[Samantha]
The pain started years ago, but I’d lived with it for so long at that point, I’d accepted it as an inevitable part of me – Ashley D. Wallis
Aku sudah benar-benar muak dengan rasa sakit yang kurasakan bertubi-tubi menghajar tubuhku. Lagi-lagi aku harus kembali ke rumah sakit yang sama, menemui dokter yang sama, karena penyakit yang sama pula. Beberapa minggu yang lalu, aku baru saja menyelesaikan operasi pengangkatan tumor yang berada di dalam rahimku, dan sekarang aku kembali lagi ke rumah sakit, karena ternyata masih ada sakit yang teramat sangat pada awalnya kupikir disebabkan oleh tumor tersebut, tak juga kunjung berkurang hingga hari ini. Tak ada yang berubah, rasa sakit itu masih juga sama, apa harus kulakukan?
Menunggu di ruang tunggu, sendirian, adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Aku datang terlalu awal hari ini, aku benar-benar lupa jika Dokter Yansen—dokter bedah yang menangani kedua penyakitku—memulai prakteknya pada pukul enam sore, dan aku datang pukul tiga siang, dengan relanya meninggalkan pekerjaan yang belum selesai di kantor.
Handphoneku berbunyi, sebuah pesan masuk dari seseorang yang kukenal membuatku tersenyum, lagi-lagi Andre menggodaku dengan mengirim stiker-stiker aneh.
‘Hey, I’m not in the mood.’ Aku membalas dengan beberapa kata.
‘Hehehe … lagi apa, Non?’
‘Lagi di rumah sakit, cek up.’
Aku tak lagi membalas, meski Andre masih mengirimkan pesan kepadaku. Aku sedang malas, saat ini aku tak ingin bertemu atau berbicara dengan siapapun, yang berada di pikiranku saat ini hanya hasil dari laboratorium yang sebentar lagi harus kuserahkan pada dokter dan dia akan membacakannya. Apapun itu aku siap, aku sudah tak peduli lagi apa yang akan terjadi pada diriku, tak ada lagi kehidupan yang kuinginkan saat ini, aku hanya terdiam dan larut dalam pikiranku, aku sudah lelah, sangat lelah.
Pernikahanku batal bulan Januari yang lalu, John—tunanganku seorang lelaki yang sangat naif—membatalkannya sepihak tanpa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya John lelaki yang cukup baik, tapi ... entah kenapa aku malah sedikit bersyukur karena pernikahan itu pada akhirnya batal—meski tak sepenuhnya batal tetapi mengalami penundaan sementara untuk alasan yang tak pernah dijelaskan olehnya, aku tak ambil pusing. Setelah pembatalan itu, aku memutuskan untuk melakukan operasi, John juga mendukungku.
Sewaktu aku operasi pengangkatan tumor, dia datang menemaniku, tapi hal itu tak akan pernah mampu bagiku, untuknya menebus kesalahan yang sudah membuatku jengkel padanya. Meski sebenarnya aku tak begitu menginginkan adanya pernikahan, tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk membangun sebuah keluarga. Semua kulakukan untuk Papa, ya, untuk laki-laki tua yang selalu menganggapku sebagai gadis kecilnya. Bagi Papa, selamanya aku adalah gadis kecil manis dan mungil seperti dulu, kadang rasa khawatirnya yang berlebih membuatku merasa kasihan, jika dia harus kehilanganku. Papa ingin aku menikah, dan memiliki anak sebelum terjadi sesuatu padanya, jadi aku mengabulkannya.
Tak ada yang spesial dengan awal perkenalanku dengan John. Aku dan John berkenalan di rumah sakit ini awal tahun lalu, saat itu dia sedang melakukan test darah, dan aku sedang melakukan konsultasi dengan dokter yang menanganiku. John mengajakku berbicara di ruang tunggu, membunuh rasa jenuh pada diri masing-masing, kemudian berakhir dengan dia meminta nomor teleponku, aku memberikan nomorku, semenjak itu dia rajin menghubungiku. Hubungan kami pun berlanjut, padahal saat itu aku pun sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang berada di satu lingkungan kerja—aku akan menceritakannya nanti. Dengar ... aku tak berniat memainkan hubungan atau perasaan siapapun, tetapi ... aku juga tak bisa menolaknya. Ada sesuatu yang kucari dari kedua hubungan yang saat itu kujalani dengan keduanya, aku ingin mencari kembali sebuah rasa yang mungkin sudah terlupakan olehku. John, laki-laki yang cukup menarik, sekilas aku merasa dia sedikit mirip dengan Rio Dewanto, suami dari Atiqah Hasiholan. Aku senang melihat cara John tersenyum ketika dia menggodaku. Meski aku dan John sudah hampir menikah, aku dan dia tak pernah melakukan hal itu, sex before marriage. Entahlah, aku tak pernah meminta, demikian dengan John. Lagipula, aku sendiri masih ragu dengan hubunganku dengannya. Pernikahan seperti sebuah momok menakutkan yang seolah bisa membunuhku kapan saja, itu sangat kurasakan membesar dari hari ke hari, aku tak belum siap dengan namanya sebuah komitmen seumur hidup! Padahal usiaku sudah menginjak kepala tiga, lewat sedikit. Tapi aku memiliki alasan di balik semua ketidaksiapanku.
*
Ruang tunggu rumah sakit masih saja dipadati pengunjung yang ingin segera mengetahui beban yang berada di dalam tubuh mereka, apakah berbahaya atau tidak, sama halnya dengan diriku, yang masih harus menunggu sekitar lima belas menit lagi.
Bau rumah sakit yang tak pernah ramah terhadap indera penciumanku membuatku sedikit merasa risih, ingin rasanya kedua kakiku melangkah pergi tanpa harus berkonsultasi lebih jauh mengenai apa yang sekarang ini bersarang pada tubuhku.
Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi, notifikasi pesan dari BBM muncul di layar teratas handphone milikku. Sebuah pesan dari seseorang yang kukenal, Andre.
‘Hey, where are you now, Dear?’
‘At the hospital, ada apa, Ndre?’
‘Well, see you soon in few hours.’
‘I’ll wait for your coming.’
Hanya itu beberapa pesan singkat yang dikirimkannya. Aku belum pernah melihat secara langsung wajah lelaki bernama Andre, seorang penulis jenius dan pintar yang selalu dipuji oleh para senior-senior di group. Aku tak ambil pusing, aku hanya ingin melihat seperti apa sosoknya, apa betul dia benar-benar seorang manusia? Leave it, aku hanya bercanda, sudah pasti dia manusia.
Kenapa dokter yang biasa menanganiku begitu lama sih, sebenarnya pasien dengan penyakit seperti seperti apa yang sedang ditanganinya sekarang, sudah lebih 15 menit dari yang seharusnya. Tak henti-hentinya aku menatap jarum jam yang bergerak semakin lambat di pergelangan tanganku. Tuhan, aku masih ada janji lain sehabis ini, apakah aku masih harus berlama-lama duduk di ruang tunggu, meski ruangan ini memakai AC tapi bukan berarti aku merasa kerasan jika harus berlama-lama berada di dalamnya. I admit that, I need a treatment, tapi mengapa begini lama? Hal yang paling tak kusukai adalah; menunggu.
Satu per satu pasien yang semula ada bersamaku di ruang tunggu yang sama mulai berkurang, hingga pada akhirnya menyisakan aku duduk menahan jengkel dengan gadget berada di tangan—aku bermain game menghilangkan rasa jenuh.
“Samantha Lee!” sebuah suara cukup lantang memanggil nama lengkapku, membuatku langsung berdiri, meraih tas tangan yang kuletakkan di bangku kosong tepat di sampingku. Aku benar-benar sudah jenuh.
*
“Jadi?” kedua mataku menatap Dokter Yansen, dokter muda yang berparas tampan, dengan tubuh gagah, berkulit putih, wajahnya yang oriental, tak pernah sebelumnya terbayang olehku ada dokter bedah setampan dirinya, dia berdiri di hadapanku setelah memeriksa tensi darah.
“Sam, kau yakin masih sanggup menahannya?” tanyanya dengan suara khas; berat dan serak-serak basah, namun terdengar seksi di telingaku, sekilas seperti suara Ed Sheeran—lupakan saja, aku sedikit ngawur.
“Dok, tak perlu basa basi, nanti akan basi betulan, cukup katakan saja berapa lama lagi? Aku tahu apa yang aku hadapi sekarang,” jawabku agak ketus, pria tampan di hadapanku hanya tersenyum semringah, memerlihatkan deretan gigi putih bak mutiara yang berbaris sedemikian rapi, sembari memegang amplop berisi hasil lab yang seharusnya dibacakan secepatnya. Sial memang, membuatku tak fokus!
“Samantha, yang satu itu dapat membuat—“
“Cukup Dok, apapun itu, aku yang merasakannya, aku yang menanggungnya, aku belum siap untuk operasi.”
“Tunggu dulu, jangan main memotong kalimatku begitu saja, meski kautahu apa yang akan kukatakan. Kau masih sanggup menahan rasa sakit untuk yang satu ini? Kau masih mampu bergelut dengan rasa nyeri yang membuatmu berada di neraka? Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu, apa yang kau mau sebenarnya?”
“Yang aku mau? Jika bisa … aku tak ingin diapa-apakan sama sekali. Aku sudah tak punya kehidupan, itu adalah jawaban di luar akal sehatku, Dokter. Cukup jawab saja sekarang, jika aku menolak dioperasi, berapa lama aku bisa bertahan?”
“Aku tidak bisa memastikannya, penyakitmu dapat membuatmu kehilangan kesadaran sewaktu-waktu, kau tahu penyakitmu sangat berbahaya, kenapa kau mau menyiksa dirimu? Apa kau kira, kau hanya cukup dengan penahan rasa sakit yang disuntikkan ke tubuhmu setiap saat? Kau tak ingin memperpanjang waktumu?”
“Dokter, hidup ini adalah milikku, meski aku hanya meminjam tubuh ini, ada saatnya aku harus mengembalikan kepada pemilik yang sah. Aku tak peduli berapa lama lagi aku sanggup bertahan, aku sudah benar-benar lelah dengan semuanya. Aku tak peduli dengan sekitarku, aku juga tak peduli berapa lama lagi aku hidup. Jangan pernah dokter memintaku untuk melakukan ini atau itu, aku kehilangan segalanya, masa lalu telah membuatku seperti ini, tak ada lagi yang bisa kuharapkan, apa yang harus kulakukan?”
Dokter Yansen menatapku, tatapannya seperti menatap orang gila yang sedang frustasi, ya, ya silakan dia beranggapan bahwa aku ini orang gila, aku benar-benar tak peduli apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat, seolah sedang menahan beban yang teramat sangat. “Semua terserah padamu, aku sebagai doktermu hanya berusaha melakukan yang terbaik untukmu.”
“Aku berterima kasih, sekarang sebutkan saja berapa lama aku bisa bertahan?”
“Kau—“
[Andre]
Don’t do anything by half. If you love someone, love them with all your soul. When you go to work, work your ass off. When you hate someone, hate them until it hurts – Henry Rollins
Kutegakkan posisi dudukku, kursi di dalam pesawat yang kutumpangi tak sedikit pun membuatku merasa nyaman. Ingatan-ingatan berkabut berputar di dalam pikiranku, segala macam kejadian yang terkadang membuatku diriku sadar, aku sepertinya mulai atau memang sudah gila? Tubuhku sudah terlalu letih, lelah, dengan semua tanggungjawab serta beban yang entah kulakukan untuk siapa, yang aku mengerti, aku hanya ingin membuktikan kepada dunia, bahwa aku sanggup, aku mampu berdiri dengan kedua kakiku tanpa harus menyandarkan diri pada sebuah pilar.
Masih satu jam lagi sisa penerbangan, aku melirik ke arah pangkuanku, enam buah kotak berisi bapkia untuk seorang perempuan yang akan kutemui tak berapa lama lagi. Seorang perempuan yang tak pernah kujumpai sebelumnya, hal yang membuatku ingin menemui dia hanya karena perasaan bersalahku, sempat mengejek status facebook yang dibuatnya mengenai kematian. Sungguh, aku tak pernah berpikir bahwa apa yang ditulisnya adalah sebuah hal yang ‘mungkin’ benar adanya, dia baru menyelesaikan sebuah operasi pengangkatan tumor, itu yang dikatakannya beberapa hari saat aku mengirim pesan bbm kepadanya. Aku … Andre, yang sebelumnya tak pernah peduli pada apapun, entah kenapa bisa merasakan perasaan seperti ini kepada perempuan yang aku tak tahu apakah keberadaannya benar adanya.
Penerbangan yang seharusnya pukul setengah delapan pagi mengalami penundaan yang sangat menjengkelkan selama satu jam, aku tak mengerti mengapa mereka menunda penerbangan begitu lama? Apa mungkin para pilot dan pramugari saling asyik bercumbu terlebih dahulu sehingga harus tertunda seperti ini? Sudahlah, malas memikirkannya.
Di sebelah kananku duduk seorang lelaki tua, di sebelah kiriku duduk seorang gadis muda dengan pakaian yang sangat minim. Terbesit di pikiranku, apa gadis di sebelahku ini tahan dengan udara dingin di dalam pesawat nantinya? Pakaiannya benar-benar membuatku mendengus sinis, bahkan lelaki tua di sampingku pun mencondongkan badannya ke depan, memalingkan wajahnya, menatap gadis itu dengan kedua alis bertaut, apakah yang ada di pikirannya sama denganku? Gadis itu cantik, rambutnya panjang berwarna merah tembaga dengan ujung ikal, wajahnya tirus, hidungnya sangat mancung, bibirnya tipis dan tajam, sepertinya aku sudah bisa membayangkan jika dia berbicara pasti sangat ketus, kedua alisnya yang tebal, sekilas gadis tersebut mengingatkan pada seorang artis wanita yang cukup terkenal, tapi aku lupa namanya. Sepertinya dia berada pada situasi serta kostum yang tidak tepat, aku yakin dia pasti akan menggigil kedinginan nantinya, apalagi bagian bawah dia hanya mengenakan hot pants.
*
Aku berusaha memejamkan kedua mataku, memerangi rasa lelah yang teramat sangat, baik di tubuh maupun di dalam pikiranku. Seperti ini yang kurasakan, terkadang rasa hampa dan kosong datang menyerang secara tiba-tiba, kemudian berganti menjadi ingatan-ingatan yang sebenarnya sangat ingin kulupakan—setidaknya berusaha untuk melupakan—tapi tak semudah yang dipikirkan orang lain, semakin aku menginginkannya enyah dari dalam otakku, semakin kuat pikiran-pikiran tersebut menyerang diriku, membuatku diriku sadar … aku tak akan mampu melawan.
Terkadang, teringat kembali bagaimana kehidupanku dulu begitu menyakitkan, membuatku merasa dunia tak pernah adil, aku benci pada dunia, yang ada hanya kebohongan, dan pengkhianatan.
Dunia memang tak pernah tanggung-tanggung dalam mengubah kehidupan seseorang, meski harus melalui proses yang benar-benar menyakitkan, juga mengorbankan segala hal yang kaupunya; kebaikan, ketulusan, juga harga diri, menjadi; tak memiliki rasa.
Dia sudah mampu mengubahku, mengubah kehidupanku.
Dia mampu membuatku lupa siapa diriku yang dulu, yang membuatku enggan mengingatnya kembali.
Dunia juga mengajariku, tak ada yang bisa kaupercaya bahkan dirimu sendiri, sekuat apapun orang lain meyakinkan bahwa mereka itu terpercaya, seolah dunia berkata, ‘dirimu lebih jujur ketimbang orang lain, mereka berusaha kembali mengubahmu, kelak kembali membuatmu terjatuh lebih sakit’.
Aku bukan siapa-siapa, bukan seorang super hero, atau seorang terkenal yang selalu muncul di setiap adegan film atau bahkan pesohor yang dipuja-puja oleh para kaum-kaum musafir dengan pikiran-pikiran serupa khayalan miliknya. Aku hanya seorang lelaki biasa yang berusaha menjawab tantangan dunia padaku, aku ingin dunia menatapku, aku bisa berdiri tegak sedemikian rupa setelah ratusan kali merasakan pahit yang tak berkesudahan, bahkan aku akan membayar dunia atas perlakuannya beserta bunga deposito lebih di dalamnya, ya, aku akan membuatnya mengakui, bahwa aku bukanlah aku yang dulu, aku sudah benar-benar berubah.
“Sebentar lagi pesawat akan lepas landas, tolong sabuk pengamannya dipakai, Pak.” Seorang wanita dengan seragam pramugarinya mendatangi tempat duduku dan menyentuh pelan lenganku, hingga membuyarkan semua isi di dalam otak.
“Ok. Maaf, saya akan pasang seat belt kembali, saya tadi melamun, jadi tidak mendengar pengumuman.”
Pramugari hanya tersenyum, kemudian kembali berjalan ke kursi di belakangku.
Sebentar lagi, ya, sebentar lagi aku sampai, aku akan kembali melanjutkan kewajibanku di tempat ini, mengejar sesuatu yang membuatku berpeluh-peluh dan menyadari bahwa bersantai sejenak adalah sebuah kemewahan yang harus ditunda untuk sesaat. Aku tak ingin waktu berputar ke masa lalu, aku memang menikmati apa yang kujalani sekarang, meski pada akhirnya aku kehilangan diriku, seutuhnya….
Entah mengapa, aku memiliki perasaan jika dengan aku kembali ke tempat ini, ke Bali, akan ada sesuatu yang terjadi.
Di balik awan, aku melihat betapa kecilnya pulau yang beberapa saat lagi hendak disinggahi, bahkan pulau ini masih lebih besar ketimbang apa yang tersisa di hati, seandainya ada kata lebih tepat dari setitik debu, mungkin itulah yang kurasakan.
Seandainya aku tak menarik dirinya ke dalam duniaku, mungkin hal seperti ini sekarang tak akan pernah terjadi, aku yang bersalah di awal, menariknya kembali ke dalam duniaku, mampu membuatku mengubah diriku, membiarkanku menjadi sebuah permainan dan dunia beserta isinya pada akhirnya menertawakanku. Betapa tidak? Kau berusaha membuat dirimu diakui dengan segala daya dan upaya, meski dengan segala keterbatasan yang kau miliki, kau percayakan segalanya kepada Tuhan, kau bahkan memasrahkan seluruh keberadaanmu padanya percaya bahwa Tuhan akan membuat kalian bersatu selamanya, tetapi saat kau berjuang hampir ke titik nadir, sebuah tragedi menginjak harga diri dan keberadaan dirimu, sehingga kau terbuang dari asalmu, berusaha mencari tempat tersudut, melarikan diri dari kenyataan, meyakinkan hatimu bahwa yang kau dapatkan ‘mungkin’ saja sebuah mimpi, Tuhan pasti membangunkanmu. Setelah itu, kau sama sekali tak terbangun, karena kau memang tak pernah mendapat bunga tidur, di dalam sadar sesadar-sadarnya dirimu.
Dia menghancurkanku hanya dengan sebuah kalimat, yang membuatku sadar, jadi harga sebuah cinta dan ketulusan hanya sebatas rupiah, dan itu tak hanya terjadi sekali atau dua kali bahkan berulang-ulang. Sebuah kalimat yang mengubahku selamanya.
“Kenapa kau melakukannya?”
“Aku butuh uang!”
Saat itu dunia di sekitarmu tertawa dan mengejek, dan kau merasa, kau adalah orang paling naif yang memercayai arti sebuah CINTA.
Hari beranjak sore, keduanya—Andre dan Adriana—masih berkutat dengan pekerjaan masing-masing, keduanya membisu, meski sesekali, Andre mencuri-curi pandang ke arah Adriana. Andre tersenyum geli melihat Adriana menyempilkan sebuah bulpen di cuping telinganya.
“Bu Boss, lagi ada program diskon besar-besaran di toko daerah Mampang, aku disuruh ke sana buat ngurus display sama disuruh bawa banner plus nyari tukang buat nempelin stiker diskon di window display,” ujar Adriana tanpa ada yang bertanya sama sekali.
Andre mendongakkan kepala, manggut-manggut tanpa menyahut sedikit pun.
“Heh, denger nggak?” tanya Adriana sembari menaikkan satu alisnya. Adriana melepas ikatan rambutnya, rambut merah wine miliknya tergerai hampir mencapai pinggang, Andre kali ini menghentikan kegiatannya. Rambut berwarna merah dan panjang itu selalu mencuri perhatiannya, ada rasa yang sulit dikatakan oleh hatinya ketika melihat Adriana menggerai kemudian memuntir rambut panjang itu lalu mengikatnya serupa donat, yang memerlihatkan leher panjang dan putih miliknya. “Eh, Gunung Batu Es, loe dengar nggak yang gue omongin?!”
Andre hanya melirik, kemudian dengan sok malas dia menjawab, “Oh sekarang ‘gue’ sama ‘elo’? Jengkel ya nggak langsung dijawab?”
Adriana membulatkan mulut menyerupai huruf ‘O’ kemudian meringis kesal. “Iya, sekarang ‘gue’ sama ‘loe’, ada larangan gitu kalau aku ngomong begitu? Heh, situ dengar nggak yang barusan aku ngomong?”
“Dengar kok, itu kan pekerjaan kamu, urusan sama aku apa?”
“Nggak ada sih urusannya sama situ, cuma sekadar pemberitahuan. Aku … ehmmm, anu …, arggghhh!”
“Mau minta diantar? Bilang dong, gitu aja kok susah amat mau ngomongnya,” goda Andre. Gemas melihat ekspresi Adriana yang manyun-manyun, sembari mendelikkan kedua mata yang berbulu mata panjang dan tatapan sayunya yang terkadang mengusik Andre.
“Terus, mau nganter nggak?”
“Mager, Mbak. Jalan sendiri ya?”
“Oh shit! I shouldn’t asked you then! Aku—“
Ketukan di pintu menghentikan perdebatan mulut keduanya. Seorang wanita paruh baya, berdiri di depan pintu ruangan Andre dan Adriana, memegang beberapa berkas. Wanita paruh baya berambut pendek dengan highligh berwarna putih di tiap helai rambutnya—alias uban—membetulkan letak kacamatanya. “Bisa berhenti dulu adu mulutnya? Kalian berdua seperti anjing dan kucing, nggak pernah akur, jangan-jangan jodoh?”
“Nggak mungkin!” jawab Adriana. Ketus. Andre hanya tersenyum getir mendengar jawaban Adriana yang spontan tanpa basa-basi seperti peluru yang dilepaskan dari kokangnya.
“Okay, ada kabar bagus,” ujar wanita separuh baya itu.
“Kabar apa Bu Mariana? Kabar bagus apa ya? Kok feeling saya berasa nggak enak,” jawab Adriana.
“Besok pagi kalian berangkat ke Bali. Jadi malam ini, kalian lembur sampai pekerjaan selesai, karena Big Boss mau kalian segera mengerjakan project di Bali. Ehmmm …, tiket yang ada di kamu, Ndre, itu nanti kasih ke saya, mau diubah tanggalnya, harusnya kan lusa, nah jadi besok berangkatnya, so … yang tiket itu nggak berlaku,” jawab wanita paruh baya yang bernama Mariana, manager operational di perusahaan tempat keduanya bekerja.
“Hahaha, Ibu pasti lagi bercanda. Masa besok sih? Terus kami lembur? Berdua gitu? Anu Bu, kerjaannya boleh saya bawa ke rumah?” tanya Adriana sambil cengar-cengir kuda. So, feeling nggak enaknya memang jadi kenyataan pahit sepahit-pahitnya kopi tanpa gula.
“Nggak bisa, memangnya kalian kira lagi mengerjakan pe-er mau dibawa ke rumah segala. Harus kelar malam ini, Big Boss mau cek malam ini juga. Deadline nggak bisa diubah. Lagipula, Andre kan bisa membantu kamu. Oh ya, Andre, hari ini temani Adriana ke Mampang untuk ubah display dan pasang segala macam buat diskon gede-gedean. Sekalian kasih tahu SPG sama SPB di toko, promo apa saja yang akan ada di bulan ini sampai pertengahan bulan depan.” Titah Sang Maharani akan sulit ditolak oleh Adriana dan Andre mengingat perkataannya adalah sebuah ultimatum dan kartu mati yang tidak terbantahkan.
Andre hanya melengos mendengar perintah tak terbantahkan dari Mariana. Wanita paruh baya, berkacamata silinder, bertubuh pendek, dan senang memakai rok di atas lutut itu terkadang memberikan tugas yang bisa membuat keduanya mual-mual mendadak dan mengalami gangguan perut berkepanjangan seharian. “Siap, Bu. Perintah Permaisuri akan saya laksanakan dengan berat hati,” jawab Andre.
“Eh, kok berat hati? Kalian kan nanti dapat liburan dua bulan lebih di Bali, enak dong. Kayak gitu bukan disyukuri, perusahaan tuh membayar semua akomodasi kalian selama di Bali, yang penting kalau beli apa-apa pakai duit perusahaan, ada bonnya, ngerti?!”
“Hehehe, kayak gitu liburan? Aduh, Bu … kalau hanya saya sendiri mungkin saya bisa enjoy, ini kita berdua lho, berdua! Saya sama Si Gunung Batu Es, apa nggak bakal mati mendadak nanti?” protes Adriana.
“Udah, nggak usah membantah. Ini berkas yang harus kalian bawa ke toko, jangan lupa semua materi ada di situ. Ya sudah, saya mau balik ke ruangan saya dulu.” Mariana tak memedulikan ocehan-ocehan Adriana, dia meninggalkan ruangan keduanya sambil melenggang santai. Peduli apa, buatnya tugas adalah tugas, mau di Bali nanti keduanya saling bunuh-bunuhan, itu bukan urusannya, yang penting pekerjaan beres, dan Big Boss happy.
Seperti tersambar petir membayangkan apa yang akan terjadi nanti selama di Bali? Menghabiskan waktu berdua, dan tentunya bukan sebuah momen yang menyenangkan. Sarkasme berlebih, belum lagi kelakuan Andre yang membuatnya sakit kepala, dan hal menyebalkan lainnya, apa mungkin dia bisa bertahan dan hidup sampai nanti tugas keduanya berakhir? Ah, rasanya bukan sekadar migrain, mungkin tumor otak akan segera menyerang kewarasan Adriana.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Andre datar, kedua tangannya sibuk merapikan seluruh peralatan yang berceceran.
“Jadi, besok pagi kita berangkat? Aku belum mempersiapkan barang-barangku, ini gila, Ndre.”
“Barang-barangku sudah siap tuh di mobil, tinggal bawa aja. Makanya jadi cewek bisa mengatur waktu dong, mengatur semua persiapan, dan—“
“Oh, jadi … menurutmu, aku ini nggak teliti, aku ini nggak bisa mengatur waktu, dan ceroboh, juga hal-hal buruk lainnya?” Adriana menggebrak meja dan berdiri, tensi darah mendadak meninggi. “Kamu itu benar-benar nggak punya perasaan ya, selalu merasa yang paling benar!”
“Lho kok marah? Adri, kenapa harus marah, aku kan …, terserah deh. Apa yang aku omong selalu kamu anggap sebaliknya, kamu selalu menelan mentah-mentah tanpa menyaring perkataanku, kan?”
“Huh? Kamu yang memulai, kamu memancing emosi. Ayo berangkat sekarang! Gerah aku lama-lama di dalam ruangan dengan keadaan kayak begini!”
“Kok gerah, kan ada AC,” Andre menjawab tanpa memedulikan wajah Adriana yang memerah karena kesal. Dia menunjuk ke arah AC dengan telunjuknya tanpa melihat ke arah Adriana.
***
Keadaan jalan di sekitar daerah Kota benar-benar membuat temperamen, kendaraan beroda dua dan empat saling berdesak, menghimpit, tak ada yang mau mengalah, bahkan kendaraan umum seolah ingin merajai jalan besar yang sudah sangat padat, bahkan sulit untuk bergerak. Klakson saling mengadu suara, menciptakan kebisingan yang bisa membuat orang-orang menyumpah serapah, saking kesal.
Andre dan Adriana hanya bisa menarik napas, menggeleng-geleng kepala menyaksikan kemacetan yang tiada duanya. Para penjaja asongan mulai bergerak dari satu mobil ke mobil angkutan umum lainnya, menawarkan jajanan, barang-barang murah, sambil sesekali berteriak mempromosikannya. Adriana melempar pandangan ke arah luar, dirinya tak sadar jika Andre terus memerhatikannya. “Buka jendelanya, aku mau menyalakan rokok, suntuk,” perintah Andre.
“Itu nyuruh?”
“Nggak, cuma memerintah. Bawel banget sih kamu, Adri. Tolong buka jendela ya, Batu. Puas?”
“Ya, ya, ya, Tuan Besar Berhati Es. Sudah saya buka, ehm … rokoknya sekalian mau saya nyalakan?” sindir Adriana.
“Oh baik sekali, iya, tolong dinyalakan ya, Mbak. Enaknya punya asisten kayak begini, nanti sekalian saya minta disuapin, boleh?”
“Iya, saya suapin pakai sekop, ya, Tuan?”—Adriana menyerahkan sebatang rokok yang sudah dinyalakannya—“jangan manja, nggak cocok sama mukamu yang dingin kayak gitu mau manja-manja. Duh, macet begini kapan sampainya? Belum lagi nanti balik lagi ke kantor terus lembur sampai kapan?”
“Nggak usah mengeluh. Kamu tahu nggak?”
“Nggak tahu, memangnya mau ngomong apa?”
“Ingat cita-citaku dulu, sewaktu kita masih kuliah? Kamu tahu kan, aku senang banget membuat gambar, mendesain sesuatu semauku, dan aku ingin memiliki usaha yang bergerak di bidang desain, apa mungkin ya?”
“Nggak ada yang nggak mungkin, Ndre. Suatu saat, kamu pasti bisa mewujudkannya,” jawab Adriana bijak. Ya, cita-cita dan apa yang dikerjakan Andre dan Adriana memang jauh dari jurusan yang mereka ambil sewaktu kuliah dulu. Andre yang pendiam, senang berkutat dengan kesibukannya sendiri, dia ingat Andre pernah membuat sebuah sketsa wajah miliknya dari pensil dan sampai hari ini, sketsa itu ada di dalam laci meja miliknya di kamar. Lagi-lagi hal itu mengingatkannya kepada Rey, cinta pertama yang membuatnya benar-benar sakit hati.
“Kalau aku sampai mewujudkannya, kamu mau bantu aku?” tanya Andre tiba-tiba, dan Adriana tahu, Andre tak bersikap nyinyir, kalimat yang diucapkannya barusan diucapkan dengan sungguh-sungguh.
“Aku akan bantu kamu. Tapi kenapa kamu meminta aku untuk membantumu?”
“Nggak enak nggak ada kamu, nggak ada yang bisa aku nyinyirin,” jawab Andre asal. Pernyataan barusan membuat Adriana ingin menampar wajah Andre dengan kotak tissue yang berada di atas dashboard.
“Oh … oh, kalau begitu aku nggak mau bantu kamu. Semoga mimpimu nggak pernah terwujud!” bentak Adriana.
“Doanya kok gitu? Seharusnya kamu nggak merusak mimpiku, kamu harusnya mendukung, dong. Kan, kalau kita punya perusahaan sendiri, nggak perlu diperintah orang, dan—“
“Tetap aja diperintah, situ kan senang main perintah,” celetuk Adriana memotong kalimat Andre.
“Ah, pegal uratku ngomong sama kamu. Hmmm… Adri,” panggil Andre lembut.
“Ya?”
“Kamu … masih mengingat Rey? Eh, jangan marah ya, aku nggak ada maksud bertanya apa-apa kayak gini. Apa benar, setiap melihat aku, kamu selalu teringat perlakuan Rey ke kamu?”
“Rey, sudah kubuang jauh-jauh dari benakku. Memang, setiap aku melihat kamu, sejenak rasa benci dan kesal itu muncul begitu saja. Entahlah, aku juga nggak mengerti, kenapa bisa seperti itu, Ndre. Oh ya, bisa mampir di tok roti dulu, kita ke Holland Bakery sebentar, aku lapar, boleh?”
“Iya, aku menepi dulu ya, mau cari yang bisa buat parkir mobil.”
Andre menepikan mobilnya, dan bergerak pelan, toko roti yang dimaksud tak begitu jauh dari tempat keduanya terjebak kemacetan, meski mereka harus meyeberang untuk mencapai toko tersebut. Adriana merasakan lapar yang teramat sangat, sejak tadi perutnya terus berdendang segala macam rupa lagu, rasa lapar itu membuat perutnya sedikit perih.
Langit sedikit mendung, sepertinya akan hujan lagi, belum lama langit terang bekas hujan di pagi hari, sekarang sudah mulai malu-malu dan berwarna kelabu. Andre sudah memarkirkan mobilnya di tepi jalan tepat di depan sebuah ruko. “Aku turun dulu ya.” Adriana membuka pintu diikuti Andre.
Keduanya bersiap untuk menyeberang, Adriana melangkah lebih dulu sambil membentangkan tangan—memberhentikan kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya. Adriana tak sadar sebuah motor ninja berkecepatan tinggi yang tak peduli jika jalanan sedang macet-macetnya menghajar dengan kasar, dan ….
“Minggir!” Andre langsung dengan reflek menarik tangan Adriana dan mendekap Adriana dengan tangan satunya. “Goblok! Nggak punya mata barangkali, nggak lihat ada cewek mau menyeberang!” maki Andre.
“Sorry,” ujar Adriana pelan. Jantungnya berdetak dengan cepat, tak bisa membayangkan jika saja Andre tak menarik tangannya, pasti motor tadi sudah menyerempet kakinya.
Andre masih mendekap Adriana sambil terus menyeberang jalan, dia tak sadar melakukannya.
Seandainya kamu bisa terus bersikap manis seperti ini, tentu urat-urat di leherku tak perlu menegang setiap saat berbicara denganmu. Ternyata, perhatian dan juga kebaikanmu yang dulu tak pernah berubah, Ndre.
“Kamu nggak apa-apa, Adri? Ada yang luka?” tanya Andre ketika keduanya telah sampai di depan toko roti. Andre langsung melepas dekapannya di bahu Adriana, dia baru sadar sejak di ujung jalan sampai di depan toko roti dia masih mendekap Adriana.
“I’m okay, Ndre. Thanks ya, kamu mau ikut masuk atau ikut ke dalam?”
“Kamu masuk aja, aku tunggu di luar. Jangan lama, sepertinya sebentar lagi mau hujan, aku nggak mau hujan-hujanan di tengah kemacetan, jadi cepat sedikit,” jawab Andre kembali dengan sifat ketusnya.
“Iya, bawel!”
Adriana melangkah masuk ke dalam toko roti. Andre menyandarkan tubuhnya ke tembok di depan toko, satu tangannya mengeluarkan sebungkus rokok, dan menyalakannya, satu tangannya mengeluarkan handphone di dalam saku kantong celana kerjanya. Beberapa SPG di toko sebelah mencuri-curi pandang ke arah Andre, Andre dengan masa bodoh tak mengacuhkannya. Tangannya sibuk mengetik sesuatu, Andre membuka profil facebook miliknya dan mengetik sesuatu di dinding laman miliknya.
Resah ini semakin menggeliat manja di dalam hati,
Ingin mendesah dalam sepi,
Namun … raguku menggoda,
Dia … selalu sudi hadir di dalam setiap lamunku,
Untukmu, aku tak pernah beranjak pergi.
Hanya satu paragraf yang diketiknya, kemudian Andre memejamkan kedua matanya, sembari menarik satu isapan rokok dan mengembuskan asap ke atas, terbawa angin kemudian lenyap. Gundah itu semakin menggoda hati, tak tahu harus berbuat apa, dia tak ingin mengusik bayang lalu yang sebenarnya membuat dirinya sakit setiap Adriana mengatakannya, sehingga ragu selalu menyerang dirinya. Andre tak pernah memperbolehkan Adriana untuk menambahkan dirinya di daftar pertemanan di facebook miliknya, sejuta alasan dibuatnya; jarang dibuka, jarang update status, facebooknya kurang menarik, dan malas meng-add cewek bawel dan nggak penting kayak dirinya—meski Adriana adalah seseorang yang sangat penting dan berarti untuk dirinya. Itu bukan sebuah bual, melainkan kejujuran yang tak pernah diungkapnya.
“Aku benci kamu, Adri,” gumam Andre pelan disela resahnya.