Bab 1

Dengan langkah berat Hanna masuk ke dalam rumah megah yang suram. Bangunannya kokoh dan kuat, cantik, dan terawat. Akan tetapi Hanna bisa merasakan kengerian yang tersembunyi di balik mewahnya istana Sultan Bhayangkari. Seorang lelaki dewasa yang telah menjadi suaminya akibat terjebak hujan di pondok. Hanna menyusuri ruangan dengan kedua mata cokelatnya, dari sudut ke sudut. Hingga pandangannya terhenti pada sebuah foto sepasang pengantin yang tersenyum bahagia. Deg! Aliran darah Hanna berdesir saat mengetahui jika Sultan telah memiliki istri, bukan seorang lajang seperti dugaannya.

"Ayo! Akan aku tunjukkan kamarmu." Sultan berjalan di depannya dengan gagah, melewati beberapa ruangan.

Tidak ada yang bisa Hanna lakukan selain mengikutinya, meskipun rasanya dia ingin sekali melarikan diri. Namun, Hanna tidak memiliki kemampuan. Di saat Sultan berhenti tiba-tiba wanita berkerudung putih itu menabrak dadanya, Hanna langsung menunduk. Dengan perasaan takut Hanna berjengit ketika Sultan memegang kedua pundaknya yang bergetar.

"Kenapa kamu seperti orang ketakutan?" tanya Sultan, mata gelapnya menyala.

Hanna menggeleng lambat. Dia tidak kuasa menahan tangisnya di hadapan Sultan yang tampak mengerikan. Melihat Hanna menangis Sultan jadi naik darah, tanpa berkata apapun ditariknya wanita itu dengan kasar. Lalu, mengempaskannya di sebuah kamar yang bernuansa gelap. Tidak ada cahaya matahari yang masuk, karena semua jendela tertutup rapat.

"Mulai hari ini nama kamu Arimbi." Sultan berkata tegas. Sama sekali tidak ada rasa kasihan terhadap Hanna.

"Arimbi?" tanya Hanna bergetar.

"Ya, Arimbi, istriku satu-satunya. Bukankah sekarang kamu istriku?

"Tapi namaku Hanna, bukan Arimbi."

"Jangan membantah!" bentaknya.

Spontan Hanna terdiam. Sekarang Sultan Bhayangkari adalah suaminya yang wajib dia patuhi. Sekalipun itu permintaan yang di luar nalarnya, Hanna tetap tidak bisa menolak. Di sini Hanna hanya mengikuti apapun yang Sultan inginkan, termasuk mengganti namanya menjadi Arimbi.

"Kita baru saja sampai dari perjalanan yang cukup melelahkan. Tidurlah, aku akan kembali begitu kamu bangun."

Sepeninggal Sultan dengan cepat Hanna bangkit dan berjalan ke arah jendela. Hanna dapat melihat bangunan-bangunan tinggi yang tersusun. Biasanya setiap pagi Hanna sudah berada di sawah, menanam sayur mayur, umbi-umbian, dan padi. Akan tetapi kini Hanna berdiri di suatu kamar asing yang akan menjadi tempat tinggalnya sampai menua nanti.

"Paman ..." lirihnya sedih. Hanna menyeka sudut matanya, saat teringat sang paman yang tinggal di desa.

Tap! Tap! Ketukan sepatu terdengar nyaring. Untuk mendengarkan lebih Hanna pun menempel pada jendela, dan melihat seorang perempuan berambut panjang dengan gaun bewarna merah. Wanita itu berjalan sambil menunduk sehingga Hanna tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ketika Hanna mulai menebak-nebak siapa wanita itu seseorang muncul mengejarnya dengan napas tersenggal. Mungkin pelayan.

"Nyonya Arimbi, tunggu!"

Arimbi? Batin Hanna berteriak. Sultan mengganti namanya dengan nama itu. Sudah Hanna pastikan wanita bergaun merah itu pemilik nama Arimbi. Lalu, kenapa Sultan memberi namanya pada Hanna? Masih bertanya-tanya Hanna berusaha membuka jendela kamarnya yang sepertinya telah terkunci mati.

***

Setelah membersihkan dirinya Sultan membuka kamar ibunda tercinta. Sudah seminggu lebih Sultan tidak mengunjunginya, tentu saja dia rindu. Keadaan Ningsih masih sama seperti kemarin, saat Sultan berpamitan dengannya. Lemah dan tidak berdaya. Peluang untuk sembuh memang tidak ada lagi, tapi Sultan ingin sang bunda hidup lebih lama. Sambil membelai rambut putihnya Sultan bercerita, meski ibunda masih tertidur nyenyak.

"Sultan, apa itu kamu?" tanyanya saat tersentak. Matanya mengerjap cepat.

"Iya, Bunda, ini Sultan."

"Oh, Sayang. Bunda sangat merindukan dirimu. Apa kamu juga membawa Arimbi pulang?" Ningsih bertanya lagi.

Sultan tersenyum miris. Sejak Arimbi kehilangan akalnya, Sultan memang tidak mempertemukan mereka lagi. Ningsih yang sakit-sakitan, lumpuh dan tidak dapat melihat membuat Sultan enggan menghadapi masalah baru. Cukup sudah melihat Arimbi yang gila, dan Sultan tidak ingin kehilangan bundanya. Memberitahu keadaan Arimbi yang sebenarnya tentu akan membuat Ningsih serangan jantung.

"Iya, Bunda, Sultan juga membawa Arimbi pulang," jawabnya mantap.

Sultan membayangkan wajah Hanna. Menikahi wanita itu bukan tanpa tujuan yang jelas. Dialah yang akan menjadi Arimbi. Istri satu-satunya dan menantu kesayangan bundanya.

"Syukurlah! Akhirnya Arimbi kembali. Bunda juga sangat merindukannya. Di mana Arimbi? Kenapa dia tidak datang menjenguk, Bunda?" Ningsih tampak heran. Wajahnya juga berubah sedih.

Sultan pun memakluminya. Istrinya itu memang sangat dekat dengan sang bunda. Bahkan, mereka tidak seperti mertua dan menantu, tetapi bagaikan ibu dan anak kandung. Maka dari itu hingga sekarang Arimbi mempunyai tempat di hati Sultan. Istrinya Arimbi paling bisa membuat bunda bahagia.

"Dia sedang tidur, Bun. Kita baru saja sampai, jadi Arimbi sangat lelah."

"Katakan pada Arimbi setelah bangun nanti Bunda ingin bertemu. Bunda tidak mau makan jika bukan Arimbi yang menyuapi Bunda," katanya tegas.

Untuk jawaban dari permintaan yang terakhir Sultan menahannya, karena mereka belum berbicara. Sultan tidak akan mengiyakan permintaan bunda sekarang. Sultan perlu membuat kesepakatan terlebih dulu pada Arimbi yang baru, walau kemungkinan ada penolakan dia akan tetap memaksa. Tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar, dan Sultan berharap Hanna bukan termasuk wanita pembangkang.

"Sultan tinggal dulu ya, Bun." Sultan pun mengecup kening ibundanya. Dia ingin menemui Arimbi yang pertama.

Senyum Sultan mengembang begitu melihat Arimbi di taman belakang. Wanita cantik itu sedang menikmati senja dan langit yang mendung. Mata indahnya menengadah ke atas, dengan senyuman yang selalu tampak mempesona bagi Sultan. Melihat kedatangannya Ratih bangkit, dan sedikit membungkuk. Selama ini Sultan mempercayakan Ratih yang merawat dan mengurus Arimbi.

"Sore, Tuan." Dia menyapa ramah.

Sultan mengangguk, lalu bertanya. "Bagaimana keadaan Arimbi?"

"Seperti yang Tuan lihat, nyonya Arimbi tampak baik-baik saja, bahkan sekarang dia bertambah aktif."

Seakan mengerti Ratih menyingkir, mempersilakan Sultan duduk di sebelah Arimbi. Cukup lama Sultan tidak mendapat respons apapun. Arimbi hanya fokus memandang ke atas, tidak memedulikannya sama sekali. Dengan lembut Sultan menggenggam tangannya, mengambil perhatian Arimbi seutuhnya. Seperti biasa wanita itu tidak pernah menolak saat Sultan menyentuhnya, bahkan dia malah menatapnya dalam.

"Kamu sudah makan?" tanya Sultan sambil mengusap rambut Arimbi.

Tidak ada jawaban. Semenjak sakit jiwa Arimbi memang jadi banyak diam. Bahkan, Sultan pikir Arimbi tidak mengerti dengan pertanyaannya, tapi sebagai suami dia selalu berusaha mengajak berbicara. Sebenarnya Sultan bisa saja membawa Arimbi ke RSJ untuk perawatan ekstra, yang menjadi masalah dia tidak bisa jauh dari cintanya itu, apalagi harus bolak balik menjenguk. Itu sangat merepotkan.

"Sayang, kamu terlihat sangat cantik hari ini." Masih dengan kata-kata yang sama Sultan menangguhkannya, kemudian mengecup pipi Arimbi mesra.

Bab 2

Hanna baru saja bangun dari tidurnya yang tidak nyaman. Serangan terus mengganggu alam bawah sadar Hanna, seperti petunjuk bahwa hidupnya di rumah ini tidak akan aman. Keringat mengucur deras dari dahi ke pipinya dengan napas tidak beraturan. Mimpi itu bagaikan nyata. Ya Allah! Hanna menangkup dadanya yang masih belum stabil. Keinginannya untuk melarikan diri semakin besar saat membayangkan Sultan berubah menjadi monster mengerikan seperti di dalam mimpi. Kejam dan bringas.

"Selamat malam, Nona Arimbi." Secara tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampilkan seorang wanita bertubuh gempal dengan senyuman terpaksa.

Wanita itu masuk tanpa memedulikan Hanna yang bersidekap ketakutan. Dengan tajam kedua mata Marlina berputar seakan mencari sesuatu, dan tertawa saat menemukan barang yang dicari. Ransel milik Hanna. Tangannya yang tegap merengut ransel tersebut, lantas melemparnya ke luar pintu.

"Bu, kenapa kamu membuangnya? Itu pakaianku yang aku bawa dari desa."

"Kami akan membakarnya! Kenakan pakaian Nyonya Arimbi, kamu bisa memilihnya dengan bebas di lemari." Marlina menunjuk lemari yang terletak di sudut ruang. Masih tersenyum sinis.

"Ka-lau aku boleh tahu siapa Arimbi?" tanya Hanna terbata-bata. Ketakutan.

"Jangan konyol! Kamu bertanya siapa itu Arimbi? Itu dirimu Nona cantik."

Untuk ke sekian kali Hanna berjengit kaget setiap mendengar jawabannya yang kasar dan keras. Marlina sangat sinis, tampak tidak menyukai Hanna. Akan tetapi sebagai pekerja Marlina tak bisa membantah selain mematuhi segala perintah Sultan tuannya, yang sekarang telah memiliki dua Arimbi.

Bagaimanapun bagi Marlina, Nyonya Arimbi tidak pernah tergantikan. Di saat Sultan tidak mendampinginya, maka Marlina bebas bersikap dan berekspresi sinis di depan wanita asing yang berusaha mencuri tempat Arimbi.

"Apa Arimbi sudah bangun?" tanya sebuah suara, yang Hanna yakini milik Sultan. Lelaki yang memanipulasinya.

"Sudah Tuan, tapi Nona Arimbi keras kepala, dia tidak mau mengenakan pakaian yang ada di lemari." Marlina memberi jawaban sendiri, padahal Hanna belum menjawabnya.

"Kamu bisa keluar sekarang, dan bakar seluruh pakaiannya." Sultan menendang bokong Marlina keluar, lalu membanting pintu kamar.

Spontan jantung Hanna berdetak kencang, rasanya seperti hendak keluar. Tatapan Sultan menghunjam keberaniannya yang hanya tinggal seujung kuku. Tubuhnya semakin meringkuk dengan getaran halus, bahkan ingin teriak saja pun tidak mampu Hanna lakukan. Setiap gerakan Sultan bagai ancaman teror yang siap menerkam. Saat Sultan berhasil naik ke ranjangnya Hanna mulai terisak, tak kuasa menahan rasa takutnya yang kian menjadi.

"Bisakah kamu tidak menangis?!" bentak Sultan sambil mencekoti tulang pipi Hanna, matanya berapi-api.

"A-ku ..." ucapan Hanna tercekat.

"Kubilang jangan menangis!" Sultan semakin menekannya, bahkan tubuh Hanna sampai terentak-entak di kepala ranjang yang terbuat dari besi.

"Saakiit, aku mohon lepasin." Hanna merintih, barulah Sultan melepasnya.

Napas Sultan memburu, menatap nyalang ke arah Hanna yang tampak mengembalikan kesadarannya. Akibat keanarkisan Sultan yang memboikot tubuhnya membuat pandangan Hanna berputar. Wanita rapuh itu membuang muka saat Sultan menghirup aroma lehernya, berusaha untuk tidak menangis atau ajal akan menjemput.

Sejenak Sultan mengangkat kepalanya. Dia menatap Hanna yang terpejam, lalu berbisik rendah. "Hmm, tubuhmu sudah harum, tapi aku tidak suka."

Lelaki itu bangkit seraya menarik Hanna turun dari ranjang. Tanpa berkata apapun Sultan menyeretnya menuju kamar mandi yang berada di ujung ruangan. Dia mendorong Hanna ke dalam, lalu menguncinya bersama dirinya. Mandi bersama mungkin bukan ide yang buruk, tapi Hanna takut jika Sultan melakukan hal yang tidak wajar selama mereka mandi.

"Buka bajumu. Aku akan memandikanmu, dan menyabuni tubuhmu pakai sabun yang biasa Arimbi gunakan," kata Sultan.

"Aku tidak mau." Hanna membantah.

"Buka atau aku akan merobeknya?" Sultan merapatkan giginya. Marah.

***

Sambil menangis Hanna mematut dirinya di depan cermin. Sultan memaksanya agar tampil cantik pada acara makan malam yang dia adakan. Hanna tidak berpikir untuk memoles wajahnya, baginya dapat bersikap tenang itu sudah keajaiban luar biasa. Orang-orang sudah berkumpul, dari kamarnya Hanna bisa melihat halaman rumah yang penuh oleh kendaraan roda empat. Entah siapa yang Sultan undang? Yang jelas Hanna tidak tahu menahu tujuan Sultan menikahinya.

"Nona Arimbi, bisakah sedikit lebih cepat? Tuan Sultan menunggumu."

"Iya, sebentar lagi," jawab Hanna.

Mungkin, jika Sultan mengenalkan dirinya di hadapan khalayak ramai akan menjadi suatu hal yang mengagumkan. Akan tetapi bagaimana jika Sultan mengenalkannya sebagai Arimbi? Hanna tak habis pikir kenapa nama wanita itu terus mengikutinya seperti bayangan yang tak kasat mata.

"Nona, apa kamu baik-baik saja?" tanya wanita muda yang bernama Ratih. Dia menyampirkan kerudung putih di kepala Hanna hingga menutupi sebagian wajahnya.

"Mungkin aku hanya sedikit gugup." Hanna menjawab, dan menerima uluran tangan dari Ratih.

Seperti dalam sebuah drama seluruh pasang mata mengarah pada Hanna begitu wanita itu menunjukkan diri. Orang-orang menatapnya penasaran, tidak sedikit dari mereka berbisik. Di saat Ratih pergi barulah Sultan datang menjemputnya, menggandeng lengan Hanna dengan sangat mesra. Tak ada seorang pun yang melewatkannya. Kehadiran Hanna di tengah acara bagaikan suatu hal yang berharga.

"Selamat datang dan menikmati hidangan yang ada. Malam ini aku beritahukan kepada rekan sejawat bahwa istriku Arimbi telah kembali." Sultan mengambil tangan Hanna, lalu mengecupnya cukup lama.

Saat tepukan tangan memenuhi lantai pertama Sultan pun menggiring Hanna untuk naik ke atas, meninggalkan riuhnya para tamu, dan masuk ke ruangan lain yang sudah dihias. Terdapat hidangan menggiurkan di atas meja, dengan kepulan asap yang masih terlihat mengitari semangkuk sop iga. Hanna juga memerhatikan sekeliling sambil berdecak kagum, menikmati keindahan perlak perlik lampu di sepanjang jalan mereka. Untuk sejenak Hanna bagaikan terhipnotis oleh pemandangan dan perlakuan manis Sultan terhadapnya.

"Arimbi, apa kamu menyukainya?" Deg! Seketika rasa bahagia itu menguap ke udara. Langkahnya Hanna terhenti.

Kini, Hanna pun sadar. Jika semua ini bukan untuk dirinya, tetapi Arimbi. Tubuhnya menjadi kaku dan berat untuk mengikuti kemana langkah Sultan. Pasalnya lelaki gagah itu terus menggandeng bahkan menyeret Hanna saat menyadari dirinya sudah enggan.

"Sop iga makanan kesukaan Arimbi. Kamu harus memakannya." Sultan berkata setelah mendudukkan Hanna.

"Aku bukan Arimbi!" bantahnya keras.

Braak!

Dengan mata berapi-api Sultan memukul meja di depannya. Emosi lelaki itu memang tidak terkontrol. Dia bisa menjadi lembut dan keras dalam waktu yang sama. Melihat Sultan sudah kesetanan nyali Hanna menciut kembali, wajahnya pun pucat sepucat-pucatnya dengan tubuh yang mulai bergetar ketakutan. Akan tetapi setan telah menguasai Sultan hingga lelaki itu gelap mata dan menghancurkan seluruh makanan yang terhidang di meja makan. Kemudian menyiksa istrinya Hanna sampai merasa puas.

Bab 3

"Nona ..." panggil sebuah suara, halus.

Dengan berat Hanna mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Rambutnya yang acak-acakkan, serta wajah penuh lebam membuat Ratih merasa kasihan. Perawat itu tidak pernah mengerti dengan tingkah laku dan perasaan Sultan. Dia bisa lembut kepada Arimbi yang pertama, tetapi menyiksa Arimbi kedua begitu tega.

"Makanlah," pinta Ratih mendekati Hanna, lalu menaruh makanannya di lantai. Tepat di hadapannya Hanna.

Menggeleng lemah Hanna mendorong piring di depannya hingga agak jauh, dan berkata. "Aku hanya ingin pulang."

Mengingat kondisinya Hanna kembali menangis, terlebih merasakan rasa sakit yang hampir menyiksa seluruh tubuh. Sultan tidak hanya memboikot dirinya, tetapi juga melukai perasaan. Setelah puas menghajar tubuh Hanna, dia mengikat kakinya di kaki ranjang, seperti seekor binatang. Sungguh keji.

"Nona Arimbi ..." Ratih mensejajarkan diri dengan Hanna, menatapnya pilu.

"Tolong aku." Hanna merintih.

Ratih meraih sebelah tangan Hanna yang dingin, lalu berkata. "Kamu hanya perlu mengikuti apapun perkataan Tuan Sultan, jangan sekali membantah. Dia tidak menyukai wanita yang enggan diatur dan pembangkang. Sosoknya sulit mengontrol perasaan, beliau bisa menjadi amat baik dan sangat kejam. Patuhilah aturannya."

Setelah memberi pengertian kepada Hanna, wanita muda itu berlalu pergi. Tugasnya hanya mengantar makanan, dan memastikan Hanna tidak kabur. Sesaat kepergiannya ketukan sepatu muncul, Hanna yang malang langsung bersidekap. Memeluk dirinya sendiri. Berbagai doa Hanna lantunkan, agar pemilik dari sepatu tersebut tidak lagi bertingkah semengerikan monster.

Cklek! Bahkan bunyi knop pintu yang dibukanya pun sudah menghantarkan hawa kengerian. Hanna meraba detak jantungnya yang mulai menggila. Saat Sultan menampakkan diri kulit wajah Hanna berubah warna. Menjadi pucat.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.

Tangan kasar Sultan menyentuh kedua pipi Hanna dengan hati-hati, meringis pelan kala wanita itu menggigit bibir. Menarik tangannya Sultan pun bangkit menuju lemari, membuka salah satu lacinya dan mengeluarkan kotak P3K. Tanpa Hanna mengerti Sultan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, dan bukan dia pelakunya. Lelaki berumur 28 tahun itu membersihkan luka Hanna dengan sangat lembut, serta mengobati lukanya yang tampak ruam memerah.

"Ini pasti sangat sakit, maafkan aku." Sultan berkata lirih, terdengar amat menyesal. Hanna bertambah bingung.

Setelah beres Sultan melepaskan rantai yang mengikat kaki Hanna, kemudian membantunya duduk di ujung ranjang. Perubahan sikap Sultan membuat Hanna bertanya-tanya, tapi wanita itu tidak mengutarakannya. Sultan Bhayangkari tidak hanya mengobati luka yang terlihat, dia juga berhasil mengembalikan keadaan hati Hanna.

Mengambil sepiring makanan yang masih utuh, Sultan memberikannya pada Hanna yang terheran-heran. "Makanlah, aku tidak ingin melihatmu sakit. Itu sangat menyakitiku."

Sebelum beranjak tidak lupa Sultan membelai kepala Hanna, lalu pergi meninggalkannya yang masih tertegun. Sebenarnya Sultan tidak tahu apa yang telah dia lakukan sebelumnya pada wanita malang itu, yang jelas begitu sadar Hanna sudah terkulai lemas. Semua itu di luar kendalinya terlepas rasa jengkel yang membuncah otak. Melihat Hanna seperti tadi membuat Sultan iba, bahkan merasa sangat menyesal. Akan tetapi Sultan tidak mempunyai pilihan selain mentawan Hanna untuk menghidupkan kembali keluarganya dari kekosongan Arimbi.

***

Seharian Hanna tidak melihat Sultan, maksudnya lelaki itu tidak menjenguk dirinya di kamar seperti biasa. Hampir satu harian penuh Hanna berada di ruangan yang tertutup yang tidak bisa dibukanya sendiri. Pintu itu terbuka hanya dua kali saat Marlina mengantar makan siang dan makan malam. Di dalam kamar gerakan Hanna juga sangat terbatas akibat lukanya yang bertambah parah, semalaman ia tahan.

"Aww," rintihnya saat hendak bangun.

Hanna memegangi kaki kirinya yang sudah membiru. Semalam Sultan tak punya perasaan membanting barang pecah belah ke arahnya hingga habis.

"Arimbi, aku pulang!" teriak Sultan.

Dalam hitungan detik lelaki itu muncul dengan bingkisan di kedua tangannya. Sultan tersenyum manis pada Hanna, ditaruhnya bingkisan itu di hadapan sang istri lalu dibukanya dengan cepat. Ternyata Sultan membayar janjinya, beliau tak lupa menghadiahkan Hanna seperangkat alat salat, dan Al-Qur'an.

"Aku tadi membelinya sendiri pulang kerja, dan semoga kamu suka," tutur Sultan memberikannya kepada Hanna.

Dengan susah payah Hanna berusaha mengeluarkan suaranya, dia berkata. "Te-rima kasih. A-ku sangat suka."

Mendengar suara Hanna yang seperti ketakutan dahi Sultan mengernyit, dia pikir sikapnya tidak lagi membuatnya takut. Menatap Hanna dengan tajam, Sultan berusaha menahan amarahnya yang sudah menyala dan membakar.

"Kenapa kamu masih takut padaku?" tanya Sultan terdengar berat, dalam.

Dituding seperti itu bukan menjawab, tubuh Hanna malah bergetar semakin ketakutan. Semampunya ia merangkak naik menjauhi Sultan yang wajahnya sudah memerah seakan siap meledak.

"Apakah aku menyakitimu, hah?!"

Hanna pun terlonjak. Dengan tiba-tiba Sultan menarik tangannya bangkit dan plaak! Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Monster jahat itu kembali menguasai Sultan, dia menyerang jiwa Hanna yang rapuh. Menyakitinya lagi bertubi-tubi hingga sebuah suara menyadarkannya ke dunia sekitar.

"Tuan, nona Arimbi sedang sakit." Ratih bergegas menghampiri Hanna yang terperosok di lantai dan membantunya.

"Beritahu padanya aku bukan monster yang harus ditakuti." Sultan menunjuk Hanna yang sudah terisak, "dan kamu katakan padanya aku ini suaminya."

Ratih hanya mengangguk, lalu menatap kepergian Sultan yang meninggalkan luka di hati Hanna. Dengan tangan gemetaran Hanna menerima segelas air yang diberikan oleh Ratih, perlahan diminumnya hingga setengah. Menyeka sudut matanya Hanna bersandar lelah pada dipan, menatap penuh antisipasi ke arah pintu. Takut sosok mengerikan itu datang lagi menyerang tiba-tiba.

"Nona, apa ada yang ingin kamu tanyakan?" Ratih menarik perhatian Hanna yang sedang melamun.

Tentu saja Hanna mengangguk. Sejak awal memang kesempatan ini yang paling Hanna nantikan. Bertanya banyak hal mengenai sosok Arimbi pada orang yang benar-benar sedia.

Ingatan Hanna langsung tertuju pada hari pertama kedatangannya, melihat Ratih yang sedang mengejar seorang wanita. "Nyonya Arimbi, waktu itu kamu memanggilnya dengan nama itu."

"Nyonya Arimbi?" tanyanya bingung.

"Iya, kamu mengejar dan memanggil wanita itu Nyonya Arimbi. Sekarang aku ingin bertanya, siapa sebenarnya Arimbi?" Hanna menatap penasaran.

"Apakah kamu bertanya mengenai dirimu sendiri, Nona?" Ratih malah balik tanya, Hanna pun tercegang.

Menggeleng pelang Hanna memijat pelipisnya yang mendadak pusing, dan dia berkata. "Kalian memanggilku dengan sebutan Nona Arimbi, dan memanggilnya Nyonya Arimbi. Kupikir itu adalah orang yang berbeda."

"Jangan membuat dirimu berpikir hal yang mengada-ada. Tidak ada Arimbi selain dirimu di sini. Bersikap wajarlah untuk kehidupan yang normal. Nona hanya belum bisa menerima dan terbiasa dengan segala aturan Tuan Sultan. Dengarkan apa saja yang diinginkannya, jangan takut padanya, dan patuhi semua perintahnya. Maka, hidupmu akan berjalan sempurna."

"Tapi, aku bukan Arimbi."

"Hanya sebuah nama, itu tidak akan merugikanmu," katanya penuh arti.

Akan tetapi Hanna tidak menerimanya begitu saja, karena dia merasa Sultan sedang memanfaatkan dirinya tanpa penjelasan yang jelas. Itu pelanggaran.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Arimbi

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED