"Untuk apa bicara soal kedamaian kalau hidup ini butuh uang?" tanya Nadia, nada sinis terdengar jelas dalam suaranya, memecah keheningan ruangan.
Semua menoleh ke arah suara itu, sebagian kaget, sebagian lainnya hanya terdiam, menanti reaksi pria yang berdiri di atas panggung. Pria itu adalah Akbar, sosok sederhana yang tampak berbeda di antara tamu-tamu lain yang hadir dengan busana mewah dan rapi.
Akbar tersenyum tipis, tak menunjukkan tanda terganggu sedikit pun oleh pertanyaan itu. Dengan tenang, dia menatap ke arah Nadia, sorot matanya lembut tapi tajam. "Kedamaian bukan tentang uang, Nadia," ucapnya pelan namun cukup jelas didengar oleh semua yang hadir.
Nadia mendengus pelan, merasa tertantang dengan balasan tersebut. "Kedamaian bukan tentang uang? Kamu tahu nggak, dunia ini berputar karena uang? Semua yang ada di sini, termasuk acara amal ini, membutuhkan uang agar bisa berjalan."
Akbar hanya mengangguk, tetap tenang. "Betul, tapi uang hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuan kita seharusnya lebih dari sekadar materi."
"Jadi menurutmu, tujuan hidup itu apa? Kalau bukan untuk sukses?" tanya Nadia, nada sinisnya tak berkurang sedikit pun.
"Sukses adalah saat kita bisa hidup tanpa perlu terus-menerus mengejar sesuatu di luar diri kita," jawab Akbar dengan senyum yang tetap tenang.
Nadia merengut, merasa semakin tidak nyaman. Ia tak menyukai cara pria itu berbicara-tenang, tanpa nada emosi, seolah-olah benar-benar yakin dengan setiap kata yang diucapkannya. Namun, justru ketenangan itu yang membuat Nadia semakin terganggu.
Sofi, sahabatnya yang duduk di samping, menyenggolnya pelan. "Udah, Nad. Jangan terlalu keras."
Namun, Nadia mengabaikannya. Ia menatap Akbar dengan penuh rasa penasaran bercampur sinis. "Kamu hidup sederhana mungkin karena kamu belum pernah merasakan yang namanya kenyamanan. Jadi, wajar aja kamu nggak paham betapa pentingnya uang dalam hidup ini."
Akbar tersenyum, tetap tenang. "Saya tidak menyalahkan siapa pun yang menginginkan kenyamanan, Nadia. Semua orang berhak hidup layak. Tapi pertanyaannya adalah, apakah yang kita kejar itu benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan yang kita tanam karena terbiasa membandingkan diri?"
Kata-katanya menghantam Nadia. Ia terdiam sejenak, merasa seperti ditelanjangi di hadapan orang-orang. Selama ini, ia berusaha memiliki yang terbaik, menjalani hidup yang dianggap sukses. Tapi, mengapa kata-kata Akbar terdengar begitu menantang? Mengapa ia merasa seolah pria itu sedang berbicara langsung padanya?
"Jadi menurutmu hidup tanpa uang itu lebih baik?" Nadia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah.
"Tidak begitu," jawab Akbar lembut. "Uang penting, sangat penting. Tapi hidup kita lebih berharga dari sekadar angka-angka di rekening. Mungkin kita bisa memiliki segalanya, tapi hati kita kosong. Mungkin kita terlihat bahagia, tapi di dalam diri kita, ada yang hilang."
Nadia merasakan perasaan aneh. Seakan-akan Akbar sedang berbicara langsung ke dalam hatinya. Ia tidak suka ini. Ia tidak suka merasa rapuh.
"Omong kosong," gumamnya, walau tak cukup pelan untuk menyembunyikan nada frustrasi dalam suaranya.
Akbar tetap tersenyum, tak terpancing oleh ketegangan yang terlihat di wajah Nadia. "Bukan omong kosong, Nadia. Mungkin kamu belum pernah merasakannya, atau mungkin kamu belum sadar. Tapi di saat kita berhenti mengejar hal-hal yang membuat kita letih, kita bisa mulai melihat apa yang benar-benar berarti."
Nadia ingin membalas, namun kata-kata Akbar terus bergema di kepalanya, seolah menghancurkan semua dinding yang selama ini ia bangun.
Sofi menarik napas dalam, lalu menepuk bahunya pelan. "Udah, Nad. Kita di sini untuk acara keluarga, bukan buat debat."
Nadia memalingkan wajah, berusaha mengendalikan emosinya. "Iya, aku tahu," jawabnya lirih, tapi tatapannya tak lepas dari Akbar, pria yang berhasil mengusik pikirannya dengan cara yang tak terduga.
Akbar menyudahi sesi bicaranya dan turun dari panggung. Saat ia mendekati meja Nadia, ia berhenti sejenak, menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. "Maaf kalau tadi ada kata-kata saya yang mungkin menyinggungmu, Nadia. Saya hanya ingin berbagi pemahaman."
Nadia merasa ingin menghindar, tetapi tatapan Akbar membuatnya sulit berpaling. "Kamu terlalu yakin dengan apa yang kamu katakan, seakan-akan kamu sudah tahu semuanya."
Akbar mengangguk pelan. "Saya tidak tahu semuanya, Nadia. Saya hanya tahu apa yang membuat saya merasa damai. Mungkin apa yang saya katakan tadi hanya cocok untuk sebagian orang, atau mungkin juga tidak."
"Jadi kamu nggak yakin juga?" Nadia menyipitkan mata, mencoba mencari kelemahan di balik jawaban Akbar.
Akbar tersenyum lagi. "Saya yakin pada kedamaian yang saya rasakan. Itu cukup buat saya."
Saat itu, Nadia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang terguncang. Selama ini, ia hidup dengan keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah yang terbaik, mengejar kesuksesan, meraih apa yang ia inginkan. Namun, kata-kata Akbar seolah membuatnya ragu.
Sebelum Nadia sempat berkata apa-apa lagi, seorang tamu lain menghampiri Akbar, memintanya untuk berbicara. Akbar pun pamit dengan anggukan singkat, meninggalkan Nadia yang masih terpaku di tempat.
Sofi menarik lengannya pelan, mencoba mengajaknya duduk kembali. "Nad, kamu kenapa sih? Kelihatan banget kalau kamu terusik sama dia."
Nadia menghela napas panjang, mengalihkan pandangan dari punggung Akbar yang semakin menjauh. "Aku nggak tahu, Sof. Dia... dia ngomong seakan-akan semua yang aku percaya selama ini salah."
Sofi tersenyum tipis. "Mungkin kamu cuma nggak terbiasa mendengar perspektif lain."
Nadia diam, merenung. "Mungkin," gumamnya pelan.
Selama sisa acara, Nadia tak bisa fokus. Kata-kata Akbar terus berputar di kepalanya, menghantui pikirannya. Ia selalu berpikir bahwa hidup yang sempurna adalah memiliki segalanya. Tapi kenapa sekarang ia merasa kosong? Mengapa kata-kata Akbar begitu mengusik, seolah ia baru menyadari bahwa ada hal yang hilang dalam hidupnya?
Saat acara selesai, Nadia pamit pada Sofi dan langsung berjalan keluar ruangan. Udara malam yang dingin menyambutnya, tetapi itu tidak cukup untuk mengusir perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya.
Langkahnya terhenti ketika melihat Akbar berdiri di halaman, mengamati langit malam dengan tenang. Ada kedamaian di wajahnya, sesuatu yang langka dalam hidup Nadia.
Tanpa sadar, Nadia melangkah mendekat. "Kamu nggak takut kedinginan di sini?"
Akbar menoleh, tersenyum. "Udara malam ini menyegarkan. Membantu kita berpikir."
Nadia tersenyum kecil, menatap langit bersama Akbar. "Aku nggak ngerti gimana bisa kamu hidup seperti itu, seolah nggak ada yang kamu kejar."
Akbar menatapnya dengan lembut. "Kedamaian bukan berarti berhenti mengejar sesuatu, Nadia. Kedamaian adalah saat kita tahu apa yang harus kita kejar, dan apa yang harus kita lepaskan."
Nadia terdiam, kata-kata itu kembali mengusik. Selama ini, apa yang sebenarnya ia kejar?
"Aku nggak tahu apa yang harus aku lepaskan," akhirnya ia mengakui, lirih.
"Kadang, kita hanya butuh diam sejenak, memberi ruang untuk mendengarkan hati kita sendiri," jawab Akbar, suaranya lembut seperti angin malam.
Nadia merasa tenggelam dalam kedamaian yang Akbar bicarakan. Namun, ia tahu ketenangan ini tak akan bertahan lama. Hidupnya penuh dengan tuntutan, ambisi, dan ekspektasi. Bagaimana mungkin ia bisa hidup seperti Akbar?
"Nadia," suara Akbar menyela lamunannya. "Kamu nggak harus punya jawaban sekarang. Kadang, perjalanan menemukan jawaban itu lebih penting daripada jawabannya sendiri."
Nadia menghela napas panjang. Mungkin Akbar benar, tapi semua ini terasa begitu asing, begitu jauh dari kehidupannya yang biasa. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang meronta, seakan ingin merasakan kedamaian yang Akbar bicarakan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah panggilan dari salah satu rekan kerja. Ekspresinya berubah, kembali pada realitas yang ia kenal.
"Aku harus pergi," ucapnya cepat pada Akbar.
"Kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin dia?"
Nadia bergumam, menatap kosong pada layar laptop yang menampilkan laporan bisnis yang harusnya dia kerjakan sejak tadi. Namun, sudah berjam-jam duduk tanpa satu pun kata yang terbaca. Pikirannya justru terjebak pada satu sosok yang baru kemarin ditemuinya-Akbar.
Bayangan tentang ketenangan pria itu, ketegasannya dalam menjawab setiap pertanyaan, kesederhanaan pakaiannya, serta kalimat-kalimatnya yang berhasil menusuk Nadia seperti slide rusak di dalam kepalanya. Sekeras apa pun dia menepisnya, bayangan itu semakin kuat tertanam.
"Kenapa aku harus peduli sama orang kayak dia?" Nadia bergumam lagi sambil menutup laptopnya dengan kesal.
Sofi, yang kebetulan duduk di sebelahnya, mengangkat alis, tampak bingung melihat tingkah Nadia. "Nad, ngomong sama siapa sih? Dari tadi kayak orang gila ngomong sendiri."
Nadia hanya mendesah, mencoba menyembunyikan kegelisahan di hatinya. "Nggak, Sof. Cuma lagi kepikiran kerjaan aja."
Sofi tersenyum tipis, seolah bisa membaca kebohongan itu. "Ya, keliatan aja. Lagian, dari kemarin kamu aneh banget. Penasaran ya sama Akbar? Hayo ngaku!"
Jantung Nadia berdegup lebih cepat. Ia tidak menyangka Sofi bisa menebak. "Hah? Kenapa tiba-tiba kamu ngomongin dia?"
Sofi mengangkat bahu santai. "Kalau penasaran ya cari tahu! Temuin orangnya, ajak ngobrol. Kalau nggak berani, samperin aja kalau dia lagi ngisi kajian di masjid deket kampus kita. Siapa tahu kamu dapet jawabannya dari sana?"
Nadia terdiam, menatap sahabatnya yang tampak tahu segalanya. Dia ingin menyangkal, tapi apa gunanya? Mungkin Sofi benar. Mungkin ini semua karena rasa penasaran. Bagaimana bisa seseorang hidup sederhana tapi tampak sebahagia itu?
"Aku cuma heran aja, Sof. Gimana bisa ada orang kayak dia, yang kelihatannya bahagia meski nggak punya banyak?" kata Nadia, akhirnya mengakui sedikit dari apa yang mengganggunya.
Sofi menatapnya sambil tersenyum jahil. "Makanya, cari tahu. Kalau memang penasaran, kenapa nggak datengin dia? Setauku, dia sering ngisi kajian. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang kamu cari," ujarnya, tak melepaskan senyumnya yang jahil.
Nadia tertawa pendek, meski terasa sedikit aneh. Ikut kajian? Itu bukan dirinya. Hal-hal berbau religius selalu dia anggap sebagai sesuatu yang asing, tidak penting. Hidupnya selama ini dipenuhi ambisi dan pencapaian dunia.
Namun, semakin dipikirkan, rasa penasarannya semakin menguat. Bagaimana jika dia pergi? Sekali saja. Mungkin setelah itu, ia bisa mengusir bayangan Akbar dari pikirannya.
---
Keesokan harinya, Nadia akhirnya memutuskan untuk hadir di kajian itu. Masjid kecil dekat kampus tampak tenang, hanya beberapa orang lalu lalang. Rasa gugup menyelimutinya saat melangkah masuk. Baru kali ini Nadia berada di tempat seperti ini tanpa acara resmi atau undangan keluarga.
Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Suara Akbar terdengar dari dalam. Ia berbicara dengan nada rendah, tapi setiap kata yang terucap terdengar penuh makna. Nadia berdiri di pintu, menyaksikan Akbar berbicara dengan beberapa orang yang duduk mendengarkan dengan tenang.
"Kedamaian itu bukan sesuatu yang kita cari di luar diri kita. Dia ada di sini," Akbar menunjuk dadanya sendiri, "di dalam hati yang ridho pada apa yang Tuhan berikan."
Nadia menarik napas panjang, berusaha memahami kata-katanya. Ridho pada apa yang Tuhan berikan? Baginya, hidup adalah tentang mencapai sesuatu yang lebih, bukan sekadar menerima apa yang ada.
Seseorang menoleh ke arah pintu, menyadari kehadiran Nadia, dan memberi isyarat agar dia masuk. Dengan sedikit ragu, Nadia melangkah masuk lalu duduk di belakang, mencoba tidak mencolok.
"Kedamaian bukan berarti kita berhenti berusaha atau bermimpi. Tapi, kedamaian adalah saat kita tidak terikat pada hasil akhirnya. Kita tetap berusaha, namun menyerahkan segalanya pada-Nya," lanjut Akbar, suaranya tenang dan dalam.
Nadia memandang Akbar dengan sorot mata penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa hidup tanpa merasa terikat pada hasil dari usaha mereka? Bagaimana bisa seseorang merasa cukup hanya dengan menyerahkan semuanya?
Kajian itu berlanjut dengan penjelasan-penjelasan yang bagi Nadia terasa seperti paradoks. Mengapa harus merasa cukup, padahal dunia ini menawarkan begitu banyak hal? Mengapa menyerahkan segalanya pada Tuhan, sementara manusia bisa berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan?
Saat kajian selesai, orang-orang mulai bubar dan sebagian menghampiri Akbar untuk bertanya atau sekadar berbincang. Nadia tetap duduk di tempatnya, menatap Akbar dari jauh, memikirkan apakah ia harus mendekat atau tidak. Dia ingin bertanya, ingin tahu lebih dalam, tapi ada sesuatu yang menahannya.
Namun, Akbar menyadari kehadiran Nadia. Ia menoleh, dan ketika mata mereka bertemu, Akbar tersenyum ramah, isyarat agar Nadia mendekat.
Dengan ragu, Nadia melangkah maju, hati kecilnya berdebar. Ini adalah pertemuan kedua mereka, namun rasanya begitu intens. Ketika sampai di depan Akbar, pria itu menyapanya dengan lembut, "Nadia. Apa kabar?"
Nadia mengangguk, berusaha terlihat biasa saja. "Kabar baik. Aku cuma ... penasaran aja ... dengan apa yang kamu bilang kemarin."
Akbar tersenyum tipis. "Oh ya? Menurutmu bagaimana?"
Nadia menggigit bibirnya, bingung harus menjawab apa. "Aneh. Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa yakin begitu. Kamu bilang hidup tanpa ambisi lebih baik, tapi ... apa nggak ada yang kamu pengen raih?"
Akbar memandangnya dengan tatapan tenang. "Ambisi itu penting, Nadia. Tapi, apa artinya jika semua yang kita raih tidak membawa ketenangan? Terkadang, saat kita mengejar sesuatu, kita lupa apa yang sebenarnya kita cari."
Nadia terdiam. Kata-katanya mengena, meski tak bisa dijelaskan mengapa. "Jadi, maksudmu aku selama ini mengejar yang salah?"
Akbar menggeleng. "Bukan salah atau benar. Hanya saja, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, apa yang benar-benar penting. Apa yang membuat kita tenang. Kalau kita terus mencari tanpa tahu apa yang kita cari, bukankah kita hanya berputar-putar?"
Nadia merasa hatinya berdesir. Seumur hidup, ia terbiasa mengejar target, mencapai prestasi, meraih pengakuan. Namun kini, kata-kata Akbar menggugurkan semua yang ia pegang teguh.
"Aku nggak tahu," Nadia mengakui, suaranya lirih. "Aku cuma ... aku cuma nggak ngerti kenapa kamu bisa hidup dengan cara itu, seakan-akan semua hal duniawi nggak penting."
Akbar menatapnya dengan pandangan penuh pengertian. "Nadia, semua yang ada di dunia ini penting. Tapi tidak ada yang lebih penting daripada kedamaian dalam diri kita. Kita boleh saja mengejar apapun yang kita inginkan, selama kita tidak kehilangan arah."
Detik itu, Nadia merasa seperti terhempas ke dalam pemahaman baru. Ada sesuatu dalam dirinya yang terusik, sesuatu yang ia takutkan selama ini. Seakan-akan ia baru menyadari bahwa, di balik semua kesuksesan dan pencapaiannya, ada lubang yang tak terisi.
Akbar mengamati wajahnya yang tampak bingung. "Mungkin, kamu perlu waktu untuk memikirkannya. Jangan terburu-buru, Nadia."
Nadia mengangguk, masih dalam keterdiaman. Ia belum menemukan jawaban, tapi rasa penasaran itu tidak kunjung hilang. Justru semakin kuat.
"Terima kasih, Akbar," ucapnya pelan sebelum berbalik dan berjalan keluar masjid.
Di luar, angin malam menyapu wajahnya, membawa kesejukan yang menenangkan. Namun, kedamaian itu hanya sebentar. Dalam beberapa langkah, ia kembali tenggelam dalam pikiran-pikirannya.
Semalaman, bayangan Akbar dan kata-katanya terus membayangi Nadia. Perasaan yang ia rasakan sulit dijelaskan, seolah-olah ada dorongan untuk mencari lebih dalam lagi. Akhirnya, Nadia tahu satu hal: ia tidak bisa berhenti di sini. Ada sesuatu dalam hidupnya yang belum ia temukan, dan, entah bagaimana, ia merasa Akbar adalah kuncinya.
Setelah semingguan lebih sibuk dengan pekerjaan, Nadia merasa jenuh. Sejak percakapan pertamanya dengan Akbar di kajian yang lalu, pikirannya seakan dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban memuaskan. Setiap malam, ia teringat ucapan Akbar tentang kedamaian batin, ambisi, dan kesederhanaan yang terasa asing namun terus-menerus menggoda pemikirannya. Meski ia mencoba mengabaikannya, ada perasaan gelisah yang tak mau hilang.
"Nad, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Kayak nggak fokus," tanya Sofi, teman baiknya, saat mereka sedang makan siang di kantin kantor.
Nadia menghela napas, sambil memainkan sendok di mangkuknya. "Aku cuma... Ada yang aneh aja di pikiran."
Sofi menaikkan alisnya, tersenyum geli. "Aneh? Jangan bilang gara-gara cowok?"
"Apa sih, Sof!" Nadia mendengus, merasa malu. "Bukan gitu maksudku. Ini tuh... tentang hal-hal yang dibahas di kajian yang minggu lalu kita datangi."
"Oh, soal Akbar dan kedamaian batin itu?" Sofi tersenyum lebar. "Berarti kamu masih penasaran sama dia, dong?"
Nadia terdiam, tidak ingin mengakui perasaannya yang sebenarnya. "Aku cuma merasa... ucapan dia ada yang nggak masuk akal buat aku. Kayak ambisi itu nggak penting, atau materi nggak punya arti... Aku nggak ngerti gimana bisa hidup kayak gitu."
Sofi menepuk bahu Nadia. "Yah, kalau penasaran, kita dateng aja lagi ke kajiannya minggu ini. Siapa tahu, jawaban yang kamu cari ada di sana."
Nadia berpikir sejenak, mempertimbangkan saran Sofi. Dalam hatinya, ada dorongan kuat untuk menemui Akbar lagi, bukan hanya untuk mendapatkan jawaban, tapi mungkin juga untuk sedikit menantangnya. Dia tak ingin mengakui rasa ketertarikannya, tapi tak dapat menyangkal bahwa Akbar memicu sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Tanpa sadar, Nadia mengangguk setuju.
---
Di Minggu sore, Sofi datang menjemput Nadia. Mereka menuju ke masjid tempat kajian Akbar dilangsungkan, dan meski Nadia mencoba terlihat tenang, dalam hatinya ia merasa cemas sekaligus penasaran.
"Tenang aja, Nad. Kamu nggak perlu sok cuek gitu, aku tahu kamu penasaran sama dia," goda Sofi sambil tersenyum lebar.
"Bukan penasaran sama dia, Sof," Nadia mendengus, berusaha menyangkal. "Aku cuma mau ngerti kenapa dia bisa hidup dengan prinsip yang... kayak gitu."
Sofi hanya tertawa kecil, tidak membalas. Mereka masuk ke ruangan kajian yang mulai penuh dengan peserta. Nadia memilih duduk di barisan belakang, mencoba menjaga jarak. Meski berusaha terlihat tak tertarik, matanya terus mengikuti gerak-gerik Akbar yang sedang bersiap di depan ruangan.
Ketika sesi kajian dimulai, Akbar langsung membahas tentang kedamaian batin dan pentingnya melepaskan hal-hal yang membebani hati. Kalimatnya penuh makna, sederhana namun dalam. Di tengah penjelasannya, Akbar menyebutkan bahwa "kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa menerima diri apa adanya, tanpa perlu pengakuan dari orang lain."
Nadia tertegun, merasa kalimat itu menohok langsung ke hatinya. Ia ingin langsung menanggapi, tapi memilih menahan diri hingga sesi tanya jawab. Sofi menyikutnya pelan, berbisik, "Nad, kamu keliatan serius banget dengerin dia."
"Apa sih, Sof," balas Nadia, sedikit canggung. Namun dalam hati, ia tahu Sofi benar.
Setelah Akbar menyelesaikan pembicaraannya, sesi tanya jawab dimulai. Seorang pria paruh baya, Rahman, mengangkat tangan pertama kali. "Maaf, Akbar, saya setuju kalau kedamaian itu penting, tapi bukankah kita juga perlu kestabilan finansial untuk merasa tenang?"
Akbar tersenyum. "Kedamaian memang bisa hadir saat kita merasa cukup, Pak Rahman. Namun, yang saya maksud adalah rasa cukup itu sendiri harus datang dari dalam hati. Ketenangan tidak hanya dari apa yang kita miliki, tapi juga dari penerimaan kita atas keadaan."
Mendengar itu, Nadia tak tahan lagi untuk bertanya. Dengan nada yang terdengar ketus, ia bertanya, "Kalau kedamaian itu datang dari hati, kenapa kita harus berusaha mencapai sesuatu? Apa nggak sama aja dengan menyerah?"
Akbar menatap Nadia dengan pandangan tenang, menjawab dengan lembut bahwa kedamaian bukan berarti berhenti berusaha. Dialog mereka terus berlanjut, dengan Nadia yang terus mencoba menggali dan menantang perspektif Akbar. Rahman dan beberapa peserta lain ikut memberikan pendapat mereka, membentuk diskusi yang hangat.
Setelah sesi kajian selesai, Nadia merasa pikirannya semakin kacau. Ia menatap Akbar dari jauh, merasa masih belum puas dengan jawaban-jawabannya, namun juga semakin tertarik untuk memahaminya lebih dalam. Saat mereka hendak pergi, Sofi menyarankan untuk mampir ke kedai kopi di seberang masjid.
"Biar kita nggak langsung pulang, siapa tahu kamu bisa lebih tenang dulu," ujar Sofi sambil menarik tangan Nadia.
Di kedai kopi itu, mereka memesan minuman sambil duduk di sudut ruangan. Sofi terus menggodanya tentang Akbar, tetapi Nadia hanya tertawa kecil, setengah berusaha menyangkal. Namun, ia tak bisa menutupi bahwa pandangan hidup Akbar memang memengaruhi pikirannya.
"Kamu serius banget tadi, Nad. Aku belum pernah lihat kamu kayak gitu sebelumnya," kata Sofi, tersenyum penuh arti.
"Aku cuma nggak ngerti gimana dia bisa berpikir kayak gitu, Sof. Semua hidupku, aku selalu ngejar prestasi, pencapaian, dan pengakuan. Terus sekarang dia bilang kalau semua itu nggak penting? Rasanya... aneh."
Sofi menatapnya lembut. "Mungkin ada sesuatu yang bisa kamu pelajari dari dia, Nad. Siapa tahu, pemikirannya bisa ngasih kamu perspektif baru."
Nadia terdiam, menatap kopi di depannya sambil merenung. "Aku nggak tahu, Sof. Tapi... aku rasa aku mau datang lagi ke kajiannya minggu depan. Ada sesuatu di dalam diri dia yang bikin aku penasaran."
Sofi tersenyum puas. "Akhirnya ngaku juga, ya."
Setelah itu, mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, Nadia kembali pada rutinitas pekerjaannya. Namun, pikirannya terus kembali pada diskusi yang ia hadiri kemarin. Saat ia menatap layar komputernya, bayangan tentang kedamaian batin dan ambisi terus mengganggu pikirannya.
Di kantor, Nadia mencoba fokus, tetapi beberapa kali ia termenung, bahkan lupa akan pekerjaannya. Rekan-rekannya memperhatikan perubahan dalam dirinya dan bertanya-tanya ada apa. Tapi Nadia hanya mengangkat bahu, tersenyum, berusaha meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang salah.
Namun, dalam hati, Nadia menyadari ada sesuatu yang berubah. Kata-kata Akbar, meski sederhana, terus mengiang dalam benaknya. Ia mulai mempertanyakan apakah selama ini ia benar-benar mencari kedamaian atau hanya mengejar sesuatu yang fana. Meskipun ia tidak ingin mengakuinya, bagian dari dirinya merasa ingin memahami pandangan hidup Akbar.
Malam harinya, saat berbaring di tempat tidur, Nadia memikirkan kembali setiap dialog yang terjadi di kajian itu. Kata-kata Akbar terasa bagaikan teka-teki yang belum ia pecahkan. Akhirnya, ia mengambil keputusan.
"Baiklah, minggu depan aku akan ke kajian itu lagi," gumamnya dalam hati, sambil menarik selimut. "Aku harus tahu lebih banyak tentang cara pandang hidupnya."
Dengan tekad itu, Nadia merasa hatinya sedikit lebih tenang. Namun, di balik ketenangan itu, ada perasaan cemas yang tak ia pahami. Entah mengapa, bayangan tentang Akbar terus menghantui pikirannya.