Selena melihat ke arah bawah. Sungguh mengejutkan, alamat yang tertulis di kertas putih itu adalah sebuah lokasi pemakaman.
Mungkinkah adik perempuan Harvey sudah meninggal? Namun, apa hubungannya kematian adik perempuan Harvey dengan ayahnya Selena? Selena mengenal Arya dengan baik, Arya tidak akan pernah menyakiti seorang gadis kecil.
Mengetahui bahwa kedua orang itu tidak akan mengungkapkan apa-apa lagi, Selena pun tidak terus mempersulit keduanya. Suasana selama perjalanan pun menjadi hening sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Keluarga Irwin.
Perasaan Selena bercampur aduk begitu kembali ke tempat yang sudah sangat familier dengan dirinya ini.
Chandra dengan sopan bertanya, "Apakah Nyonya ingin turun?"
"Tidak perlu, aku akan menunggunya di sini."
Proses perceraian ini adalah pertemuan terakhir antara dirinya dengan Harvey. Dia tidak ingin menambah masalah lagi. Apalagi setiap hal yang ada di sini membawa kenangan bagi mereka berdua. Dia tidak ingin terbawa perasaan lagi saat melihat pemandangan di depannya.
Yang harus disalahkan adalah Harvey yang dulunya pernah memanjakan dirinya dan takut kehilangan dirinya.
Sekalipun sekarang Harvey bersikap semakin dingin kepadanya, Selena tetap mengingat kebaikannya.
Jelas-jelas Harvey-lah yang seharusnya menjadi orang yang paling dibenci olehnya, tetapi dia tidak pernah tega untuk membenci pria itu.
Mesin mobil tetap hidup untuk terus menghangatkan tubuh Selena. Hanya Selena seorang diri di dalam mobil. Lambungnya kembali terasa sakit. Tubuhnya pun meringkuk, seperti udang kecil yang memeluk lututnya dengan erat, berjongkok di atas kursi mobil sambil menunggu langit menjadi semakin terang.
Malam hari datang lebih awal di musim dingin, sedangkan pagi hari tiba lebih lambat. Langit terlihat belum begitu terang dan masih berkabut pada pukul tujuh pagi.
Tampak daun-daun pohon gingko yang ada di halaman sudah berguguran. Pikiran Selena pun melayang ke masa lalu.
Pada saat musim buah berwarna emas ini berbuah, Selena ingin makan sup ayam dengan biji teratai dan gingko. Harvey pun memanjat pohon gingko setinggi lebih dari sepuluh meter, lalu memetikkan buahnya untuk Selena.
Daun-daun hijau terlihat berguguran, seakan-akan ini adalah hujan berwarna emas bagi Selena.
Pada saat itu, Harvey adalah orang yang ramah dan mudah bergaul dengan orang. Dia jago memasak dan sangat memanjakan Selena.
Sambil memikirkan hal itu, Selena sampai tidak sadar kalau dia sudah berjalan mendekat ke pohon itu sendirian. Meski pohon gingko itu masih ada di sana, tetapi semuanya sudah tidak sama lagi.
Daun-daun pada pohon itu sudah rontok sejak lama. Hanya tersisa beberapa daun layu yang belum rontok di ranting pohon. Sama seperti hubungannya dengan Harvey yang sedang berada di ujung tanduk.
Ketika berjalan keluar dari vila, Harvey pun melihat momen ini.
Gadis muda dengan sweater tipis berdiri di bawah pohon dengan kepala yang mendongak ke atas. Angin yang dingin meniup rambutnya.
Cuaca pada hari ini tidak seburuk cuaca pada beberapa hari sebelumnya. Sinar matahari pertama di pagi hari menyinari wajah Selena. Kulitnya yang putih hampir terlihat transparan, seperti seorang dewi yang akan menghilang.
Telapak tangan Selena masih terbungkus kain kasa. Anehnya, dia masih mengenakan pakaian yang dipakainya tadi malam. Wajahnya pun terlihat pucat.
"Harvey." Selena tidak menoleh, tetapi dia tahu orang yang datang itu adalah Harvey.
"Hmm."
Selena perlahan berbalik badan, tatapannya tertuju pada pria jangkung itu. Jelas-jelas mereka berdua sangat dekat satu sama lain, tetapi entah sejak kapan mereka mulai menjauh.
"Aku ingin minum sup ayam dengan biji teratai dan gingko buatanmu sekali lagi."
Di dalam mata Harvey yang gelap itu tampak ada kebingungan. Sesaat kemudian, dia berkata dengan dingin, "Selena, musim buah gingko sudah lewat, jangan buang waktumu lagi."
Dengan matanya yang sedikit memerah, Selena pun bergumam, "Anggap saja ini untuk memenuhi permintaanku yang terakhir sebelum bercerai. Apakah kamu tidak bisa melakukannya?"
Setelah tidak bertemu dengannya selama tiga bulan, Selena sepertinya telah banyak berubah.
Harvey memalingkan wajahnya ke arah pohon yang gundul itu. Terdengar nada bicaranya sudah tidak terlalu dingin, "Buah yang dibekukan sejak tahun lalu sudah tidak segar lagi. Jika kamu ingin makan, tunggu saja sampai pohon itu berbuah di tahun depan."
Tahun depan ...
Jari-jari Selena meraba kulit pohon yang kasar, dia takut tidak bisa bertahan selama itu.
"Harvey, apakah kamu sangat membenciku?" tanya Selena.
"Hmm."
Selena menoleh ke arah Harvey dan berkata dengan lembut, "Kalau begitu ... apakah kamu akan senang jika aku mati?"
Duarrr ...
Kata-kata Selena seperti guntur yang menghantam hati Harvey. Harvey merasa kepalanya dipenuhi dengan suara bergemuruh yang menyebabkan dia kehilangan akal sehatnya selama beberapa saat.
Beberapa saat kemudian, barulah dia kembali sadar dan berkata dengan dingin, "Cuma masak sup, ‘kan? Ayo masuk."
Sambil melihat Harvey berjalan menjauh, Selena sedikit tersenyum.
"Harvey, kamu takut aku mati, ‘kan?" pikirnya.
Di dalam benak Selena, muncul ide untuk membalas dendam. Dia tiba-tiba memikirkan bagaimana ekspresi Harvey jika mengetahui kematian dirinya suatu hari nanti.
Senang atau sedih?
Di dalam lemari es ada buah gingko yang sebelumnya telah disimpan. Harvey dengan cekatan mengeluarkan bahan-bahan makanan dan mencairkan esnya.
Saat melihat Harvey sedang sibuk, yang tersisa di dalam Selena hanya kepahitan yang tak ada habisnya. Ini mungkin terakhir kali Harvey memasak untuknya.
"Bagus juga," pikir Selena.
"Anggap saja sebagai sebuah kenang-kenangan."
Selena sedang memanggang ubi jalar di depan perapian. Aroma ubi jalar itu menyeruak ke mana-mana.
Dahulu, dia selalu berjongkok di sini untuk memanggang ubi jalar di musim dingin. Neneknya Harvey, yaitu Ella, akan bergegas datang begitu mencium aromanya. Ella sangat baik pada dirinya, bahkan memperlakukan Selena seperti cucu kandung sendiri.
Sayangnya, Ella juga telah meninggal dua tahun yang lalu. Suami Ella yang tidak ingin terus larut dalam kesedihan pun pindah ke luar negeri.
Rumah besar yang nyaman itu terasa dingin dan sunyi. Namun, ubi jalarnya masih tetap terasa manis dan wangi. Selena merasa tidak bersemangat karena tidak ada lagi sosok Ella yang berebut ubi jalar dengan dirinya.
Setelah makan ubi jalar panggang dan minum secangkir air hangat, rasa sakit di perut Selena pun terasa sedikit berkurang.
Saat tercium aroma wangi dari dapur, Selena bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke dapur. Dia melihat Harvey memasukkan sup ke dalam termos, kemudian menyendoknya lagi ke dalam mangkuk.
Selena yang dulu sangat dimanja oleh Harvey, sekarang sudah bukan lagi satu-satunya wanita yang disayangi oleh pria itu. Selena telah dibutakan oleh kebaikan Harvey di masa lalu, hingga tidak mau mengakui kenyataan.
"Supnya sudah matang," ujar Harvey yang tidak menyadari kalau Selena sedang merasa putus asa.
"Terima kasih."
Selena menatap semangkuk sup yang mengeluarkan aroma wangi. Masih seperti dulu, sangat wangi, terlihat lezat, dan menggugah selera. Namun, Selena tidak bernafsu lagi untuk makan saat ini.
"Sudah waktunya kita pergi ke Kantor Catatan Sipil."
Terlihat sedikit kemarahan terpampang di alis menawan yang dimiliki oleh Harvey. "Kamu tidak mau minum supnya dulu?" tanya Harvey.
"Tidak."
Dulu Selena sangat egois, Harvey selalu dengan sabar membujuknya.
Sekarang Harvey hanya menatap Selena dengan lekat, lalu menuangkan semua sup yang dipegangnya ke tempat cuci piring. Setelah itu, dia berjalan melewati Selena tanpa ekspresi sambil berkata, "Ayo pergi."
Harvey menyerahkan kotak makan tahan panas kepada Chandra sambil berkata, "Antarkan ini ke Perumahan Kenali."
"Baik, Pak Harvey."
Selena saat itu baru sadar bahwa hubungan mereka sudah tidak dapat diperbaiki lagi.
Kegigihannya sepanjang tahun ini hanyalah sebuah kekonyolan.
Selena berjalan cepat menuju mobil. Begitu dia melewati pohon gingko, angin dingin bertiup semilir. Daun terakhir yang awalnya bergantung pada pohon dan menolak meninggalkan pohonnya, akhirnya diam-diam rontok juga.
Selena mengulurkan tangannya untuk menangkap daun yang sejak awal sudah mati itu, lalu berkata dengan pelan, "Apa lagi yang harus dipertahankan?"
Selena dengan santai membuang dan menginjak daun yang rapuh itu sampai hancur.
Pintu mobil tertutup. Meskipun di dalam mobil ada pemanas, mereka berdua yang duduk terpisah terlihat seperti dunia yang sedang mengalami hari kiamat. Aura dingin terus terpancar dari mereka berdua.
Jalan menuju Kantor Catatan Sipil sangat mulus. Tidak ada kemacetan di sepanjang jalan. Yang mereka temui hanya lampu hijau. Tuhan seolah-olah sedang membukakan jalan untuk perceraian mereka.
Mereka akan sampai di tujuan setelah berbelok di persimpangan berikutnya. Ponsel Harvey berdering, lalu terdengar suara cemas Agatha, "Harvey, demam Harvest masih belum turun. Awalnya aku tidak ingin mengganggumu, tetapi barusan demamnya sudah mencapai 39 derajat. Aku sangat takut, cepatlah kemari ... "
"Aku akan segera ke sana."
Setelah menutup telepon, Harvey menatap sepasang mata Selena yang merah dan penuh kebencian itu. Selena bertanya dengan pelan, "Siapa nama anak itu?"
Suasana di mobil itu sangat hening, sehingga suara Agatha yang sedang panik menjadi terdengar nyaring. Selena dengan jelas mendengar kata "Harvest".
Dia masih ingat hari di mana dia mendapatkan laporan tes kehamilan. Dia bergegas berlari ke pelukan Harvey dengan penuh harapan sambil berkata, "Harvey, kamu akan menjadi seorang ayah! Kita akan punya anak! Aku sudah memikirkan nama bayi kita. Jika perempuan, kita beri nama Helena Irwin. Sedangkan jika laki-laki, kita beri nama Harvest Irwin. Itu adalah gabungan dari nama kita berdua, apakah menurutmu bagus?"
Selena sangat berharap dirinya tadi salah dengar. Namun, Harvey tidak menghindari tatapannya dan hanya menjawab, "Namanya Harvest Irwin."
"Bajingan!"
Selena mengangkat tangannya dan menampar Harvey. Kali ini Harley tidak menghindar dan membiarkan Selena menamparnya.
"Beraninya kamu memanggil anak yang dia lahirkan dengan nama anak kita!"
Anak itu adalah benteng terakhir Selena. Air matanya sudah seperti pecahan mutiara. Selena menerkamnya seperti orang gila sambil beraung, "Dasar iblis, kenapa Tuhan mengambil nyawa anak kita? Kenapa bukan kamu saja yang mati?"
Selena yang kehilangan akal sehatnya terus memukul-mukul Harvey dengan keras sambil berkata, "Dia tidak pantas diberi nama ini!"
Harvey meraih tangannya sambil memerintahkan Alex, "Kita pergi ke Perumahan Kenali."
Selena menjadi semakin mengamuk. "Sebentar lagi kita sudah sampai ke Kantor Catatan Sipil. Jika kamu ingin pergi, kamu harus bercerai denganku dulu," ujarnya.
"Demam anakku tidak kunjung turun, aku harus segera ke sana."
Selena berkata dengan marah, "Ayahku masih terbaring tak sadarkan di di rumah sakit, bahkan perawat yang menagih biaya rumah sakit membuatku tidak berani masuk ke rumah sakit! Memangnya hanya nyawa anakmu yang penting? Nyawa ayahku tidak penting?"
Saat mendengar Selena menyebut tentang Arya, ekspresi Harvey menjadi dingin. "Memangnya Arya layak dibandingkan dengan Harvest?" ungkap Harvey.
Emosi Selena sudah memuncak, sampai-sampai dia ingin menerkam dan menampar Harvey lebih keras lagi, tetapi tangannya ditahan dengan sangat kuat. Harvey pun dengan berteriak keras, "Apakah kamu belum puas bikin keribuatan?!"
Selena memperhatikan mobil itu berbalik arah. Padahal setelah belokan ini, mereka akan tiba di Kantor Catatan Sipil.
Untuk mencegahnya melawan lagi, Harvey memeluk Selena erat-erat dalam dekapannya. Pelukan yang dahulu menjadi kenyamanan terbesar bagi Selena, sekarang malah menjadi bagaikan penjara yang mengurung dirinya.
Tenaga Harvey begitu kuat, sehingga Selena tak berdaya untuk membebaskan diri. Dia pun hanya bisa meronta sambil berkata, "Apakah kamu begitu mencintai Agatha?"
Harvey sedikit bingung. Saat memeluk Selena, dia menyadari bahwa gadis ini bukan hanya menjadi begitu kurus, jika dibandingkan dengan setahun yang lalu, Selena benar-benar adalah dua orang yang berbeda. Meski tubuhnya dibalut pakaian, tetapi tetap saja tulang-tulangnya terlihat menonjol.
Gadis yang pernah begitu dicintainya seperti bunga yang indah di genggamannya itu, kini menjadi layu dari hari ke hari. Sungguhkah ini yang diinginkan Harvey?
Ketika baru saja timbul keraguan di dalam pikirannya, bayangan mayat perempuan yang menyedihkan itu muncul di benaknya. Tangan yang melingkar di pinggang Selena perlahan-lahan menjadi erat semakin erat.
Ketika kepalanya mendongak, kepedihan di mata Harvey pun menghilang, hanya menyisakan aura dingin yang luar biasa.
"Selena, jika kamu membuat keributan sekali lagi, percaya atau tidak kalau aku akan segera menyuruh seseorang mencabut tabung oksigen Arya?"
Tangan Selena mencengkeram erat pakaian Harvey, air matanya pun membasahi kemeja Harvey.
Harvey jelas-jelas pernah mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Selena meneteskan air mata lagi, tetapi sekarang dialah penyebab yang membuat Selena menangis.
Suasana di dalam mobil begitu sunyi dan mencekam, sehingga orang-orang merasa seakan sulit bernapas. Sesudah bisa menenangkan diri, Selena pun bergerak menjauhkan tubuhnya dari Harvey, lalu merapikan pakaian dan duduk dengan tegak.
Selena menghela napas dan berkata, "Kamu ingin pergi menemui putramu, itu adalah hakmu. Tapi jangan sampai masalahmu ini mengganggu rencana awal kita. Kamu tidak perlu khawatir aku akan menganggumu lagi. Jika kamu tidak ingin bercerai, aku tetap ingin bercerai. Aku tidak punya kebiasaan memungut barang bekas."
Harvey mengerutkan kening ketika mendengar kata "barang bekas", sementara Selena tetap lanjut berbicara tanpa menghiraukannya, "Aku akui bahwa aku terlalu naif di masa lalu, aku bahkan memiliki harapan yang tidak realistis terhadap dirimu. Sekarang aku sudah paham, lebih baik aku merelakan sampah tak berguna yang tidak bisa kupertahankan ini! Berikan uangnya kepadaku dan selesaikan administrasinya saat kamu punya waktu. Aku jamin akan segera datang kapan saja, aku tidak akan menyesalinya."
"Bagaimana jika aku tidak mau memberikannya?" tanya Harvey.
Selena menatap mata Harvey yang berwarna hitam pekat. Mata Selena yang baru saja tadi menangis, sekarang sudah menjadi jernih dan cerah. "Kalau begitu, aku akan melompat keluar dari mobil. Tidak ada gunanya lagi aku hidup jika ayahku tidak bisa terselamatkan."
Harvey mengeluarkan cek dan menulis sebuah nominal, lalu menyerahkannya kepada Selena sambil berkata, "Sepuluh miliar rupiah, sisanya akan kubayarkan setelah kita bercerai."
Selena tersenyum dingin sambil berkata, "Apa kamu begitu takut jika aku tidak jadi bercerai denganmu? Jangan khawatir, aku bahkan merasa jijik bersama denganmu meskipun hanya sedetik saja. Berhenti!"
Dia mengambil cek itu, lalu dengan keras menutup pintu mobil dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Akhirnya Ayah bisa diselamatkan!" pikir Selena.
Selena segera mencairkan cek tersebut. Hal pertama yang dia lakukan adalah melunasi tagihan medis, hal kedua yang dia lakukan adalah naik taksi menuju ke alamat yang diberikan Chandra.
Tempat itu adalah sebuah pemakaman keluarga yang mewah, di mana orang-orang yang dimakamkan di sana adalah orang kaya dan berpengaruh, termasuk Ella, neneknya Harvey. Selena membeli bunga kamboja favorit Ella.
Beberapa saat kemudian, Selena menemukan sebuah kuburan baru yang dikelilingi oleh pohon plum.
Pohon-pohon plum itu sudah berbunga dan akan segera mekar tidak lama lagi.
Batu nisan yang dingin itu terukir dengan nama yang tidak dikenalnya, "Makam Lanny Irwin."
Dia tahu bahwa Harvey sangat mencintai adik perempuannya. Setelah adiknya itu hilang, Harvey pun menjadikan hal itu sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan. Harvey tidak lagi mengizinkan orang lain untuk menyebut nama adiknya, sehingga Selena pun tidak tahu apa-apa tentang adiknya Harvey itu.
"Lanny Irwin, apakah itu namanya?" pikir Selena yang belum pernah mendengar nama itu.
Dia berjongkok dan melihat foto di batu nisan tersebut. Sepertinya itu adalah foto Lanny ketika berusia lima atau enam tahun sebelum menghilang. Wajahnya masih tampak imut dan tembam. Di antara alisnya, samar-samar bisa terlihat bayangan Harvey.
Selena masih belum mendapatkan petunjuk apa-apa. Dia pun memotret foto tersebut dengan ponselnya untuk dijadikan sebagai satu-satunya petunjuk.
Dia meletakkan bunga kamboja yang awalnya dia beli untuk Ella, lalu berlutut di depan batu nisan Lanny dan berkata, "Lanny, namaku Selena. Jika kamu masih hidup, kamu seharusnya memanggil aku sebagai kakak ipar. Oh tidak, seharusnya mantan kakak ipar. Aku minta maaf karena harus mengenalmu dengan cara seperti ini. Aku yakin aku akan menemukan pelaku sebenarnya yang membunuhmu ... "
Makam Ella tidak jauh dari sana. Foto Ella terlihat ramah dan penuh kasih sayang, senyumannya tetap sama seperti dulu.
Selena mengambil ubi jalar yang dipanggangnya di pagi hari dari dalam sakunya, lalu meletakkannya di depan batu nisan sambil berkata, "Nenek, aku datang menjenguk Nenek. Sekarang sudah memasuki musim dingin lagi. Sekarang aku tidak bisa berebut ubi jalar lagi dengan Nenek, ubi jalar bahkan tidak ada rasanya lagi bagiku."
Karena agak lelah setelah berdiri terlalu lama, dia pun duduk di samping batu nisan. Dia memperlakukan Ella seolah-olah masih hidup dan bernostalgia dengannya.
"Nenek, maafkan aku, aku tidak berhasil mempertahankan anak itu. Tapi Harvey yang tidak tahu malu itu telah memberikan keturunan untuk Keluarga Irwin. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan masalah penerus lagi."
"Nenek, dia sudah berubah, dia bukan lagi orang yang kukenal. Dulu dia bilang dia akan melindungiku dari badai dan hujan, tapi sekarang semua badai yang aku hadapi ini adalah badai yang dibawa olehnya. Jika Nenek masih hidup, Nenek pasti tidak akan membiarkan dia memperlakukan aku seperti itu."
Selena tersenyum terpaksa dan berkata, "Nenek, Harvey dan aku akan segera bercerai. Dulu Nenek pernah bilang, jika dia berani menindasku, Nenek akan merangkak keluar dari peti mati dan meledakkan kepalanya meskipun Nenek sudah meninggal. Umurku tidak panjang lagi, sebentar lagi aku akan menyusul Nenek. Ayo merangkaklah keluar untuk meledakkan kepalanya bersama-sama!"
"Nenek, seperti apa rasanya kematian? Apakah gelap? Aku takut ada serangga kecil yang menggigitku, apa yang harus kulakukan?"
"Nenek, bagaimana kalau aku mendoakan Nenek agar bisa punya banyak uang di alam sana? Lalu Nenek simpan uangnya untukku. Ketika aku menyusul Nenek, belikanlah aku vila besar seluas 800 meter persegi."
"Nenek, aku merindukan Nenek ... "
Selena terus mengoceh selama sepanjang hari di pemakaman, tetapi dia tidak punya waktu untuk bersedih terlalu lama. Dia pun lanjut melakukan penyelidikan terhadap foto yang dia dapatkan.
Sebagian besar wanita yang pernah berhubungan dengan ayahnya adalah orang-orang di perusahaan. Ketika akan mulai menyelidiki orang-orang di perusahaan, Selena menerima sebuah panggilan telepon.
Ternyata telepon dari Wilson, seorang anak dari pegunungan yang dulu pernah dibantu oleh ayahnya. Suaranya terdengat sedikit panik. "Nona Selena, aku baru saja kembali dari luar negeri dan mendengar berita bahwa Tuan Arya sakit parah, apakah dia baik-baik saja?" tanya Wilson.
"Terima kasih atas perhatianmu, ayahku sedang menjalankan perawatan di rumah sakit."
"Ah, bagaimana mungkin Tuhan memberikan cobaan seperti ini pada orang yang baik seperti Tuan Arya? Dulu, jika bukan karena dia membantu kami dan membawa kami keluar dari pegunungan, mana mungkin kami bisa memiliki kehidupan seperti saat ini?"
Sebuah pikiran terlintas di benak Selena. Arya mulai membiayai anak-anak dari pegunungan yang miskin untuk bersekolah sejak beberapa tahun yang lalu. Seandainya Lanny diculik dan dijual ke pegunungan yang terpencil, mungkinkah ini sebabnya dia mengenal ayahnya?
"Kak Wilson, apakah kamu kenal dengan murid-murid yang dibiayai oleh ayahku?"
"Aku yang selalu membantu Tuan Arya menghubungi mereka, jadi aku mengenal hampir semua dari mereka, tapi mereka telah pergi ke luar negeri beberapa tahun terakhir, sehingga kami telah putus kontak. Jika Nona Selena membutuhkan bantuan, aku bersedia melakukan apa pun itu."
Setelah merasakan ada secercah harapan, Selena pun segera menyampaikan, "Aku punya sebuah foto di sini, dapatkah kamu membantuku memeriksa apakah orang itu pernah dibiayai oleh ayahku?"
"Baik, Nona Selena."
Wilson mengiriminya beberapa informasi setengah jam setelah Selena mengirimkan foto itu.
Foto gadis yang dikirim oleh Wilson itu memiliki mata yang cerah dan gigi yang putih, dia memang memiliki kemiripan dengan wajah gadis kecil yang ada di batu nisan, terutama sepasang matanya yang terlihat mirip dengan Harvey.
Nama gadis ini adalah Kezia Ferdiansyah, dia berasal dari pegunungan yang tandus. Arya mulai membiayai sekolahnya sejak dua belas tahun yang lalu. Dia tumbuh dengan prestasi yang sangat baik. Sewaktu SMA, ada sejumlah universitas top dari dalam dan luar negeri yang menawarkan beasiswa untuknya, tetapi dia memilih untuk tetap tinggal di dalam negeri untuk meneruskan studinya.
Mungkinkah dia adalah orang yang dicari Selena? Selena pun buru-buru mengajak Wilson untuk bertemu.
Di kafe.
Wilson datang tepat waktu. Selena pernah bertemu dengan Wilson sepuluh tahun yang lalu ketika dia masih kecil. Sekarang Wilson sudah menjadi presdir sebuah perusahaan ternama. Dia memakai setelan jas dan sepatu kulit, penampilannya sangat elite.
Meskipun Keluarga Bernett sudah bangkrut, tetapi Wilson masih menyapa Selena dengan hormat, "Nona Selena, maaf membuatmu menunggu terlalu lama."
"Aku juga baru tiba. Kak Wilson, aku tidak mau berbasa-basi lagi. Apakah kamu dan Kezia masih saling kontak?"
"Dulunya pernah. Setelah pergi ke luar negeri, aku jarang berhubungan dengan teman-teman di dalam negeri lagi. Aku sudah tidak berhubungan dengan mereka selama dua tahun belakangan ini."
"Apakah kamu tahu bagaimana kabarnya sekarang?"
"Aku juga pulang beberapa hari ini, dan aku mendengar tentang apa yang terjadi pada Keluarga Bernett dari teman-teman. Aku tidak begitu akrab dengan Kezia, paling-paling aku hanya membantu Tuan Arya menghubunginya dulu."
Wilson mengambil kopinya dan menyesapnya untuk membasahi tenggorokan, lalu berkata, "Tapi karena ini adalah permintaan Nona Selena, jadi ketika aku datang ke sini, aku menghubungi teman-temannya. Sayangnya, berita yang aku dapatkan adalah dia sudah meninggal. Benar-benar disayangkan, dia begitu berprestasi, dia seharusnya memiliki masa depan yang sangat cerah jika tidak meninggal."
"Kenapa dia bisa meninggal?" tanya Selena.
"Penyebab pasti kematiannya tidak terlalu jelas, kudengar dia ditangkap saat berada di laut."
Selena mengerutkan kening. Ada beberapa keraguan tentang masalah ini. Lanny diculik saat berusia hampir enam tahun, dia seharusnya masih ingat dengan kejadian itu.
Kalau memang ayah Selena yang membiayai sekolah Lanny, mengapa Lanny tidak meminta bantuan? Ketika telah datang ke kota ini, mengapa Lanny tidak datang ke tempat Keluarga Irwin?
Satu hal lagi, apa hubungan kematian Lanny dengan ayahnya?
"Apakah ayahku memperlakukannya dengan baik?" tanya Selena dengan ragu-ragu.
"Kezia memiliki kehidupan yang menyedihkan, kedua orang tuanya meninggal di saat dia masih sangat kecil. Dia kuliah di kota ini sendirian, Tuan Arya selalu merawatnya dengan baik. Konon karena kepribadiannya yang pendiam, dia sering ditindas oleh teman-teman sekolahnya di asrama. Tuan Arya bahkan secara khusus menyewa sebuah apartemen kecil untuknya agar dia dapat bersekolah dengan lancar."
Wilson meletakkan cangkir kopinya sambil bertanya, "Mengapa Nona Selena begitu penasaran dengan Kezia?"
"Aku hanya ingin mencari tahu penyebab kematiannya, agar dia tidak meninggal dengan sia-sia."
Selena awalnya berencana untuk mendapatkan uang dua puluh miliar rupiah setelah menceraikan Harvey, kemudian meninggalkan dunia ini setelah menyelesaikan urusan-urusan selanjutnya.
Sekarang dia punya satu pemikiran lagi, yaitu memperbaiki nama ayahnya dan membalaskan dendam Keluarga Bernett.
Jika Harvey tidak mau mengatakannya, maka dia sendiri yang akan menyelidiki masalah ini. Dia pasti bisa menemukan kebenarannya.
Setelah berpikir sejenak, Wilson mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan berkata, "Nona Selena, ini adalah temanku, detektif swasta yang sangat terkenal. Jika kamu ingin mengetahui sesuatu, dia dapat membantumu."
"Terima kasih, Kak Wilson."
"Sama-sama, Nona Selena. Bagaimanapun, aku juga kenal dengan Kezia. Aku juga berharap dia bisa mendapatkan ketenangan setelah meninggal. Dalam waktu dekat, aku akan menetap di dalam negeri, Nona Selana bisa menghubungiku jika butuh bantuan. Aku masih ada rapat sebentar lagi, jadi aku harus pergi dulu."
"Hati-hati di jalan," ucap Selena.
Selena segera menghubungi detektif swasta yang dikatakan Wilson itu. Setelah mengirimkan informasi tentang Kezia kepada si detektif, semangatnya pun bangkit kembali.
Ketika Selena kembali ke rumah sakit, Dokter Filbert yang menangani ayahnya, memanggil Selena ke ruang kantor.
Selena yang memiliki firasat buruk pun berkata dengan cemas, "Dokter Filbert, bagaimana kondisi ayahku? Kapan dia bisa sadarkan diri?"
"Nona Selena, kamu harus siap secara mental. Meskipun operasi ayahmu berhasil, tetapi kepalanya terbentur dalam kecelakaan waktu itu, sehingga meninggalkan efek samping. Saat ini tidak ada tanda-tanda dia akan sadarkan diri, ada kemungkinan ... dia tidak akan sadarkan diri lagi selama sisa hidupnya."
Hati Selena seperti terjatuh ke dalam jurang, tangan sedang yang memegang gelas sekali pakai itu gemetar dengan hebat.
Saat menatap ekspresinya, Dokter Filbert juga agak terharu. Kemudian Dokter Filbert menghela napas dan berkata dengan tak berdaya, "Nona Selena juga jangan putus asa dulu, aku hanya mengatakan bahwa ada kemungkinan seperti itu. Jika ayahmu bisa bangun di akhir bulan ini, berarti tidak ada masalah besar."
Tatapan mata Selena seketika menjadi kabur. Dengan suaranya yang terbata-bata, dia bertanya, "Jika dia tidak bisa bangun, apakah berarti dia akan mengalami kondisi vegetatif?"
"Benar, jadi aku harap Nona Selena dapat mempersiapkan mental sedini mungkin dan membuat rencana lebih awal."
Dokter Filbert tahu bahwa tidak mudah bagi Selena untuk mendapatkan uang. Tidak ada gunanya juga menghabiskan uang untuk merawat seseorang dengan kondisi vegetatif.
Selena berdiri dengan tangan di atas meja, lalu dengan tegas berkata, "Aku tidak akan menyerah pada kondisi ayahku apa pun hasilnya nanti, aku percaya keajaiban akan terjadi."
Selena keluar dari ruang kantor dengan penuh kebingungan, dia tidak menyangka keadaan akan menjadi seburuk ini. Jika ayahnya tidak bisa bangun lagi, berarti dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengungkap kebenaran.
Dirinya sendiri pun tidak boleh mati begitu saja!
Dia bergegas ke departemen onkologi. Ketika Lewis baru saja menyelesaikan diagnosisnya, Selena langsung menerobos masuk.
"Kak Lewis, bantulah aku."
Lewis melihat wajah Selena penuh kepanikan. Selena memegangi ujung pakaian Lewis dengan erat, seolah-olah dirinya sedang terapung di tengah laut dan memohon pertolongan. "Kak Lewis, aku tidak peduli apakah aku harus menjalani kemoterapi ataupun operasi, pokoknya aku ingin hidup lebih lama lagi ... "
Hanya dengan tetap bertahan hidup, barulah dia bisa mengetahui kebenaran, dan bisa menemani ayahnya lebih lama lagi.
Lewis tidak tahu apa yang telah terjadi pada Selena sampai-sampai wanita ini tiba-tiba memiliki harapan untuk terus bertahan hidup. Sebagai seorang dokter, Lewis merasa sangat senang mendengarnya.
"Oke, aku akan segera menjadwalkan kemoterapi tahap pertama untukmu."