Bab 1

Naim maju ke depan, hendak menghadapi bapaknya yang sedang dipeluk wanita asing, entah siapa. Tapi Fiki buru-buru menarik tangan Naim."Sabar, Mas Naim!" bisik Fiki. Naim mengibaskan tangan Fiki. "Saya kenal wanita itu! Dia, kan sering muncul di kantor polisi!" kata Naim. Dan dengan setengah berlari dia menuju ke teras rumah bapaknya. Membuat wanita itu terkejut dan melepas pelukannya pada Fadli. Wanita itu sangat terkejut ketika melihat Naim. Matanya membeliak tak percaya."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Naim dengan suara yang tegas dan keras. Wanita itu menunduk. "Kenapa kamu berani datang ke sini? Siapa kamu?" tanya Naim lagi.Wanita itu semakin menunduk. "Kamu ingin kutelponkan Pak Widi? Bukankah dia yang sering menangkap kamu?" tanya Naim murka.Wanita itu menggeleng."Jangan, Mas Naim!" kata wanita itu lemah."Lalu kenapa kamu memeluk-meluk suami orang? Yang kamu peluk itu bapakku!" teriak Naim.Wanita itu masih diam seribu bahasa. Naim jengkel, dia akhirnya membuka HPnya. Wanita itu langsung berteriak."Jangan, Mas! Jangan! Saya Pipit. Saya istrinya Ustadz Heri. Saya ke sini hendak berterima kasih pada Ustadz Fadli karena telah banyak membantu saya ....""Apa perlu berterima kasih sambil memeluk segala?" teriak Naim. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Sudah, Im! Kasihan anaknya!" kata Yasna. Dia tersenyum pada wanita itu dan mengajak sang wanita dan anaknya masuk ke dalam rumahnya, sebelumnya Yasna meminta anak-anaknya ke rumah Naim saja. Dia akan menyelesaikan semua masalah ini dengan Fadli."Mbak ini siapa?" tanya Yasna, setelah mereka semua duduk di ruang tamu."Saya Pipit, Ustadzah. Saya tetangganya Pak Dimas dan Ustadz Fadli di Senopati," jawab Pipit pelan.Yasna diam saja, dia memandang Pipit dengan tegas."Oh! Aku paham sekarang! Kamu anaknya Pak Aziz yang menjadi istri Ustadz Heri, ya? Tapi ... tapi kenapa kata Naim kamu sering ke kantor polisi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Fadli dengan kening yang mengerut. Wanita bernama Pipit itu menunduk dan diam saja. Dia tidak menjawab pertanyaan Fadli. Fadli dan Yasna berpandangan."Panggil Naim saja!" kata Fadli pada Yasna.Pipit mendongak, wajahnya basah oleh air mata."Jangan, Ustadz! Jangan! Jangan panggil Mas Naim! Nanti saya bisa dipenjara lagi!"Fadli dan Yasna berpandangan lagi."Kalau Mbak Pipit mau cerita, saya tidak akan memanggil Naim!" kata Fadli tegas. Pipit mengangguk. "Njih, Pak saya akan bercerita," jawab Pipit, "tapi saya minta menelpon sebentar, njih, Pak?" Fadli mengangguk. Pipit keluar rumah Fadli dan menelpon, anehnya anak Pipit sama sekali tidak ingin ikut Pipit keluar dan malah asyik makan cemilan yang disediakan Yasna. "Kamu namanya siapa?" tanya Yasna pada anak lelaki itu.Anak lelaki kecil itu tersenyum."Namaku Rama.""Rama sudah sekolah?" Rama menggeleng."Tadi sama ibu dari mana?"Rama menjengit."Ibu? Mana ibu Rama?" tanya Rama agak kebingungan. Yasna dan Fadli berpandangan."Yang tadi bersama Rama ke sini, bukannya ibunya Rama?" tanya Yasna."Oh, itu! Itu, kan, Mbak Pipit! Dia sering mengajak Rama ke mana-mana!"Fadli dan Yasna berpandangan lagi. "Maksud Rama apa?" tanya Yasna. "Ya, Mbak Pipit selalu ngajak Rama cari uang. Keliling-keliling minta uang dari rumah ke rumah. Kadang ke pasar-pasar juga!" jawab Rama polos.Yasna dan Fadli berpandangan. Fadli langsung berdiri dan keluar mencari Pipit, tapi sayangnya Pipit sudah tidak ada di teras. Fadli cukup panik, tapi anehnya Rama sama sekali tidak takut dan bingung. Dia masih asyik makan cemilan di rumah Fadli, dan sama sekali tidak peduli dengan kehebohan yang terjadi di sekelilingnya."Mas, kamu rumahnya mana?" tanya Fiki, dia penasaran kenapa anak kecil itu sama sekali tidak takut sendirian di tempat yang baru."Rumahku di belakang pasar, Ust! Aku bisa pulang sendiri, kok. Tapi aku lapar, aku boleh makan nggak?" tanya Rama.Fiki terhenyak."Boleh, tentu saja boleh! Nanti kalau kamu sudah makan, om antar pulang ke rumah kamu, ya?" kata Fiki.Rama memandang Fiki sebentar. Dia nampak agak bingung. Tapi kemudian mengangguk. "Tunggu sebentar, ya?" kata Fiki, dia segera mencari Salma. Salma memandang Fiki tak percaya."Belakang pasar? Pasar mana?" tanya Salma.Fiki mengangkat bahu."Ya, mana kutahu! Kamu, kan yang orang Karang Pandan," kata Fiki. Salma menyiapkan makan sambil berpikir. Bukankah daerah belakang pasar itu daerah pelacur**? Apa benar Rama tinggal di sana?"Ustadz, nanti kalau mau mengantar Rama sebaiknya dengan Mas Naim saja, biar nggak kesasar, ya?" kata Salma, beralasan agar Fiki tidak terkejut ketika mengantar Rama nanti.Fiki mengangguk dan segera mengajak Rama untuk makan.****"Belakang pasar? Oke nanti kuantar Ustadz Fiki ke sana," kata Naim keheranan, dia sebenarnya ingin bertanya lagi, tapi Naim harus menahan diri karena dia sedang menunggu jawaban Pak Widi yang sering menangkap Pipit."Sebenarnya selain minta uang, Pipit itu jadi apa, Im? Kenapa sering ditangkap oleh polisi?" tanya Yasna di ruang tamu rumahnya, sambil menunggu Rama selesai makan."Dia sering menipu, Buk. Dia sering mengaku-ngaku orang miskin, orang kesusahan, orang yang suaminya baru meninggal, dengan tujuan agar orang kasihan padanya dan memberinya uang. Dia sering juga mengemis dan meminta-minta di stasiun atau halte bis atau di terminal. Dan sepertinya dia punya cara baru dengan mengajak anak orang lain atau mungkin anak temannya untuk dijadikan alat agar orang kasihan padanya," jawab Naim."Astaghfirullah! Tapi katanya dia tadi istrinya Ustadz Heri, benarkah?" tanya Yasna. Naim mengangkat bahunya. "Naim malah baru tahu tadi, Buk! Bisa jadi juga, sih, Buk!" jawab Naim."Tapi ... tapi aku kenal keluarga mereka, Im! Pak Aziz itu orang baik-baik, apa mungkin anak Pak Aziz ada yang jadi pengemis, ya?" tanya Fadli, tidak jelas pada siapa.Mereka berpandangan."Kapan-kapan ke Senopati, tanyakan pada Pak Aziz, Mas!" kata Yasna. Fadli mengangguk."Insya Allah! Aku benar-benar prihatin kalau memang benar seperti itu adanya. Kalau memang benar ada anak Pak Aziz yang menjadi orang seperti Pipit," jawab Fadli.****Mobil Naim melaju perlahan, menembus jalan Karang Pandan yang semakin ramai dan semakin padat."Rama di rumah sama siapa?" tanya Faza, yang ikut dengan kakak dan kakak iparnya mengantarkan Rama."Dengan ibu.""Bapaknya Rama kerja di mana?"Rama mengangkat bahu."Kata ibu sejak bayi Rama tidak punya bapak. Jadi ibu yang kerja sekaligus merawat Rama," jawab Rama. Fiki dan Faza berpandangan."Ibu kerja apa, Ma?" tanya Fiki, dia ingin menguji sampai sejauh mana Rama tahu pekerjaan ibunya, yang di sebuah kawasan 'kotor' di belakang pasar itu."Ibu kerja jadi tukang cuci piring di salah satu kafe, Om! Ibu saya bukan pelac*r!" kata Rama sambil tersenyum. Semua orang dewasa di mobil itu terkejut, apalagi kalau melihat raut muka Rama yang santai dan tenang dalam menjawab pertanyaan Fiki dan Faza. Sepertinya Rama telah mengerti istilah itu sejak lama.Rama tertawa melihat raut wajah orang dewasa di sekelilingnya."Banyak yang mengira ibu saya pelac**, Ustadz," kata Rama lagi.Fiki mengangguk dan tersenyum paham."Apa ibumu tidak marah kalau banyak yang datang ke rumahmu sekarang?" tanya Fiki lagi. Rama menggeleng."Ibu pulangnya sore, kadang juga malam. Jadi di rumah tidak pernah ada siapa-siapa, Ust! Tapi nanti aku diturunkan di lapangan saja, Ust! Aku mau main dengan temanku!" kata Rama. Fiki mengangguk."Mas Naim tahu lapangan itu di mana, kan?" tanya Fiki. Naim mengangguk."Nggih, Ust. Insya Allah saya tahu," jawab Naim. Dan beberapa menit kemudian sampai di sebuah lapangan bola yang cukup luas. Rama mengucapkan terima kasih dan mencium tangan semua orang dan kemudian dia segera berlari ke lapangan dan langsung bermain dengan teman-temannya.Fiki menghela napas berat."Kasihan, ya?" bisik Faza. Fiki tersenyum."Iya! Dia masih kecil dan sudah begitu dewasa. Menurutku hidupnya pasti berat, ya?" kata Naim.Mereka berpandangan lagi. Fiki masih diam dan tak berkata-kata. Dia teringat pada masa kecilnya sendiri, yang mungkin hampir seperti Rama, apa-apa dilakukan sendiri, tanpa kehadiran seorang ibu, apalagi setelah ayahnya meninggal.Ah! Kehadiran Rama seakan mengingatkan Fiki pada masa lalunya.****Sholat Subuh pertama di pesantren dalam keadaan yang mengantuk tiada tara. Nay berusaha menahan kuapnya. Tapi tidak bisa. Dia menguap dan akhirnya menyerah dalam tidurnya.Padahal ini adalah sholat Subuh pertamanya di pesantren ....****Mutia buru-buru membantu beberapa orang santri akhwat yang mengangkat temannya yang pingsan ketika sholat Subuh."Siapa namanya?" tanya Mutia."Nayaka, Ustadzah.""Dari blok mana?" "Blok C-2, Ustadzah. Yang dekat dengan tangga naik."Mutia mengangguk."Kita bawa ke ruang rawat dulu, ya?" kata Mutia. Teman santri akhwat dan tim kesehatan mengangguk dan segera membawa santri bernama Nay itu ke ruang rawat di bagian dalam pesantren. Cukup jauh dari masjid.Dan, ya, begitulah. Hari kedua tahun ajaran baru di pesantren. Mutia menghela napas panjang ketika akhirnya mereka berhasil membawa Nay ke ruang rawat. Mutia segera menghubungi seorang perawat yang menjadi istri salah satu ustadz, yang rumahnya ada di belakang pesantren. Kurang dari lima menit, perawat bernama Irawati sudah memeriksa Nay.Setelah memeriksa Nay, Ira keheranan. Dia memandang Mutia."Ustadzah, santri ini tidak pingsan!" kata Ira, "dia tidur!" kata Ira lagi.Mutia mengerutkan keningnya."Nopo leres, Mbak? (Apa iya, Mbak?") tanya Mutia sangsi. Ira mengangguk. "Napasnya sangat teratur dan pelan. Detak jantung dan denyut nadi semua normal. Dan kalau kita bangunkan, pasti santri ini akan segera bangun. Kita coba, ya, Ust?" Mutia mendadak menjadi ragu, tapi kemudian dia mengangguk juga, karena Mutia berpikir, bahwa Nay juga harus segera sholat Subuh lagi."Njih, Mbak, silahkan!" jawab Mutia.Ira segera menepuk bahu Nay."Mbak Nay! Mbak Nay!" Ira memanggil Nay. Nay nampak menggeliat perlahan. Persis seperti orang bangun tidur."Lima menit lagi, ya?" jawab Nay.Ira memandang ke arah Mutia setengah tertawa. Dugaannya benar."Mbak Nay, sholat Subuh dulu, ya!" panggil Ira lagi.Nay membuka matanya. Dia terlonjak kaget ketika dia melihat Mutia dan beberapa teman yang mengelilinginya. Matanya terlihat panik dan tak membutuhkan waktu lama, Nay langsung menangis."Ustadzah?" "Iya, Nay! Tidak apa-apa! Sholat Subuh dulu, ya! Nanti kamu istirahat di sini dulu, ya?" kata Mutia menghibur Nay.Nay mengangguk dia bangun dan dalam posisi duduk, dia memeluk Mutia."Ustadzah, tolong Nay, Ustadzah! Semua terjadi lagi, Ustadzah!" ****Kinanti melepas kacamatanya. Dia melihat Daffa tak percaya."Kowe serius, Mas? (Kamu serius, Mas?") tanya Kinanti.Daffa mengangguk. Dia menyerahkan selembar surat pada ibunya. Kinanti membaca surat itu dengan teliti. Dia mengembalikan surat itu pada Daffa. Wajah Kinanti berseri-seri."Ibuk suka, kan, Bu?" Kinanti mengangguk bahagia. Air mata mulai menetes di pipinya. Kinanti memeluk Daffa erat."Jazakallah, ya, Mas!" bisik Kinanti."Sama-sama, Buk! Tapi sementara aku tinggal di sini, ya, Buk! Sampai aku dapat rumah atau apartemen sendiri," kata Daffa.Kinanti mengangguk bahagia. Dia sebenarnya sangat ingin menyuruh Daffa agar tinggal di rumahnya saja dan tidak usah mencari kost atau apartemen, tapi Kinanti tahu pastilah Daffa tidak mau karena malu dengan adik-adiknya dan juga sepupunya."Oh, ya. Satu lagi, Buk!" kata Daffa, wajahnya menyiratkan suatu rahasia dan sebagai ibunya, Kinanti tentu saja mengetahui sorot mata itu."Apa, Daf?" Daffa tidak langsung menjawab, dia malah menengok ke sana ke mari mencari sesuatu."Cari apa?" "Bapak mana, Buk?" tanya Daffa. Kinanti mengerutkan keningnya."Sepertinya bapak sedang rapat di masjid. Ada apa dengan bapak?" tanya Kinanti, "apa nyuruh santri manggil bapak?" "Eh! Nggak usah, Buk! Nggak papa, kok! Daffa bilangnya sama ibuk saja, ya, Buk! Nanti ibuk yang bilang sama bapak," jawab Daffa buru-buru. Dan jawaban Daffa berhasil membuat Kinanti berdebar tak menentu."Ono opo, to, Daf? Kok marai ibuk deg-degan! (Ada apa, to, Daf? Kok membuat ibu deg-degan!)" kata Kinanti. Daffa tertawa."Maafkan Daffa, ya, Buk. Sebenarnya alasan Daffa pindah ke sini bukan karena Daffa di terima di Rumah Sakit Bedah saja, tapi sebenarnya karena alasan yang lain. Maksud Daffa, Daffa melamar ke rumah sakit itu setelah alasan sebenarnya Daffa pindah ke Karang Pandan sudah benar-benar mantap dan sudah fix."Kinanti mengerutkan keningnya lagi. Jantungnya masih berdebar kencang. Tapi Kinanti tidak bertanya, dia hanya menunggu keterangan Daffa."Aku ... aku ... aku sudah bertemu dengan seseorang yang cocok untukku, Bu! Insya Allah, semoga bapak dan ibu merestui," kata Daffa pelan, doa agak menunduk.Kinanti menelan ludah, dia memandang anak sulungnya itu dengan seribu satu rasa di dadanya."Maksud kamu, kamu pindah ke sini karena wanita idamanmu itu ada di sini?" tanya Kinanti. Daffa merona dan mengangguk malu."Njih, Buk," jawab Daffa pelan."Oh, Alhamdulillah," bisik Kinanti bahagia, sangat bahagia, "namanya siapa, Daf? Rumahnya mana?" Daffa tertawa mendengar pertanyaan beruntun ibunya."Namanya Gina, Bu. Rumahnya di Jambean," jawab Daffa.Kinanti mengangguk. Jambean adalah daerah elite di Karang Pandan."Kenal di mana?" "Dulu teman SMA Daffa, Buk. Dia sempat bekerja di Karang Legi tapi kemudian pindah ke sini, Bu. Tapi ... tapi ada hal lain lagi yang akan Daffa sampaikan," kata Daffa lagi. Kinanti menilai wajah Daffa. Wajah Daffa yang tadinya cerah dan berbinar kini nampak agak khawatir."Kenapa, Daf?" tanya Kinanti lembut. Daffa tersenyum. Dia begitu merindukan kelembutan dan senyuman hangat ibunya. Dan ketika Daffa melihat keduanya, air mata berebutan keluar dari matanya. Daffa tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia terisak menumpahkan semua emosinya. Kinanti begitu terkejut melihat air mata itu."Astaghfirullah! Apakah ada hal buruk tentang Gina yang harus ibuk ketahui, Daf? Istighfar, ya, Daf!" kata Kinanti lembut, dia juga menangis, tapi dalam keheningan. Daffa semakin tak kuasa, dia tahu sekali ibunya selalu menangis dalam diam. Dia tahu bahwa ibunya selalu menangis tanpa suara, dan itu membuat Daffa semakin tersiksa. Mereka berpelukan. Daffa akhirnya mencoba menenangkan dirinya. Dia menghapus air matanya dan memandang ke arah ibunya nanar."Gina seorang janda, Buk. Dia sudah pernah menikah dan sudah punya anak."Daffa menghela napas lega. Semua beban yang selama ini dipikulnya, kini sudah dijelaskan kepada ibunya. Sekarang Daffa pasrah dan terus beristighfar dalam hati. Dia siap menerima apapun keputusan ibunya."Astaghfirullah! Ya Allah, Ya, Rabbi! Kupikir itu kamu mau bilang apa, Daf! Ya Allah!" kata Kinanti, dia menepuk tangan Daffa sambil tertawa dan mengusap air matanya.Daffa memandang ibunya tak percaya. "Jadi... jadi nggak papa, Buk?" tanya Daffa.Kinanti tertawa dalam tangisan, tapi kali ini tangis bahagia."Ya, tentu saja tidak apa-apa! Selama dia memiliki aqidah dan keyakinan yang sama dengan kita, pastilah tidak apa-apa!" bisik Kinanti, dia memeluk anak sulungnya itu erat-erat. Kinanti merasa lega dan kembali merasa bahagia. Tadi --ketika Kinanti melihat air mata Daffa-- dia mengira, pastilah Gina seorang wanita yang memiliki cacat fisik, sehingga membuat Daffa menangis.Ah! Takdir cinta memang hanya menjadi rahasia Allah saja.****Setelah sholat Subuh, Nay nampak lebih tenang. Dia melipat mukena dan sajadahnya. Kemudian dia duduk di tepi tempat tidur di ruang rawat. Nay tersenyum malu pada Mutia."Maaf, Nay merepotkan ustadzah, njih, Ust," bisik Nay. Mutia tersenyum."Ora popo, Nduk. Ono opo sebenere? (Tidak apa-apa, Ndhuk. Ada apa sebenarnya?)" tanya Mutia.Nayaka berdeham dan mulai bercerita."Sejak dulu saya indigo, Ustadzah. Saya bisa melihat mahluk halus dan hal-hal gaib lainnya," kata Nay memulai ceritanya.Seketika Mutia merinding mendengar cerita Nay. Mutia bukan peruqyah. Dia adalah seorang ustadzah kelas Tahfidz sekaligus menjadi pengurus asrama putri, menggantikan posisi ibunya. Dia sering juga mendengar tentang kisah-kisah mistis dan kisah menakutkan dari ustadz dan ustadzah yang kain, tapi Mutia belum pernah benar-benar menghadapinya sendiri."Jangan takut, ya, Ustadzah! Nay bisa membaca pikiran orang lain, terutama orang yang takut pada, Nay!" bisik Nay, "jadi Nay minta tolong untuk diruqyah saja, Ust!" pinta Nay, dia mulai menangis.Mutia terkejut Nay menangis. Mutia merasa, Nay menangis karena ketidakprofesionalannya sebagai seorang ustadzah. Mutia segera memeluk Nay."Astaghfirullah! Maafkan ustadzah, ya Mbak Nay! Maafkan ustadzah yang malah takut pada Mbak Nay!" "Tidak apa, Ustadzah! Kalau ustadzah tidak keberatan, Nay minta tolong diantar ke ruang ruqyah, ya, Ustadzah! Nay sebentar lagi akan kerasukan," bisik Nay dengan napas yang pendek dan tersengal dan beberapa detik kemudian, Nay terkulai tak sadarkan diri. Untunglah Mutia sigap memeluk tubuh Nay.Mutia berteriak-teriak minta tolong dan dalam sekejap beberapa orang segera membantu Mutia membawa Naya ke ruang terapi ruqyah. Hasan tersenyum."Ah! Keluarga Danurisman lagi, ya? Menarik sekali," kata Hasan.Mutia mengerutkan keningnya."Apa ada saudara Mbak Nay di pesantren, Ustadz?" tanya Mutia. Hasan mengangguk."Dulu kakaknya di sini, tapi kemudian mereka pindah ke luar negeri sepertinya, dan sekarang datang lagi anggota keluarga Danurisman yang lain dengan gejala yang sama."Mutia terkesiap. Dia menelan ludah dan memilih untuk mundur. Dia takut. ****Fiki sangat tertarik ketika mendengar ada seorang santri yang tertidur secara mendadak ketika sholat subuh dan kemudian tertidur lagi ketika berada di ruang rawat. Ketika Fiki sampai, Hasan sedang meruqyah santri akhwat itu. Fiki tersenyum samar dan mendekati Hasan."Ustadz, sepertinya orang tua atau leluhur santri ini memiliki sebuah ajian yang bisa mengunci kesadaran santri ini, Ustadz. Cara menyembuhkannya dengan menemukan siapa pemegang ajian ini dalam keluarga santri ini!" kata Fiki.Hasan mendesah. Dia mengangguk."Saya paling malas kalau harus berhubungan dengan wali santri untuk bertanya tentang hal seperti ini, Ust!" bisik Hasan. Mereka berdua tertawa."Sama, Ustadz. Alhamdulillah di pesantren Karang Legi ada Nurul Islam. Dia yang mengurusi hal-hal seperti itu," kata Fiki. Mereka berdua tertawa lagi."Nah, kalau di sini yang bilang seperti panjenengan pastilah Ustadz Iqbal," bisik Hasan. Fiki tambah terpingkal-pingkal, dia membayangkan Iqbal akan bersungut-sungut dan meminta Hasan menyelesaikan semua masalah."Jadi kita harus bagaimana, Ust?" tanya Faza, mengagetkan Hasan dan Fiki.Fiki tersenyum."Ya dibiarkan saja. Nanti juga bangun sendiri. Jadi saya sarankan kita jangan di depan santri ini, Ust. Nanti dia pasti malu kalau bangun," kata Fiki. Mereka menyingkir dan Fiki meminta santri akhwat dan ustadzah untuk menemani Nay."Ajian apa yang menyebabkan seseorang seperti itu, Ustad?" tanya Faza."Namanya ajian Kunci Lathi atau kunci lisan. Biasanya ajian ini digunakan untuk mengunci lisan atau jiwa pemakainya atau orang lain agar tidak bertingkah aneh atau membocorkan rahasia. Nah, dalam hal ini sepertinya keluarga Danurisman atau mungkin leluhurnya memiliki suatu rahasia yang harus dijaga rapat agar tidak diketahui orang lain. Tapi itu hanya sekedar dugaan saya, Ustadz. Selebihnya kita memang harus mencari tahu lebih dalam lagi!" kata Fiki.Mereka berpandangan."Ust, tidakkah berbahaya kalau kejadian seperti ini terjadi di kamar mandi atau ketika berkendara. Bisa jadi seperti serangan epilepsi, kan, Ust?" tanya Faza.Fiki mengangguk."Benar sekali, Za. Kadang pemilik ajian ini juga dianggap mengalami serangan jantung atau menderita sakit jantung yang menyebabkan dia selalu pingsan. Padahal bukan masalah fisik. Dan ketika pemilik ajian ini diperiksa jantung dan syarafnya, semua terbukti nihil untuk diagnosa sakit jantung epilepsi, semua normal!" jawab Fiki, "lalu untuk gangguan seperti ini muncul tidak menentu. Tapi menurut saya sepertinya reaksi ini muncul setelah santri akhwat itu masuk ke pesantren. Saya yakin ketika di rumah atau sebelum masuk pesantren, reaksi ini pasti jarang terjadi," lanjut Fiki.Hasan terdiam."Lalu?""Yah! Panjenengan harus segera menghubungi keluarga santri tersebut, Ust! Dan kita juga harus selalu menjaga santri akhwat ini, paling tidak kita tidak boleh membiarkan santri akhwat ini sendirian!" jawab Fiki. Hasan mengeluh, kemudian Hasan pamit menemui Ustadz Ramadhan, sang pemimpin pesantren. Fiki tersenyum pada Faza."Aku pernah merawat orang dengan ajian ini, Za! Dia selalu tidur di mana-mana dan kapan saja. Merepotkan sekali.""Apa tidak bisa diruqyah, Ust?" tanya Faza.Fiki menggeleng."Kita harus meruqyah orang yang tepat! Yang memiliki jimat, rajah atau susuk pengantar ajian ini," jawab Fiki.Faza menelan ludah. Berarti mereka harus mencari pemegang ajian ini yang sebenarnya."Lalu bagaimana dengan nasib orang yang ustadz rawat dulu?" tanya Faza.Fiki tersenyum."Sayangnya dia tertidur ketika membonceng motor. Dan kepalanya terbentur aspal. Orang itu meninggal seketika," jawab Fiki pilu.Faza bergidik. Membayangkan betapa berat kehidupan orang dengan ajian tersebut.****"Apa yang kami lihat?""Jangan beri lagi pertanyaan jebakan seperti itu!""Serius, kok!""Nggak liat apa-apa! Hanya air terjun yang begitu indah, sungai, batu, pohon....""Kamu melihatnya, kan?""Melihat apa?""Kamu menjawab pertanyaanku terlalu cepat! Kamu melihatnya, kan?"Sunyi. Sepi.Hening.Dan akhirnya sebuah desahan panjang."Ya, baiklah! Aku melihat mereka, karena mereka juga sedang melihat ke arah kita!"****

