Ada sebuah pondok pesantren yang tidak terlalu dianggap oleh masyarakat di sekitarnya. Pondok pesantren tersebut berbeda dengan pondok yang lainnya, sebab lebih berfokus pada santri-santri yang memiliki masalah, seperti pecandu obat-obatan terlarang, pencuri, bahkan wanita tuna susila.
Gus Wirto, nama pendiri pondok pesantren Pondok Pesantren Ihsan. Ia mendirikannya di salah satu kota terbesar di Indonesia, yaitu Surabaya. Bukan tanpa alasan Gus Wirto mendirikan pondok pesantren tersebut, ia ingin membantu mereka-mereka yang ingin kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT.
Gus Wirto sendiri sudah memiliki keluarga. Ia menikah dengan Nyai Mina dan memiliki dua orang anak, putra dan putri. Anak yang pertama bernama Catur, usianya 28 tahun dan saat ini berada di Mesir untuk melanjutkan pendidikannya. Anak keduanya bernama Dila, usianya masih 23 tahun dan sedang menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Surabaya.
Gus Wirto saat ini tinggal bersama dengan istri dan putrinya, beberapa santri sering datang untuk menimba ilmu, tapi tidak pernah sampai dalam. Istrinya, Nyai Mina hanya ibu rumah tangga, meskipun beberapa kali membantu Gus Wirto pada saat-saat tertentu. Untuk putrinya sendiri, Dila jika ada waktu luang sering berada di tempat santriwati untuk berbicara atau menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.
“Mau ke mana, Nduk?” tanya Gus Wirto pada Dila.
“Mau ke asrama santriwati untuk hafalan Surat Al-Mulk.”
“Tidur sana?”
Dila menggelengkan kepalanya.
“Ya wis, jangan malam-malam.”
Dila mencium tangan abinya sebelum keluar dari rumah, melangkahkan kakinya ke tempat santri dengan menundukkan kepalanya. Menurut ajaran orang tuanya ia tidak diperbolehkan memandang yang bukan muhrim. Dila semakin mempercepat langkahnya saat melihat tempat santriwati semakin dekat. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.
“Dila.” Terdengar suara seorang pria memanggil namanya membuat langkah kaki Dila berhenti.
“Kenapa, Kak?” tanya Dila yang masih menundukan kepalanya.
“Kamu, Dila, Anaknya Gus Wirto?” pria tersebut bertanya lagi pada Dila.
Dila mengangguk tanpa mengangkat wajahnya.
“Astaga pelit amat sih liat wajahnya aja ga bisa. Lihat dong orang yang dihadapan kamu saat berbicara.”
Dila masih belum mengangkat wajahnya meski pria di depannya sedang mengucapkan kata-kata tidak enak untuk didengarnya.
“Ngapain kamu manggil Neng Dila?” tiba-tiba terdengar suara orang lain.
Dila dapat mengetahui suara orang tersebut, walau tidak melihat wajahnya.
“Neng Dila, tinggalin aja manusia nggak penting ini.”
“Maaf dan terima kasih.”
Dila pun kembali berjalan meninggalkan mereka dan masih terdengar beberapa perkataan, hanya saja ia tidak peduli sama sekali. Ia segera kembali menuju asrama santriwati. Sesampainya di asrama ia membuka pintu salah satu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ia membelalakkan matanya saat melihat pemandangan yang tidak baik, seketika ia langsung berbalik dan menutup matanya.
“Kenapa nggak dikunci?” omel Dila menatap malas pada Naila, santriwati yang sudah dianggap saudara.
“Lah, kamu sendiri yang nggak ngetuk, salah siapa coba?” ucap Naila kesal.
“Ya...ya...aku yang salah.” Dila mengangguk lemas, “Memang mau kemana rapi sekali? Lalu pakaiannya kenapa begitu tadi?”
“Bocah nggak perlu tahu.”
Dila mencibir perkataan Naila.
“Ada apa kesini?” tanya Naila.
“Mau ajak hafalan surat secara besok sudah waktunya menyetor hafalan yang langsung diawasi sama Nyai Mina.”
“Kamu anak pemilik pondok dan aku sahabatmu, kenapa Nyai Mina nggak ada pengecualian sama sekali sih?”
“Umma nggak melu-melu ya. Mau melu hafalan opo nggak?”
“Menurutmu ae piye? Jelas melu lah, pengen aku dihukum karo abimu?”
Dila tersenyum kecil mendengarnya. Ia pun memilih untuk menunggu Naila berganti pakaian yang lebih tertutup. Setelah sahabatnya tersebut mengganti pakaiannya, mereka melangkah ke tempat santriwati. Sudah banyak para santriwati yang ada di sana dan mereka yang sedang sibuk dengan membaca tidak terganggu sama sekali dengan kedatangan Dila dan Naila. Dila mengambil tempat paling enak, tapi sayangnya ditarik Naila ke tempat paling pojok.
“Kuping e lapo disumpel?” Dila bertanya heran saat Naila menggunakan earphone di telinganya.
“Pegel arep turu disik,” sahut Naila santai.
Dila membelalakkan matanya menatap apa yang Naila lakukan. Sahabatnya tersebut menyandarkan tubuh di tembok dan langsung memejamkan matanya, telinganya sendiri sudah ditutup dengan earphone membuat Dila tidak bisa bertindak apa-apa. Ia pun mengikuti yang lainnya membaca Surat Al-Mulk dengan perlahan, meskipun sudah membacanya dari kemarin tetap saja belum memiliki rasa percaya diri sama sekali.
Melihat Naila yang seperti itu membuatnya menghela napasnya dengan kelakuan sepupunya. Di saat ia membaca beberapa ayat, mata Dila langsung membola melihat Ummanya memasuki ruangan secara otomatis membangunkan Emily yang memejamkan matanya.
“Nay...Nay...” Dila menepuk tangan Naila keras membuatnya mendapatkan tatapan tajam. “Umma ada di sini.”
Naila langsung melepaskan earphone dan membuka Al-Qur’an, begitu juga dengan Dila yang kembali fokus pada bacaannya.
“Sudah ada yang hafal?” Nyai Mina menatap para santriwati.
Para santriwati ada yang sebagian mengangguk, tapi tidak sedikit yang menggelengkan kepalanya.
“Besok waktunya terakhir, ingat ini termasuk dalam penilaian kalian nantinya.”
“Ya, Nyai.” Mereka teriak bersama-sama termasuk Dila dan Naila.
Mereka berdua kembali fokus pada bacaan yang ada dihadapannya saat ini, sebenarnya Dila bisa saja tidak ikut menghafal, tapi sebagai saudara yang baik akhirnya menemani Emily. Dila tahu jika saudaranya ini masih dalam tahap pembelajaran yang masih harus didampingi atau ditemani agar tidak jatuh dalam dunia gelap.
“Kalian sudah sampai mana?” suara Nyai Mina membuat Dila dan Naila terkejut, “Kenapa terkejut? Kaya habis lihat apaan aja.”
“Umma eh...maksudnya Nyai ngagetin aja. Kok tiba-tiba ada disini.” Dila menundukkan wajahnya karena salah mengucapkan nama, “belum terlalu hafal, Nyai.”
Nyai Mina hanya mengangguk mendengar jawaban Dila. “Kalau sudah selesai langsung pulang ya. Abi mau bicara sama kamu.”
Dila menatap Nyai Mina dengan bingung, hanya saja beliau langsung beranjak meninggalkan mereka. Ia terdiam mencoba mencerna kata-kata Nyai Mina tadi dan yang membuatnya heran, kenapa pada saat berangkat Gus Wirto tidak mengatakan apapun sama sekali.
“Ndang diwoco selak waktune entek,” tegur Naila yang membuat lamunan Dila hilang begitu saja dengan menatap Naila malas, “wis ndang diwoco.”
Menghembuskan nafas panjang mendengar perkataan Naila dan kembali konsentrasi pada hafalan yang sebelumnya sudah dibaca, mengulangnya berulang kali sampai benar-benar hafal diluar kepala.
Suara adzan berkumandang membuat mereka semua menghentikan semuanya kegiatannya dan langsung berdiri untuk mengambil air wudhu. Dila sendiri sudah membawa mukenanya berbeda dengan Naila. Naila yang tidak membawa mukenah sehingga membuat mereka berdua kembali ke kamar Naila. Mereka harus buru-buru karena suara adzan tidak akan lama, meskipun begitu masih ada suara iqomat yang bisa membuat sedikit lebih santai.
“Fabian sakau lagi,” ucap seorang santri yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Dimana dia?” Naila menatap para pria dengan tajam.
Tatapan tajam Naila membuat pria tersebut terkejut dan seketika menatap Dila yang membuatnya langsung menundukkan kepalanya.
“Jawab aja ngapain lihatin Dila,” ucap Naila yang lagi-lagi membuat mereka terkejut.
“Fabian di dalam kamarnya dan pastinya nggak bisa keluar.”
Naila langsung pergi meninggalkan mereka dan kali ini langkahnya bukan menuju kamarnya sendiri, tapi tempat para santri pria berada. Dila membelalakkan matanya melihat tindakan Naila dan langsung mengejarnya. Dila menggapai tangan Naila dan langsung menarik tangannya. Hal tersebut membuat Naila berhenti dan langsung memberikan tatapan tajam pada Dila.
“Jangan kesana nanti ketahuan bisa bahaya lagipula sudah waktunya sholat.”
“Aish… kamu tu nggak bisa diajak kerjasama.”
“Lagian kenapa kamu peduli sih? Bukan tugas kamu juga dan pastinya Abi sudah tahu apa yang harus dilakukan.”
“Kalau kenapa-kenapa kamu yang nanggung?”
“Kita shalat dulu baru nanti bicara sama Abi. Abi pasti sudah punya solusi lagipula bukan pertama kali Abi melakukan ini.”
Dila menarik tangan Naila yang masih diam. Naila berpikir memang apa yang Dila katakan benar adanya. Tidak seharusnya mereka berdua yang wanita masuk dalam asrama laki-laki. Kalau sampai ketahuan yang mendapatkan masalah bukan hanya dirinya saja, tapi Dila juga akan mendapatkan masalah yang sama.
Naila pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya bersama Dila.
“Aku malas ke masjid.” Naila membaringkan badannya di atas ranjang membuat Dila membelalakkan matanya. “Jangan ceramah, kalau kamu mau ke masjid silakan dan biarkan aku sendiri disini.”
Menggelengkan kepala karena tahu apa yang ada dalam isi kepala Naila. “Aku pakai kamar mandi, mau wudhu langsung sholat disini dan jangan melakukan hal gila.”
“Jangan lupa aku titip absen saja kalau gitu, nanti kalau Nyai tanya bilang aja aku lagi sakit.”
Dila menggelengkan kepala mendengar perkataan Emily dan langsung beranjak dari tempatnya.
“Naila, tapi nggak baik kalau kamu kesana,” ucap Dila menghentikan langkahnya menatap Naila yang hanya diam dan tampak memejamkan matanya. “Aku melakukan ini karena sayang sama kamu.”
Dila menggelengkan kepala melihat tingkah laku Naila, memilih beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melakukan kewajibannya. Memilih menunaikannya dalam kamar Naila disebabkan tidak ada waktu sama sekali untuk berangkat ke masjid, di saat terakhir suara ketukan pintu terdengar membuat Dila langsung membukanya.
“Mbak Dila dicari Nyai Mina.”
“Makasih, Mbak Ita.” Dila tersenyum menatap Ita.
Menutup pintu dan melanjutkan apa yang tadi dilewatkannya karena ketukan pintu, membaca beberapa surat dalam Al-Qur’an termasuk didalamnya hafalan untuk besok. Panggilan dari sang Umma membuat Dila tidak bisa berlama-lama dalam kamar Naila. Ia pun membereskan perlengkapan sholat Naila dan merapikan dirinya sebelum membangunkan Naila.
“Aku balik dulu ya jangan lupa shalat.”
Melangkah menuju rumah orang tuanya yang berada di paling depan, dimana berarti melewati beberapa asrama baik itu wanita dan pria. Berjalan sambil menundukkan kepala adalah kebiasaan dari Dila yang memang terlalu malu untuk menatap orang lain. Suara beberapa orang di asrama pria terdengar di telinganya yang membicarakan mengenai pria yang tadi sakau karena obat-obatan terlarang.
“Nak Dila,” panggil Gus Wirto membuat Dila menghentikan langkahnya “Bisa bantu Gus untuk ke rumah membawa dia?”
Dila mengalihkan pandangan kearah pria yang dalam keadaan seperti orang mabuk, mendekati Gus Wirto dengan sedikit keraguan dan tatapan beliau mengatakan akan baik-baik saja. Memegang ujung pakaian dari pria itu agar bisa berjalan disampingnya, tatapan mereka bertemu yang langsung membuat Dila menundukkan kepalanya.
“Bocah gini yang bantu bawa ke rumah?” Dila menatap tajam pada pria disampingnya dan saat mengalihkan pandangan ke Gus Wirto hanya memberikan kode untuk tidak menanggapi perkataan.
“Sama Gus ini kesananya.”
Mereka bertiga berjalan menuju rumah Gus Wirto, Dila sendiri tidak tahu kenapa pria ini tidur di rumahnya. Dirinya ingin bertanya lebih tapi diurungkan karena posisinya tidak terlalu baik, langkah mereka yang dalam benak Dila akan lambat ternyata tidak sama sekali dimana mereka sampai rumah dengan selamat.
“Nduk, siapkan kamarnya mas kamu.” Dila mengangguk sebelum masuk kedalam meninggalkan kedua orang di ruang tamu.
“Sudah datang?” Dila hanya mengangguk setelah mencium punggung tangan Ummanya “Kamar mas sudah Umma bereskan sekarang bantu umma siapin makan malam.”
“Sama santri itu?” Nyai Mina hanya mengangguk mendengar pertanyaan Dila.
Lagi-lagi memilih tidak bertanya dan mengikuti perintah dari ummanya, masuk kedalam kamar meletakkan barang-barangnya. Membersihkan badan terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar dengan pakaian tidur tidak tertinggal kerudung besarnya, melangkah ke dapur dimana ummanya sedang meletakkan hasil makanan di meja dengan segera Dila membantunya.
“Panggil mereka, Sayang.” Dila melangkah keluar dimana Gus Wirto sedang berbicara dengan pria itu.
“Abi makanannya sudah siap,” ucap Dila menatap Gus Wirto yang hanya mengangguk dan langsung memalingkan wajahnya saat tidak sengaja menatap pria tersebut.
Dila berjalan terlebih dahulu menuju meja makan dan langsung duduk di kursi, tidak lama kedua pria berbeda usia itu menyusul dengan duduk di kursi masing-masing.
“Nduk, ini Nak Fabian salah satu santri disini dan Nak Fabian dia adalah putri saya satu-satunya,” ucap Gus Wirto memperkenalkan mereka berdua “Ayah kamu kemarin meminta Gus untuk mencarikan jodoh dari kalangan santri tapi Gus tidak tahu siapa, lalu kami sepakat menjodohkan kalian berdua.”
“Uhuk...uhuk...” Dila tersedak mendengar perkataan abinya “Maksudnya abi menjodohkan kita berdua?”
Gus Wirto menganggukkan kepalanya dengan menatap Dila lembut “Kamu mau kan, Nduk? Tadi abi sudah berbicara dengan Nak Fabian katanya selama kamu setuju dia akan setuju.”
Dila mengalihkan pandangan ke Fabian yang hanya diam, tampak dari luar pria itu baik-baik saja bahkan terkesan bodoh jika obatnya habis atau tidak konsumsi dalam waktu lama. Dila bukan tidak tahu mengenai tanda-tanda orang yang akan lepas dari obat-obatan terlarang, salah satunya adalah apa yang saat ini dialami Fabian, hanya saja Dila tidak tahu akan dibawa kemana rumah tangga mereka jika Fabian masih seperti saat ini.
“Abi yakin?” menatap abinya yang sedang menatap dirinya seakan menunggu jawaban.
“Kamu bisa tidak menjawab saat ini karena bagaimanapun pasti bukan hal mudah ditambah lagi pernikahan adalah sesuatu yang sakral.”
“Aku butuh waktu,” jawab Dila akhirnya yang diangguki abinya.
Memilih melanjutkan makannya dengan cepat karena tidak ingin terlalu lama berada di meja makan dengan Fabian yang akan menjadi suaminya kelak, Dila tahu jika Gus Wirto abinya memang mengharapkan dirinya segera menikah agar ada yang bisa menjaga dirinya hanya saja sangat terkejut karena pilihannya adalah pecandu obat-obatan terlarang. Dila sendiri juga sangat tahu jika Fabian sendiri mencoba untuk lepas dari ketergantungan, meskipun baru beberapa bulan masuk ke pondok pesantren keinginan Fabian untuk lepas sangat kuat.
“Dila, ayo kita bersihkan mejanya.” Dila menatap sekitar dimana kedua pria itu sudah tidak berada di meja makan.
Berdiri membantu ummanya membereskan meja makan agar mereka bisa segera pergi tidur, menatap meja makan yang telah bersih membuat Dila beralih ke tempat cuci piring dan langsung menyelesaikannya setelah meminta ummanya untuk pergi meninggalkan dirinya. Memastikan kembali tidak ada bekas makanan atau kompor menyala, baru Dila berani meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Masuk kedalam kamar melanjutkan apa yang menjadi tugasnya ditambah waktu shalat akan segera datang, memilih membaca Al-Qur’an melanjutkan apa yang telah dilakukan sebelumnya. Adzan berkumandang tidak lama kemudian membuat Dila bersiap-siap berangkat ke masjid melakukan kewajibannya, Dila dapat melihat ummanya masih ada di ruang tamu tapi tidak dengan kedua pria itu.
“Berangkat sama-sama,” ajak Nyai Mina yang hanya diangguki Dila membuat mereka jalan bersama menuju masjid “Permintaan abi bisa kamu pikirkan dengan baik, tapi kalau kamu menerima ya anggap saja sebagai dakwah membantu Nak Fabian benar-benar lepas dari obat-obatan itu.”
“Alasan menerima Fabian apa? Uangnya?”
“Hush...ngawur nek ngomong ati-ati di denger orang nanti dikira abimu begitu.” Nyai Mina menatap lembut Dila yang hanya bisa mengangguk “Kata abi kamu Fabian ini keinginan sembuhnya kuat, kalau dia keluar dari pondok ini akan masuk kembali ke lingkarannya dan itu membuat abi juga orang tua Fabian menginginkan dia tetap berada disini, ya meskipun caranya sangat mengejutkan umma juga.”
“Umma setuju?”
“Umma setuju kalau kamu setuju.”
Dila terdiam mendengar jawaban ummanya yang baginya sendiri masih abu-abu, lantas bagaimana Dila bisa memutuskannya kalau tidak ada yang bisa membantunya sama sekali. Tidak mungkin meminta bantuan dari sahabatnya Naila karena pastinya jawaban yang diberikan selalu tidak bisa diharapkan sama sekali. Naila sendiri bukan orang yang bisa diajak bicara atau memberikan solusi, isi pikiran Naila hanya bersenang-senang saja. Dila sendiri memiliki sosok yang menjadi idamannya selama ini tidak lain adalah seniornya di kampus yang memiliki suara indah saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tidak hanya itu Prima dikenal sebagai Hafiz Qur’an di kampusnya dan Dila termasuk beruntung bisa kenal dekat dengan Prima.
“Hafalan buat besok sudah siap?”
“InsyaAllah, Umma.”
“Bukan umma yang menguji ya jadinya kamu jangan membuat malu abi kamu selaku pemilik pondok ini.”
“Ya, Umma.”
Berdua berjalan meninggalkan masjid, hanya saja langkah Nyai Mina terhenti karena panggilan dari para ustadzah. Dila melangkah seorang diri menuju rumahnya dan ada beberapa santri serta santriwati yanf melewatinya, menghentikan langkahnya karena tidak melihat Naila sama sekali membuat Dila melangkah ke tempat dimana Naila terlebih dahulu sebelum ke rumah.
“Naila belum datang, tadi keluar pas adzan.”
Dila hanya mengangguk mendengar ucapan salah satu santri, meninggalkan tempat Naila dan kembali ke rumahnya. Kali ini Dila menatap sekitarnya barangkali bisa menemukan Naila tapi sayangnya tidak ada sama sekali dan itu membuat Dila akhirnya benar-benar memutuskan kembali ke rumah.
Masuk kedalam rumah tidak menemukan siapapun yang itu artinya mereka kedua orang tuanya masih berada di masjid, Dila sendiri tidak melihat keberadaan Fabian berarti kemungkinannya adalah berada di masjid bersama dengan abinya. Memilih masuk dalam kamar mencoba untuk membaca kembali Surat Al-Mulk untuk disetorkan besok, Dila sendiri sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini hanya saja kali ini berbeda karena memang Dila menginginkan perubahan hidup pada dirinya.
TOK TOK
Menghentikan bacaan dan mengakhirinya membuat Dila membuka pintu yang diketuk oleh seseorang dari luar dan saat membuka pintu seketika menurunkan pandangannya, meskipun sekilas Dila bisa melihat penampilan Fabian sangat berantakan dan juga tercium aroma sedikit amis membuat Dila ingin menutup hidungnya.
“Gus dan Nyai belum pulang?” Dila menggelengkan kepala “Kamu belum hafal?”
“Maaf kita belum muhrim jadi bisakah bicaranya di tempat terbuka?”
“Nggak perlu karena aku terlalu lelah dan ingin tidur.”
Dila dapat mendengar suara langkah meninggalkan tempatnya berdiri, memilih masuk kembali dengan menutup pintunya. Menatap dirinya depan cermin membuat Dila membelalakkan matanya menatap apa yang ada dihadapannya saat ini, menutup bibirnya tanda bahwa dirinya benar-benar terkejut.
“Astaghfirllah bagaimana bisa aku menggunakan pakaian yang menunjukkan tubuhnya depan pria itu?”
Terbiasa bangun di tengah malam untuk memohon pada Allah membuat Dila sudah siap berangkat ke masjid dengan menggunakan pakaian serta mukenanya, membuka pintu dimana tidak ada siapapun sama sekali. Kemungkinan terbesar kedua orang tuanya sudah berada di masjid, langkah Dila terhenti menatap pintu kamar kakaknya yang masih tertutup, Dila hanya mengangkat bahu tanda tidak peduli pada pria yang ada didalam kamar.
Melangkah kearah masjid dengan kondisi sekitar masih gelap dan beberapa santri masih berada dalam alam mimpi, Dila tahu pondok pesantren ini tidak membebankan santri-santrinya dalam beribadah karena bagi Gus Wirto sendiri terpenting adalah keinginan mereka berubah dan juga mengetahui kewajibannya yang utama yaitu shalat lima waktu dan membaca Al-Qur’an. Hal ini yang membuat suasana di tengah malam tidak terlalu ramai karena mereka beberapa masih ada yang berada di balik selimut.
“Assalamualaikum, Dila.”
“Walaikumsalam, Mas Tirta.” Dila menjawab dengan memberikan senyuman pada Tirta “Tumben udah bangun?”
“Kebangun gara-gara ingat belum kasih makan kambing di belakang.”
“Hari ini menunya apa?”
“Memang makan sama kita-kita yang di asrama?” Dila menggelengkan kepala membuat Tirta tersenyum “Aku dengar kalau Fabian tinggal di tempat kamu?” Dila mengangguk “Gimana keadaannya?”
“Nggak tahu karena abi sendiri yang menangani Mas Fabian.”
“Gus Wirto memang sabar menghadapi pecandu seperti Fabian, kalau aku belum tentu sanggup jadi sepertinya aku harus banyak belajar sama Gus Wirto. Tujuan mendekati beliau itu satu supaya bisa sabar menghadapi kami semua yang rata-rata bukan dari latar belakang yang baik, Gus Wirto banyak menerima hujatan dari masyarakat karena penghuni disini.”
Mendengar perkataan Tirta membuat Dila hanya bisa diam, Tirta memang dikenal sebagai santri yang dekat dengan Gus Wirto dan selalu ada dalam setiap acara yang harus menghadirkan beliau. Kedudukan Tirta sendiri lebih tinggi dibandingkan santri-santri yang lain, Tirta sendiri di beberapa kesempatan selalu datang ke rumah hanya untuk menghabiskan waktu bersama. Dila memilih tidak menanggapi perkataan Tirta, semua orang di pondok pesantren ini tahu jika Tirta memiliki perasaan dengannya dan juga keunggulan Tirta dibandingkan santri lainnya adalah dia yang paling lama berada di pondok pesantren ini.
“Aku permisi mau kesana, Mas,” ucap Dila menunjukkan tempat masuk wanita pada Tirta “Mari, Assalamualaikum.” Dila langsung melangkah tanpa menunggu jawaban salam dari Tirta.
Dila mengambil langkah ke tempat bagian wanita, masuk kedalam dengan hanya ada beberapa santriwati. Beberapa diantara mereka ada yang sedang membaca Al-Qur’an, ada juga yang baru datang akan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum melakukan shalat malam, ada yang sedang berwitir. Dila langsung melakukan shalat tahiyatul masjid terlebih dahulu selanjutnya shalat tahajud, tobat dan diakhiri dengan witir. Membuka Al-Qur’an yang dibawanya dari rumah, membaca surat terakhir yang dibacanya semalam dan diakhiri membaca hafalan yang sejak kemarin dilakukannya yaitu Al-Mulk.
Suara adzan terdengar membuat Dila bersiap melakukan ibadah wajibnya, menyucikan dirinya terlebih dahulu untuk menghadap Allah SWT. Beberapa santri mulai berdatangan dan kali ini lagi-lagi tidak melihat Naila kembali, mencoba tidak peduli dengan Naila dan fokus pada ibadah shalatnya kali ini.
“Umma,” panggil Dila membuat langkah Nyai Mina berhenti memandangnya “Aku mau ke asrama dulu.”
Nyai Mina mengangguk “Ajak Naila untuk sarapan, mungkin dia sakit karena tadi umma nggak lihat.”
Dila menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya melangkah ke tempat tinggal santriwati, mengetuk pintu Naila beberapa kali dan baru pada ketukan dibuka dengan penampilannya menggunakan pakaian mini.
“Astaghfirllah gimana kalau umma atau abi yang ngetuk tadi?”
“Kalau abimu ya rezeki,” jawab Naila santai “Ngapain kesini? Memang sudah jam berapa?”
“Kamu bau amis banget sih?” Dila menutup hidungnya saat mengatakan itu dan tidak peduli pada pertanyaan Naila “Mandi sana ditunggu umma buat sarapan di rumah.”
“Ok, tunggu disini.” Dila mengangguk membuat Naila mengambil peralatan mandinya dan langsung keluar menuju kamar mandi luar.
Menggelengkan kepala melihat kelakuan dari Naila, seketika dirinya tersadar jika sahabatnya tadi keluar menggunakan pakaian mini tanpa menutupnya sama sekali. Dila menutup mata sambil berdoa semoga tidak ada yang melaporkan perbuatan Naila, memilih membaringkan badannya tapi terhenti saat mencium aroma tidak enak dimana aromanya sama dengan yang ada di tubuh Naila dan Fabian, menggelengkan kepala tanda dengan semua pikiran-pikiran negatifnya.
“Bantu aku lepas seprai dong,” ucap Naila yang mengejutkan Dila.
Mengikuti permintaan Naila melepaskan seprai dan menggantinya dengan yang baru, Dila tidak bertanya apa-apa mengenai pergantian juga aroma yang tercium dari seprai. Naila sendiri telah berganti pakaian yang lebih tertutup dari sebelumnya, keluar dari kamar Naila menuju rumah Dila yang berada di depan. Santriwati disini sudah tahu jika Naila memiliki keistimewaan, selalu mendapatkan perhatian lebih dari keluarga Gus Wirto selain sebagai sahabat Dila juga membutuhkan orang di sekitarnya agat berubah, hanya saja Naila memilih tinggal di asrama bukan rumah pribadi Gus Wirto.
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam, Umma kamu ada di belakang nyiapin makan.”
Dila dan Naila mencium punggung tangan Gus Wirto sebelum akhirnya masuk kedalam, mendapati Nyai Mina menyiapkan makanan membuat mereka langsung membantunya.
“Sudah siap tesnya ini?”
“InsyaAllah.”
Nyai Mina tersenyum mendengar jawaban Dila dan Naila bersamaan “Naila sudah bisa kan?”
“InsyaAllah, Nyai.”
“Sudah siap makanannya, kamu panggil Abi sama Fabian.”
“Fabian?” Naila menatap Dila yang hanya mengangguk “Fabian pecandu itu?” sekali lagi Dila mengangguk “Ngapain dia disini?”
“Gus Wirto yang meminta agar bisa mengawasi dengan tepat,” sahut Nyai Mina yang sedikit membuat Dila bernafas lega “Dila sana panggil mereka berdua.”
Mengikuti permintaan Ummanya melangkah ke tempat dimana Gus Wirto berada, hanya saja tidak menemukan Fabian sama sekali.
“Ditinggal saja karena tadi Abi suruh bantuin Tirta di kandang sapi.”
“Ngapain disana?”
“Ambil susunya sama sekalian sembelih kambing disana.”
“Memang bisa? Abi percaya?”
“Kita lihat saja daripada dia merasakan kesakitan, menghilangkan pikiran dari sakit dengan adanya kegiatan. Nanti setelah makan Abi kesana jadi kamu siapkan saja makannya dia.”
Kedatangan Dila dan Gus Wirto sudah ditunggu oleh Nyai Mina dan Naila, mereka sudah mulai lapar dan memulai makan setelah mengucapkan doa. Makan dalam keadaan diam karena memang adat yang ditetapkan oleh Gus Wirto, setelah selesai sesuai dengan permintaan abinya Dila meletakkan di kotak bekal untuk makan Fabian di kandang nantinya.
“Bekal buat siapa?”
“Abi tadi minta dibuatkan bekal buat salah satu santrinya.”
“Nantikan dapat makan dari tempat santri,” ucap Naila yang dijawab dengan mengangkat bahu oleh Dila “Aku aja yang bawa kalau gitu.”
Dila menggelengkan kepalanya “Abi yang bawa katanya.”
Memastikan makanan telah masuk semua, membawa kotak itu keluar dimana Gus Wirto sedang menggunakan sepatu andalannya saat berada di kandang. Nyai Mina sendiri setelah makan langsung bersiap karena harus bersama dengan santriwati yang menggunakan obat terlarang dan melakukan kekesaran pada lingkungannya.
“Bekal buat Abi?” tanya Nyai Mina saat melihat kotak diatas meja “Abi belum kenyang?”
“Udah kenyang cuman buat calon,” jawab Gus Wirto dengan menatap lembut pada Nyai Mina “Abi berangkat dulu.”
Berdiri membuat kedua wanita beda usia langsung mencium punggung tangannya, Gus Warto menghentikan pandangannya saat menatap Naila. Perlahan Naila melangkah dan langsung mencium punggung tangan pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah pengganti disaat ayah kandungnya entah hilang kemana.
“Kamu ada jadwal keluar pondok?” Gus Wirto menatap Dila lembut.
“Nanti setelah maju hafalan.”
“Naik apa? Kalau nggak ada kendaraan sekalian sama Tirta saja karena sepertinya ada jadwal keluar, tapi mau kemana?”
“Kampus, Bi.”
“Naila kalau nggak ada acara di rumah ini saja bantuin Nyai kamu.”
“Ya, Om.”
Gus Wirto keluar dari rumah setelah memberikan banyak pesan pada kedua wanita muda, Dila segera masuk kedalam kamar diikuti Naila. Membersihkan diri sebelum berangkat menuju salah satu kelas untuk menyerahkan hafalan, saat keluar mendapati Naila membuka jilbabnya berbaring di ranjang miliknya.
“Om tadi bilang calon apa?”