Dari kejauhan Fiki tersenyum melihat Nay sudah bangun. Nay nampak kelelahan. Fiki mengurungkan niatnya untuk mendekati Nay. Fiki memberi waktu terlebih dahulu bagi Nay untuk beradaptasi dengan keadaannya dan lingkungan sekitarnya."Saya tidur mendadak lagi, ya, Ustadzah?" tanya Nay lemas. Mutia mengangguk."Iya, Ndhuk. Sepertinya kamu memang harus banyak beristirahat." Nay nampak sedih."Ada apa dengan saya, Ustadzah? Apakah saya perlu diruqyah?" tanya Nay, dia terlihat begitu merana.Mutia tersenyum, dia memeluk Nay."Nanti ustadz yang akan memberitahu padamu, Nay, apa yang terjadi padamu dan apa yang akan dilakukan ustadz padamu. Sabar sebentar, njih?" kata Mutia. Nay mengangguk. Air mata menggenang di pipinya."Sambil menunggu Nay mungkin mau cerita apa saja yang pernah kamu alami Nay? Ustadzah sangat ingin mendengarnya."Nay tersenyum. Dia tahu Mutia sedang menghiburnya. Nay mengangguk dan mengembuskan napas panjang."Saya menyadari kalau saya sering pingsan atau tidur ketika saya mulai masuk SMP, Ust. Waktu itu, setiap hari Senin, ketika upacara saya pasti pingsan, atau, yah, sekarang saya tahu kalau saya tidak pingsan tapi tidur. Sampai guru saya meminta orang tua saya memeriksakan saya ke dokter dan semua hasil pemeriksaan itu adalah normal. Jantung dan paru-paru saya normal. Saya sehat sepenuhnya. Ayah saya mengirim saya ke Singapura dan bahkan ke Jerman untuk mengetahui sakit yang saya derita, tapi semua hasil pemeriksaannya normal dan saya selalu dinyatakan sehat. Dan kemudian ayah saya menyuruh saya untuk tinggal di Singapura saja sampai beberapa bulan yang lalu. Ayah saya sakit, dan kami diminta pulang ke rumah. Ayah saya meminta saya tinggal di pesantren ruqyah untuk mengetahui apa yang terjadi pada diri saya."Nay mengerjapkan matanya beberapa kali. Beberapa bulir air mata menetes di pipinya."Saya lelah sekali, Ust," bisik Nay. Mutia mengangguk paham, dia merasa iba."Apakah dulu di Singapura sering terjadi tidur mendadak juga, Mbak?" tanya Mutia.Nay menggeleng."Jarang sekali terjadi. Pernah satu atau dua kali. Mungkin sering terjadi di rumah, tapi tidak sesering kejadian di sini," jawab Nay. Dia mengusap air matanya."Kata Ustadz Hasan dulu pernah ada keluarga Mbak Nay yang ke pesantren juga, nggih? Kalau tidak salah tadi Ustadz Hasan ngendiko (bilang) namanya Kayana, apa, ya? Atau siapa, ya, saya lupa," kata Mutia.Dan seketika wajah Nay berubah drastis. Wajah yang semula ramah dan ceria, tiba-tiba berubah datar dan terkesan murka. Dia memandang Mutia dengan pandangan yang aneh."Apakah Kay?" tanya Nay.Mutia mengangguk."Nah! Iya, namanya Kay!" seru Mutia. Nay tersenyum samar. Dia mengangguk."Dia kakak saya, Ust. Saya tidak tahu Kay pernah ke sini!" kata Nay, pandangannya nampak menerawang. Mutia bergidik melihat Nay berubah jadi seperti kosong. Mutia segera bertindak, dia mengguncang tubuh Nay."Nay! Nay! Jangan melamun!" kata Mutia. Nay tersenyum. "Mboten, Ustadzah. Kulo mboten ngalamun! (Tidak, Ustadzah. Saya tidak melamun!)" kata Nay. Mutia menelan ludah. Nay nampak berbeda. Mutia berpikir jangan-jangan Nay kerasukan. Dan Nay mengangguk."Iya! Aku ngrasuki awake bocah iki! Coba celuken ustadze mau! Aku tak ngomong langsung karo ustadze wae! (Iya! Aku merasuki anak ini! Coba panggilkan ustadz yang tadi! Aku mau bilang sendiri dengan ustadznya!)" kata Nay.Mutia beristighfar dan langsung berlari ke arah Fiki, Hasan dan Faza."Ustadz! Ustadz! Mbak Naya!" kata Mutia dengan khawatir, dia menunjuk-nunjuk ke arah Nay. Nay nampak duduk tenang dan tersenyum ke arah Mutia."Kerasukan lagi?" tanya Fiki.Mutia mengangguk. Dia menangis terisak. "Njih, Ustadzah, istighfar dulu, njih, Ust!" kata Hasan. Mutia mengangguk. Beberapa ustadzah menenangkan Mutia. Fiki dan Hasan segera menghampiri Nay, sementara Faza masuk ke dalam untuk memanggil Iqbal dan Fadli dan asatidz yang lainnya. Dan pagi itu semua berubah menjadi ingar bingar.