2013- Jakarta
DUAK!
"Aaaa....!"
Malam itu suara teriakan melengking terdengar dari dalam kamar apartemen mewah yang kini sudah dalam keadaan berantakan.
Tampak seorang gadis duduk bersimpuh di sudut kamar dengan kondisi pakaian yang berantakan bersama barang-barang yang berserakan di sekitarnya. Tubuhnya tak berhenti gemetar dengan air matanya berlinang di pipi. Matanya memerah, pandangannya terpaku di tubuh pria setengah baya yang tergeletak tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.
"Tidak...ak...ku...tidak sengaja...aku tak sengaja melakukannya," rancau gadis itu tergagap dengan sorot ketakutan, tangannya mencengkeram kuat-kuat vas keramik bernoda darah yang digunakan untuk memukul pria di depannya hingga tak sadarkan diri.
"Aku....hanya...mem...membela diri," rancaunya lagi dengan suara parau, kini sorot matanya berubah kebingungan dengan melihat ke sekelilingnya, "sungguh aku tak sengaja...melakukannya...."
Namun seakan tersadar, gadis itu bangkit. Dia dengan panik merogoh tas, mengambil ponselnya dan dengan cepat melakukan panggilan.
Tut...tut.... bunyi nada panggilan.
‘Halo ada apa? Kenapa menelepon malam-malam begini?’
"Tolong....tolong aku..." ucapnya begitu panggilan terhubung.
'Apa yang terjadi?' balas lawan bicaranya dari seberang panggilan.
"Tolong aku... kumohon tolong aku, aku tak sengaja melakukannya, sungguh aku tak sengaja..." gadis itu meracau dengan panik, dia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan lawan bicaranya.
‘Dinar tenanglah, katakan padaku apa yang terjadi?' kali ini suara bas itu diliputi nada khawatir.
"Memukul, aku memukulnya dan itu berdarah...sangat banyak. Arkan aku takut... Aku sangat takut Arkan, kumohon tolong aku...huhuhu...tolong aku..." tangis Dinar tersedu-sedu, dia makin merapatkan duduknya disudut ruangan dan meringkuk di sana.
'Tenang jangan menangis, katakan kamu ada dimana, aku akan segera datang ke sana?' ujar Arkan setenang mungkin karena di saat seperti bukan waktunya untuk panik.
Sejenak Dinar tenang, sebelum dengan lirih menjawab, 'Aku ada...di...."
*****
Beberapa Jam Sebelumnya.
Pagi itu di Balai Pusat Administrasi Kota suasananya tampak ramai dari orang-orang bersetelan kerja yang lalu-lalang masuk ke kantor.
Begitu pun dengan tiga pemuda berpakaian hitam putih yang merupakan mahasiswa dari Universitas X kota A jurusan bisnis yang saat ini tengah melakukan magang di sana yang juga bergegas masuk kebangunan kantor.
Mereka tak ingin terlambat datang karena itu bisa mempengaruhi nilai mereka di akhir semester nanti. Bisa kacau jika itu terjadi, terlebih bagi ketiganya yang merupakan mahasiswa beasiswa.
Ketiganya berjalan melawati lorong kantor sambil berbincang tentang tugas yang mereka dapatkan dari divisi masing-masing.
Namun tiba-tiba saja langkah pemuda yang berada di tengah berhenti, dia mendongak menatap TV LED di dinding tepat samping mereka yang tengah menayangkan acara bincang pagi bersama beberapa seorang model baru yang tengah naik daun.
Pemuda itu mengulas senyum saat melihat salah satunya model yang merupakan teman masa kecil sekaligus kekasihnya berada di antara model-mode lain, tampak sangat cantik dan ceria.
"Ada apa, kenapa berhenti?" tanya pemuda berpotongan cepak dengan tag name Dika pada Arkan, dia heran dengan tingkah rekannya. Tak biasanya seorang Arkana Samudera yang hanya menyukai buku tertarik dengan acara televisi, terlebih acara gosip. Baginya itu merupakan pemandangan yang langka.
Karenanya dia tak bisa menghentikan matanya untuk bergantian melirik acara TV dan Arkan yang tetap terpaku di tempatnya.
"Kau mengenal mereka?" tanya pemuda yang lain, yang bernama Angga.
Arkan menggeleng, "tidak, hanya mengenal satu, dan itu adalah kekasihku," jawabnya, dagunya menunjuk salah satu di antara beberapa model itu.
"Ha? Kau bercanda kan?" ucap Dika dan Angga bersamaan dengan mata terbelalak tak percaya.
Yah mana mungkin keduanya percaya, secara mereka masih seorang mahasiswa semester tujuh yang bahkan saat ini masih melakukan magang.
"Kenapa tak percaya?" Arkan menatap keduanya dengan alis terangkat.
Dika dan Angga tak menjawab, namun dari ekspresi yang ditampilkan jelas sekali bahwa keduanya memang tak percaya dengan ucapannya.
Arkan menghela nafas kemudian menjelaskan, "namanya Dinara Wulandari, umurnya 25 tahun, dia dan aku adalah anak asuh dari panti asuhan yang sama, kami tumbuh bersama, besar bersama dan saling menjaga satu sama lain. Dan mungkin karena terbiasa bersama akhirnya membuat kami menyukai satu sama lain, bahkan kami memiliki janji untuk menikah ketika kita sudah dewasa dan sukses."
"Oh, begitu...." Dika dan Angga serentak mengangguk. Yah walaupun tak terlalu percaya keduanya tetap mengangguk. Hitung-hitung untuk menyenangkan Arkan.
"Lalu jika dia 25 tahun, bukankah artinya lebih tua dia darimu?" tanya Dika.
"Kenapa kalau lebih tua? Selama aku mencintainya dan dia juga mencintaiku, itu sudah cukup bagiku. Toh dia hanya lima tahun lebih tua dariku." Tukas Arkan, dia cukup tak suka saat Dika mengatakan bahwa Dinar sudah tua.
Tak ingin lama-lama berkutat dengan topik percakapan ini, Arkan akhirnya menginterupsi, "oke enggak usah di bahas lagi, sekarang ayo masuk, nanti keburu telat."
Setalah mengatakannya, Arkan berlalu meninggalkan Dika dan Angga yang hanya bisa melongo sambil menatap punggungnya.
*****
Malam hari, di asrama mahasiswa Arkan tengah meninjau berkas kantor, tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama 'Dinara' di layar ponsel.
Dahinya mengercit melihatnya, heran kenapa Dinar meneleponnya selarut ini. Tapi walaupun heran dia tetap menjawab panggilan itu. "Halo ada apa? Kenapa menelepon malam-malam begini?" Tanya dengan suara tenang.
‘Tolong....tolong aku...’
“Apa yang terjadi?” tanya Arkan begitu mendengar suara Dinar.
"Dinar ada apa kenapa kau menangis? Apa, apa yang terjadi?" Arkan bertanya tak mengerti, alisnya mengerut saat itu.
'Ku ... Kumohon tolong aku, aku tak sengaja melakukannya, aku tak sengaja....'
"Dinar, katakan padaku apa yang terjadi?" kali ini suara bass Arkan terdengar mengandung rasa khawatir. Itu terlihat dari raut wajahnya yang menegang.
‘Tolong aku... kumohon tolong aku, aku tak sengaja melakukannya, sungguh aku tak sengaja...’ bukannya menjawab Dinar justru makin tangis tersedu-sedu. Sontak itu membuat Arkan semakin menghawatirkannya.
“Tenang jangan menangis, katakan kamu ada dimana, aku akan segera datang ke sana?” ujar Arkan setenang mungkin karena di saat seperti bukan waktunya untuk panik.
'Ak... aku ada dia di... apartemen C nomor 102.'
Mendengarnya Arkan segara meraih jaket dan kunci motornya dan langsung keluar dari mes. Dia ingin secepat mungkin mendatangi Dinar, sungguh dia sangat khawatir dengan keadaannya. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Ketika sampai di tempat yang dimaksud, Arkan langsung memarkirkan motornya secara sembarangan dan bergegas masuk.
Tok tok tok... Arkan mengetuk pintu tapi sama sekali tak ada jawaban sama sekali. Dan karena sudah sangat khawatir dia tanpa pikir panjang mendobrak pintu.
Brak! Suara pintu di dobrak.
"Dinar..." Teriak Arkan saat masuk, namun betapa terkejutnya dia ketika melihat keadaan dalam apartemen yang begitu berantakan. Semua barang di ruang tamu berserakan, bahkan beberapa keramik sudah tak berbentuk lagi.
Arkan berjalan pelan, matanya menelisik setiap sudut ruang tamu tapi tak menemukan tanda-tanda keberadaan Dinar kemudian dia melanjutkan memeriksa ruangan-raungan yang lain namun tetap tak ada Dinar di dalamnya. Sampai tatapannya tertuju pada pintu warna coklat, satu-satunya pintu yang belum dia periksa.
"Dinar, kau ada di dalam?" tanyanya mendekati pintu.
Tak ada jawaban tapi samar-samar dia bisa mendengar suara tangisan dari dalam. "Huhuhu....tolong aku...aku tak seng...sengaja..."
‘Itu suara dinar,’ Batin Arkan.
Clek, Arkan memutar engsel pintu dan mendapati pintu lagi-lagi tak dikunci. Dia melangkah masuk dan langsung disuguhi dengan keadaan kamar yang begitu berantakan dengan segala barang pecah belah berserak dilantai kamar tak satu pun yang berada pada tempatnya.
Namun yang membuatnya terkejut adalah adanya seorang pria paruh baya yang sudah tak sadarkan diri di atas ranjang dengan kondisi bersimbah darah. Kemudian tatapannya bergeser pada Dinar yang masih duduk bersimpuh memeluk lututnya di sudut kamar dengan kondisi sama berantakannya.
'Apa ini?' sejenak Arkan terpaku. Tapi tak lama dia sadar dan langsung mendekat ke tubuh pria untuk mengecek kondisinya.
'Untunglah, dia masih hidup....' batin Arkan lega saat menemukan masih ada nafas padanya. Dia tak membuang waktu dan langsung melakukan pertolongan pertama mencoba menghentikan darah yang keluar dari kepala pria setengah baya yang tak sadarkan diri.
Setelahnya Arkan beralih ke Dinar, dia berjongkok di depannya dan bertanya, "apa yang terjadi, kenapa sampai seperti ini?"
"Dia...ingin memperkosaku...aku melawannya... dan aku me...memukul kepalanya...lalu dia berdarah...Arkan sungguh aku tak sengaja... aku hanya membela diri...." Gagap Dinar, sorot matanya yang kosong menatap tepat pada Arkan. Dengan tubuh gemetar sarat akan ketakutan dia menjelaskan apa yang terjadi.
Ya benar, awalnya Dinar datang karena undangan pria paruh baya itu, dia mengatakan akan membahas tentang kontrak produk yang akan bekerja sama dengannya.
Namun dia sama sekali tak menyangka pria itu malah ingin melecehkannya. Dia ingin menghindar tapi tak kuasa, hingga akhirnya Dinar kalap, dia dengan keras memukul pria itu menggunakan vas keramik.
Arkan yang mendengar penjelasannya terdiam sebelum akhirnya berkata, "hubungi polisi, katakan ada tindakan kriminal disini." Ungkap Arkan akhirnya setelah beberapa saat diam.
"Ta... Tapi bagaimana? Aku tak mau dipenjara." Dinar menggelengkan kepala, dia tak setuju dengan ide Arkan. Bagaimana bila nanti dia dipenjara? terlebih dia baru saja menapaki karir yang sudah lama dia impi-impikan.
Egois? Katakan saja begitu.
"Tenanglah, biarkan aku yang menyelesaikannya." Ujar Arkan, dia menepuk kepala Dinar untuk meyakinkannya.
Dinar menonggak, menatap manik hitam Arkan, "tapi... bagaimana?"
Melihat keraguannya, Arkan sekali lagi meyakinkan, "lakukan kataku, hubungi polisi katakan ada tindak kriminal di sini atau nyawanya tak akan tertolong lagi."
Dalam hati Arkan sudah bertekad agar Dinar bisa bebas.
"Em...baiklah," lalu tanpa menunggu lebih lama lagi Dinar segara menghubungi polisi dan melaporkan seperti yang dikatakan Arkan.
----
Bojonegoro, 08 Desember 2022
Kak Ikma
"Ha... halo, pak."
'Halo, selamat malam, ada yang bisa kami bantu?'
"Pak sa...saya ingin melaporkan di sini terjadi tindak kriminal...saya takut, darah banyak darah...kumohon tolong saya pak, kumohon..." Bisik Dinar tergagap ketika menghubungi kepolisian.
'Mohon tenang dulu, jelaskan pada kami apa yang terjadi?'
"Sa...saya tak bisa menjelaskannya, saya takut, kumohon bapak datang kemari, ban...banyak darah pak..." balas Dinar lagi.
'Baik, baik jangan takut, kami akan secepat mungkin datang, bisa ibu beritahu dimana lokasi kejadian perkara?'
"Saya ada...di apartemen C nomor 102..."
'Mohon tunggu sebentar, kami akan bergegas ke sana.'
"Ba...baik pak." ucap Dinar menutup panggilannya.
Setelahnya dia mendongak menatap Arkan, dari sorot matanya dia memberi tahu, 'aku sudah melakukan apa yang kamu perintahkan, apalagi sekarang?'
"Tidak perlu lakukan apa pun, tetaplah di tempatmu, dari sini biarkan aku yang membereskan," Arkan menatap Dinar tenang, dalam hati dia sudah membulatkan tekad.
Lalu dia dengan hati-hati menarik vas keramik dari tangan Dinar tapi bukannya dilepas Dinar justru mencengkeramnya kuat-kuat, matanya menatap Arkan dengan penuh keraguan.
"Lepaskan..." ucap Arkan, meminta Dinar melepaskan vas keramik di tangannya.
Baru setelah itulah Dinar mau melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Arkan mengambilnya. Arkan mengambil sapu tangan dari sakunya, lalu secepat mungkin membersihkan jejak sidik jari Dinar dari vas keramik.
Ketika dirasa bersih, dia melepas sarung tangannya dan kemudian memegang vas keramik dengan tangan telanjang. Itu Arkan lakukan untuk menanamkan sidik jarinya di permukaan vas.
Tak ada yang tahu, jika dari awal sampai akhir Arkan sudah merencanakan dengan matang termasuk dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Ketika datang, Arkan melihat gedung apartemen dilengkapi kamera pengaman tapi itu hanya ada di bagian utama gedung seperti lobi dan lorong dan bukan di apartemennya.
Maka otomatis hanya akan ada rekaman saat dia tiba dan bukan yang dilakukannya sekarang, selain itu tak ada saksi lain akan semua kejadian ini kecuali pria yang tak sadarkan diri itu.
Dengan semua itu, dia berharap Dinar akan bebas dari segala tuduhan dan dapat memulai semua lagi.
Selesai dengan semuanya, Arkan menoleh pada Dinar dan berkata, "saat polisi datang jangan katakan apa pun, cukup diam dan tetap di posisimu saat ini."
"Tapi..."
"Tak ada tapi-tapian." tegas Arkan tak ingin dibantah.
Mendengar nada tegas dari Arkan, Dinar hanya bisa diam dengan hanya mengangguk-angguk kepalanya.
Sepuluh menit kemudian.
Terdengar derap langkah mendekat dengan cepat kearah mereka dan jika melihat dari waktunya bisa dipastikan itu derap milik anggota kepolisian.
"Angkat tangan, anda ditahan atas tindakan kriminal yang anda lakukan." Seru seorang anggota polisi begitu masuk dengan menodongkan pistol langsung kearah Arkan.
Arkan sama sekali tak membantah, bahkan dia langsung mengangkat tangannya, dari posisinya dia melihat ada lima anggota polisi, di belakangnya terdapat dua petugas kesehatan yang langsung masuk untuk melakukan pertolongan pertama pada pria paruh baya.
Salah seorang anggota polisi mendekat, "bagaimana keadaannya?" tanyanya.
"Dia mengalami pendarahan di kepala karena hantaman benda tumpul. Kondisinya sekarang menghawatirkan, dia harus segara mendapatkan perawatan jika terlambat nyawanya akan dalam bahaya." Balas petugas kesehatan sambil menyiapkan tandu lalu menginstruksikan agar korban secepat mungkin dibawa ke rumah sakit.
"Hm, apakah ini tindak kejahatan penyerangan?"
"Iya dan di lihat dari lukanya, ini dipukul dengan cukup keras menggunakan benda tumpul," imbuh petugas kesehatan itu, saat mengatakan itu matanya melirik vas keramik di tangan Arkan dengan penuh arti.
Seolah mengerti maksud dari petugas kesehatan, polisi yang ada di sampingnya berjalan mendekati Arkan yang sejak awal diam sama sekali tak mencoba membela dirinya, seolah-olah dia mengakui bahwa apa yang terjadi ditempat ini semuanya adalah perbuatannya, bahkan sama sekali tak ada mimik penyesalan di wajahnya. Dia tetap tenang walaupun dihadapkan dengan situasi yang runyam.
Namun entah kenapa polisi itu ragu dengan pikirannya sendiri, dia merasa ada yang janggal tapi kalaupun begitu dia tak bisa melakukan apa pun karena dari bukti yang tersaji semua menunjukkan bahwa laki-laki di depannyalah pelakunya.
Dan seperti itulah, karena tak ingin membuang waktu, polisi itu menginstruksikan dua rekannya untuk mengiring Arkan ke kantor kepolisian guna penyelidikan lebih lanjut dan untuk Dinar polisi itu menginstruksikan agar mereka dibawa ke rumah sakit dahulu untuk penanganan lebih lanjut dan apabila situasinya sudah lebih tenang dinar akan dimintai keterangannya, karena bagaimana pun dialah satu-satunya saksi dalam kejadian ini.
Ketika Arkan hendak dibawa pergi, Dinar tiba-tiba berdiri dan berkata pada petugas kepolisian, "tunggu dulu pak, ada yang ingin saya tanyakan padanya...saya mohon tunggu dulu."
"Baiklah tapi jangan terlalu lama, kami harus segera memproses kasus ini." ucap petugas di samping Arkan.
"iya pak, tidak akan lama, saya janji." Polisi mengangguk mengizinkan.
Tak ingin membuang kesempatan yang ada Dinar melangkah mendekat pada Arkan, dan dengan lirih bertanya, "kenapa...kenapa kau melakukan ini?" Dinar bertanya dengan lirih, matanya yang sendu menatap Arkan dengan kilat kesedihan.
Arkan menoleh tapi tak mengatakan apa pun, dia hanya menatap Dinar dengan tenang.
"Kenapa?" Tanyanya lagi dengan suara lebih lirih. matanya berkaca-kaca saat menatap wajah Arkan.
"Karena kamu calon istriku, dia hampir melecehkanmu dan aku tak bisa menerimanya," balas Arkan tenang dengan menatap manik almond Dinar.
"Tapi jika kamu melakukan ini, impianmu akan hancur...aku...aku..."
"Semuanya sudah terjadi, juga tidak ada kata 'jika' saat ini dan kalaupun ada aku akan tetap melakukannya, karena kamu segala bagiku," tukas Arkan menjawabnya. Dia lalu menoleh pada petugas polisi di sampingnya dan berkata, "ayo pak, saya sudah selesai berbicara padanya."
Segera setelahnya, petugas kepolisian mengiring Arkan keluar dari apartemen membawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun tepat sebelum keluar Arkan menoleh pada Dinar, dia tersenyum simpul dan sedikit menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Dinar tetap diam dan tak mengatakan yang sebenarnya.
"Hiduplah dengan tenang...dan tunggu aku." bisik Arkan dengan isyarat menggunakan gerak bibir sebelum akhirnya sosoknya benar-benar menghilang dari balik pintu apartemen.
Di belakangnya Dinar hanya bisa menatap sedih sosok Arkan yang menghilang, ingin sekali dia berteriak mengatakan yang sebenarnya bahwa dialah pelaku sebenarnya dan bukannya Arkan tapi dia terlalu takut akan masa depannya sendiri, takut dia akan dipenjara, takut akan kehilangan masa kejayaan sebagai model yang baru saja diraih.
Dalam hati dia hanya bisa berulang kali mengatakan maaf, "maaf Arkan...maafkan aku...aku tak bermaksud memanfaatkan...."
"sekali lagi maaf....karena aku terlalu egois"
Ya egois. Karena memang di sisi lain lubuk hatinya mengatakan bahwa inilah yang tepat untuknya, dan dengan begini kesempatannya untuk berkarier masih terbuka. Namun tak bisa pungkiri, dia juga merasa sedih untuk Arkan yang mengorbankan masa depannya untuk menjamin kebebasannya.
Lama berdiri diam, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari sampingnya. "Mari nona kita ke rumah sakit, anda juga membutuhkan perawatan paska trauma," Itu adalah suara petugas kesehatan wanita yang sedari awal berdiri di sampingnya.
Dinar tak menjawab, dia hanya mengangguk sebagai tanpa persetujuannya lalu petugas kesehatan itu menuntun Dinar yang masih tubuhnya masih gemetar keluar dari sana.
-----
Kantor Kepolisian
Di dalam ruang interogasi Arkan duduk di hadapannya ada petugas kepolisian yang menangkapnya, yang baru saja Arkan ketahui bernama Rama.
Sudah lebih dari sepuluh menit Arkan dan petugas Rama duduk berhadapan dan selama sepuluh menit itu pula kedua saling diam, tanpa ada tak ada yang berbicara.
Sambil mengetuk-getuk jarinya di meja, sesekali petugas Rama melirik rekannya yang ada di luar dan Arkan yang masih setia diam seribu bahasa secara bergantian.
"Baik, ini sudah lebih dari sepuluh menit, jadi apa anda tak ingin mengatakan sesuatu, pembelaan diri misalnya." pada akhirnya petugas Rama buka suara.
"Tidak," Arkan menjawab dengan tegas, matanya menatap petugas Rama dengan tenang, sama sekali tak ada rasa takut di wajahnya.
"Jadi anda mengakui bahwa anda pelakunya?"
"Iya," Arkan menjawab langsung.
Mendengar itu, petugas Rama mengerutkan keningnya, dia merasa sangsi dengan jawaban Arkan yang baginya terlalu langsung.
"Lalu, apa motif anda melakukan penyerangan itu?"
Arkan melihat Rama selama beberapa detik sebelum menjawab, "pembelaan diri, pria itu ingin melecehkan calon istriku."
"Dan apakah anda tahu, siapa yang anda lukai itu?"
"Tidak."
"Dia adalah produser perusahaan besar, salah satu orang terkaya di kota ini."
"Aku tak peduli, bahkan jika itu menteri sekalipun, aku akan tetap melakukan hal yang sama, aku tak bisa membiarkan hal kotor seperti itu terjadi, apalagi terhadap calon istriku," jawab Arkan serius, matanya menatap tajam Rama.
Rama hanya menghela nafas panjang ketika mendengar jawabannya Arkan, tampaknya dia tak akan mendapatkan apa pun darinya. Lantas dia beranjak keluar dari ruang interogasi, menghampiri rekannya dan duduk di sampingnya.
----
Bojonegoro, 08 Desember 2022
Kak Ikma
“Bagaimana?” tanya rekan Rama ketika dia baru saja mendudukkan dirinya.
“Tak dapat apa pun,” Rama menghela nafas seraya menaikkan bahunya, dia lalu menoleh dan balik bertanya “lalu bagaimana denganmu, apa kau sudah cek cctv di sana?”
“Sudah, tapi yah begitulah....” petugas itu menghela nafas lemas dan melanjutkan, “tak ada yang bukti konkrit ketika perkara berlangsung.”
Dahi Rama mengerut, “Begitukah? Lalu apa yang kau dapatkan sampai saat ini?”
“Lihat ini..” petugas itu menggeser laptopnya menghadap Rama dan memperlihatkan rekaman cctv yang baru saja dia dapatkan,
Rekaman itu diambil dari cctv depan gedung, pukul sepuluh malam, terlihat di sana Arkan yang turun dari sepeda motornya dan berlari masuk, lalu rekaman beralih di lobi gedung dan sama dengan yang sebelumnya di rekaman itu juga terlihat Arkan yang berlari menuju lift dan setelahnya tak ada rekaman lagi.
“Hanya ini?”
“Iya hanya ini, ini gedung baru, belum semua bagian gedung dilengkapi cctv, jadi hanya ini yang kudapatkan.”
“Lalu rekaman sebelum kejadian? Maksudku dua korban itu?
“Sebentar, biar kucari dulu,” ujar petugas itu. Kemudian jarinya dengan lincah terbang di atas keyboard laptopnya.
Tak sampai satu menit petugas itu berhenti dan kembali menghadapkan laptop pada Rama.
Kali ini rekaman diambil pada pukul setengah sepuluh malam. Terlihat di sana Dinar dan seorang pria paruh baya keluar dari sebuah mobil, keduanya berjalan beriringan masuk ke gedung apartemen sebelum akhirnya juga menghilang di balik lift.
“Hanya ini yang kau dapatkan?” Rama menoleh ke rekannya.
“Sayangnya iya.” Petugas itu menghela nafas.
“Apa di lift juga tidak ada?”
“Ada, tapi belum berfungsi, ini baru saja dipasang.”
Rama diam, terlihat dahinya mengercit tanda dia tengah berpikir. “Mereka berdua datang jam setengah sepuluh malam, ini rentang empat puluh lima menit dari saat korban melapor dan ada dua puluh menit sebelum itu tersangka datang. Jadi diantara dua puluh menit inilah poin pentingnya.”
“Hm, aku rasa begitu tapi bukankah kau merasa ini jalan buntu?”
“Belum tentu. Kita masih memiliki saksi lain yang dimintai keterangan, juga masih ada barang bukti yang kini tengah diperiksa tim forensik.”
“Yup tampaknya memang begitu, lalu sekarang bagaimana? Apa kau ingin melanjutkan pemeriksaan?”
Rama dengan pelan menggeleng, “tak perlu, toh dia juga tak akan mengatakan hal yang lain,” “oh, kirimkan rekaman pemeriksaan ini pada tim ahli, biarkan mereka memeriksa ekspresinya.”
“Oke. Oh ya aku baru saja dapat telepon dari keluarga produser, mereka bilang pengacara mereka akan datang besok.”
“Oke, minta dia bertemu denganku besok.”
“Siap.”
“Oh ya satu lagi, bawakan aku berkas latar belakang dari tersangka dan korban. Aku akan memeriksanya.”
“Oke, setelah ini kuberikan.”
Setelahnya, Rama berdiri dan masuk kembali ke dalam ruang interogasi, di dalam dia menghampiri Arkan, “apa anda memiliki kuasa hukum.”
“Tidak,” jawab Arkan langsung.
“Kalau begitu, kami akan meminta balai hukum kota untuk menyediakan pengacara untuk anda, juga anda berhak melakukan pembelaan diri yang tidak bisa anda katakan kepada saya.”
Arkan hanya melihat Rama tanpa menjawab pertanyaannya.
Melihat Arkan tak menjawab, rama lantas berkata, “saya anggap itu tanda setuju,”
Rama lalu meminta petugas lain untuk membawa Arkan ke selnya. Dan dari awal hingga akhir Rama tetap melihat arah pergi Arkan,
“Ada yang janggal,” gumamnya dengan alis menyatu
****
Keesokan Harinya.
Seperti yang sudah dijadwalkan, hari ini akan dilaksanakan penyelidikan ulang kasus penyerangan yang dilakukan Arkan dan dengan agenda keterangan Dinar yang saat ini berstatus sebagai saksi.
Pada pukul delapan pagi Dina sampai di kantor kepolisian dan begitu sampai dia langsung dibawa ke ruang interogasi guna dimintai keterangan.
Di dalam ruangan interogasi Rama memutar rekaman cctv sebelum kejadian dan memperlihatkan rekaman itu pada Dinar yang melihat rekaman itu dengan seksama.
Di depannya Rama juga melakukan hal yang sama, dia mengamati ekspresi Dinar dengan seksama.
Tak lama rekaman selesai diputar, lalu Rama duduk di seberang dan berkata, “ini adalah rekaman yang kami dapatkan, sekarang bisakah anda memberikan kesaksian anda saat kejadian berlangsung.”
Dinar menatap Rama, seketika ekspresinya menjadi ketakutan namun dia coba tahan. Sejenak dia diam seraya meremas-remas tangannya untuk mengatasi ketakutannya.
Melihat reaksi Dinar yang terlihat ketakutan Rama segera berkata, “atur nafas dan tenangkan diri anda.”
Sesaat Dinar mengikuti instruksi Rama dan perlahan nafasnya kembali teratur.
“Jika anda belum siap memberikan kesaksian, ada baiknya kita tunda.” Ucap Rama. Tapi Dinar menggeleng, “tidak saya akan memberikan kesaksian saya sekarang, lebih cepat lebih baik.” Ucapnya lirih, wajahnya menunjukkan tekad yang tegas walaupun disertai dengan ekspresi sedikit ketakutan.
“Baiklah jika itu keinginan anda namun saya minta jangan memaksakan diri, jika anda merasa tertekan kita bisa mengakhiri sesi ini kapan pun,” ujar Rama pada akhirnya tapi dia juga memberi himbauan agar Dinar berhenti saat dia tak sanggup lagi melanjutkan.
Lalu begitulah, setelahnya Dinar mulai menceritakan semua yang dia alami dari awal hingga akhir yang tentunya sesuai dengan yang sudah diinstruksikan Arkan yang mengandung 90% kenyataan dan 10% rekayasa.
****
Di sisi lain, di ruang jenguk Arkan tengah menemui Rio pengacara yang ditunjuk menangani kasusnya.
Sudah lebih dari sepuluh menit keduanya duduk berhadapan tapi selama itu pula keduanya saling diam tanpa ada yang bersuara. Rio fokus pada berkas-berkas didepannya sedangkan Arkan diam seribu bahasa.
“Tindak percobaan pembunuhan yang dapat menghilangkan nyawa, ini pasal pidana yang dituduhkan kepada anda,” ucap Rio setelah membaca berkas perkara di tangannya dan kemudian melihat kearah Arkan.
Tapi yang dilihat hanya menatap balik Rio tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Oh saya lupa memperkenalkan diri, saya Rio Hermawan dari balai hukum kota, saya pengacara yang diminta untuk menangani kasus anda.” “Dan sebelum saya mulai menangani kasus anda, sekarang bisa anda menceritakan dengan jujur apa yang terjadi pada hari itu.”
“Bukankah anda sudah mendengarnya pihak kepolisian,” ucap Arkan tenang.
“Itu kata kepolisian, yang saya mau adalah cerita versi anda,” Balas Rio, kekeh meminta Arkan untuk bercerita.
Arkan tampak berpikir, Rio yang ada didepannya menyadarinya dan kemudian berkata, “saya tahu anda belum mempercayai saya tapi sebagai pengacara anda, saya berhak tahu apa yang terjadi sehingga saya bisa menjalankan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin, juga walaupun saya tak bisa membersihkan nama anda paling tidak bisa berusaha meminimalkan hukuman anda, jadi saya minta kerja samanya.”
Arkan mengawasi Rio sebentar sebelum menjawab, “baik, terima kasih atas kerja kerasnya.”
“Itu tugas saya. Baik kembali ke permasalahan. Saya sudah membaca berkas kasus anda, menurut undang-undang yang berlaku ancaman hukumannya adalah minimal 8 tahun kurungan penjara dan maksimal 20 tahun penjara. Dan dari undang-undang itu saja kita tahu itu adalah kasus yang berat."
Mendengar ucapan Rio, Arkan akhirnya buka suara, dia menceritakan apa yang terjadi kemarin dari awal hingga akhir pada Rio yang mendengarkan dengan seksama yang kemudian mencatat poin-poin dalam buku kecilnya.
Tapi tentu saja sama seperti Dinar, Arkan juga menceritakan kejadian kemarin 90% kebenaran dan 10% rekayasa seperti yang telah mereka sepakati.
Setelahnya Rio pergi, sebelumnya berkata akan datang lagi lusa dan Arkan dibawa kembali ke selnya karena waktu jengguk telah habis. Rio juga memberi tahu bahwa polisi masih melakukan investigasi pada kasusnya dan untuk rencana sidang pertama akan dilakukan dua minggu depan yang diagendakan pembukaan kasus dan pemaparan kejadian perkara.
----
Bojonegoro, 08 Desember 2022
Kak Ikma