Bab 1

Jessica berjalan dengan cepat menyusuri ruang tamu rumahnya. Heels-nya terdengar nyaring mengetuk-ngetuk lantai marmer. Kemarahan terlukis jelas di raut wajahnya. Bu Windi dan Arnold sedang sarapan bersama ketika Jessica masuk ke ruang makan yang jendela-jendela besarnya menghadap ke kolam renang. Cahaya matahari pagi menghangatkan suasana di ruang makan itu. Namun suasana itu tidak bertahan lama.

Plak! Jessica menampar pipi Arnold dengan keras tanpa mengatakan apa pun.

"Jessica!" pekik Bu Windi terkejut. "Apa yang merasukimu?"

"Mama tanya saja dia! Setan mana yang membuatnya terus berjudi?" jawab Jessica sambil menunjuk muka Arnold. Kedua matanya yang biasanya terlihat indah kini mendelik ke arah kakaknya.

"Kalian keluar semua!" Bu Windi memerintah Mbak Lala dan Mbok Sum yang baru saja tergopoh-gopoh masuk ke ruang makan karena mendengar suara Bu Windi dan Jessica yang begitu keras. "Tutup pintunya dan jangan ada yang menguping!" hardik Bu Windi.

Dengan cepat Mbak Lala dan Mbok Sum undur diri dari ruangan yang hawanya tiba-tiba mencekam itu. Setelah mereka pergi, Bu Windi menatap tajam ke arah Jessica, anak bungsunya yang selalu dia banggakan kecantikan dan kecerdasannya.

"Kesalahan apapun yang Arnold lakukan, kamu tidak boleh menamparnya! Dia itu kakakmu!"

"Dia nggak pantas menjadi kakakku!"

"Jessica!" pekik Bu Windi. "Tarik ucapanmu! Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk memperlakukan keluarga dengan kasar."

"Kalau dia masih menganggap kita keluarganya, dia tidak akan menjual saham perusahaan kita ke keluarga Danujaya!" ungkap Jessica dengan suara yang meninggi. Hati Jessica sakit sekali ketika pagi ini pengacara keluarganya menghubunginya dan mengatakan bahwa saham Arnold sebanyak dua puluh lima persen telah dijual kepada keluarga Danujaya.

Bu Windi terkejut dan menatap Arnold. Dia bergeming. Bibirnya sedikit menganga, tapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar. Anak sulungnya yang selama ini digadang-gadang menjadi penerus suaminya untuk memimpin perusahaan telah menjual sahamnya ke keluarga Danujaya.

"Mama, maafin Arnold. Arnold nggak ada pilihan." Arnold segera berlutut memeluk kedua kaki ibunya.

"Omong kosong! Semua orang punya pilihan! Judi saja yang ada di otakmu! Kalau Papa masih hidup, sudah pasti namamu dicoret dari akta perusahaan!" pekik Jessica lagi. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya menahan amarah luar biasa.

"Ampun, Ma! Ampun! Arnold sudah taubat!" katanya memelas. Dia masih berlutut memeluk kedua kaki ibunya. Matanya terpejam. Dia tidak berani melihat ke arah adiknya.

Bu Windi sedikit membungkuk untuk melepaskan tangan Arnold yang melingkari pahanya. Dia bisa merasakan air mata si sulung membasahi celana sutra yang dipakainya. Dengan sedikit paksaan, tangan Arnold akhirnya mengendur. Bu Windi mundur beberapa langkah. Jari-jarinya merapikan celananya yang sedikit kusut dan basah oleh air mata Arnold.

"Sudah terlalu sering kamu mengatakan hal yang sama. Katanya kamu sudah kapok main judi, ternyata selama ini kamu masih melakukannya sembunyi-sembunyi. Kamu bohong sama Mama." Bu Windi melihat Arnold yang masih berlutut dan sesekali menyeka air mata dari pipinya.

"Apa dosa Mama di masa lalu sehingga kamu jadi begini, Arnold?"

"Ampun, Ma. Arnold benar-benar menyesal. Ini terakhir kali, Arnold janji!"

Bu Windi tidak menanggapi pernyataan Arnold. Dia sudah muak dengan janji-janji palsu anaknya itu. "Mama sudah nggak percaya lagi sama kamu, Arnold. Kamu benar-benar sudah mengecewakan Mama dan almarhum Papa."

Tak lagi menghiraukan Arnold yang masih menangis seperti anak kecil, Bu Windi berjalan ke arah Jessica. "Minta Pak Eric dan Bu Maria ke kantor besok pagi jam delapan. Mama mau mengadakan rapat umum pemegang saham."

"Baik, Ma," jawab Jessica singkat. Dia segera menelepon pengacara dan notaris yang biasa melayani perusahaan keluarganya. Setelah selesai menelepon, dia melihat ke arah kakaknya yang masih berlutut dan menangis. Kemarahannya yang meledak-ledak tadi tiba-tiba surut. Dia iba melihat kakaknya yang usianya hanya terpaut dua tahun darinya itu. Kakaknya tampak seperti anak kecil. Tidak sedikit pun menampilkan sikap sebagai selayaknya laki-laki yang berusia dua puluh delapan tahun.

"Berhentilah menangis. Jangan sampai Mbak Lala dan Mbok Sum melihatmu dalam keadaan memalukan seperti ini," kata Jessica sambil menarik lengan kakaknya, memaksanya untuk berdiri.

"Aku sudah menghancurkan semuanya, Jess. Sudah nggak ada gunanya aku hidup," kata Arnold dengan suara lirih.

Jessica tahu betul kakaknya seorang penakut, dia tidak akan melakukan hal yang nekat untuk mengakhiri hidupnya. "Jangan mengatakan hal-hal bodoh. Tebuslah kesalahanmu."

"Bagaimana caranya, Jess?"

"Batalkan penjualan sahammu ke Danujaya," jawab Jessica tegas.

Arnold membelalakan matanya dengan ngeri mendengar ucapan Jessica. "Membatalkan penjualan saham itu sama saja membunuhku, Jess!"

"Apa maksudmu?" tanya Jessica sambil mengerutkan dahinya.

"Uangnya sudah nggak ada."

"Nggak ada sisanya? Sedikit pun nggak ada?" desak Jessica dengan gusar.

"Sudah habis aku pakai di Makau Venesia bulan lalu," jawabnya menyebut kasino terbesar di dunia itu. Dia menunduk lesu.

Tiba-tiba kepala Jessica terasa pening. Ternyata alasan kakaknya pamit ke Cina bulan lalu untuk melihat pameran mesin-mesin industri hanyalah dusta. Dia berjudi habis-habisan di sana. Kali ini dia bertekad memaksa ibunya untuk memasukkan Arnold ke panti rehabilitasi. Kecanduannya akan judi bisa menghancurkan keluarga mereka.

***

Pagi itu Jessica dan Bu Windi berangkat ke kantor bersama. Mereka tidak banyak bicara di dalam mobil. Mereka disibukkan dengan pikirannya masing-masing. Lingkaran hitam tampak samar di bawah kedua mata Bu Windi. Semalam dia tidak bisa tidur.

"Ma, apa yang mau Mama katakan di rapat nanti?" Tanya Jessica ketika mobil mereka berhenti karena lampu merah traffic light menyala.

"Mama akan minta Pak Eric untuk menemui keluarga Danujaya. Mama akan membeli lagi saham yang dijual Arnold."

"Apa kita punya uangnya, Ma?"

Bu Windi melihat ke kejauhan dari jendela mobil yang kacanya tertutup rapat. Pandangannya menerawang. "Kalau keluarga Danujaya mau menjualnya dengan harga yang sama, kita punya uangnya. Tapi kalau mereka meminta harga yang lebih tinggi, sepertinya kita harus menjual beberapa asset atau meminjam uang dari bank."

Jessica terdiam. Kalau saja Papa masih hidup, Mama dan aku tidak akan dipusingkan dengan masalah seperti ini, batin Jessica kelu.

Segera setelah sampai di PT Gembira Raya, Pak Toni membukakan pintu New Camry di samping Bu Windi. Dengan anggun Bu Windi melangkah keluar dari mobil mewah yang baru dibelinya tahun lalu itu. Jessica tidak menunggu Pak Toni membukakan pintu untuknya, dia selalu merasa tidak sabar. Kedua wanita yang berbeda generasi itu pun berjalan beriringan menuju ruang rapat.

"Selamat pagi, Bu Windi. Selamat pagi, Bu Jessica," sapa Mila, resepsionis di kantor mereka. Mila tampak gugup melihat Bu Windi. Memang Bu Windi sudah jarang ke kantor kecuali ada masalah penting seperti pagi ini. "Peserta rapat sudah menunggu Ibu," katanya lagi.

Bu Windi tidak menggubrisnya sama sekali. Mila tampak kecewa. "Maaf ya, Mama sedang bad mood," kata Jessica sambil menepuk pundak si resepsionis. Seketika Mila menyunggingkan senyumnya. Memang benar kata para karyawan di sini kalau Bu Jessica humble, batin Mila.

Jessica buru-buru menyusul ibunya yang sudah lebih dulu masuk ke ruang rapat. Setelah menutup pintu ruang rapat, Jessica segera menuju kursi yang biasa didudukinya. Kursi di samping kursi CEO yang dulu diduduki almarhum ayahnya. Tiba-tiba matanya terpaku pada sosok asing yang ada di seberang mejanya. Jessica belum pernah melihatnya. Siapa dia?

Laki-laki tampan itu duduk dengan santai di kursi yang biasanya diduduki Arnold. Rambutnya ikal dan tampak sedikit basah. Jessica yakin itu efek pommade. Matanya yang sipit dibingkai sepasang alis tebal yang rapi. Jessica jadi penasaran, apakah alis itu dibentuk di salon?

"Maaf, siapa Anda? Rapat ini hanya terbatas untuk para pemegang saham," kata Bu Windi memecahkan keheningan di ruangan itu.

Laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya. "Perkenalkan, nama saya Joshua Danujaya," katanya sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Bu Windi. "Saya pemegang lima puluh persen saham di perusahaan ini. Sepertinya saya berada di tempat yang tepat."

Bab 2

Bu Windi tampak melamun memandangi taman bunga dari jendela besar di ruangan CEO, tempat mendiang almarhum suaminya dulu bekerja. Hari ini dia merasa begitu lelah. Dia masih tidak percaya bahwa keluarga Danujaya berhasil menguasai lima puluh persen saham perusahaan yang dibesarkan oleh suaminya.

Selain membeli dua puluh lima persen saham Arnold, ternyata mereka juga telah membeli dua puluh lima persen saham milik para direksi PT Gembira Raya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Perusahaan ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Danujaya Group.

Terlintas kembali wajah Joshua Danujaya di benak Bu Windi. Dia berharap bahwa lelaki yang usianya baru di awal tiga puluhan itu adalah anaknya. Tidak seperti Arnold yang selalu saja membuat masalah, Joshua kompeten dan bisa diandalkan. Hal itu terlihat dari cara Joshua tadi mengambil alih rapat pemegang saham.

“Jangan melamun, Ma.” Jessica menyentuh lengan ibunya.

Bu Windi tersenyum tipis. Untung saja dia masih punya Jessica, anak gadisnya yang selalu bisa diandalkan. “Sudah selesai keliling ke area workshop?” tanyanya lembut.

“Sudah sih, Ma. Tapi saya masih mau di sini. Mama pulang saja duluan.”

“Mau ngerjain apa sih, Jess?”

“Mau cek data penjualan bulan ini. Sekalian mau koordinasi dengan tim marketing,” jawab Jessica berbohong.

“Ya sudah, mama pulang dulu ya. Kamu jangan malam-malam pulangnya.”

“Iya, Ma. Nanti saya makan malam di rumah.” Jessica mencium pipi ibunya yang tampak pucat.

Setelah melihat ibunya berjalan keluar dari ruangan itu, Jessica segera meraih pesawat telepon. Dia menekan nomor extension ruang kerja yang dulunya ditempati Arnold.

“Halo,” sapa suara berat di telepon setelah beberapa detik.

“Pak Joshua, saya Jessica. Bapak ada waktu? Saya ingin bicara berdua saja dengan bapak,” kata Jessica tanpa basa-basi.

Ada jeda sebentar di antara mereka. “Boleh, beri saya waktu lima menit,” jawab Joshua akhirnya.

Siang ini dia harus membujuk Joshua Danujaya untuk menjual sahamnya kembali. Dia tidak tega melihat ibunya susah tidur dan susah makan sejak kemarin. Ibunya punya keyakinan bahwa perusahaan ini harus tetap menjadi milik keluarga, apapun yang terjadi.

Jessica duduk di sofa kulit yang ada di ruang kerja CEO. Sampai saat ini dia tidak nyaman duduk di kursi kerja ayahnya walaupun tidak ada yang melarang. Joshua belum datang juga. Diliriknya jam tangan Fossil yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Lima menit belum pernah terasa selama ini, batin Jessica.

Terdengar suara ketukan di pintu lalu dengan cepat pintu itu terbuka. “Nggak keberatan kan kalau saya langsung masuk?” tanya Joshua sambil menutup pintu.

“Nggak, silahkan duduk.” Jessica menyunggingkan senyum.

Joshua duduk di sofa yang berhadapan dengan Jessica. Dia mengenakan kemeja abu pucat yang lengannya digulung sampai ke siku, menampakkan sebagian kecil tattoo yang ada di lengan kirinya. Dari sudut mana pun, Joshua tampak enak dilihat. Postur tubuhnya yang tegap membuat Jessica bertanya-tanya dalam hati, apakah dia pernah menjadi model fashion?

“Jadi, apa yang mau kita bicarakan?” tanya Joshua membuyarkan lamunan Jessica.

“Maaf,” ucap Jessica. Pipinya tersipu. Dia malu karena Joshua memergokinya sedikit termenung memperhatikannya.

“Never mind, saya sudah terbiasa dengan perhatian-perhatian semacam itu,” jawab Joshua dengan kepercayaan diri yang luar biasa. “Jadi, apa yang mau kita bicarakan?” tanyanya tidak sabar.

“Saya nggak mau membuang waktu Bapak yang berharga, jadi langsung saja ya. Saya ingin membeli saham yang sudah Arnold jual kepada Bapak. Itu merupakan kesalahan yang sangat fatal. PT Gembira Raya adalah perusahaan keluarga. Tidak seharusnya Arnold menjual saham bagiannya kepada orang lain.”

Joshua mengamati gadis yang ada di depannya. Bibirnya yang berwarna pink pucat tampak lembab menggoda. Bulu matanya lentik alami menaungi dua bola mata hitam pekat yang menatapnya.

Sebelum bertemu dengannya pagi ini, Joshua telah mempelajari latar belakang Jessica Marie Armantyo, putri bungsu keluarga Armantyo. Lulusan Nanyang Business School, Singapura dengan gelar summa cumlaude. Jujur, dia tidak menyangka bahwa Jessica jauh lebih cantik dibandingkan dengan foto-fotonya yang beredar di media sosial.

“Ehem, bagaimana, Pak?” Jessica berdeham. Dia tidak nyaman duduk berdiam diri berhadapan dengan pria tampan yang belum dikenalnya dengan baik itu. Sebenarnya bukan ketampanannya yang membuatnya tidak nyaman, tapi kekuasaan yang dimiliki keluarga Joshua yang membuat Jessica tidak nyaman.

Joshua hanya tersenyum.

"Jadi bagaimana dengan tawaran saya tadi? Apakah Bapak bersedia menjual dua puluh lima persen saja dari saham yang sudah Bapak beli sebelumnya?”

“Bu Jessica sudah tahu berapa nilai saham yang saya beli?”

“Iya, saya sudah dapat angkanya dari pengacara kami.”

“Lima kali,” kata Joshua. Sekali lagi senyum mengembang di wajahnya.

“Lima kali? Maksud Bapak?”

“Saya bersedia menjual dua puluh lima persen saham itu kepada Bu Jessica dengan nilai lima kali lipat.”

Apa dia sudah gila? Batin Jessica. Dia tidak menyangka akan berhadapan dengan orang yang serakah. Kalau saja dia tidak memikirkan ibunya yang pucat pasi tadi di ruang meeting, Jessica sudah pasti akan mengumpat dan memaki lelaki itu sekarang.

"Naik lima kali lipat? Hanya dalam waktu satu bulan saja? Saya yakin Bapak bisa bermurah hati untuk menurunkan harganya," kata Jessica mengiba.

Tiba-tiba wajah Joshua yang tampan itu terlihat memuakkan di mata Jessica. Bisa-bisanya dia menaikkan harga sesukanya!

"Kita sama-sama tahu saya tidak membutuhkan uang itu," kata Joshua sambil berdiri dari duduknya.

Joshua berjalan ke arah pintu. Tangannya sudah memegang handle pintu ketika Jessica menarik lengannya. "Tunggu! Bagaimana kalau saya setuju dengan harga tersebut?" tanya Jessica yang hampir hilang akal.

Joshua menaikkan sebelah alisnya. Dia bisa mencium aroma keputusasaan menguar dari lawan bicaranya. Dia yakin Jessica tidak punya uang sebanyak itu. "Jangan gegabah. Keputusan semacam itu seharusnya Bu Jessica bahas dengan Bu Windi."

"Arnold menjual sahamnya kepada Bapak tanpa membicarakannya terlebih dulu dengan ibu kami. Maka saya juga berhak membeli saham itu kembali tanpa sepengetahuan ibu kami."

Joshua tersenyum, "Hati-hati, Bu. Belum tentu apa yang Bu Jessica inginkan sama dengan keinginan Bu Windi."

Tanpa sadar, Jessica masih memegang lengan Joshua. Mata mereka beradu. Perasaan yang berbeda berkecamuk di benak mereka masing-masing. Jessica merasa kesal karena menghadapi Joshua yang serakah, sedangkan Joshua terpesona dengan kecantikan Jessica dari dekat.

Rambut hitamnya yang sebahu membingkai sempurna wajah mungilnya. Kulit wajahnya bersih dan lembab. Pipinya bersemu merah. Sekali lagi Joshua menatap bibirnya. Bibirnya penuh dan tampak lembut. Ya Tuhan, gadis ini cantik sekali, batin Joshua.

"Saya masih ada urusan," kata Joshua akhirnya. Walaupun enggan, dia perlahan melepaskan genggaman tangan Jessica dari lengannya. "Bu Jessica ikut meeting dengan tim marketing kan besok pagi?"

Jesica mengangguk saja tanpa berkata apa pun lagi.

"Kalau begitu, sampai ketemu besok pagi," kata Joshua mengakhiri pertemuan mereka.

Bab 3

Pukul sembilan malam. Jessica duduk di sofa ruang tengah sambil memijat-mijat tumitnya yang pegal. Seharian tadi dia memakai Stiletto hitam di kantor. Dia ingin tampil sebaik mungkin karena ada kunjungan buyer dari Dubai. Bersama Joshua, Jessica mengajak buyer tersebut berkeliling workshop untuk melihat alur produksi.

Dia menyesal menggunakan sepatu bertumit runcing berwarna hitam itu. Kalau saja tadi pagi dia memakai sepatu flat, kakinya tidak akan terasa sakit seperti ini.

"Kenapa kakimu, Jess?" tanya Arnold yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya. Di pangkuannya ada es krim Haagen-Dazs rasa Macademia Nut.

"Pegal, lecet, capek," keluh Jessica masih sambil memijat-mijat tumitnya. Diliriknya Arnold yang sedang menikmati es krim sesendok demi sesendok.

"Ada apa?" tanya Jessica balik bertanya pada kakaknya.

Arnold mengedikkan bahunya, "Nggak ada apa-apa."

Jessica tahu itu jawaban bohong. Arnold hanya makan es krim kalau sedang banyak pikiran. "Kamu main judi lagi?"

Arnold membelalakkan matanya mendengar tuduhan Jessica. "Nggak! Dari mana uangnya!" jawabnya kesal.

Ibu mereka murka kepada Arnold. Dalam keadaan marah, ibunya menggunting kartu-kartu kredit Arnold. Rekening bank-nya juga kosong karena semua uangnya sudah ditransfer ke rekening ibunya. Bahkan paspornya pun tidak selamat dari amarah ibunya. Paspor itu dibakar di perapian.

Lelaki yang berusia dua puluh delapan tahun itu sekarang diperlakukan seperti seorang anak remaja oleh ibunya. Dia tidak boleh keluar rumah kecuali diantar supir. Dan yang paling parah, ibunya melarangnya kembali bekerja di PT Gembira Raya. Dia hanya mendapatkan uang saku mingguan dalam bentuk tunai.

"Terus, kamu lagi mikirin apa?" Pancing Jessica. "Kenapa makan es krim malam-malam?"

Arnold tampak murung. "Aku nggak bisa menghubungi Felice. Dari kemarin handphone-nya nggak aktif. Aku WhatsApp cuma centang satu."

Jessica menghela napas mendengar nama Felice disebut. Dia adalah kekasih kakaknya. Mereka sudah berpacaran selama dua tahun. Rencananya tahun ini Arnold akan melamarnya.

"Felice sudah tahu semuanya?" tanya Jessica.

Arnold cuma mengangguk.

"Tahu dari kamu langsung?"

“Mana berani aku cerita sama dia. Aku nggak tahu dia tahu dari siapa,” Arnold mengedikkan bahu. "Terakhir kali dia meneleponku, dia marah besar. Dia bilang minta putus."

"Alasannya?"

"Dia nggak mau nikah sama tukang judi."

Walaupun apa yang dikatakan Felice benar, hati Jessica merasa sedih kakaknya diperlakukan seperti itu oleh wanita yang dicintainya.

"Kamu sudah ke apartemennya? Sudah bicara langsung sama dia?"

Arnold menggeleng. "Dia mengganti kunci apartemennya. Aku nggak bisa masuk."

"Mau dengar saran dari aku?"

"Apa?"

"Pergilah ke Amerika. Masuklah ke panti rehabilitasi. Atasi kecanduan judimu." Arnold terdiam. Diaduk-aduknya es krim yang ada di atas pangkuannya.

"Mama dan aku sayang kamu, Arnold. Kami mau kamu berubah demi kebaikanmu sendiri. Setidaknya kali ini saja, tolong ikuti saranku."

Tanpa diduga, sebutir air mata jatuh di pipi Arnold. Disusul butiran-butiran air mata berikutnya. Walaupun Arnold banyak melakukan kesalahan dalam hidupnya, dia adalah pria yang berhati lembut. Secara reflek Jessica memeluknya. Demi Tuhan, Jessica begitu menyayangi kakaknya. Dia ingin Arnold bahagia.

"Aku selalu mengecewakan kalian."

Jessica mengusap-usap punggung kakaknya. "Belum terlambat kalau kamu mau memperbaiki keadaan."

***

PT Gembira Raya adalah perusahaan yang memproduksi perlengkapan bayi seperti stroller, car seat, dan bouncer. Perusahaan ini dibesarkan oleh Felix Armantyo, ayah Jessica. Perusahaan yang berorientasi ekspor ini menguasai pasar Asia Tenggara.

Walaupun terlahir kaya, Jessica selalu bekerja dengan sepenuh hati. Dia ingin bekerja berdampingan dengan ayahnya untuk mengembangkan perusahaan ini. Sayangnya impian itu pupus dua tahun yang lalu ketika ayahnya meninggal dunia.

Pagi itu Jessica berangkat ke kantor memakai sepatu flat Hush Puppies warna coklat yang sangat serasi dengan setelan kerjanya yang berwarna beige. Tumitnya masih terasanya nyeri gara-gara kemarin dia memakai Stiletto seharian.

"Maaf, Bu. Ibu sudah ditunggu Pak Joshua di ruangannya," kata Mila ketika Jessica melewati meja resepsionis.

Jessica menghela napas. ‘Kenapa dia mencariku pagi-pagi begini?’ gerutu Jessica dalam hati.

"Bapak mencari saya?" Jessica masuk ke ruangan Joshua setelah mengetuk pintu.

"Iya. Silahkan duduk." Joshua mengisyaratkan tangannya supaya Jessica duduk berhadapan dengannya. Joshua menjejerkan beberapa gambar di atas mejanya.

"Bu Jessica yang mendesain ini?" tanya Joshua.

Jessica memperhatikan satu per satu gambar stroller bayi yang dirancangnya beberapa bulan yang lalu. "Iya. Dari mana Bapak dapat gambar-gambar ini?"

"Dari tim Research and Development. Saya suka sekali motif untuk kanopinya. Belum ada kompetitor kita yang memiliki kanopi bermotif seperti ini. Saya yakin ini akan cepat terjual habis,” kata Joshua optimis.

“Terima kasih atas pujiannya. Tapi saya masih belum menemukan supplier kain yang bisa mencetak motif seperti itu di atas kain lycra.”

“Oh, jadi itu kendalanya. Saya sempat heran kenapa desain sebagus ini belum terealisasi.” Jessica mengangguk.

Joshua tersenyum. Dia mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sesuatu. Sepertinya dia menghubungi seseorang melalui WhatsApp. Tiba-tiba dia mendongak. Matanya menatap Jessica.

“Besok kita pergi ke Bandung. Tolong minta Mila pesankan dua tiket kereta untuk kita.”

Jessica mengangkat kedua alisnya, "Maaf, untuk apa kita ke Bandung?”

“Saya punya teman di Bandung yang bisa membantu kita untuk mendapatkan kain lycra bermotif.”

“Saya harus ikut?" tanya Jessica.

“Iya dong.”

“Saya bisa mengirim desainnya melalui email. Saya nggak perlu ikut ke Bandung,” tolak Jessica secara halus.

Joshua tersenyum tipis. “Kita ke Bandung bukan cuma untuk pesan kain. Kita perlu membangun relasi dengan supplier kain yang baru.”

“Supplier kain itu kan teman Bapak. Saya rasa relasi itu sudah terbangun dengan baik.” Jesica bersikukuh.

Joshua diam sejenak. Dipandangnya Jessica lekat-lekat. “Coba jujur, kenapa nggak mau ikut ke Bandung? Bu Jessica takut sama saya?” tanyanya terang-terangan.

Mendengar pertanyaan itu, Jessica meradang. ‘Aku? Aku takut padanya? Yang benar saja!’ batin Jessica.

“Baik, Pak. Saya akan ikut ke Bandung. Nanti setelah tiket keretanya issued, saya akan minta Mila untuk mengirimkannya melalui WA,” kata Jessica menahan diri. Kalau boleh jujur, dia kesal sekali pada Joshua yang memaksakan kehendaknya. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.”

Joshua mengangguk. Dia melihat Jessica berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju pintu dengan gerakan kaki yang sedikit aneh.

“Tunggu!” Seru Joshua seolah-olah dia tidak rela Jessica menyudahi pembicaraan mereka.

Jessica memutar badannya. “Ya? Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” tanyanya tidak sabar.

Joshua berjalan menghampiri Jessica. Dia berdiri cukup dekat dari Jessica sehingga dia bisa mencium wangi parfumnya yang lembut. Dilihatnya Jessica dari atas ke bawah. Sepertinya dia baik-baik saja. Kenapa cara berjalannya sedikit aneh?

“Bu Jessica kenapa? Maaf, cara jalannya kok nggak seperti biasanya.”

Jessica terkesiap. Dia tidak menyangka Joshua memperhatikan caranya berjalan. “Kaki saya lecet. Kemarin terlalu memaksa diri keliling workshop pakai stiletto.”

Joshua ingat stiletto hitam yang dipakai Jessica kemarin. Kakinya tampak lebih jenjang mengenakan sepatu itu. Berkat rok sepanjang lutut yang dikenakan Jessica, Joshua jadi bisa berlama-lama mengagumi keindahan betisnya ketika sesekali Jessica berjalan di depannya.

“Ada yang mau Bapak bicarakan lagi?” tanya Jessica membuyarkan lamunan Joshua.

Joshua tersenyum. “Besok untuk perjalanan dinas ke Bandung, tolong pakai sepatu yang nyaman saja ya.”

Jessica jadi salah tingkah mendengarnya. Pipinya sedikit tersipu. “Terima kasih atas perhatiannya,” kata Jessica segera berlalu dari ruangan Joshua.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED