Langkah kaki Nayara Elvard terdengar mantap ketika ia keluar dari ruang pameran di pusat kota Jakarta. Sorot matanya yang tajam dan percaya diri masih menyisakan kilau kemenangan. Hari ini, ia baru saja menutup kontrak besar sebagai desainer interior dengan salah satu perusahaan properti ternama. Usianya memang masih muda-baru menginjak dua puluh empat tahun-namun bakat dan kerja kerasnya sudah membuat namanya mulai dikenal di kalangan elit bisnis.
"Nayara, kau benar-benar membuatku bangga," ujar Sinta, asistennya, sambil merapikan map presentasi. "Klien tadi bahkan kelihatan terpesona dengan konsep desainmu."
Nayara tersenyum kecil. "Bukan cuma terpesona, Sin. Mereka terjebak. Kalau mereka menolak, mereka akan kehilangan kesempatan untuk berbeda. Dan aku tahu persis, di dunia bisnis, semua orang takut terlihat biasa-biasa saja."
Ia berjalan anggun menuju mobilnya. Gaun formal berwarna krem lembut yang dikenakannya membuat dirinya tampak profesional sekaligus berkelas. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, sedikit bergelombang di ujung, memberi kesan natural namun tetap menawan.
Namun, di balik kepercayaan diri itu, ada sesuatu yang tak diketahui banyak orang. Nayara menyembunyikan kegelisahan yang selama beberapa bulan terakhir semakin mendesak.
Teleponnya bergetar di dalam tas. Nama yang muncul di layar membuat senyumnya seketika pudar. "Papa."
Ia menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Halo, Pa..." suaranya berusaha tenang.
"Nayara, kau di mana sekarang?" suara berat itu terdengar tegas, tapi juga penuh tekanan.
"Baru selesai presentasi. Ada apa, Pa?"
"Kau pulang sekarang. Kita harus bicara serius. Ada sesuatu yang... tidak bisa ditunda lagi."
Nada ayahnya, Damar Elvard, membuat dada Nayara mengeras. Ia sudah bisa menebak. Masalah ini, yang selama beberapa bulan terakhir coba ia abaikan, kini benar-benar dihadapkan padanya.
Sore itu, di ruang kerja rumah keluarga Elvard, Nayara duduk berhadapan dengan ayahnya. Damar Elvard, seorang pengusaha besar yang sempat berjaya di bidang tekstil, kini tampak menua dengan wajah yang sarat kekhawatiran.
"Apa benar kabar yang kudengar, Pa?" Nayara memecah keheningan. "Perusahaan kita hampir bangkrut?"
Damar menghela napas berat. "Bukan hampir lagi, Nay. Kita... sudah di ambang. Kalau tak ada suntikan dana, dalam tiga bulan ke depan, semua yang kubangun bisa hancur."
Nayara terdiam, jemarinya meremas gaun yang ia kenakan. Ia tahu kondisi keuangan keluarga tidak sebaik dulu, tapi ia tak menyangka separah ini.
"Aku sudah mencoba segala cara," lanjut Damar. "Pinjaman, investor, menjual sebagian aset... tapi tidak cukup. Dan... ada satu-satunya jalan keluar."
Tatapan Nayara langsung menegang. Ia tahu, ayahnya sedang menuju ke arah yang tidak ia sukai.
"Arshen Daveraux." Nama itu akhirnya keluar dari mulut sang ayah.
Dada Nayara berdegup kencang. Tentu ia tahu siapa pria itu. Semua orang tahu. Seorang CEO muda berusia 29 tahun, pemilik Daveraux Corp yang menguasai berbagai sektor bisnis, mulai dari properti, teknologi, hingga media. Pria itu terkenal dingin, penuh perhitungan, dan nyaris mustahil didekati.
"Pa..." suara Nayara bergetar. "Jangan bilang..."
Damar menunduk, suaranya berat. "Ia menawarkan bantuan. Tapi dengan syarat... kau harus menikah dengannya."
Nayara membeku. Kata-kata itu menusuk telinganya seperti pisau tajam.
"Kontrak pernikahan," tambah Damar. "Hanya formalitas, katanya. Tapi dengan itu, perusahaan kita selamat."
Malam itu, Nayara tak bisa tidur. Ia duduk di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan wajahnya sendiri.
"Menikah kontrak? Dengan pria yang bahkan tak aku kenal dekat?" gumamnya lirih.
Ia tahu Arshen Daveraux hanya dari berita, wawancara, dan gosip media. Pria itu digambarkan sebagai sosok tanpa hati, lebih memilih angka dan strategi ketimbang hubungan manusia. Beberapa kali ia terlihat bersama perempuan cantik, tapi tak pernah bertahan lama. Baginya, hubungan hanyalah transaksi.
"Lalu aku?" Nayara mendengus kecil. "Aku akan jadi apa di matanya? Sebuah kesepakatan bisnis?"
Pikirannya berputar. Ia memang berambisi, ia memang suka tantangan, tapi ini... terlalu jauh. Namun, di sisi lain, ia tak sanggup melihat ayahnya kehilangan segalanya. Perusahaan itu adalah hidup ayahnya.
Keesokan harinya, Nayara menghadiri pertemuan dengan Arshen Daveraux. Pertemuan itu berlangsung di sebuah restoran mewah, ruangan VIP tertutup.
Saat ia masuk, sosok pria itu sudah duduk menunggunya. Arshen memakai setelan jas hitam rapi, dasi abu-abu, dan jam tangan mewah yang menegaskan statusnya. Wajahnya tampan, garis rahangnya tegas, sorot matanya tajam-namun juga dingin, seolah tak pernah mengenal senyum.
"Nayara Elvard," ucapnya datar ketika ia berdiri menyambut. "Silakan duduk."
Nayara menarik kursi dan duduk, berusaha menahan kegugupan.
"Jadi, kau sudah tahu tujuannya," kata Arshen langsung, tanpa basa-basi. "Aku bisa menyelamatkan perusahaan keluargamu. Dengan satu syarat: kau menikah denganku. Kontrak, jangka waktu tiga tahun. Setelah itu, bebas."
Nada bicaranya seakan sedang menawarkan kerja sama bisnis, bukan pernikahan.
Nayara menatapnya dalam, mencoba membaca sosok di hadapannya. "Kenapa aku?" tanyanya akhirnya.
Alis Arshen terangkat sedikit, tapi ekspresinya tetap dingin. "Karena kau cukup menarik untuk dijadikan istri di mata publik, namun tidak cukup penting untuk mengganggu urusanku."
Ucapan itu membuat hati Nayara perih, tapi ia tak menunjukkan kelemahannya.
"Kalau aku menolak?" Nayara menguji.
Arshen bersandar di kursi, menatapnya tajam. "Maka perusahaan keluargamu akan runtuh. Dan aku tidak akan mengulurkan tangan lagi."
Hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Nayara meremas tangannya di bawah meja. Ia benci merasa terpojok. Namun pada saat yang sama, ia tahu inilah satu-satunya cara menyelamatkan ayahnya.
Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata Arshen.
"Baiklah," katanya tegas. "Aku terima."
Sudut bibir Arshen sedikit terangkat, tapi bukan senyum hangat-lebih seperti senyum kemenangan. "Bagus. Mulai sekarang, kita terikat kontrak. Jangan pernah berpikir ini lebih dari sekadar kesepakatan, Nayara."
Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan sederhana tapi mewah digelar. Media meliput, publik bersorak, dan rumor beredar cepat. Banyak yang terkejut-seorang desainer muda menikah dengan CEO muda paling berkuasa? Itu terdengar seperti kisah dongeng, tapi Nayara tahu betul, kenyataannya jauh berbeda.
Di altar, ketika janji pernikahan diucapkan, Arshen hanya memandanginya sekilas, matanya dingin tanpa emosi.
Sementara itu, Nayara berusaha tersenyum. Dalam hatinya ia berbisik, Kalau ini permainanmu, Arshen... aku akan ikut bermain. Tapi jangan salah. Aku tidak akan sekadar jadi boneka kontrakmu.
Ia menoleh sebentar pada pria itu, tatapannya penuh tekad.
Aku akan membuatmu jatuh. Entah kau suka atau tidak.
Hari pertama setelah pesta pernikahan, vila mewah di kawasan elit Menteng yang kini resmi menjadi rumah mereka terasa begitu asing bagi Nayara. Bangunan tiga lantai dengan arsitektur modern minimalis itu memang memukau siapa pun yang melihat, tapi bagi Nayara, ia merasa seperti baru saja dipenjara dalam dinding kaca yang berkilau.
Ia melangkah pelan di ruang tengah yang luas, memandangi interior mahal yang ditata rapi. Tidak ada sentuhan hangat di ruangan itu, seolah semuanya hanya pamer kekayaan tanpa jiwa.
"Rumah atau museum?" gumam Nayara lirih.
Suara langkah terdengar dari tangga. Arshen Daveraux muncul dengan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam, sederhana tapi aura wibawanya tetap kuat. Rambutnya ditata rapi, wajahnya segar, seakan pesta pernikahan semalam sama sekali tidak melelahkan.
Ia menatap Nayara sekilas. "Kau masih di sini? Kupikir kau akan berangkat ke kantormu lebih awal."
Nada suaranya datar, seperti berbicara pada rekan kerja, bukan istri.
Nayara mengangkat alis. "Kau bahkan tidak bertanya apakah aku tidur nyenyak semalam."
"Aku tidak perlu tahu," jawab Arshen singkat sambil menuruni anak tangga.
Nayara menyilangkan tangan di depan dada. "Kalau semua pernikahanmu dingin begini, aku bisa membeku lebih cepat daripada es batu di kulkas."
Arshen berhenti, menoleh menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. "Aku sudah bilang dari awal, ini hanya kontrak. Jangan berharap lebih."
"Dan aku sudah bilang pada diriku sendiri," Nayara mendekat, menatap mata pria itu berani, "kalau aku akan menjadikanmu nyata, bukan sekadar tanda tangan di atas kertas."
Tatapan mereka bertabrakan, keras dan tak mau kalah. Arshen akhirnya menghela napas, lalu berjalan ke arah pintu tanpa menanggapi lebih jauh. "Aku ada rapat. Jangan tunggu aku makan malam."
Pintu tertutup. Keheningan kembali menguasai ruangan. Nayara mendengus, "Sombong sekali... Kita lihat nanti, Daveraux."
---
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang aneh. Arshen pergi pagi sebelum matahari terbit, pulang larut malam, dan hampir tak pernah makan bersama Nayara. Semua staf rumah tangga bekerja dengan disiplin, seolah sudah terlatih untuk tidak banyak bicara.
Nayara merasa hidupnya berubah drastis. Dulu, setiap pagi ia bisa bangun dengan santai, merancang desain, atau menghadiri pertemuan klien. Sekarang, ia harus menghadapi kenyataan sebagai istri kontrak pria yang bahkan tidak mau menatapnya lebih dari lima detik.
Suatu sore, Nayara duduk di ruang kerja pribadinya di lantai dua, menatap laptop dengan dahi berkerut. Ia sedang merancang konsep interior sebuah hotel butik, tapi pikirannya buyar. Bayangan wajah dingin Arshen terus menghantui.
"Kenapa aku malah memikirkan dia?" gumamnya kesal. Ia menutup laptop dengan keras, lalu berdiri. "Sudah cukup. Kalau dia bisa bersikap acuh, aku bisa bersikap lebih heboh."
Nayara mengambil ponsel, mengenakan gaun merah menyala, lalu keluar rumah tanpa memberitahu siapa pun.
---
Malam itu, Arshen baru kembali dari kantor sekitar pukul sepuluh. Saat masuk ke rumah, ia mendapati ruang tengah kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Nayara.
Ia melepas jas, lalu bertanya pada salah satu staf. "Nyonya di mana?"
"Maaf, Tuan... Nyonya keluar sore tadi dan belum kembali," jawab pelayan ragu.
Alis Arshen berkerut. Ia mengambil ponselnya, mencoba menahan rasa tidak suka yang tiba-tiba menguasai dirinya. Ia bukan pria yang peduli soal hal pribadi, tapi entah kenapa, kabar bahwa Nayara pergi tanpa izin membuat darahnya mendidih.
"Dia pikir ini hotel? Pergi sesuka hati tanpa bilang padaku?" geramnya lirih.
Tak lama kemudian, pintu utama terbuka. Nayara muncul dengan tawa kecil, ponselnya masih menempel di telinga. Ia baru saja pulang dari pesta kecil bersama sahabat-sahabatnya.
Begitu melihat Arshen berdiri di ruang tamu dengan wajah tegang, langkahnya terhenti.
"Oh... ternyata kau di rumah," katanya ringan.
"Jam berapa ini?" suara Arshen dingin, tapi tajam.
Nayara melirik jam tangannya. "Baru lewat sepuluh malam. Masih awal untuk kota sebesar Jakarta."
Arshen mendekat, menatapnya dalam. "Kau pergi tanpa izin. Kau pikir aku tidak peduli?"
Nayara tersenyum miring. "Tentu saja tidak peduli. Bukankah itu yang kau inginkan? Pernikahan kontrak tanpa keterikatan?"
Arshen menatapnya tajam, lalu tiba-tiba menarik ponsel dari tangannya dan meletakkannya di meja. "Kau istriku, Nayara. Kontrak atau tidak, kau tetap terikat padaku. Dan aku tidak suka kau pulang larut malam seperti ini."
Nayara menahan napas sejenak. Ada getaran aneh dalam suaranya-bukan hanya sekadar posesif, tapi seolah benar-benar marah.
Ia melipat tangan di dada. "Kalau kau ingin mengontrolku, kau harus lebih dari sekadar kata-kata dingin, Daveraux."
Ketegangan menggantung di udara. Tatapan mereka kembali terkunci. Untuk sesaat, Nayara melihat sesuatu di mata Arshen-bukan hanya kemarahan, tapi juga... rasa takut kehilangan?
Namun, pria itu segera membalikkan badan. "Aku tidak ingin membicarakan ini. Tidurlah. Kita akan menghadiri jamuan makan malam bisnis besok. Jangan membuatku malu."
---
Keesokan harinya, Nayara mempersiapkan diri dengan serius. Ia mengenakan gaun hitam elegan, rambutnya disanggul rapi, dan riasannya dibuat sempurna. Ia tahu acara malam ini penting-bukan hanya untuk Arshen, tapi juga untuk citra dirinya sebagai 'Nyonya Daveraux' di mata publik.
Di dalam mobil, suasana hening. Arshen duduk di sampingnya, memandang keluar jendela. Nayara menggigit bibir.
"Kau selalu begini? Tidak bicara sama sekali?" tanya Nayara akhirnya.
Arshen menoleh sekilas. "Aku bicara jika perlu."
"Dan kau tidak menganggap aku perlu?" Nayara mengangkat alis.
Arshen menatapnya lebih lama kali ini. "Kau suka mencari masalah."
"Bukan mencari masalah," Nayara menegaskan. "Aku hanya tidak tahan diam. Lagipula, kita pasangan suami istri. Orang-orang akan melihat kita. Apa kau mau mereka mengira kita saling membenci?"
Arshen terdiam. Kalimat itu menohok. Ia tahu Nayara benar.
Saat mobil berhenti di depan hotel bintang lima, ia akhirnya berkata pelan, "Baiklah. Malam ini, kita akan terlihat sempurna. Jangan membuat drama."
Nayara tersenyum kecil. "Itu lebih baik. Setidaknya aku tahu kau bisa berpura-pura."
---
Acara malam itu berjalan penuh gemerlap. Para pengusaha, investor, dan tokoh penting hadir. Kilauan lampu kristal menyinari aula besar, musik lembut mengalun.
Begitu masuk, semua mata tertuju pada mereka. Arshen dengan wibawanya, Nayara dengan pesonanya. Bersama, mereka tampak seperti pasangan glamor yang sempurna.
"Arshen Daveraux, kau benar-benar tahu cara memilih istri," komentar salah satu rekan bisnisnya sambil tersenyum lebar. "Nyonya Daveraux, anda mempesona."
Nayara membalas dengan senyum hangat. "Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha menyesuaikan diri dengan dunia Arshen."
Kalimat itu membuat beberapa orang tertawa kecil, tapi Arshen justru menatap Nayara tajam. Ia tidak menyangka istrinya bisa begitu luwes berinteraksi.
Sepanjang acara, Nayara berhasil mencuri perhatian. Cara bicaranya yang cerdas, senyumnya yang tulus, dan caranya bergaul membuat banyak tamu terpesona. Arshen, yang biasanya paling dominan di ruangan, malam itu justru beberapa kali hanya diam memperhatikan.
Di akhir acara, ketika mereka kembali ke mobil, Arshen akhirnya berkomentar. "Kau... mengejutkanku."
Nayara tersenyum lelah. "Kau kira aku hanya pajangan?"
Arshen menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajah. "Kau bukan pajangan. Tapi jangan terlalu percaya diri. Ini masih kontrak."
Nayara menoleh padanya, matanya berkilat. "Kontrak atau tidak, aku akan membuatmu melihatku lebih dari sekadar istri di atas kertas, Arshen."
Hening kembali memenuhi mobil. Namun, jauh di dalam hatinya, Arshen tahu-kata-kata Nayara tadi membuat dinding es yang selama ini ia bangun sedikit retak.
Dan Nayara tahu... retakan itu adalah celah pertama menuju kemenangannya.
Suasana pagi di vila Daveraux kembali sepi. Langit Jakarta masih berwarna abu-abu ketika Nayara melangkah ke dapur, hanya ditemani aroma kopi yang baru diseduh. Ia masih mengenakan piyama satin biru muda, rambutnya diikat sederhana.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa salah satu pelayan sopan.
"Pagi," jawab Nayara singkat, tersenyum ramah.
Ia duduk di meja makan panjang yang sepi, hanya ada roti panggang, salad, dan kopi panas. Meja ini terlalu luas untuk satu orang, pikir Nayara getir. Sejak hari pertama tinggal di rumah ini, ia selalu makan sendirian. Arshen pergi terlalu pagi atau memilih sarapan di kantor.
Namun, kali ini berbeda. Suara langkah sepatu terdengar dari arah tangga. Nayara menoleh, dan matanya membesar ketika melihat Arshen masuk ke ruang makan.
Pria itu tampak segar dengan setelan jas biru gelap, rambut disisir rapi. Ia jarang sekali muncul di pagi hari.
"Oh? Tuan Besar akhirnya turun juga?" Nayara menyindir sambil menyesap kopi.
Arshen menarik kursi dan duduk di seberang meja. "Jangan berpikir aku datang untuk menemanimu. Aku hanya butuh makan cepat sebelum rapat."
Nayara menahan tawa. "Baiklah, minimal aku tidak jadi patung porselen yang duduk sendiri."
Pelayan segera menyiapkan sarapan untuk Arshen, sementara Nayara memperhatikannya diam-diam. Caranya memegang garpu, tatapan dingin matanya, bahkan cara ia memotong roti-semuanya penuh kendali.
"Jadi, kau memang tak pernah santai, ya?" tanya Nayara iseng.
"Apa maksudmu?" Arshen mengangkat alis.
"Lihat dirimu. Bahkan saat sarapan, kau tampak seperti sedang menandatangani kontrak miliaran. Semua terukur, semua kaku."
Arshen menatapnya datar. "Itu sebabnya aku berhasil, Nayara. Bukan sepertimu yang hidup dengan spontanitas bodoh."
Nayara pura-pura tersinggung. "Hei! Spontanitas itu membuat hidup berwarna. Kau seharusnya berterima kasih punya istri sepertiku. Aku bisa menyelamatkanmu dari jadi robot es."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arshen sedikit terangkat, meski hanya sepersekian detik. Ia cepat-cepat menunduk, menyembunyikan ekspresi itu.
Nayara menatapnya dengan geli. Jadi, kau bisa tersenyum juga ternyata, batinnya.
---
Siang harinya, Nayara memutuskan berkunjung ke kantornya sendiri. Ia masih menjalankan studio desain meski kini berstatus istri Arshen. Begitu masuk ke ruangannya, ia disambut riuh tim kecilnya.
"Nayara! Selamat, ya! Semua berita membicarakan pernikahanmu!" seru Rani, salah satu desainer junior.
Nayara tersenyum canggung. "Terima kasih... meski aku lebih suka dikenal karena karyaku, bukan pernikahan."
Ia memeriksa beberapa desain yang tengah dikerjakan tim. Walau sibuk, pikirannya tetap melayang pada Arshen. Kenapa aku repot-repot memikirkannya? keluhnya dalam hati. Tapi entah kenapa, wajah dingin itu selalu muncul di kepalaku.
Sore hari, ia kembali ke vila. Rumah itu masih sepi, tapi kali ini Nayara punya ide.
---
Malam menjelang. Nayara sengaja mengenakan gaun santai berwarna putih yang sederhana tapi menonjolkan kecantikannya. Ia menyalakan lilin di meja makan, memerintahkan staf menyiapkan makan malam lengkap.
Ketika Arshen pulang hampir pukul sembilan, ia tertegun melihat pemandangan itu.
"Apa ini?" tanyanya dengan nada curiga.
"Makan malam," jawab Nayara ceria. "Kau tahu, tradisi manusia normal. Dua orang duduk, makan bersama, berbicara. Pernah dengar?"
Arshen menatap meja itu, lalu menatap Nayara. "Aku tidak punya waktu untuk permainan."
"Ini bukan permainan. Ini... usaha," Nayara menekankan.
"Apa kau tidak paham? Aku tidak membutuhkan-"
"Aku yang butuh," potong Nayara cepat. "Aku butuh duduk denganmu, walau hanya setengah jam. Apa itu terlalu sulit, Daveraux?"
Keheningan menyusul. Arshen menatap Nayara lama, seolah mencoba membaca maksudnya. Akhirnya, tanpa berkata apa-apa, ia duduk.
Makan malam itu berlangsung hening selama beberapa menit. Hanya suara sendok dan garpu beradu dengan piring.
Nayara akhirnya bicara. "Aku mendengar kau menolak beberapa investor hari ini. Kenapa?"
Arshen menoleh tajam. "Kau memata-matai aku?"
"Aku hanya membaca berita," jawab Nayara santai. "Kau terlalu populer, sayang. Semua orang ingin tahu apa yang kau lakukan."
Kata "sayang" membuat rahang Arshen mengeras. "Jangan panggil aku begitu."
"Kenapa? Itu wajar untuk pasangan suami istri."
"Ini pernikahan kontrak."
Nayara menatapnya tajam. "Kontrak tetaplah pernikahan. Dan kalau aku ingin memanggilmu sayang, kau tidak bisa melarangku."
Arshen terdiam. Ada api kecil di mata Nayara yang membuatnya kehilangan kata-kata. Ia akhirnya menunduk, kembali fokus pada makanannya.
---
Beberapa hari kemudian, Nayara nekat melakukan hal yang lebih ekstrem.
Ketika Arshen sibuk bekerja di ruang kerjanya, Nayara masuk tanpa mengetuk.
"Aku bosan," katanya sambil duduk di sofa.
"Keluar," jawab Arshen dingin, matanya masih menatap layar laptop.
Nayara berpura-pura tuli. Ia berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan, menyentuh rak buku, melihat bingkai foto tua yang berisi gambar Arshen kecil bersama orangtuanya.
"Lucu juga kau dulu, rambutmu berantakan," komentar Nayara.
Arshen menutup laptop keras-keras. "Jangan sentuh apa pun tanpa izin."
"Kenapa? Takut aku menemukan rahasia kecilmu?" Nayara menantang.
Arshen bangkit, berdiri tepat di depannya. "Kau suka sekali bermain api, Nayara."
Nayara mendongak menatap matanya, berani. "Mungkin karena aku ingin tahu apakah es sepertimu bisa terbakar."
Ketegangan menggantung. Hanya beberapa sentimeter yang memisahkan mereka. Napas mereka hampir bertemu.
Untuk sesaat, Nayara pikir Arshen akan menciumnya. Namun, pria itu justru memalingkan wajah, melangkah menjauh.
"Keluar," katanya lirih, tapi suaranya berat. "Sebelum aku menyesal."
Nayara tersenyum samar. Jadi... kau mulai terguncang juga, Daveraux.
---
Malam itu, Nayara duduk di ranjang kamarnya sendiri. Mereka memang tidur terpisah-Arshen memilih kamar utama, sementara Nayara diberikan kamar tamu mewah.
Ia menatap langit-langit, memikirkan kejadian tadi. Jantungnya masih berdebar.
"Kenapa aku ikut merasakan ini?" bisiknya. "Seharusnya aku hanya ingin menaklukkannya. Bukan jatuh ke dalam permainan sendiri."
Namun, bagian kecil dari dirinya tahu-hubungan mereka sudah mulai berubah.
Dan di kamar sebelah, Arshen duduk di kursinya, menatap kosong ke dinding. Ia mengingat tatapan mata Nayara, jarak yang begitu dekat, dan godaan yang hampir tak bisa ia tahan.
Tangannya mengepal. "Bodoh... ini hanya kontrak. Hanya kontrak."
Namun, suara hatinya berbisik berbeda.
Hujan turun deras malam itu, membasahi seluruh kota dengan gemuruh dan kilatan petir yang sesekali menyambar langit. Dari balik jendela kamar hotel megah tempat ia tinggal untuk sementara, Nayara menatap kosong ke arah luar. Pikirannya kalut, bercampur aduk antara perasaan marah, takut, dan sebuah ketidakpastian yang membuatnya sulit bernapas.
Hari ini ia resmi menjadi "istri kontrak" dari seorang pria bernama Arshen Daveraux. Nama itu saja sudah cukup membuat banyak orang menunduk penuh segan. Arshen bukan hanya seorang CEO, tapi juga pengusaha yang reputasinya tersebar luas, dikenal dingin, penuh kontrol, dan tidak pernah membiarkan siapa pun menentangnya.
Dan sekarang, Nayara yang selama ini hanya sibuk dengan dunia desain, mimpi-mimpi busana, dan kehangatan keluarga kecilnya, harus terjebak dalam pusaran kehidupan seorang pria yang dunianya dipenuhi aturan, gengsi, dan kesepian.
Ia menarik napas panjang, lalu meraih segelas air di meja samping. Tenggorokannya kering sejak tadi. Dalam benaknya terngiang lagi peristiwa sore tadi, tepat setelah tanda tangan kontrak pernikahan itu dilakukan di hadapan pengacara pribadi Arshen.
---
"Aku hanya ingin kau ingat satu hal," suara Arshen terdengar dalam, dingin, dan penuh tekanan. Pandangan matanya menusuk, seolah menembus jantung Nayara.
"Kau ada di sisiku bukan karena cinta, bukan karena takdir, tapi hanya karena kontrak. Jangan sekali-kali mencoba melibatkan perasaanmu dalam perjanjian ini."
Nayara tersentak mendengarnya. "Aku tidak sebodoh itu," jawabnya cepat, berusaha terdengar tegar meski sebenarnya hatinya goyah.
Arshen mendengus, lalu berjalan melewati Nayara dengan langkah penuh wibawa. Aroma parfumnya samar tertinggal di udara. "Bagus. Pertahankan itu. Aku tidak ingin drama yang tidak perlu."
Kata-kata itu terus membekas di kepala Nayara. Ia tahu sejak awal pernikahan ini hanya perjanjian-sebuah kesepakatan bisnis terselubung yang melibatkan keluarganya dan perusahaan besar milik Arshen. Tapi mendengar langsung dari mulut pria itu, dengan tatapan mata sedingin es, membuatnya semakin sadar: ia benar-benar terperangkap.
---
Kembali ke kamar hotel, Nayara menggenggam erat segelas air itu. "Jadi... beginilah rasanya," gumamnya lirih.
Ia memejamkan mata, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ia sanggup melewati semua ini. Kalau ia menyerah sekarang, maka semua perjuangan keluarganya, mimpinya, dan harga dirinya akan runtuh.
Ketukan pintu mendadak memecah keheningan. Nayara buru-buru menegakkan tubuh.
"Nyonya Daveraux, ini saya, Lina," suara pelayan pribadi yang ditugaskan untuknya terdengar dari luar.
Nayara membuka pintu, memperlihatkan Lina yang membawa baki berisi makan malam.
"Pak Arshen menyuruh saya mengantarkan ini," ujar Lina pelan, seakan takut salah bicara.
"Makan malam?" Nayara mengerutkan dahi. "Tapi... aku tidak merasa lapar."
"Pak Arshen bilang Nyonya harus tetap makan, walau tidak lapar sekalipun," jawab Lina hati-hati.
Ada nada perintah yang terselip, khas Arshen. Nayara menghela napas, tapi tetap menerima makanan itu.
"Baiklah. Taruh saja di meja."
Saat Lina keluar, Nayara menatap hidangan yang disiapkan. Sederhana, namun jelas bukan makanan yang asal dibuat. Ada salmon panggang, sup krim hangat, dan salad segar. Sekilas terlihat seperti bentuk perhatian, namun Nayara tahu-semua ini hanyalah bagian dari kendali Arshen.
"Dingin sekali caramu, tapi tetap saja kau memastikan aku makan." Bibir Nayara melengkung miris. "Apa ini caramu menunjukkan... kalau kau sebenarnya peduli?"
Ia menghela napas panjang, lalu perlahan mulai makan. Entah kenapa, ia tidak ingin kalah. Kalau ia mengabaikan makan malam ini, Arshen mungkin akan merasa menang. Dan Nayara tidak suka kalah begitu saja.
---
Keesokan harinya, Nayara terbangun lebih awal. Pagi itu ia harus menghadiri pertemuan bersama Arshen untuk pertama kalinya sebagai "istri kontrak". Mereka akan muncul di depan publik, menampilkan pernikahan bahagia yang sebenarnya penuh kepalsuan.
Nayara menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun putih sederhana dengan potongan elegan membalut tubuhnya. Ia menata rambutnya dengan rapi, lalu menambahkan lipstik lembut yang membuat senyumnya terlihat lebih manis.
"Kalau aku harus memainkan peran ini, maka aku akan melakukannya dengan sempurna," bisiknya pada diri sendiri.
Pintu kamar terbuka. Arshen berdiri di ambang, mengenakan setelan jas hitam yang jatuh sempurna di tubuh tegapnya. Tatapannya dingin, namun tidak bisa menutupi pesonanya.
"Kau siap?" tanyanya singkat.
Nayara mengangguk, lalu berdiri anggun. "Tentu. Bukankah ini hanya permainan peran? Aku terbiasa melakukannya."
Arshen menatapnya sejenak, bibirnya melengkung tipis seperti senyum sinis. "Kita lihat saja sejauh mana kau bisa bertahan."
---
Mereka tiba di gedung besar tempat konferensi pers diselenggarakan. Puluhan kamera menunggu, kilatan lampu kamera segera menyerbu begitu mereka melangkah turun dari mobil mewah itu.
Nayara tersenyum hangat, melingkarkan lengannya pada lengan Arshen. Sekilas, mereka tampak sebagai pasangan sempurna: pengusaha muda sukses dengan istrinya yang anggun. Namun, hanya mereka berdua yang tahu kebenarannya.
"Pak Arshen, apa benar pernikahan ini mendadak?" tanya seorang reporter.
"Cinta tidak bisa dijadwalkan," jawab Arshen datar, namun penuh keyakinan. Kata-kata yang manis di depan kamera, tapi kosong di balik kenyataan.
Nayara menambahkan dengan senyum ceria, "Kadang, kebahagiaan datang tanpa kita rencanakan. Dan saya bersyukur bisa menemukannya."
Kata-kata itu berhasil membuat semua orang terpana. Kilatan kamera semakin gencar. Dari sudut matanya, Nayara bisa melihat tatapan tajam Arshen yang jelas tidak suka. Tapi ia pura-pura tidak peduli.
Di dalam hati, ia tertawa kecil. Kalau kau ingin aku diam, kau salah memilih orang. Aku akan melawanmu dengan caraku.
---
Malamnya, kembali di kediaman mewah Arshen, suasana tegang kembali terasa.
"Jangan pernah bicara sembarangan di depan media," tegur Arshen dingin. "Apa yang kau lakukan tadi hampir menyingkap kepalsuan kita."
Nayara menatapnya berani. "Aku hanya berkata sesuatu yang mereka ingin dengar. Itu membuat kita terlihat nyata, bukan?"
"Tidak ada yang nyata dari ini." Arshen melangkah mendekat, tatapannya menajam. "Kau hanya bagian dari kontrak."
Nayara merasakan dadanya berdebar, bukan karena takut, tapi karena tantangan itu membuatnya semakin bersemangat. Ia tersenyum tipis.
"Mungkin menurutmu begitu. Tapi aku punya caraku sendiri. Aku tidak akan pernah menjadi boneka bisu, Arshen. Jika kau ingin aku memainkan peran, maka aku akan memainkannya dengan caraku."
Hening sejenak. Tatapan mereka bertemu, penuh ketegangan. Untuk pertama kalinya, kilatan emosi lain-entah marah, kagum, atau bahkan tertarik-tampak di mata Arshen.
Nayara tahu, pertempuran baru saja dimulai.
Suasana rumah besar Arshen malam itu sunyi, hanya terdengar detak jam antik di ruang tengah yang berdentang pelan. Setelah perseteruan kecil mereka usai, Nayara memilih masuk ke kamarnya lebih cepat. Ia butuh waktu untuk bernapas, menenangkan diri setelah berhadapan langsung dengan tatapan tajam Arshen yang seakan menguliti jiwanya.
Namun meski pintu kamar tertutup rapat, pikirannya tak bisa tenang. Kata-kata Arshen terus terngiang. "Tidak ada yang nyata dari ini. Kau hanya bagian dari kontrak."
Nayara menggenggam sprei dengan erat. "Kalau benar hanya kontrak, kenapa aku merasa jantungku berdegup begitu kencang setiap kali dia mendekat?" gumamnya pada diri sendiri.
Ia benci mengakuinya, tapi ada sesuatu dalam diri Arshen yang membuatnya tak bisa benar-benar membenci pria itu. Dingin, kasar, penuh kontrol-ya, semua itu benar. Tapi di balik sorot matanya, ada luka yang tak pernah ia sebutkan, ada jarak yang sengaja ia ciptakan dari dunia luar.
Keesokan paginya, Nayara bangun lebih awal. Ia memilih sarapan di teras, menikmati sinar matahari yang hangat. Lina, pelayan pribadi, sudah menyiapkan roti, buah segar, dan teh hangat.
"Pak Arshen sudah pergi?" tanya Nayara ringan sambil menyuap sepotong roti.
"Beliau ada di ruang kerja, Nyonya. Biasanya beliau mulai bekerja sejak pukul enam," jawab Lina pelan.
Nayara mendengus kecil. "Tidak heran kalau dia selalu terlihat begitu... dingin. Hidupnya hanya tentang pekerjaan."
Namun belum sempat ia menyesap teh, suara langkah sepatu terdengar mendekat. Arshen muncul, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambutnya masih sedikit berantakan, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang serius.
Tatapannya langsung tertuju pada Nayara. "Kau sarapan di sini?"
"Memangnya salah?" Nayara menoleh, senyumnya manis. "Aku hanya ingin udara segar. Bukankah istrimu berhak melakukan itu?"
Arshen menghela napas pendek, lalu duduk di kursi seberang tanpa banyak bicara. Ia mengambil secangkir kopi yang sudah disiapkan Lina, lalu menyesapnya perlahan.
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara burung di kejauhan.
"Jangan membuat pernyataan manis di depan media seperti kemarin lagi," ucap Arshen tiba-tiba, suaranya rendah tapi tajam.
Nayara menatapnya lekat. "Kenapa? Apa kau takut orang-orang benar-benar percaya kita pasangan bahagia?"
"Yang kutakutkan," jawab Arshen sambil menaruh cangkirnya, "adalah kau mulai percaya pada kebohongan itu sendiri."
Kata-kata itu menusuk Nayara. Ia ingin membalas dengan sinis, tapi lidahnya kelu. Karena di dalam hatinya, ia tahu-mungkin memang ada bagian kecil dari dirinya yang mulai goyah.
Siang harinya, Nayara memutuskan keluar rumah. Ia tak ingin terus merasa terkekang. Lina sempat panik karena belum terbiasa mengatur aktivitas "Nyonya rumah", tapi Nayara tersenyum meyakinkan.
"Aku hanya ingin jalan sebentar, Lina. Tidak usah khawatir."
Dengan mobil pribadi yang dikendarai sopir Arshen, ia menuju butik tempat ia dulu bekerja sebelum semua ini terjadi. Saat masuk, beberapa rekan kerjanya langsung menatap kaget.
"Nayara? Kamu... kamu sekarang benar-benar jadi istrinya Arshen Daveraux?" tanya salah satu rekannya, Anika, dengan nada setengah berbisik.
Nayara tersenyum tipis. "Ya, begitulah."
"Tapi bukankah dia..." Anika ragu melanjutkan, lalu menutup mulutnya cepat.
"Dingin? Menakutkan? Terlalu sempurna sampai tak tersentuh?" Nayara melanjutkan kalimat itu sendiri. Ia terkekeh kecil. "Ya, semua itu benar. Tapi hidup harus terus berjalan, kan?"
Di balik senyum itu, hatinya terasa perih. Ia ingin bercerita pada Anika, ingin meluapkan semua tentang kontrak ini, tapi ia tahu ia tak boleh. Rahasia ini hanya milik dirinya dan Arshen.
Sementara itu, di kantor, Arshen duduk di balik meja kerjanya. Tangannya sibuk menandatangani berkas, tapi pikirannya justru melayang entah ke mana.
Bayangan wajah Nayara saat tersenyum di depan kamera kemarin terlintas. Senyum itu bukan sandiwara-atau setidaknya terlihat begitu nyata hingga ia sendiri nyaris tertipu.
"Kenapa aku memikirkannya?" gumamnya kesal. Ia meraih ponsel dan menekan nomor. "Dimana Nayara sekarang?" tanyanya pada asisten pribadinya.
"Beliau sedang mengunjungi butik lama tempatnya bekerja, Tuan."
Dahi Arshen berkerut. "Dengan siapa?"
"Sendiri, Tuan. Hanya ditemani sopir."
Arshen terdiam. Ada rasa tak nyaman menusuk dadanya. Ia tak suka Nayara berada di luar pengawasannya. Bukan karena ia peduli-setidaknya ia meyakinkan dirinya begitu-tapi karena ia tahu dunia bisa kejam pada orang yang dekat dengannya.
Ia menutup ponsel, lalu berdiri. "Siapkan mobil. Aku akan menyusul."
Di butik, Nayara sedang melihat-lihat rancangan busana terbaru. Tangannya menyentuh kain satin berwarna biru lembut. Rasa rindunya pada dunia desain menyeruak.
"Andai aku tidak terjebak kontrak ini, aku mungkin masih di sini, bekerja dengan tenang," batinnya lirih.
Namun tiba-tiba suasana berubah saat pintu butik terbuka. Semua orang menoleh. Sosok tinggi tegap dengan aura dingin dan berwibawa masuk. Arshen.
Nayara membelalakkan mata. "Kau... apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku seharusnya yang bertanya begitu," jawab Arshen datar. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, membuat orang-orang buru-buru menunduk.
"Aku hanya ingin melihat teman-temanku," Nayara mencoba menjelaskan.
Arshen mendekat, jarak mereka hanya tinggal sejengkal. "Kau pikir kau bisa berkeliling tanpa pengawasan? Dunia luar tidak seaman itu. Kau istriku sekarang. Setiap langkahmu mencerminkan aku."
Nada suaranya membuat Nayara merinding. Tapi alih-alih takut, ia menegakkan kepala. "Atau kau hanya takut aku menemukan kebahagiaan di luar kendalimu?"
Tatapan Arshen mengeras. Untuk sesaat, mereka saling menantang tanpa kata. Udara seakan membeku.
Namun kemudian, dengan gerakan mengejutkan, Arshen menggenggam pergelangan tangan Nayara. "Kita pulang," ucapnya tegas.
Nayara terpaksa mengikutinya keluar. Semua mata menatap, sebagian dengan iri, sebagian dengan takut.
Dalam mobil, suasana tegang. Nayara menatap keluar jendela, sementara Arshen duduk kaku dengan rahang mengeras.
"Aku bukan tahananmu," kata Nayara akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. "Kau tidak bisa mengatur setiap langkahku."
"Kau tidak mengerti, Nayara," balas Arshen dingin. "Semua orang mengincar kelemahanku. Dan sekarang... kau adalah kelemahan itu."
Kata-kata itu membuat Nayara terdiam. Ia menoleh, menatap pria itu lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan samar di balik dinginnya.
"Kalau begitu," Nayara berbisik, "biarkan aku menjadi kekuatanmu, bukan kelemahan."
Arshen terdiam. Tatapannya bertemu dengan mata Nayara. Ada kehangatan yang berusaha ia tolak, tapi semakin sulit diabaikan.
Mobil terus melaju, namun di dalam hati mereka, sesuatu perlahan mulai bergeser.
Malamnya, Nayara berdiri di balkon kamarnya. Angin malam menyapu wajahnya. Ia memikirkan kata-kata Arshen di mobil tadi. Kelemahan.
"Kalau aku memang kelemahanmu... maka aku akan membuktikan aku bisa jadi kekuatanmu," gumamnya, menatap bintang-bintang.
Di kamar sebelah, Arshen duduk sendirian. Segelas wiski di tangannya tak disentuh. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Nayara. Senyumnya, keberaniannya, dan kalimat terakhirnya.
Arshen menghela napas berat. "Kenapa aku merasa... semakin sulit menjauh darimu, Nayara?
Arshen mulai melihat Nayara bukan sekadar bagian kontrak, sementara Nayara justru makin bertekad menembus dinding esnya.
Sudah hampir dua minggu sejak pernikahan kontrak itu berjalan, dan rumah besar Arshen kini memiliki ritme baru. Rutinitas mereka mulai terbentuk, meski semua masih terasa canggung dan penuh jarak.
Nayara sudah terbiasa dengan kesunyian kamarnya yang luas. Malam-malamnya hanya ditemani deru angin dari pendingin ruangan dan suara jam yang berdetak monoton. Di sisi lain, Arshen selalu menolak tidur sekamar di ranjang yang sama. Bukan karena ia tidak mampu, tapi karena pria itu menolak adanya keintiman yang bisa menimbulkan kedekatan emosional.
Maka, setiap malam, Nayara tidur di atas ranjang empuk dengan seprai putih bersih, sementara Arshen berbaring di sofa panjang di ruang tamu atau kadang di ruang kerja.
Awalnya Nayara menganggap itu menyebalkan. Baginya, meski pernikahan ini kontrak, mereka tetap harus memainkan peran suami istri, setidaknya di rumah. Namun lama-lama, ia terbiasa. Bahkan, ada bagian kecil dari dirinya yang merasa... lega. Ia punya ruang pribadi, bebas untuk bernapas tanpa tatapan tajam Arshen yang kadang membuatnya salah tingkah.
Malam itu, Nayara terbaring di ranjang, matanya menatap langit-langit kamar. Tidur tak kunjung datang. Di luar, hujan turun deras, membuat suasana semakin dingin. Ia memeluk guling, berusaha menghangatkan diri, tapi udara menusuk tulang.
"Aku benci hujan..." gumamnya lirih.
Ketika petir menyambar, Nayara spontan menutup telinganya dengan bantal. Ia memang tak pernah bisa terbiasa dengan suara guntur yang menggelegar.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya berderit pelan. Sosok tinggi dengan rambut sedikit berantakan muncul. Arshen.
"Kau belum tidur?" tanyanya datar, namun suaranya terdengar sedikit serak.
Nayara segera bangkit, duduk di ranjang sambil merapatkan selimut. "Petirnya terlalu keras. Aku tidak bisa tidur."
Arshen menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. "Aku sudah bilang kalau kau bisa memakai penyumbat telinga."
"Aku tidak suka. Aku butuh mendengar sekitarku, bukan terkurung dalam diam," jawab Nayara, menantang dengan nada lembut.
Arshen berjalan masuk, lalu duduk di kursi dekat jendela. Hujan deras membasahi kaca, memantulkan cahaya lampu kamar yang temaram. Ia tidak berkata apa-apa, hanya duduk diam dengan ekspresi serius.
"Kenapa kau di sini?" Nayara akhirnya bertanya.
"Karena kau tidak bisa tidur," jawabnya singkat.
Nayara terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Arshen malam itu. Tidak ada sindiran, tidak ada dingin yang menusuk. Hanya... datar, namun terasa seperti bentuk perhatian yang terselubung.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara hujan yang menemani. Nayara akhirnya berbaring kembali, tapi matanya tetap terbuka. "Arshen," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Kenapa kau selalu tidur di sofa? Apa ranjang ini terlalu sempit untukmu?" suaranya setengah bercanda, meski matanya menatap serius.
Arshen menoleh, menatapnya dalam. "Aku tidak ingin membuat batas antara kita kabur. Kau tahu sendiri pernikahan ini hanya kesepakatan."
Nayara tersenyum tipis. "Kalau begitu, mungkin aku harus berterima kasih. Aku jadi punya ranjang besar ini untukku sendiri."
Arshen menahan helaan napas, lalu menatap ke luar jendela lagi. "Kalau kau ingin aku tidur di sini, aku bisa."
Perkataan itu membuat Nayara sedikit kaget. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu buru-buru menutup wajah dengan selimut. "Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bertanya."
Arshen tak membalas. Tapi saat petir kembali menyambar, Nayara spontan menjerit kecil. Selimutnya terlepas, memperlihatkan wajahnya yang pucat.
Arshen bangkit, berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. "Kau selalu takut petir?" tanyanya.
"Aku... tidak suka suara keras."
"Takut berarti," koreksi Arshen tenang.
Nayara mendengus, lalu menatapnya. "Baiklah, ya. Aku takut. Kau puas sekarang?"
Arshen tidak menjawab. Ia hanya menatap Nayara, sorot matanya lebih lembut dari biasanya. Tangan pria itu terangkat, seolah ingin menyentuh rambut Nayara, tapi ia menahannya di udara. Sesaat kemudian, tangannya kembali turun.
"Aku akan duduk di sini sampai kau tertidur," ucapnya datar.
Nayara terdiam. Bagian dalam dadanya menghangat, meski wajahnya tetap berusaha terlihat biasa saja. Ia memejamkan mata, pura-pura tak peduli. Tapi senyum tipis muncul tanpa bisa ia cegah.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Nayara mulai menyadari sesuatu: Arshen memang keras kepala, dingin, dan posesif, tapi ada celah kecil di balik semua itu. Celah yang hanya terlihat sesekali, seperti malam ketika ia duduk menemaninya tidur.
Namun, bukan berarti hubungan mereka jadi lebih mudah. Justru sebaliknya.
Suatu pagi, Nayara turun ke ruang makan, menemukan Arshen sedang sarapan dengan tablet di tangannya.
"Selamat pagi," ucap Nayara riang.
Arshen hanya menoleh sekilas. "Pagi."
"Kau selalu sibuk bahkan saat makan," Nayara mengomentari.
"Aku tidak punya pilihan," jawab Arshen datar.
"Selalu ada pilihan, Arshen. Kau hanya menolak melihatnya."
Arshen menutup tabletnya, lalu menatap Nayara tajam. "Pilihan? Aku tidak hidup dengan kemewahan 'pilihan', Nayara. Setiap langkahku sudah diatur oleh tanggung jawab."
"Lalu kenapa kau memilih menikah denganku? Itu juga pilihan, bukan?" Nayara menantangnya balik.
Keheningan menyelimuti ruangan. Tatapan mereka bertemu, penuh ketegangan. Hingga akhirnya Arshen menaruh garpunya dengan sedikit keras. "Aku menikah denganmu karena keadaan. Jangan membalikkan kenyataan itu."
Kata-katanya menusuk, tapi Nayara menegakkan kepala. "Kalau begitu, biarkan aku membuktikan kalau keadaan ini bukan hanya tentang kesepakatan. Aku bisa membuatnya lebih berarti."
Arshen menatapnya lama, sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan meja. Hanya terdengar suara langkahnya yang menjauh.
Malam harinya, kembali ke rutinitas yang sama. Nayara di ranjang, Arshen di sofa ruang tamu. Namun kali ini, Nayara gelisah. Kata-kata pedas Arshen pagi tadi masih terngiang.
Ia bangkit, melangkah pelan keluar kamar. Lampu ruang tamu masih menyala. Di sana, Arshen berbaring miring di sofa, dengan jasnya terlipat rapi di kursi. Matanya terpejam, meski wajahnya terlihat lelah.
Nayara berdiri lama di ambang pintu, hanya menatap. Ada sesuatu yang menusuk dadanya. Pria ini, yang selalu terlihat kuat, ternyata juga bisa terlihat rapuh saat tertidur.
Perlahan, ia mengambil selimut tipis dari lemari, lalu menghampiri. Ia menutup tubuh Arshen dengan hati-hati. Saat melakukannya, wajah mereka begitu dekat hingga Nayara bisa merasakan hembusan napasnya.
Arshen bergumam pelan, seolah mendengar langkahnya. Matanya terbuka sedikit. "Apa yang kau lakukan?" suaranya serak.
"Aku hanya... memastikan kau tidak kedinginan," jawab Nayara lirih.
Arshen menatapnya lama, sebelum akhirnya menutup mata lagi. "Tidurlah. Jangan khawatirkan aku."
Nayara tersenyum samar. "Bagaimana bisa aku tidak khawatir?"
Ia kembali ke kamarnya, tapi malam itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang berubah. Jarak di antara mereka masih ada, tapi perlahan, satu demi satu, dinding yang memisahkan mulai retak.
Keesokan paginya, ketika Nayara bangun, ia menemukan selimut yang semalam ia taruh di tubuh Arshen kini terlipat rapi di kursinya. Sebuah catatan kecil tergeletak di meja riasnya.
Tulisan tangan rapi milik Arshen tertera di sana:
"Jangan terlalu baik. Itu hanya akan menyulitkan kita berdua."
Nayara menatap catatan itu lama, lalu tersenyum tipis. "Terlambat, Arshen. Aku tidak bisa berhenti."
Mereka tidur terpisah, tapi perlahan mulai muncul momen kecil perhatian yang membuat hubungan dingin mereka retak sedikit demi sedikit.