Setelah kejadian kecelakaan itu, dan Sarah mengadopsi Laras dan Saga, kini kedua anak itu sudah kembali ceria trauma nya berangsur pulih karena kegigihan keluarga baru nya itu yang memberikan kasih sayang tiada henti membuat Laras dan Saga seperti memiliki kehidupan baru.
Laras juga di sekolah kan di sekolah dasar tempat Gio sekolah, Gio saat ini sedang duduk di bangku kelas 6 dan sebentar lagi akan lulus sedang Vijar akan lanjut ke kelas dua belas. Saga juga sudah lancar berbicara anak itu kini lebih ceria karena selalu berada dalam pengawasan Sarah.
Benar-benar Laras dan Saga sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga Doni Hadiningrat keluarga yang kaya raya namun sangat baik dan rendah hati.
Hari ini Laras pergi ke sekolah bersama Gio, Laras senang bisa masuk sekolah karena dia bisa mempunyai banyak teman juga pengalaman baru, dia juga sangat aktif dan cepat menangkap bisa di katakan kalau Laras pintar meski tidak jenius.
Disekolah juga sudah tau jika Laras adalah adik angkat dari Gio, tapi meski hanya adik angkat Gio sangat menyayangi adiknya itu karena memang dia ingin sekali punya adik tetapi mamahnya sudah tidak bisa hamil lagi karena suatu kecelakaan yang menyebabkan rahimnya terluka parah saat mengandung dirinya, beruntungnya Gio selamat berikut ibunya juga namun resikonya Sarah tidak bisa hamil lagi.
Meski awalnya sedih karena tidak bisa punya anak lagi namun mereka tetap bersyukur karena anak kedua mereka selamat dari maut hingga sekarang. Jadilah Gio sangat menyayangi Laras dan Saga apalagi Laras karena dia memang menginginkan adik perempuan.
"Heh adik kecil bagi duit dong!" seorang anak laki-laki datang bersama teman-temannya menghadang Laras yang juga sedang bersama temannya.
"Duit, duit apa kak?" jawab Laras menatap kakak kelas nya sedang temannya menundukkan takut bahkan hampir ingin menangis.
Beberapa anak laki-laki itu ternyata tukang palak yang sering meminta uang pada adik kelasnya dan ternyata mereka anak kelas 6 sekelas dengan Gio.
"Maaf kak tapi... aku nggak punya uang punya nya ini". Laras menyodorkan bekal nya pada anak-anak nakal itu.
Memang Laras tidak di beri uang saku tapi dia di beri bekal yang cukup juga cemilan oleh Sarah, tetapi untuk uang saku sebenarnya langsung di masukkan ke dalam tabungan untuk masa depan Laras selama di sekolah itu. Sarah hanya tidak mau Laras jajan sembarangan karena anak sekecil Laras sudah pasti akan senang dengan aneka jajanan manis dan Laras tidak suka itu.
Tetapi jika Laras ingin dia bisa meminta pada Gio untuk membelikan nya, intinya Sarah hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
Anak laki-laki itu langsung mengambil kotak bekal Laras dan membukanya.
"Wah... makanan enak ini, dia kayaknya orang kaya". kata teman satunya di akhiri berbisik pada teman yang mengambil bekal nya sepertinya dia ketua nya.
"Santapan empuk nih!" sambung teman satunya mereka terdiri dari tiga orang yang ketua bernama Regi dan kedua temannya bernama Edo dan Boim.
"Eh kamu nggak takut sama kita?" Regi malah bertanya karena melihat Laras yang biasa saja sedang temannya sudah gemetaran.
"Kenapa harus takut kak?, emang kakak monster". jawaban Laras membuat ketiganya melotot mereka dikatakan monster jelas mereka tidak terima.
"Eh kita ini bukan monster, pokoknya mulai sekarang kamu harus kasih kita bekal setiap hari dengan makanan yang enak-enak. Ngerti!" Regi berucap dengan suara tinggi dan mata melotot berharap lawannya takut.
"Tapi kak, kalau aku kasih setiap hari nanti aku makan apa?". Laras malah bertanya dengan wajah di buat melas tapi tidak menunjukkan ketakutan.
"Nih bocah mau ngelawan, kamu nggak tau siapa kita, gue bisa aja buat bikin Lo .."
"Bikin dia kenapa?". sebuah suara menghentikan mereka.
Mereka menoleh bersamaan dan terkejut saat tau bahwa Gio lah yang menyela.
"Gio.. ngapain kamu kesini?" tanya Regi bingung, pasalnya selama dia memalak Gio tak pernah ikut campur tapi kali ini dia malah ada di depan nya seperti tengah membela.
"Ngapain? kamu yang ngapain. Balikin lagi bekal dia". kata Gio menatap Regi tajam versi anak SD.
"Ngga, dia sendiri yang ngasih karena dia bilang dia ngga punya uang". balas Regi acuh.
"Lagian kamu ngapain ikut campur biasanya juga cuek aja udah sana pergi ganggu orang aja". usir Regi karena Gio menghambat waktunya.
Gio menggeram marah, dia tidak tau bahwa anak perempuan yang sedang jadi target palak nya adalah adiknya.
"Jangan sekali-kali kamu ganggu dia". tekan Gio.
"Eh apa urusannya sama kamu?". tanya Edo tak terima.
"Iya, kenapa kamu sewot? biasanya juga cuek aja". tambah Boim. Kesal juga karena Gio sungguh sangat menggangu.
"Dia adik saya". jawab Gio akhirnya. Tentu saja hal itu membuat mereka terkejut pasalnya yang mereka tau Gio ini anak bungsu tidak punya adik.
"Adik...". ulang Regi tak percaya.
"Tapi bukannya kamu ngga punya adik". lanjut nya bingung di ikuti dua teman lainnya.
"Itu dulu sekarang saya punya adik, dan dia adalah adik saya jadi kalian janggu dia lagi. Ngerti!". Gio menegaskan sekali lagi.
Mereka terdiam sejenak lalu bersuara.
"Oke, maaf". hanya itu saja yang keluar dari mulut Regi karena dia tidak ingin berurusan dengan Gio karena kalau sudah berurusan maka masalah nya akan semakin rumit.
Laras tersenyum melihat Gio yang membelanya namun kembali mengernyit mendengar jawaban dari ketua palak itu.
"Eh tunggu!". Laras menyela sepertinya kurang puas dengan jawaban Regi.
"Kenapa?". tanya Gio mewakili geng palak dari penasarannya.
"Kalian juga jangan mengganggu anak murid yang lain intinya kalian jangan meminta uang lagi pada adik-adik kelas". kata Laras sambil tersenyum tipis.
"Benar juga, kalian jangan ganggu semua anak-anak di sekolah ini lagi, apa lagi kalian selalu meminta uang pada mereka dan melawan yang lemah". sahut Gio.
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapi, lagian kalian juga salah perbuatan itu tidak baik apa kalian mau tidak lulus sekolah karena suka malak". lanjut Laras seperti tidak ada takut-takut nya.
"Bener kata adikku, mulai sekarang kalian jangan pernah memalak ataupun mengganggu adik kelas kita, kalau saya masih melihat siap-siap aja kalian terkena masalah". ujar Gio menyeringai membuat ke tiga orang menciut nyalinya.
Karena selama ini Gio memang tidak pernah ikut campur urusan nya namun kali ini jika Gio yang ikut menyela sudah dapat di pastikan ini tidak main-main.
"Oke-oke santai, saya kalah saya akan berhenti puas Lo". kata Regi sengit lalu menatap Laras dengan tajam kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Ka Gio makasih udah mau bela aku". ucap Laras tersenyum.
"Sama-sama. Lain kali jangan mau kalau ada yang mau nindas kamu, kamu harus lawan, oke!". sahut Gio tersenyum.
"Kamu mau makan?". tanya Gio lagi.
"Iya kak!"
"Ya udah ayu kita makan bareng biar kakak traktir". kata Gio semangat.
"Asik makasih kak Gio, Sasa ayo kita makan mumpung di traktir sama Kak Gio". ucap Laras pada Sasa temannya yang sejak tadi diam saja.
"Eh, emang boleh?". tanya Sasa.
Laras bukannya menjawab malah bertanya pada Gio, "Boleh kan kak aku ajak dia". tanya nya lirih.
"Iya boleh". jawab Gio merasa tidak tega menatap mata berbinar adik angkatnya itu.
"Yey makasih kak. Ayo Sasa"!. Laras menggandeng tangan Sasa untuk berjalan mendahulu Gio.
Gio dan Laras sudah pulang ke rumah sedang Vijar belum karena dia sudah SMA jadi pulang lebih sore, sejak ada Laras dan Saga di rumah keluarga Doni suasana rumah itu menjadi ramai dan ceria dengan segala tingkah keaktifan Saga anak itu benar-benar gesit dan lincah sampai-sampai membuat para pelayan kewalahan mengejarnya, tapi meski begitu mereka senang akan kehadiran anak-anak itu.
Gio juga jadi sering keluar kamar untuk bermain bersama mereka jika ada di rumah karena biasanya Gio kalau sudah pulang sekolah dia akan anteng di dalam kamarnya entah itu bermain game atau bermain ponsel sampai-sampai membuat orang tuanya khawatir dan lagi-lagi mereka bersyukur atas kehadiran dua anak yang ada di tengah-tengah mereka.
Tak terasa Gio dan Laras lama bermain datang lah Vijar dengan membawa teman-temannya yang satu geng yang berisi lima orang, memang sudah terbiasa jika Vijar membawa teman-temannya main ke rumah mereka sudah kenal satu sama lain begitu juga dengan para orang tua nya.
Kali ini Vijar membawa teman-temannya ke taman belakang rumah yang biasanya bermain di kamar namun kali ini Vijar hendak bermain di luar, saat sampai di sana mereka duduk lesehan sambil rebahan benar-benar suasana taman yang menyenangkan apalagi di tumbuhi dengan banyak pepohonan yang sudah berbuah.
"Wah... Jar! kenapa Lo ngga dari dulu bawa kita kemari di sini tempatnya enak, adem lagi". Rendi menyahut dengan senyum lebarnya.
"Iya mana banyak banget pohon buah nya lagi, Jadi pengen!" Arkan ikut menimpali sambil sesekali menyeka air liurnya karena tergiur dengan buah-buahan yang sudah ranum.
"Jangan-jangan dia sengaja lagi ngga bawa kita kesini karena takut buahnya kita colong. Hahaha". Hary tertawa menebak sendiri jawabannya di ikuti yang lain.
"Sialan Lo! gue lagi pengen aja kesini bukannya terimakasih". Vijar mengumpati mereka pasalnya Vijar baru ini mengajak mereka kesini setelah sekian lama mereka berteman.
"Eh tuh anak siapa?" tanya Lian tiba-tiba yang tadinya diam saja.
Semua pun menoleh pada apa yang di tunjuk Lian, di sana terlihat Laras yang sedang bermain bersama Gio dan Saga.
"Adik angkat gue". jawab Vijar singkat.
Mereka pun terkejut mendengar nya.
"Apa adik angkat?". ulang Rendi tak percaya.
"Iya, nyokap gue ngadopsi anak mereka yatim piatu mungkin karena kasian jadinya nyokap gue ngadopsi mereka". jawab Vijar lagi memperjelas.
Mereka pun hanya manggut-manggut, lalu tiba-tiba bola yang di tendang Saga melaju ke arah mereka tentu saja anak itu mengejar dengan tawa riang nya di susul Gio dan Laras.
"Hai, Ade manis namanya siapa?". tanya Hari dengan senyum khasnya.
"Laras kak!". jawab Laras malu.
"Dan ini?" tunjuk nya pada Saga.
"Itu Saga ade aku". jawab Laras lagi.
Dan setelah perkenalan itu Hari jadi terus mengobrol dengan Laras rupanya remaja itu menyukai Laras, sedang yang lain bermain dengan Saga kehadiran mereka membuat suasana menjadi ceria dengan tingkah polah Saga yang lucu dan Vijar terus tersenyum memandang ke arah Laras yang menurut nya begitu imut dan menggemaskan.
*****
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat kini Laras sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, kini dia memasuki usia 12 tahun hendak masuk SMP sedang Saga berusia 9 tahun dan masih sekolah dasar, kedua anak itu tumbuh sehat dan cerdas kasih sayang yang di berikan kepada keluarga itu juga sama dengan anak kandungnya.
Laras benar-benar merasa bersyukur karena bisa di pertemukan dengan keluarga sebaik mereka, Laras dan Saga juga selalu mengunjungi makam kedua orangtuanya saat waktu senggang dengan di temani oleh Sarah dan Dewi terkadang juga oleh Gio dan Vijar.
Seperti saat ini Laras sedang berada di makam menziarahi makam kedua orang tuanya tapi tidak dengan Saga karena anak itu sedang les yang tidak bisa di tinggalkan akhirnya dengan berat hati Saga membiarkan kakaknya ke makam sendirian dengan di temani Vijar.
Vijar memimpin doa di Amini oleh Laras, sebenarnya Laras merasa canggung jika di antar oleh Vijar, dia lebih nyaman jika pergi bersama Gio mungkin karena dia lebih dekat dengan Gio dari pada Vijar tapi apa boleh buat Gio pun tidak bisa menemani nya begitu juga yang lain hanya Vijar yang bisa jadilah dia pergi bersama Vijar meski terasa canggung.
"Ras, mau langsung pulang atau kemana dulu?" Vijar bertanya setelah doa selesai.
"Em... sebenarnya aku mau ke toko buku karena sebentar lagi ujian aku mau cari buku tentang pelajaran". jawab Laras gugup, entah mengapa setiap berhadapan dengan Vijar dia selalu gugup.
"Oke, ayo kakak antar". Vijar lalu menggenggam tangan Laras erat seolah takut dia lari.
"Eh.. kak ngga usah di pegang ngga apa-apa kok". kata Laras.
"Kakak takut kamu jatuh, udah diem aja". jawab Vijar santai.
Hah jatuh memangnya Laras anak kecil berjalan saja sampai jatuh dan ini yang membuatnya risih beberapa bulan ini terhadap Vijar karena sikap perhatiannya yang menurutnya berlebihan.
Vijar dan Laras pun akhirnya pergi ke toko buku, Laras dengan serius mengitari rak-rak buku itu sambil membaca dan menyimpan nya lagi terus saja seperti itu dan tak sadar jika Vijar juga terus mengikutinya sambil menatap nya lekat.
Vijar sendiri sangat bingung, entah kenapa semakin gadis itu tumbuh semakin membuat perasaan Vijar aneh, perasaan ini bukan seperti kakak ke adik melainkan laki-laki ke perempuan sungguh dia tidak mengerti karena setiap melihat wajah Laras, hatinya seperti bergejolak dia jadi selalu tersenyum jika melihat Laras.
Apakah dirinya mulai menyukai gadis ini sebagai lawan jenis? ah tidak tidak Laras adalah adiknya walaupun hanya adik angkat dan lagi usianya berbeda jauh dia bisa di katakan pedofil nanti. Dan bagaimana nanti tanggapan kedua orangtuanya jika mengetahui hal ini? sungguh ini di luar dugaan nya dia harus bisa memendam perasaan ini. Harus.
"Kak Vijar". sebuah suara mengejutkan lamunan lelaki itu segera dia menyahut panggilan dari Laras.
"Ya ada apa?".
"Tolongin kak, ambilkan buku yang di atas sana". pinta Laras dengan menunjuk buku di atas sana.
Tanpa menjawab, Vijar langsung beranjak dan mengambil buku itu karena Vijar tinggi jadi tak sulit untuk mengambilnya.
"Ini!". sodornya pada Laras.
"Terimakasih kak". Laras tersenyum mendapatkan bukunya.
"Kamu sudah selesai?" tanya Vijar saat masih menunggu Laras yang masih anteng duduk dengan bukunya.
"Eh,, kak Vijar udah bosen yah"!. sahut Laras merasa tidak enak.
"Iya Kakak cape mana haus lagi". Vijar menjawab dengan jujur.
Laras nyengir melihat kekesalan Vijar, "Ya udah ayo kita minum dulu kak. Disana?". tunjuk Laras pada warung kecil yang menjual es kelapa berada di depan toko buku ini.
Setelah itu Laras membeli beberapa buku untuk kebutuhan sekolah nya lalu keluar di ikuti Vijar di belakang nya.
"Ayo kak duduk di sini! kakak mau pesen apa biar aku traktir karena kakak udah mau nemenin aku". ujar Laras menyuruh Vijar duduk di samping nya.
"Beneran, emang kamu punya uang". Vijar duduk di bangku yang sama dengan Laras dengan santai.
"Iya beneran. Pak es kelapa nya dua yah". jawab nya lalu memesan pada Abang penjualnya.
"Makasih yah!". Vijar dengan lembut mengelus rambut kepala Laras.
"Sama-sama kak!". Laras menjadi malu mendapat perhatian seperti itu lagi dari Vijar.
Tak lama air kelapa pun datang dan memberikan nya pada mereka, kini mereka sedang meminum air kelapa itu dengan nikmat lalu tak berapa lama datanglah seorang gadis yang seumuran dengan Vijar mendatangi mereka dengan pandangan tak percaya.
"Vijar.. kamu minum di sini?". tanya nya dengan wajah tak percaya.
"Ya, ada apa?". tanya nya datar merasa tidak suka dengan gadis yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa kamu minum disini dan ini.. ( Sambil menunjuk Laras dengan telunjuknya ) siapa?".
"Apa aku harus menjawab pertanyaan kamu? itu sama sekali tidak penting". jawab Vijar sangat datar. Sedang Laras hanya menyimak saja.
"Vijar, ayolah kamu tidak pantas minum disini bagaimana kalau ada orang yang kenal kamu melihat ini, aku yakin mereka pasti akan membicarakan mu".
Kedua alis Laras mengernyit, siapa gadis ini kenapa perlakuannya membuat risih.
"Kalau kamu mau minum, ayo kita ke restoran aku yang akan traktir kamu. Ayo!" gadis itu terus mendesak padahal Vijar pun merasa nyaman minum di situ.
"Maaf kak, kak Vijar tidak mau jadi jangan di paksa ". Laras cukup kesal dengan gadis di samping nya ini kenapa getol sekali mendesak kakak nya.
"Hey, siapa kamu? aku tidak ada urusan dengan mu. Vijar ayo!". ujar nya lagi dengan sedikit membentak Laras.
"Cukup.."
"Cukup... Della!". Vijar berucap dengan nada menekan tapi itu mampu membuat Della gadis yang tiba-tiba membuat rusuh sendiri ini terdiam.
"Ngapain kamu disini dan ada urusan apa kamu melarang ku minum disini?". tanya nya penuh penekanan.
"Vijar,, aku..." Della tak mampu membela ketika dirinya di beri pertanyaan seperti itu oleh Vijar dia hanya merasa cemburu saat melihat Vijar bersama perempuan lain.
"Kenapa? tak bisa menjawab". Vijar tersenyum miring membuat nyali Della menciut.
"Tapi aku peduli sama kamu, kamu itu cowok paling berpengaruh di kampus jadi aku harus melindungi privasi kamu terlebih dengan orang yang tidak setara dengan kamu". ujar Della sambil menatap rendah pada Laras.
Sedang Laras yang di tatap seperti itu tak peduli gadis itu masih asik minum air kelapa nya setidaknya ini lebih nikmat ketimbang mendengarkan rengekan gadis yang entah dari mana datangnya.
Lagi-lagi Vijar tersenyum miring, tau apa yang di maksud Della dia pun menggeser duduknya lebih dekat dengan Laras, sepertinya Della tidak tau siapa Laras baguslah itu akan mempermudah nya.
"Lo belum tau siapa dia?, dia itu calon tunangan gue". jawabnya mantap yang seketika membuat bola mata Laras melotot.
"Apa... tunangan ". ulang Della tergagap.
"Iya, dia tunangan gue yang nantinya akan jadi istri gue. Jadi... Lo ngga usah cari perhatian lagi sama gue. Ngerti ". setelah mengatakan itu Vijar menggenggam tangan Laras dan membawanya pergi menjauh dari Della yang masih terbengong tidak percaya, tapi sebelum itu dia sudah membayar air kelapa nya.
"Kak, tunggu kak kenapa kakak ngomong kayak gitu ke kakak itu itu kan bohong kak". Laras menghentikan langkahnya untuk meminta penjelasan Vijar.
Vijar menghela nafas pelan, dirinya juga tidak tau kenapa malah berbicara seperti itu dia hanya spontan mengatakan hal itu dan dengan niat supaya Della tidak caper lagi.
"Maaf, kakak reflek habisnya kakak greget sama tuh cewek ngga di kampus ngga di luar getol banget cari perhatian padahal dia bukan siapa-siapa kakak." jawab nya kesal.
"Dia suka sama kakak itu". sahut Laras tertawa kecil.
"Dia emang suka sama kakak, tapi kakak ngga suka dia". jawab Vijar acuh.
"Kenapa? padahal kakak itu cantik loh!". Laras tersenyum menggoda Vijar.
"Heh.. dia memang cantik tapi sikap nya buat ilfil udahlah kenapa jadi bahas dia?". Laras tertawa melihat Vijar yang menggerutu.
Vijar sangat kesal kenapa Laras malah terkesan menggodanya dengan Della padahal jelas-jelas dia mendeklarasikan dirinya sebagai calon tunangan dan hal itu sebenarnya refleks yang secara sengaja tapi sayang nya Laras mana ngerti karena usianya yang masih di bawah umur.
Sabar Vijar tunggu beberapa tahun lagi supaya Laras bisa mengerti maka saat itu juga dia akan kebingungan dengan sikap mu nanti.
"Sudah ayo kita pulang!". Vijar kembali menggenggam tangan Laras, sedang Laras masih tertawa kecil bahagia sekali rupanya melihat wajah Vijar yang kesal.
"Eh kak tunggu aku kan mau traktir kakak, kenapa tadi malah kakak yang bayar". Laras teringat tadi minuman nya malah Vijar yang bayar.
"Kamu atau kakak yang bayar itu sama aja". jelas Vijar santai.
"Tapi kak!".
"Apalagi ". gemes Vijar pada adik angkatnya ini.
"Aku bukan cuma haus tapi laper juga". cicit Laras pelan sambil menahan malu.
Vijar menghela nafas pelan mendengar cicitan Laras lalu tersenyum.
"Ayo"!
Hari ini teman-teman Vijar datang ke rumah tujuan nya ya apalagi kalau bukan bersantai sambil melakukan sesuatu yang mereka inginkan terlebih mereka lebih suka duduk di taman sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di taman itu mereka jadi sering kesini bahkan sampai ada yang tertidur, senyaman itukah taman itu yang bagaikan rumah kedua bagi mereka.
Vijar tentu tak mempermasalahkan itu di manapun tempat nya jika membuat mereka nyaman ya terserah asalkan tau batasan dirinya juga begitu jika sedang bermain di rumah temannya.
"Jar, itu Laras kan?". tanya Hary yang melihat Laras seorang diri sambil membaca buku.
Rambutnya yang hitam panjang berkibar tertiup angin menutupi wajahnya yang manis membuat Vijar tersenyum melihat nya.
"Iya!". jawab Vijar singkat namun pandangan nya tak lepas dari wajah Laras.
"Dia makin cantik yah, manis lagi!". kata Hary tersenyum.
"Benar banget perasaan tuh anak masih pitik ngga tau nya sekarang udah gadis aja". timpal Radit ikut menyahut.
"Dari jauh aja udah bikin terpesona gimana kalau dekat". timpal Kevin memamerkan senyum nya sedang Lian hanya diam saja namun dia mengangguki jika yang di katakan teman-teman nya semua nya benar.
Vijar mendengus kesal mendengar pujian-pujian teman-temannya untuk Laras dia merasa tidak suka hanya dia yang boleh memuji Laras.
"Lo semua berlebihan". kata Vijar kesal.
"Gue ngga berlebihan jar, oh iya! dia udah punya pacar belum gue rasa gue suka sama ade Lo". kata Hary terus terang membuat Vijar tiba-tiba hatinya memanas.
"Lo suka sama ade gue jangan macem-macem Lo yah dia masih kecil". protes Vijar.
"Eits.. sabar jar gue tau, tapi jadi kepemilikan ngga apa-apa kan". sahut Hary.
"Maksud Lo". tanya Vijar tak mengerti.
"Iya, dia punya gue jadi nanti kalau dia udah agak gedean jadi pacar gue". jelas Hary dengan enteng nya namun ada nada keseriusan di dalamnya.
"Hey, dia ade gue jadi siapapun yang suka sama dia harus lewat seleksi gue dulu". ujar Vijar terdengar seperti kakak yang protektif.
"Ah udahlah, gue mau kesana dulu". tukas Hary tidak mempedulikan Vijar.
"Eh mau ngapain loh!". cegah Vijar.
"Ya nyamperin ade Lo lah. Udah tenang aja ngga bakal gue apa-apa in". lanjut Hary dia melihat raut wajah Vijar yang cemas.
"Udah biarin aja lah jar toh kita liatin juga". tambah Kevin membiarkan karena menurut nya tidak masalah jika Hary hanya mengajak bermain saja tapi si Vijar ini berlebihan sekali seperti adiknya mau di culik saja.
Sedang Vijar sendiri bingung, sebenarnya dia tidak suka adiknya ada yang mendekati apalagi teman-teman nya pokoknya dia tidak suka.
Setelah itu Hary menghampiri Laras yang sedang memegang buku dapat di lihat bahwa gadis itu sedang serius belajar karena memang sebentar lagi dia akan menghadapi ujian kelulusan sampai-sampai kehadiran Hary dia tidak tau.
"Hay, serius amat belajar nya". ujar Hary duduk di samping Laras.
Sang empu tentu saja terkejut dia menengok mendapati teman kakak nya sudah duduk di samping nya.
"Eh kak Hary, iya aku lagi belajar soalnya mau ujian. Maaf yah! aku ngga sadar ada kakak dateng". jawab Laras lalu mengalihkan lagi pandangan nya ke buku.
"Kamu dari tadi sendirian?". tanya Hary, bicara sedekat ini membuatnya deg-degan.
"Ngga, tadi aku sama Saga dia lagi ngambil minum tapi ngga tau lama banget ". jawan Laras, bisa di lihat Laras agak tidak nyaman namun dia takut menyinggung teman kakak nya itu.
"Biasanya kamu juga sama Gio, kemana tuh anak?". Hary terus bertanya, dia benar-benar tidak melewatkan kesempatan.
"Kak Gio lagi di kamar nya, dia mau sendiri katanya".
"Oh iya ngomong-ngomong kamu cantik, pasti udah punya pacar yah". celetuk Hary membuat Laras menatap serius lelaki itu.
"Pacar, apa itu pacar kak?". alih-alih Laras akan tersipu karena di puji dia malah menanyakan tentang pacar karena dia sudah pernah dengar namun tidak tau artinya maklum lah kan masih SD.
"Ya.. pacar itu dua orang lawan jenis yang saling menyayangi dan selalu bersama". jelas Hary.
"Contohnya?". Laras makin penasaran.
"Contohnya seperti aku dan kamu!". timpal nya menggoda Laras dengan senyum lebarnya.
Laras hanya tersenyum karena memang itu sesuatu yang aneh di dengar di telinga nya.
"Kakak aku ngga boleh pacaran". jawabnya lugas.
"Sama siapa?".
"Sama semua orang yang ada disini apalagi kak Vijar, dia yang paling ingetin aku banget supaya jangan pacaran apalagi sampe suka sama cowok tapi.. emang aku ngga ada suka sama siapapun sih!". jelas Laras, toh dia juga tidak masalah dengan larangan itu karena dia pun tak memikirkan nya.
"Em.. iya kakak ngerti! kamu emang ngga boleh pacaran masih kecil tapi nanti kalau sudah besar kamu mau kan jadi pacar kakak?". Hary seakan mendeklarasikan bahwa Laras adalah miliknya, sambil mengacungkan jari kelingking nya.
Laras terdiam menatap jari kelingking itu, sebenarnya dia juga tidak mengerti arah pembicaraan Hary ini kemana tapi ya sudah toh menurut nya ini tidak berbahaya jadi dia mengangkat tangannya untuk menyambut uluran kelingking Hary, Hary yang melihat Laras akan membalasnya tersenyum namun sebelum dia melebarkan senyumnya dia harus menelan kekecewaan karena Saga sang adik datang dengan membawa minuman.
"Kakak, ini minumannya. Maaf yah lama soalnya tadi abis di suruh kak Gio". ujar Saga sang adik tak enak karena kakaknya pasti kehausan menunggu nya mengambil minum.
"Makasih de, kak aku minum duku!". Laras pun langsung meminum minuman segar dan dingin itu, sedang Hary hanya mengangguk.
"Oh iya kak, kakak di panggil kak Gio katanya kak Gio mau ngajarin rumus terbaru buat ujian terus abis itu kita mau di ajakin kulineran". sahut Saga memberi tahu dengan semangat.
"Wah... yang bener ayo kalau gitu !". Laras sangat senang kapan lagi Gio mengajaknya kulineran karena Gio adalah food blogger dia sangat terkenal di sosial media cita-cita nya juga ingin menjadi chef yang hebat.
"Kak, aku tinggal yah! aku mau samperin kak Gio dulu". pamit Laras sambil membereskan buku-bukunya.
"Iya, lain kali kita ngobrol lagi yah". meski kecewa tapi Hary masih punya banyak kesempatan dan waktu.
"Permisi kak Hary". ucap Saga dengan sopan.
"Yoi, ga". sahut Hary.
Laras dan Saga pun pergi untuk menemui Gio di kamar nya meninggalkan Hary yang terlihat sedikit kecewa.
Di sisi lain ada yang tersenyum senang, dia sangat berterimakasih kepada adik bungsunya Saga karena telah menggagalkan usaha Hary yang sudah dapat dia tebak ingin mendekati Laras.