Pukul sembilan malam, Rumah Hari Hutomo sudah nampak sepi. Hanya satu lampu kamar yang masih menyala terang.
Nampak seseorang memakai korset dengan lincah. Umumnya wanita sedikit kesulitan saat memakai korset. Tetapi tidak bagi seseorang yang sedang memakai korset itu.
Korset yang di pakainya sedikit berbeda dengan yang biasa terpajang di toko pakaian dalam. Pada bagian bawah korset, ada sebuah kain tambahan yang di kaitkan pada bagian belakang tubuh yang melewati celah kedua paha.
Selesai memakai korset kemudian memakai kaos oblong berwarna hitam dan celana jeans.
Kemudian mengambil sebuah ransel diatas tempat tidurnya. Memasukkan sepatu hak tinggi, rambut palsu, rok mini, atasan terbuka berwarna hitam, tas wanita, dompet, dua bungkus rokok, lipstik dan parfum.
"Oh ya, ponsel dan kunci belum. Ah itu dia," ucapnya, lalu meraih benda pipih itu dan sebuah kunci mobil.
Seseorang itu kembali memeriksa barang bawaannya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dirinya segera memakai masker dan sepatu kets. Kemudian mengendap-endap menuju pintu utama rumahnya lalu segera keluar dan menuju mobilnya.
Setelah menghidupkan mesin mobilnya, seorang petugas keamanan rumah itu segera membuka pagar. Mobil pun segera berlalu meninggalkan rumah itu.
Lima belas menit kemudian, mobil itu memasuki area parkir sebuah diskotik ternama di kota itu. Nampak seseorang sedang mengganti pakaiannya di dalam mobil. Setelah selesai keluar dari mobilnya kemudian menekan tombol pengunci pada kunci.
Nampak seorang berpakaian rok mini dan atasan sangat terbuka berwarna hitam. Memakai sepatu hak tinggi berwarna merah dan mengenakan sebuah tas kecil berwarna senada dengan sepatunya.
Kini, wanita itu sudah sampai di area pub. Terdengar suara musik yang memekakkan telinga.
Wanita itu duduk dengan anggun, memesan segelas minuman lalu mulai menyulut api rokoknya.
Tak membutuhkan waktu lama, nampak seorang pria berbadan tambun menghampirinya.
"Halo baby, lama sekali. Aku sampai bosan menunggu," ujar lelaki bertubuh tambun sambil memeluk pinggang wanita itu.
"Masa menunggu sebentar saja mengeluh. Memangnya sudah menunggu berapa lama Sayang?" tanya wanita itu.
Kemudian lelaki itu menjawab bahwa dirinya sudah menunggu selama lima menit. Wanita itu pun mencubit gemas perut buncit lelaki itu.
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah menikmati musik yang memekakkan telinga itu.
Mereka berpelukan dengan sangat mesra. Sesekali wanita itu menggoyangkan tubuhnya erotis, memancing gairah jantan seorang lelaki.
Satu jam setelahnya mereka berdua keluar dari tempat itu. Mereka menuju parkiran yang terhubung dengan pintu belakang sebuah hotel yang memang satu bangunan dengan diskotik itu.
Sesampainya di kamar, mereka berdua nampak mabuk. Lelaki tambun itu mulai menggerayangi tubuh wanita itu, lalu mencium dengan rakus.
Wanita itu mendorong tubuh lelaki itu dengan gerakan manja dan menggemaskan. Kemudian meminta lelaki itu untuk tetap di tempat tidur, lalu mengambil sebotol air mineral di atas meja di depan tempat tidur.
Tanpa di sadari, wanita itu memasukkan sesuatu kedalam air mineral itu mengguncangnya beberapa kali. Lalu menyerahkan kepada lelaki itu.
Lelaki itupun menerima air yang di berikan wanita itu, lalu menarik tubuh sang wanita ke dalam pelukannya. Wanita itupun mulai menggeliatkan tubuhnya, memancing gairah.
"Baby, uang jajan sudah di transfer. Mari kita bersenang-senang," ucapnya sambil mengigit kecil telinga wanita itu.
Tiba-tiba saja lelaki tambun itu ambruk, tertidur tepatnya. Wanita itu melucuti seluruh pakaian lelaki tambun itu lalu menyerakkannya di lantai. Seolah-olah sudah terjadi pergumulan panas.
Dua jam berlalu, wanita itu bangun dari tidurnya lalu mengguncang pelan bahu lelaki itu.
Lelaki tambun itu tidak merespon dan nampak masih terlelap. Wanita itu menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya.
"Waduh gawat. Sudah jam setengah empat subuh," ucapnya.
Bergegas dirinya memakai sepatunya dan tergesa-gesa menuju lift yang menuju ke area parkir itu.
Sesampainya dimobil, wanita itu memakai kembali pakaian yang sempat di tanggalkannya. Lalu menghapus lipstik dari bibirnya, mencopot bulu mata dan rambut palsunya kemudian menyusunnya di dalam tas ranselnya.
Di pastikan semua sudah rapi, wanita itu melajukan mobilnya. Menuju sebuah rumah yang nampak mewah itu.
Kembali seorang petugas membuka pintu pagar. Mobil itu berhenti sejenak, orang di balik kemudi memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribu, kepada petugas keamanan rumahnya itu.
Dengan mengendap-endap, kembali menuju kamarnya. Tas ransel itu di sembunyikan di salah satu lemari dan menguncinya.
Kemudian menuju kamar mandi, membersihkan semua riasan diwajahnya. Hingga yang tersisa hanyalah seraut wajah tampan dengan kumis tipis menghias bibirnya yang sedikit tebal itu.
Lelaki itu mengganti pakaian dalamnya dengan pakaian layaknya lelaki. Lalu menyimpan korsetnya ke dalam lemari di mana ranselnya berada dan menguncinya kembali.
Dirinya kini memandang sekeliling kamarnya. Memastikan tidak ada yang tertinggal serta nampak mencurigakan. Setelah merasa aman, kemudian mematikan lampu lalu merebahkan tubuhnya yang lelah itu dan terlelap.
Terdengar suara pintu diketuk. Tidak ada jawaban, pintu kamar pun di buka perlahan. Nampak seorang wanita cantik berusia paruh baya masuk ke dalam kamar.
"Anak ini, sudah jam segini belum bangun juga. Mungkin dia termasuk bangun jam segitu kali ya," gumamnya.
Wanita itu pun mulai memandang berkeliling. Kamar itu nampak rapi dan bersih.
Beberapa pigura terpajang rapi. Kursi dan meja kecil di sudut ruangan pun nampak apik.
Tidak ada pakaian yang terletak sembarangan. Kaos oblong menggantung, bahkan handuk yang dilempar di sembarang tempat.
Seorang pelayan pun datang dari arah belakang wanita cantik yang penampilan elegan itu.
"Maaf Nyonya, Tuan sudah menunggu di meja makan," ujar wanita itu.
Wanita itu pun mengangguk pelan. Kemudian meminta pelayan itu untuk membangunkan anak lelakinya itu.
Wanita cantik itu pun keluar kamar. Pelayan wanita itu pun membangunkan majikannya itu dengan hati-hati.
Tak lama, tubuh lelaki itu menggeliat. Mengerjapkan matanya, lalu bangkit menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Tiga puluh menit kemudian, lelaki itu pun keluar kamar. Lalu berjalan menapaki anak tangga menuju lantai satu.
"Selamat pagi Ma, Pa," ucapnya riang.
Seorang lelaki berumur lima puluh tahun pun meliriknya, tidak menjawab sepatah katapun.
"Nyenyak sekali tidur mu Nak. Mama sampai tidak tega membangunkan. Kamu nampak lelah, padahal tidak melakukan aktivitas yang berat. Apa kamu sakit?" tanya wanita itu.
Handoko hanya menggelengkan kepala, lalu menjawab pertanyaan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Handoko baik-baik saja Ma, tenang saja," ujarnya menenangkan ibunya itu.
"Han, kakakmu Julia akan kembali dari luar negeri besok. Apakah kamu udah memikirkan tawaran Papa?" tanya Hari Hutomo, ayah Handoko.
"Han akan pikirkan Pa. Beri waktu tiga bulan, agar bisa memikirkan cara menyesuaikan diri," jawab Handoko.
Waktu sarapan pun usai. Handoko mengantar kedua orang tuanya sampai ke depan pintu. Tak lama, mobil yang dikendarai mereka pun menghilang dari pandangan.
Hari Utomo dan Willa Sartika adalah dewan direksi. Pemilik sebuah perusahaan yang bernama Boulevard. Mereka adalah sepasang suami istri yang disiplin serta pekerja keras.
Perusahaan yang memiliki nama besar. Yang berkembang dan memiliki banyak cabang itu adalah bukti kerja keras mereka. Mereka berdua bahu membahu merintis perusahaan itu dari nol.
Mereka memiliki dua orang anak. Yang pertama adalah Julia Utomo dan si bungsu mereka adalah Handoko Utomo.
"Bi Surti, gimana? Aman pakaianku? Apa Mama mulai curiga?" tanya Handoko kepada pelayannya itu.
"Aman, Den. Nyonya sepertinya sedikit mulai curiga. Apakah aden lupa kalau Nyonya itu cerdas?" jawab Bi Surti.
"Apa yang membuat Mama mulai curiga kepadamu?" tanya seorang wanita.
Suara itu, datang dari arah belakang mereka.
Handoko dan Bi Surti pun melihat ke arah sumber suara itu. "Kakak? Kata Papa besok baru datang," ujar Handoko, sambil memeluk kakaknya itu.
"Kejutan," ujar Julia. Kemudian mengajak adiknya untuk duduk di tempat tidur.
Bi Surti pun keluar, lalu tak lama, sudah membawa segelas air putih untuk Julia.
"Kamu masih belum berubah Dek?" tanya Julia.
Handoko hanya diam, lalu merebahkan dirinya. Kepalanya di letakkan di paha kakaknya itu.
"Hentikan obsesimu mengagumi Mama berlebihan adikku sayang. Kau tahu, di luar sana pasti ada yang seperti Mama. Yang layak untuk kau cintai," ujar Julia, sambil mengelus kepala adiknya itu.
"Apa ... Ada gadis yang seperti Mama kak?" tanya Handoko.
Julia terkekeh mendapat pertanyaan dari adik bungsunya itu.
"Sama persis mungkin tidak. Tetapi sikap, sifat, gerak tubuh, hobi, selera makan, kasih sayang, cinta, mungkin seperti Mama," kata Julia.
Julia sudah sangat lama menyadari kelainan kepada adiknya itu. Cara berjalan, dan gaya bicaranya seperti perempuan. Namun, alat kelaminnya tumbuh normal. Julia pernah memeriksakan fisik adiknya itu secara menyeluruh.
Alasan itulah, yang membuat Julia belajar dengan keras agar bisa menjadi dokter. Agar bisa membantu adiknya itu kembali kepada takdir yang seharusnya.
Sering ibu mereka memergoki Handoko yang gemulai itu. Namun Julia menutupinya, dengan alasan sedang meniru seseorang di sekolahnya.
Julia selalu membantu mengingatkan Handoko. Jika adiknya mulai terlihat gemulai, maka, Julia akan memberi kode. Entah dengan mendehem, batuk, atau menjatuhkan sesuatu.
Julia bahkan memaksa Handoko untuk kuliah di kampus yang sama dengannya. Tentu saja tujuannya agar menyelamatkan nya dari perundungan.
"Kak, apa aku masih bisa kembali normal?" tanya Handoko.
Julia tersenyum. Dirinya sudah meneliti hingga jauh ke luar negeri demi adiknya itu.
"Tentu bisa. Kamu ga tertarik berhubungan dengan lelaki kan?" tanya Julia.
"Dih enggak lah. Ini si Otong masih waras Kak, enak aja," jawab Handoko.
Mereka bertiga pun terkekeh. Bi Surti memang tidak keluar kamar karena Julia memang memintanya demikian.
"Udah berapa banyak lelaki mesum yang kamu "peras" dek?" tanya Julia.
Handoko pun menunjukkan saldo rekeningnya dengan bangga. Julia terbelalak membaca saldo itu. Ternyata banyak sekali.
"Kak, beristirahatlah dulu. Nanti sore kita ke salon ya. Ini aku mau cek laporan keuangan perusahaan dulu," ujar Handoko.
Julia pun mengangguk setuju. Kemudian keluar kamar adiknya itu. Bi Surti pun mengambil tas ransel milik Handoko dan membawanya ke dalam kamar Julia. Memang seperti itu kesepakatan antara kakak beradik itu.
Sesampainya di kamar, Julia langsung merebahkan dirinya. Lalu terlelap karena lelah perjalanan yang memakan waktu belasan jam itu.
Bi Surti pun keluar dari kamar dan menutup pintu dengan perlahan. Nampak tiga buah koper berukuran besar sudah berjejer di depan kamar Julia.
Bi Surti tidak memasukkan koper-koper itu ke dalam kamar Julia karena takut menganggu tidurnya. Wanita berusia lima puluh tujuh tahun itupun kembali menuju dapur dan mulai memasak.
Karena Julia sudah pulang, maka Bi Surti memasak makanan kesukaan Julia. Dibantu oleh juru masak yang lain.
Bi Surti adalah pengasuh handoko dari bayi. Wanita itu menyayangi Handoko karena dirinya mendambakan seorang anak lelaki.
Wanita itu diceraikan oleh suaminya dengan alasan, tidak bisa melahirkan anak lelaki. Padahal, penentu jenis kelamin bayi, ada pada gen yang disumbangkan oleh suami.
Minimnya edukasi tentang hal itu, maka membuat banyak rumah tangga yang menjadi rusak. Bi Surti memiliki dua orang anak perempuan, kini kedua anaknya sudah menikah dan memiliki kehidupan yang sangat layak. Wanita itu tetap memilih bekerja, untuk mengisi hari tuanya.
Pukul satu siang, makanan sudah tertata rapi dan terhidang di meja makan. Terdengar suara kendaraan roda empat berhenti kemudian terdengar suara derap langkah yang menuju meja makan.
"Selamat siang Tuan, Nyonya," sapa Bi Surti.
"Siang Bi. Handoko masih tidur?" tanya Willa Sartika.
Bi Surti pun menjawab jika Handoko sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan di kamarnya.
Hari Hutomo meminta Bi Surti untuk memanggil Handoko untuk makan siang bersama.
Bi Surti pun menuju kamar Handoko. Wanita itu mengetuk pintu kamar Handoko. Tak lama pintu kamar pun terbuka. Lalu mengatakan jika orang tuanya sudah menunggu di meja makan. Kemudian dirinya menuju kamar Julia, dan mengatakan hal yang sama.
Julia pun menuju kamar mandi. Membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, lalu menuju meja makan.
Denting sendok yang beradu dengan piring pun terdengar. Willa dan Hari tidak menyadari jika Julia berjalan menuju arah mereka. Mereka menikmati makanan di piringnya masing-masing tanpa berbicara satu sama lain.
"Apakah kalian tidak mengajakku makan siang?" tanya Julia.
Willa menoleh, kemudian meletakkan sendoknya dan berdiri. Julia setengah berlari menuju arah ibunya lalu memeluknya.
Hari tak kalah senang melihat anak sulungnya itu. Hari sangat menyayangi Julia, hampir semua permintaannya akan dituruti.
"My princess ... Sayangnya Papa," ujar Hari.
Julia pun memeluk ayahnya itu, kemudian bergelayut di lehernya. Layaknya seorang anak kecil yang manja.
"Katanya besok pulangnya. Taunya udah nongol aja. Bagaimana kabarmu?" ujar Willa.
Julia pun menjawab jika dirinya baik-baik saja. Tak lupa menjelaskan, bahwa dirinya memang sengaja mempercepat kepulangannya satu hari. Ingin memberi kejutan kepada mereka semua.
Mereka kembali melanjutkan makan siang yang tertunda.
Hari dan Willa masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Sementara Julia menuju kamar Handoko, adiknya.
"Masih sibuk periksa laporan keuangan?" tanya Julia.
Nampak Handoko sedang serius menatap layar laptopnya.
"Iya Kak. Papa mulai mendesak agar aku menggantikannya," jawab Handoko, tanpa menoleh.
Julia pun mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menemani adiknya itu ke salon. Karena akan menemui Adrian, kekasihnya.
"Ga papa kak. Aku juga ga bisa ke salon. Kerjaan dari Papa masih numpuk nih," ujar Handoko.
"Ya sudah. Kalau begitu kakak pergi dulu ya. Kalau Mama mencariku, katakan bahwa aku di cafe Adrian," pesan Julia, sambil keluar kamar adiknya itu.
Julia kembali ke kamarnya. Memasukkan tiga buah koper yang berada di luar kamarnya. Kemudian memanggil Bi Surti untuk membantunya menyusun pakaian di lemari.
Selagi Bi Surti menyusun bajunya, Julia pun memilih beberapa baju untuk dipakai saat keluar nanti. Bi Surti bercerita jika kini Handoko lebih sering keluar malam.
"Aku juga mau bahas tentang ini sama Adrian Bi. Keluarganya sudah mendesak kami untuk menikah, sementara aku belum berhasil menyembuhkan adikku," ujar Julia sedih.
"Nona jangan sedih begitu. Den Handoko bisa sembuh, jika dirinya mau. Yang di alami Aden sekarang bukanlah penyakit. Namun hawa nafsu dari hatinya sendiri," kata Bi Surti.
Julia pun mengangguk. Memang, perilaku adiknya itu adalah ke inginan hatinya bukan karena menyukai sesama jenis tetapi lebih menyukai gaya dan pakaian perempuan saja.
Julia pun sudah selesai bersiap. Gadis cantik itu berpesan kepada Bi Surti, jika kedua orangtua mencarinya, katakan jika dirinya berada di cafe milik Adrian.
Gadis cantik itu pun mengambil kunci mobil, lalu melajukan nya menuju cafe Adrian.
Dua belas menit kemudian, Julia sampai di cafe milik Adrian itu.
"Julia, kapan kamu sampai?" sapa seseorang.
Julia menoleh mencari orang yang menyapanya. Nampak tak jauh darinya ada seorang wanita berjalan menuju arahnya.
"Meliana, apa kabar? Aku tiba tadi pagi," jawab Julia. Kedua wanita itupun saling peluk, melepas rindu.
Julia mengajak Melia Darwin, sahabatnya itu untuk duduk di sudut cafe milik kekasihnya itu.
"Gimana perkembangan studi kamu?" tanya Meliana.
Julia pun menarik nafasnya, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Tidak ada obat untuk itu Mel. Paling therapi dan hormon saja," ujar Julia.
Meliana pun mengelus punggung tangan sahabatnya itu.
"Kalau therapist, kamu bisa membawanya ke klinik ku. Aku punya ... " Meliana belum usai dengan kalimatnya, terdengar suara cempreng melengking memanggil dirinya.
"Kakak!" seru suara gadis dengan suara khas yang dikenal Meliana.
Nampak gadis itu memakai kaos oblong yang lusuh, celana jeans belel dan ransel hitam yang tak kalah lusuh dengan kaosnya itu. Hanya sepatu kets yang nampak mahal itu menyelamatkan penampilannya.
Kecantikan gadis itu tidak pudar dengan cara pakaiannya itu.
Diandra Darwin. Itu lah nama gadis yang berpenampilan sedikit ajaib itu. Diandra adalah adik Meliana.
"Kamu itu ya. Bisa ga sih berpenampilan normal layaknya gadis muda lainnya?" omel Meliana kepada adiknya itu.
Diandra hanya tertawa layaknya seorang lelaki. Tidak ada kesan anggun sama sekali. Kemudian menghempaskan tas ranselnya dan duduk di depan Julia.
Plak.
Meliana memukul bahu adiknya itu. Kesal sekali dengan tingkah lakunya yang seperti lelaki, tidak mau tampil anggun.
"Diandra Darwin! Kamu bisa santai ga sih? Gradak geruduk kaya maling jemuran tau ga!" ucap Meliana geram sambil membelalakkan matanya.
"Jangan sering melotot gitu kak. Nanti matanya bisa pindah loh," ujar Diandra santai, sambil mencomot Red Velvet milik Meliana.
Julia pun hanya menonton kakak beradik itu ribut beradu mulut. Terlintas sebuah ide di dalam pikirannya.
"Kak, minta duit. Mau beli mie ayam di warung seberang sana. Ga banyak aturan kalau di sana," ujar Diandra, sambil menyodorkan tangannya yang kosong itu.
Meliana pun memutar bola matanya kesal. Lalu membuka tasnya, mengambil dompet lalu menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu kepada Diandra.
"Selesai makan kamu balik lagi kesini. Kita pulang sama-sama, paham kamu?" ujar Meliana.
Gadis itu mengambil uang dari tangan kakaknya itu. Kemudian berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Mel. Aku ada ide cemerlang," ujar Julia berbinar.
Meliana mengernyitkan keningnya. Menunggu Julia mengungkapkan idenya.
"Bagaimana ... kalau kita jodohkan saja Handoko dengan adikmu itu. Sifat mereka berbanding terbalik. Siapa tau mereka malah akan saling mengisi dan sikap mereka bisa tertukar karena sering bersama," ujar Julia.
"Apa kamu yakin dengan ide mu ini?" tanya Meliana ragu.
Julia pun merasa yakin dengan idenya itu.
"Ayolah. Aku seorang dokter, kamu seorang dokter spesialis kejiwaan terkenal di kota ini. Kita berdua sama-sama memiliki adik yang ajaib, kenapa tidak kita gabungkan saja?" ungkap Julia.
"Betul juga. Adikku itu tidak ada lelaki yang mau. Lihatlah penampilannya saja selalu dekil, seenaknya saja," keluh Meliana.
Satu jam kemudian, nampak Diandra menuju ke arah mereka. Tak lama, muncul Adrian, kekasih Julia.
Setelah berbasa-basi sejenak, Meliana pun menyampaikan niatnya untuk menjodohkan Diandra dengan adiknya Julia.
"Gak, gak mau. Diandra ga suka!" tolak Diandra.
"Memangnya, Diandra sudah kenal adikku?" tanya Julia.
"Ya ... belum sih," ujar gadis itu santai.
Meliana yang geram dengan jawaban Diandra, mengacak-acak rambut hitam adiknya itu.
"Bahlul, ente. Belom juga kenal, udah bilang ga suka," ujar Meliana.
Mereka pun tergelak karena ulah Diandra itu.
Langit mulai gelap. Pertanda malam akan segera meraja. Meliana dan Diandra pun pamit untuk pulang ke rumah mereka.
Pukul sebelas malam, nampak seseorang mengendap-endap dari bawah jendela kamarnya. Kemudian menuju pintu gerbang. Seorang penjaga membantu membuka pintu besi yang menjulang, agar gadis itu segera berlalu.
"Jangan sampai pagi Non. Bisa kena pecat saya," ujar penjaga itu. Sementara yang di ajak bicara, hanya mengacungkan ibu jarinya saja, sambil berlari menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya itu.
"Jalan bro," ujarnya saat masuk kedalam mobil berwarna gelap itu.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah area diskotik. Tiga orang keluar dari dalam mobil itu. Kemudian menghilang, masuk ke dalam diskotik.
Terdengar dentuman suara musik yang memekakkan telinga. Namun indah bagi para penikmat musik berjenis house itu.
Ketiganya memilih duduk di sofa. Tepat di tengah. Sehingga bisa menikmati tarian para wanita, dan menggoyangkan tubuh mereka kalau sudah mulai mabuk.
"Ra, seperti biasa. Kamu jaga tas kami ya. Nih upahnya satu juta," ujar Rendi. Diandra pun mengambil uang itu. Kemudian mengambil tas, dan menghilangkan di dadanya.
Tepat pukul dua belas malam, para penari berpakaian minim mulai menaiki panggung. Penampilan di awali dengan tarian pole dance. Namun, di tempat ini hanya memadukan tari dan akrobat saja.
Diandra merasa kantung kemihnya penuh. Gadis itu pun berjalan menuju toilet. Setelah berdesakan dengan para kaum hawa yang menikmati tarian, akhirnya sampailah di toilet.
Toilet itu nampak bersih, rapi dan sedikit sepi. Diandra pun bergegas menunaikan panggilan alam itu. Setelah selesai, gadis itu pun mencuci dan mengeringkan tangannya dengan tisu yang telah di sediakan.
Bruuuuk.
Diandra menabrak seseorang. Tubuhnya yang mungil dan membawa tiga buah tas itu pun hampir terjengkang . Beruntung, ada tubuh yang menahannya dari belakang.
"Terima kasih, atas ..." Diandra menghentikan ucapannya saat menatap seseorang di depannya.
"Looooh, kamu ... Domo kan? Widiiih, cosplay jadi apa nih? Cakep bener," ujar Diandra sok akrab, sambil menepuk bahu seseorang yang jauh lebih tinggi darinya itu.
"Domo itu siapa ya? Maaf, sepertinya anda salah orang. Permisi," ujar wanita itu, kemudian beranjak pergi, meninggalkan Diandra.
Gadis itu tak percaya jika dirinya salah mengenali lelaki, bukan, wanita yang di panggil nya sebagai Domo itu. Hingga mengejar keluar dari wilayah toilet. Suara bising musik kembali terdengar.
"Hei, tunggu," ujar Diandra, berusaha mengejar orang yang di kenalnya itu. Namun sayangnya, lantai licin karena sepatu kets nya yang menginjak air di toilet tadi. Tubuh Diandra pun mendarat dengan sukses di lantai.
Seorang lelaki membantunya bangun. "Lain kali hati-hati ya cantik," ujar lelaki itu.
Diandra nampak sibuk memungut tas yang terlepas dari dadanya itu. Lelaki itu membantu mengambil tas yang terlempar untuknya.
"Namaku Leofrand," ujarnya setengah berteriak, di telinga Diandra.
"Oh, makasih deodoran. Namaku Diandra," kata Dgadis itu acuh.
'Hah? Deodoran? Budeg ni anak,' batin Leo.
Lelaki berkulit putih dan tampan, dengan perpaduan wajah oriental dan lokal itu pun menarik Diandra menuju mejanya berada.
"Kamu sama siapa? Kok berani amat sendirian?" Tanya Leofrand. Kali ini lelaki itu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Diandra, supaya tidak salah mendengar.
"Aku sama si Rendi dan Brandon, tuh mereka di tengah," jawab Diandra, sambil menunjuk kedua temannya.
Lelaki muda itu pun mengangguk. Entah mengapa, ada perasaan menghangat di hatinya. Namun Leo menepis itu semua, dirinya merasa itu adalah pengaruh alkohol dari dalam tubuhnya.
Diandra pun pamit untuk kembali menuju sofa, di mana teman-temannya berada. Leo mengatakan akan mengantarkannya.
"Aduuuh, hati-hati kalau jalan. Kaki aku terinjak," seru seseorang, yang dikenal Diandra sebagai Domo.
"Wooooh, gitu aja pake ngeluh kamu Domo. Biasanya juga jatuh dari sepeda kamu malah ketawa," ujar Diandra sambil menepuk dada wanita itu.
"Hei, singkirkan tangan kotor mu dari bidadariku ini!" bentak seorang pria kekar kepada Diandra.
"Jaga ucapan anda Tuan. Tangan ini sudah ku cuci tadi di toilet, nih cium kalau ga percaya," ujar Diandra sambil menyodorkan tangannya ke arah hidung lelaki itu.
Leofrand pun menarik tangan Diandra dan membawanya ke sofa di mana teman-temannya sudah menunggu.
"Maaf, apakah teman saya ini mengganggu anda?" Tanya Rendi.
Leofrand pun menjawab, jika dirinya hanya mengantarkan Diandra menuju mejanya saja. Khawatir akan di goda oleh lelaki hidung belang.
"Baik. Terima kasih Tuan. Sebentar, saya akan menuliskan sebuah nomor ponsel," ujar Rendi. Kemudian dirinya menuliskan nomor ponsel Diandra di kertas, lalu menyerahkannya kepada Leofrand.
Lelaki itu pun menerimanya, kemudian, meninggalkan mereka bertiga.
"Kamu ngasih nomer ponsel siapa, Ren?" tanya Diandra.