“Alexa Wiratama ... apa kau pikir aku akan menyentuhmu sampai kau harus menumpahkan parfum sebanyak itu?”
Bahu Alexa berjengit saat mendengar suara tegas seseorang yang membuka pintu kamar. Gerakan tangannya terhenti, urung menurunkan zipper gaun pengantin di punggung. Tubuhnya menegang dengan mata terbelalak menatap pria yang memakai setelan jas warna hitam beberapa meter di depan sana. Damian menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Semerbak pengharum ruangan menyapa hidung Alexa. Aroma yang dianggap sebagai parfum tumpah ataupun semacamnya.
“Kamu—”
“Menjijikkan.” Damian tersenyum miring, memotong kalimat Alexa, menatapnya dengan pandangan meremehkan. Dia benci wanita, menganggap mereka semua hanya makhluk materialistis yang merusak mata dan menyusahkan saja.
“Berapa yang kau inginkan, heh?!”
Alexa menarik napas dalam, menggertakkan gigi sambil mencengkeram gaun yang sejak tiga jam lalu membuatnya kesulitan berjalan. Pesta pernikahan yang digadang-gadang menjadi perhelatan paling mewah tahun ini, ternyata ajang mempermalukannya di depan ribuan tamu undangan. Damian tidak pernah datang, membiarkannya seorang diri di atas pelaminan.
“Kenapa diam?” Damian mengamati tampilan Alexa dari ujung kaki sampai kepala. Semua orang akan mengatakan kalau gadis di hadapannya itu sempurna, cantik tidak terkira. Tapi baginya, Alexa tidak jauh berbeda dengan kupu-kupu malam di luar sana yang menjual tubuhnya demi uang. Bahkan, Alexa lebih rendah dari itu.
“Kamu puas membuatku malu? Ini memang rencanamu sejak awal, bukan?!” Alexa menghentakkan kakinya di lantai.
Mahkota pengantin di kepala Alexa terlempar ke arah jendela kaca, menyuarakan denting sebelum teronggok di atas sofa tak jauh dari sana. Dada gadis 25 tahun itu bergemuruh oleh rasa marah yang tak bisa dibendung lagi gejolaknya. Dia ingin melempar apa saja yang ada dalam jangkauan tangan, tapi itu tidak pernah terjadi.
Bukannya menenangkan Alexa, Damian justru tersenyum licik mengingat drama yang telah dirancangnya bisa berjalan sebagaimana bayangan di dalam kepala.
“Kenapa? Marah?” Damian duduk di atas sofa, membungkus tangannya dengan sarung tangan steril sebelum melempar mahkota yang semula dipakai Alexa ke dalam tempat sampah di sebelah meja. Dia merasa jemarinya tidak pantas bersentuhan dengan barang-barang wanita. Siapa pun mereka.
“Kau menikah denganku hanya karena uang, kan? Jangan berpikir hubungan kita seperti pasangan lain pada umumnya. Tidak ada malam pertama, tidak ada romansa. Hentikan pikiran kotor di dalam kepalamu itu. Sampai kapan pun, aku tidak akan menyentuhmu. Jadi, jangan bermimpi untuk menjadi—"
"Kamu pikir aku mengharapkannya? Satu keberuntungan karena aku tidak perlu menjadi penghangat ranjangmu!"
Damian terkekeh, menatap Alexa yang wajahnya merah padam. Dia suka melihat keras kepala wanita di hadapannya. Menarik.
Di saat semua wanita berlomba-lomba mendapat perhatiannya, Alexa berbeda. Gadis itu seperti kucing yang mengeluarkan kuku tajamnya, menyerang siapa saja yang datang mengancam.
Alexa mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, berniat meninggalkan kamar itu secepatnya. Pergi ke mana saja asalkan tidak bertemu muka dengan iblis berwujud manusia yang amat menyebalkan itu.
Sebaliknya, Damian merasa menemukan orang yang tepat. Dia hanya butuh seorang pewaris seperti kehendak nenek. Alexa sungguh kandidat yang tepat. Prestasinya di bidang akademik juga tidak diragukan lagi, dia memiliki otak yang cerdas. Kalau tidak, mana mungkin di usianya yang ke-22 dia sudah meraih gelar Magister.
Dalam sebuah studi kasus, ditemukan fakta bahwa kecerdasan seorang anak dipengaruhi oleh genetika bawaan dari ibunya. Sedangkan ayah mewariskan hal-hal seperti tinggi badan, sidik jari, lesung pipi, ataupun bentu fisik yang lain.
“Hey, lahirkan seorang anak untukku, maka perusahaan mendiang ibumu akan tetap berdiri.”
Langkah Alexa terhenti, seketika berbalik menatap Damian dengan kening berkerut.
“Anak?!”
Damian menghampiri Alexa, mengamati garis wajah yang masih tertutup make up tebal. Gadis di hadapannya memiliki postur tubuh yang cukup ideal. Badan ramping tapi tidak kurus kering, mata cerah dan memiliki tatapan tajam.
"Tidak buruk," komentarnya dalam hati.
“Lahirkan seorang anak untukku," ulang Damian, meraih sejumput rambut panjang Alexa yang tergerai dan menyesap aromanya setelah memejamkan mata.
Hal itu membuat napas Alexa tersekat di tenggorokan. Hidungnya dengan tidak tahu diri membaui parfum Damian. Embusan napas pria itu bahkan terdengar di telinga karena jarak mereka yang amat dekat.
"Kita akan berpisah setelah kau melahirkan. Ada kompensasi besar untukmu. Kau bahkan bisa melihat ayahmu yang tidak tahu diri itu membusuk di penjara kalau mau. Dia tidak akan menyusahkanmu lagi.”
"Dasar laki-laki gila!" Alexa yang dikuasai kemarahan, tak memikirkan kalimat Damian. Dia muak melihat gestur tubuh pria itu yang terasa menjijikkan, seperti seorang Casanova yang menggoda mangsanya.
Debam pintu terdengar menggema. Alexa meninggalkan Damian di dalam kamar pengantin mereka. Logikanya mengurutkan semua kejadian malang yang harus dialami setelah seorang Damian Ferdinan Alvarez masuk ke dalam hidupnya.
Perusahaan yang hampir guling tikar, pernikahan yang tiba-tiba digelar, ditinggalkan sendiri di pesta resepsi, sekarang diminta melahirkan tanpa bersentuhan. Rasanya semesta begitu sengaja mengatur kesialan ini bertubi-tubi. Rasanya dia ingin kabur saja, tidak peduli dengan semua masalah yang terjadi. Akan lebih baik kalau dia hidup di tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalinya.
Namun, langkah Alexa terhenti sebelum menuruni anak tangga. Dia masih ingat pengorbanan ibu semasa hidupnya. Wanita itu rela melakukan apa saja asalkan perusahaan tetap berada dalam genggaman tangannya. Sekarang, Hanya Damian yang bisa membantu agar perusahaan itu tetap berdiri. Haruskah dia menuruti obsesi gila pria itu? Melahirkan anak untuknya?
"Menikahlah dengan Damian, Sayang. Kamu tidak akan kekurangan apa pun. Dia punya segalanya." Heri coba meyakinkan putri bungsunya yang dinilai lebih cantik dibandingkan putri kandungnya sendiri, Alexa.
"No! Dia jelek, arogan, penyakitan! Apa Papa nggak sayang Rissa sampai minta Rissa menikahi pria tua seperti dia? Rissa nggak mau, Pa!"
Alexa terkekeh menyaksikan drama menjijikkan antara ayah dan adik tirinya. Makan malam keluarga yang seharusnya tenang, berubah dipenuhi rengekan manja setelah Heri mengungkapkan tujuan utamanya mengajak mereka bertemu di restoran mewah.
"Kenapa harus Rissa? Biarkan saja Alexa yang pergi, Pa!"
Lagi, Rissa merajuk dengan bibir mengerucut. Dia bahkan mengentak-entakkan kakinya di lantai demi mendramatisir penolakannya. Dia tidak peduli pada alasan perjodohan tersebut.
Rumor yang beredar menyebutkan bahwa seorang Damian Ferdinand Alvarez adalah pria paruh baya yang tidak pernah muncul di muka publik. Tidak ada satu pun potretnya. Dia seorang perjaka tua yang tidak segan menindas lawan bisnisnya. Tidak pernah ada yang bertemu muka dengan pria itu, hanya asistennya saja yang mewakili seperti malam ini.
Alexa melanjutkan santap malamnya tanpa berkomentar apa-apa. Sudah hal biasa ketika Heri lebih mengutamakan anak tirinya dibandingkan dia, darah dagingnya sendiri. Pria separuh abad itu menganggap Rissa lebih layak mendapatkan tawaran untuk menjadi istri Damian, miliarder nomor tiga di negara ini.
"Sayang, dengarkan Papamu. Dia pasti membuat keputusan itu dengan penuh pertimbangan. Kamu tidak akan rugi." Selina berbisik menasehati putrinya, Alexa pura-pura tidak mendengarnya.
Sebagai seorang wanita materialistis, tentu Selina sudah mencari tahu informasi tentang Damian. Dia bahkan sudah memiliki gambaran berapa uang yang akan diminta untuk mengurus pernikahan dengan putrinya. Sungguh luar biasa.
"Tapi, Ma. Bagaimana dengan karir modelku? Aku baru masuk agensi."
"Gampang. Setelah menjadi istri Damian, kamu tidak perlu lagi bekerja. Dia akan memberikan segalanya untukmu. Mau rumah, mobil, vila, bahkan jalan-jalan keliling dunia sekalipun, dia tidak akan keberatan asal kamu bahagia."
Alexa hampir tersedak mendengar ucapan ibu sambungnya. Wanita itu seperti rubah licik yang bisa menjerumuskan anaknya sendiri ke dalam lubang. Entah di mana hati nuraninya. Bagaimana mungkin Heri bisa jatuh cinta dan bertahan hidup bertahun-tahun dengannya? Mengerikan.
"Aku tetap ingin jadi model, Ma. Itu cita-citaku."
"Kamu bisa memiliki agensi model sendiri." Heri kembali bersuara. "Tunjuk saja iklan mana yang ingin kamu bintangi, Damian dan agensi kalian akan mengurusnya. Kamu juga bisa menentukan hari kerjamu sendiri. Tidak perlu tertekan dengan jadwal seperti yang manajermu buat selama ini."
Alexa semakin tidak habis pikir dengan fungsi telinganya. Kenapa Heri begitu ingin Rissa menyetujui pengaturannya?
"Ayah, apa yang terjadi? Masalah apa yang Ayah buat sampai mengacaukan orang itu?"
Rissa yang sudah membuka mulutnya hendak mengeluarkan protes, hanya bisa menelan kata-katanya sendiri. Tatap matanya tertuju pada Alexa yang baru tiba dari Singapura tiga hari lalu. Dia secara khusus dipanggil pulang oleh Heri demi membantunya mengurus perusahaan.
Pembawaan Alexa lebih dewasa, dengan pemikiran yang lebih matang tentunya. Dibandingkan dengan Rissa, tentu gadis 25 tahun itu unggul amat jauh kemampuannya. Gadis itu bekerja sebagai seorang akuntan profesional yang terbiasa mengaudit laporan keuangan perusahaan. Baik nasional maupun internasional.
"Ap—apa maksudmu, Alexa?" Bukan Heri, Selina yang menyela dengan tergagap. Jelas ada ketakutan tersendiri saat berbicara dengan anak tirinya ini.
Alexa tersenyum, "Bibi, saya bicara dengan Ayah saya. Tolong diamlah sebentar, ya."
"Alexa!" Heri meninggikan suaranya, "Jaga sopan santun pada ibumu sendiri."
"Oh, ibu? Maaf, Ayah. Ibuku hanya ada satu, sudah ada di surga. Kita tidak perlu membahasnya atau aku akan murka. Sekarang tolong jawab saja pertanyaanku, apa yang membuat Ayah tidak bisa menolak permintaan orang itu? Terlilit hutang lagi seperti sebelumnya?"
Heri meremas jemarinya sendiri. Semakin dewasa Alexa Wiratama, semakin kritis pemikirannya. Persis seperti mendiang ibunya.
"Berapa jumlahnya, Yah?"
"Ini ... ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Nak. Hanya ... hanya ...."
"Hanya empat miliar, Nona." Bukan Heri, Selina, ataupun Rissa yang bersuara, melainkan seorang pria yang sedari tadi duduk tidak jauh dari mereka. Dia tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Alexa.
"Perkenalkan, saya Ray, sekretaris pribadi tuan Damian."
Pria dengan setelan kotak-kotak itu menundukkan badannya sebelum memberikan satu bundel dokumen kepada Alexa.
"Hari ini tenggat waktu pembayaran hutang itu harus dilunasi. Jika tidak, perusahaan tekstil atas nama tuan Heri Wiratama akan berpindah kepemilikannya menjadi aset milik tuan saya."
Alexa berusaha mencerna, membaca cepat poin-poin yang tercetak di atas kertas. Di sana tertulis kalau Heri Wiratama—ayahnya, bersedia melunasi hutang itu per hari ini. Jika tidak, maka dia harus menyerahkan perusahaan itu dan seorang putrinya untuk menjadi istri Damian.
Alexa memijat pelipisnya, mengambil napas dalam dengan mata terpejam. Perusahaan yang susah payah diperjuangkan oleh mendiang ibunya, kini tak lagi ada harganya. Dia yang terlalu fokus membangun karir di luar negeri, melupakan fakta kalau harta berharganya tidak dikelola sebagaimana mestinya.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu makan malam Anda, Nona. Saya sudah berusaha menghubungi ayah Anda, tapi beliau selalu menolak untuk bicara." Ray menghormati Alexa, bisa melihat kalau wanita itu memiliki aura luar biasa. Sama seperti tuannya.
Alexa mengangguk, minta Ray duduk bersama mereka untuk menjelaskan detail perkara yang ada. Heri hanya bungkam seribu bahasa. Dia tidak tahu Ray akan memojokkannya di depan Alexa seperti sekarang ini. Padahal, dia berusaha menyelesaikan semuanya dengan caranya sendiri, yakni menggunakan Rissa sebagai tumbal. Sayangnya, gadis itu tidak bisa menurutinya begitu saja.
"Ma, ayo pergi." Rissa yang tidak mau terlibat dalam situasi pelik yang melibatkan ayahnya, menarik lengan Selina. Mereka tidak peduli pada teriakan Heri yang menggema, membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.
"Pergi. Pergi. Cari aman, Ma." Langkah Rissa dan Selina semakin menjauh. Keduanya tak menengok ke belakang sama sekali, enggan peduli, menyisakan Alexa, Heri, dan Ray di kursinya masing-masing.
Ray menjelaskan semua secara gamblang, awal mula Heri mengajukan pinjaman pada perusahaan mereka setahun lalu.
"Alexa, Ayah salah perhitungan. Ini sungguh di luar dugaan." Heri coba membela diri, menutupi kesalahannya sebelum Ray membuka kedoknya yang lain.
"Kami sudah memberi peringatan saat ayah Anda mengajukan pinjaman satu milyar yang ke tiga. Beliau menggunakan rumah sebagai jaminannya."
Tatapan Alexa semakin tajam, menyiksa Heri Wiratama yang gemetar ketakutan di tempatnya. Dia hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani menatap mata putrinya.
"Kenapa kalian tetap memberi pinjaman kalau tahu ayahku tidak akan sanggup membayarnya?" tanya Alexa setelah Ray menyelesaikan penjelasan singkatnya. Dia berusaha tetap objektif memandang kejadian ini, tidak terpengaruh dengan statusnya sebagai putri kandung pihak yang berhutang.
Sebagai seorang akuntan, tentu dia tahu prosedur pinjam meminjam dan agunan yang dijaminkan. Namun, seharusnya mereka juga bisa menilai kapabilitas debiturnya.
Ray menelan ludah, mengambil jeda beberapa detik demi mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. Dia tahu, tidak akan mudah berbicara dengan wanita karir semacam Alexa yang memiliki pengetahuan lebih di bidangnya.
"Kami adalah lembaga pinjaman yang berbasis bisnis, Nona. Selama debitur bisa memenuhi kewajibannya, tentu kami akan menyambut baik niat mereka. Anda—"
"Ah, menyambut baik? Lalu apa ini?" Alexa mengempaskan kumpulan kertas di tangan ke atas meja, membuat Ray menahan napas sepersekian detik sembari menolehkan kepala. Refleks tubuh yang mengira kalau dokumen itu akan menyapa wajahnya.
"Menyambut baik debitur dengan ancaman pengambilalihan agunan, itu masih bisa diterima. Memang seperti itu prosedurnya. Tapi ...." Alexa berdiri, mendekat ke arah Ray yang tetap berusaha tenang di tempatnya.
"Memaksa debitur menyerahkan salah seorang putrinya untuk menikah dengan pihak pertama, apa itu masuk akal?" Alexa mencondongkan badan, membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Ray.
Gadis itu berusaha mengintimidasi lawan bicaranya, merusak konsentrasi agar keputusan yang Ray ambil tidak rasional. Itu salah satu teknik memengaruhi orang agar mengambil keputusan sembarang.
Sayangnya, Ray bukanlah sekretaris kemarin sore yang mudah terpengaruh oleh tekanan orang-orang di sekitarnya. Dia lebih tangguh dari itu, justru tersenyum manis ke arah Alexa. Rasa kagum membuat sinar matanya berbinar cerah. Dia merasa tertantang menghadapi wanita cerdas yang tidak mudah menyetujui keadaan ini.
"Tuan Heri Wiratama sudah menandatangani surat perjanjian sebulan yang lalu. Tugas saya hanya mengingatkan kalau waktu persiapan tidak banyak. Lusa, saya akan menjemput Anda ataupun nona Rissa, salah satu dari kalian akan menjadi mempelai wanita untuk tuan saya. Bisa dimengerti, Nona?"
Kedua tangan Alexa terkepal erat di sisi badan. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan kemarahan yang berusaha mengambil alih akal sehatnya. Kalau saja dia menuruti emosinya, tentu dia sudah menarik kerah baju Ray dan memukulnya sekuat tenaga. Sayangnya, dia masih sadar untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
"Sampai jumpa. Kita bertemu lagi besok lusa, Nona." Ray menundukkan memberi hormat sebelum pergi. Gemeletuk sepatunya membuat Alexa semakin muak. Keadaan ini sungguh mencekik kewarasannya, membuatnya berteriak sekuat tenaga.
"AARGHH!"
"Bagaimana?" Damian mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja kaca, menunggu penjelasan Ray untuk melaporkan misinya kali ini. Tentu dia berharap bisa mendengar kabar baik darinya.
"Semua sesuai perkiraan Anda, Tuan. Heri Wiratama tidak bisa melawan."
Tawa menggema, mengisi ruangan dengan rak buku berjejer di sisi kanan Damian Ferdinand. Pria itu tahu, tidak ada jalan lain yang lebih mudah dibandingkan memaksa orang dengan kekuasaan dan uang yang dimilikinya.
“Kalau begitu, kau langsung siapkan saja pernikahannya. Ingat, buat dia malu di depan semua orang. Semakin memuaskan hasilnya, semakin banyak bonus yang bisa kau dapatkan nantinya.”
“Tapi, Tuan ….”
Damian merasa tidak sabar melihat wajah muram keluarga Wiratama. Penderitaan orang-orang itu adalah kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Ini sedikit lain dari gambaran kita."
"Apa? Bukankah mereka tidak menolaknya? Apa yang kau ragukan?"
"Itu ...."
"Hmm?" Satu alis Damian naik, menunggu jawaban dari sekretarisnya yang entah kenapa terasa mengesalkan. Dia bukan tipikal orang yang bersabar menunggu. Terlebih, Ray terlihat kesulitan mencari kata-kata yang tepat.
“Kemungkinan besar bukan nona Rissa yang akan menjadi pasangan Anda.”
"Bukan dia? Siapa?" Damian mengerutkan kening, membiarkan ruangannya hening selama beberapa saat. Ray tidak lantas bersuara, kembali terlihat berpikir dalam.
"Nona tertua keluarga Wiratama telah kembali. Alexa, dia yang akan—"
"Alexa?" Damian merasa asing, tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Lagipula, hanya Rissa yang muncul setiap perusahaan tekstil itu mengadakan acara-acara besar. Tidak pernah ada wanita lain.
“Alexa Wiratama, putri kandung Heri bersama istrinya yang pertama, nyonya Aryani Gautama. Dia mengambil studi ekonomi di salah satu universitas unggulan di Amerika sebelum melanjutkannya di Melbourne University. Di usianya yang ke-22, dia sudah berhasil meraih gelar Magister di bidang Ekonomi. Hubungannya dengan sang ayah memang tidak terlalu baik. Terlebih setelah kematian ibunya tujuh tahun lalu.”
“Selama ini dia bekerja bersama temannya di Singapura, menjadi akuntan profesional yang melakukan audit keuangan ke perusahaan-perusahaan besar yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan tidak sedikit perusahaan luar yang memakai jasanya juga. Meski begitu, dia lemah secara finansial. Nona Alexa rutin berderma, menjadi donatur di beberapa tempat sekaligus.”
"Siapa yang mendanai pendidikannya? Bedebah itu?" Damian semakin tertarik, berharap mendapat jawaban kalau Heri-lah yang membiayai putrinya. Itu akan lebih mudah menindas mereka bersama-sama. Sekali injak, dua semut mati.
"Nona Alexa terbiasa hidup sendiri, Tuan. Sejak usia 9 tahun, nyonya Aryani memasukkan putrinya ke asrama, memaksanya untuk tidak mengandalkan orang lain apa pun alasannya. Hingga pendidikan tinggi, semua dia biayai sendiri. Banyak beasiswa yang didapatkan."
“Menarik.” Satu kata itu terlontar begitu saja dari mulut Damian, tersenyum dengan seribu pemikiran. Data tentang Alexa membuat matanya terbuka, tidak akan mudah menaklukkannya. Hal itu justru membuat obsesinya semakin menyala.
"Sebagai putri seorang Direktur Utama Gautama Textile Industry, namanya tidak pernah disebut. Bahkan, seolah sengaja disembunyikan. Kenapa?"
Ray menggeleng lemah, tidak bisa menjawabnya.
“Ah, lagipula itu bukan urusanku. Lebih baik menikah dengan Alexa dibandingkan adiknya yang hanya bisa bersikap manja."
"Maaf?” Ray tidak bisa mengerti apa yang direncanakan oleh Damian. Smirk iblis terukir di sudut bibir pria itu, membuatnya menelan ludah dengan paksa.
“Semakin tinggi posisinya, semakin besar ego yang dia miliki. Akan lebih menyenangkan untuk dipermainkan. Saat diinjak, dia pasti akan melawan.” Damian kembali tertawa setelahnya, merasa adrenalin naik seketika.
Ray menggeleng, dia tidak setuju dengan penuturan Damian. Firasatnya mengatakan kalau atasannya ini bisa saja ditaklukkan oleh Alexa. Terlebih, Damian tidak pernah memiliki hubungan asmara dengan wanita, dia tidak memiliki pengetahuan sama sekali mengenai tabiat dan kepribadian kaum hawa yang seringkali memusingkan kepala.
“Kenapa?”
“Anda harus hati-hati. Tidak mudah menaklukkannya. Dia gadis keras kepala, Tuan.”
“Gadis keras kepala?”
Ray mengangguk mantap.
“Tuan Wirawan tidak bisa membantah nona Alexa. Karakternya cukup kuat, tidak mudah diatur. Dia juga memiliki otak yang cerdas, yang bisa memengaruhi lawan bicaranya. Katakanlah memiliki kemampuan untuk mengintimidasi. Sungguh berbeda dengan nona Rissa yang hanya mengandalkan kecantikannya."
Ray menceritakan pertemuan mereka semalam, memberikan gambaran baru untuk Damian. Pria itu terkekeh saat mendengar Alexa memajukan wajahnya ke arah Ray. Itu langkah yang cukup berani, berusaha membuat orang terdistraksi.
"Kau pikir ada yang lebih keras kepala dibandingkan atasanmu ini?"
Ray hanya bisa bungkam. Lima tahun bekerja menjadi orang kepercayaan Damian, memang tidak ada yang bisa mengalahkan arogansi tuannya itu.
“Jadi, ada lagi hal lain yang ingin kau sampaikan?"
Ray meletakkan dokumen yang sedari tadi ada dalam genggaman tangannya. Sebuah stop map kuning dengan sepuluh lembar kertas di dalamnya, berisi data perusahaan tekstil bernama Gautama Textile Industry Tbk.
“Ini adalah perusahaan yang diwariskan oleh mendiang ibu Alexa, nyonya Aryani Gautama. Dia adalah pewaris tunggal perusahaan tekstil itu. Sayangnya, usianya hanya bertahan sampai angka empat puluh. Penyebab kematiannya karena keracunan, tapi suaminya menolak autopsi. Nona Alexa yang saat itu berusia 18 tahun, sedang ada di luar negeri. Bisa dibilang kematian nyonya Aryani penuh misteri.”
“Heih?” Damian mengambil dokumen di atas meja dan melihatnya dengan seksama.
“Itu belum terlalu lama, kenapa Alexa tidak menyelidikinya? Dia diam saja?”
“Saya tidak tahu alasan tepatnya, mungkin dia tidak menaruh curiga dan menganggap kematian ibunya wajar saja.”
“Tidak, kurasa dia tidak akan sebodoh itu.” Damian mengelus cambang tipis di dagunya. Rasa penasaran justru membuatnya ingin lebih mengenal Alexa.
“Siapkan pernikahan semewah mungkin. Aku ingin semua yang terbaik untuknya. Undang semua rekan bisnis kita dan rekan bisnis ayahnya. Semua, tanpa terkecuali.”
“Apa rencana kita berubah? Anda akan datang di acara itu, Tuan?”
"Untuk apa datang? Lakukan semua sesuai rencana awal. Aku tidak peduli siapa wanita itu, permalukan saja mereka." Damian menggeleng tegas. Dia tetap berpegang teguh ingin menginjak-injak harga diri wanita yang rela menjual kebebasannya demi uang. Rasa jijiknya tetap sama, tidak ingin membiarkan mereka bahagia.
Kalau bukan karena tuntutan nenek, tentu Damian tidak ingin menikah. Dan begitulah yang terjadi. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya selama acara resepsi berlangsung. Alexa seorang diri, menjadi pusat perhatian dan gunjingan yang tiada henti. Bukan hanya itu, Heri maupun Selena pun pergi diam-diam dari sana. Tak kuat menahan malu di depan ribuan tamu yang menghadiri acara.
“Maaf, Sayang. Mungkin Damian benar-benar sibuk.” Nenek yang terus menerus menggenggam tangan Alexa seusai acara, mencoba memberi alasan.
“Tidak apa, Oma. Aku baik-baik saja. Lagipula, acara sudah selesai.” Alexa hanya bisa tersenyum, merasa sedikit terhibur dengan perhatian wanita 77 tahun itu. Sikap nenek Damian yang hangat, membuatnya yakin kalau masih ada orang baik yang peduli pada sesama.
“Kamu tenang saja, Oma akan membuat perhitungan dengan bocah nakal itu. Oma pastikan Damian akan bersujud meminta maaf padamu!"
Bersujud minta maaf? Ah, Alexa justru memikirkan hal yang sebaliknya. Pria itu mungkin akan semakin menindasnya, merajalela dengan arogansi dan kekuasaan yang dia miliki. Tentu Alexa juga tidak akan menyerah begitu saja, siap memberikan perlawanan sekuat tenaga!