Bab 1

“Bukankah dia si wanita angkuh?” bisik seorang karyawan laki-laki bersembunyi dari belakang meja kerja.

“Benar, ada kabar dia tidak suka dengan laki-laki.” jawab laki-laki lain di seberang.

Seorang yang lain bersungut mendengar temannya memancing percakapan,“Ibunya seorang pelacur yang hidup di kalangan saudagar kaya akhirnya dinikahi.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya seorang junior, terlihat dari kemeja putih yang dia kenakan sangat rapi dan bersih. Berbeda jauh dengan orang-orang yang sudah lama bekerja disana, mereka rata-rata hanya mengenakan pakaian seadanya.

“Temanku bercerita dan dia mengenalnya. Dia pernah diajak tidur oleh teman sekelas dan lagi foto-foto vulgarnya sudah tersebar banyak di internet.”

Suasana ruang kerja mulai memanas, Claretta yang mendengar bualan mereka mendatangi meja kerja.

“Bukannya itu editan? Semua orang tahu kalau itu editan.”

“Memang siapa yang peduli, itu editan atau bukan. Kalau benar berarti...” ucap yang lain, namun kata-katanya berhenti ketika Claretta mendatangi mereka.

Dia yang sedari tadi mendengar pembicaraan segerombolan laki-laki, memukul meja dengan berkas yang dia bawa.

“Masuk di perusahaan sehebat ini adalah mimpi semua orang. Kalian masuk dan bekerja di sini karena mulut busuk kalian yang hanya bermodalkan orang yang sama busuk seperti kalian. Jika ingin bekerja lama di sini, maka lakukan tugas kalian. Karena jika tidak, berarti otak kalian editan.” tukas Claretta dengan lantang sehingga terdengar oleh karyawan lainnya.

Setelah mengucapkan hal tersebut, Claretta pergi ke divisi lain berisikan pegawai wanita, ide pemisahan tempat kerja adalah idenya. Menurutnya lebih efisien dan Claretta lebih senang bergaul dengan mereka.

Claretta melihat seorang gadis yang belum pernah dia temui dan menghampirinya.

Dengan rasa penasaran,“Siapa namamu?” tanya Claretta.

“Sa... saya Mia.” ucapnya sembari berdiri dengan tergesa-gesa, tingkahnya yang terlihat ceroboh membuat Claretta tersenyum, sembari pergi mengambil beberapa berkas dari pegawai lain.

Dia heran banyak dari mereka sedang asik bermain ponsel daripada sibuk di depan komputer masing-masing.

“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya usai memeriksa berkas hasil pekerjaan karyawan yang lain tiba-tiba beberapa orang mulai mengerumuni dan menyodorkan hp mereka ke wajah Claretta.

“Coba lihat ini!” tiba-tiba sebuah ponsel mengarah ke wajah Claretta dengan mata berbinar-binar tidak menghiraukan situasinya yang kini sedang dihimpit banyak orang.

Sejenak Claretta melihat judul novel ‘Ksatria dan 4 Ultimate’ dan membaca sekilas judul novel online tersebut melihat tingkah mereka, Claretta merasa pusing.

“Waktu kalian hanya habis untuk ini?” Claretta menghela nafas meletakkan tangannya ke atas kepala.

“Kau tidak tahu? Mereka tampan dan sangat keren. Apalagi tokoh utama ksatria yang ada dalam cerita. Novel ini bercerita tentang seseorang yang berinkarnasi masuk dalam novel dan menjadi tokoh utama.” ucap gadis itu yang menyodorkan smartphone.

“Apa yang bagusnya? Lagi pula reinkarnasi? Apa-apaan itu? Hanya cerita takhayul yang tidak mendasar sekali.” sanggah Claretta mulai gemas dengan tingkah lakunya.

“Kami suka membaca ini dan berharap bisa bereinkarnasi seperti tokoh utama. Membayangkan dikelilingi 5 laki-laki tampan, kaya, memiliki kekuatan dan berkuasa.” timpal Hyein dengan pita merah yang mengikat di kemeja biru muda dengan rambut yang diikat, imajinasinya melayang tinggi.

“Harem?” ujar salah satu karyawan yang lain entah dari mana asalnya.

Sontak semua karyawan yang mendengarkan ucapan tersebut tertawa, fitrah wanita juga ingin dipuja. Sedangkan Claretta merasa bulu kudunya berdiri di satu sisi tingkah mereka membuat Claretta senang.

Sore hari dimana pekerjaan mereka telah selesai, Claretta yang sudah menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebagai kepala divisi akhirnya keluar dari tempat kerjanya dan berniat untuk mengabari ibunya.

Claretta ingat berjanji akan menelpon untuk menanyakan kabar dan pergi berkunjung kerumah ibunya. Lift pun berhenti dan Claretta berbicara di telepon.

“Halo, Ibu? Bagaimana kabarmu?” tanya Claretta.

“Apakah kau sudah pulang kerumah?” jawabnya dari seberang.

“Aku baru keluar dari tempat kerja dan akan berkunjung.” ujar Claretta.

“Ayah dan saudara-saudaramu tidak jadi ke rumah, jadi tidak perlu khawatir dan besok kamu juga bekerja.”

Mendengar kabar baik, Claretta merasa lega dan hari ini ibunya pasti dalam keadaan baik-baik saja.

“Baiklah bu, tapi saya akan mengirimkan uang untuk Ibu di rumah.” sambil berusaha menahan helaan nafas.

“Ya, terima kasih. Jangan lupa dengan kebutuhanmu juga di sana.” jawab ibu Claretta.

Lift Pun berhenti membuka pintu dengan lebar dan Claretta berhambur keluar bersama pegawai lainnya.

“Ya Ibu, aku beruntung bisa bekerja di sini dan terimakasih karena Ibu selalu ada untuk menemaniku.” Berjalan keluar gedung, dia melihat senja sangat cantik hari ini.

“Seharusnya Ibu yang berterima kasih karena kamu terlahir dari Ibu dan menjadi sahabat Ibu.”

Segera Claretta menyeka air matanya dan percakapan mereka ditutup dengan salam perpisahan sayang dari seorang ibu kepada anak perempuannya.

Untuk mengilangkan rasa sedihnya, Claretta ingat dengan restauran milik teman yang pernah dia bantu karena pencurian asuransi yang hampir dibawa kabur oleh orang yang tidak dikenal. Claretta berniat mendatangi restoran Kareen, menghentikan sebuah taksi untuk pergi ke restoran miliknya.

Claretta Pun beranjak keluar setelah menikmati restoran ayam berlemak, selama di restoran, Kareen tidak berhenti membujuk Claretta membaca cerita novel yang dibahas kantornya tadi pagi dengan jengkel akhirnya Claretta membaca novel hingga selesai.

Hari sudah semakin larut dia berjalan menuju kasir di mana ibu Kareen yang bertugas menjaga meja.

“Malam, berapa semua Bibi?” tanya Claretta sembari bersiap mengeluarkan aplikasi pembayaran melalui ponsel.

“Claretta. Lama tidak melihatmu? Bagaimana keadaan Ibumu?” tanya ibu Kareen membersihkan tangannya yang berminyak dengan kain lap yang melingkar di pinggangnya.

“Ibu, baik-baik saja” jawab Claretta dengan senang.

“Tidak usah, itu traktir dari kami.” menolak pembayaran Claretta.

“Tidak saya ingin membayarnya Bibi.” Sahutnya sedikit memaksa.

“Tidak apa-apa, lain kali ajak Ibumu nanti kau boleh membayarkan untuk itu,” jawabnya sambil tersenyum.

“Terima kasih banyak, Bibi. Semoga restorannya lancar dan ramai dengan pengunjung.” ucap Claretta penuh haru.

Dia pergi meninggalkan sambil membungkukkan badanya.

“Sama-sama.” sahutnya dan sosok Claretta sudah hilang dari balik pintu kaca diikuit suara khas lonceng berbunyi.

Claretta Pun keluar dari restoran tersebut, apartemen dan jarak restoran hanya sekitar 10 menit berjalan kaki meskipun begitu dia dalam keadaan mabuk, berusaha keras untuk berjalan menuju apartemen miliknya.

Claretta tidak menyadari bahwa sekitar 5 menit yang lalu sudah ada seseorang yang mengikuti dirinya dari jalan seberang mengambil celah dan terus mengikutinya.

JLEB!! SRAT!! Suara itu terdengar ketika Claretta sudah ditusuk oleh orang aneh dengan menggunakan topi dan jaket. Melihat Claretta yang masih berdiri, pria itu hendak menusuknya lagi.

Melihat kedatangan serangan Claretta bersiap mengambil senjata panjang yang selalu dia bawa dalam kantong saku, yang lebih mirip tongkat pemandu orang buta yang bisa dilipat.

Dengan sekuat tenaga dia memukul dengan keras kepala orang tersebut sehingga topi yang dipakai terjatuh. Claretta melihat sosok yang dia kenal. Dia adalah karyawan laki-laki yang menyebarkan gosip buruk tentangnya.

Laki-laki itu terjatuh tersungkur, melihat sebuah batu di dekatnya dia langsung melemparkan batu lalu mengenai kepala, Claretta menahan rasa sakit, darah mulai mengucur dari kepala, mabuk membuat kesadarannya mulai kabur. Pria itu lari meninggalkan Claretta yang sudah ambruk dan merasa yakin telah membunuhnya.

Claretta sendirian terbaring di tempat sepi. Muncul kembali dalam benaknya bahwa memang laki-laki bukanlah makhluk yang patut dikasihani dengan kebejatan serta kengisan yang tiada tara. Bahkan nafsu durjana membawa seseorang ke dalam neraka.

Claretta bertekad tidak akan menikah dan ingin hidup bersama ibunya untuk selamanya.

Angin malam terasa dingin, rasa sakit pada bagian perut dan kepala membuatnya sulit untuk bergerak. Claretta berusaha membuka ponsel untuk menelpon nomor darurat.

Beruntung respon yang cepat, akhirnya Claretta berhasil menelpon rumah sakit dan tidak berselang lama suara sirine berbunyi keras, orang-orang sudah berkumpul dan sebuah ambulan datang mendekat petugas berhambur keluar. Sedangkan penglihatan Claretta mulai samar, hembusan nafasnya mulai terasa berat dan dingin.

Kulit merasakan hawa dingin membuat Claretta ingin segera membuka mata. Claretta terbangun dengan langit-langit yang aneh, terlihat gypsum-gypsum mewah dan besar. Terpampang lampu hias besar, corak langit malaikat-malaikat kecil bertelanjang dada. Dia terkejut dan melempar selimut yang dia pakai.

Meraba bagian perut yang semalam tertusuk dan tiidak terasa apa-apa. Claretta loncat dari tempat tidurnya. Merasa asing dengan barang-barang di sekitar.

“Apakah selera rumah sakit telah berbeda? Suka dengan gaya klasik beserta ornamen-ornamen tua!” Claretta melihat ke arah bunga di dalam vas.

Claretta berlari keluar ruangan tersebut ada seorang pria paruh baya yang menghadang dirinya di depan pintu. Kebenciannya muncul kembali, Claretta lari dan mendorong laki-laki dengan kuat hingga terjatuh. Melihat hanya ruangan-ruangan besar dengan ukiran antik, lukisan aneh dan patung-patung setengah badan.

“Tuan, mau pergi kemana?” sahut seseorang kepadanya.

Bab 2

“Tuan, anda mau pergi kemana?” sahut seseorang kepadanya.

Claretta mencari asal suara dan menemukan seorang pelayan wanita membawa troli berisikan makanan.

Memakai pakaian seragam dengan aksen renda putih dan gaun hitam dengan potongan rambut pendek berwarna merah.

Claretta mendatanginya dengan terburu-buru. Memegang kedua bahu pelayan tersebut. Pelayan yang melihat tampak kaget dan ketakutan. Namun, Claretta tidak menghiraukan.

Yang ada dipikirannya sekarang adalah dimana dia sekarang, dan kenapa bentuk rumah sakit terlihat berbeda dari yang pernah ada.

“Dimana ruang resepsionis rumah sakit?” tanya Claretta sembari tetap memegangi pelayan tersebut dengan erat.

“Rumah sakit? Apa itu tuan?” tanya balik pelayan tersebut.

“Tuan? Apa maksud ‘tuan’ yang pelayan itu sebut?” tanya Claretta dalam hati.

Claretta sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya dan ingin pergi menemui, terutama jika ayah atau saudara-saudara berkunjung ke rumah.

Keinginan terkuat sekarang adalah membawa ibu pergi dari negara ini.

“Apa maksudmu, kau tidak tahu rumah sakit? Sejak kapan rumah sakit terlihat seperti ini?” tanya Claretta dengan suara marah.

Pelayan bertambah takut khawatir jika orang di hadapannya mengamuk. Di sekitar mereka muncul beberapa orang dengan pakaian yang sama.

Sedangkan laki-laki berseragam hitam dengan kemeja putih di dalam. Semua orang terlihat seperti sedang melakukan cosplay.

Semua orang memandang Claretta aneh dan berbisik, membuat Claretta yakin bahwa sekarang dia berada ditempat yang salah. Claretta sadar mencengkram bahu pelayan dengan keras dan membuatnya kesakitan.

Dengan cepat Claretta melepaskan tangannya.

Claretta berusaha setenang mungkin dan berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Maaf atas apa yang aku lakukan. Tadi kenapa kamu memanggilku dengan kata ‘tuan’? Lalu jika kau tidak tahu rumah sakit, dimana ini?” tanya Claretta dengan nada suara setenang mungkin.

Claretta berharap banyak kepada wanita yang berdiri di depan.

“Tuan berada di kediaman keluarga Onder de.” jawabnya dengan suara gugup.

“Onder de?” tanyanya heran.

“Sekarang kau mau pergi kemana?” tanya Claretta lagi memastikan.

“Saya mau mengantarkan sarapan tuan dan akan membersihkan kamar.” jawab pelayan tersebut.

“Baik, ayo kita kembali ke kamar terlebih dahulu. Kita jalan bersama.”

Mereka berdua berjalan menuju kamar, di mana Claretta terbangun dan keluar dari kamarnya. Pandangan orang-orang di sekitar tertuju kepada mereka berdua. Ada banyak pertanyaan yang ingin segera Claretta tanyakan kepada pelayan itu.

Mereka lewati jalan yang sama.

Di tempat itu, atap bangunan menjulang tinggi sehingga ketika ingin melihat kepala harus benar-benar tegak lurus.

Cat tembok dengan aksen warna putih tulang dihiasi lukisan-lukisan orang asing di mata Claretta.

Lukisan suatu keluarga besar dengan pasangan suami istri beserta keempat anak perempuan mereka.

Kedua anak perempuan di sana menggunakan gaun mewah berwarna merah muda dan kuning emas.

Di atas masing-masing kepala putri mereka terdapat tiara.

Mereka berdiri di antara sosok ayah yang mengenakan pakaian terhormat dengan beberapa lencana mewah berlapis emas serta jubah putih menjuntai ke bawah bersandar pada bahu.

Di depan mereka terlihat sosok seorang ibu yang sedang duduk di atas kursi menggendong bayi perempuan yang cantik dengan gaun putih bersih dan renda-renda kecil. Putri yang lain berdiri di sebelah ibunya dengan menggunakan pakaian yang sama.

Di belakang si ibu, terlihat anak laki-laki kecil yang berdiri sendiri dengan pakaian sederhana nan rapi, seakan dirinya seperti bukan bagian dari mereka terlihat begitu kaya raya. Claretta merasa tidak asing dengan anak laki-laki di lukisan itu

Suara decitan troli yang terdorong, membuat Claretta sadar dari keterkagumannya dengan lukisan-lukisan yang terpajang di sana. Ada beberapa juga lukisan dengan potrait seorang diri baik lukisan full badan maupun setengah badan.

Lukisan wajah orang tua dengan uban beserta pakaian mewah.

Setelah tiba di pintu besar berwarna putih, mereka melihat seorang pria paruh baya yang dia dorong tadi. Claretta menatap dengan tatapan dingin. Kepala Pelayan merasa tidak nyaman dengan tatapan itu namun, untung saja dia pandai menyembunyikan ekspresi.

“Bagaimana dengan keadaan tuan?” tanya kepala pelayan kepada pelayan di samping Claretta.

“Tu...Tuan baik-baik saja, beliau ingin saya jalan bersama ke kamar sekaligus mengantarkan sarapan dan membersihkan ruangannya.” jawab Mary dengan kepala tertunduk.

“Baiklah kalau begitu, tolong layani dia.”

“Baik kepala pelayan.”

Kepala pelayan membukakan pintu untuk mereka berdua. Pintu tertutup kembali. Meskipun terasa asing namun, Claretta merasa ini adalah kamar yang dia gunakan tadi untuk tidur.

Di sebelah kasur terdapat jendela besar dengan lengkungan di atas. Pelayan berjalan ke arah jendela membuka jendela yang lain. Angin pagi di dalam ruangan menambah kesegaran pagi hari.

Terlihat ranting pohon besar yang hendak masuk ke dalam kamar, suara burung yang berkicau membuat Claretta sedikit lebih tenang.

“Siapa namamu?” tanya Claretta.

“Saya Mary, tuan. Saya yang bertugas menyiapkan kebutuhan.” jawab Mary.

Wajah ketakutan Mary yang Claretta lihat tadi sudah nampak menghilang dari wajah.

“Dimana ini Mary? Maksudku negara mana ini?” tanya Claretta lagi.

“Disini kerajaan Rhodes tuan.” jawab Mary sembari membersihkan meja milik orang yang diajak bicara itu.

“Rhodes? Bukankah itu nama negara kekaisaran dari buku yang tadi aku baca?” bisik Claretta.

“Tahun berapa sekarang Mary?” tanya Claretta sudah dengan keadaan pusing. Perasaannya pun sudah mulai tidak nyaman.

“Tahun 531 Miladi, tuan.” Jawab Mary

Kepala Claretta terasa berdenyut, perasaan bingung dan pusing membuat Claretta merasakan sakit ketika terkena batu di kepala.

Sulit dipercaya, novel yang dia baca dan alur cerita yang dia benci membuatnya masuk dalam dunia fiksi novel.

Ditambah lagi dari tadi wanita yang menggunakan kostum pelayan selalu memanggil namanya dengan sebutan tuan. Terasa seperti mimpi buruk bagi Claretta.

Rasa mual menahannya hingga Claretta mengeluarkan keringat dingin. Claretta berharap ini hanya sebuah mimpi.

“Dimana kamar mandi?” tanya Claretta

“Apakah tuan ingin mandi terlebih dahulu?” tanya Mary balik.

“Iya” jawab Claretta.

Mary mengantar Claretta melewati sebuah lorong yang dimana terdapat ruangan dengan sebuah bak mandi mewah yang besar cukup untuk menampung 5-6 orang di dalam. Kurang lebih seperti kolam renang.

Di depan terdapat jendela berbentuk lingkaran besar dengan kaca berwarna, membentuk sebuah lambang besar. Dengan bola kristal berwarna hijau keemasan yang diapit dengan dua burung hantu berwarna hitam dan yang lainnya berwarna putih.

Mary segera bergegas menyalakan air hangat dan menuangkan sabun aroma herbal. Suara gemericik air membuat kolam mengeluarkan busa.

Mary menyiapkan beberapa gulungan handuk dan pakaian untuk mengeringkan badan. Mary pamit untuk keluar.

“Apakah tuan ingin dipanggilkan seseorang agar mau membantu untuk mandi?” tanya Mary

“Tidak usah.” jawab Claretta dengan cepat.

Mary Pun keluar diikuti suara pintu kamar mandi yang tertutup. Claretta merasa aneh dengan pakaian yang dia kenakan. Semua berwarna putih, dengan baju stelan. Kain yang digunakan terasa lembut jika disentuh dengan kulit.

Claretta membuka bajunya melepas celana putih dia melihat sesuatu yang bergelantung di hadapan dan sekarang dia memiliki benda tersebut.

Claretta Pun berteriak dengan keras berlari mencari kaca dan bercermin. Claretta terjebak di tubuh seorang laki-laki dengan mata biru permata dan rambut keemasan.

Kecurigaan Claretta benar-benar membuktikan bahwa Claretta masuk di dalam salah satu sosok tokoh karakter fiksi novel yang dia baca ‘Altair Onder de’.

Ditambah Altair adalah sosok yang sangat Claretta benci. Dengan otot perut dan dada yang bidang adalah sosok idaman yang semua wanita inginkan.

Claretta melihat dirinya tidak memiliki payudara, tergantikan dengan benda yang melambai-lambai seakan mengatakan aku adalah seorang laki-laki.

Bertambah kencang lah teriakan Altair di dalam kamar mandi. Tiba-tiba kepala pelayan dan Mary menerobos masuk. Menemukan dirinya dalam keadaan telanjang tanpa busana.

Bab 3

Altair duduk di ruang makan bersama keluarganya mereka seperti yang dia lihat di lukisan tadi pagi dan sibuk dengan makanan di atas meja masing-masing.

Ayah Altair duduk di meja utama kepala keluarga, di sebelah kanan duduk seorang wanita yang juga dipanggil ibu oleh anak-anak gadis saudari Altair. Mereka semua memiliki paras wajah yang rupawan.

Banyak orang yang berdiri melayani keluarga yang sedang makan itu ada yang memegang botol minuman anggur dan troli berisi makanan.

Altair duduk di sebelah kiri ayahnya dengan tenang memakan apa yang ada di depannya. Masih berusaha berfikir dengan keras apa yang sedang menimpa dirinya (Claretta) sekarang dan memikirkan bagaimana keadaan ibunya sekarang?

Sehingga membuat makanan enak di hadapan Altair terasa hambar.

“Ibu lihat! Kak Altair menangis.” ucap seorang gadis paling kecil yang tengah memegang segelas susu di tangannya.

Wanita itu tidak terlalu menghiraukan apa yang sedang terjadi dengan Altair dan berkata, “Untuk seseorang yang sebentar lagi mengadakan acara kedewasaan, tidak seharusnya dia menangis,”

“Apalagi dia adalah seorang laki-laki,” jawab wanita yang dipanggil ibu sembari melirik ke arah Altair.

“Kecuali jika dia sudah sadar atas kesalahan dan status yang selama ini diperbuat yang selalu bertingkah kotor seperti ibunya.” imbuhnya lagi.

Ayah Altair hanya mengeluarkan suara berdehem, meletakkan pisau dan meminum segelas anggur. Altair masih tidak mengerti, kenapa orang-orang di sini bersikap seperti itu.

Saat Mary dan kepala pelayan memergoki Altair keadaan telanjang, kepala pelayan mengatakan bahwa Duke mengajaknya untuk sarapan bersama dengan wajah datar.

“Bagaimana persiapanmu untuk upacara kedewasaan?” tanya ayahnya.

Altair yang ditanyakan hal itu, langsung menjawab.

“Semuanya sudah siap, ayah” jawabnya dengan datar.

Aneh rasanya saat Altair yang mengenali sebagai orang asing yang duduk di sampingnya, kini harus di panggil dengan sebutan ayah olehnya.

Bayangan kematian yang menimpa dirinya semalam masih membekas dalam ingatan membuat perut dan kepalanya terasa sakit.

“Lakukan dengan benar demi martabat keluarga dan kekaisaran” imbuh si ayah.

“Bagaimana bisa dia ditakdirkan sebagai penerus keluarga dengan baik, sedangkan dia terlahir dari ibu seorang budak yang menjadi pelayan. Setelah diselamatkan, ibunya bertingkah seperti pelacur.” celetuk gadis tertuanya.

Altair mendengarkan kata-kata yang tidak asing baginya. Saat dirinya masih menjadi Claretta atau sudah menempati sosok orang lain tetap saja, hanya hinaan yang dia dapat.

“Ayah, aku sudah selesai. Bolehkah aku pergi dari sini?” tanya Altair.

“Ya,” jawab singkat ayahnya.

Kursi berdecit dan Altair meninggalkan meja makan, mereka yang masih sibuk dengan makanan mereka tidak tertarik sama sekali dengan kepergian Altair dari sana.

Makanan Altair tidak tersentuh dan dia pergi meninggalkan mereka semua.

Saat akan hendak menuju ke kamarnya Altair menyadari bisa menemukan informasi tentang dunia ini di perpustakaan keluarga miliknya.

Segera Altair membelokkan langkah kakinya dan pergi menemui Mary. Mencari di setiap sudut ruangan mansion yang sangat besar namun, langkahnya seperti tidak asing saat menyusuri mansion yang baru pertama kali dia lihat.

Altair yang tiba di dapur menanyakan ke beberapa pelayan yang ada disana.

“Dimana Mary?” tanya Altair yang tiba-tiba muncul di pintu dapur.

Tidak ada suara atau sambutan untuk Altair. Mereka semua terdiam dan enggan menjawab pertanyaan Altair karena para pelayan khawatir Duchess akan menganiaya mereka jika terlihat berbicara dengan Altair.

Ada satu pelayan laki-laki yang baru saja bekerja di keluarga ini, tidak mengetahui peraturan tersebut.

Siapa saja yang terlihat berbuat baik kepada Altair akan dihukum fisik.

“Dia ada di tempat mencuci, mungkin sekarang dia sedang menjemur kain.” jawab pelayan itu dengan polos.

“Terima kasih.” jawab Altair sembari keluar dengan cepat.

Setelah melihat Altair yang berhambur lari keluar dari dapur, seorang pelayan yang lain mendatangi pelayan yang menjawab pertanyaan Altair.

“Celaka kau, jika ada seseorang yang melaporkanmu berbicara dengannya kau pasti akan disiksa,” ucap teman yang berada di sebelahnya.

Pelayan itu menoleh ke semua orang dengan tatapan ketakutan berharap ada yang mau menolongnya namun, mereka bersembunyi melihatnya, ada yang tersenyum menyeringai, bahkan ada yang tidak peduli dengan mengalihkan pandangan mereka.

“Kenapa tidak ada yang memberitahukan?” tanyanya dengan nada bingung.

“Duchess melakukan itu untuk melihat siapa mata-mata yang berani masuk di keluarga Onder de dan berani menyusup atas nama ibu Altair.” jawabnya lagi.

“Berdoa saja semoga kau berada dalam lindungan dewa.” ucap pegawai lain sambil menepuk bahunya.

Altair berlari menelusuri halaman belakang tempat biasa para pelayan menjemur pakaian. Altair yang menemukan sosok dengan rambut pendek sedang membelakanginya. Mary sedang menjemur sebuah selimut tebal dan beberapa baju.

Para pelayan wanita yang berada di sana melihat kedatangan Altair mulai berbisik.

Altair mendekati Mary dan menepuk bahunya, Mary yang terkejut menjatuhkan kain tersebut beruntung Altair yang sigap langsung mengambil kain hingga tidak jatuh ke lantai. Mary menoleh dan melihat tuannya yang sudah berdiri di belakangnya.

“A...Ada apa tuan kemari?” tanya Mary dengan suara gugup.

Altair yang mendengar suara Mary yang terdengar gugup merasa heran, intonasi suara Mary berubah setiap kali mereka berada ditempat yang terdapat banyak orang, sedangkan jika hanya ada mereka berdua dia seolah-olah bersikap biasa.

“Tolong bantu aku, aku ingin pergi ke perpustakaan.” ucap Altair yang tidak menghiraukan rasa herannya.

Mary bertanya-tanya kenapa tuannya ingin dia mengantarkan ke perpustakaan. Padahal Altair adalah anak dari keluarga Duke.

“Baiklah tuan.” jawab Mary tanpa menanyakannya lagi karena Mary melihat tatapan semua orang sedang mengawasi mereka.

Mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat jemuran. Pandangan semua orang masih tidak lepas sampai kepergian mereka tidak terlihat.

“Maafkan atas sikap saya tadi, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Mary, dan saya berasal dari negeri tempat ibu tuan berasal.”

“Bisakah kau menceritakan dengan jelas keadaan disini?” tanya Altair yang sedang melihat sekeliling.

Mary menceritakan status dan hubungannya dengan ibu Altair yang adalah seorang budak dari negeri miskin.

Raja mereka menggelapkan uang rakyatnya hanya untuk kesenangan mereka sendiri dan keluarga kerajaan. Bukan hanya Raja, para bangsawan disana hidup dengan mewah yang mengandalkan pajak yang tidak bermoral dan merampas. Hidup dengan belas kasihan dari negara dan kekaisaran lain.

Jika ada pengelana yang terlihat kaya datang mengunjungi negara tersebut, mereka dengan senang hati menjilati pendatang-pendatang tersebut, rakyat mereka juga bersikap seperti pengemis yang akan selalu menempel pada kereta-kereta kuda sampai mereka diberi uang.

Ibu Altair diperjualbelikan di pasar lelang ibu kota negara dan mereka dengan terang-terangan melakukan transaksi tersebut di hadapan semua orang yang banyak dilihat oleh para bangsawan atau anak-anak kecil.

Saat itu ayah Altair, yaitu Duke Leon Onder de melakukan tugas perjalanan ke negara tersebut untuk melakukan perjanjian diplomasi antar negara dan mengirimkan penyihir-penyihir utusan ke sana.

Duke Leon mengubah kereta kuda beserta rombongannya menjadi kereta kumuh dan lusuh sebelum memasuki negara tersebut untuk menghindari sikap rakyat negara itu yang tidak nyaman.

Setelah urusan Duke Leon selesai, dia dan rombongan kebetulan melewati tempat pelelangan budak diwaktu yang bersamaan ibu Altair sedang dilelang oleh kepala pelelang.

“Siapa yang ingin membelinya? Akan aku buka dengan harga 13.000 koin emas.” teriak laki-laki botak berbadan besar.

“13.000 koin emas? Apa tidak terlalu mahal untuk seorang wanita biasa?” tanya seorang pembeli lainnya.

“Jika kalian membelinya, aku jamin kalian tidak akan menyesal.” terdengar kepala pelelang yang maju mendekati salah satu pembeli di depannya.

Orang-orang yang berada di sana gaduh dengan ucapan yang keluar dari mulut ketua pelelang itu. Ibu Altair dengan pakaian lusuh dan mulut yang diikat dengan tali kapal terlihat menyedihkan dengan air mata yang terus mengalir dan berusaha untuk meminta tolong.

Karena tidak ada yang membelinya, Duke Leon akhirnya membeli budak tersebut dengan harga yang telah disepakati. Duke membawa ibu Altair ke kerajaan Rhodes dan menjadikannya pelayan di kediaman Duke.

Entah bagaimana Ibu Altair hamil dan dinikahi oleh Duke. Ketika masa kehamilan Altair Ibunya sakit keras. Saintess yang berada di sana melihat firman dewa bahwa dirinya akan memiliki anak laki-laki.

Dari pernikahan Duke Leon dengan istrinya hanya melahirkan 3 anak perempuan. Akan tetapi ibu Altair harus mati, karena tidak bisa menahan kelahiran anaknya.

“Saya adalah keponakan ibu anda, tuan.” jawab Mary

“Saya ada di sini karena saya mendengar, bahwa sepupu saya telah tertidur selama 1 bulan, sehingga saya merasa khawatir dengan anda. Maafkan atas kelancangan saya selama ini.” ucap Mary dengan sopan.

Altair merasa lega paling tidak dia bisa memiliki dan mengenal seseorang yang baik untuk membantunya selama berada di keluarga ini. Di Perjalanan mereka menuju perpustakaan. Mereka melewati pasukan ksatria khusus milik Duke Leon sedang berlatih pedang.

Ada yang menggunakan baju besi, kaos latihan bahkan ada yang bertelanjang dada. Lalu terdengar suara teriakan yang keras.

“Oi.” teriak suara seseorang dari pasukan disana.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED