Vellice terbangun dari tidurnya. Masih setengah sadar ia duduk dan merenggangkan otot-ototnya. Ketika kesadarannya mulai kembali, ia langsung meloncat turun. Panik menyerbunya.
"Ini dimana!?" kalimat itu terus saja terngiang di kepalanya.
Matanya terfokus pada seragam yang tergantung di lemari pakaiannya.
'Vellice Alea Yudhistira' Nama itu tertera pada name tag di seragamnya.
"Bentar-bentar, itu bukan nama gue. Tapi, kenapa gue nggak asing ya sama nama itu" Vellice menger nyit bingung. Otaknya terus berpikir mencari tahu nama siapa itu.
"Kakak!!" pekik seseorang dari luar sambil menggedor pintu kamarnya.
"Sejak kapan juga gue punya adik?" Vellice bergumam sambil berjalan menuju pintu kamarnya.
Begitu membuka matanya Vellice menatap perempuan di depannya.
"Ma-maaf An-ann-anna nggak tahu kalo kakak masi tidur. Tap-tapi ini udah siang, kakak harus siap-siap berangkat sekolah" ucap Anna terbata bata. Batinnya berkata apakah kakaknya itu tidak sadar kalau tatapan matanya sangat tajam.
Vellice langsung menutup pintu itu begitu saja. Sekarang ia sadar ia ada dimana. Mengapa ia bisa masuk di dalam novel!?
Matanya menoleh ke arah jam dinding. Ia melotot dibuatnya. Langsung saja berlari ke kamar mandi dan menutup pintu dengan menendangnya. Ia akan terlambat!
Vellice sedikit lega ketika mengetahui kalau dandanan Vellice dalam novel bukan yang aneh-aneh. Vellice yang ada dalam novel adalah gadis tomboy yang penuh kenakalan. Juga memiliki 3 teman perempuan yang dandannannya lebih mirip akan ke klub malam bukannya ke sekolah.
Vellice berlari keluar rumah ketika mendengar suara mobil. Ia langsung saja nyelonong masuk ke dalam mobil adiknya.
"Ka-kak!" ucap Anna terbata ia begitu terkejut.
"Cepetan jalan!" bentak Vellice. Sekarang ia jadi semakin mendalami perannya walaupun masih di hari pertama. Bagaimana tidak? Ia benar-benar dibuat jengkel dengan Anna yang terlalu lemot untuk menjadi manusia.
Di sepanjang perjalan terlihat jelas kalau Anna menyetir dengan wajah tegang. Bahkan menurut Vellice tangan Anna terlalu erat mencengkram kemudi. Namun, apa ia peduli? Tentu saja tidak. Ia menatap sekeliling berusaha menghafal jalan yang ia lalui.
Ia memang tahu segala alur dari novel ini. Tapi tentu saja ia tidak akan tahu bagaimana bentuk nyatanya. Apalagi jalan jalanan di sini. Ini terlalu asing baginya. Jalanan ramai dan pohon-pohon besar yang berada di sisi jalan, membuat jalanan tidak terkena sinar matahari sedikitpun.
Benar saja sesampainya di sekolah, gerbang sudah ditutup. Vellice langsung saja keluar dari mobil. Ia menuju gerbang hendak meminta satpam membuka gerbang. Namun panggilan seseorang membuat ia langsung menoleh.
"Vel! Lo ngapain disitu? Ayok!" teriak seorang perempuan. Disisinya ada dua perempuan lainnya.
Vellice mengernyit, menerka-nerka mereka siapa. Vellice berjalan mendekat ke arah mereka. Begitu melihat name tag di baju mereka. Vellice baru menyadari kalau mereka adalah satu-satunya temannya di sekolah. Ya teman yang selalu bekerja sama dengannya dalam hal bullying.
"Eh! Lo kok ga pake make up si!? Sini sini!" Angel namanya, ia menarik Vellice menuju kafe di seberang sekolah.
Sesampainya di dalam kafe, Shelly segera memesan minuman bersama Alfa. Sedangkan Angel langsung saja membuka alat make upnya.
"Lo tumben berangkat bareng cewek cupu itu?" tanya Lara.
"Lagi males nyetir" ucap Vellice asal. Kini ia pasrah dengan wajahnya yang entah diberi apa saja oleh Angel.
"Lo juga tumben banget ga make up an. Tahu sendiri dasarnya muka lo pucet kayak mayat kalo ga pake make up. Kayak gembel lagi" gerutu Angel.
"Iya iyaa" sahut Vellice. Ia tidak menyangka jika pertemanan para tokoh antagonis itu seperti ini. Terlihat saling memperdulikan. Ia fikir, ia akan bertemu dengan teman-teman yang hanya bersamanya ketika mem-bully orang lain.
Mereka terus berbincang-bincang. Menggosipkan orang orang di sekolah. Bahkan mereka sempat menggosipkan Arlan. Tokoh utama dalam cerita ini.
"Sialan liat Arlan terus-terusan ngebela Si Cupu gue jadi pingin ngebully cupu lagi" ucap Lara bersungut-sungut emosi.
"Emang dasarnya cewek yang sok polos lebih ngeselin daripada jalang. Jelas jelas dia tahu kalo lo ngejar ngejar Arlan dari dulu! Tapi liat kelakuannya! Sengaja cari perhatian mulu! Sok lemah!" seru Shelly menimpali.
Vellice menepuk jidatnya ketika teringat. Tokohnya dalam cerita ini adalah sosok menyedihkan yang mengejar ngejar Arlan dengan berbagai cara. Namun, semenjak ia tak sengaja mendengar suara Arlan yang berkata menyukai Anna. Perlahan ia menjauh. Ya, sebaik itu hatinya yang tidak akan pernah diketahui orang lain. Ia juga tidak akan menunjukkan sisinya yang ini. Ia selalu menikmati perannya sebagai tokoh antagonis. Bahkan hingga maut menjemputnya.
Vellice bergidik ngeri, tidak tidak. Ia akan sedikit mengubah alur cerita hingga ia tidak jadi mati.
Mereka menghentikan acara bergosip ketika jam menunjukkan pukul 9. Itu berarti jam istirahat pertama dimulai. Pada saat itu pula gerbang akan dibuka.
Dengan langkah santai yang terkesan memenuhi jalan koridor. Mereka terus berjalan tidak mempedulikan orang orang yang harus menyingkir berjalan memutar. Vellice berjalan di tengah tengah mereka.
"Cupu! Sini lo!" perintah Alfa pada seorang perempuan berkacamata yang sedang menunduk memeluk bukunya. Sepertinya ia sedang mencoba bersembunyi agar tidak terlihat oleh para pemeran antagonis ini.
Seperti telah terbiasa, mereka memberikan tas mereka pada gadis cupu ini. Terakhir, Vellice memberikan tasnya.
"Kalau sampai ada tas yang jatuh. Lo pasti tahu apa yang akan terjadi" ucap Vellice tajam. Ia benar-benar menyukai perannya.
"I-iya kak" ucap gadis itu terbata dengan kedua tangannya yang penuh tas.
Setelah itu mereka berbalik pergi ke kantin. Untuk apa? Tentu saja melakukan hal yang menyenangkan.
***
Vellice hanya menonton sambil tertawa lebar. Melihat adiknya, Anna kini sedang di bully oleh teman temannya. Ohh akhirnya ia bisa merasakan perasaan ini. Ketika berada di dunia nyata ini adalah adegan paling ia sukai. Ketika Anna di bully.
"Ewh bau banget sih" ucap Vellice sambil menutup hidungnya.
"Hiks hiks kakaakk" ucap Anna, tangannya hendak meraih rok yang digunakan Vellice. Karena, kini Anna bersimpuh dihadapan Vellice. Vellice langsung menjauh, tak menghiraukan Anna.
"Hush! Hush!! Jangan sentuh sentuh!" sahut Vellice, tangannya pun memperagakan mengusir Anna.
Namun, seketika tangan itu berhenti. Ketika sebuah air panas mengguyur pergelangan tangannya.
Vellice menatap tajam sang pelaku. Setelah itu ia segera pergi dari sana. Menuju kamar mandi. Tangannya sangatlah sakit.
Benar saja ketika sampai kamar mandi tangannya memerah. Mulai dari pergelangan tangan hingga siku.
"Vel! Vel! Tangan lo gapapa kan!?" tanya Shelly. Shelly, Anna, Lara dan Angel hanya bisa berdiri di depan bilik kamar mandi karena Vellice menguncinya dari dalam.
"Sial, ambilin kaos olahraga gue sekalian dong! Habis ini kita olahraga kan?" Vellice mengetahui hal itu dari jadwal yang tertempel di meja belajarnya. Jangan tanya siapa yang membuat tulisan jadwal itu. Pasti bukan Vellice. Anna yang membuatnya, gadis itu diam-diam menempelkan jadwal di kamarnya.
"Oke! Tangan lo gapapa kan!?" pekik Lara.
"Iya-iya gapapa, udah mendingan habis gue siram air" ucap Vellice.
Setelah beberapa saat, mereka kembali membawa baju olahraga.
Vellice memakainya, mulutnya tersenyum tipis "Sempurna!" gumamnya. Ya sempurna menutupi lukanya. Dengan kaos olahraga berlengan panjang dan celana pendek diatas lutut.
Jangan tanya siapa yang berani menggunakan pakaian seperti itu. Tentu saja Vellice dan kawan kawannya saja.
Karena seragam yang benar adalah celana panjang dan baju berlengan pendek. Kebalikannya bukan?
Vellice segera keluar dari bilik kamar mandi.
"Lo nggak empek gitu daritadi di dalem?" ucap Alfa langsung.
"Nggak lah, iketin rambut gue dong!" ucap Vellice. Badannya bergerak mendekat kearah Lara yang sedang menganggur sambil memainkan hp.
"Ck! Sini! Manja" ucap Lara. Tapi tetap saja ia menyisir rambut Vellice dan mengikatnya.
"Kalian sadar ga?" tanya Alfa tiba-tiba.
"Apaan?" sahut Angel.
"Penampilan kita tu menggoda iman banget ya. Hahahaha" ucap Alfa. Diikuti tawa yang lainnya. Ya, memang menggoda iman. Dengan celana pendek dan baju yang hampir menenggelamkan celananya itu membuat seragam mereka tidak seperti baju olahraga.
Setelah selesai mereka keluar sambil terus bergurau ringan.
"Eh, hari ini jadwalnya ngapain ya?" tanya Angel.
"Voli katanya" sahut Alfa.
"Kelas kita barengan sama si kulkas jalan itu ya. Ck! Nyebelin banget sih! Bayangin mukanya aja pingin gue siram! Enak aja beraninya nyiram-nyiram Vellice!" seru Lara.
"Ya nggak usah dibayangin lah" ucap Vellice santai.
"Vellice! Lo kok gitu sih" ucap Lara cemberut. Sedangkan Vellice nyengir. Ia tidak salah kan?.
Sesampainya mereka di lapangan. Benar saja semua orang sudah berkumpul, termasuk Arlan di sana. Laki-laki yang disukai oleh tokoh Vellice dan menyiramnya tadi saat di kantin.
Mereka segera memasuki barisan.
"Seperti biasa olahraga kali ini akan digabungkan. Sekarang baris menjadi 2 barisan. Setelah itu orang yang ada di samping kalian adalah pasangan kalian untuk bermain bola voli, pasangan yang paling lama bola melambung. Dengan jatuh maksimal 3 kali, itu adalah yang menang." ucap guru.
Mereka segera melakukan perintah itu. Vellice dari tadi melamun, memikirkan tangannya yang sedang sakit. Tidak mempedulikan omongan gurunya itu.
"Sudah! Sekarang kalian saling berhadapan rentangkan kedua tangan, silahkan dimulai" ucap guru.
"Mau ngelamun terus?" ucap seseorang membuat Vellice segera tersadar.
"Hah?" ia terkejut. Kenapa bisa Arlan ada di depannya!?
"Awas aja lo bikin nilai gue jelek" ancam Arlan. Akhirnya dengan pasrah Vellice terus terusan menampik bola voli dari Arlan, juga sebaliknya. Begitu seterusnya. Hingga hanya 3 pasang yang masih bertahan. Termasuk Vellice dan Arlan.
Vellice terus menggigit bibir bawahnya. Tangannya sangat sakit sekarang. Perih sekali, rasanya seperti melepuh dan mengelupas secara bersamaan. Ini sangat sakit.
Sedetik setelah melihat lawannya kalah, Vellice langsung lari meninggalkan lapangan sambil berteriak "Pak! Ijin ke toilet!"
Kalimat itupun mengundang tawa orang lain.
Vellice langsung berbelok ke arah UKS, ia segera membuka lengannya. Terlihatlah kulitnya yang memerah dan terdapat bercak bercak darah.
"Astaga, gue lupa lagi pake tubuh orang. Ini kenapa kulitnya sensitif banget sih?" gerutu Vellice.
Setelah menyalakan kipas angin, ia segera berbaring di atas kasur. Membiarkan tangannya tertiup angin. Tidak berniat mengobatinya, karena itu hanya akan menambah sakit lukanya. Hingga tanpa sadar, ia tertidur hingga bel pulang telah berlalu.
"Dek, dek" panggil seseorang. Vellice langsung terbangun.
"Sudah hampir malam dek, mau bapak antarkan? Itu lukanya sudah di obati?" tanya pak satpam.
"A-ah? Tidak pak, saya pulang duluan. Terimakasih pak" ucap Vellice langsung berlari keluar.
Ia sudah membayangkan hal-hal yang menakutkan karena kelasnya berada di lantai dua. Namun, hal itu sirna begitu saja. Ketika ia menginjak lantai 2, terdengar suara tawa siswa-siswa yang masih ada di sana.
Rupanya mereka sedang mengadakan perkumpulan, ekstrakulikuler di basecamp yang letaknya ruangan paling ujung.
Kini setelah mengambil tasnya, masalahnya berubah lagi. Ia akan pulang naik apa? Ia tidak membawa uang sepeser pun. Ia bahkan tidak tahu dimana tokoh Vellice menaruh semua uang-uangnya.
Akhirnya, dengan mengandalkan ingatannya ia berjalan kaki. Diikuti dengan insting juga ketika ia mengalami kebingungan harus belok ke arah mana.
Selama perjalanan ia terkagum dengan keindahan dunia novel ini. Semua orang berjalan kaki. Mobil yang lewat bahkan dapat dihitung dengan jari.
Banyaknya orang yang berjalan di trotoar, membuat jalanan depan took-toko ini juga semakin lebar.
Ia terus mengamati sekitar sambil sesekali terpukau. Ini indah sekali tidak seperti kotanya yang penuh dengan kemacetan, hingga membuatnya harus selalu berangkat subuh ketika ke kampus supaya terhindar kemacetan.
Ketika melihat-lihat pertokoan, tanpa sengaja ia melihat pantulan dirinya di depan kaca sebuah butik.
"Astaga buluk banget gue, kayak gembel" gumamnya langsung ketika melihat rambut yang digelung asal-asalan membuat beberapa helai rambut berserakan. Lalu kaos olahraga kebesaran yang sudah kucel sekali, banyak debu juga pasir yang masih menempel di kaos itu. Pasir-pasir itu ia dapatkan ketika sedang olahraga tadi. Beberapa kali Arlan melakukan smash yang membuatnya mau tak mau menelungkup di tanah.
Vellice kembali berjalan, kalau tidak salah setelah ini ia tinggal belok kanan. Lalu melalui jalan perumahan, yang sangat jauh karena harus melewati ber blok-blok gang.
***
Hari yang buruk ini tambah buruk lagi ketika mengetahui di rumahnya sedang banyak manusia.
Baru saja Vellice membuka pintu, semua orang langsung terdiam. Bahkan ada yang menunduk tidak berani melihat Vellice.
Anna segera melangkah maju, berusaha seberani mungkin.
"Ma-maaf.. ki-kita ada tu-tugas kelompok" ucap Anna.
"Ck!" Vellice hanya berdecak sebal setelah itu berjalan menuju tangga.
"Jangan berisik!" bentak Vellice tanpa mengalihkan pandangan dan terus menaiki tangga.
Vellice langsung merebahkan badannya di atas kasur begitu memasuki kamar. Ia benar-benar lelah. Badannya terasa remuk semua. Apalagi, ia belum makan seharian ini.
Ia segera mandi karena badannya terasa begitu lengket. Lagi-lagi perempuan itu menghela nafas ketika melihat luka di tangannya yang sangat lebar dan terlihat menjijikkan. Kulitnya berubah warna menjadi merah tua keunguan. Diikuti lecet lecet yang memunculkan bercak darah.
Sakit? Pasti.
Setelah mandi kelaparan melanda dirinya. Apalah daya, ia yang sangat malas untuk makan. Tetap harus makan, bukannya tujuannya berada di dunia ini untuk bertahan hidup?
Vellice menuruni tangga dengan kaos lengan panjang dan celana pendeknya, suara tawa kembali menyambutnya ketika berada di bawah. Seperti terdapat sensor ditubuh mereka. Otomatis suara tawa itu berhenti ketika melihat Vellice.
Vellice acuh dan segera menuju dapur.
"Sialan ga ada makanan" gumamnya sebal ketika melihat atas meja makan kosong.
Membuka kulkas, ditemukannya roti bolu. Ia mengambil roti itu serta air putih. Duduk di kursi depan bar yang membatasi dapur.
Makan roti sambil memainkan handphonenya. Inilah saatnya untuk membuka semua akun sosial media tokoh Vellice.
"Uhuk! Uhuk!" ia seketika tersedak ketika melihat isi instagram tokoh Vellice.
"Anjrit!" sentak nya pelan.
Isinya semua ketika tokoh Vellice memakai pakaian seksi ataupun bikini.
Melihat isi komentar saja membuatnya mual sendiri. Semua komentar komentar kotor terlontar di sana.
Vellice segera menghapus semua foto-fotonya yang berpakaian seksi. Dari 28 foto yang di upload, ia menghapus 20 foto. Jadi, sebanyak itulah foto seksi yang dimiliki tokoh Vellice.
Pagi ini, Vellice berangkat dengan menggunakan sweater panjang. Untung sekolahnya hanyalah sekolah swasta yang isinya orang kaya semua. Peraturan disini pun tidak terlalu ketat. Jadi jangan tanya kenapa Vellice bisa mem-bully dan berpakaian seenaknya di sekolah.
Kali ini Vellice naik mobil sendiri. Ia sudah mengingat jalan untuk ke sekolah.
"Tumben lo pake sweater? Lagi sakit?" tanya Angel.
"Lagi pingin" ucap Vellice acuh.
"Sarapan dulu kuy!" ajak Lara. Mereka pun segera menuju kantin.
Niat hati ingin makan dengan tenang, tapi selalu saja ada gangguan baginya.
"Lo di panggil BK" ucap seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Vellice mendongak, sedikit terkejut ketika mendapati Arlan di sana.
Namun, yang dilakukan Vellice adalah acuh dan kembali memakan sarapannya. Ia sedang lapar.
"Denger ga sih!" sentak Arlan.
Vellice tak menanggapi itu, ia tetap acuh saja.
Arlan yang geram langsung menarik tangan Vellice. Menggeretnya menuju ruang BK.
"Lan! Lepas!" pekik Vellice berulang ulang, tangannya terasa sangat perih.
Sesampainya dekat dengan ruangan itu Arlan baru melepaskan cengkraman tangannya di tangan Vellice. Juga memperlambat langkahnya.
"Sakit tahu ga!" sentak Vellice keras hingga mampu membuat seisi koridor menoleh.
Arlan pun malah menatap Vellice tajam.
"Ga usah drama! Gitu aja ngeluh! Gimana adek lo yang tiap hari lo ganggu!" sentak Arlan.
Vellice menatapnya kesal, ia berjalan memasuki ruang BK sambil menghentakkan kakinya sebal.
Suara pintu ditutup menandakan Arlan ikut memasuki ruangan.
"Berani kamu memakai sweater memasuki ruangan saya! Lepas!" sentak Bu Yulia, dia adalah guru BK.
"Udah deh bu, ada urusan apa sama saya?" sahut Vellice kesal, dan langsung mendapatkan injakan kaki dari Arlan.
"Yang sopan!" sentak Arlan.
"Lepas sweater kamu! Setelah itu duduk!" perintah Bu Yulia.
Vellice yang sebal langsung melepas sweater nya dengan kasar.
"Astagfirullah! Tangan kamu kenapa!?" pekik Bu Yulia, ia pun langsung berdiri dari tempat duduknya.
Seketika pula Vellice menyesal karena melupakan lukanya. Kalau masih ingat, ia tidak akan mau melepas sweater itu.
Arlan jauh lebih terkejut lagi. Matanya hanya terfokus pada luka Vellice. Tangannya mengepal erat. Ini salahnya.
"Arlan! Arlan! Arlan! Arlan! Jangan melamun!" bentak Bu Yulia.
Arlan seketika tersadar ketika mendapat pukulan di tangannya.
"Bawa ke UKS sekarang! Cepat!" sentak Bu Yulia.
"Akh! Hei! Bego! Yang sakit tangan gue bukan kaki gue! Ngapain lo gendong gue! Turuninn!!" teriak Vellice ketika Arlan malah menggendongnya sambil berlarian di koridor membuat semua orang menoleh ke arah dua insan itu.
"Woi! Ambil P3K!" teriak Arlan setelah menendang pintu UKS.
Vellice sebenarnya mengernyit heran. Bukannya seharusnya tokoh Arlan adalah laki-laki yang tidak pernah panik?.
Bahkan di novel ketika Anna pingsan di lapangan pun Arlan masih bisa menggendongnya sambil berjalan tenang. Bukannya malah lari-larian kayak yang Arlan lakukan tadi.
Arlan segera menurunkan Vellice di atas kasur.
"Ga! Gamau!" teriak Vellice sambil menjauhkan tangannya ketika anak PMR datang membawa kotak p3k.
"Gamauu!!" teriak Vellice dia bahkan berusaha melompat ke sisi kasur yang lainnya. Namun kakinya ditahan sama Arlan.
"Lice! Nurut!" bentak Arlan. Laki-laki itu langsung ikut melompat naik brankar, menarik pinggang Vellice mendekat dan memeluknya erat karena perempuan it uterus mencoba turun dari brankar.
"Arlan! Lepas! Lepasin!" bentak Vellice.
Arlan tak menggubrisnya ia memegang tangan Vellice yang sakit.
"Cepat obatin!" sentak Arlan.
"Akh!!" teriak Vellice ketika mereka menempelkan kain berisi es batu ke tangan Vellice.
Rasa dingin bercampur perih pada bagian lecetnya bersatu.
"Arlan sakit, hiks. Arlaann... udahh.. uudahh.." rengek Vellice sambil menangis. Ia menyandarkan punggunya di dada Arlan. Tangannya mencengkram erat seragam laki-laki itu.
Arlan menghela nafas pelan. Ia menutup mata Vellice. Tanpa sadar bibirnya terus menempel pada ujung kepala Vellice.
"Jangan diliat, biar cepet sembuh. Kamu mau tangan kamu ada bekas luka besar gitu? Nanti ga bisa pamer kulit lagi" ucap Arlan. Entah mengapa hanya kalimat itu yang terpikirkan olehnya.
"Itukan gara gara kamu! Luka juga gapapa! Kan yang bikin lukanya kamu!" sahut Vellice.
"A-pa?" ucap Arlan terkejut dengan jawaban frontal Vellice. Ia kini semakin bingung, apa ia yang terlalu dalam mengartikan kalimat Vellice? Atau memang Vellice berniat mengatakan kalau ia rela luka luka asal dia yang melakukannya?
Astaga pemikiran gila apa ini?
***
Begitu mata itu terbuka rasa nyeri menyelimuti kedua tangannya.
Tangan kanannya nyeri karena kesakitan. Sedangkan tangan kirinya pegal karena dipakai bantalan sama si Arlan.
"Hahh" Vellice menghela nafas panjang.
"Udah bangun?" ucap Arlan yang langsung terbangun. Ia merenggangkan badannya yang terasa pegal pegal karena tidur dengan posisi tidak mengenakkan.
"Hmm" gumam Vellice.
"Jam berapa?" tanya Arlan lagi. Tapi matanya sudah melihat kearah jam dinding.
"Astaga udah jam 5!" ucap Arlan panik. Ia langsung berdiri mengambil tas dan lari keluar.
Vellice dengan gerakan malas keluar dari ruangan itu.
"Hahh, hujan" lagi lagi ia menghela nafasnya.
"Sialan, mana badan pegel semua. Tangan sakit, laper. Kejebak hujan lagi" gumam perempuan itu.
"Mana parkiran jauh lagi, ck!"
Karena ingin segera sampai rumah ia menerobos hujan, berlari ke arah parkiran.
Begitu memasuki mobil ia langsung meringis. "Akhh! Sakit banget sih! Ini tangan kenapa luka juga. Astaga, dingin banget kenapa ya" gerutunya terus sambil mematikan ac dalam mobil. Ia melepaskan sweater nya yang sudah basah total.
Vellice segera melajukan mobilnya. Nasib kembali menghampirinya ketika mobilnya mogok di jalan perumahan yang begitu sepi.
"Haaaaaahhh, sial. Ini kenapa bensin habis juga!" pekiknya tertahan.
"Mana gue tahu pom bensin dimana! Mana gue tahu harus ngisi bensin dimana! Gue gatahu apa-apa astaga. Perasaan gaada adegan mobil mogok di novelnya. Ck!" ucap Vellice sebal. Namun seketika ia tersadar akan sesuatu.
"Di novel juga ga ada adegan tangan gue sakit. Sial, berarti alurnya berubah gara-gara gue dong" gumamnya pelan.
Ia menyandarkan kepalanya ke stir mobil. Bingung harus melakukan apa.
Telfon? Ia harus menelfon siapa?
"Udah ga ujan. Apa gue jalan aja ya cari bensin" ucapnya bermonolog.
"Nggak-nggak males ah" ucapnya lagi.
"Bentar bentar, Vellice pasti punya kontak bengkel kan?" Ia segera mencari di kontak.
"Wah ada!" langsung saja Vellice menelpon bengkel. Setelah menunggu 10 menit orang bengkel sudah datang.
“Langsung diisi aja bang bensinnya” ucap Vellice. Setelah bensin terisi, ternyata mobilnya tidak bisa jalan. Mungkin karena terlanjur kehabisan bensin. Perempuan itupun memutuskan meninggalkan mobilnya saja.
"Bang, ini gue tinggal ya mobilnya. Ini kuncinya" setelah berbincang sebentar. Vellice segera lari dengan tas yang ia jadikan payung.
Tangannya yang tak tertutupi apapun terasa sangat perih. Padahal baru hari ini luka itu diobati.
Lagi lagi saat sampai rumah terdapat 2 mobil asing di teras rumahnya. Ia segera melepas sepatunya. Begitu membuka pintu semua orang sontak menoleh.
"Kakak! Kenapa basah semua!? Kakak hujan hujannan!? Tangan kakak kenapa!?" pekik Anna tanpa sadar.
"Berani kamu teriak?" ucap Vellice dengan nada rendah. Matanya menatap tajam ke arah Anna.
"Ma-maaf" ucap Anna langsung menundukkan kepalanya.
Vellice menatap sekitar. Mereka, Arlan dan ke tiga temannya menatap miris, khawatir, dan kasihan ke arahnya. Tatapan yang sangat ia benci.
"Ck!" Vellice berdecak sebal sambil menghentakkan tangannya yang dipegang oleh Anna. Ia segera melangkah cepat menuju kamarnya di lantai 2.
Brak! Bahkan ia menutup pintu dengan kasar.
"Akh!" pekiknya keras. Tangannya sangat sakit, moodnya buruk! Ia segera mengganti pakaiannya dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia berusaha memejamkan matanya dengan tangan yang menjuntai keluar kasur karena akan sakit ketika tergesek sesuatu.
***
"Vellice tangannya kenapa? Bukannya tadi dia sama lo?" tanya Ari.
Arlan yang ditanyai malah sedang melamun. Bergulat dengan segala pemikirannya.
"Biarin ajalah! Karma buat dia! Tiap hari kerjaannya cuma nindas orang terus" ucap Atta.
"Halahh lo aja yang ga terima gara-gara pacar lo pernah kena bully an" ucap Ashad.
"Anjir! Udah ah! Ini kita kesini mau ngapain sih?" ucap Atta mengalihkan pembicaraan.
"Gatahu tuh sia Arlan mau pdkt ngajak ngajak" sindir Ari.
"Nah kan yang katanya mau pdkt malah ngelamun" ucap Ashad.
Sedangkan Anna tersipu malu ditempatnya. Ia terus menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya.
"Lan! Woi!" ucap Ari sambil memukul lengan Arlan.
"Lis! List data buat pensi gimana ya?" ucap Arlan dengan cepat. Sebelum mereka menyadari apa arti dari yang ia ucapkan tadi ketika terkejut. Lis? Tentu saja dari kata "Lice" Vellice.
"Apaan sih lo? Pensi masih 2 bulan lagi ngapain lo pikir coba" ucap Ashad.
"Hmm gue udah ditagih sama Pak Im" ucap Arlan.
"Dih dasar guru satu itu emang seneng liat murid kesusahan" gerutu Ari.
"Udah-udah, pulang. Hujannya udah berenti" ucap Arlan langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia harus segera pergi dari tempat ini sebelum tubuhnya melakukan hal gila.
***
Vellice baru saja terbangun dari tidurnya. Matanya menatap atap sejenak. Ia segera mengalihkan pandangan ketika perutnya berbunyi.
"Loh? Apaan nih?" gumamnya. Ia seketika terduduk ketika melihat kantung plastik di atas meja belajarnya.
Tentu saja meja belajar hanya namanya saja, karena isinya adalah segala jenis make up, parfum juga ikat rambut serta topi.
"Wah! Makanan! Tahu aja gue lagi laper" ucapnya girang. Ia segera memakan makanannya tanpa rasa curiga apapun. Memang ketika perut lapar hal apapun akan terlupakan selain makanan.
Setelah makan juga minum yang sudah dibelikan.
"Hmm, rasanya kayak bubble tea" gumamnya.
Setelah merasa lega ia pun baru tersadar ketika menoleh ke arah balkon kamarnya.
"Pantesan dingin banget. Pintunya kebuka gini" ia segera berjalan menuju balkon, menutup pintu itu.
"Ga usah mandi deh" ucapnya terus bermonolog.
Ia berjalan ke arah pintu kamar. Saat itu pula ia terkejut ketika mendapati hal tak terduga.
"Loh! Kok masih ke kunci!?" pekiknya panik. Ia segera berlari lagi ke arah balkon. Membukanya lebar-lebar dan menoleh ke arah bawah.
Dilihatnya batang pohon yang cukup besar memang mengarah ke arah balkon kamarnya. Ia bahkan yakin bisa turun dengan mudah melalui batang pohon itu.
"Sial! Dari siapa!?" pekiknya. Ia menoleh ke sekitar dan menemukan satu kantung plastik lagi di atas meja yang ada di balkon kamarnya.
"Apalagi ini, horror banget sih!" ucapnya.
Begitu terbuka, terlihat perban, obat merah, serta salep.
"Hmm, yaudah deh siapa yang ngasih gue juga ga peduli. Yang penting ga merugikan" gumamnya. Ia segera masuk, dan memulai mengobati tangannya.
"Hahh, perih banget sih" ia lagi lagi menghela nafas.
***