****Fiki melihat Nay duduk dengan sangat anggun. Dia duduk dengan rapi dan kedua tangannya ditangkupkan di atas pangkuannya. Dia tersenyum pada Fiki."Pangapunten, Ustadz. Kawulo badhe ngrepoti, (Mohon maaf, Ustadz. Saya akan ngrepoti,)" kata Nay. Bahasa dan tingkah lakunya seperti bangsawan."Njih, monggo! Pangapunten sakderenge, panjenengan sinten, njih? (Iya, silahkan! Mohon maaf sebelumnya, anda siapa, ya?)" tanya Fiki.Nay tersenyum sopan."Kulo Dewi Drupadi, Ustadz. Kulo ingkang ngrencangi lare meniko kawit riyin, Ustadz, (Saya Dewi Drupadi, Ustadz. Saya yang menemani anak ini sejak dulu, Ustadz,)" jawab Nay penuh kelembutan, tak lupa senyum manis selalu terukir di bibirnya.Benar-benar perubahan kepribadian yang sangat signifikan, membuat Fiki terpana dibuatnya. Nay benar-benar seperti seorang artis, yang seakan bisa mengubah wataknya secara tiba-tiba."Oh, njih. Tepangaken kulo Fiki. (Oh, ya. Perkenalkan saya Fiki.)" Nay tersenyum. "Njih, Ustadz Fiki. Kulo badhe matur. Mangkih bapak saking Nay meniko badhe mriki amargi dipun undang kaliyan Ustadz Hasan. Pangapunten sanget sakderenge, mangkih Nay didhawuhi wangsul, Ustadz. Mangkih saksampune Nay wangsul, Ustadz mboten sisah madosi Nay malih, njih, Ust! Amargi menawi Nay wangsul, Nay badhe kulo aturaken dumateng Prabu Sri Katon, Ustadz. (Ya, Ustadz Fiki. Saya mau bilang. Nanti bapak dan ibu dari Nay akan datang ke sini karena diundang Ustadz Hasan. Maaf sekali sebelumnya, nanti Nay disuruh pulang, Ustadz. Nanti setelah Nay pulang, Ustadz tidak usah mencari Nay lagi, ya, Ust! Karena Nay akan saya berikan kepada Prabu Sri Katon, Ustadz.)" kata Nay, masih dengan posisi duduk yang anggun dan senyum manisnya.Fiki mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia nyaris hendak tertawa ketika mendengarkan Nay barusan. Tapi demi menjaga etika, Fiki mencoba menahan tawanya itu dan mengalihkannya dengan berdeham."Prabu Sri Katon meniko sinten, njih? Oh, njih, kulo kok, radi benget. Kulo kedah ngaturi panjenengan sinten, njih? Kok kadose radi mboten sopan menawi kulo langsung ngaturi asmanipun panjenengan, njih? (Prabu Sri Katon itu siapa, ya? Oh, ya saya kok, agak bingung, ya. Saya harus memanggil panjenengan siapa, ya? Kok sepertinya agak tidak sopan kalau saya memanggil nama panjenengan langsung, ya?)" tanya Fiki.Nay tertawa sopan, dia menutup mulutnya dengan tangannya."Injih, Ustadz. Ustadz sopan sekali. Ustadz boleh memanggil saya Raden Ayu Drupadi, Ustadz. Saya adalah putri dari kerajaan Karang Asem Kaler. Ayah saya adalah Prabu Winongsari, dan Prabu Sri Katon adalah calon suami saya. Dan Nay akan menjadi makanan calon suami saya!" kata Nay ringan dan ceria, "jadi kalau bisa ustadz jangan mencari Nay, njih, Ust!" lanjut Nay.Ruangan itu penuh dengan gumaman istighfar dan seruan kemarahan."Astaghfirullahal 'adzim! Tentu saja Mbak Nay tidak boleh dijadikan makanan jin, Raden Ayu. Mbak Nay adalah manusia yang berhak hidup di dunia ini....""Tapi sesuai perjanjiannya, Ustadz! Nay boleh kami ambil kalau dia sudah berusia dua puluh satu tahun!" potong Nay cepat, matanya nampak nyalang menatap Fiki. Fiki mendengus, sifat jin fasik yang asli --kasar, serakah, suka bohong dan penghasut-- sebentar lagi akan keluar."Tapi maaf, perjanjiannya, kan bukan dengan kami. Jadi kami berkewajiban menghentikan perjanjian itu!" kata Fiki dengan senyum yang terukir di bibirnya.Nay sepertinya terlihat menahan dirinya, dia berusaha untuk tidak marah dan menyerang Fiki. Nay tersenyum, tapi senyumnya terlihat agak menyeramkan."Kenapa ustadz sombong sekali? Ustadz pikir ustadz bisa mengalahkan kami?" tanya Nay dengan nada mencibir.Fiki hanya tersenyum."Bukan kami yang mengalahkan kallian, tapi kekuatan Allah lah yang akan mengalahkan kalian. Kami di sini hanya memohon kesembuhan dari Allah untuk manusia yang kalian ganggu ini!" jawab Fiki.Nay melengak dan tertawa. "Ah! Sudahlah! Mereka sebentar lagi akan datang. Sebaiknya ustadz-ustadz di sini bersiap!" kata Nay. Dan kemudian Nay mendadak tertidur lagi, membuat semua orang terkejut dan panik.Fiki hanya termenung. Dia benci memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau orang tuanya Nay datang ke sini.****
Dan memang keadaan menjadi semakin buruk, bahkan sangat buruk.Sore itu tiga mobil datang ke pesantren. Mobil milik orang tua Nay, mobil polisi dan ambulans. Ustadz Ramadhan nampak sangat tidak suka dengan hal ini. Beliau buru-buru menyambut Pak Danurisman dan rombongannya. Pak Danurisman sudah terlihat sepuh, tubuhnya gempal dan tidak terlalu tinggi. Rambutnya yang sudah beruban dipotong super pendek. Dan baju yang dipakainya --celana hitam dan jas hitam-- membuat Pak Darisman terlihat seperti bos mafia, dia nampak sangat berwibawa dan berkharisma. Tapi anehnya, Pak Danurisma tidak terlihat ingin menguasai Ustadz Ramadhan, dia bahkan mencium tangan Ustadz Ramadhan dan terlihat tunduk patuh pada Ustadz Ramadhan."Ustadz," sapa Pak Danurisman hormat, "Ustadz sehat? Bagaiman bapak dan ibu, Ustadz?" tanya Pak Danurisman takzim.Ustadz Ramadhan tersenyum takzim."Alhamdulillah bapak dan ibu saya sehat, Om. Om juga sehat?" jawab Ustadz Ramadhan, mengagetkan semua orang. Pak Danurisman mengangguk."Ya, saya juga sehat," jawab Pak Danurisman pendek. Mereka berpandangan."Jadi Nay ada di sini?" tanya Pak Danurisman.Ustadz Ramadhan mengangguk."Kenapa Om Danur harus membawa ambulans dan polisi? Kamu tidak akan menahan Nay di sini lebih lama lagi. Bahkan kami akan meminta Om Danur untuk membawa Nay berobat!" kata Ustadz Ramadhan kepada Pak Danurisman, orang-orang masih keheranan ketika mendengar panggilan Ustadz Ramadhan kepada Pak Danurisman.Mereka berpandangan dalam kesenyapan. Entah kenapa, terasa ketegangan yang pekat antara mereka berdua. Orang-orang tidak berani untuk mencoba menengahi mereka berdua."Kamu tidak pernah memaksa Nay untuk masuk ke pesantren. Tiba-tiba dia datang sendiri dan menceritakan pengalamannya kepada kami!" kata Ustadz Ramadhan tegas.Pak Danurisman agak tegang, dia memandang Ustadz Ramadhan dengan pandangan yang jelas marah."Cerita apa?" tanya Pak Danurisman dengan risau. Ustadz Ramadhan meminta Pak Danurisman menunggu, dan dia bergegas mencari Hasan Fiki, dan Ustadz Ramadhan meminta Hasan dan Fiki menceritakan kembali tentang cerita Nay tadi."Nay bilang, dia sakit dan sering pingsan. Panjenengan memeriksakan Nay dan kemudian meminta Nay tinggal di Singapura dan belum lama pulang karena panjenengan sakit, Pak Danurisman. Begitu cerita Nay pada saya," kata Hasan.Pak Danurisman melongo mendengar cerita Hasan. "Itu yang diceritakan Nay pada panjenengan semua?" tanya Pak Danurisman keheranan. Hasan mengangguk dengan agak sebal. Dia merasa marah dengan Pak Danurisman yang menurut Hasan tidak memerhatikan anaknya yang sedang dalam kondisi sakit dan malah menyuruh anaknya tinggal di Singapura."Astaghfirullah! Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Ustadz! Nay itu mengalami gangguan jiwa! Sudah lama Nay di rawat di rumah sakit jiwa. Dan seminggu kemarin kami mendapat kabar bahwa Nay minggat dari rumah sakit tersebut, maka kami buru-buru mencarinya, dan Ustadz Hasan malah menelpon saya. Makanya saya buru-buru ke sini dengan membawa ambulans dan polisi. Untuk berjaga-jaga saja!" kata Pak Danurisman.Semua orang terkejut dan berpandangan keheranan juga agak jengah."Meniko serat-serat saking RSJ, Ustadz. Kawulo mriki dados wakilipun pihak RSJ, amargi pihak RSJ percados menawi ustadz sedanten mesti mboten bakal langsung percados kaliyan Pak Danurisman, (Ini surat-surat dari RSJ, Ustadz. Saya di sini mewakili pihak RSJ, karena pihak RSJ percaya bahwa ustadz semua pasti tidak akan langsung percaya dengan Pak Danurisman,)" kata seorang polisi bernama Sagiman, sambil menyerahkan sebuah map kepada Ustadz Ramadhan.Ustadz Ramadhan mengajak asatidznya untuk melihat berkas-berkas tersebut. Dari berkas tersebut bisa diketahui bahwa Nayaka Danurismanti dirawat sejak lima tahun yang lalu. Nay keluar masuk RSJ sejak lima tahun yang lalu. Nay didiagnosa mengalami depresi dan pada lembar terakhir, sekitar dua bulan yang lalu, tertulis bahwa kemungkinan besar Nay sudah menderita skizofrenia paranoid dengan halusinasi berat. Dan pada lembar terakhir berkas pada map tersebut, tercantum perubahan resep obat untuk Nay.Semua sangat terkejut melihat semua berkas itu. Gumaman keprihatinan dan istighfar merebak di ruangan itu."Kami boleh minta salinan berkas ini untuk arsip, Om?" tanya Ustadz Ramadhan. Pak Danurisman mengangguk."Saya memang menyiapkan berkas ini untuk pesantren, Ustadz.""Oh! Jazakallah, Om!" jawab Ustadz Ramadhan. Mereka segera mengurus kepulangan Nay, yang belum genap dua hari di pesantren. Dan dalam waktu kurang dari satu jam, Nay sudah dibawa pergi dari pesantren oleh keluarganya.Fiki agak kecewa. Dia merasa kurang sreg dengan keputusan Ustadz Ramadhan. Tapi tentu saja sebagai orang luar, dia tidak berani ikut campur urusan internal pesantren ruqyah ini. Sehingga setelah ambulans itu pergi, dia segera menuju ke rumah Fadli untuk beristirahat sebentar karena dia akan berencana pulang ke Karang Legi dua hari lagi. Ah! Dia sudah sangat ingin pulang ke rumahnya di pesantren ruqyah di Karang Legi, pesantren yang lebih kecil, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.Dan entah kenapa ketika mengingat masa kecilnya, Fiki jadi teringat Rama. Dia mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba sebelum pulang Fiki ingin bertemu dengan Rama dulu, dia ingin memberi Rama uang atau mungkin membelikan Rama sesuatu.****Fiki perlu bantuan. Dia tidak hapal jalan ke lapangan tempat mereka menurunkan Rama tempo hari. Jadi dia meminta bantuan iparnya, Faza. Karena Fiki tidak berani meminta tolong Naim, karena pasti Naim akan berteriak-teriak dan semua orang akan tahu keinginan Fiki."Ustadz badhe nopo kok, pengen manggihi Rama? (Ustadz mau apa kok, ingin menemui Rama?)" tanya Faza sopan.Fiki tersenyum.Ipar-iparnya adalah sebuah fenomena tersendiri. Yang pertama adalah kedua orang tua mereka --mertua Fiki-- tidak terlalu tinggi dan tubuhnya juga tidak terlalu besar, tapi hampir semua iparnya bertubuh tinggi dan besar. Yang kedua, walaupun semua iparnya tinggi dan besar, bahkan dengan wajah yang garang, tetapi semua sopan dan sangat menjaga etika kepada siapapun.Seperti yang dilakukan Faza barusan. Tutur bahasa Faza sangat sopan dan sholih, kontras dengan tubuhnya yang tinggi besar, kulitnya yang hitam, jenggotnya yang lebat dan panjang dan rambutnya yang paling panjang diantara para lelaki pada keluarga istrinya. Fiki tersenyum, dia agak ragu ketika menceritakan semuanya, tentang perasaannya pada Rama. Sekilas terlihat kekhawatiran di mata Faza."Mbak Salma sampun ngertos, Ustadz? Mbak Salma sudah tahu, Ustadz?)" Fiki terdiam. Dia tahu seharusnya dia memberitahu Salma, tapi tentu saja Salma tidak akan setuju dengan apa yang dilakukannya, jadi Fiki memutuskan untuk tidak memberitahu Salma saja. Lagipula dia, kan hanya akan bertemu Rama sebentar dan belum tentu juga Fiki akan bertemu dengan Rama.Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, Fiki menggeleng."Mungkin lebih baik Salma tidak tahu saja, ya, Za! Aku ... aku takut dia akan emosi," jawab Fiki pelan. Dia mulai ragu Faza akan mau membantunya.Tapi di luar dugaan Fiki, Faza malah mengangguk."Mungkin lebih cepat kita lakukan akan lebih baik, Ust! Sebelum Mbak Salma atau ibuk menyadari apa yang kita akan kita lakukan!" kata Faza penuh semangat. Fiki menyambut semangat Faza dengan suka cita dan mereka berencana untuk mencari atau menyambangi Rama keesokan harinya.****Pagi hari yang panas di Karang Pandan. Jalanan begitu ramai dan padat. Dan Fiki merasa semakin tidak nyaman di kota besar ini, dia ingin segera kembali ke Karang Legi yang tenang dan sepi."Lapangannya kosong, Ustadz," kata Faza ketika mereka sampai di lapangan dekat pasar itu. Fiki mengangguk. Dia tersenyum, benar dugaannya, dia belum tentu akan bisa bertemu dengan Rama. "Ya, sudah! Tidak apa-apa, Za! Kita pulang saja! Nanti Salma marah!" kata Fiki. Faza mengangguk dan melihat kesedihan di wajah kakak iparnya. Faza hanya bisa prihatin dengan kesedihan Fiki, tanpa bisa benar-benar membantu Fiki menghilangkan kesedihan itu.****Melihat mahluk halus. Suatu musibah atau anugerah? Musibah karena mungkin akan melihat penampakan yang mungkin mengerikan. Anugerah karena memang bisa melihat alam lain yang beraneka rupa dan juga sekaligus bisa juga memiliki kemampuan-kemampuan yang bisa didapatkan dari mahluk halus itu.Dan Kay menganggap bisa melihat mahkuk halus sebagai anugerah terbesar dalam hidupnya. Karena dengan kemampuannya melihat mahkuk halus, Kay juga bisa meramal masa depan seseorang. Dan sepertinya ramalan Kay banyak yang sesuai, sehingga Kay banyak dimintai bantuan meramal nasib orang lain. Dan dengan nekad, Kay menyewa sebuah kantor kecil yang digunakan untuk tempat praktiknya. Dan selama hampir dua tahun terakhir, usaha ramalannya ini cukup berhasil. Banyak orang yang datang ke tempat praktiknya yang terletak di sebuah gedung pencakar langit di tengah padatnya ibu kota itu. Dan dari situlah Kay mendapat banyak uang dan juga ketenaran. Bahkan Kay, yang cantik jelita itu, sering menjadi buah bibir para selebriti yang kebanyakan menjadi pelanggannya dan juga Kay sering menjadi sorotan dan bahan berita di media massa.Kay tersenyum puas dengan persiapan ritual hari itu.[Bunganya dilihat dulu! Sudah lengkap atau belum?] Kata hati Kay atau entah bisikan dari mana berseru cukup keras, membuyarkan lamunan Kay.Kay mengangguk. Di segera memeriksa nampan berisi kembang atau bunga setaman. Kay mulai menghitung dalam hati. Melati, kanthil, mawar, dan kenanga. "Sudah lengkap, Nyai" jawab Kay. Jawaban itu diperuntukkan Nay pada suara yang ada di dalam tubuhnya. [Bagus! Sekarang periksa jajan pasarnya!] perintah suara itu lagi.Kay mengamati tampah besar berisi aneka makanan untuk sesaji itu. Ada secawan kecil ketan kukus yang sudah dicampur dengan kolak pisang. Ada kue lapis warna merah hijau. Ada kue ku atau kue citak yang berwarna merah cerah, menggugah selera. Ada kue apem yang berwarna coklat menawan, ada aneka rupa jenang dalam wadah yang cukup besar, wajik, jadah dan ketela rebus yang masih mengepul dan pisang emas dua sisir. Dan perut Kay berkeriut, menahan selera, melihat makanan lezat itu. Kay baru melihat jajanan pasar untuk sesaji hari ini, karena yang berbelanja adalah asistennya.[Bagus, semua sudah lengkap! Nyalakan dupa dan menyannya. Duduk bersila menghadap ke utara!]Kay mematuhi semua perintah suara itu. Dia segera menutup rapat ruangan itu. Dia menyalakan dupa, menyan dan lilin aroma. Kay segera menggelar matras yoga dan menggunakan matras itu untuk duduk menghadap ke arah utara, sesuai dengan perintah suara aneh itu.Kay memejamkan matanya dan menghela napas panjang.Ketenangan mulai melingkupi hatinya. Seorang wanita single yang hidup sendiri, tanpa ada orang yang tahu profesinya yang sebenarnya. Uangnya banyak dan yang paling menyenangkan bagi Kay adalah kemampuannya menerka masa depan seseorang hanya dengan menyentuh jemari orang tersebut.Ah! Menyenangkan sekali.[Buka matamu!]Dengan patuh Kay membuka matanya. Kay terbelalak kaget. Sekarang dia berada di sebuah tepi danau yang indah. Kay bisa melihat dengan jelas danau yang airnya jernih, bersih dan transparan itu. Indah sekali. Sekaligus sangat menyejukkan.Kay bangkit karena ingin melihat dengan lebih jelas air danau yang jernih itu.[Apa yang kamu lihat?]Kay memeriksa sekelilingnya. Danau itu terlalu indah untuk diganggu dengan tugas dari suara itu, tapi dia tidak ingin dihukum atau dibunuh oleh suara itu --seperti yang selalu diancamkan oleh suara itu selama ini kepadanya-- maka dengan segera Kay melihat danau itu dengan seksama.Dan dia melihatnya ....Kay melihat ada sebatang pohon rindang berdaun hijau muda dan berbunga warna merah muda, nyaris seperti pohon sakura. Indah. Hei! Dia melihat dua batang pohon dengan bunga warna merah muda itu. Dua pohon sepertinya tumbuh berdampingan. Dan, oh!Tidak! Tidak mungkin! Dua pohon itu sepertinya berada di tengah danau. Tidak mungkin, kan? Kay mulai dilanda kepanikan, tapi sekaligus penasaran.Dan kemudian Kay menyadari, ternyata di antara kedua pohon berbunga merah muda itu, terdapat seekor rusa jantan dengan tanduk bercabang-cabang, yang sedang menunduk, seperti sedang makan rumput.Tapi ... tapi ... tapi itu tadi kan di tengah danau! Kay nyaris maju mendekati pohon dan rusa itu. Tapi Kay lebih mendengar suara tawa dari dalam dirinya.[Apa yang kamu lihat?]Oh! Pertanyaan yang sama lagi. Kay menghela napas. Dia tidak boleh berbohong."Dua pohon berbunga merah yang tumbuh berdampingan dan di antara kedua pohon itu terdapat seekor rusa dengan tanduk besar bercabang-cabang ... tapi ... tapi ... bukankah pohon dan rusa itu ada di tengah danau?" Suara itu tidak dijawab suara dalam tubuh Kay, dan bahkan sepertinya pertanyaan Kay membuat suara itu tertawa panjang dan sangat puas.[Selamat, Kay! Kamu sudah bisa melihat Tanduk Setan!]Dan kemudian seakan Kay disedot ke belakang oleh kekuatan yang sangat dahsyat. Entah apa yang menyedot Kay, Kay tidak bisa melihatnya. Kay menjerit tertahan. Dan Kay merasakan tubuhnya dibanting ke bawah begitu saja, dan Kay terbangun dibatas matras yoga dengan terengah. Keringatnya bercucuran.Dan Kay menjerit histeris ketika tahu bahwa tidak ada selembar benang pun yang menutupi tubuhnya.****