Bab 2

“Tuan, anda mau pergi kemana?” sahut seseorang kepadanya.

Claretta mencari asal suara dan menemukan seorang pelayan wanita membawa troli berisikan makanan.

Memakai pakaian seragam dengan aksen renda putih dan gaun hitam dengan potongan rambut pendek berwarna merah.

Claretta mendatanginya dengan terburu-buru. Memegang kedua bahu pelayan tersebut. Pelayan yang melihat tampak kaget dan ketakutan. Namun, Claretta tidak menghiraukan.

Yang ada dipikirannya sekarang adalah dimana dia sekarang, dan kenapa bentuk rumah sakit terlihat berbeda dari yang pernah ada.

“Dimana ruang resepsionis rumah sakit?” tanya Claretta sembari tetap memegangi pelayan tersebut dengan erat.

“Rumah sakit? Apa itu tuan?” tanya balik pelayan tersebut.

“Tuan? Apa maksud ‘tuan’ yang pelayan itu sebut?” tanya Claretta dalam hati.

Claretta sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya dan ingin pergi menemui, terutama jika ayah atau saudara-saudara berkunjung ke rumah.

Keinginan terkuat sekarang adalah membawa ibu pergi dari negara ini.

“Apa maksudmu, kau tidak tahu rumah sakit? Sejak kapan rumah sakit terlihat seperti ini?” tanya Claretta dengan suara marah.

Pelayan bertambah takut khawatir jika orang di hadapannya mengamuk. Di sekitar mereka muncul beberapa orang dengan pakaian yang sama.

Sedangkan laki-laki berseragam hitam dengan kemeja putih di dalam. Semua orang terlihat seperti sedang melakukan cosplay.

Semua orang memandang Claretta aneh dan berbisik, membuat Claretta yakin bahwa sekarang dia berada ditempat yang salah. Claretta sadar mencengkram bahu pelayan dengan keras dan membuatnya kesakitan.

Dengan cepat Claretta melepaskan tangannya.

Claretta berusaha setenang mungkin dan berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Maaf atas apa yang aku lakukan. Tadi kenapa kamu memanggilku dengan kata ‘tuan’? Lalu jika kau tidak tahu rumah sakit, dimana ini?” tanya Claretta dengan nada suara setenang mungkin.

Claretta berharap banyak kepada wanita yang berdiri di depan.

“Tuan berada di kediaman keluarga Onder de.” jawabnya dengan suara gugup.

“Onder de?” tanyanya heran.

“Sekarang kau mau pergi kemana?” tanya Claretta lagi memastikan.

“Saya mau mengantarkan sarapan tuan dan akan membersihkan kamar.” jawab pelayan tersebut.

“Baik, ayo kita kembali ke kamar terlebih dahulu. Kita jalan bersama.”

Mereka berdua berjalan menuju kamar, di mana Claretta terbangun dan keluar dari kamarnya. Pandangan orang-orang di sekitar tertuju kepada mereka berdua. Ada banyak pertanyaan yang ingin segera Claretta tanyakan kepada pelayan itu.

Mereka lewati jalan yang sama.

Di tempat itu, atap bangunan menjulang tinggi sehingga ketika ingin melihat kepala harus benar-benar tegak lurus.

Cat tembok dengan aksen warna putih tulang dihiasi lukisan-lukisan orang asing di mata Claretta.

Lukisan suatu keluarga besar dengan pasangan suami istri beserta keempat anak perempuan mereka.

Kedua anak perempuan di sana menggunakan gaun mewah berwarna merah muda dan kuning emas.

Di atas masing-masing kepala putri mereka terdapat tiara.

Mereka berdiri di antara sosok ayah yang mengenakan pakaian terhormat dengan beberapa lencana mewah berlapis emas serta jubah putih menjuntai ke bawah bersandar pada bahu.

Di depan mereka terlihat sosok seorang ibu yang sedang duduk di atas kursi menggendong bayi perempuan yang cantik dengan gaun putih bersih dan renda-renda kecil. Putri yang lain berdiri di sebelah ibunya dengan menggunakan pakaian yang sama.

Di belakang si ibu, terlihat anak laki-laki kecil yang berdiri sendiri dengan pakaian sederhana nan rapi, seakan dirinya seperti bukan bagian dari mereka terlihat begitu kaya raya. Claretta merasa tidak asing dengan anak laki-laki di lukisan itu

Suara decitan troli yang terdorong, membuat Claretta sadar dari keterkagumannya dengan lukisan-lukisan yang terpajang di sana. Ada beberapa juga lukisan dengan potrait seorang diri baik lukisan full badan maupun setengah badan.

Lukisan wajah orang tua dengan uban beserta pakaian mewah.

Setelah tiba di pintu besar berwarna putih, mereka melihat seorang pria paruh baya yang dia dorong tadi. Claretta menatap dengan tatapan dingin. Kepala Pelayan merasa tidak nyaman dengan tatapan itu namun, untung saja dia pandai menyembunyikan ekspresi.

“Bagaimana dengan keadaan tuan?” tanya kepala pelayan kepada pelayan di samping Claretta.

“Tu...Tuan baik-baik saja, beliau ingin saya jalan bersama ke kamar sekaligus mengantarkan sarapan dan membersihkan ruangannya.” jawab Mary dengan kepala tertunduk.

“Baiklah kalau begitu, tolong layani dia.”

“Baik kepala pelayan.”

Kepala pelayan membukakan pintu untuk mereka berdua. Pintu tertutup kembali. Meskipun terasa asing namun, Claretta merasa ini adalah kamar yang dia gunakan tadi untuk tidur.

Di sebelah kasur terdapat jendela besar dengan lengkungan di atas. Pelayan berjalan ke arah jendela membuka jendela yang lain. Angin pagi di dalam ruangan menambah kesegaran pagi hari.

Terlihat ranting pohon besar yang hendak masuk ke dalam kamar, suara burung yang berkicau membuat Claretta sedikit lebih tenang.

“Siapa namamu?” tanya Claretta.

“Saya Mary, tuan. Saya yang bertugas menyiapkan kebutuhan.” jawab Mary.

Wajah ketakutan Mary yang Claretta lihat tadi sudah nampak menghilang dari wajah.

“Dimana ini Mary? Maksudku negara mana ini?” tanya Claretta lagi.

“Disini kerajaan Rhodes tuan.” jawab Mary sembari membersihkan meja milik orang yang diajak bicara itu.

“Rhodes? Bukankah itu nama negara kekaisaran dari buku yang tadi aku baca?” bisik Claretta.

“Tahun berapa sekarang Mary?” tanya Claretta sudah dengan keadaan pusing. Perasaannya pun sudah mulai tidak nyaman.

“Tahun 531 Miladi, tuan.” Jawab Mary

Kepala Claretta terasa berdenyut, perasaan bingung dan pusing membuat Claretta merasakan sakit ketika terkena batu di kepala.

Sulit dipercaya, novel yang dia baca dan alur cerita yang dia benci membuatnya masuk dalam dunia fiksi novel.

Ditambah lagi dari tadi wanita yang menggunakan kostum pelayan selalu memanggil namanya dengan sebutan tuan. Terasa seperti mimpi buruk bagi Claretta.

Rasa mual menahannya hingga Claretta mengeluarkan keringat dingin. Claretta berharap ini hanya sebuah mimpi.

“Dimana kamar mandi?” tanya Claretta

“Apakah tuan ingin mandi terlebih dahulu?” tanya Mary balik.

“Iya” jawab Claretta.

Mary mengantar Claretta melewati sebuah lorong yang dimana terdapat ruangan dengan sebuah bak mandi mewah yang besar cukup untuk menampung 5-6 orang di dalam. Kurang lebih seperti kolam renang.

Di depan terdapat jendela berbentuk lingkaran besar dengan kaca berwarna, membentuk sebuah lambang besar. Dengan bola kristal berwarna hijau keemasan yang diapit dengan dua burung hantu berwarna hitam dan yang lainnya berwarna putih.

Mary segera bergegas menyalakan air hangat dan menuangkan sabun aroma herbal. Suara gemericik air membuat kolam mengeluarkan busa.

Mary menyiapkan beberapa gulungan handuk dan pakaian untuk mengeringkan badan. Mary pamit untuk keluar.

“Apakah tuan ingin dipanggilkan seseorang agar mau membantu untuk mandi?” tanya Mary

“Tidak usah.” jawab Claretta dengan cepat.

Mary Pun keluar diikuti suara pintu kamar mandi yang tertutup. Claretta merasa aneh dengan pakaian yang dia kenakan. Semua berwarna putih, dengan baju stelan. Kain yang digunakan terasa lembut jika disentuh dengan kulit.

Claretta membuka bajunya melepas celana putih dia melihat sesuatu yang bergelantung di hadapan dan sekarang dia memiliki benda tersebut.

Claretta Pun berteriak dengan keras berlari mencari kaca dan bercermin. Claretta terjebak di tubuh seorang laki-laki dengan mata biru permata dan rambut keemasan.

Kecurigaan Claretta benar-benar membuktikan bahwa Claretta masuk di dalam salah satu sosok tokoh karakter fiksi novel yang dia baca ‘Altair Onder de’.

Ditambah Altair adalah sosok yang sangat Claretta benci. Dengan otot perut dan dada yang bidang adalah sosok idaman yang semua wanita inginkan.

Claretta melihat dirinya tidak memiliki payudara, tergantikan dengan benda yang melambai-lambai seakan mengatakan aku adalah seorang laki-laki.

Bertambah kencang lah teriakan Altair di dalam kamar mandi. Tiba-tiba kepala pelayan dan Mary menerobos masuk. Menemukan dirinya dalam keadaan telanjang tanpa busana.

Bab 3

Altair duduk di ruang makan bersama keluarganya mereka seperti yang dia lihat di lukisan tadi pagi dan sibuk dengan makanan di atas meja masing-masing.

Ayah Altair duduk di meja utama kepala keluarga, di sebelah kanan duduk seorang wanita yang juga dipanggil ibu oleh anak-anak gadis saudari Altair. Mereka semua memiliki paras wajah yang rupawan.

Banyak orang yang berdiri melayani keluarga yang sedang makan itu ada yang memegang botol minuman anggur dan troli berisi makanan.

Altair duduk di sebelah kiri ayahnya dengan tenang memakan apa yang ada di depannya. Masih berusaha berfikir dengan keras apa yang sedang menimpa dirinya (Claretta) sekarang dan memikirkan bagaimana keadaan ibunya sekarang?

Sehingga membuat makanan enak di hadapan Altair terasa hambar.

“Ibu lihat! Kak Altair menangis.” ucap seorang gadis paling kecil yang tengah memegang segelas susu di tangannya.

Wanita itu tidak terlalu menghiraukan apa yang sedang terjadi dengan Altair dan berkata, “Untuk seseorang yang sebentar lagi mengadakan acara kedewasaan, tidak seharusnya dia menangis,”

“Apalagi dia adalah seorang laki-laki,” jawab wanita yang dipanggil ibu sembari melirik ke arah Altair.

“Kecuali jika dia sudah sadar atas kesalahan dan status yang selama ini diperbuat yang selalu bertingkah kotor seperti ibunya.” imbuhnya lagi.

Ayah Altair hanya mengeluarkan suara berdehem, meletakkan pisau dan meminum segelas anggur. Altair masih tidak mengerti, kenapa orang-orang di sini bersikap seperti itu.

Saat Mary dan kepala pelayan memergoki Altair keadaan telanjang, kepala pelayan mengatakan bahwa Duke mengajaknya untuk sarapan bersama dengan wajah datar.

“Bagaimana persiapanmu untuk upacara kedewasaan?” tanya ayahnya.

Altair yang ditanyakan hal itu, langsung menjawab.

“Semuanya sudah siap, ayah” jawabnya dengan datar.

Aneh rasanya saat Altair yang mengenali sebagai orang asing yang duduk di sampingnya, kini harus di panggil dengan sebutan ayah olehnya.

Bayangan kematian yang menimpa dirinya semalam masih membekas dalam ingatan membuat perut dan kepalanya terasa sakit.

“Lakukan dengan benar demi martabat keluarga dan kekaisaran” imbuh si ayah.

“Bagaimana bisa dia ditakdirkan sebagai penerus keluarga dengan baik, sedangkan dia terlahir dari ibu seorang budak yang menjadi pelayan. Setelah diselamatkan, ibunya bertingkah seperti pelacur.” celetuk gadis tertuanya.

Altair mendengarkan kata-kata yang tidak asing baginya. Saat dirinya masih menjadi Claretta atau sudah menempati sosok orang lain tetap saja, hanya hinaan yang dia dapat.

“Ayah, aku sudah selesai. Bolehkah aku pergi dari sini?” tanya Altair.

“Ya,” jawab singkat ayahnya.

Kursi berdecit dan Altair meninggalkan meja makan, mereka yang masih sibuk dengan makanan mereka tidak tertarik sama sekali dengan kepergian Altair dari sana.

Makanan Altair tidak tersentuh dan dia pergi meninggalkan mereka semua.

Saat akan hendak menuju ke kamarnya Altair menyadari bisa menemukan informasi tentang dunia ini di perpustakaan keluarga miliknya.

Segera Altair membelokkan langkah kakinya dan pergi menemui Mary. Mencari di setiap sudut ruangan mansion yang sangat besar namun, langkahnya seperti tidak asing saat menyusuri mansion yang baru pertama kali dia lihat.

Altair yang tiba di dapur menanyakan ke beberapa pelayan yang ada disana.

“Dimana Mary?” tanya Altair yang tiba-tiba muncul di pintu dapur.

Tidak ada suara atau sambutan untuk Altair. Mereka semua terdiam dan enggan menjawab pertanyaan Altair karena para pelayan khawatir Duchess akan menganiaya mereka jika terlihat berbicara dengan Altair.

Ada satu pelayan laki-laki yang baru saja bekerja di keluarga ini, tidak mengetahui peraturan tersebut.

Siapa saja yang terlihat berbuat baik kepada Altair akan dihukum fisik.

“Dia ada di tempat mencuci, mungkin sekarang dia sedang menjemur kain.” jawab pelayan itu dengan polos.

“Terima kasih.” jawab Altair sembari keluar dengan cepat.

Setelah melihat Altair yang berhambur lari keluar dari dapur, seorang pelayan yang lain mendatangi pelayan yang menjawab pertanyaan Altair.

“Celaka kau, jika ada seseorang yang melaporkanmu berbicara dengannya kau pasti akan disiksa,” ucap teman yang berada di sebelahnya.

Pelayan itu menoleh ke semua orang dengan tatapan ketakutan berharap ada yang mau menolongnya namun, mereka bersembunyi melihatnya, ada yang tersenyum menyeringai, bahkan ada yang tidak peduli dengan mengalihkan pandangan mereka.

“Kenapa tidak ada yang memberitahukan?” tanyanya dengan nada bingung.

“Duchess melakukan itu untuk melihat siapa mata-mata yang berani masuk di keluarga Onder de dan berani menyusup atas nama ibu Altair.” jawabnya lagi.

“Berdoa saja semoga kau berada dalam lindungan dewa.” ucap pegawai lain sambil menepuk bahunya.

Altair berlari menelusuri halaman belakang tempat biasa para pelayan menjemur pakaian. Altair yang menemukan sosok dengan rambut pendek sedang membelakanginya. Mary sedang menjemur sebuah selimut tebal dan beberapa baju.

Para pelayan wanita yang berada di sana melihat kedatangan Altair mulai berbisik.

Altair mendekati Mary dan menepuk bahunya, Mary yang terkejut menjatuhkan kain tersebut beruntung Altair yang sigap langsung mengambil kain hingga tidak jatuh ke lantai. Mary menoleh dan melihat tuannya yang sudah berdiri di belakangnya.

“A...Ada apa tuan kemari?” tanya Mary dengan suara gugup.

Altair yang mendengar suara Mary yang terdengar gugup merasa heran, intonasi suara Mary berubah setiap kali mereka berada ditempat yang terdapat banyak orang, sedangkan jika hanya ada mereka berdua dia seolah-olah bersikap biasa.

“Tolong bantu aku, aku ingin pergi ke perpustakaan.” ucap Altair yang tidak menghiraukan rasa herannya.

Mary bertanya-tanya kenapa tuannya ingin dia mengantarkan ke perpustakaan. Padahal Altair adalah anak dari keluarga Duke.

“Baiklah tuan.” jawab Mary tanpa menanyakannya lagi karena Mary melihat tatapan semua orang sedang mengawasi mereka.

Mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat jemuran. Pandangan semua orang masih tidak lepas sampai kepergian mereka tidak terlihat.

“Maafkan atas sikap saya tadi, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Mary, dan saya berasal dari negeri tempat ibu tuan berasal.”

“Bisakah kau menceritakan dengan jelas keadaan disini?” tanya Altair yang sedang melihat sekeliling.

Mary menceritakan status dan hubungannya dengan ibu Altair yang adalah seorang budak dari negeri miskin.

Raja mereka menggelapkan uang rakyatnya hanya untuk kesenangan mereka sendiri dan keluarga kerajaan. Bukan hanya Raja, para bangsawan disana hidup dengan mewah yang mengandalkan pajak yang tidak bermoral dan merampas. Hidup dengan belas kasihan dari negara dan kekaisaran lain.

Jika ada pengelana yang terlihat kaya datang mengunjungi negara tersebut, mereka dengan senang hati menjilati pendatang-pendatang tersebut, rakyat mereka juga bersikap seperti pengemis yang akan selalu menempel pada kereta-kereta kuda sampai mereka diberi uang.

Ibu Altair diperjualbelikan di pasar lelang ibu kota negara dan mereka dengan terang-terangan melakukan transaksi tersebut di hadapan semua orang yang banyak dilihat oleh para bangsawan atau anak-anak kecil.

Saat itu ayah Altair, yaitu Duke Leon Onder de melakukan tugas perjalanan ke negara tersebut untuk melakukan perjanjian diplomasi antar negara dan mengirimkan penyihir-penyihir utusan ke sana.

Duke Leon mengubah kereta kuda beserta rombongannya menjadi kereta kumuh dan lusuh sebelum memasuki negara tersebut untuk menghindari sikap rakyat negara itu yang tidak nyaman.

Setelah urusan Duke Leon selesai, dia dan rombongan kebetulan melewati tempat pelelangan budak diwaktu yang bersamaan ibu Altair sedang dilelang oleh kepala pelelang.

“Siapa yang ingin membelinya? Akan aku buka dengan harga 13.000 koin emas.” teriak laki-laki botak berbadan besar.

“13.000 koin emas? Apa tidak terlalu mahal untuk seorang wanita biasa?” tanya seorang pembeli lainnya.

“Jika kalian membelinya, aku jamin kalian tidak akan menyesal.” terdengar kepala pelelang yang maju mendekati salah satu pembeli di depannya.

Orang-orang yang berada di sana gaduh dengan ucapan yang keluar dari mulut ketua pelelang itu. Ibu Altair dengan pakaian lusuh dan mulut yang diikat dengan tali kapal terlihat menyedihkan dengan air mata yang terus mengalir dan berusaha untuk meminta tolong.

Karena tidak ada yang membelinya, Duke Leon akhirnya membeli budak tersebut dengan harga yang telah disepakati. Duke membawa ibu Altair ke kerajaan Rhodes dan menjadikannya pelayan di kediaman Duke.

Entah bagaimana Ibu Altair hamil dan dinikahi oleh Duke. Ketika masa kehamilan Altair Ibunya sakit keras. Saintess yang berada di sana melihat firman dewa bahwa dirinya akan memiliki anak laki-laki.

Dari pernikahan Duke Leon dengan istrinya hanya melahirkan 3 anak perempuan. Akan tetapi ibu Altair harus mati, karena tidak bisa menahan kelahiran anaknya.

“Saya adalah keponakan ibu anda, tuan.” jawab Mary

“Saya ada di sini karena saya mendengar, bahwa sepupu saya telah tertidur selama 1 bulan, sehingga saya merasa khawatir dengan anda. Maafkan atas kelancangan saya selama ini.” ucap Mary dengan sopan.

Altair merasa lega paling tidak dia bisa memiliki dan mengenal seseorang yang baik untuk membantunya selama berada di keluarga ini. Di Perjalanan mereka menuju perpustakaan. Mereka melewati pasukan ksatria khusus milik Duke Leon sedang berlatih pedang.

Ada yang menggunakan baju besi, kaos latihan bahkan ada yang bertelanjang dada. Lalu terdengar suara teriakan yang keras.

“Oi.” teriak suara seseorang dari pasukan disana.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED