22 juli 2021
Beberapa pengawal dan staff berbaris rapih didepan lobi sebuah perusahaan besar, Caldwey Corp Junior. Pagi ini para pengawal dan staff tersebut tengah menyambut kedatangan CEO mereka yang baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya yang memakan hampir setengah tahun.
Aldrich Delano Caldwey, pria tampan berusia 24 tahun, yang merupakan putra bungsu keluarga Caldwey. Sosok bertubuh tegap dengan tinggi 184cm. Pembisnis muda yang tengah menjadi perbincangan hangat karena sepak terjangnya yang luar biasa.
Dalam kurun waktu kurang dari tujuh tahun, Aldrich mampu membawa Caldwey Corp Junior yang merupakan sebuah perusahaan baru menjadi yang terbesar ketiga didunia. Hampir mengalahkan Marson company yang saat ini menduduki posisi nomor dua.
Pintu mobil terbuka menampilkan sosok sang CEO muda, Aldrich Delano Caldwey. Para pengawal dan staff yang berbaris kompak menunduk hormat. Salah satu pria diantara mereka kemudian maju mendekat.
"Selamat datang kembali diperusahaan, sir" sapa pria tersebut yang merupakan direktur perusahaan dengan sopan diiringi senyum ramah.
Aldrich mengangguk kecil sebagai jawaban, tidak ada senyum yang menghiasi wajah datarnya. Pria tampan itu melangkah masuk kedalam perusahaan, diikuti staff, dan pengawal, juga sang assistant yang setia berdiri disebelahnya.
Suara jeritan tertahan dan decak kagum dari para karyawan menjadi sambutan begitu Aldrich memasuki lobi perusahaannya. Meski begitu, pria itu sama sekali tidak perduli, karena bukan hal aneh jika dirinya selalu menjadi sorotan dimanapun ia berada.
"Yaampun pak Aldrich, ganteng bangeetttt"
"Pak Aldrich lirik saya dong pak, lirik aja pak. Setidaknya bapak tau saya hidup"
"Siapapun yang jadi istrinya pak Aldrich beruntung bangetttt"
"Setuju"
"Masa depan gemilang"
"Ketika saya menatap masa depan saya"
"Tapi kamu bukan masa depannya dia"
"Hahahaha"
Begitulan kira-kira sambutan yang Aldrich dapatkan. Senyum kecil terpatri dibibir Aldrich, yang sukses membuat seisi perusahaan menjerit heboh. Meski hanya senyum tipis, tapi hal itu bagai 1:1000000 hal yang bisa mereka dapatkan dari sosok sedingin Aldrich Delano Caldwey.
"Aaaaaaaaa, masa depan gemilang"
"Gue semakin yakin pak Aldrich masa depan gue. OH MY GOD!!!"
"Tapi beliau juga yakin Lo bukan masa depannya mba hiks hiks hiks"
Dua karyawan yang semula menjadi penyebab Aldrich menampilkan senyum tipisnya, kini sukses membuat sang pria idaman itu menimbulkan tawa kecilnya yang super limited edition.
"Ya tuhan, Pak Aldrich ketawa sama lelucon receh ai hiks hiks"
"Brendon" panggil Aldrich pada sang assistant.
Brendon Maxwell, pria yang usianya tiga tahun lebih tua dari Aldrich masih single, tapi tidak berniat mencari pasangan, masih ingin bebas katanya. Padahal ketampanannya tidak kalah dari sang atasan.
"Ya, sir" Brendon mengambil satu langkah mendekat.
"Berikan mereka berdua bonus karena sudah memberikan pagi yang indah untuk saya" ucap Aldrich tersenyum.
"Baik sir" dalam hati Brendon mengucap terimakasih pada dua karyawan yang sudah mengembalikan mood bosnya itu.
"Aaaaaaa, mas Aldrich emang calon suami yang baik"
"Mba panggil bos mas Aldrich? Bos panggil mba, Masyaallah mba hiks hiks "
Lagi, Aldrich kembali tertawa kali ini lebih lebar dari sebelumnya. Tidak ingin berlama-lama, pria itu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Ting
Pintu lift tiba dilantai 8, tempat ruang CEO berada. Molly, sekretaris Aldrich berdiri dari posisinya, menunduk hormat pada sang atasan.
"Selama pagi, sir. Selamat datang kembali diperusahaan" sambutnya sopan.
"Selamat pagi, Molly. Apa jadwal saya hari ini?"
"Tidak ada jadwal khusus, sir. Anda hanya harus memeriksa beberapa berkas dan laporan keuangan yang baru selesai direvisi" Molly menjelaskan dengan lugas.
Aldrich mengangguk kecil, kemudian melangkah masuk kedalam ruangannya diikuti Brendon.
Tok tok tok
Pintu kembali terbuka, menampilkan tubuh mungil Molly yang membawa beberapa berkas ditangannya. Kemudian meletakkannya diatas meja CEO.
"Ini berkas yang harus anda tanda tangani, sir"
"Dan juga sepuluh menit lalu kaka kedua anda menelpon, beliau mengatakan agar anda menjawab panggilannya"
"Kau boleh kembali, Molly"
"Kalau begitu saya permisi, sir"
Aldrich merogoh saku celananya, bertepan dengan ponselnya yang berbunyi sebuah panggilan masuk dari kaka sulungnya, Archel.
Dengan malas, Aldrich menggeser tombol hijau setelah menetralkan suaranya agar tidak terdengar ketus.
"Halo, little boy" sapaan riang dari sang kaka menjadi hak pertana yang Aldrich dengar.
"Hm" jawab Aldrich singkat.
"Haissshh, dasar kutub utara"
"Ada apa?"
"Santai, little boy. Kaka hanya ingin memastikan kalau kamu akan datang nanti malam?"
"Kemana?"
"Apa Brendon belum memberitaumu?" Aldrich menatap sang assistant meminta penjalasan.
"Acara makan malam dengan keluarga Morgan, sir" ucap Brendon.
"Bagaiamana? Kau akan datangkan, little boy?" Tanya Archel lagi.
"Tidak!" Jawab Aldrich malas.
"Katakan itu pada Gabrielle nanti" Archel mengancam Aldrich dengan membawa nama Gabrielle.
Gabrielle Delani Caldwey, yang sudah berubah menjadi Gabrielle Aldebaren. Putri tunggal Rayen Caldwey dan Riyani Caldwey. Kaka Kedua Aldrich yang luar biasa galak tapi lembut. Aldrich tidak akan pernah bisa membantah kaka keduanya itu. Perintah wanita itu sama dengan kewajiban baginya. Dan kaka sulungnya malah mengancam akan mengadukannya pada Gabrielle, tentu saja itu membuat Aldrich tidak memiliki pilihan selain menurut.
"Sialan!" Aldrich mengumpat keras.
"Tidak baik mengumpat pada kakamu, Al. Baiklah, jangan lupa datang nanti malam"
"Bye little boy" telpon dipitus sepihak oleh Archel lebih tepatnya pria itu menghindari amukan adik bungsunya.
Aldrich menatap kesal Brendon yang tidak memberitaunya lebih awal, jika tau hal ini ia pasti akan menunda kepulangannya.
"Maafkan saya, sir. Ayah anda baru memberitaumu saat kita baru saja mendarat" ucap Brendon.
Aldrich menghela nafas kasar. "Pergilah. Hubungi stylish ku untuk datang sore nanti"
"Baik, sir"
*
*
Dikediaman keluarga Morgan.
Nyonya besar Morga, Sofia Morgan tengah disibukkan dengan memasak berbagai menu untuk acara mereka nanti malam. Dibantu menantu tertua, dan keduanya, juga putri bungsunya yang paling excited dengan acara makan malam ini.
"Ara, tolong ambilkan buah dikulkas, sayang" ucap Sofia pada putri bungsunya yang tengah membuat puding.
"Ini mah" Ara menyerahkan keranjang buah yang baru diambilnya pada sang mamah.
Keynara Elizya Morgan, putri bungsu keluarga Morgan. Sahabat sekaligus gadis yang hingga saat ini menjadi satu-satunya yang berhasil menaut hati seorang Aldrich Delano Caldwey. Sosok yang juga menjadi alasan dibalik sikap dingin Aldrich selama ini. Meski pada dasarnya Aldrich memang bukan tipe orang yang banyak bicara.
Lima tahun lalu Aldrich adalah sosok yang hangat meski kaku, pria itu sosok yang sangat pendiam, tapi tidak berlaku jika sudah berhadapan dengan ketiga sahabatnya, Keynara, Carina, dan Silena.
Tapi kejadian buruk itu mengubah persahabatan mereka. Aldrich memilih untuk pergi dan meninggalakan ketiga sahabatnya tanpa pamit. Hal itu menyebabkan kekecewaan besar bagi Camilla dan Selina, keduanya akhirnya memutuskan pergi mengikuti jejak Aldrich, menyisakan Ara sendirian hingga saat ini.
"Apa Aldrich akan datang, mah?" Neoura, menantu kedua keluarga Morgan bertanya pada ibu mertuanya dengan suara sepelan mungkin.
Neoura Renova, putri tunggal keluraga Renova. Neoura adalah istri dari putra kedua keluarga Morgan, Javin Ravino Morgan.
"Mamah gak tau, sayang. Semoga aja Aldrich datang ya" jawab Sofia.
Neoura mengangguk, melirik adik iparnya kasian. Gadis itu menunggu lima tahun hanya untuk bertatap muka dengan sahabatnya. Acara makan malam ini bahkan sudah yang kesekian kali dalam setahun mereka adakan, meski selalu berakhir sama. GAGAL!
*****
See you next part 😊
Kritik dan saran dipersilahkan
Pukul 5 sore
Aldrich baru saja selesai mengerjakan seluruh pekerjaannya. Pria tampan itu memutar kursinya menghadap jendela besar yang berada tepat dibelakangnya. Matanya memandang pada senja yang mulai menyapa.
Kilas balik ingatannya berputar pada beberapa tahun lalu. Dulu, saat ia masih duduk dibangku Senior High School, ia dan Ara sangat senang menikmati senja seperti ini dari atas rooftop mansion keluarga Morgan. Tapi selama beberapa tahun belakangan hal tersebut tak bisa lagi dirinya lakukan.
Aldrich memijat pelan pelipisnya. Satu tangannya mengepal erat ketika kejadian itu kembali melintas dipikirannya.
Tangan Aldrich terjulur meraih gagang telpon yang berada disebelah meja kerjanya. "Keruanganku Brendon" setelah selesai kembali meletakkan benda itu ditempatnya.
Tidak lama kemudian Brendon masuk kedalam ruangan membawa setelah jas yang akan Aldrich kenakan, juga seorang lelaki gemulai yang berjalan dibelakangnya. Frida, stylish pribadi Aldrich.
"Tunggu disini, aku akan mandi sebentar" ucap Aldrich.
"Baik, sir" jawab Frida.
Brendon melangkah mengikuti sang atasan menuju kamar pribadi yang berada diujung ruangan. Meletakkan pakaian yang dibawanya keatas kasur. "Kau boleh keluar, Brendon" ucap Aldrich.
"Baik, sir"
10 menit kemudian Aldrich selesai dengan ritual mandinya. Dengan cepat mengenakan pakaian yang tadi sang assistant siapkan.
"Kau boleh masuk Frida" Aldrich berucap dengan suara sedikit keras.
Tidak lama kemudian Frida masuk bersama Brendon. "Bisa kita mulai sekarang, sir?" Tanya pria bertubuh tambun dengan wajah cantik itu.
"Mm"
Dengan keahlian tangannya, Frida menata rambut Aldrich serapih mungkin. Rambutnya yang semula tertata rapih kebelakang, kini menutupi seluruh dahinya. Orang yang tidak mengenalnya, pasti akan mengira bahwa Aldrich adalah seorang idol Korea.
"Bagaimana menurut anda, sir?" Tanya Frida setelah selesai.
Aldrich tersenyum puas. "Bagus, aku suka hasil karyamu. Akan aku kirimkan bonus padamu nanti"
Senyum Frida melebar, matanya berbinar mendengar kata bonus. "Terimakasih, sir"
Aldrich bangkit dari posisi duduknya, mematut sekali lagi dirinya didepan cermin, sebelum akhirnya melangkah keluar.
Didalam mobil. Berkali-kali Aldrich menarik nafas berat masih ada kesempatan baginya untuk tidak menghadiri acara makan malam itu. Entah kenapa, tapi hatinya merasa begitu kacau saat ini.
Pandangannya hanya terpaku pada situasi diluar jendela. Tidak ada binar dalam sorot matanya, pria itu hanya memandang kosong. Pikirannya berkecamuk, haruskah meminta supir untuk memutar balik, atau tetap pada tujuannya untuk menghadiri acara makan malam itu.
Baru saja ia berniat meminta sang supir untuk putar balik, deringan ponselnya menginterupsi. Aldrich mengumpat kasar dalam hati, ia yakin pasti ayahnya yang menelpon. Dengan perasaan kesal, Aldrich meraih ponselnya didalam saku celana. Benarkan dugaannya, ayahnya yang menghubungi.
"Halo, ayah" sapa Aldrich pelan.
"Hai, little boy. Where are you?" Suara berat sang ayah menyapu indera pendengaran Aldrich.
"Dijalan, ayah" jawab Aldrich tenang.
"Dijalan?"
"I'm coming"
"Bagus sekali. Ayah tunggu, ya. Hati-hati" decakan puas sang ayah bisa Aldrich dengar dengan jelas.
"Mm"
Telpon tertutup, Aldrich kembali meletakkan ponselnya didalam saku celana. Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Untuk kesekian kalinya, hembusan nafas berat ia keluarkan dari mulutnya.
"ARRRRGGGHHH BAJINGAN!!!"
Tepat setengah jam sebelum makan malam dimulai. Mobil Rolls-Royce phantom berwarna hitam milik Aldrich memasuki pekarangan mansion keluarga Morgan.
Pintu penumpang disamping Aldrich dibuka oleh salah satu pengawal. Pria tampan itu keluar dari dalam mobilnya, disambut jajaran pengawal, dan pelayan yang berbaris didepan pintu utama mansion. Khusus hanya untuk menyambut kedatangannya.
Margareth, kepala pelayan keluarga Morgan maju. Kepalanya membungkuk, memberi hormat pada putra bungsu keluarga Caldwey.
"Selamat datang tuan muda" sapa Margareth, dengan senyum keibuan yang tidak pernah lepas dari wajahnya yang tak lagi muda.
"Terimakasih" Aldrich tersenyum pada wanita paruh baya yang dulu pernah menjadi pengasuhnya.
"Mari, semua orang sudah menunggu kedatangan anda"
Margareth menuntun Aldrich menuju ruang makan, dimana semua orang sudah menunggu kedatangannya.
Ditengah lorong yang menghubungkan ruang tamu dan ruang makan, pikiran Aldrich kembali pada masa saat ia masih kecil dulu. Dulu dirinya, Ara, Carina, dan Silena kedua sahabatnya yang lain, senang sekali bermain lari-larian dilorong ini. Sampai membuat beberapa pelayan yang tengah menyiapkan makan siang kesulitan untuk lewat dan menghentikan mereka karena mereka berempat terus berlarian. Tanpa sadar kenangan itu membuat senyum Aldrich mengembang.
Ingatan Aldrich terputus ketika suara Margareth menyadarkannya. "Kita sudah sampai, tuan muda"
"Terimakasih, Margareth" Margareth mengangguk kecil, kemudian pamit undur diri dari sana.
Pintu ruang makan dibuka oleh dua orang pengawal yang berjaga didepan pintu.
Aldrich melangkah masuk, namun belum dua langkah ia kembali berhenti saat matanya menatap pemandang yang sama sekali tidak ia kira akan menjadi sambutan untuknya.
"Aldrich!!" Seruan Danes menggema, mengalihkan atensi semua orang kearah sosok yang sejak tadi mereka nantikan kehadirannya.
Keributan yang sebelumnya terdengar menjadi sunyi seketika. Semua orang menatap kearahnya, termasuk Ara, dan sosok disebelahnya yang menjadi sumber keributan.
Lagi, Aldrich kembali mengumpat dalam hatinya. Tapi kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Ekpresinya yang semula hangat, berubah menjadi dingin dalam sekejap, setelah kedua netra cokelat gelapnya menangkap raut puas sosok bajingan yang menjadi penyebab kacaunya kehidupannya lima tahun lalu.
Semua orang menatap khawatir kearah Aldrich yang hanya diam dengan sorot mata tajam.
"Aldrich, kemari sayang" suara Riyani menginterupsi perhatian pria itu. Aldrich menatap lembut sang ibu yang mendekat kearahnya.
"Bagaimana perjalananmu, sayang?" Tanya Riyani lembut.
Bisa Aldrich rasakan perasaan hangat yang mengalir didadanya setelah menatap wajah ayu ibunya.
"Baik ibu. Aldrich sangat lapar sekarang, bisa kita mulai makan malamnya?" Rengeknya kecil. Tangannya mengusap-usap perutnya yang mulai berbunyi.
Riyani terkekeh kecil. "Tentu, ayo" menarik lengan putra bungsunya untuk duduk.
"Selamat datang, Aldrich" ucap Ravino, selaku kepala keluarga Morgan.
"Terimakasih, paman"
Ravino mengangkat tangannya, mempersilahkan semua orang untuk memulai makan malam.
Tidak ada suara yang keluar selama mereka menyantap hidangan yang disajikan. Satu-satunya suara yang terdengar hanya berasal dari dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Sesekali Aldrich akan meremat sendok dan garpu ditangannya. Ia bahkan tidak bisa menikmati rasa lezat masakan yang ia yakini dibuat oleh sang nyonya besar, Sofia Morgan.
'Sial! Makanan ini jadi hambar' ucap batinnya kesal.
"Kau ingin tambah , sayang?" Riyani menatap sang putra yang gelisah. Wanita paruh baya itu tau bahwa putranya tidak nyaman.
Aldrich menggeleng, "tidak ibu, ini sudah cukup" jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Bibi harap kamu masih suka masakan bibi" sorot rindu Aldrich tunjukan pada wanita paruh baya yang begitu ia sayangi selain sang ibu.
"Masakan bibi selalu menjadi favorite kedua Aldrich" pujinya jujur.
"Kenapa kedua?"
"Karena kalau Aldrich bilang yang pertama, nanti ibu ngambek terus gak mau masakin Aldrich lagi" Aldrich berbisik diakhir kalimat yang bahkan suaranya masih bisa didengar semua orang.
Ringisan kecil meluncur dari bibir tipis pria itu. Ia baru saja mendapat pukulan selamat datang dari sang ibu.
"Isshh, anak ini" gumam Riyani sebal.
"Ayahhh, liat ibu melakukan KDRT" adunya pada sang ayah meminta pembelaan.
Rengekan Aldrich mengundang tawa semua orang. Termasuk Ara yang diam-diam menatap sahabatnya itu penuh kerinduan.
*****
See you next part 😊
Kritik dan saran dipersilahkan
Setengah jam sebelum kedatangan Aldrich.
"Bagus sekali. Ayah tunggu ya, hati-hati" Rayen menutup telponnya setelah mendapatkan jawaban pasti dari sang putra.
Kepalanya ia bawa menoleh kesamping, kearah putri bungsu sahabatnya yang sejak tadi menguping pembicaraannya.
"Bagaimana paman?" Tanya Ara penuh semangat.
Rayen memasang wajah lesunya, menatap putri kecil itu tak enak. Wajah Ara yang semula semangat ikut lesu, matanya berkaca-kaca.
"Dia akan datang" Rayen tertawa kecil, merasa berhasil mengerjai sahabat putranya itu.
"Aaaaahhh pamannnn. Papahhh, paman ngerjain Ara" Ara menatap papahnya menunjuk kearah Rayen yang masih tertawa.
"Lagian kamu ngapain nguping kaya gitu, anak nakal" Tegur Lesy.
"Kan Ara penasaran" jawab Ara membela dirinya.
BRAKK
Suara dobrakan pintu mengejutkan semua orang. Semua yang berada didalam ruangan menoleh kearah pintu. Disana, sosok yang sangat mereka benci tengah berdiri dengan pongahnya.
Dua orang pengawal berdiri dibelakangnya dengan wajah ketakutan. "Maafkan kami, tuan. Kami sudah berusaha menghentikannya"
"Pergilah" perintah Revano. Kedua pengawal itu pun mundur, kembali menutup pintu.
"Thomas!! Kamu ngapain disini?!" Teriak Ara.
Sosok yang dipanggil Thomas itu berjalan cepat menuju tempat Ara berdiri. Tanpa aba-aba memeluk tubuh mungil Ara.
"Thomas!! Lepasin!!"
"Aku sayang banget sama kamu, Ra. Please kembali sama aku ya" ucap Thomas.
Ara terus memberontak didalam dekapan pria itu. Dengan sekuat tenaga Ara berhasil mendorong tubuh Thomas menjauh darinya.
"Ra--"
"Thomas!!" Suara tegas Isabella menghentikan pergerakan Thomas yang hendak kembali memeluk Ara.
"Jaga tingkahmu didepanku!" Perintah Isabella tegas.
Wanita itu menatap tajam pria bajingan yang menjadi penyebab penderitaan kedua adiknya.
"Tapi ka Bella--"
"Jangan memanggilku kaka, karena aku bukan kakakmu! Panggil nona, karena kita tidak sederajat!" Ujar Isabella angkuh.
Isabella sangat tidak sudi nama indahnya keluar dari mulut manusia menjijikan seperti Thomas.
Thomas Alfan. Mantan kekasih Ara, atau lebih tepat disebut mantan tunangan Ara. Kejadian buruk lima tahun lalu bermula dari pria itu, yang dengan sengaja menghancurkan hubung Ara dan Aldrich demi balas dendam atas nama keluarganya. Bahkan hingga detik ini tidak juga memberikan titik terang bagi hubungan Ara dan Aldrich.
Dan sekarang pria bajingan itu malah berusaha menghancurkan rencana makan malam yang sudah susah payah mereka susun.
Ara meremat bagian bawah dress yang dikenakannya kuat. Sebentar lagi Aldrich akan datang, ia tidak ingin Aldrich melihat Thomas disini.
"Mendingan kamu pergi dari sini, Thomas!" Ucap Ara kesal.
"Gak! Aku gak akan pergi sebelum kamu kembali sama aku!" Bantah Thomas tak mau kalah.
Thomas kembali berusaha memeluk Ara, tapi kembali terhenti karena kini Thomas merasakan ujung pistol yang dingin menempel pada bagian belakang kepalanya.
"Menjauh darinya, Thomas! Atau aku ledakan kepalamu disini!" Suara dingin Kalvan terdengar dari belakang tubuhnya.
Kalvan Aldebaren, suami Gabrielle Aldebaren kaka kedua Aldrich. Kalvan adalah seorang mafia, anggota dari Phoenix. Kelompok mafia yang dipimpin oleh Devan, putra sulung keluarga Morgan.
Thomas mundur perlahan, sedikit menjauhkan tubuhnya dari Ara. Garis bawahi, hanya sedikit karena pria itu enggan untuk beranjak jika tidak disodori pistol dikepalanya.
Kalvan menurunkan pistolnya kembali, namun sayangnya hal itu dimanfaatkan Thomas untuk mencium Ara. Dengan gerakan tak terduga, Thomas kembali maju, dan mencuri sebuah ciuman dibibir Ara. Dan tepat saat itu, pintu ruang makan kembali terbuka, menampilkan sosok yang sejak tadi mereka tunggu kedatangannya, Aldrich Delano Caldwey.
"ALDRICH!!" Teriakan Danes menggema, mengambil alih atensi semua orang.
Ara mendorong tubuh Thomas menjauh, begitupun Kalvan yang menarik kerah baju bagian belakang pria bajingan itu. Tubuh Ara melemas seketika, mendapati ekspresi dingin dan tajam yang Aldrich layangkan padanya. Ia sangat yakin, setelah ini Aldrich pasti akan semakin menjauhinya.
"Pengawal!" Teriak Kalvan memanggil pengawal. Salah satu pengawal yang berjaga dipintu berlari masuk.
"Ya tuan"
"Bawa bajingan ini keluar dari sini, dan pastikan dia tidak datang lagi kesini, atau ku lubangi kepala kalian!" Ucap Kalvan tajam.
"Baik tuan" dengan cepat kedua pengawal tersebut menyeret paksa tubuh Thomas untuk keluar dari sana.
Riyani yang merasakan ketegangan sang putra buru-buru bangkit dan menghampiri anak bungsunya.
"Aldrich, kemari sayang" Riyani meraih lengan Aldrich menariknya lembut menuju meja makan.
Aldrich tersadar begitu lengannya disentuh sang ibu, wajahnya yang semula menampilkan ekspresi dingin perlahan berubah menjadi hangat.
"Bagaimana perjalananmu, sayang?" Tanya Riyani lembut.
"Baik ibu. Aldrich sangat lapar sekarang, bisa kita mulai makan malamnya?" Rengeknya kecil. Tangannya mengusap-usap perutnya yang mulai berbunyi.
Riyani terkekeh kecil. "Tentu, ayo" kembali menarik lengan putra bungsunya untuk duduk.
"Selamat datang, Aldrich" sapa Ravino.
"Terimakasih, paman"
"Ayo kita mulai makan malamnya" Ravino mengangkat setelah tangannya, mempersilahkan semua orang untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
"Terimakasih, ibu" ucap Aldrich setelah sang ibu mengisi penuh piringnya dengan steak dan beberapa sayuran.
"Makanlah yang banyak, Aldrich. Kami menyiapkan semua ini untukmu" ucap Sofia.
"Tentu, bibi"
Acara makan malam berjalan dengan lancar meski ada sedikit kejadian tak terduga diawal tadi.
"Bagaimana perjalanan bisnismu, Al?" Tanya Javin. "Berjalan lancar, abang. Semua masalah sudah teratasi" jawab Aldrich.
"Kau cukup cekatan mengatasi masalah sebesar itu ya. Meski memakan waktu yang cukup lama" puji Javin.
Aldrich tersenyum tipis. "Aku hanya menghindari kesalahan serupa terjadi lagi, jadi aku harus memastikan semuanya kembali berjalan normal"
"Terakhir kali aku melihat orang secekatan ini dalam berbisnis ketika Verrel mengambil alih perusahaan ayahnya" ucap Javin.
"Aku belajar banyak dari ka Verrel jika abang lupa" balas Aldrich. Javin tertawa kecil, ia jelas tau sebanyak apa Aldrich belajar bisnis dari adik sepupunya itu. "Kau benar"
Aldrich melirik jam tangan yang terpasang apik dipergelangan tangan kirinya. "Bisakah aku pamit sekarang?" Tanyanya sopan.
Pria itu menoleh pada sang paman dan ayahnya bergantian. "Silahkan. Beristirahatlah, Aldrich. Kita masih punya banyak waktu untuk berbicara lain kali" ucap Ravino.
"Terimakasih paman" Aldrich menoleh pada sang ayah. "Pulang ke mansion, nak. Bukan apartmentmu" perintah Rayen pada putra bungsunya.
"Aku akan pulang kemansion besok. Assistant ku membawa berkas kerjaku ke apartment"
"Alasan!"
"Ayolah ayah"
"Biarkan dia ayah. Tapi kau harus tepati janjimu, little boy" Gabrielle yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.
"Siap, bos" Aldrich memberikan gestur hormat pada sang kaka.
"Baiklah baiklah. Hati-hati dijalan nak" Rayen akhirnya mengalah dan membiarkan putranya itu kembali ke apartmennya.
Aldrich berpamitan pada semua orang sebelum melangkah keluar dari sana.
Ara menatap sendu kepergian Aldrich, ia bahkan belum berbicara apapun, sahabatnya itu juga belum mencicipi puding buatannya.
Sofia mengusap lembut bahu putrinya. "Tidak apa-apa sayang, setidaknya kamu sudah melihat bagaimana Aldrich sekarang"
Ara tersenyum pada sang mamah. Wanita yang melahirkannya itu benar, Aldrich mau datang keacara ini saja adalah sebuah kemajuan yang baik.
"Bungkus puding itu, Ra. Nanti ka Danes bawakan ke Apartment Aldrich ya" perkataan Danes membuat senyum lebar Ara kembali terbit.
"Sungguh?" Ara menatap Danes sumringah. Danes mengangguk.
Dengan semangat, Ara mengangkat puding cokelat buatannya, membawanya kedapur untuk ia masukkan kedalam kotak makan.
"Kamu mau ke Apartment, Aldrich?" Tanya Ana istri Danes pada sang suami.
Danes mengangguk. "Aku ingin memastikan sesuatu" jawab Danes pelan.
"Tenangkan dia, Dan. Aldrich hanya akan mendengarkanmu" timpal Gabrielle.
"Tentu ka"
*
Dengan cepat, Aldrich melangkah keluar dari mansion. Pria tampan itu tanpa aba-aba masuk kedalam mobil dengan bantingan pintu yang cukup keras. Membuat sang sopir yang tengah menyesap segelas kopi terlonjak kaget, lalu buru-buru masuk kedalam mobil.
"Kita pulang, tuan?" Tanya sang sopir gugup. Agaknya sedikit takut melirik wajah menyeramkan atasannya dari balik spion.
"Apartment!" Jawaban singkat Aldrich keluarkan.
"B-baik tuan" Mobil melaju keluar dari pekarangan mansion keluarga Morgan.
'Aku membencimu, Ra! Sangat membencimu!' Seru Aldrich dalam hati.
*****
See you Next part
Kritik dan saran dipersilahkan