Bab 1

Namaku Bayu, seorang fotografer lepas yang sedang ingin rehat dari hiruk-pikuk kota. Mumpung ada waktu luang, aku memutuskan pergi ke kampung nenek di lereng gunung. Udara di sini sejuk, pemandangannya indah, dan rasanya tepat untuk menambah koleksi foto-foto pemandangan alamku.

Pada saat tiba di rumah nenek, suasana kampung itu langsung membuatku merasa tenang. Namun, yang menarik perhatianku bukan hanya pemandangan pegunungan atau ladang-ladang hijau yang terhampar luas di depan rumah. Ternyata, di sebelah rumah nenekku, tinggal seorang perempuan yang sulit menggambarkannya. Namanya Lina. Wajahnya cantik, dia sederhana tapi hal itu yang membuatnya sangat menarik.

Setelah bertanya sama nenekku, ternyata Lina adalah seorang janda muda, dan dia punya anak kecil yang usianya mungkin sekitar dua tahun. Aku sempat melihatnya bermain dengan anaknya di halaman depan rumahnya yang sederhana, sambil tersenyum lebar meski dengan wajah letih. Sesuatu dalam dirinya menggugah hatiku. Aku tahu, tak seharusnya aku merasa tertarik seperti ini, mungkin karena dia tampak berbeda dari perempuan-perempuan kota yang biasa kutemui.

Pakaian Lina sederhana Namun, justru di situlah daya tariknya. Bukan kemewahan, melainkan kesederhanaannya yang begitu menggoda. Setiap kali aku melihatnya, rasanya ada dorongan untuk mendekat, untuk mengenal dia lebih dalam. Aku tak tahu pasti kenapa aku merasakan ini. Mungkin karena cara dia tersenyum pada anaknya, mungkin juga karena tatapan matanya yang penuh dengan kehidupan, meski jelas dia memikul beban berat sebagai seorang ibu tunggal.

Secara diam-diam dari jendela rumah nenek, atau pada saat aku berjalan di sekitar kampung untuk mengambil foto. Entah apa yang harus kulakukan. Aku selalu teringat dengan Lina.

Sore itu, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Matahari sudah mulai turun, meninggalkan warna jingga yang lembut di langit. Aku melihat Lina duduk di depan rumahnya, memangku anak kecilnya yang tertawa riang. Momen itu tampak sempurna di mataku, dan aku tahu ini kesempatan yang tepat.

Aku berjalan mendekat dengan hati berdebar. Saat jarakku sudah cukup dekat, Lina mengangkat kepalanya, menyadari kehadiranku. Senyum lembut tersungging di wajahnya, membuatku merasa sedikit lebih nyaman.

"Selamat sore, Mbak Lina, ya?" Aku membuka percakapan, berusaha menjaga nada suaraku tetap santai.

Lina mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, sore juga. Maaf, Mas siapa ya?" tanyanya dengan suara lembut yang membuatku merasa hangat.

"Bayu, Mbak. Aku tinggal di rumah sebelah, rumah nenek," jawabku sambil menunjuk ke arah rumah nenek.

"Kebetulan lagi liburan di sini."

"Oh, cucunya mbah Darti?" Lina tersenyum lebih lebar.

Aku mengangguk, merasa percakapan berjalan lebih lancar dari yang kukira,"Iya, aku baru ke sini lagi, Mbakmu. Lagi cari suasana baru, sekalian hobi fotografi aku bisa tersalurkan di sini"

"Oh, hobi motret? Bagus itu," sahutnya sambil mengelus kepala anaknya yang mulai menguap, tanda kelelahan.

"Di sini banyak pemandangan bagus buat difoto."

"Iya, itu juga yang bikin saya betah di sini." Aku terdiam sebentar, lalu melanjutkan dengan sedikit ragu.

"Kalau Mbak Lina enggak keberatan, suatu waktu mungkin bisa saya fotoin"

Dia tertawa pelan, suara tawanya begitu lembut,"Aku? Aduh, enggak pantas difoto. Sudah ibu-ibu begini"

Aku tersenyum dan menggeleng,"Justru itu, Mbak. Kesederhanaan dan kealamian itu yang paling indah buat difoto. Lagi pula mbak itu cantik kok, natural banget malah"

Dia tampak tersipu, wajahnya sedikit memerah, tapi senyumnya tetap ramah,"Wah, bisa saja Mas Bayu. Tapi, nanti boleh deh, kalau anak saya enggak rewel"

Pembicaraan itu terus mengalir dengan ringan. Lina ternyata orang yang sangat ramah, lembut bicaranya, dan meskipun ada kesedihan di matanya, dia tetap tampak kuat. Anak kecilnya yang duduk di pangkuannya sesekali menarik perhatianku, dan Lina dengan sabar menenangkan anaknya setiap kali dia mulai merengek.

Setelah beberapa saat, aku merasa hubungan kami sedikit lebih dekat. Aku pamit karena hari sudah mulai gelap, dan Lina pun harus masuk untuk menidurkan anaknya.

"Sampai jumpa, Mbak" ucapku sebelum berbalik.

"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan, ya."

Lina tersenyum lagi, tatapan matanya hangat,"Iya, Mas Bayu. Terima kasih."

Aku berjalan kembali ke rumah nenek dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Entah bagaimana, pertemuan sederhana itu membuatku merasa ada sesuatu yang berubah. Aku ingin mengenal Lina lebih dalam, bukan sekadar perempuan tetangga. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarikku, dan aku merasa... aku harus lebih dekat dengannya.

**

Sekitar jam tujuh malam, suasana di kampung semakin tenang. Aku duduk di depan rumah nenekku yang terbuat dari papan kayu, menikmati secangkir kopi hangat sambil menghisap rokok. Malam itu angin berhembus lembut, membawa aroma khas pegunungan yang menenangkan. Langit sudah gelap, tetapi bintang-bintang mulai muncul satu per satu.

Pada saat itu, aku melihat sosok yang sangat aku harapkan. Lina keluar dari rumahnya dengan secangkir teh di tangannya. Senyumnya yang manis memancarkan kehangatan malam yang dingin. Dia tampak anggun dengan pakaian sederhana, rambutnya yang panjang terurai sedikit. Hatiku berdebar, dan aku berusaha menata pikiranku sebelum menyapanya.

"Malam, Mbak Lina!" sapaku, berusaha terdengar santai.

"Malam, Mas Bayu." Lina mendekat, wajahnya cerah diterangi cahaya rembulan.

"Mas lagi ngapain?"

"Ini, lagi menikmati kopi sambil meresapi suasana. Kampung ini benar-benar indah," jawabku, menyilangkan kaki.

Dia tertawa lembut,"Iya, memang enak sekali. Sederhana, tapi damai"

Kami berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan malam. Aku melihat dia menyesap tehnya perlahan, lalu terlintas ide di kepalaku.

"Mau bergabung? Bisa kita bicarakan tentang kampung ini atau apa pun yang Mbak suka."

"Boleh juga, ya." Lina tersenyum, lalu duduk di bangku yang ada di sampingku.

"Kampung ini punya banyak cerita loh"

Mendengar itu, semangatku bangkit,"Cerita yang menarik? Aku pasti ingin mendengarnya."

Dia mulai bercerita tentang kehidupannya di kampung, tentang bagaimana dia mengurus anaknya, tantangan yang dihadapi sebagai seorang janda muda, dan segala hal yang menyertainya. Suaranya lembut dan menenangkan, dan aku bisa melihat ketulusan di wajahnya saat dia berbicara.

"Kadang, iya aku merasa kesepian," ucapnya, menatap jauh ke arah bintang-bintang.

"Tapi, anakku menjadi alasan untuk terus berjuang. Dia sumber kebahagiaanku," imbuhnya pelan.

Aku merasakan ada kedalaman dalam setiap kata yang Lina ucapkan.

"Itu sangat luar biasa, Mbak. Tentu bukan hal yang mudah," ucapku, berusaha menunjukkan empati.

"Tapi, sepertinya anak itu sangat beruntung punya ibu sepertimu, Mbak," ucapku sambil menatapnya dalam-dalam.

Dia menatapku dengan mata yang bersinar,"Terima kasih, Mas Bayu"

Percakapan kami mengalir begitu alami, seolah-olah kami sudah saling mengenal lama. Setiap tawa dan cerita dari Lina membuatku semakin tertarik padanya. Rasa ketertarikan itu semakin menguatkan tekadku untuk mengenalnya lebih dalam.

"Bagaimana kalau kita sering berbincang seperti ini? Mungkin aku bisa membantu Mbak Lina dengan fotografi, atau apa pun yang bisa saya lakukan," tawarku, berusaha tidak terdengar terlalu memaksakan.

Lina menatapku, sepertinya merenungkan tawaranku,"Itu ide yang bagus, Mas. Aku suka jika ada teman untuk berbagi cerita"

Malam semakin larut, tetapi kami berdua tetap terbenam dalam obrolan, membangun ikatan yang belum pernah kukira akan terjadi. Perasaan di dalam diriku tumbuh lebih kuat, aku ingin menjadi bagian dari hidupnya, membantu meringankan beban yang dia pikul. Sepertinya, malam ini adalah awal dari sesuatu yang indah.

"Mbak, boleh aku tanya sesuatu?"

"Ya boleh lah, Mas. Tanya aja... Emang mau tanya apaan?" balasnya, terlihat tidak keberatan. Tetapi aku sendiri yang merasa gugup.

**

Bab 2

"Gini, Mbak... sebenarnya mbak udah berapa lama hidup sendiri?" tanyaku pelan, sambil menatapnya. Aku tak ingin terdengar terlalu ingin tahu, tapi rasa penasaran ini terus menggelitikku.

Dia terdiam sejenak, matanya menatap secangkir teh yang masih digenggamnya. Ada sorot sedih yang sekilas terlihat, sebelum akhirnya dia menghela napas pelan.

"Sudah dua tahunan, Mas," jawabnya lembut.

"Suamiku menceraikan aku tak lama setelah anak ku lahir," imbuhnya.

Jawabannya membuatku terkejut, meski aku mencoba menyembunyikannya. Aku bisa merasakan kepedihan dalam suaranya, meski dia berusaha menutupi.

"Maaf, Mbak. Aku enggak bermaksud membuat Mbak mengingat hal-hal yang menyakitkan," ucapku cepat, berharap dia tak merasa tersinggung.

Lina menggeleng sambil tersenyum kecil, meski senyumnya terlihat berat,"Enggak apa-apa, Mas Bayu. Kadang kita memang harus menerima kenyataan, seberat apa pun itu. Waktu itu, suamiku bilang sudah tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Katanya dia sudah tidak punya rasa lagi. Aku juga gak tahu kenapa"

Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Mendengar ceritanya membuatku merasa iba sekaligus marah pada pria yang meninggalkannya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang meninggalkan wanita sebaik dan setegar Lina, apalagi saat anak mereka baru lahir? Terlebih lagi Lina mempunyai paras yang cantik, tubuhnya juga bagus. Rugi banget pria yang menceraikannya.

"Padahal, waktu itu aku pikir semuanya baik-baik saja," lanjut Lina, suaranya tetap tenang meski ada kesedihan yang tersirat.

"Tapi ya, hidup kadang berjalan seperti ini. Aku hanya fokus pada anak sekarang, Mas."

Kata-katanya menyentuhku lebih dalam dari yang kukira. Perjuangannya, kesederhanaan dan ketegaran Lina dalam menghadapi hidupnya sebagai janda muda benar-benar membuatku jatuh hati. Di balik kelembutannya, ada kekuatan yang luar biasa. Bukan sekadar wajah cantik atau penampilan yang sederhana, Lina adalah sosok wanita yang berjuang tanpa keluh, yang berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya meskipun harus menghadapi kesulitan seorang diri.

"Aku benar-benar salut sama Mbak Lina," ucapku, suaraku penuh ketulusan.

"Mbak luar biasa kuat. Enggak semua orang bisa menghadapi hal seperti ini dengan cara seperti Mbak."

Lina menatapku, tatapan matanya seakan berterima kasih, tapi juga ada sedikit keraguan.

"Terima kasih, Mas Bayu. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk anak, Mas. Hidup ini terus berjalan, dan aku harus melangkah, meski terkadang rasanya berat," ucapnya lembut.

Aku tersenyum padanya, meski dalam hati perasaanku campur aduk, antara rasa prihatin, simpati, dan... ya, aku tak bisa menyangkal perasaanku juga yang memang jatuh hati sama perempuan di sebelahku.

Ada sesuatu dalam diri Lina yang membuatku ingin lebih dekat, ingin melindunginya. Aku tahu dia wanita yang kuat, tapi bagian dari diriku ingin menjadi seseorang yang bisa meringankan bebannya, meski hanya sedikit. Rasanya semakin lama semakin sulit bagiku untuk menyembunyikan perasaan ini.

Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Lina. Selain wajahnya yang cantik alami, tubuhnya pun menggoda meski sudah punya anak. Postur tubuhnya masih terlihat seperti seorang gadis, ramping dan anggun. Dalam benakku, terpikir betapa cocoknya Lina jika menjadi model. Kesederhanaannya yang memikat justru membuatnya tampak lebih istimewa.

Obrolan kami berlanjut, tapi aku merasa ingin lebih jujur padanya. Setelah beberapa saat, aku memberanikan diri untuk berbicara.

"Mbak Lina," ucapku pelan, mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan pikiranku.

"Jujur saja, aku kagum sama Mbak. Bukan hanya karena Mbak orangnya kuat dan tegar, tapi... Mbak juga cantik banget. Bahkan, aku kepikiran, sepertinya mbak cocok banget jadi model."

Mendengar kata-kataku, Lina terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Wajahnya langsung memerah, tampak jelas bahwa dia malu mendengar pujianku.

"Mas Bayu bisa saja," jawabnya sambil tersenyum, menutupi rasa malunya.

"Saya ini cuma ibu-ibu kampung, mana mungkin jadi model, Mas"

"Tapi bener loh, Mbak," lanjutku, lebih serius kali ini.

"Karena, meski Mbak sudah punya anak, Mbak masih terlihat seperti gadis. Dan aku rasa kalau Mbak mau, Mbak bisa jadi model. Bahkan mungkin model profesional."

Lina tertawa lagi, kali ini lebih lepas,"Mas Bayu bisa banget bikin orang malu, ya. Tapi terima kasih atas pujiannya. Aku enggak pernah kepikiran jadi model, apalagi sekarang fokus mengurus anak, Mas"

Aku tersenyum, senang melihat Lina tampak lebih santai dan tertawa,"Ya, enggak ada salahnya mencoba hal baru. Kalau Mbak mau, nanti aku bisa fotoin buat latihan"

Dia masih tersipu-sipu, tetapi ada rasa kehangatan di antara kami. Obrolan ini membuat hubungan kami semakin dekat. Aku bisa merasakan, meskipun dia tertawa dan menganggapnya candaan, ada bagian dari dirinya yang merasa senang dengan pujian itu. Bagiku, ini bukan sekadar candaan, aku benar-benar mengaguminya, dan semakin lama, semakin sulit menahan perasaan yang tumbuh dalam diriku.

"Gini aja deh, Mas. Jika mas butuh temen untuk menunjukkan lokasi atau pemandangan yang bagus, nanti aku bisa anterin keliling," ucapnya menawarkan diri.

Mendengar itu, aku langsung kaget sekaligus senang, karena dia bersedia membantuku mencari tempat-tempat indah untuk dipotret di kampung ini, hatiku langsung berdebar. Kesempatan emas untuk menghabiskan waktu lebih lama dengannya! Tanpa pikir panjang, aku langsung menyetujui ide tersebut.

"Wah, boleh tuh! Aku akan sangat senang, Mbak Lina," jawabku dengan semangat, berusaha menyembunyikan kegembiraanku yang melonjak.

"Kalau Mbak tahu tempat-tempat bagus, aku pasti mau mengambil gambar di sana, sekalian biar aku lebih bisa memahami kondisi kampung di sini, Mbak."

Lina tersenyum manis, dan entah kenapa senyumnya itu membuat malam yang dingin ini terasa lebih hangat.

"Besok pagi kita bisa pergi ke sawah dan sungai di dekat bukit. Di sana pemandangannya indah sekali, Mas. Banyak juga bunga liar yang tumbuh," ucapnya diakhiri senyuman manis.

Aku bisa membayangkan keindahan tempat yang dia sebutkan, dan semakin tak sabar menantikannya,"Itu terdengar sempurna, Mbak. Besok pagi aku pasti siap"

Setelah obrolan itu, aku merasa hubungan kami semakin dekat. Bukan hanya karena rasa kagumku yang semakin besar, tapi juga karena Lina membuka dirinya untuk berbagi lebih banyak denganku. Aku tahu, kesempatan untuk memotret bukan hanya tentang pemandangan yang indah, tapi juga tentang waktu yang lebih intim dihabiskan bersama Lina. Mungkin, dalam perjalanan mencari sudut-sudut terbaik di kampung ini, aku bisa mencari cara untuk mengenalinya lebih dalam lagi.

Karena sudah larut malam, setelah Lina kembali ke rumahnya, aku duduk merenung. Mungkin besok bukan hanya tentang potret alam, tapi juga tentang membuka lembaran baru dalam hidupku yang bisa saja melibatkan Lina. Rasanya aku semakin tak sabar menantikan apa yang akan terjadi esok hari.

Dalam diam, aku tak bisa berhenti memikirkan Lina. Bayangan dirinya terus bermain di kepalaku, dan semakin lama aku merasakan perasaan yang lebih dari sekadar kekaguman. Entah kenapa, meskipun dia seorang janda, hatiku merasa benar-benar jatuh hati padanya. Ada sesuatu yang begitu menggoda dalam dirinya, bukan hanya kecantikannya, tapi ketegaran, kelembutan, dan kesederhanaannya yang membuatku semakin tertarik. Begitu juga dengan tubuhnya yang bagus.

Dia memang sudah menjadi seorang ibu, tapi kecantikannya seolah tidak memudar. Bahkan, dalam pandanganku, Lina memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan. Aku ingin menangkap keindahan itu melalui lensa kameraku, ingin mengabadikan setiap sudut dari dirinya yang membuatku terpesona.

"Besok, aku akan berusaha membuatnya mau aku potret, sayang banget wajah secantik itu dan tubuhnya yang molek itu di sia-siakan," pikirku sambil menghela napas panjang.

*****

Bab 3

Aku memutuskan untuk istirahat dan tak sabar menunggu esok. Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Mimpi indah yang barusan kurasakan masih segar dalam ingatan, aku bermimpi berduaan dengan Lina. Entah bagaimana, mimpi itu terasa begitu nyata, seolah aku bisa merasakan kehadirannya di sampingku. Namun, saat tersadar bahwa itu hanya mimpi, aku merasa sedikit kecewa, meski bayangan indah tentang Lina masih membekas.

Aku bangun dari tempat tidur, dan saat berjalan keluar kamar, kudengar suara nenekku dari dapur. Nenek sudah bangun dan sibuk menyiapkan sarapan. Nenekku adalah sosok yang penuh perhatian dan rajin, meski usianya sudah tidak muda lagi. Selain nenek, di rumah ini aku juga tinggal bersama sepupuku, Sari. Dia masih duduk di kelas 6 SD, anak yang ceria dan selalu membawa keceriaan ke rumah ini. Sementara orang tua Sari sedang ada di jakarta, usaha di sana.

Udara pagi di sini memang dingin, khas daerah pegunungan. Sambil mengusap wajahku yang masih terasa dingin, aku berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Aku butuh sesuatu yang hangat untuk mengusir hawa dingin ini. Nenek menoleh saat melihatku masuk.

"Kamu sudah bangun, Yu? Kopinya di dapur, ambil sendiri, ya," ujar nenek sambil tersenyum.

Aku mengangguk dan langsung mengambil cangkir, menuangkan air panas dan bubuk kopi. Aroma kopi yang harum segera memenuhi dapur, dan rasanya sedikit membangkitkan semangatku yang masih setengah tertidur.

Sambil memegang cangkir kopi hangat, aku berjalan ke luar rumah, berdiri di depan pintu untuk menikmati suasana pagi. Dingin memang menusuk, tapi secangkir kopi hangat di tanganku membuatnya terasa lebih ringan. Mataku memandang ke arah rumah Lina, yang terlihat samar di balik pepohonan dan kabut tipis pagi itu. Pikiranku kembali terbang ke mimpiku semalam. Rasanya tidak sabar menunggu waktu bertemu dengannya nanti.

Aku duduk dengan nyaman sambil menikmati kopi yang hangat di tengah dinginnya udara pagi, pikiranku terus dipenuhi bayangan Lina. Rasanya aneh, baru beberapa hari kami bertemu, tapi sudah ada perasaan yang kuat tumbuh dalam diriku. Lina begitu memikat, wajah begitu cantik, kulitnya putih bersih, tubuhnya pun nampak menggoda. Mungkin karena dia tampak begitu alami dan sederhana, berbeda dengan perempuan-perempuan di kota. Ada pesona khas yang sulit dijelaskan.

Aku tidak peduli statusnya sebagai seorang janda. Bagiku, itu bukan hal yang penting. Justru, semakin aku mengenalnya, semakin aku merasa tertarik. Ada sesuatu tentang ketegarannya, kelembutan dalam sikapnya, yang membuatku jatuh hati. Lina bukan hanya cantik secara fisik, tapi juga memiliki kehangatan yang jarang kutemui pada orang lain.

Semakin kupikirkan, semakin aku merasa ingin lebih dekat dengannya. Hatiku berdebar membayangkan kesempatan yang akan datang hari ini, saat kami berdua menjelajahi kampung ini bersama. Ini lebih dari sekadar kesempatan untuk mengambil foto, ini adalah kesempatan untuk mengenal Lina lebih jauh. Dan mungkin, jika aku cukup berani, aku bisa mengungkapkan perasaan yang perlahan tumbuh di dalam diriku.

Walaupun aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku bertekad untuk mencoba. Lina adalah wanita yang istimewa, dan aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk membuatnya menjadi bagian dari hidupku. Mungkin, di antara perjalanan kami nanti, aku akan mencari momen yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya. Bagaimanapun caranya, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya agar bisa memilikinya.

Ketika langit mulai terang dan udara dingin masih terasa, aku melihat Lina keluar dari rumahnya. Dia memakai kain yang dililitkan seperti sarung di tubuhnya, tampak begitu santai namun tetap terlihat menawan. Di tangannya, dia membawa ember yang sepertinya berisikan beberapa pakaian. Saat dia melihatku, Lina tersenyum manis seperti biasa, dan sapaan ramahnya membuatku merasa nyaman.

Namun, yang membuatku kaget adalah ketika dia tiba-tiba mengajakku mandi di sungai.

"Mas Bayu, sudah pagi, ayo mandi di sungai saja. Seger lho di sana," ucapnya dengan nada menggoda. Aku hampir tidak percaya dengan ajakannya. Mendengar tawaran itu, ada rasa tertarik yang muncul, tapi di sisi lain aku juga merasa malu.

Lina kemudian meledekku,"Mas Bayu belum mandi kan? Ke sana yuk, mandi di sana pasti seger!"

Aku tersenyum kaku, mencoba menutupi rasa maluku. Jujur saja, aku belum pernah mandi di sungai, tapi ada rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba. Apalagi, bisa lebih lama bersama Lina adalah alasan yang cukup kuat untukku mengesampingkan rasa canggung.

"Baiklah, Mbak Lina, aku ikut. Tapi jangan ketawa kalau aku canggung ya, ini pertama kalinya buatku," jawabku sambil tertawa kecil.

Lina tertawa ringan,"Santai aja, Mas. Nanti aku tunjukin tempat yang bagus buat mandinya"

Sebelum berangkat, aku tak lupa mengambil kameraku. Siapa tahu, ada momen-momen indah yang bisa kuabadikan di perjalanan menuju sungai. Selain itu, kesempatan untuk memotret Lina dalam suasana alami di kampung seperti ini juga tidak boleh dilewatkan.

Kami pun berangkat bersama menuju sungai. Perjalanannya tidak terlalu jauh, tapi cukup memberikan pemandangan alam yang segar dan hijau. Sepanjang jalan, Lina terus berbicara dengan santai, bercerita tentang kampung ini dan masa kecilnya yang sering bermain di sungai. Aku mendengarkan sambil sesekali membalas dengan canda, tapi dalam hati aku tak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi di sungai nanti.

Setibanya di sana, suara gemericik air sungai yang jernih langsung menyambut kami. Tempatnya sepi, dikelilingi pepohonan dan batu-batu besar. Suasananya tenang, hanya kami berdua di sana. Sambil tersenyum, Lina menatapku.

"Ayo, Mas Bayu, silakan duluan," ucapnya sambil menunjukkan tempat terbaik di sungai.

Aku pun meletakkan kameraku dengan hati-hati, dan bersiap untuk pengalaman baru ini. Rasanya aneh, tapi juga menyenangkan. Terlebih lagi, bersama Lina, semua terasa lebih istimewa.

Dalam hati aku semakin penasaran kenapa Lina memilih mandi di sini, padahal di rumahnya pasti ada air. Ketika aku menanyakan hal itu, Dia tersenyum menjawab,"Sesekali aja kalau mau sekalian nyuci, Mas. Biar nggak numpuk di rumah"

Aku hanya mengangguk. Meski awalnya berniat mandi, aku akhirnya memutuskan untuk hanya bersih-bersih saja, membasuh wajah dan tangan di air sungai yang segar. Suasana di sekitar begitu tenang, dengan gemericik air mengalir di antara bebatuan, dan pepohonan rindang yang menaungi kami dari panas matahari yang mulai muncul. Tapi yang paling menarik perhatian adalah Lina.

Dia duduk di atas batu besar, mulai mencuci beberapa pakaian yang dibawanya. Setiap gerakannya tampak anggun, dan tanpa sadar aku tersenyum sambil memperhatikannya. Lina, dengan penampilan sederhana dan apa adanya, terlihat begitu indah. Cahaya pagi yang memantul di permukaan air dan menyorot wajahnya membuatnya tampak seperti sosok yang keluar dari lukisan.

Saat itu, aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar ketertarikan fisik. Ada rasa kagum pada kesederhanaan dan keteguhan hidupnya. Dia menjalani hari-harinya dengan tenang, meski pernah mengalami masa sulit. Dan justru itulah yang membuatku semakin jatuh hati padanya.

Aku terus memandanginya, sesekali tersenyum ketika dia menoleh dan memergokiku memperhatikannya.

"Kenapa, Mas Bayu? Ada yang aneh?" tanyanya sambil tertawa kecil.

Aku menggeleng pelan, masih dengan senyum di wajah,"Nggak ada yang aneh, Mbak. Justru mbak Lina terlihat lebih cantik"

Dia tertawa lagi, dan mungkin sedikit malu, tapi aku bisa melihat ada rona merah di wajahnya,"Ah, Mas ini bisa aja"

**

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED