Brum! Brum!
Suara mobil berhenti tepat di halaman rumah Damar. Kedua orangtuanya Damar yang masih asik memandangi foto cucu mereka di depan televisi langsung menghentikan aktivitas mereka tersebut. Mereka saling tatap mempertanyakan siapa yang berkunjung malam-malam di rumah mereka.
"Eh, itu mobilnya siapa malam-malam datang?" tanya Bu Siska penasaran.
"Entahlah, Ayah juga tidak tahu." Pak Rudi mengangkat bahu.
"Lebih baik, Ayah cek saja ke depan biar jelas!" Pak Rudi segera beranjak dari kursi.
"Tidak perlu dicek! Itu mobil yang akan mengantarkan aku pergi!" cegah Damar tersenyum. Kaki jenjangnya mulai menuruni anak tangga. Tangannya menggeret koper berukuran besar.
Kedua orangtuanya segera melihat ke arah Damar. Mata mereka melebar melihat Damar berpenampilan sangat rapih. Belum lagi koper yang dia bawa membuat hati mereka ketar-ketir.
"Astaga, anak itu mau pergi ke mana kok rapih amat? Lalu, kopernya itu?" gumam Bu Siska gelisah.
"Entahlah, Ayah pusing sekali memikirkan tingkahnya. Gara-gara ulah Kayla, dia berubah tiga ratus enam puluh derajat. Sikapnya yang penyayang, ramah dan lemah-lembut sudah sirna. Hanya ada amarah saja di hatinya." Pak Rudi menggelengkan kepala tidak mengerti.
"Oh Tuhan, kenapa keluarga kami harus mengalami masalah serumit ini hanya karena terlalu ingin memiliki generasi penerus? Andai saja, kami tidak melulu mendamba ... pastilah keluarga kami masih utuh dan tidak tercerai berai seperti ini," gumam Bu Siska sangat sedih.
Kini Damar sudah berada di bawah. Dia melangkah mendekati kedua orangtuanya masih menggeret kopernya juga.
"Kamu mau ke mana malam-malam begini, Nak?" tanya Bu Siska khawatir.
"Aku mau pergi sebentar untuk menenangkan pikiran. Ibu sama Ayah tidak perlu khawatirkan aku. Aku janji tidak akan berulah di luaran sana. Aku hanya berusaha untuk melupakan semua luka di hati ini. Tetap tinggal di rumah ini malah membuatku selalu ingat tentang kebohongan-kebohongan itu." Damar tersenyum miris.
"Apa kamu tidak punya pilihan lain selain pergi dari rumah? Kalau kamu pergi ... bagaimana dengan perusahaan kita?" tanya Bu Siska bingung.
"Tidak ada, Ibu. Jika aku tak pergi ... bayang-bayang luka itu semakin menggerogoti jiwaku. Aku tidak mau terus-terus memendam amarah ini. Apa Ibu mau melihat aku sakit jiwa?" Damar mulai menaikkan volume suaranya karena kesal.
"Bukan begitu, Nak! Ibu hanya ...." Bu Siska bingung harus berkata apalagi.
"Kalau hanya soal perusahaan, aku akan tetap mengurusnya walaupun aku tidak ada di Indonesia. Aku akan tetap giat bekerja. Jadi, kalian tenang saja," jelas Damar menyambung ucapan sang ibu.
"Astaga, jauh sekali kamu ingin menenangkan diri sampai ke luar negeri segala? Apa kamu tidak ingin menyaksikan tumbuh kembang anakmu?" tanya Bu Siska shock.
"Astaga Ibu ini masih saja mengeyel. Kan, sudah aku katakan bahwa dia bukan anakku. Aku sama sekali tidak menginginkan anak haram itu," jelas Damar mulai emosi. Dia sangat marah jika orang tuanya mulai membahas anak dari hasil hubungan terlarangnya itu dengan Kayra. Almarhumah istrinya telah memanipulasi keadaan dengan cara bertukar posisi dengan adik kembarannya.
Plakkk!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Damar karena Pak Rudi sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan Damar yang salah. Menurutnya Damar memang harus diberi pelajaran agar bisa mengontrol emosinya.
Bu Siska langsung menangis. Dia sangat shock mendengar kata-kata Damar yang sangat tidak bermoral itu.
"Baiklah, aku pergi! Tolong jaga kesehatan kalian!" Damar memegangi pipinya yang terasa perih dan panas. Dia segera membalikkan tubuhnya tak ingin berlama-lama lagi berurusan dengan kedua orangtuanya. Hal itu malah akan semakin memperkeruh suasana jiwanya.
Pak Rudi hanya diam saja tidak menjawab atau mencegahnya. Berbeda dengan ibunya, dia masih ingin berusaha mengurungkan niat anaknya pergi.
"Tunggu, Nak! Coba kamu lihat foto ini dulu! Ibu yakin kalau hatimu akan nyaman dan damai setelah melihat betapa miripnya dia dengan kamu," rayu Bu Siska masih ingin berusaha menghalangi kepergian sang anak. Tangannya menjulur menyodorkan ponsel milik sang suami.
Tadi sepulang dari rumah sakit, Damar sama sekali tak keluar kamar. Jadi, mereka tak bisa menunjukkan foto cucu mereka. Padahal Bu Siska sudah bolak-balik mengetuk pintunya. Namun, Damar tidak memedulikannya.
Damar hanya menghela napas kasar. Dia sama sekali tidak menanggapinya. Kaki jenjangnya bergegas melangkah pergi.
"Mar, Ibu serius! Kamu harus lihat foto ini dulu!" Bu Siska hendak mengejarnya sambil menangis. Namun, sang suami segera menahannya.
"Tidak perlu sampai seperti itu, Bu! Anak itu masih kerasukan jiwanya. Jadi, biarkan saja dia pergi. Ayah yakin perkataannya itu akan menjerumuskan dirinya sendiri kelak ke lembah penyesalan yang teramat dalam," terang Pak Rudi agar istrinya mau mengerti.
"Tapi Yah, kasihan sekali cucu kita yang tidak berdosa itu? Pasti dia akan merindukan ayahnya?" tanya Bu Siska menangis tersedu-sedu.
"Menurut Ayah hal itu tidak akan pernah terjadi. Soalnya, ada David yang bisa menggantikan posisinya. Pengalaman David itu sudah banyak bersama Kayra, jadi pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan keluarganya," jelas Pak Rudi sangat yakin.
"Baiklah, semoga saja apa yang Ayah katakan itu benar." Bu Siska langsung memeluk sang suami sambil tersedu-sedu.
"Aamiin." Tangan Pak Rudi mengusap bahu sang istri.
Kini Damar sudah berada di perjalanan diantar oleh sekertarisnya bernama Fatan. Di mobil dia diam saja. Pikirannya semakin kacau karena keluarganya sama sekali tidak ada yang mau mengerti perasaannya.
Mereka malah menumbuhkan luka di hatinya secara terus-menerus dengan menyebutkan anak yang dilahirkan Kayra begitu mirip dengannya. Dia sama sekali tidak menginginkan hal itu. Baginya kehadiran anak itu hanya akan menorehkan luka di hatinya selalu.
Bayang-bayang tentang hubungan terlarangnya dengan Kayra akan serta-merta tampak selalu jika melihat wajah anak itu. Belum lagi kebohongan yang diciptakan sepasang kakak-adik kembar itu pastilah akan terus membuat kebencian dan kemarahannya berkobar-kobar.
"Maaf Pak, aku hampir lupa menyerahkan amplop titipan dari Pak David," ucap Fatan tetap fokus menyetir. Tangannya meraba-raba dasbor mobil untuk mengambil amplop tersebut.
"Aku tidak sudi menerimanya! Tolong kamu buang saja!" tegas Damar dingin.
"Baik, Pak!" Fatan mengurungkan niatnya. Dia tidak jadi memberikan amplop tersebut pada Damar. Dia mengembalikan amplop tersebut ke tempatnya.
Damar sengaja menolak amplop tersebut karena tak ingin melanjutkan permasalahannya dengan pihak keluarga sang istri. Dia yakin kalau amplop tersebut pasti berisi uang.
"David-david, memang kamu pikir dengan kamu mengembalikan uangku ... maka aku akan berhenti membenci istrimu. Ternyata, rasa cintamu padanya berhasil menutupi keburukan istrimu itu. Kalau aku jadi kamu, maka aku tidak akan sudi menerima tubuh kotornya itu," umpat Damar dalam hati. Dia tersenyum getir.
Tiba-tiba saja bayang-bayang saat dia bercinta dengan Kayra terngiang kembali di kepalanya. Bagaimana Kayra malu-malu saat melayaninya. Dia juga mengingat kembali bagaimana dia mengemis pada Kayra meminta haknya sebelum Sahira melahirkan waktu itu.
"Ah, berhenti!" teriak Damar mencengkram rambutnya kuat.
Cittttt!
Fatan langsung menginjak rem mobilnya.
Brukkkk!
Tubuh Damar tersungkur ke depan hingga membentur dinding kursi yang diduduki Fatan.
"Ah!" Damar memegangi kepalanya yang sakit akibat benturan.
"Kau ini kenapa berhenti mendadak? Apa terjadi sesuatu di depan?" tanya Damar kesal. Tangannya mengusap lembut kepalanya.
"Loh, bukannya tadi Bos yang meminta aku berhenti?" Kening Fatan mengkerut. Dia bingung dan cemas. Dia takut sekali kalau salah mendengar.
"Hah, apa benar begitu?" tanya Damar merasa malu. Seingat dia tadi hanya kesal dengan bayang-bayang itu.
"Iya, Pak. Bapak teriak minta berhenti tadi," jelas Fatan tersenyum kikuk.
"Oh, ya sudah. Cepat lanjutkan perjalanan!" perintah Damar malu.
"Baik, Pak!" Fatan mengangguk patuh. Lalu, menginjak pedal gasnya lagi. Mobil mulai melaju lagi melanjutkan perjalanan.
Keesokan harinya, kedua orangtua Damar datang berkunjung ke rumah sakit menjenguk Kayra dan cucunya. Di sana hanya ada Kayra dan bayinya saja karena David harus menghindari acara pertemuan penting dengan klien di Cafe dekat rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Nak? Apa cucu kami rewel semalam?" tanya ibunya Damar mengecup lembut pipi cucunya.
"Kondisiku semakin membaik dan anakku tidak rewel sama sekali. Dia nyenyak sekali tidurnya. Paling dia terbangun kalau rewel saja," jelas Kayra tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, soal tes DNA-nya apa sudah kamu minta kerjakan oleh pihak rumah sakit? Sampel yang kemarin tidak hilangkan?" tanya ibunya Damar penasaran.
Kayra langsung menggelengkan kepala.
"Sampelnya masih kok. Cuma aku nggak jadi melakukan tes DNA itu," jelas Kayra tersenyum.
"Loh, kok gitu sih? Bukannya, kemarin kamu sudah setuju?" tanya ibunya Damar kecewa.
"Maaf, aku berubah pikiran, Bu. Buat apa aku memaksakan kehendak hanya untuk mendapatkan pengakuan. Aku tidak masalah kok Mas Damar tidak mau mengakui bayiku. Toh, aku dan Mas David bisa membesarkan dia dengan cinta dan kasih sayang kami," jelas Kayra tersenyum santai. Kini dia tak ingin menjadi wanita lemah lagi.
"Tapi ...." Ibunya Damar menatap Kayra iba.
"Sudahlah Ibu. Apa yang dilakukan Kayra itu sudah sangat benar. Ketika hati seseorang sedang mengeras ... maka apapun yang kita lakukan akan sia-sia saja. Bukankah, kemarin kita sudah sepakat untuk tidak memaksakan kehendak. Nanti, ketika hatinya sudah mendingin ... pasti perlahan-lahan dia akan teringat dengan apa yang sudah dia perbuat," nasihati ayahnya Damar mulai kesal dengan kengeyelan istrinya.
"Baiklah, Ibu ikuti saja kehendakmu, Nak." Ibunya Damar menunduk sedih.
"Oh ya, lebih baik kita pikirkan saja nama cucu kita ini? Dari kemarin kita cuma sibuk mengurusi Damar saja. Sampai-sampai kita lupa dengan hal yang lebih penting," ucap ayahnya Damar menghela napas kasar.
"Iya benar sekali." Ibunya Damar menatap ke arah Kayra.
"Apa kamu sudah punya nama untuk cucuku ini, Nak?" tanya ibunya Damar tersenyum tipis.
"Sudah, Mas David yang memberi namanya. Namanya adalah Davin Adrian Saputra. Nama tengah dan bekakaknya diambil dari nama Mas David sendiri," jelas Kayra tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka kalau suaminya sampai berlebihan sekali menyayangi anaknya.
"Puji Tuhan, namanya keren sekali! Berarti nama panggilannya Davin dong?" tanya ayahnya Damar ikut senang.
"Iya benar." Kayra tersenyum senang.
"Kalau besar Davin mau jadi apa nih? Jadi, Pak Dokter apa Pak Pilot?" tanya ayahnya Damar menatap Davin gemas.
Tanpa diduga-duga, Davin tersenyum manis. Dia seolah mengerti kalau dirinya sedang diajak bicara.
"Puji Tuhan, dia meresponnya, Yah? Pasti dia nanti kalau besar akan pintar seperti ayahnya," puji ibunya Damar takjub.
Hal itu membuat senyum Kayra memudar. Lagi-lagi ibunya Damar membahas anaknya lagi. Dia malas menanggapi soal Damar karena tak ingin menaruh rasa lagi padanya. Mulai detik ini, dia akan fokus mencintai suaminya saja.
Baginya David bukan hanya sekadar suami biasa seperti pada umumnya. Namun, kini hati suaminya sudah seperti malaikat. David mau menerima dia dengan tulus walaupun jelas-jelas tubuhnya sudah ternodai.
"Pasti, diakan menurun dari kakeknya yang juga cerdas ini," balas ayahnya Damar tersenyum bangga.
"Huh, kepedean sekali kakekmu itu, Sayang! Padahal jelas-jelas dahulu dia sukanya mencontek PR milik Oma," sindir ibunya Damar mengecup pipi David gemas.
"Husss, jangan bongkar aib masa lalu dong di depan Kayra," bisik ayahnya Damar malu sekali.
"Halah, ngapain pakai acara malu-malu segala. Toh, memang Ayah tukang nyontekkan dahulu pas sekolah," perjelas ibunya Damar santai.
"Astaga, Ibu ini kenapa malah diperjelas sih?" Ayahnya Damar garuk-garuk kepala malu.
Tentu saja aksi kocak mereka membuat Kayra tersenyum geli. Tingkah kedua orangtuanya Damar memang selalu bisa membuat hatinya terhibur.
***
Satu minggu kemudian Kayra sudah diperbolehkan pulang ke rumah karena kondisi tubuhnya sudah membaik. Luka bekas operasinya pun sudah mulai mengering di bagian luarnya. Dia dianjurkan untuk rutin meminum obat agar luka tersebut benar-benar sembuh luar dan dalam.
Kayra dibawa pulang ke rumah Nayla. Begitu dia sampai di sana. Sungguh dia begitu terkejut karena kepulangannya itu disambut baik oleh orang-orang di rumah Nayla. Bahkan, Nayla yang sangat membencinya ikut baik juga sama dia.
"Ayo kita masuk ke dalam. Davin biar Nenek saja yang menggendong," pinta ibunya Nayla tersenyum senang.
"Baik, Bu." Kayra segera menyerahkan Davin pada ibunya Nayla.
Melihat hal itu, Nayla merasa sangat penasaran dengan wajah bayi laki-laki yang mereka anggap sebagai anaknya kembaran Kayra. Dia mendekati sang ibu, lalu melihat wajah Davin.
"Wah, ternyata dia imut-imut sekali! Semoga saja ketika anakku lahir, dia seimut ini. Pasti rasanya menyenangkan bisa mempunyai anak seimut ini," celoteh Nayla tanpa dia sadari karena kagum.
"Aamiin," sahut semuanya terkecuali David. Dia hanya diam saja tidak pernah memedulikan perkataan Nayla.
"Bolehkah aku menggendongnya juga," rengek Nayla merasa ingin sekali menggendong Davin.
"Tidak boleh," sahut David sepontan.
Hal itu membuat orang-orang yang ada di sana langsung memperhatikan dia. Mereka langsung menatap David penuh tanya. Ada apa gerangan kenapa Nayla tidak boleh menggendong Davin.
David yang diperhatikan langsung merasa gugup. Untuk menutupi rasa tidak suka dan khawatir akan sikap sok baik Nayla tersebut. Dia langsung mengimbuhi perkataannya dengan alasan penuh tipu muslihat agar orang-orang tidak tahu kebenarannya.
"Nayla kan sedang hamil besar. Jadi, aku nggak tega kalau perutnya itu tertimpa Davin saat digendong." Hati Nayla langsung berbunga-bunga. Dia tidak menyangka kalau diam-diam David mengkhawatirkan bayinya.
"Benar juga ucapan Mas David. Baiklah, aku tidak jadi menggendongnya. Terima kasih Mas mau mencemaskan anak kita yang ada di dalam perutku ini," sahut Nayla tersenyum senang. Tangannya mengusap lembut perutnya yang sudah sangat membuncit.
Hal itu langsung membuat hati Kayra merasa cemburu. Senyuman di bibirnya langsung berkurang. Dia tidak menyangka kalau suaminya sedikit membohonginya.
Melihat senyuman sang istri yang menipis, David langsung menambah lagi perkataannya itu. Dia tak ingin istrinya merasa tersakiti dengan aktingnya itu.
"Selain itu, aku kurang yakin kalau Nayla bisa menggendong bayi. Dia kan belum pernah memiliki anak. Aku takut kalau Davin terkilir tubuhnya jika yang menggendong belum berpengalaman," sambung David tersenyum.
Senyuman manis di bibir Nayla langsung luntur. Baru saja dia dibuat terbang melayang ke udara. Kini dia dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya oleh David.
"Huh, dasar! Awas kau! Sekarang kau memang suka menghinaku. Tapi, lihat saja nanti ketika anak ini sudah lahir. Akan aku buktikan bahwa aku juga bisa menjadi ibu yang baik dan berpengalaman untuk seorang bayi. Bahkan, istrimu itu pasti akan kalah saing karena aku bisa penuh perhatian sama anakku. Sementara dia waktunya habis terkuras buat mengasuh anak kakaknya. Dan Kaysa pasti akan kekurangan kasih sayang seorang Ibu," batin Nayla tersenyum licik.
Tak sengaja Kayra melihat ekspresi wajah Nayla. Dia langsung begidik ngeri. Dia paham dengan isi hati Nayla.
"Pasti dia sedang mengumpati penghinaan Mas David lalu berpikiran buruk. Semoga saja dia bukan orang yang jahat," batin Kayra merinding.
Mengetahui sudah mulai ada perang dingin di antara Nayla dan David, ibunya Nayla segera melangkah masuk. Dia malas menanggapi hal-hal yang berbau keributan.
Mengetahui hal itu, orang-orang yang ada di sana langsung mengikutinya. Kini beberapa di antara mereka langsung duduk di ruang tamu. Sementara David hendak mengajak Kayra beristirahat di dalam kamar.
"Semuanya, aku antar Kayra ke kamar dahulu," pamit David tersenyum.
"Iya, silahkan!" sahut mereka tersenyum.
"Ayo ikut sama Mas," ajak David tersenyum sambil menggandeng tangan Kayra.
"Baik," jawab Kayra mengangguk patuh.
Mereka berdua langsung melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Kayra hanya diam saja selama perjalanan menuju kamar. Hal itu membuat David merasa was-was. Dia tahu kalau istrinya ini pasti masih merasa cemburu gara-gara masalah tadi antara dia dan Nayla. Dia segera menghentikan langkahnya ketika sampai di kamar mereka.
"Stop ini kamar kita," perintah David tersenyum.
"Oh," balas Kayra singkat, padat dan jelas.
David segera membuka pintu kamar tersebut.
"Ayo masuk," ajak David tersenyum manis.
Kayra hanya mengangguk saja. Dia tidak membalas senyuman David. Hal itu membuat David semakin ketar-ketir.
Mereka segera masuk ke dalam kamar. David menutup pintunya. Tanpa menunggu lama David segera memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Mata Kayra langsung melebar sempurna. Dia terkejut sekali. Bukannya senang Kayra malah meminta lepaskan.
"Mas, lepas, ih!" omel Kayra cemberut.
"Nggak mau!" tolak David mengecupi pucuk kepala Kayra. Tinggi Kayra hanya sebatas bahu David. Jadi, David tidak kesulitan sama sekali. Dia mengeratkan pelukannya.
Mendapatkan penolakan dari David, hati Kayra makin kesal. Dia diam saja tidak merespon aksi David. Bibirnya mengkerucut.
Tidak mendapatkan respon sama sekali dari Kayra. David langsung membalikkan tubuh Kayra agar menghadap ke arahnya.
Kayra langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia malas menatap wajah sang suami.
"Hey, wajah suamimu di sini!" David segera menggeser wajah Kayra agar menatapnya.
Bukannya menatap David, Kayra malah menunduk ke bawah.
"Astaga, ternyata istriku ini sekarang sudah sangat mencintaiku sepenuhnya. Baru saja aku sok perhatian sama wanita lain sudah cemburu buta begini!" David mendongakkan wajah sang istri agar menatapnya. Namun, Kayra langsung menoleh ke arah lain. Tersirat di wajahnya rasa kesal.
Melihat hal itu, David tersenyum geli. Lalu, menolehkan wajah Kayra agar menatap ke arahnya.
Lagi-lagi Kayra ingin menoleh ke arah sebelahnya. Namun, tidak bisa karena David menahannya dengan tangan dan bibirnya. Matanya melebar sempurna. Tangannya hendak mendorong tubuh David agar menjauh darinya.
Sayangnya kekuatannya kalah jauh dengan David. Tubuh David tidak bergerak sama sekali. Yang ada David malah melumatnya lembut. Awalnya Kayra tidak merasakan apa-apa karena dia memang tak ada niatan membalasnya. Namun, durasi lumatan lembut yang lama membuat tubuh Kayra merasa merindin. Tanpa dia sadari, bibirnya ikut bergerak mengikuti alunan bibir David.
Cukup lama mereka menikmatinya. David melangkah maju hal itu membuat tubuh Kayra bergerak mundur mengarah ke kasur. Naluri kelelakiannya mulai meronta-ronta minta dipuaskan. Begitu kaki Kayra sudah terpentok kasur. David mendorong pelan tubuh Kayra, menjatuhkannya ke kasur.
Mata Kayra yang sempat terpejam langsung terbuka lebar. Dia paham arah tujuan David mengajaknya ke kasur. Dia segera menghentikan lumatannya. Merasakan hal itu, David langsung menjauhkan bibirnya.
"Loh, kenapa berhenti, Sayang?" tanya David lesu. Matanya memerah karena hasratnya tertunda.
"Aku kan masih masa nifas, Mas. Lagi pula luka operasiku belum sembuh total. Apa Mas melupakan hal itu?" tanya Kayra tersenyum. Akhirnya, dia tidak marah lagi karena habis menikmati momen indah bersama sang suami.
"Astaga, aku nyaris melupakan itu!" David menepuk jidatnya pelan.
Kayra tersenyum geli.
"Lalu, kalau sudah begini ... bagaimana dengan nasib dia?" David menunjuk sesuatu yang sudah menonjol.
"Enggak tahu!" Kayra mengangkat bahunya sambil memasang raut wajah tidak peduli.
"Aduh, kok bisa nggak tahu sih! Pokoknya kamu harus tanggung jawab," ancam David tersenyum.
"Loh kok, aku yang disuruh bertanggung jawab. Itukan ulah Mas sendiri," tolak Kayra tersenyum geli.
"Tapi kan, ini semua gara-gara kamu asalnya. Pokoknya, kamu harus tanggung jawab," paksa David tersenyum genit.
"Yeee, suruh siapa Mas membohongi aku?" tanya Kayra cemberut lagi.
"Hey, maksud kamu bohong apa? Mas, nggak merasa membohongi kamu," jelas David tersenyum geli. Dia paham arah pembicaraan istrinya.
"Ya sudah, kalau nggak merasa. Aku mau istirahat saja!" Kayra mendorong dada David. Dia mulai kesal lagi.
"Hey, jangan marah lagi! Aku akui kalau aku tadi sudah salah berkata. Tadi, itu aku bingung harus beralasan apa untuk mencegah aksi Nayla yang ingin menggendong tubuh Davin. Kalau aku terang-terangan menjelaskan permasalahannya, pasti para pembantu akan tahu kalau aku tidak menyukai Nayla. Hal itu tentu akan membuat aku dinilai jahat sama mereka," jelas David tersenyum. Tangannya mengelap sudut bibir Kayra yang basah.
"Oh," jawab Kayra tersenyum tenang.
"Hey, singkat sekali jawabanmu itu hanya 'oh' saja." David berdiri.
"Lalu, bagaimana dengan dia!" tunjuk David lagi sambil tersenyum genit.
"Nggak tahu, Mas! Mas, pikirkan saja sendiri," jawab Kayra santai. Bibirnya tersenyum geli melihatnya.
"Hey, nggak bisa begitu dong! Inikan terjadi gara-gara kamu juga. Jadi, kamu harus ikut andil mencari solusi untuk menidurkannya lagi," ucap David tidak terima. David tersenyum genit.
"Pokoknya aku nggak mau ikut-ikutan, Mas! Mas, cari saja idenya sendiri. Aku juga mana tahu soal begituan," jelas Kayra sangat polos. Dia memang tidak tahu menahu soal begituan. Pergaulan dia bersama temannya tidak pernah sampai ke arah sana.
"Hah, kamu serius nggak tahu? Masa sih?" goda David tersenyum genit.
"Iya aku serius. Mas, seharusnya sudah paham soal itu." Kayra menatap serius sang suami.
"Oke deh Mas percaya. Bagaimana kalau Mas kasih tahu caranya?" David tersenyum senang. Dia memiliki ide brilian.