Bab 2

Dari kejauhan Fiki tersenyum melihat Nay sudah bangun. Nay nampak kelelahan. Fiki mengurungkan niatnya untuk mendekati Nay. Fiki memberi waktu terlebih dahulu bagi Nay untuk beradaptasi dengan keadaannya dan lingkungan sekitarnya."Saya tidur mendadak lagi, ya, Ustadzah?" tanya Nay lemas. Mutia mengangguk."Iya, Ndhuk. Sepertinya kamu memang harus banyak beristirahat." Nay nampak sedih."Ada apa dengan saya, Ustadzah? Apakah saya perlu diruqyah?" tanya Nay, dia terlihat begitu merana.Mutia tersenyum, dia memeluk Nay."Nanti ustadz yang akan memberitahu padamu, Nay, apa yang terjadi padamu dan apa yang akan dilakukan ustadz padamu. Sabar sebentar, njih?" kata Mutia. Nay mengangguk. Air mata menggenang di pipinya."Sambil menunggu Nay mungkin mau cerita apa saja yang pernah kamu alami Nay? Ustadzah sangat ingin mendengarnya."Nay tersenyum. Dia tahu Mutia sedang menghiburnya. Nay mengangguk dan mengembuskan napas panjang."Saya menyadari kalau saya sering pingsan atau tidur ketika saya mulai masuk SMP, Ust. Waktu itu, setiap hari Senin, ketika upacara saya pasti pingsan, atau, yah, sekarang saya tahu kalau saya tidak pingsan tapi tidur. Sampai guru saya meminta orang tua saya memeriksakan saya ke dokter dan semua hasil pemeriksaan itu adalah normal. Jantung dan paru-paru saya normal. Saya sehat sepenuhnya. Ayah saya mengirim saya ke Singapura dan bahkan ke Jerman untuk mengetahui sakit yang saya derita, tapi semua hasil pemeriksaannya normal dan saya selalu dinyatakan sehat. Dan kemudian ayah saya menyuruh saya untuk tinggal di Singapura saja sampai beberapa bulan yang lalu. Ayah saya sakit, dan kami diminta pulang ke rumah. Ayah saya meminta saya tinggal di pesantren ruqyah untuk mengetahui apa yang terjadi pada diri saya."Nay mengerjapkan matanya beberapa kali. Beberapa bulir air mata menetes di pipinya."Saya lelah sekali, Ust," bisik Nay. Mutia mengangguk paham, dia merasa iba."Apakah dulu di Singapura sering terjadi tidur mendadak juga, Mbak?" tanya Mutia.Nay menggeleng."Jarang sekali terjadi. Pernah satu atau dua kali. Mungkin sering terjadi di rumah, tapi tidak sesering kejadian di sini," jawab Nay. Dia mengusap air matanya."Kata Ustadz Hasan dulu pernah ada keluarga Mbak Nay yang ke pesantren juga, nggih? Kalau tidak salah tadi Ustadz Hasan ngendiko (bilang) namanya Kayana, apa, ya? Atau siapa, ya, saya lupa," kata Mutia.Dan seketika wajah Nay berubah drastis. Wajah yang semula ramah dan ceria, tiba-tiba berubah datar dan terkesan murka. Dia memandang Mutia dengan pandangan yang aneh."Apakah Kay?" tanya Nay.Mutia mengangguk."Nah! Iya, namanya Kay!" seru Mutia. Nay tersenyum samar. Dia mengangguk."Dia kakak saya, Ust. Saya tidak tahu Kay pernah ke sini!" kata Nay, pandangannya nampak menerawang. Mutia bergidik melihat Nay berubah jadi seperti kosong. Mutia segera bertindak, dia mengguncang tubuh Nay."Nay! Nay! Jangan melamun!" kata Mutia. Nay tersenyum. "Mboten, Ustadzah. Kulo mboten ngalamun! (Tidak, Ustadzah. Saya tidak melamun!)" kata Nay. Mutia menelan ludah. Nay nampak berbeda. Mutia berpikir jangan-jangan Nay kerasukan. Dan Nay mengangguk."Iya! Aku ngrasuki awake bocah iki! Coba celuken ustadze mau! Aku tak ngomong langsung karo ustadze wae! (Iya! Aku merasuki anak ini! Coba panggilkan ustadz yang tadi! Aku mau bilang sendiri dengan ustadznya!)" kata Nay.Mutia beristighfar dan langsung berlari ke arah Fiki, Hasan dan Faza."Ustadz! Ustadz! Mbak Naya!" kata Mutia dengan khawatir, dia menunjuk-nunjuk ke arah Nay. Nay nampak duduk tenang dan tersenyum ke arah Mutia."Kerasukan lagi?" tanya Fiki.Mutia mengangguk. Dia menangis terisak. "Njih, Ustadzah, istighfar dulu, njih, Ust!" kata Hasan. Mutia mengangguk. Beberapa ustadzah menenangkan Mutia. Fiki dan Hasan segera menghampiri Nay, sementara Faza masuk ke dalam untuk memanggil Iqbal dan Fadli dan asatidz yang lainnya. Dan pagi itu semua berubah menjadi ingar bingar.****Fiki melihat Nay duduk dengan sangat anggun. Dia duduk dengan rapi dan kedua tangannya ditangkupkan di atas pangkuannya. Dia tersenyum pada Fiki."Pangapunten, Ustadz. Kawulo badhe ngrepoti, (Mohon maaf, Ustadz. Saya akan ngrepoti,)" kata Nay. Bahasa dan tingkah lakunya seperti bangsawan."Njih, monggo! Pangapunten sakderenge, panjenengan sinten, njih? (Iya, silahkan! Mohon maaf sebelumnya, anda siapa, ya?)" tanya Fiki.Nay tersenyum sopan."Kulo Dewi Drupadi, Ustadz. Kulo ingkang ngrencangi lare meniko kawit riyin, Ustadz, (Saya Dewi Drupadi, Ustadz. Saya yang menemani anak ini sejak dulu, Ustadz,)" jawab Nay penuh kelembutan, tak lupa senyum manis selalu terukir di bibirnya.Benar-benar perubahan kepribadian yang sangat signifikan, membuat Fiki terpana dibuatnya. Nay benar-benar seperti seorang artis, yang seakan bisa mengubah wataknya secara tiba-tiba."Oh, njih. Tepangaken kulo Fiki. (Oh, ya. Perkenalkan saya Fiki.)" Nay tersenyum. "Njih, Ustadz Fiki. Kulo badhe matur. Mangkih bapak saking Nay meniko badhe mriki amargi dipun undang kaliyan Ustadz Hasan. Pangapunten sanget sakderenge, mangkih Nay didhawuhi wangsul, Ustadz. Mangkih saksampune Nay wangsul, Ustadz mboten sisah madosi Nay malih, njih, Ust! Amargi menawi Nay wangsul, Nay badhe kulo aturaken dumateng Prabu Sri Katon, Ustadz. (Ya, Ustadz Fiki. Saya mau bilang. Nanti bapak dan ibu dari Nay akan datang ke sini karena diundang Ustadz Hasan. Maaf sekali sebelumnya, nanti Nay disuruh pulang, Ustadz. Nanti setelah Nay pulang, Ustadz tidak usah mencari Nay lagi, ya, Ust! Karena Nay akan saya berikan kepada Prabu Sri Katon, Ustadz.)" kata Nay, masih dengan posisi duduk yang anggun dan senyum manisnya.Fiki mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia nyaris hendak tertawa ketika mendengarkan Nay barusan. Tapi demi menjaga etika, Fiki mencoba menahan tawanya itu dan mengalihkannya dengan berdeham."Prabu Sri Katon meniko sinten, njih? Oh, njih, kulo kok, radi benget. Kulo kedah ngaturi panjenengan sinten, njih? Kok kadose radi mboten sopan menawi kulo langsung ngaturi asmanipun panjenengan, njih? (Prabu Sri Katon itu siapa, ya? Oh, ya saya kok, agak bingung, ya. Saya harus memanggil panjenengan siapa, ya? Kok sepertinya agak tidak sopan kalau saya memanggil nama panjenengan langsung, ya?)" tanya Fiki.Nay tertawa sopan, dia menutup mulutnya dengan tangannya."Injih, Ustadz. Ustadz sopan sekali. Ustadz boleh memanggil saya Raden Ayu Drupadi, Ustadz. Saya adalah putri dari kerajaan Karang Asem Kaler. Ayah saya adalah Prabu Winongsari, dan Prabu Sri Katon adalah calon suami saya. Dan Nay akan menjadi makanan calon suami saya!" kata Nay ringan dan ceria, "jadi kalau bisa ustadz jangan mencari Nay, njih, Ust!" lanjut Nay.Ruangan itu penuh dengan gumaman istighfar dan seruan kemarahan."Astaghfirullahal 'adzim! Tentu saja Mbak Nay tidak boleh dijadikan makanan jin, Raden Ayu. Mbak Nay adalah manusia yang berhak hidup di dunia ini....""Tapi sesuai perjanjiannya, Ustadz! Nay boleh kami ambil kalau dia sudah berusia dua puluh satu tahun!" potong Nay cepat, matanya nampak nyalang menatap Fiki. Fiki mendengus, sifat jin fasik yang asli --kasar, serakah, suka bohong dan penghasut-- sebentar lagi akan keluar."Tapi maaf, perjanjiannya, kan bukan dengan kami. Jadi kami berkewajiban menghentikan perjanjian itu!" kata Fiki dengan senyum yang terukir di bibirnya.Nay sepertinya terlihat menahan dirinya, dia berusaha untuk tidak marah dan menyerang Fiki. Nay tersenyum, tapi senyumnya terlihat agak menyeramkan."Kenapa ustadz sombong sekali? Ustadz pikir ustadz bisa mengalahkan kami?" tanya Nay dengan nada mencibir.Fiki hanya tersenyum."Bukan kami yang mengalahkan kallian, tapi kekuatan Allah lah yang akan mengalahkan kalian. Kami di sini hanya memohon kesembuhan dari Allah untuk manusia yang kalian ganggu ini!" jawab Fiki.Nay melengak dan tertawa. "Ah! Sudahlah! Mereka sebentar lagi akan datang. Sebaiknya ustadz-ustadz di sini bersiap!" kata Nay. Dan kemudian Nay mendadak tertidur lagi, membuat semua orang terkejut dan panik.Fiki hanya termenung. Dia benci memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau orang tuanya Nay datang ke sini.****

Bab 3

Dan memang keadaan menjadi semakin buruk, bahkan sangat buruk.Sore itu tiga mobil datang ke pesantren. Mobil milik orang tua Nay, mobil polisi dan ambulans. Ustadz Ramadhan nampak sangat tidak suka dengan hal ini. Beliau buru-buru menyambut Pak Danurisman dan rombongannya. Pak Danurisman sudah terlihat sepuh, tubuhnya gempal dan tidak terlalu tinggi. Rambutnya yang sudah beruban dipotong super pendek. Dan baju yang dipakainya --celana hitam dan jas hitam-- membuat Pak Darisman terlihat seperti bos mafia, dia nampak sangat berwibawa dan berkharisma. Tapi anehnya, Pak Danurisma tidak terlihat ingin menguasai Ustadz Ramadhan, dia bahkan mencium tangan Ustadz Ramadhan dan terlihat tunduk patuh pada Ustadz Ramadhan."Ustadz," sapa Pak Danurisman hormat, "Ustadz sehat? Bagaiman bapak dan ibu, Ustadz?" tanya Pak Danurisman takzim.Ustadz Ramadhan tersenyum takzim."Alhamdulillah bapak dan ibu saya sehat, Om. Om juga sehat?" jawab Ustadz Ramadhan, mengagetkan semua orang. Pak Danurisman mengangguk."Ya, saya juga sehat," jawab Pak Danurisman pendek. Mereka berpandangan."Jadi Nay ada di sini?" tanya Pak Danurisman.Ustadz Ramadhan mengangguk."Kenapa Om Danur harus membawa ambulans dan polisi? Kamu tidak akan menahan Nay di sini lebih lama lagi. Bahkan kami akan meminta Om Danur untuk membawa Nay berobat!" kata Ustadz Ramadhan kepada Pak Danurisman, orang-orang masih keheranan ketika mendengar panggilan Ustadz Ramadhan kepada Pak Danurisman.Mereka berpandangan dalam kesenyapan. Entah kenapa, terasa ketegangan yang pekat antara mereka berdua. Orang-orang tidak berani untuk mencoba menengahi mereka berdua."Kamu tidak pernah memaksa Nay untuk masuk ke pesantren. Tiba-tiba dia datang sendiri dan menceritakan pengalamannya kepada kami!" kata Ustadz Ramadhan tegas.Pak Danurisman agak tegang, dia memandang Ustadz Ramadhan dengan pandangan yang jelas marah."Cerita apa?" tanya Pak Danurisman dengan risau. Ustadz Ramadhan meminta Pak Danurisman menunggu, dan dia bergegas mencari Hasan Fiki, dan Ustadz Ramadhan meminta Hasan dan Fiki menceritakan kembali tentang cerita Nay tadi."Nay bilang, dia sakit dan sering pingsan. Panjenengan memeriksakan Nay dan kemudian meminta Nay tinggal di Singapura dan belum lama pulang karena panjenengan sakit, Pak Danurisman. Begitu cerita Nay pada saya," kata Hasan.Pak Danurisman melongo mendengar cerita Hasan. "Itu yang diceritakan Nay pada panjenengan semua?" tanya Pak Danurisman keheranan. Hasan mengangguk dengan agak sebal. Dia merasa marah dengan Pak Danurisman yang menurut Hasan tidak memerhatikan anaknya yang sedang dalam kondisi sakit dan malah menyuruh anaknya tinggal di Singapura."Astaghfirullah! Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Ustadz! Nay itu mengalami gangguan jiwa! Sudah lama Nay di rawat di rumah sakit jiwa. Dan seminggu kemarin kami mendapat kabar bahwa Nay minggat dari rumah sakit tersebut, maka kami buru-buru mencarinya, dan Ustadz Hasan malah menelpon saya. Makanya saya buru-buru ke sini dengan membawa ambulans dan polisi. Untuk berjaga-jaga saja!" kata Pak Danurisman.Semua orang terkejut dan berpandangan keheranan juga agak jengah."Meniko serat-serat saking RSJ, Ustadz. Kawulo mriki dados wakilipun pihak RSJ, amargi pihak RSJ percados menawi ustadz sedanten mesti mboten bakal langsung percados kaliyan Pak Danurisman, (Ini surat-surat dari RSJ, Ustadz. Saya di sini mewakili pihak RSJ, karena pihak RSJ percaya bahwa ustadz semua pasti tidak akan langsung percaya dengan Pak Danurisman,)" kata seorang polisi bernama Sagiman, sambil menyerahkan sebuah map kepada Ustadz Ramadhan.Ustadz Ramadhan mengajak asatidznya untuk melihat berkas-berkas tersebut. Dari berkas tersebut bisa diketahui bahwa Nayaka Danurismanti dirawat sejak lima tahun yang lalu. Nay keluar masuk RSJ sejak lima tahun yang lalu. Nay didiagnosa mengalami depresi dan pada lembar terakhir, sekitar dua bulan yang lalu, tertulis bahwa kemungkinan besar Nay sudah menderita skizofrenia paranoid dengan halusinasi berat. Dan pada lembar terakhir berkas pada map tersebut, tercantum perubahan resep obat untuk Nay.Semua sangat terkejut melihat semua berkas itu. Gumaman keprihatinan dan istighfar merebak di ruangan itu."Kami boleh minta salinan berkas ini untuk arsip, Om?" tanya Ustadz Ramadhan. Pak Danurisman mengangguk."Saya memang menyiapkan berkas ini untuk pesantren, Ustadz.""Oh! Jazakallah, Om!" jawab Ustadz Ramadhan. Mereka segera mengurus kepulangan Nay, yang belum genap dua hari di pesantren. Dan dalam waktu kurang dari satu jam, Nay sudah dibawa pergi dari pesantren oleh keluarganya.Fiki agak kecewa. Dia merasa kurang sreg dengan keputusan Ustadz Ramadhan. Tapi tentu saja sebagai orang luar, dia tidak berani ikut campur urusan internal pesantren ruqyah ini. Sehingga setelah ambulans itu pergi, dia segera menuju ke rumah Fadli untuk beristirahat sebentar karena dia akan berencana pulang ke Karang Legi dua hari lagi. Ah! Dia sudah sangat ingin pulang ke rumahnya di pesantren ruqyah di Karang Legi, pesantren yang lebih kecil, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.Dan entah kenapa ketika mengingat masa kecilnya, Fiki jadi teringat Rama. Dia mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba sebelum pulang Fiki ingin bertemu dengan Rama dulu, dia ingin memberi Rama uang atau mungkin membelikan Rama sesuatu.****Fiki perlu bantuan. Dia tidak hapal jalan ke lapangan tempat mereka menurunkan Rama tempo hari. Jadi dia meminta bantuan iparnya, Faza. Karena Fiki tidak berani meminta tolong Naim, karena pasti Naim akan berteriak-teriak dan semua orang akan tahu keinginan Fiki."Ustadz badhe nopo kok, pengen manggihi Rama? (Ustadz mau apa kok, ingin menemui Rama?)" tanya Faza sopan.Fiki tersenyum.Ipar-iparnya adalah sebuah fenomena tersendiri. Yang pertama adalah kedua orang tua mereka --mertua Fiki-- tidak terlalu tinggi dan tubuhnya juga tidak terlalu besar, tapi hampir semua iparnya bertubuh tinggi dan besar. Yang kedua, walaupun semua iparnya tinggi dan besar, bahkan dengan wajah yang garang, tetapi semua sopan dan sangat menjaga etika kepada siapapun.Seperti yang dilakukan Faza barusan. Tutur bahasa Faza sangat sopan dan sholih, kontras dengan tubuhnya yang tinggi besar, kulitnya yang hitam, jenggotnya yang lebat dan panjang dan rambutnya yang paling panjang diantara para lelaki pada keluarga istrinya. Fiki tersenyum, dia agak ragu ketika menceritakan semuanya, tentang perasaannya pada Rama. Sekilas terlihat kekhawatiran di mata Faza."Mbak Salma sampun ngertos, Ustadz? Mbak Salma sudah tahu, Ustadz?)" Fiki terdiam. Dia tahu seharusnya dia memberitahu Salma, tapi tentu saja Salma tidak akan setuju dengan apa yang dilakukannya, jadi Fiki memutuskan untuk tidak memberitahu Salma saja. Lagipula dia, kan hanya akan bertemu Rama sebentar dan belum tentu juga Fiki akan bertemu dengan Rama.Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, Fiki menggeleng."Mungkin lebih baik Salma tidak tahu saja, ya, Za! Aku ... aku takut dia akan emosi," jawab Fiki pelan. Dia mulai ragu Faza akan mau membantunya.Tapi di luar dugaan Fiki, Faza malah mengangguk."Mungkin lebih cepat kita lakukan akan lebih baik, Ust! Sebelum Mbak Salma atau ibuk menyadari apa yang kita akan kita lakukan!" kata Faza penuh semangat. Fiki menyambut semangat Faza dengan suka cita dan mereka berencana untuk mencari atau menyambangi Rama keesokan harinya.****Pagi hari yang panas di Karang Pandan. Jalanan begitu ramai dan padat. Dan Fiki merasa semakin tidak nyaman di kota besar ini, dia ingin segera kembali ke Karang Legi yang tenang dan sepi."Lapangannya kosong, Ustadz," kata Faza ketika mereka sampai di lapangan dekat pasar itu. Fiki mengangguk. Dia tersenyum, benar dugaannya, dia belum tentu akan bisa bertemu dengan Rama. "Ya, sudah! Tidak apa-apa, Za! Kita pulang saja! Nanti Salma marah!" kata Fiki. Faza mengangguk dan melihat kesedihan di wajah kakak iparnya. Faza hanya bisa prihatin dengan kesedihan Fiki, tanpa bisa benar-benar membantu Fiki menghilangkan kesedihan itu.****Melihat mahluk halus. Suatu musibah atau anugerah? Musibah karena mungkin akan melihat penampakan yang mungkin mengerikan. Anugerah karena memang bisa melihat alam lain yang beraneka rupa dan juga sekaligus bisa juga memiliki kemampuan-kemampuan yang bisa didapatkan dari mahluk halus itu.Dan Kay menganggap bisa melihat mahkuk halus sebagai anugerah terbesar dalam hidupnya. Karena dengan kemampuannya melihat mahkuk halus, Kay juga bisa meramal masa depan seseorang. Dan sepertinya ramalan Kay banyak yang sesuai, sehingga Kay banyak dimintai bantuan meramal nasib orang lain. Dan dengan nekad, Kay menyewa sebuah kantor kecil yang digunakan untuk tempat praktiknya. Dan selama hampir dua tahun terakhir, usaha ramalannya ini cukup berhasil. Banyak orang yang datang ke tempat praktiknya yang terletak di sebuah gedung pencakar langit di tengah padatnya ibu kota itu. Dan dari situlah Kay mendapat banyak uang dan juga ketenaran. Bahkan Kay, yang cantik jelita itu, sering menjadi buah bibir para selebriti yang kebanyakan menjadi pelanggannya dan juga Kay sering menjadi sorotan dan bahan berita di media massa.Kay tersenyum puas dengan persiapan ritual hari itu.[Bunganya dilihat dulu! Sudah lengkap atau belum?] Kata hati Kay atau entah bisikan dari mana berseru cukup keras, membuyarkan lamunan Kay.Kay mengangguk. Di segera memeriksa nampan berisi kembang atau bunga setaman. Kay mulai menghitung dalam hati. Melati, kanthil, mawar, dan kenanga. "Sudah lengkap, Nyai" jawab Kay. Jawaban itu diperuntukkan Nay pada suara yang ada di dalam tubuhnya. [Bagus! Sekarang periksa jajan pasarnya!] perintah suara itu lagi.Kay mengamati tampah besar berisi aneka makanan untuk sesaji itu. Ada secawan kecil ketan kukus yang sudah dicampur dengan kolak pisang. Ada kue lapis warna merah hijau. Ada kue ku atau kue citak yang berwarna merah cerah, menggugah selera. Ada kue apem yang berwarna coklat menawan, ada aneka rupa jenang dalam wadah yang cukup besar, wajik, jadah dan ketela rebus yang masih mengepul dan pisang emas dua sisir. Dan perut Kay berkeriut, menahan selera, melihat makanan lezat itu. Kay baru melihat jajanan pasar untuk sesaji hari ini, karena yang berbelanja adalah asistennya.[Bagus, semua sudah lengkap! Nyalakan dupa dan menyannya. Duduk bersila menghadap ke utara!]Kay mematuhi semua perintah suara itu. Dia segera menutup rapat ruangan itu. Dia menyalakan dupa, menyan dan lilin aroma. Kay segera menggelar matras yoga dan menggunakan matras itu untuk duduk menghadap ke arah utara, sesuai dengan perintah suara aneh itu.Kay memejamkan matanya dan menghela napas panjang.Ketenangan mulai melingkupi hatinya. Seorang wanita single yang hidup sendiri, tanpa ada orang yang tahu profesinya yang sebenarnya. Uangnya banyak dan yang paling menyenangkan bagi Kay adalah kemampuannya menerka masa depan seseorang hanya dengan menyentuh jemari orang tersebut.Ah! Menyenangkan sekali.[Buka matamu!]Dengan patuh Kay membuka matanya. Kay terbelalak kaget. Sekarang dia berada di sebuah tepi danau yang indah. Kay bisa melihat dengan jelas danau yang airnya jernih, bersih dan transparan itu. Indah sekali. Sekaligus sangat menyejukkan.Kay bangkit karena ingin melihat dengan lebih jelas air danau yang jernih itu.[Apa yang kamu lihat?]Kay memeriksa sekelilingnya. Danau itu terlalu indah untuk diganggu dengan tugas dari suara itu, tapi dia tidak ingin dihukum atau dibunuh oleh suara itu --seperti yang selalu diancamkan oleh suara itu selama ini kepadanya-- maka dengan segera Kay melihat danau itu dengan seksama.Dan dia melihatnya ....Kay melihat ada sebatang pohon rindang berdaun hijau muda dan berbunga warna merah muda, nyaris seperti pohon sakura. Indah. Hei! Dia melihat dua batang pohon dengan bunga warna merah muda itu. Dua pohon sepertinya tumbuh berdampingan. Dan, oh!Tidak! Tidak mungkin! Dua pohon itu sepertinya berada di tengah danau. Tidak mungkin, kan? Kay mulai dilanda kepanikan, tapi sekaligus penasaran.Dan kemudian Kay menyadari, ternyata di antara kedua pohon berbunga merah muda itu, terdapat seekor rusa jantan dengan tanduk bercabang-cabang, yang sedang menunduk, seperti sedang makan rumput.Tapi ... tapi ... tapi itu tadi kan di tengah danau! Kay nyaris maju mendekati pohon dan rusa itu. Tapi Kay lebih mendengar suara tawa dari dalam dirinya.[Apa yang kamu lihat?]Oh! Pertanyaan yang sama lagi. Kay menghela napas. Dia tidak boleh berbohong."Dua pohon berbunga merah yang tumbuh berdampingan dan di antara kedua pohon itu terdapat seekor rusa dengan tanduk besar bercabang-cabang ... tapi ... tapi ... bukankah pohon dan rusa itu ada di tengah danau?" Suara itu tidak dijawab suara dalam tubuh Kay, dan bahkan sepertinya pertanyaan Kay membuat suara itu tertawa panjang dan sangat puas.[Selamat, Kay! Kamu sudah bisa melihat Tanduk Setan!]Dan kemudian seakan Kay disedot ke belakang oleh kekuatan yang sangat dahsyat. Entah apa yang menyedot Kay, Kay tidak bisa melihatnya. Kay menjerit tertahan. Dan Kay merasakan tubuhnya dibanting ke bawah begitu saja, dan Kay terbangun dibatas matras yoga dengan terengah. Keringatnya bercucuran.Dan Kay menjerit histeris ketika tahu bahwa tidak ada selembar benang pun yang menutupi tubuhnya.****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED