Bab 2

Perlahan aku berjalan menuju ke kamarku, dan mengingat apa yang baru ku saksikan, hampir saja. Untung masih ada akal sehatku, padahal melihat itu semua membuat aku tak dapat menahannya, semoga Ibu tiriku tak aneh-aneh lagi. Hampir berkali-kali dia seolah-olah memancing aku menjadi nakal, tetapi aku selalu bisa mengatasi semua saat ini. Ibu tiriku hobi memakai pakaian Sexy, apalagi Ayah jarang datang, mungkin sudah nyaman dirumah istri ke empatnya.

Pagi hari “Bagas, bangun dan makan” Aku terbangun karena terkejut oleh suara itu.

Aku melihat Ibu tiriku masuk ke kamarku, padahal aku merasa semalam aku sempat mengunci pintu kamar, ah mungkin hanya perasaanku saja.

Aku beranjak dari ranjang, dan duduk sebentar sebelum berdiri menuju ke kamar mandi, “Ma, tunggu di bawah, nanti bagas menyusul”

Ibu tiriku berjalan keluar kamar, aku melihatnya, apakah dia tak memakai celana, hanya kaos putih sebatas paha yang terlihat, dia tak berpikir aku sudah berusia 19 tahun, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

Setelah mandi aku turun, dan duduk di meja makan, Ibu tiriku mengambil piring dan menyendok Nasi goreng yang sudah di masaknya, ayam sama telur dan sedikit sambal.

Ibu tiriku menikah dengan ayah delapan tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga.

Sudah lebih dari 4 tahun sejak Ibu kandung saya pergi entah kemana, Ayah membawa ibu tiri kesini dan tinggal bersamaku, dalam waktu empat tahun ini kami sudah seperti anak dan ibu, walaupun dia bukan ibu kandungku, aku menghormatinya. sebenarnya ibu tiriku tidak memberitahuku, tentang ayahku menikah lagi dan tinggal di rumah wanita lain di surabaya, dan ibu tiriku sering ke Bali, karena keluarganya berasal dari sana.

“Ma, kenapa sih mau di nikahi Papa, bukankah menderita, sering ditinggal dan menikah lagi di luar sana” Aku mengatakan sesuatu yang di sembunyikan oleh Ibu tiriku, padahal aku sudah tahu lama, karena Ayah pernah mengenalku pada Ibu tiri ku satu lagi.

Nama Ibu tiriku Ayu Satyawati yang tinggal serumah denganku, dan yang sekarang tinggal dengan Ayah namanya Desi,

Namun, ketika Ayah berurusan dengan masalah hukum, ibu Ayu sering membantu, karena keluarga besarnya adalah pengacara ternama, dengan banyaknya kelakuan buruk Ayah, Ibu tiriku ini masih betah menjadi istrinya, itu urusan mereka, aku kurang tertarik mengetahui banyak hal tentang itu.

“Kamu tahu dari mana, Ayahmu punya istri lagi?” tanya Ibu Ayu sedikit penasaran, karena dia tak pernah bercerita soal itu.

“Tahu Ma, temanku kan banyak, jadi informasi pasti kudapatkan sangat cepat”

Ibu tiriku terlihat dari wajahnya, malas membahas soal itu, dan aku masih penasaran ingin tahu, “Ma Kok tidak jawab pertanyaan tadi”

“Oh, sudah terlanjur, Mama sudah ikhlas, dan pasrah aja, toh Mama punya kamu disini, jadi Mama jalani aja”

Mendengar jawaban itu aku terdiam, jawaban pasrah dan seolah-olah sangat dalam, karena aku melihat mimik wajah ibu tiriku saat mengatakan hal itu, dia mau menyesal tapi tak bisa lagi, akhirnya terjebak dalam pernikahan ini, lebih dari pasrah.

Untungnya, berkat pendidikan rumah yang ketat dan antusiasme ibu tiriku, Aku mendapat nilai bagus, dan dia mencurahkan lebih banyak waktu dan berusaha utuk kemajuan pendidikanku. bagi ibu tiriku, aku adalah murid yang baik, pandai, rajin menjalankan tugas, dan seorang putra yang tampan dan terawat, jadi dia sangat bangga saat pergi bersamaku.

Saya belajar giat dan semangat untuk memenuhi harapan ibu Ayu. Sepertinya ibuku sudah menyerah pada ayahku dan hanya peduli padaku.

Ibuku selalu berpenampilan rapi di hadapan orang lain, tidak pernah sekalipun terlihat acak-acakan, dan hanya memperlihatkan penampilan yang tegas dan disiplin, namun aku yang menghabiskan sebagian besar waktuku bersamanya di rumah, dia selalu berpakaian sexy, tetapi hanya dirumah saja, dia tak menyadari atau sudah lupa, aku bukan anaknya,

Bab 3

Tahun ini aku sudah semester 5, tetapi aku belum memiliki pacar, mungkin karena aku sibuk belajar atau karena aku sedikit cuek, ada beberapa teman wanita menyukaiku, tetapi aku melihat mereka kurang tertarik. Dian Dan Lisa, mereka selalu menggodaku, bagiku mereka cantik, tetapi sedikit genit, bukan tipeku.

Aku suka membaca, jadi aku membaca setiap buku yang kutemukan di sekitarku, karena hobi membaca, semua jenis buku ku baca, Komik, juga membaca buku-buku pornografi, yang membuat saya memiliki pengetahuan teoritis tentang perilaku laki-laki dan perempuan.

Aku mencari sebuah buku menarik yang direkomendasikan oleh seorang teman, Aku menghabiskan lebih dari setengah hari untuk mencarinya.

"Jika aku mengetahuinya lebih awal, aku akan bertanya dari penerbit mana"

Karena bukunya sulit di cari, aku pergi ke toko buku terbesar, jadi aku tidak tahu dimana komik yang aku cari berada. Kalau itu karya yang populer, seharusnya bisa langsung menemukannya di area ubin depan pintu, tapi dari penuturan temanku, komik itu sepertinya adalah mahakarya tersembunyi yang cukup kuno.

Awalnya aku mendapat firasat buruk karena tidak ada versi elektroniknya, tapi aku tidak menyangka butuh waktu lama untuk menemukannya.

Lambat laun, aku merasa sedikit bosan, dan menjadi tertarik dengan judul-judul buku yang disusun secara tidak beraturan, jadi mau tak mau aku mengambil satu volume dan mulai membacanya.

Meskipun ini adalah toko buku terbesar di daerah tersebut, namun karena pengaruh keterasingan masyarakat secara bertahap dari membaca, sore ini tidak banyak pelanggan.

Aku ingat ketika masih kecil, selain toko buku ini, ada beberapa tempat persewaan Buku dan komik, tapi entah kapan semuanya berubah toko lain.

Logikanya, toko ini bisa dikatakan satu-satunya toko buku besar yang tersisa, namun jika terus seperti ini, mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja, sebelum seluruh toko buku di kawasan tersebut lenyap.

"Baiknya aku tanyakan saja pada pegawai toko buku"

Hal ini seharusnya dilakukan sejak awal. Aku melihat sekeliling dan melihat seorang gadis yang tampak seperti pegawai toko buku, jadi saya melangkah maju dan bertanya.

"Maaf Mbak” Begitu petugas itu berbalik, aku terkejut.

"Rania?”

Dia teman SMA ku, yang Meski secara keseluruhan dia terlihat lebih dewasa dan cantik, payudaranya terlihat montok.

Sepasang mata bulat terlihat cerah di bawah dengan bulu mata yang lentik, jika di lihat lebih dekat, dia makin cantik.

"Bagas”

Pegawai toko itu teman sekelas, menyebut nama Bagas dengan hati-hati, seolah keduanya sudah sepuluh tahun tidak bertemu.

"Kamu ingat namaku?"

Bagas mau tidak mau mengucapkan kata-kata Heran kepada mantan teman sekelasnya yang telah mengikuti kelas bersama selama SMA dulu.

Rania adalah seorang gadis sastrawan yang bersembunyi di pojok kelas dan asyik membaca.

Belum lagi percakapan verbal, bahkan anggukan pun tidak.

Jadi aku sedikit terkejut karena dia mengingat namaku.

“Pasti kenal lah, kita kan sekelas.”

"Iya"

Rania lalu bertanya "Sedang cari apa, Gas?"

" Aku sedang mencari Buku yang direkomendasikan teman, tapi tidak menemukannya."

"Apa judul bukunya?"

"Judulnya, Katakan Rahasiamu Ayah."

"Oh, baiklah tunggu sebentar aku cek dulu ya"

Rania menatap sekeliling dan berkata dengan tenang.

"Buku itu sudah habis sekarang"

"Dari mana kamu tahu sudah habis, Cuma lihat sekeliling?"

“Aku ingat semua buku yang masuk ketoko ini.”

“Keren Ingatanmu Rania?”

"Aku kan pegawai toko buku Gas"

“Iya aku tahu, kan sekarang kamu lagi kerja, maksudku, untuk mengingat semua buku yang ada dan habis itu luar biasa sekali.”

Mendengarnya saja sudah membuat pusing. Apakah kesukaannya pada buku yang mendorongnya untuk mengetahui semua buku di toko ini.

“Untuk berjaga-jaga, bagaimana kalau aku memeriksa inventaris di komputer?”

"Ya, aku tidak meragukanmu, tapi aku minta maaf sudah merepotkanmu."

"Tidak masalah"

Rania tersenyum lalu mengambil langkah.

Bagas mengikuti dari belakang.

“Aku tidak menyangka kamu, Rania, akan bekerja paruh waktu di toko buku.”

“Aku juga tidak menyangka akan bertemu teman sekelasku.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED