Dahulu sekali aku sempat sangat bahagia saat pulang sekolah. Yah … pada saat itu satu-satunya rumah megah bergaya klasik di ujung jalan sana yang menjadi tempatku pulang masih sangat nyaman. Ada Mama yang langsung memelukku saat masih berada di depan gerbang, Papa yang akan langsung menggendong dan menciumku saat baru pulang kerja, dan Mike yang merupakan kepala pelayan yang selalu tersenyum dan mematuhi semua perintahku yang lebih sering terkesan aneh itu. Semuanya sangat menyenangkan tanpa ada satu orang pun yang mencoba merusaknya.
Menurutku keluarga kami tidak mempunyai kekurangan apapun. Semua kebutuhan materi seluruh penghuni rumah bisa dipenuhi dengan sangat baik oleh Papa yang merupakan pemimpin tertinggi salah satu perusahaan tambang emas terbesar di kotaku.
Di kehidupan sosial? Tentu saja kami sangat peduli kepada sesama. Keluargaku adalah donatUr utama banyak yayasan amal. Bahkan, juga memiliki beberapa yayasan yang dikelola sendiri oleh Mama.
Menurutku semua orang yang berada di dekatku saat itu adalah orang baik, mereka selalu tersenyum ramah saat aku melewatinya. Bahkan, orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya juga melakukan hal yang sama. Bukankah itu suatu pertanda bahwa dunia ini hanya dipenuhi oleh kebaikan dan kebahagiaan? Bukankah senyuman itu juga adalah pertanda mereka menyukaiku?
Sempurna bukan? Tidak ada kekurangan sedikitpun dari keluarga yang akhirnya membuatku tumbuh menjadi seorang Allena yang juga sempurna dalam segala hal. Tentu saja, semua berjalan dengan damai, tanpa ada masalah berarti yang terjadi.
Perubahan total terjadi sekitar dua minggu lalu, tepatnya saat pesta ulang tahunku yang ke dua puluh dua. Awalnya semua berjalan normal, bahkan pesta mewah seperti biasanya juga dilaksanakan dengan mengundang banyak sekali tamu penting dan masyarakat sekitar.
Sampai akhirnya kejadian aneh itu terjadi. Tepat di tengah malam saat semua orang sedang menikmati pesta, tiba-tiba saja saja muncul cahaya merah aneh yang memenuhi seluruh ruangan yang membuat suasana menjadi panas seperti terbakar. Perlahan semua cahaya itu beralih mengeliliku, lalu beberapa saat kemudian hilang begitu saja seolah di serap oleh tubuhku meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.
''Allena! Kamu baik-baik saja?'' Mama mendekatiku yang sudah terduduk di lantai, wajah Mama terlihat sangat khawatir, air mata sudah mengalir dengan deras membasahi pipi mulusnya.
''Allena baik-baik saja, Mama jangan khawatir,'' jawabku berusaha menenangkan mama, lalu mengulurkan tangan untuk menghapus air matanya yang masih mengalir.
''Allena, hentikan!''
Aku terkejut mendengar teriakan Papa, tangan yang tadi hampir menyentuh wajah Mama seketika langsung terhenti.
''Allena, maafkan Papa. Mulai saat ini kamu … tidak boleh menyentuh Mama atau siapapun lagi, karna itu akan sangat berbahaya bagi mereka.''
Apa yang Papa katakan? Kenapa aku tidak boleh lagi menyentuh Mama? Berbahaya? Berbahaya bagaimana? Bukankah selama ini aku juga sudah melakukannya? Dan semuanya baik-baik saja.
''Kenapa Papa tiba-tiba bicara seperti itu kepada putri kita?'' tanya Mama yang lebih dulu menanyakan sikap Papa yang tiba-tiba menjadi aneh seperti ini.
Papa terdiam beberapa saat, wajahnya terlihat khawatir. ''Apakah Mama tidak melihat simbolnya? Kutukan itu benar-benar terjadi,'' lirihnya kemudian dengan suara berat
Mama terlihat sangat terkejut mendengar jawaban Papa, aku juga. Setelahnya wanita baik yang sudah melahirkanku itu langsung meminta untuk mempelihatkan kedua pergelangan tanganku, ternyata memang sudah ada dua buah simbol aneh berwarna merah menyala di sana.
Saat melihat simbol itu seketika air mata Mama kembali mengalir deras, bahkan kali ini Mama sampai terisak melihatku. Ini adalah kali pertama aku melihat ada air mata yang sampai sederas itu mengalir dari sudut mata wanita baik yang paling kusayangi ini, ingin rasanya aku memeluknya seperi biasa untuk menenangkannya, tapi semua itu kuurumgkan saat Mama tiba-tiba saja menjauh dariku dan mengahambur ke pelukan Papa.
Semua orang yang menyaksikan kejadian aneh tadi seketika langsung berkumpul mengerumuniku, wajah mereka terlihat sangat khawatir, itu pasti karna melihatku yang kesakitan akibat cahaya merah tadi. Ah, mereka semua memang sangat baik dan sangat peduli padaku.
''Ternyata kutukan itu benar-benar terjadi.''
''Lihatlah pergelangan tangannya, simbol itu sudah muncul.''
''Menjauh darinya, atau kamu akan celaka.''
Samar-samar terdengar kalimat aneh dari mulut orang-orang yang sangat baik menurutku ini. Apa yang sebenarnya mereka maksudkan? Lalu, kenapa tidak ada satupun dari orang baik ini yang menolongku sekarang? Atau mungkin menanyakan keadaanku apakah aku baik-baik saja? Kenapa mereka semua malah sibuk dengan pembicaraan aneh itu sambil melihatku dengan tatapan yang juga aneh? Aku sungguh tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat itu.
Masih terbayang dengan jelas dalam ingatan malam itu pesta yang seharusnya menjadi momen bahagia seperti sebelumnya malah berakhir begitu saja. Aku bahkan belum sempat meniup lilin dan memotong kue saat Papa meminta seluruh tamu undangan untuk pulang, setelah sebelumnya meminta mereka untuk merahasiakan apa yang tadi sudah dilihatnya.
Ya, semuanya berubah total semenjak malam itu, hidupku yang sempurna seketika berubah tanpa kutahu penyebabnya tepat di malam bertambahnya usiaku. Semuanya sungguh terasa aneh, orang-orang yang dulu sangat ramah tiba-tiba berubah dingin dan seolah ketakutan saat melihatku.
Apa yang salah? Kenapa mereka semua tiba-tiba saja berubah? Kemana senyumana ramah itu? Apa ini karna … simbolnya? Ada apa dengan simbolnya? Apa ini simbol kutukan? Tapi kenapa? Kesalahan apa yang sudah kuperbuat?
''Pa, rasanya Mama sudah tidak sanggup untuk terus mengabaikan putri kita seperti ini. Kasihan Allena, dia pasti sangat bingung sekarang.''
Aku yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerja Papa berniat untuk menyambut kepulanganya dari luar kota seketika langsung terhenti saat mendengar ucapan Mama. Kedua orang tuaku itu memang jauh lebih sibuk sekarang semenjak kejadian itu, aku bahkan tidak bisa menemuinya semenjak pesta ulang tahunku dua minggu yang lalu.
''Papa juga tidak mau melakukan ini kepada putri kita, tapi kita sudah tidak punya pilihan sekarang. Simbolnya sudah muncul, itu berarti Xavier sungguh-sungguh dengan ancamannya.''
Degh! Jantungku berdetak lebih cepat saat mendegar setiap kata yang diucapkan Papa, apalagi saat Papa menyebut nama Xavier. Bukankah Xavier itu adalah …
''Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk putri kita, Pa?''
Kali ini suara Mama terdengar berat, aku yakin air mata pasti sudah jatuh lagi dari matanya sekarang. Sepertinya aku juga.
Setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari pertanyaan yang diajukan Mama tadi, bahkan tidak ada satu kalimat pun yang bisa kudengar dari balik pintu ini. Apa yang terjadi? Kenapa Papa diam saja? Apa memang sudah tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kehidupan normalku yang dulu?
''A~Allena!'' Mama yang sedang berada di pelukan Papa terlihat terkejut saat melihatku berdiri di daun pintu.
Perlahan aku mulai berjalan mendekati mereka. ''Pa, Allena ingin tahu semuanya sekarang,'' ucapku kemudian saat sudah berada di hadapan dua orang yang paling kusayangi ini.
''Sayang, tidak ada yang …''
''Ma, Allena ingin tahu juga semuanya. Kenapa Semua orang tiba-tiba berubah menjauh dan takut melihat Allena, kenapa Papa mengatakan Allena tidak boleh menyentuh siapapun lagi sekarang, tentang ancaman Xavier yang tadi Papa katakan, maupun tentang simbol kutukan ini. Tolong jangan bersikap seperti ini, tolong jangan berubah, Allena hanya ingin semuanya bahagia seperti dulu, tolong …'' potongku cepat sambil terisak melihat Mama. Aku benar-benar sudah tidak tahan menahan perasaan ini sekarang.
''Sayang, maafkan Mama. Semua ini memang kesalahan Mama, Mama yang sudah memaksa Papa untuk meminta pertolongan Xavier dahulu, Mama tidak tahu kalau akibatnya akan sesulit ini sekarang.'' Kali ini yang Mama terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan di hadapanku.
Rasa sakit yang kurasakan seketika bertambah saat melihat Mama seperti ini, ingin rasanya aku memeluk Mama dan mengatakan kalau semua ini pasti bukan sepenuhnya kesalahannya. Namun, bayangan ucapan Papa tentang kutukan itu membuatku hanya bisa terdiam tanpa melakukan apapaun sekarang.
''Pa, Allena hanya ingin tahu semuanya,'' tambahku lagi yang kali ini melihat papa.
Papa melihatku dengan tatapan yang sangat sulit dijelaskan, kemudian menuntun Mama untuk duduk di sofa di samping meja kerjanya. ''Allena, duduklah. Papa akan menceritakan semuanya padamu sekarang, '' ucapnya kemudian.
Aku mengangguk, lalu duduk di sofa yang terpisah dengan Papa dan Mama. Suasananya terasa sangat aneh, karna selama ini aku selalu duduk di antara mereka berdua jika berada di ruangan ini diiringi dengan canda tawa. Aku sungguh tidak menyangka keadaanya jadi sangat bebeda dan malah seakan terbalik sekarang.
''Allena, sebelumnya Papa dan Mama minta maaf karna baru menjelaskan tentang hal ini sekarang, ini semua kami lakukan karna kami sangat sayang dan tidak mau kehilangan dirimu.''
Aku hanya menunduk mendegar ucapan Papa tadi, berbagai asumsi terburuk sudah mengsisi kepalaku. Sebenarnya ada sedikit perasaan takut juga dalam hati unuk mengetahui semuanya, tapi bayangan sikap orang-orang yang ketakutan melihatku semenjak kejadian itu memakasaku agar tetap berani menerima kenyataan apapun yang terjadi.
''Allena, kamu sudah di jodohkan dengan Xavier semenjak bayi, dan simbol yang ada di pergelangan tanganmu itu adalah pertanda bahwa dia akan segera datang menjemputmu.''
''Apa?!'' Aku mengangkat kepala sedikit berteriak karna terkejut dengan pernyataan Papa, jantungku seketika berdetak lebih kencang saat lagi-lagi mendengar nama Xavier, dan yang paling membuat seluruh tubuhku bergetar adalah orang itu sudah dijodohkan denganku.
Tidak! Ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin Papa dan Mama tega menjodohkan putri semata wayang mereka dengan seorang penyihir? Bahkan, mereka melakukannya semenjak aku bayi. Astaga … aku sungguh tidak menyangka mereka bisa melakukan hal seperti ini padaku.
Aku mungkin bisa menerimanya jika mereka menjodohkanku dengan manusia biasa yang normal, tapi mereka ingin menikahkanku dengan seorang penyihir. Ya, menurut buku hitam aneh yang tidak sengaja kubaca di meja kerja Papa waktu itu Xavier adalah seorang penyihir yang sangat terkenal karna kekuatan dan kehebatannya, tapi di balik itu semua dia juga terkenal kejam dan kasar. Bahkan, buku itu juga meberikan peringataan agar jangan sampai berurusan dengan Xavier sang legenda, karna dia tidak pernah melepaskan siapapun tanpa mengambil sesuatu yang berharga dari orang itu sebagai imbalan.
''Allena, saat itu situasinya sangat sulit. Kami juga tdak menyangka ternyata Xavier benar-benar serius dengan ancamannya itu setelah cukup lama.''
''Keadaan sulit seperti apa yang membuat Papa sampai berurusan dengan seorang penyihir kejam seperti Xavier?'' Aku menatap dalam mata Papa dan Mama secara bergantian, tanpa terasa air mata yang tadi sempat terhenti tiba-tiba saja mengalir lagi sekarang sebagai ungkapan kekecewaanku kepada dua orang yang sangat kusayangi ini.
Papa terdiam beberapa saat, lalu memeluk Mama yang mulai kembali terisak mendengar pertanyaanku tadi. ''Kami berdua kesulitan untuk menyelamatkan hidupmu, Allena,'' lirihnya pelan kemudian.
Degh! Jantungku kembali berdetak lebih kencang saat mendegar alasan Papa, wajah yang tadi dengan sangat berani kuangkat meminta penjelasan dari mereka sekarang kembali tertunduk. Aku sungguh tidak tahu lagi bagaimana perasanku sekarang, rasa kecewa, rasa takut, rasa marah, rasa bersalah, rasa menyesal, semuanya sudah tercampur aduk menjadi satu kesatuan yang tidak bisa lagi dijelaskan.
''Allena, Papa akan mulai menceritakan semuanya padamu. Kamu boleh mengambil keputusan apapun setelahnya, kami akan menerimanya.''
Aku hanya diam, tidak ada lagi kata yang mampu kuucapkan sekarang.
Setelah beberapa saat kami semua terdiam, Papa kembali bersuara dengan mulai menceritakan bahwa dulu mereka tidak punya sedikitpun harta atau status sosial yang dimilikinya sekarang. Papa dan Mama hidup dengan sangat sederhana, bergelimang dengan segala cacian orang-orang kaya sombong yang saat itu selalu menganggap orang seperti mereka sampah tidak berguna.
Papa adalah orang yang sangat sabar dan berhati lapang, dia bisa dengan tegar dan menerima kalimat apapun yang dilontarkan oleh lisan orang-orang kaya yang tidak bermoral. Berbeda dengan Mama, berasal dari keluarga yang cukup berharta sebelum memilih menikah dengan Papa membuatnya terkadang tidak bisa menahan diri saat kalimat-kalimat menyakitkan yang tidak biasa didengarnya itu melewati batasan kewajaran untuk diam.
Puncak kesabaran Mama benar-benar diuji saat kecantikannya yang selalu menjadi buah bibir orang itu sudah berbuah tuduhan perebut suami orang, rumah kecil mereka terbakar, Papa dikeroyok oleh beberapa orang karna hutang, dan perasaan cemas karna tidak punya uang sedikitpun untuk melahirkan anak pertama mereka.
Papa mengatakan kalau saat itu Mama terus-terusan menangis di sudut tempat pembuangan sampah yang menjadi tempat tinggal mereka selanjutnya. Bahkan, pernah sekali Papa melihat Mama ingin meminum cairan pembunuh serangga untuk mengakhiri hidupnya.
Di tengah kesusahan hidup yang mereka hadapi saat itu, Papa menemukan sebuah buku hitam aneh yang berisi tentang para penyihir yang kerap membantu manusia dengan imbalan, dan Xavier adalah orang yang paling hebat di sana yang bisa dijadikan pilihan.
Awalnya Papa tidak mau berurusan dengan seorang penyihir, tapi desakan dari Mama dan tuntutan hidup yang semakin sulit tak kunjung ditemukan jalan keluar membuatnya terpaksa meminta bantuan Xavier.
Pada bagian ini Papa sempat berhenti dan bertanya apa yang akan kulakukan di tengah situasi yang saat itu dialaminya. Apakah aku akan melakukan hal yang sama? Atau malah justru tetap bertahan dan berharap kesempatan pada usaha lain yang mungkin bisa dilakukan?
Papa kembali melanjutkan ceritanya setelah cukup lama tidak ada jawaban dariku. Dia kembali menekankan bahwa keadaan saat itu sangat sulit, rasanya sudah tidak ada pilihan lain lagi yang bisa dilakukan. Apalagi Mama terlihat semakin depresi dengan berbagai kesulitan lain yang datang silih berganti.
Papa mengatakan kalau pertemuan pertamanya dengan Xavier tidak seperti bayangan refrensi buku yang dia temukan, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada permintaan aneh apapun yang diminta olehnya. Xavier hanya meminta Papa untuk berjanji memenuhi satu permintaanya suatu saat nanti.
Tidak berselang lama semenjak petemuan dan perjanjianya dengan Xavier, perlahan kehidupan Papa mulai berubah. Tawaran pekerjaan dari berbagai perusahaan besar, proyek yang selalu sukses dikerjakan, bahkan Papa sampai mempunyai perusahaan sendiri yang tentu saja secara otomatis menaikkan kembali kelas sosial Mama saat itu.
Namun, ternyata ini adalah strategi licik dari seorang Xavier yang dimaksudkan oleh buku itu. Dia akan lebih dulu membuat korban nyaman dan bergantung padanya, barulah kemudian dia akan meminta imbalan di akhir yang mau tidak mau harus di penuhi oleh Si korban
''Imbalan apa yang diminta oleh Xavier kepada Papa?''
Papa sepertinya terkejut mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba, wajah yang sebelumnya terlihat lebih tenang tiba-tiba menunduk. ''Xavier meminta kakakmu,'' ucapnya kemudian sambil menggenggam tangan Mama.
''Kakak?'' Lagi-lagi jantungku kembali dibuat terkejut dengan fakta baru yang di sampaikan Papa, padahal selama ini aku mengira bahwa aku adalah anak tunggal.
Papa mengangguk.
''Lalu ada di mana kakak sekarang? Apa Xavier membawanya?''
''Papa tidak tahu ada dimana kakakmu sekarang, dia tiba-tiba menghilang sesaat sebelum Xavier datang.''
Kejutan macam apa lagi ini? Kenapa sekarang Papa mengatakan kalau Kakak menghilang begitu saja? Bahkan, Xavier juga belum sempat membawanya. Astaga … sebenarnya apa yang sudah terjadi pada keluargaku di masa lalu? Kenapa semuanya bisa serumit ini?
'
''Apa kejadian itu yang menyebabkan Xavier marah dan mengutukku?''
Papa menggeleng. ''Xavier memang sangat marah saat itu karna menganggap kami sudah melanggar perjanjian dengannya, tapi apa yang kamu alami sekarang itu bukanlah bagian dari kemarahan atau hukuman darinya.''
''Jadi bukan Xavier yang sudah mengutukku? Lalu siapa yang melakukannya? Dan apa hubunganya kutukan ini dengan penyihir itu? Kenapa aku harus dijodohkan dengannya?'' Aku kembali mengajukan banyak pertanyaan kepada Papa, semua fakta baru ini sugguh belum bisa dicerna oleh kepalaku.
Lagi-lagi fakta mengejutkan lain diungkapkan oleh Papa untuk menjawab pertanyaanku tadi. Papa menceritakan bahwa setelah kejadian hilangnya putri pertama mereka, Xavier meminta hal lain sebagai pengganti yang beruntung bisa dipenuhi Papa waktu itu walaupun hampir mngorbankan nyawanya.Saat kutanyakakan penganti apa yang diminta Xavier, Papa menolak untuk menjelaskan dan hanya mengatakan kalau saat itu mereka sangat beruntung karna Xavier bersedia memaafkan dan melepaskan mereka.
Masalah baru justru muncul saat Mama melahirkanku. Aku mengidap penyakit aneh yang sangat sulit disembuhkan, sudah berbagai upaya pengobatan terbaik dilakukan untuk mencoba menyelamatkanku waktu itu, tapi semuanya sia-sia. Bahkan, semakin hari keadaanu terlihat semakin parah, dan lagi-lagi membuat Mama kembali depresi karna takut akan kehilangan putrinya lagi.
Di saat rasa putus asa atas segala usaha yang tidak juga terlihat hasilnya, Papa kembali meminta pertolongan kepada Xavier untuk menyembuhkanku, dan penyihir itu kembali bersedia mengabulkannya.
Akan tetapi, ada perbedaan dengan sebelumnya ketika Xavier meminta imbalan di akhir setelah bantuannya di berikan. Kali ini dia langsung menyampaikan syaratnya di awal yang akan menjadi imbalan baginya nanti. Penyihir itu mengatakan kalau dia akan datang menjemputku saat sudah cukup dewasa untuk dijadikan istrinya, dan menanamkan simbol aneh itu sebagai perisai untuk menjauhkanku dari orang-orang yang mendekati, sekaligus sebagai pertanda bahwa dia akan datang menjemputku.
Aku sungguh tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang setelah mendengar semua cerita yang disampaikan Papa. Ntah siapa yang harus bertanggungjawab dan patut disalahkan dalam masalah yang sudah terlanjur terjadi ini. Apakah Papa dan Mama yang sudah menggunakan cara yang salah untuk menyelamatkan hidupku, Xavier bodoh yang sudah mengabulkan permohonan mereka dengan syarat tidak masuk akal, atau malah aku sendiri yang memang tidak seharusnya selamat dan hidup di dunia ini.
''Terimakasih karna Papa sudah mau menceritakan semuanya, Allena pamit mau ke kamar sekarang.'' Aku bangkit dari sofa, lalu berlari menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi ke belakang walaupun Mama berkali-kali memanggil untuk mencoba menghentikanku.
Brukk! Karna terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan, tanpa sengaja aku menabrak seorang pelayan yang mengakibatkan seluruh nampan berisi buah yang dibawanya terjatuh berserakan di lantai.
''Maafkan Allena, Bi.'' Aku mengambil beberap buah yang berserakan, lalu meneyerahkannya kembali kepada wanita berseragam hitam putih itu. ''Bibi tidak apa-apa?'' ucapku kemudian sambil menyentuh bahunya.
''I~iya, Non. Bibi tidak …'' Kalimat pelayan itu terhenti saat tiba-tiba saja dia ambruk di hadapanku, wajahnya juga perlahan berubah memerah seperti terbakar.
''Bibi! Apa yang …''
''Maaf, Nona. Biar saya saja yang melakukannya.'' potong Mike yang tiba-tiba saja muncul bersama beberapa pelayan lainnya dari belakangku.
''Apa yang terjadi padanya, Mike? Kenapa dia tiba-tiba saja menjadi seperti itu?'' tanyaku panik saat kepala pelayan itu sudah bersiap untuk mengangkat wanita itu.
''Mike, kamu tahu kan yang harus dilakukan? Cepat selamatkan pelayan itu sekarang sebelum terlambat,'' Aku terkejut dan langsung menoleh saat mendengar suara bernada alto yang anya dmiliki oleh satu-satunya pria di rumah ini barusan – Papa. Sepertinya dia dipanggil oleh pelayan yang ada di belakang yang mengiringinya.
Rasa panik dan tidak mengerti dengan keadaan seketika langsung bertambah saat Papa sampai turun tangan dalam masalah ini, karna selama ini hanya masalah darurat tertentu saja yang membuat pelayan sampai berani memanggil Papa di ruang kerjanya.
''Allena, kamu harus ikut Papa sekarang,'' tambah Papa kemudian melihatku sebelum akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkanku.
Aku mengikuti Papa untuk kembali masuk ke ruang kerja yang beberapa menit lalu baru saja kutinggalkan, lalu kembali duduk di tempat yang sama seperti tadi. Hanya ssaja sudah tidak ada Mama lagi di ruangan ini, mungkin sedang menenangkan diri ke taman seperti yang biasa dilakukannya saat sedih. Mama … maafkan aku.
''Allena, hal ini lah yang menyebabkan Papa melarangmu untuk menyentuh Mama waktu itu,'' ucap Papa pelan hampir tak terdengar.
''A~apa maksud Papa?''
''Simbolnya.''
Degh! Jantungku yang memang sudah tidak berdetak secara stabil sejak dari tadi menjadi semakin sulit di kendalikan sekarang saat mendegar kata itu lagi. ''Apa ini yang menyebabkan sikap semua orang berubah, Pa? Semua orang akan mengalami hal yang sama dengan pelayan tadi jika aku menyentuhnya?''
Papa menangguk, kemudian menunduk setelah melihatku. ''Iya, Xavier tidak memperbolehkan seorang pun untuk menyentuhmu setelah kemunculan simbolnya. Itu adalah salah satu isi dari perjanjian yang sudah kami sepakati sebelum menyembuhkanmu dulu.''
Apa? Jadi aku tidak boleh menyentuh siapapun lagi sekarang?