Berada di sebuah padang rumput yang luas seperti lapangan sepak bola, tampak tujuh pemuda dan pemudi berkumpul di tempat yang sama dan posisi punggung mereka saling bersentuhan. Saling membelakangi dan pandangannya mengedar ke segala arah. Di depan mata, padang rumput tersebut berbatasan dengan ribuan pohon bercabang banyak yang bisa dilihat dari arah mana saja.
Suasana di sini amat mencekam. Mereka mengawasi keadaan dengan tatapan waspada dan berjaga-jaga. Hal yang bisa didengar untuk sekarang adalah suara langkah kaki disertai suara pijakan ranting kayu tergeletak di tanah. Suara itu berasal dari mana saja. Hampir segala sisi di padang rumput ini bisa ditangkap dengan jelas oleh indra pendengaran.
Hal yang bisa dilakukan mereka adalah memasang mode waspada. Jika tidak, nyawa mereka yang mungkin menjadi ancaman. Mereka tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup jika tidak berhati-hati. Suara itu juga semakin memekakkan telinga.
Tetapi tidak berlaku bagi seorang gadis berkulit putih tersebut yang posisinya membelakangi matahari di ufuk barat. Walaupun dia sedang mengawasi wilayah sekitar, bola matanya sejak tadi tidak berpindah ke seorang gadis dengan rambut panjang dan berlekuk seperti gelombang air laut. Ada banyak pertanyaan yang ingin disampaikan kepada gadis di sebelahnya.
Tidak ingin membawa lagi rasa penasaran tersebut, gadis berkulit putih itu mengajukan pertanyaan dengan serius. “Kebetulan ketemu di sini nih, lebih baik lo jujur. Gak perlu mengelak lagi!” ucapnya bernada tegas. Dia melanjutkan, “Lo tau gue dari mana?”
Gadis berambut gelombang itu tersenyum miring. Dia mengembuskan napas pendek, bermaksud mengejek gadis di sebelahnya yang bertanya. “Kenapa? Lo penasaran sama gue?” jawabnya setengah mencibir dan terkesan tidak mau terlibat dalam pembicaraan. Raut mukanya juga tampak setengah hati ketika pembahasan ini yang keluar dari mulut sang puan.
“Karena lo yang tau segalanya tentang gue,” balas gadis berkulit putih yang berkata dengan raut wajah ingin tahu. Berbeda dengan gadis berambut gelombang itu yang justru memberinya ejekan. Dia tidak peduli, asalkan pertanyaan di kepala ini bisa terjawab segalanya.
“Sok tau lo,” ucap gadis berambut gelombang itu dengan ketus. Dia tidak peduli lagi dengan respons sang puan. Kesannya sudah buruk di depan mata. Dia ingin segera mengakhiri drama singkat yang terjadi tanpa direncana, bahkan dia diseret ke tempat ini juga tidak direncana. Dia mencibir, “Emang lo kenal gue? Sok merasa paling kenal lo padahal baru papasan doang.”
“Mulai kasar lo, ya.”
“Lo berdua saling kenal?” Seorang lelaki yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan dibiarkan keluar dari lipatan celana menginterupsi pembicaraan mereka. Hal itu membuat mereka kompak mengalihkan pandangan ke asal suara. Mereka juga kompak tidak membalas. “Kalau lo mau mati di sini, mending serahin diri aja. Tapi jangan ngebebanin lima orang lain yang pengen hidup karena kalian,” tambahnya.
“Oke. Gue minta maaf,” ucap gadis berkulit putih yang secara tidak langsung juga menutup pembicaraan singkat. Dia sadar ada yang harus diawasi daripada harus memusingkan hal yang tidak pasti.
Lelaki yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu mengarahkan pandangannya ke arah semula. Begitu juga dengan gadis berambut gelombang. Dia juga tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini karena memang dia tidak mau membahasnya. Semua ini terjadi karena gadis itu yang mendesaknya.
*
Kini, tujuh anak manusia itu duduk melingkar di atas rumput sambil meluruskan kaki. Masing-masing kepala sedang menarik dan mengembuskan napas berulang kali, seperti baru saja melakukan lomba lari dengan jarak sejauh satu kilometer. Mereka juga kelelahan, didukung oleh raut wajahnya. Keringat yang keluar dari dahi sejak tadi bermunculan seperti embun menjelang subuh.
Tidak ada lagi suara langkah kaki beserta suara pijakan ranting kayu. Tidak ada lagi yang perlu diwaspadai. Semua itu sudah berakhir. Mereka bisa pulang tanpa merasa khawatir lagi. Mereka bisa keluar dari dunia yang sudah seperti jebakan.
Sebelum kesempatan itu punah dari impiannya, gadis berkulit putih yang sejak tadi tidak mengalihkan atensinya menatap tajam. Ada banyak pertanyaan yang terlintas di kepala dan harus dituntaskan saat itu juga. Dia tidak bisa diam saja ketika identitasnya dipertanyakan.
Perlahan, dia mengulurkan jarinya ke depan yang lantas membuat semua pasang mata menatapnya. Termasuk juga sang objek yang menjadi sasarannya―gadis berambut gelombang. Dia berkata, “Lo … sebenarnya bisa baca masa depan ‘kan?”
Pertanyaan ini membuat mereka yang mengamati pembicaraan membelalakkan mata. Sepertinya sulit untuk menerima kenyataan yang terjadi kepada sang objek. Oleh karena itu, sontak semua pasang mata berganti.
Gadis itu mendesis dan menatapnya dengan tatapan mengejek. Bukannya takut, dia malah ingin menantang sang lawan bicara yang penasaran dengan identitasnya. “Gue juga gak perlu jawab pertanyaan lo, ‘kan. Jadi gue gak bakalan jawab,” balasnya yang diakhiri dengan senyum menyungging.
“Jawab lo, brengsek!”
“Kalau lo benar juga, lo pasti tahu karena bisa baca pikiran gue. Gak salah ‘kan?”
Gadis berkulit putih itu menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan. Amarahnya tadi sudah mencapai ke atas kepala. Dia tidak mau dipancing lagi karena hal itu akan semakin membangkitkan emosi. “Benar. Gue bisa baca pikiran orang lain,” jawabnya yang mengakui dengan jujur dan tidak direkayasa. Tuduhan gadis itu juga tidak ada dusta sama sekali.
“Wah! Gue sama sekali gak nyangka.” Menengahi pembicaraan antara dua gadis itu, gadis berambut pendek yang mengenakan T-shirt polos berwarna merah muda berseru. “Maksudnya lo bisa baca pikiran semua orang, termasuk gue?”
Gadis yang ditanya itu menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Gue tahu isi kepala semua orang dan apa yang mereka pikirkan. Tapi, hanya dia yang pikirannya gak bisa gue baca,” tambahnya yang kemudian menunjuk satu orang. Arah tunjuknya ke seorang gadis yang mengenakan baju lengan panjang. Mendadak, semua pasang mata juga berganti ke arah sang puan yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan.
“Berarti beneran dong, kalau lo bisa baca masa depan.” Kini, giliran lelaki yang mengenakan kaus lengan pendek berwarna putih dengan motif tulisan kapital bersuara. Dia menyimpulkan segala percakapan yang disimaknya. Menegaskan ulang kepada gadis berambut gelombang itu mengenai asumsi tadi.
“Benar, gue bisa baca masa depan. Ada orang yang ngejar gue tadi. Karena orang itu juga kita terjebak di sini,” jawab sang puan yang akhirnya mengakui. Dia lelah karena disudutkan berkali-kali. Pengakuannya membuat semua orang terkejut seolah mendapat berita baru, tetapi tidak dengan gadis berkulit putih yang sudah menemukan jawabannya lebih awal.
“Kenapa harus kita?” tanya seorang lelaki yang memiliki mata bulat sempurna seperti bola. Wajahnya tampak ingin tahu mengenai apa yang menjadi awal pertemuan pada hari ini.
“Karena kita adalah orang pilihan. Dia membutuhkan kita,” jawab gadis berambut gelombang dengan singkat berdasarkan pengetahuannya tentang sang objek di luar sana.
Lelaki yang mengenakan kaus putih itu tersenyum bahagia. Dia mengulurkan tangan ke arah gadis pembaca masa depan. Raut wajahnya terlihat takjub seperti bertemu dengan orang baru. Sedangkan gadis itu bingung dengan gerak geriknya. “Apa pun itu, senang bertemu lagi. Akhirnya gue tahu lo, Jingga.”
*
Tidak ada lagi padang rumput. Tidak ada lagi deretan pohon bercabang. Kini, raga seseorang baru saja kembali dari bunga mimpi yang pagi itu dibangunkan oleh suara ayam berkokok. Suara itu membuat Jingga―gadis berambut gelombang―membuka dua matanya dengan segera. Dia mengusap mata dengan lembut sebelum mengangkat punggungnya dari kasur.
Duduk di tepi ranjang tidur, dia menggaruk puncak kepala yang kebetulan rambutnya sedang berantakan seperti singa. Tangannya terulur ke laci kecil di sebelah ranjang dan membukanya. Satu buku catatan kecil beserta pulpen diraih sebagai awalan pada hari ini. Dia menuliskan apa yang dilihatnya di mimpi tadi secara garis besar. Dia sadar kalau itu merupakan bagian dari kilasan masa depan, makanya dia tidak ingin melewatkan satu kata.
“Jingga! Tolong aku sebentar di bawah! Cuci muka dulu sebelum turun.”
Suara lembut seorang wanita memecah keheningan pada pagi ini. Oleh karena itu, Jingga buru-buru meletakkan catatannya di atas ranjang. “Baik, Bu!” serunya beberapa saat kemudian.
***
Bertempat di kediaman milik Jingga dan keluarganya dalam suatu perumahan kota metropolitan, tampak seorang wanita berusia hampir mencapai setengah abad sedang berada di depan kompor gas. Dia sedang memanggang selembar roti gandum di atas frying pan setelah diolesi mentega. Bersama sosis ayam yang masih dalam keadaan segar, dia akan memanggangnya secara terpisah.
Tidak jauh dari wanita itu, ada seorang lelaki muda yang berada di meja makan. Mulutnya sedang mengunyah roti bakar yang telah dioles selai cokelat sebagai pembuka selera makan pada pagi hari. Dia yang mengenakan seragam SMA sebentar lagi akan berangkat, maka terlebih dahulu pula dia mengisi tenaga. Siswa SMA yang tidak mengenakan nametag di seragamnya duduk sambil mengangkat kaki di atas dudukan kursi.
Wanita itu berbalik badan dengan membawa roti sosis beserta roti panggang lain yang sudah dimasak sebelumnya. Makanan itu dihidangkan di atas meja makan yang telah dialasi piring. “Chan! Kakakmu belum keluar?” tanyanya yang memulai pagi hari dengan wajah heran.
Siswa yang dipanggil itu menggelengkan kepala. Dia bernama Chandra yang merupakan siswa baru di SMA Bakti Kusuma. “Dari tadi dia belum keluar, Bu, dari kamar mandi. Gak tau tuh ngapain aja,” jawabnya yang langsung menggigit seperempat bagian roti cokelat ke dalam mulut. Menjelaskan keberadaan sang kakak―Jingga.
Wanita yang dipanggil ibu oleh dua insan itu mendesah lelah. Sembari mempertanyakan apa saja yang dilakukan si objek pembicaraan jauh di sana. “Kalau mau roti lagi, ambil aja yang paling atas. Atau kalau mau dibawa bekal juga,” ucapnya sebelum membiarkan kakinya melangkah mengikuti irama. Dia pergi meninggalkan Chandra sendirian.
Kakinya sudah menempuh belasan anak tangga, tetapi sampai sekarang belum terdengar gaungnya. Setelah mencapai lantai atas, dia mendekati sebuah ruangan yang tidak jauh dari tangga. Rumah dua lantai ini menjadi saksi bisu akan aktivitas pada pagi ini. Pintu ruangannya masih tertutup rapat. Kemudian pintu diketuk sebanyak tiga kali. “Jingga?” serunya.
Insan yang dipanggil namanya tidak menjawab. Keadaan di dalam ruangan sangat hening ketika diteliti lebih jauh lagi. Tidak ada jawaban pula, ibu memutuskan untuk meraih gagang pintu yang ternyata tidak dikunci.
Seperti yang diduga, Jingga tidak ada di atas ranjang tidurnya. Sementara itu, suara guyuran air terdengar dari ruangan lain di dalam kamar. Sudah pasti sang puan yang dicari berada di dalam sana. Tetapi yang menarik perhatian ibu adalah kondisi ranjang tidur yang berantakan dan seperti tidak dirapikan berhari-hari.
Melihat keadaan yang tak ubah seperti kapal pecah, ibu berniat ingin membereskan tempat tidurnya dengan rapi seperti sedia kala. Tapi saat baru saja mengangkat selimut tebal, satu buku catatan kecil terlempar ke atas ranjang bersama pulpen. Dia menghentikan aktivitasnya untuk mencari tahu benda apa yang berhasil menarik atensi.
Membawa rasa penasaran, dia mengulurkan tangan ke depan untuk meraih catatan kecil milik sang puan yang sampai saat ini belum tahu kejadian sebenarnya. Ketika membaca tulisan sang puan, dia mengerutkan kening. Tulisan itu berisi nama-nama orang yang tampak asing di ingatannya kecuali nama Jingga. Ada juga sebuah tanda tanya yang justru menimbulkan tanda tanya besar.
“Bu?” Bersamaan dengan bunyi pintu yang ditutup, suara Jingga dari arah sebaliknya terdengar. Saat ibu menoleh, gadis itu keluar dengan baju lengan panjang dan mengalungkan handuk kecil di leher. Rambutnya juga basah dan sebentar lagi akan dikeringkan.
“Ini siapa?” tanya ibu yang langsung mengawali pembicaraan di antara dirinya dan Jingga. Dia mengangkat catatan bermaksud menunjukkannya ke sang puan.
“Itu nama mereka yang akan bertemu denganku,” jawab Jingga yang tampak tidak tertarik untuk membahasnya. Tanpa membawa rasa bersalah, dia bergerak ke nakas untuk menyalakan pengering rambut.
“Kamu bermimpi seperti itu lagi?”
Jingga mengangguk. Pengering rambut yang kini mengeluarkan uap panas seakan-akan mengucapkan salam perkenalan kepada rambut yang butuh perawatan. Dia mengeringkan rambut bagian kiri terlebih dahulu. Dia membalas, “Hampir tiap hari.”
Ibu bergerak dari tempatnya menuju Jingga yang duduk di depan kaca. Wanita itu membantunya mengibas-ngibas helaian rambut yang belum kering. “Kan sudah kubilang kalau mimpi itu lagi, kamu sebaiknya abaikan saja.”
“Terus, salahkah kalau melihat mereka dalam mimpi? Karena menurutku kalau semakin diabaikan, mimpi itu akan datang lagi dan menggangguku tanpa henti. Aku akan terus melihat hal yang sama sampai aku muak dengan itu,” ujar Jingga yang memiliki pendapat berbeda dengan ibu. Dia memiliki alasan yang membuatnya tidak bisa mengikuti kemauan wanita itu.
“Tapi bagaimana kalau ibu yang muak? Kamu seperti terobsesi dengan mimpi itu dan mungkin orang lain akan menganggapmu tidak normal. Ibu hanya ingin kamu bisa hidup seperti orang lain. Gak bisakah?”
Jingga memutar kepala setelah mendengar tuturan ibunya. “Bu! Gimana bisa ibu menganggapku gak normal seolah aku lahir dari dunia lain. Padahal kalau aku memiliki kemampuan ini atau tidak, gak bakal ada perubahan. Aku tahu bagaimana aku mengurusi hidupku sendiri,” ujarnya dengan nada tidak percaya.
“Tapi kamu gak keganggu?”
Jingga terdiam. Dia sadar kalau ibunya butuh penjelasan lebih jauh. Sudah diingatkan berkali-kali tentang hal yang sama, dia sudah lelah. Dia ingin meluruskan apa yang membuat ibunya salah paham. Oleh karena itu, dia memberi sebuah pelukan hangat kepada wanita yang sangat disayangi dalam hidupnya. “Aku juga terganggu, Bu, tapi aku tahu cara menanganinya. Pasti ada alasan kenapa hanya aku yang bisa membaca masa depan. Pasti ada hal yang harus kuselesaikan di dunia ini makanya aku jadi gini. Ini sudah takdirku, ini juga anugrah dari Tuhan. Aku hanya bisa menerimanya dengan lapang dada.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin. Percaya aja denganku.”
“Baiklah. Aku bisa tenang setelah ini,” jawab ibu yang kini bisa merasa lebih tenang setelah diyakinkan sang putri tertua dalam silsilah keluarganya. Dia sadar gadis itu sudah dewasa dan tahu bagaimana menjalani hidup di dunia luar.
*
Halte bus pada 35 menit sebelum pukul tujuh pagi biasanya selalu ramai dipadati penumpang yang ingin naik bus kota. Ada karyawan kantor yang masuk pagi, ada murid-murid sekolah, ada juga guru dan tenaga pengajar lain yang selalu datang pagi. Termasuk juga Jingga dan Chandra yang baru saja berada di kawasan pemberhentian.
Bus Transjakarta selalu diramaikan penumpang setiap hari. Bus itu selalu beroperasi tanpa henti mengelilingi Jakarta yang sudah seperti kota maju di masa depan. Akhir pekan juga tidak dapat dielakkan. Selain bus, ada juga warga kota yang menggunakan kendaraan pribadi. Bagi keluarga yang lebih suka menghemat uang, mereka memilih menggunakan kendaraan umum dengan alasan praktis.
Kakak adik itu kemudian berhenti setelah menjejakkan kaki di halte, bergabung bersama warga lain. Jingga menengok ke sisi kiri dan kanan untuk mencari bangku, tapi tidak ada lagi yang tersisa. “Pulang nanti lo bisa sendiri ‘kan?” tanyanya yang mengajak Chandra bicara setelah obrolan dari perumahan tadi.
“Bisa kok. Sebenarnya lo juga gak perlu anterin gue sampai sini,” balas Chandra. Pada saat yang sama, bus berwarna biru laut baru saja terlihat di dekat pemberhentian.
“Daripada gue diomelin ‘kan,” ujar Jingga yang juga bisa melihat sebuah objek yang sama. Tidak butuh waktu lama, bus berhenti. Dia melanjutkan pertanyaan, “Duit lo?”
“Udah ada kok.”
Punggung Chandra kemudian menghilang dari pandangan setelah naik ke bus. Jingga tidak bisa lagi melihat adiknya yang tidak tahu duduk di bangku bagian mana. Tidak lama setelah itu, pintu bus tertutup dan menjauh dari pemberhentian. Meninggalkan Jingga yang kini sendirian.
Niatnya setelah mengantar Chandra adalah segera pulang. Oleh karena itu, dia berjalan kaki menyusuri bahu jalan sebelum tiba di gerbang perumahan yang tidak jauh dari halte. Di hadapan, dia melihat beberapa pejalan kaki dan seseorang yang mengendarai sepeda ke arahnya. Setelah sempat berpapasan, dia dan pemilik sepeda saling membelakangi.
Terdengar suara rem mobil yang bergeser dengan bahu jalan, beserta suara benda terjatuh dengan keras. Jingga mendadak berhenti di tempat, lalu menoleh ke arah belakang. Di persimpangan, orang yang mengendarai sepeda tadi mengalami kecelakaan karena ditabrak mobil yang melintas dari arah simpang. Ban sepedanya hampir masuk ke bawah mobil, namun pemiliknya tergeletak di jalan raya. Akibat kecelakaan itu, semua kendaraan menepi di bahu jalan.
Beberapa warga yang kebetulan melintas di sana mulai mengerubungi pengguna sepeda tersebut. Seperti kawanan semut yang ketumpahan gula. Beberapa di antaranya ada yang berseru kaget dan mengucapkan rasa iba.
“Hai, Cantik!”
Bersamaan dengan suara berat dari seorang lelaki, kecelakaan yang terjadi tadi menghilang dalam satu kedipan mata. Seolah kecelakaan itu tidak pernah ada. Itu adalah bagian dari masa depan yang dilihat Jingga beberapa saat kemudian.
Jingga kembali memutar kepalanya ke arah semula. Seseorang yang mengendarai sepeda tahu-tahu saja sudah berada di depan mata untuk menyapanya. Perawakannya mirip seperti pemuda yang kecelakaan tadi. Gadis itu tidak menjawab.
“Abis anterin adik lo ya?” ujar pemuda itu lagi yang kemudian menaikkan sudut bibir dan menatap sang puan dengan sorot mata cerah. Jingga menganggukkan kepala tanpa bersuara. Dia melanjutkan, “Lo pasti mau pulang ‘kan? Mau dianterin?”
Jingga menggelengkan kepala, menolak tawarannya. “Makasih atas tawarannya, tapi gue bisa pulang sendiri.”
Pemuda itu kemudian menaikkan kaki sepeda. “Kalau gitu, gue cabut dulu ya. Lo juga hati-hati. Entar lo digodain lagi sama mas-mas freak di sana,” ucapnya yang mengingatkan Jingga akan beberapa hal sebelum pamit.
Jingga tidak menjawab lagi. Dia sudah memutar badan dan melanjutkan langkahnya untuk pulang ke rumah.
“Ngomong-ngomong …,”
Jingga berhenti. Dia kembali menoleh ke pemuda itu yang rupanya belum beranjak dari tempat. Pemuda itu berkata, “Nama lo Jingga ‘kan? Gue gak sengaja dengar obrolan lo sama Pak Satpam perumahan itu.”
“Iya, gue Jingga.”
Pemuda itu tersenyum lebar. “Nama lo cantik ya, seperti orangnya. Kenalin juga. Nama gue Justin,” ucapnya dengan semangat lalu pergi. Sepeda yang dia kayuh semakin jauh dari sang puan.
“Please, jangan pergi ke sana.” Dari benak hati, Jingga yang sudah tahu apa yang akan terjadi berteriak sekuat hati. Tetapi yang bisa dia lakukan adalah diam di tempat. Sadar kalau dia tidak akan bisa mengubah apa pun, dia berbalik badan dan menjauh dari halte.
Seperti kenyataan, Justin ditabrak oleh pengendara mobil yang datang dari arah persimpangan. Tubuhnya terpental dari sepeda. Darahnya keluar dari kepala saat punggungnya baru saja menyentuh aspal jalan. Dia masih bisa melihat langit yang hari ini ditemani awan tebal sebelum matanya terpejam.
Di sisi lain, Jingga yang semakin menjauh tiba-tiba menitikkan air mata. Dia tahu kecelakaan itu akan terjadi, tetapi dia tidak bisa mencegahnya bahkan meminta Justin untuk kembali. Dia sadar pemuda itu tidak bisa terpisah dari takdir yang sudah diputuskan. Pemuda itu tetap meninggal dunia setelah mengetahui namanya. Bisa melihat masa depan baginya bukan berarti bisa mengubah masa depan.
***
Di koridor sebuah gedung yang memiliki sekitar delapan ruangan dalam satu lantai, tampak seorang lelaki yang mengenakan kacamata dan kemeja kotak-kotak yang dimasukkan dalam celana kain sedang bersembunyi di balik tembok. Dia sedang mengamati keadaan lorong yang saat itu dipadati orang lain―yang mondar-mandir untuk mencari ruang kuliah. Menjauh dari keramaian, dia ingin memastikan sesuatu sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dari lantai utama. Ada yang membuatnya khawatir jauh di sana.
Bertempat di Universitas Jaya―kampus milik swasta yang berlokasi di pusat kota Jakarta―para mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan memadati dua gedung utama. Gedung yang berhadapan langsung itu adalah gedung fakultas lain. Sedangkan fakultas di sini khusus untuk Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kesenian. Tiap gedung memiliki lima lantai yang bisa diisi sampai dua departemen.
Setelah memastikan kalau keadaan di seberang aman, dia bernapas lega. Kalau keadaan seperti ini setiap hari, hidupnya akan luar biasa damai. Dia juga tidak perlu merasa khawatir.
Baru saja melangkahkan kaki dan keluar dari tempat persembunyian, kerah lelaki itu ditarik dari arah belakang. Akibatnya, dia tertahan. Ketika menoleh ke belakang, matanya membesar beriringan dengan meningkatnya detak jantung yang seperti dikejar anjing pemburu.
Dari belakang, dua mahasiswa yang menahan langkah lelaki itu mendorongnya melewati koridor dengan menaruh tangan mereka di bahu kiri dan kanan. Mereka berjalan bersebelahan dan dari jauh tampak akrab, padahal yang terjadi sebenarnya adalah dia seperti diseret dua lelaki itu ke neraka. Dia juga tidak berani menatap mata mereka yang justru tampak bahagia.
“Udah lama juga ya kita gak ketemu, Brodi.” Mahasiswa di sisi kanan lelaki itu yang mengenakan kaus lengan pendek dan celana ripped jeans membuka percakapan dengan nada ramah. Walaupun kedengarannya baik, tetapi bagi lelaki kacamata itu terdengar mengerikan seperti disapa malaikat maut.
“Lo pastinya gak lupa dong,” ujar mahasiswa satu lagi yang mengenakan jaket denim dengan dalaman kaus berwarna hitam. Dia juga mengenakan jeans yang berwarna lebih gelap dari teman terdekatnya.
“Maaf, Kak, tapi saya lagi gak punya uang hari ini.” Dengan menundukkan kepala, lelaki kacamata itu berkata dengan nada bergetar. Dia sudah jelas ketakutan dengan dua orang yang sedang bersamanya.
Ucapan itu membuat keduanya kompak berhenti dan lelaki kacamata itu juga ikut berhenti. Mereka tidak bisa dibohongi. Oleh karena itu, lelaki jaket denim segera memasukkan tangannya ke saku celana kain milik lelaki kacamat tersebut. Dengan cekatan pula, dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam saku. “Lumayan nih!” serunya setelah berhasil merampas uang milik orang lain.
“Thanks ya, Brodi!” ujar lelaki kaus lengan pendek yang menepuk bahu lelaki kacamata tersebut sebelum meninggalkannya.
“Tapi, Kak, itu uang jajan bulanan saya yang terakhir.” Mencoba menghentikan mereka, namun lelaki kacamata itu terlambat. Mereka sudah terlalu jauh darinya dan terlalu jauh untuk bisa disusul. Oleh karena itu, dia menunduk sedih karena uangnya dirampas begitu saja.
Berhasil memalak salah satu mahasiswa, tidak membuat dua insan yang berbuat sesuka hati itu merasa puas dengan apa yang mereka perbuat. Saat membagi-bagikan lima lembar uang berwarna merah, mereka malah berdebat untuk mendapatkan selembar lagi yang tersisa. Mereka juga sempat adu mulut.
“Eh, itu Rama deh!” ucap lelaki kaus pendek itu yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dan secara tidak langsung juga menghentikan perdebatan. Matanya mengarah ke punggung seorang mahasiswa yang baru saja bersinggungan arah dengan mereka. Bola matanya tampak cerah lagi, seolah menemukan target baru.
Dengan kompak, dua insan yang menjadi alasan mahasiswa lain menjadi kesal tersebut mendekati pemilik punggung seorang lelaki yang mengenakan jaket kulit dengan dalaman kaus berwarna putih. Mereka juga merangkul pundak orang itu dengan akrab dan tersenyum kepadanya. Hal itu membuat lelaki yang memiliki mata bundar tersebut menatap mereka dengan datar. Dia juga tidak bereaksi.
“Ram! Minta uang lo dong. Lo kan yang paling kaya nih di kampus ini,” ujar lelaki jaket denim yang memulai pembicaraan dengan nada sok ramah.
Lelaki yang dipanggil Rama lantas membuang muka dan tidak tertarik untuk menanggapi dua insan yang selalu memiliki akal bulus untuk menjatuhkan musuhnya. “Lo kan udah malak yang lain. Kenapa lagi mau malakin gue,” jawabnya ketus.
“Kita gak malak kok. Kita akrab banget, ya ‘kan? Makanya gue minta uang lo, hitung-hitung buat nolongin teman juga.” Dengan ramah, lelaki yang mengenakan kaus lengan pendek memberikan alibi dengan nada akrab.
“Gak butuh teman kayak lo,” jawab Rama yang mengakhiri dengan memutar bola mata. Dihampiri mereka membuat suasana hatinya memburuk, karena dia tahu reputasi mereka di kampus ini. Mereka sangat terkenal sebagai pemalak uang orang lain.
Tanpa aba-aba dan tanpa menunggu izin Rama, lelaki jaket denim segera memasukkan tangannya ke saku celana Rama yang membuat lelaki itu tersentak. Tidak hanya satu orang, namun lelaki kaus lengan pendek juga ikut merogoh saku di celana sisi kanan. “Lo mau ngapain, anjir!” bentak Rama yang mulai memberontak dan ingin melepaskan diri.
Tidak butuh waktu lama, sebuah dompet berbahan kulit muncul dari tangan lelaki jaket denim yang mengulurkannya ke atas kepala. Sedangkan mata lelaki kaus lengan pendek itu berbinar-binar ketika menyaksikan dompet kulit yang diidamkan muncul di depan mata. Seperti menyambut kotak harta karun yang terkubur di dasar laut selama tenggelam beberapa tahun.
“Makasih ya, Ram!”
“Jumpa lagi, Brodi!”
“Kembaliin dompet gue, jir!” Rama yang tidak bisa sabar lagi meluapkan emosinya. Dia juga tadi meninggikan suara, namun terlambat. Dua insan yang berbuat semuanya itu sudah berlari menjauh. Rama menggelengkan kepala dan mengembuskan napas. Dia sadar kalau dia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Dia harus memberi mereka pelajaran. “Bangsat banget mereka,” gerutunya dengan berkacak pinggang.
Dua mahasiswa itu kemudian berhenti setelah merampas dompet Rama. Mereka saat itu sedang membagi-bagikan uang hasil curiannya dari dalam dompet kulit yang tidak banyak dimiliki orang lain seperti Rama. Seperti yang sering terjadi, mereka kembali berdebat untuk memperebutkan uang yang tersisa. Kali ini, adu mulut mereka tampak lebih serius dan lebih intens dibandingkan yang tadi.
Sedetik kemudian, tiba-tiba saja ada angin kencang yang berembus namun terjadi dalam satu detik saja. Bersamaan dengan itu, uang yang ada di tangan masing-masing juga mendadak menghilang. Tidak hanya itu, dompet Rama juga hilang padahal sudah digenggam dengan erat. Tiba-tiba saja benda itu menghilang tanpa jejak.
“Heh, dua orang goblok!”
Seruan yang berasal dari tempat yang tidak jauh dengan keberadaan mereka membuat keduanya menoleh. Tahu-tahu saja, Rama sudah berada di depan mereka sambil mengulurkan dompet kulit miliknya ke udara untuk mempermainkan mereka. Tidak ada yang tahu sejak kapan lelaki bermata bundar itu berpapasan dengan mereka setelah kabur tadi. Mereka juga tidak tahu sejak kapan dompet tersebut ada di tangannya.
“Lo mau cari mati ya!” bentak lelaki kaus lengan pendek yang mulai meninggikan suara. Sangat jauh berbeda dengan nada ramahnya tadi yang kedengaran sok akrab.
“Ayo, sini! Lo pikir gue takut,” balas Rama yang semakin menantang lelaki tersebut. Dia juga menyunggingkan senyum manis. Tidak ada yang perlu ditakuti, makanya dia menatap mereka dengan berani.
Dua orang itu berlari dan mengejar Rama dengan wajah kesal, namun sampai jaraknya semakin dekat pun Rama tidak bergerak sama sekali. Dia hanya tersenyum dan diam-diam menertawakan mereka. Saat jarak mereka semakin dekat, tiba-tiba posisi Rama semakin jauh dari dua insan itu. Hal itu membuat mereka kebingungan.
Bagi manusia lain, Rama bukan orang biasa. Dia memiliki kemampuan berlari dalam waktu singkat. Dia bisa berlari keliling lapangan sepak bola sebanyak satu kali selama tiga detik. Oleh karena itu, kemampuan itu bisa dia gunakan jika ingin menghindari mereka yang tidak pernah mengenal kata kapok merampas hak milik orang lain.
*
“TOLONG!”
Teriakan seorang wanita menggema di bahu jalan pusat kota, bersamaan dengan warga kota yang panik karena baru saja menyaksikan seorang pria yang mengendarai motor matic melaju di jalan kota. Tidak terkecuali juga Rama yang sedang mengejar pria tersebut dengan kemampuannya.
Wanita itu baru saja dijambret pria bermotor tadi. Tas tangan yang ada di tangan pria tersebut menjadi bukti. Makanya Rama yang mendengar teriakan tadi dan juga menyaksikan kejadian itu mengejarnya tanpa henti. Sementara itu, pria bermotor heran saat mengamati ada sosok tak kasat mata namun semakin dekat dengannya. Oleh karena itu, dia mengebut dan melaju di jalan kota.
Pria itu tidak sadar kalau ada gadis berambut pendek yang akan melintasi jalur penyeberangan. Motornya melaju, namun bola matanya mengarah ke kaca spion. Rama juga kebetulan melihat kejadian itu. Dia berhenti mendadak, tadinya untuk memperingatkan gadis di depan sana. “AW―”
Sudah terlambat. Tabrakan di depan matanya terjadi dan tidak bisa dielakkan lagi. Tetapi sudah jelas ada yang aneh. Motor itu terpental jauh di jalan besar, bersama pengedaranya yang ikut terseret di jalan aspal. Akibatnya, penjambret itu merintih kesakitan. Rama yang menyaksikan pemandangan aneh itu membelalakkan mata.
Sementara itu, gadis rambut pendek yang ditabrak tampak baik-baik saja. Dia tidak terpental, bahkan tidak terluka sama sekali. Dia bahkan mendekati pria tadi yang tidak sanggup bangkit setelah punggungnya terhempas di aspal. “Ya ampun. Maaf ya, Om. Om gak apa-apa ‘kan? Sakit gak? Luka-luka gak?” ucapnya dengan khawatir.
“Gak apa-apa kata lo? Ini tulang gue hampir remuk nih dan lo bilang gak apa-apa?” gerutu penjambret tadi dengan nada hampir meninggi. Dia kemudian merintih lagi karena punggungnya hampir saja terbelah dua.
Gadis rambut pendek itu segera membuang muka dan memutar bola mata dengan wajah kesal. “Ya elah, padahal gue udah berbaik hati pengen nolongin dia. Ngerusak mood gue aja,” rutuknya dengan nada sebal. Dia kemudian menatap pria itu dengan tajam. Tangannya terulur ke kerah baju yang dikenakan. Dengan satu tangan, dia mengangkat tubuh pria itu sampai kakinya tidak jejak lagi. Kemudian melemparkan tubuhnya seperti melempar bantal tidur.
Mengamati kejadian itu dari seberang bahkan sampai gadis itu melempar tubuhnya, Rama menutup mulut rapat-rapat. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tegar, namun kakinya yang tidak mau mengikuti kata hati. Kakinya melemah dan dia terduduk lemas di bahu jalan. Sulit baginya untuk mencerna semua yang terjadi dalam satu waktu.
Dia sadar bahwa selain dirinya, ada orang lain yang bukan manusia biasa sepertinya. Dia baru saja bertemu dengan orang paling kuat di dunia.
Gadis rambut pendek itu kemudian menggendong pria itu dan membawanya ke Rama. Lelaki itu masih tidak bisa bangkit, bahkan dia juga berniat kabur tapi kakinya tetap tidak mau mengikuti kata hati.
“Ini yang jambret tadi ‘kan?” tanya gadis rambut pendek begitu dirinya berhenti di dekat Rama. Tanpa jawaban, lelaki itu hanya menganggukkan kepala. “Kalau gitu, ayo bawa dia ke kantor polisi. Lo juga tolong bawa orang yang dijambret tadi, ya.”
“B … baik,” jawab Rama terbata-bata karena masih tidak terbiasa. Detak jantungnya dari tadi tidak bisa tenang. Napasnya juga masih berusaha ditenangkan. “Ngomong-ngomong, na … nama lo siapa? Gu … gue Rama.”
Gadis itu tersenyum ramah. Senyumannya tampak manis dan cerah di mata orang lain. “Gue Jeslyn,” jawabnya yang memperkenalkan diri.
*
Dari balik gerbang sebuah kantor polisi yang letaknya di depan pasar, Jingga mengintip dua insan yang baru saja keluar dari gedung. Jika dilihat lebih dekat, orang yang dilihatnya adalah Jeslyn dan Rama yang mengobrol tentang bermacam-macam hal. Gadis itu penasaran dengan sosok yang mirip dengan sosok yang dilihatnya di kilasan masa depan yang muncul beberapa kali.
Dapat disimpulkan oleh pikiran dan akal sehatnya kalau mereka sama persis dengan orang yang dilihat dalam mimpi. Jingga akhirnya bertemu dua orang yang nyata.
***