Siang itu langit di atas kota Jakarta ditutupi awan tebal Kumulonimbus. Sampai-sampai sinar matahari saja tak bisa menembus awan yang membuat hujan lebat beserta petir yang menggelegar itu. Tentu saja hal ini membuat sebagian besar masyarakat kota Metropolitan malas menapakkan kakinya keluar rumah. Walaupun perut keroncongan meminta jatah makanan, tapi tetap saja mereka enggan berbasah-basah ria di jalanan dan lebih memilih jasa pengantar makanan sebagai sarana untuk mendapatkan makanan yang mereka inginkan.
Dan demi lembaran rupiah yang akan memenuhi kebutuhan hidupnya. Para pengantar makanan yang bekerja di bawah naungan sebuah aplikasi modern berbasis jasa mobilitas pun dengan penuh tanggung jawab melaksanakan tugasnya. Salah satu diantaranya bernama Wilona Anastasia. Atau akrab disapa Lona.
Dengan penuh tanggung jawab wanita berusia dua puluh delapan tahun itu melajukan sepeda motor matic yang diberikan bosnya untuk menerjang hujan. Ia tak lagi memperdulikan dinginnya air yang mengguyur seluruh badan membawa hawa sejuk yang berhasil menembus tulangnya. Meskipun ia sudah menggunakan mantel hujan sebagai pelindung.
Tepat di depan sebuah lobi kantor Lona menghentikan laju motornya. Ia pun membuka kaca helmnya. Kemudian meraih ponsel pintar yang tersimpan di dalam saku celana jeansnya. Lona pun memencet beberapa kali layar datar itu. Sebelum akhirnya ia menempelkan gadget itu ke telinga kanannya.
"Hallo, Mbak. Saya sudah sampai lobi kantor Putra Perkasa," ucap Lona pada salah satu pelanggannya hari ini.
"Oh, iya Mbak. Saya kesana sekarang," balas wanita itu.
"Baik, Mbak. Saya tunggu." Tut. Hubungan pun terputus.
Lona memasukkan Smartphonenya kembali ke dalam saku bagian dalam jaket hijau kebanggaan. Lalu ia pun melepas sarung tangan basah yang melapisi kulit tangannya yang mulai berkerut. Huft. Huft. Huft. Beberapa kali Lona meniup kedua telapak tangannya sebelum ia gosok-gosokan dengan cukup cepat. Rasa hangat pun langsung terasa menjalar begitu saja.
"Mbak Lona ya?" ucap seseorang dari belakang Lona. Wanita yang masih berada di atas motor matic itu langsung menoleh.
"Oh, iya. Dengan Mbak Safira?" tanya Lona balik. Sambil menstandarkan motornya. Lalu ia segera turun dari motor itu.
"Benar," jawabnya singkat.
"Ini, Mbak. Pesanannya. Dua bakso bakar ekstra pedas dan tiga bakso cumi goreng kranci ekstra saus Padangnya," kata Lona dengan mulut yang berbusa. Rasanya ia ingin meneteskan air liur saat mengatakan makanan yang pastinya akan enak jika dimakan saat hujan-hujan begini. Apalagi di saat perut sedang meronta-ronta meminta jatah makanan seperti perut Lona.
'Hems.... Pasti enak sekali rasanya,' batin Lona sambil menyerahkan lima boks makanan itu dengan berat hati.
"Iya. Makasih ya, Mbak. Oh, ya. Aku udah bayar lewat aplikasi," sahut wanita itu kemudian melenggang pergi.
"Iya, Mbak," balas Lona setengah bergumam. Senyum Lona pun meredup. Huft. Lalu ia menghembuskan nafas beratnya.
'Padahal, andai dia bayar uang cash. Mau aku beliin makanan untuk Karen,' batinnya nelangsa. Sambil memandangi punggung pelanggannya yang kian menjauh.
Lagi-lagi Lona hanya bisa menghembuskan nafas berat dengan tatapan penuh kekecewaan tergambar di wajahnya. Dengan tak bersemangat ia pun segera naik ke atas motor yang terparkir di sampingnya. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan putri kesayangannya. Namun, sebelum itu Lona harus kembali ke kantor untuk mengembalikan penyimpan makanan yang dipasang di jok belakang motornya.
Motor matic berwarna hijau daun yang dipakai Lona itu pun sebenarnya pemberian Bos Lona secara cuma-cuma. Alasannya sih karena Lona gabung sebagai anggota ke seribu di Growber. Jadi, dia berhak mendapatkan hadiah berupa motor matic itu. Tetapi, entah kenapa sikap lelaki paruh baya itu terlampau baik pada Lona. Padahal bukan hanya Lona anggota baru di sana, tapi perhatian lelaki tua itu pada Lona sangat berbeda dengan sikapnya pada ojol yang lain. Apalagi pada anggota lama. Makanya tidak satu dua orang yang iri sama Lona bahkan sampai ada yang menggosipkan kedekatan mereka berdua. Sebenarnya, Lona juga merasa risih karena selalu digibahkan menjalin hubungan terlarang dengan lelaki berperut buncit itu. Namun, apa mau dikata. Lona masih membutuhkan pekerjaan ini untuk menyambung hidup.
Klunting. Baru sampai setengah perjalanan tiba-tiba ponsel pintar Lona berbunyi. Mau tidak mau Lona pun menepikan laju motornya. Karena ia tidak mau melewatkan orderan yang beberapa bulan ini sudah menghidupi Lona dan juga Karen, putri semata wayangnya. Lona pun terpaksa berhenti di pinggir jalan yang cukup lapang, sebab ia tidak menemukan tempat berteduh di sekitar sana. Untung saja ponsel pintarnya sudah dilapisi kantong khusus yang tahan air. Jadi, benda elektronik itu aman walau terkena siraman air hujan yang begitu deras seperti ini.
Lona pun memencet beberapa kali layar datar itu. Lalu seketika keningnya pun berkerut.
"Duh, gue ambil nggak ya orderan ini? Mana tempatnya jauh lagi. Bisa pulang malem ntar. Kasian juga Karen di rumah sendirian. Tapi, bayarannya lumayan. Kalau gue nggak ambil sayang juga bonusnya," gumam Lona sambil terus menatap layar gawainya. "Gue ambil aja deh. Lagian di deket sana kayaknya ada warung makan murah. Gue bisa beliin Karen makan malam. Seharian ini kan dia cuma makan mie instan. Itu pun kalau dia nggak nungguin gue," lanjut Lona sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku tadi. Lalu ia segera menstarter mesin motornya.
Lona memang hidup berdua dengan putri tercintanya, Karen Aleana Zulfikar. Setelah satu setengah tahun yang lalu proses perceraiannya dengan sang mantan suami selesai. Ia pun pergi berdua bersama sang anak lalu memutuskan tinggal di salah satu kosan sederhana yang harganya memang tepat di kantong Lona.
Sedangkan sang mantan suami yang notabene adalah ayah kandung Karen. Sudah mencampakkan mereka berdua begitu saja. Bahkan, dengan tega ia tak memberikan sepeserpun uang untuk bekal hidup mereka di saat Lona pergi saat itu. Apalagi sampai memberikan kewajibannya untuk menafkahi Karena yang jelas-jelas anak kandungnya.
'Sungguh dia memang manusia tidak berperasaan,' batin Lona tiap kali mengingatnya. 'Andai semua itu tidak terjadi. Gue yakin hidup Karen tidak semenderita ini,' batin Lona sambil terus mengemudikan motor maticnya diantara derasnya guyuran hujan. 'Maafkan, Bunda ya Nak. Gara-gara Bunda tidak bisa membahagiakan kamu. Kamu jadi harus mengalami hidup susah seperti ini,' tambah Lona. Tak terasa air matanya pun meleleh berbarengan dengan tetesan air hujan yang membasahi mantel yang menutupi seluruh tubuhnya.
Pikiran Lona semakin melanglang buana di dalam pengalaman-pengalaman pahit yang menerpa hidupnya. Sampai-sampai ia pun mengendarai motornya dengan tidak fokus. Saking asyiknya melamun, Lona sampai tidak sadar dengan keadaan jalanan di depannya. Saat mobil di depan Lona tiba-tiba mengerem. Akhirnya....
Brak!!!
Brak!!!
Lona pun menabrak sebuah mobil mewah di depannya. Untung saja laju motornya tidak terlalu kencang. Jadi, mobil yang ditabrak Lona tidak rusak parah, hanya lecet-lecet biasa.
"Oh, Tuhan. Apalagi ini?" gumamnya sambil menghentikan laju motornya di salah satu sisi jalan.
Lona pun segera turun dari motornya lalu menghampiri mobil putih yang dari bodinya saja sudah dapat diterka jika mobil itu mahal harganya. Dengan badan yang gemetaran Lona mengetuk kaca mobil buram yang masih tertutup rapat itu.
Sret....! Kaca mobil pun turun sebagian.
'Mungkin karena tidak mau air hujan sampai masuk ke dalam,' pikir Lona sekilas.
Lona melongokkan kepalanya ke dalam mobil itu. Hingga akhirnya nampaklah sosok lelaki berwajah tampan dengan kulit putih bersih dan rahang yang terlihat kokoh.
"Maaf, Mas. Maaf. Saya tidak sengaja menabrak mobil anda. Tapi, nggak parah kok cuma lecet dikit saja," cerocos Lona panjang lebar. Bukannya membalas ucapan Lona lelaki itu pun hanya tersenyum meremehkan. Sambil menoleh ke arah Lona. Untuk sepersekian detik berikutnya Lona pun terdiam. Terpesona dengan ketampanan lelaki yang ada di hadapannya.
"Loe bilang cuma lecet sedikit? Loe tau nggak berapa banyak uang yang harus gue keluarkan untuk perawatan mobil ini setiap bulannya?" tanya lelaki itu dengan dingin. Seketika rasa kagum Lona pun luntur dan terbawa air hujan masuk ke selokan.
"Aduh, Mas. Mohon maaf sekali. Saya itu hanya seorang pengantar makanan. Bukan montir mobil spesialis. Jadi, mana saya tau berapa banyak uang yang anda keluarkan untuk perawatan mobil ini," balas Lona jujur. "Tapi, dalam hal ini anda juga bersalah. Karena sudah berhenti secara tiba-tiba." Lona berusaha membela diri.
Blak! Lelaki itu pun menggebrak setir mobilnya sendiri. Sampai-sampai Lona terlonjak kaget.
"Apa? Jangan playing victim loe ya! Jelas-jelas loe yang udah menabrak mobil gue. Gue nggak mau tau. Cepat ganti rugi!" bentak lelaki itu mulai naik pitam. Tubuh Lona pun semakin bergetar. Ini adalah hal yang sedari tadi ia takutkan.
"Aduh, Mas. Saya mohon ampuni saya. Penghasilan saya tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan saya dan anak saya. Sedangkan anda tampaknya bukan orang susah. Pasti dengan mudah anda bisa memperbaiki mobil ini. Mohon ampun i saya, Mas," ujar Lona dengan tangan yang ditangkupkan di depan dada. Badannya pun sedikit membungkuk agar lelaki itu semakin iba kepadanya. Namun, usahanya gagal. Lelaki itu pun semakin terlihat emosi.
"Gue nggak peduli! Loe harus bayar ganti rugi sekarang juga!" bentak lelaki itu dengan suara yang tidak mau kalah dengan sambaran petir di atas langit.
Tangan Lona mengepal dengan badan yang bergetar karena menahan emosi. Dia sedang menahan lapar sejak tadi. Jangan sampai dia makan orang di tengah jalan seperti ini. Maksudnya melampiaskan kemarahannya pada orang ini. Untung saja, tiba-tiba ponselnya berdering. Lona pun segera mengeluarkan benda pipih itu. Lalu menggeser gambar dial yang tengah bergetar di tengah-tengah layar.
"Halo," ucap Lona pada lawan bicaranya di seberang sana.
"Pesanan saya gimana ya, Mbak? Kok belum sampai-sampai juga. Padahal, saya sudah bayar lewat aplikasi lho!" protes pelanggan Lona.
"Oh, maaf Mbak. Saya sedang di jalan. Baru saja mengalami kecelakaan sedikit. Tunggu sebentar ya. Saya akan segera datang."
"Baik. Saya tunggu. Jangan lama-lama!"
"Baik, Mbak." Tut. Sambungan pun terputus.
"Maaf, Mas. Saya harus pergi sekarang," pamit Lona sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Namun, karena ia sangat tergesa-gesa. Makanya, ponsel pintar itu belum sempat masuk ke dalam kantongnya. Dan akhirnya jatuh begitu saja di atas aspal yang sedang dibanjiri air hujan.
"Woi! Jangan kabur!" teriak lelaki itu sambil reflek keluar dari mobil mewahnya. Namun, saat menyadari hujan sedang menerjang dengan begitu deras. Ia cepat-cepat memasukkan tubuhnya lagi. Tanpa di sengaja mata si lelaki pun menangkap sebuah benda yang tergeletak tepat di bawah pintu mobilnya saat hendak menutupnya kembali. Lalu dengan seringai yang khas ia mengambil benda yang sudah basah kuyup itu dengan segera.
Sedangkan Lona dengan kecepatan yang ia bisa. Terus mengemudikan motor yang dikendarainya dengan hati-hati. Apalagi, jarak pandang diantara guyuran hujan yang sangat terbatas seperti ini. Membuatnya harus ekstra fokus menatap jalanan di depannya. Tentu saja agar kejadian beberapa menit yang lalu tidak terulang lagi. Jadi, kali ini Lona benar-benar hati-hati.
Lima belas menit kemudian. Lona pun sampai di kedai makanan yang sedari tadi ia tuju. Dengan cekatan, ia pun turun dari motornya. Lalu segera masuk ke dalam kedai. Sebelum masuk, Lona melepas helm dan jas hujan yang sedari tadi ia kenakan. Lona pun meletakkan kedua benda itu di tempat yang sudah disediakan. Sebelum ia masuk ke dalam kedai itu.
"Selamat siang, Mbak. Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di belakang sebuah mini bar. Menatap jaket yang dikenakan Lona. Pelayan itu pun langsung mengerti niat Lona datang kemari.
"Bentar, Mbak. Saya periksa aplikasi dulu ya," balas Lona. Ia memang tidak ingat betul makanan seperti apa yang diinginkan pelanggannya. Lagian biasanya ada note khusus, seperti tambahkan atau kurangkan pedas, tambah sayur, tambah ini itu. Jadi, Lona harus benar-benar sesuai pesanan. Agar tidak mengecewakan pelanggannya. "Bentar. Bentar, Mbak. Ponsel saya kok nggak ada?" ucap Lona yang baru sadar kalau benda pipih yang sangat penting baginya itu tidak ada di dalam kantong jaket maupun celananya.
Berulang kali, Lona merogoh setiap saku di yang ada di badannya. Namun, tetap saja ia tidak menemukan gawainya itu. 'Aduh. Ponsel gue mana? Apa mungkin ada di motor? Masak sih? Kayaknya gue nggak pernah meletakkan di dashboard deh. Tapi, coba cari dulu nggak ada salahnya,' ucap Lona dalam hati.
"Bentar ya, Mbak. Saya cari ponsel saya di motor dulu," kata Lona pada si pelayan kedai.
"Baik, Mbak. Silahkan," balas si pelayan dengan ramah.
Lona pun segera lari ke arah motornya. Lalu ia mencari-cari benda pipih itu di kedua dashboard yang ada di bawah setirannya. Namun, nihil. Apa yang ia cari tetap tidak is temukan juga.
"Aduh. Gimana ini? Dimana ponsel gue? Apa jangan-jangan jatuh di jalan. Atau jatuh di tempat tadi? Aduh gimana ini? Pasti pelanggan gue udah uring-uringan sekarang," gumam Lona bingung.
Akhirnya, Lona pun memutuskan kembali dengan tangan kosong. Ia tetap tidak menemukan ponselnya. Sehingga ia tidak bisa menyelesaikan orderan terakhir untuk hari ini.
Chit. Motor Lona pun akhirnya sampai di parkiran kantor Growber. Lalu dengan langkah gontai ia pun membawa penyimpan makanan milik perusahaan yang harus ia simpan di ruangan khusus.
"Lon, tunggu!!" teriak seseorang yang langsung membuat langkah natasha berhenti. Lona pun menoleh, lalu menatap tampang rekan kerjanya yang tengah bergegas mendekat. "Loe ditunggu Pak Bos di ruangannya," tambah lelaki itu yang membuat Lona menghembuskan nafas beratnya.
'Ini pasti karena ada komplain pelanggan yang nggak gue selesaikan tadi,' pikir Lona cepat.
"Pak Bos belum pulang udah malam begini?" tanya Lona. Sebab, nggak biasanya lelaki itu masih berada di gedung berlantai tiga ini sampai sinar mentari sudah meredup seperti ini. 'Berarti, urusan gue berat nih. Sampai-sampai Pak Bos masih nungguin gue,' ujarnya masih dalam hati.
"Belum. Kayaknya dia nungguin elo deh. Emang elo kenapa hari ini? Ada pelanggan yang kecewa?" tanya lelaki itu. Lona pun tak menjawab. Ia hanya tersenyum kecut ke arah laki-laki satu profesinya itu.
"Gue ke dalam dulu ya," ucap Lona sambil berjalan dengan lemas ke dalam kantor yang sudah terlihat sangat sepi itu. Bahkan, sepanjang Lona masuk ke dalam. Ia tidak menemukan satu orang pun di sana. Tepat di depan ruangan Pak Raymond Lona menghentikan langkahnya.
Tok. Tok. Tok. Dengan sisa-sisa tenaganya ia pun mengetuk pintu itu.
"Masuk!!" titah Pak Bos dari dalam ruangannya. Lona pun segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu
"Maaf, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Lona basa-basi.
"Oh, iya. Lona. Silahkan duduk!" kata Pak Raymond yang lagi-lagi memerintah anak buahnya.
"Baik, Pak." Lona pun segera duduk di kursi depan meja Pak Raymond.
"Kamu tau kenapa kamu saya panggil kesini?" tanya Pak Raymond yang membuat Lona mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk.
"Bapak ingin memecat saya?" balas Lona dengan nada bertanya.
"Hahaha. Memecat? Tentu saja saya tidak bisa memecat karyawan secantik kamu," balas Pak Raymond dengan tampang genitnya.
"Lalu? Kenapa Bapak memanggil saya?"
"Saya tau kamu baru saja mengabaikan pelanggan. Padahal, dia sudah membayar lewat aplikasi kan?" ujar Pak Raymond yang kembali membuat Lona menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, Pak. Ponsel saya terjatuh. Makanya saya tidak bisa menyelesaikan orderan," jawab Lona jujur.
"Iya, saya percaya kamu." Pak Raymond pun beranjak dari kursinya lalu duduk di atas meja samping Lona duduk.
"Terima kasih, Pak."
"Lalu ponsel kamu hilang?"
"Iya, Pak."
"Kalau kamu mau? Saya bisa membelikan ponsel yang bagus untuk kamu," ujar Pak Raymond sambil menyentuh pundak Lona. Sontak Lona pun mengangkat wajahnya. Lalu menepis tangan lelaki yang selama ia bekerja disini selalu Lona hormati itu.
"Maaf, Pak. Maksud Bapak apa ya?" tanya Lona bingung.
"Sudahlah, Nat. Saya tau kamu ini janda. Pasti sudah lama kamu tidak merasakan belaian hangat laki-laki, kan?" ujar Pak Raymond dengan tampang yang membuat Lona ketakutan.
"Maaf, Pak. Anak saya sendirian saya harus segera pulang," kata Lona sambil berusaha berdiri. Namun, Pak Raymond yang berdiri di sampingnya langsung menahan badan Lona agar kembali duduk.
"Sudahlah, Nat. Jangan sungkan-sungkan sama saya. Saya sudah jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali bertemu," kata Pak Raymond dengan kedua tangan masih memegangi pundak Lona. Mengunci tubuh yang lebih kecil darinya itu. Lalu Pak Raymond pun mendekatkan wajahnya ke arah Lona.
"Pak, saya mohon!!! Jangan lakukan itu, Pak. Saya mohon jangan!!!" rengek Lona sambil berusaha melepaskan diri. Namun, usahanya gagal. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga Pak Raymond yang jauh lebih besar.
"Kamu milik saya malam ini," gumam Pak Raymond dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.
"Jangan!!"
"Pak, saya mohon!!! Jangan lakukan itu, Pak. Saya mohon jangan!!!" rengek Lona sambil berusaha melepaskan diri. Namun, usahanya gagal. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga Pak Raymond yang jauh lebih besar.
"Kamu milik saya malam ini," gumam Pak Raymond dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.
"Jangan!!" teriak Lona sambil menendang daerah vital Pak Raymond. Tentu saja laki-laki itu tersungkur sambil memegangi alat kelaminnya yang terasa linu. Sedangkan Lona tidak mau menyia-nyiakan momen berharga ini untuk segera kabur.
Dengan langkah secepat yang ia bisa. Lona terus menjauh dari ruangan terkutuk itu. Hosh. Hosh. Hosh. Nafasnya pun tersengal-sengal. Rasanya seperti hendak terputus. Sedang kakinya sangat berat untuk ia angkat dengan lebih cepat. Mungkin karena tenaganya sudah habis karena sudah digunakan seharian ini.
"Lona berhenti!!! Sekali kamu pergi!! Saya pecat kamu sekarang juga!!" teriak Pak Raymond yang ternyata malah mengikuti Lona dengan menahan rasa ngilu yang masih mendera di selangkangannya.
Jelas saja Lona semakin merasa ketakutan. Apalagi, menurut kabar burung yang beredar. Pak Raymond adalah lelaki mata keranjang yang tidak suka ditolak wanita. Dia akan tega melakukan apapun demi melancarkan keinginannya tercapai. 'Nggak. Gue nggak boleh sampai tertangkap Pak Raymond. Gue harus bisa lolos dari lelaki hidung belang itu,' batin Lona sambil terus berlari.
Melihat tangga menuju lantai bawah berada tak jauh di depannya. Lona pun semakin mempercepat lariannya. Ia terus memaksakan kedua kakinya untuk bergerak ke depan. Walau itu rasanya sangat sulit. Bruk! Lona pun terjatuh saat menuruni tangga dengan terburu-buru.
"Aduh," pekik Lona sambil memegangi kakinya yang terkilir.
"Hahaha. Kamu pikir. Kamu bisa lari dari saya Lona?" ujar Pak Raymond dari ujung tangga paling atas.
"Pak Raymond," gumam Lona seakan tidak percaya. Lalu ia pun segera bangkit. Kemudian dengan tertatih Lona menuruni satu demi satu anak tangga menuju lantai dua.
"Silahkan kabur, Lona. Kamu nggak akan sanggup berlari kencang. Hahaha," kata Pak Raymond lagi. Lona pun membenarkan ucapan atasannya itu. Namun, ia tidak boleh menyerah. Ia harus bisa mempertahankan kehormatannya sebagai wanita.
Untung saja jarak antara tangga ke lantai dua berdekatan dengan tangga menuju lantai satu. Jadi, Lona langsung berjalan cepat ke arah tangga itu tanpa membuang waktu lebih lama.
Hosh. Hosh. Hosh. Nafas Lona seakan sudah semakin menipis. Paru-parunya terasa sangat sesak sekali. Belum lagi langkah kakinya yang semakin melambat. Karena kakinya yang terkilir tak bisa digerakkan seleluasa biasanya.
"Hahaha. Berlarilah terus Lona saya akan segera menangkapmu," kata Pak Raymond sambil terus mengikuti Lona. Walau ia hanya berjalan biasa, tapi tetap saja bisa mendekati langkah Lona yang tertatih.
'Nggak. Nggak. Gue nggak boleh tertangkap. Gue harus bisa melepaskan diri,' tekad Lona dalam hati. Ia pun terus melangkahkan kakinya selebar yang ia bisa. Sambil sesekali Lona menoleh ke arah Pak Raymond yang semakin dekat dengannya.
"Lona. Oh, Lona. Kamu tidak bisa kemana-mana. Hahaha." Mendengar suara Pak Raymond yang semakin dekat. Lona terus berusaha berjalan melewati ruang resepsionis yang cukup luas.
'Loe bisa Lona. Loe bisa. Sedikit lagi loe bisa keluar dari kantor ini. Jangan menyerah Lon. Ayo, sedikit lagi,' ujar Lona menyemangati dirinya sendiri.
Melihat Lona semakin dekat dengan pintu keluar. Pak Raymond pun segera berlari mendekati arah yang sama. Namun, Lona pun tak mau tinggal diam. Ia tidak mau menjadi budak nafsu Bosnya itu. Makanya saat sebuah kursi tamu berada di sampingnya. Dengan sigap Lona menarik kursi itu lalu mendorongnya ke arah Pak Raymond.
Bruk!!! Pak Raymond pun langsung menabrak kursi itu hingga terjerembab ke depan. Melihat Pak Raymond tengah terjatuh di lantai. Lona segera menggapai handel pintu kaca yang berada di depannya. Ia pun menerobos pintu itu agar segera keluar.
"LONAA!!! AWAS KAMU!!!" teriak Pak Raymond sekuat tenaga. Saat ia hanya mampu memandangi Lona yang berhasil keluar.
Sampai di luar Lona pun tak menghentikan langkah kakinya. Apalagi ia tau persis jika sepeda motor yang biasa digunakannya. Merupakan pemberian Pak Raymond.
'Pastilah dia ngasih gue motor pun karena ada maksud lain. Dasar laki-laki,' batin Lona saat melirik motor hijau yang ia parkirkan di depan kantor.
Dengan susah payah Lona berjalan pulang. Untungnya hujan sudah reda dan jalan raya mulai ramai. Banyak diantara orang-orang itu keluar untuk mencari makan di angkringan sepanjang pinggir jalan. Setelah seharian mereka hanya terperangkap di dalam rumah karena di luar hujan sangat deras. Sambil berjalan tertatih Lona memegangi perutnya yang semakin keroncongan. Uang dikantong jaketnya hanya tersisa sekitar dua puluh ribu. Sedangkan, dia juga belum tau besok anaknya bisa makan apa dengan uang sedikit itu. Lona memilih untuk menahan rasa laparnya. Keramaian ini membuatnya cukup merasa tenang. Karena tidak mungkin Pak Raymond berani mengejarnya sampai disini.
Setelah beberapa saat berjalan. Lona berniat untuk menyebrang. Ia celingukan beberapa kali. Untuk memastikan tidak ada kendaraan yang akan melintas. Lona pun melangkah melewati garis zebra cross yang tersedia. Tetapi, batu sampai tengah-tengah. Mendadak matanya berkunang-kunang, kepalanya terasa berputar-putar dan akhirnya ia jatuh pingsan. Detik itu Lona tak sadarkan diri lagi. Ia hanya mampu mendengar suara decitan kendaraan mendekat diikuti oleh teriakan orang-orang di sekitarnya.
Waktu pun berlalu. Lona akhirnya tersadar di sebuah rumah sakit. Sambil membuka matanya ia memegangi kepalanya yang masih terasa berat.
"Aduh. Dimana aku sekarang?" gumam Lona.
"Loe di rumah sakit!" balas seorang lelaki dengan nada dingin. Lona pun langsung menoleh ketika mendengar suara yang cukup familiar itu.
"Loe? Apa yang loe lakuin sama gue?" Lona menatap lelaki itu dengan curiga.
"Heh? Harusnya pertanyaan itu buat elo. Kenapa loe harus pingsan di depan mobil gue yang mau melintas? Gara-gara elo gue hampir digebukin sama orang-orang yang ada di sana. Dasar cewek gila! Loe cuma pembawa sial tau nggak?" Mendengar itu Lona langsung beranjak. Ia melepaskan selang infus di tangannya dengan kasar.
"Jangan nge-judge orang sembarangan! Karena loe nggak tau apa-apa tentang hidup gue! Ngerti!" Lona segera pergi dari tempat itu dengan perasaan kesal. Di pintu masuk ia berpapasan dengan perawat yang tampak terkejut. Namun, Lona tak banyak bicara. Ia hanya melirik lelaki itu sekilas lalu melanjutkan langkahnya dengan amarah yang memuncak.
"Nona! Anda mau kemana? Kondisi anda belum sembuh benar," kata perawat yang tak digubris oleh Lona.
Akhirnya, Lona mengunakan sisa uangnya untuk naik bus pulang. Dia tak mungkin berjalan kaki. Karena kali ini jarak ke kosannya semakin jauh. Lona turun dari halte dan melanjutkan perjalanan yang hanya berkisar lima puluh meter saja. Kini ia merasa jauh lebih baik. Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun, tiba-tiba langkah Natasha melambat. Keningnya pun berkerut sempurna. Ketika matanya menatap pintu kosannya yang sudah terbuka lebar dan dipenuhi banyak orang.
"Karen?!!" teriak Natasha sambil berlari cepat ke arah tempat itu.