura terkesiap.
"Gue berjanji gue nggak bermaksud kayak gitu." Alina ketawa, meski sedikit dipaksakan. Mungkin berteman dengan cowok asing ini-sesuatu yang dapat dimanfaatkan saat ini.
Cowok itu membuka pintu perpustakaan untuk Alina. Namun, sebelum ia benar-benar masuk, ia berbalik dan berkata, "Makasi ya... uh, gue belum tahu nama lo."
Cowok itu tersenyum lebar. "Ah. Nama gue.."