Di sebuah kontrakan kecil pinggiran jakarta.
“Kamu itu tidak bekerja!Tidak ada penghasilan! Jangan pernah melarangku untuk berbuat apapun!” Ucap seorang pria dengan ketus dan sangat menghina. Ia memandang rendah wanita di sedang bersimpuh di kakinya. Ia adalah Melvin Vincent, seorang pria berusia 29 tahun, wajahnya sangat tampan, blasteran antara Jerman dan Indonesia, matanya berwarna biru, bibirnya tidak tebal tapi tidak tipis, berkulit putih dan berpostur tinggi sekitar 185 cm. Saat ini Melvin bekerja sebagai staf operasional PT YMH Corp.
“Tapi Kak, kamu sudah janji tidak akan pernah berselingkuh dariku.” Wanita yang bersimpuh itu menangis tersedu - sedu. Ia bernama Zeline Jovanka atau panggilannya Zee, berusia 27 tahun, wajahnya cantik natural bahkan tanpa make up, matanya berwarna coklat, kulit putih terawat dan tinggi sekitar 165 cm. Saat ini Zeline bekerja sebagai penerjemah tersumpah dan penerjemah novel dalam bahasa Inggris dan Mandarin. Tapi pekerjaannya tidak pernah ia tunjukkan kepada Melvin sehingga Melvin suaminya ini hanya mengetahui Zeline sebagai ibu rumah tangga tanpa penghasilan.
“Bukankah kamu sangat mencintai diriku?” Zee masih terus menangis tidak menerima perselingkuhan suaminya.
“Cinta? Cinta itu sudah entah terbang kemana!” Melvin tidak mau memandang wajah Zee yang menangis di kakinya.
“Bohong! Aku yakin kamu masih mencintai aku kak! Tatap mataku.” Zee menatap tajam mata Melvin, seperti tidak ada cinta lagi yang biasanya ia rasakan saat memandang mata Melvin.
“Cinta ini tidak terlalu kuat dan membuat aku bertahan Zee!”
“Kenapa? Kenapa kak? Aku kurang apa?” Zee memukul - mukul dadanya. Terlalu sakit mengetahui perselingkuhan Melvin di belakangnya.
“KURANG APA??” Nada Melvin meninggi. “Hei … Siapa suruh kamu tidak bisa memberikanku anak selama kita 5 tahun menikah? Apa itu salahku?” Melvin bertambah emosi melihat Zee yang semakin menangis dengan keras.
“Kita mungkin belum dikaruniai anak kak. Tuhan belum memberikan kita kesempatan.” Zee memeluk kaki Melvin dengan sangat erat. Ia tidak mau suaminya berpaling darinya, Zee sangat mencintai Melvin. “Kita harus lebih berusaha dan bersabar kak.”
“Sabar? Sampai kapan? Sampai kita tua dan renta?” Sindir Melvin. Ia menjadi malas melihat wajah Zee.
“Aku tidak tahu sampai kapan kak. Yang penting dokter sudah menyatakan kita tidak mandul, artinya hanya Tuhan yang tahu kapan anak itu akan hadir.” Zee mencari alasan lainnya yang bisa ia pikirkan untuk memperbaiki pernikahannya yang sudah di ujung tanduk.
“Semua orang berkata kamu ini mandul. Ayah dan Ibuku sudah menunggu selama 5 tahun Zee! 5 tahun itu waktu yang lama untuk memiliki seorang anak!” Teriak Melvin penuh emosi. “Aku sudah cukup sabar dengan kamu Zee!” Melvin mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Tapi aku tidak mandul, kak. Dokter sudah menyatakan itu.” Sanggah Zee menambah erat pelukannya di kaki Melvin. Hatinya terasa tercabik mendengar ucapan mandul. Dokter sudah berkata bahwa ia sama sekali tidak mandul bahkan sangat subur. Ia sendiri bingung mengapa ia dan Melvin tidak kunjung diberikan anak oleh Tuhan.
“KAMU TIDAK MANDUL?” Teriak Melvin tidak terima. Ia tidak mau dikatakan mandul jika asumsi Zee seperti itu. Walaupun sebenarnya ia belum pernah memeriksakan diri ke dokter, tapi ia yakin bahwa ia sangat sehat. “Bukankah memang seharusnya jika dalam pernikahan tidak ada anak, artinya salah wanita? Wanita yang selalu mandul bukan?” Gumam Melvin dalam hatinya, tapi ia tidak bisa berkata seperti itu terhadap Zee. Ia hanya bisa marah untuk membela dirinya, membela harga dirinya sebagai laki - laki. “Jadi kamu pikir aku yang mandul?” Melvin sangat kesal karena Zee sudah berani membantahnya bahkan bisa dikatakan Zee terasa sedang menuduh Melvin yang mandul.
“Aku tidak mengatakan kalau kakak mandul.” Zee masih menangis, ia menjadi serba salah dalam mengatakan pembelaannya. Ia sendiri tidak menganggap Melvin mandul. Ia percaya hanya belum diberikan kepercayaan saja oleh Tuhan. Itu saja. Tidak ada sedikitpun pikiran jelek terhadap Melvin.
“Berisik! Aku sudah tahu arah pembicaraanmu kemana.” Melvin berusaha melepaskan pelukan Zee di kakinya. Ia tidak mau harga dirinya semakin jatuh saat Zee terus berbicara.
“Please jangan seperti ini kak. Aku mohon. Demi cinta dan hidup yang telah kita jalani selama ini.” Zee tetap bertahan tidak mau melepaskan pelukannya di kaki Melvin.
“Sekarang kamu boleh memilih. Pilih tetap hidup bersama denganku dan menerima istri keduaku atau kita bercerai?” Melvin sudah kesulitan melepaskan kakinya dari Zee. Mau tidak mau ia harus membuat Zee melepaskannya. Zeline diam membeku karena sangat terkejut.
“I ... istri kedua? Kamu sudah menikah dengan wanita itu?” Ucap Zee terbata - bata, ternyata foto - foto yang diberikan temannya tentang kedekatan Melvin dengan seorang perempuan bukan hanya perselingkuhan, mereka bahkan sudah menikah. Mereka menikah diam - diam tanpa pemberitahuan kepadanya selaku istri pertama.
“Ya, 3 bulan lalu aku sudah menikah dengan Misya. Jangan pernah ucapkan kata wanita itu! Apalagi menghina dia sebagai selingkuhanku. Namanya MISYA! Ingat namanya MISYA! Dia istriku yang sah menurut agama!” Melvin memperjelas kata Misya sebagai istri keduanya. Mereka menikah secara siri karena Melvin masih terikat pernikahan yang sah menurut agama dan hukum dengan Zee. Jadi Melvin tidak bisa menikah secara hukum dengan Misya. Tapi dengan lapang dada, Misya menerimanya, walaupun statusnya hanya sebagai istri siri dari Melvin.
Zee lemas dan tidak berdaya mendengarkan perkataan Melvin. “Cintaku sudah kandas. Pernikahan ini sudah diambang kehancuran. Apakah tidak ada yang namanya cinta untukku dari hati Melvin? Apakah sudah tidak bisa diperbaiki kembali? Aku harus apa?” Jerit Zee dalam hati.
“Pantas saja perlakukan kamu selama beberapa bulan ini sangat dingin terhadapku. Ternyata kamu sudah memiliki istri baru.” Zeline melepaskan pelukannya dari kaki Melvin. Ia menghapus air matanya, tersenyum getir dan berusaha menjadi wanita tegar. “Ternyata selama ini kamu lebih dari berkhianat padaku. Haha… Aku benar - benar bodoh!” Zee tertawa sendiri, tertawa getir mendengar ucapan suaminya yang sangat ia cintai. Tawa Zee seperti orang depresi dan psikopat.
“Perlakuanku pada kamu akan baik bahkan sangat baik jika saja kamu bisa memberikan anak untuk keluarga kecil kita.” Melvin tidak mau memandang Zee sama sekali. Ia memandang ke atas dan semakin arogan terhadap Zee yang masih duduk di lantai. “Tentukan pilihanmu dan beritahukan aku segera. Aku sudah lelah denganmu!”
“Lelah?” Zee memalingkan wajahnya. Ia tidak tahu harus berkata apa ataupun memilih apa. Baginya bagai memakan buah simalakama. Semuanya menyakitkan. “Ternyata selama ini aku hanya cinta sepihak saja. Cinta Melvin untukku sudah mati.” Batin Zee meronta.
“Baik ... akan kuberikan kamu waktu untuk berpikir. Sekarang aku akan pergi ke rumah Misya.” Ucap Melvin semakin angkuh.
“...” Zee hanya bisa berdiam diri, otaknya sudah tidak mampu mencerna apa yang dikatakan oleh Melvin.
“Ah ya ... Karena aku suami yang adil. Maka akan kujatah kehadiranku untuk kalian. 2 hari untukmu dan 5 hari untuk Misya.” Dengan bangga Melvin membuat penjatahan untuk kedua istrinya. Zee hanya bisa melirik, melihat sikap angkuh suaminya yang sudah terlampau tinggi.
“Aku sedang program pembuatan anak. Jadi jangan protes! Karena kamu tidak berhak!” Bentak Melvin lebih keras lagi, nada angkuhnya menggelegar seantero rumah kontrakannya.
“Baik, silahkan saja kamu lakukan apa yang kamu mau.” Zee tersenyum sinis mendengar semua ucapan Melvin, rohnya sudah ada pada tempatnya sehingga ia sudah bisa membalas perkataan Melvin.
“Tidak usah tersenyum sinis! Kamu seharusnya berterima kasih pada Misya yang rela menjadi istri kedua dan mau memberikan anak padaku!” Melvin tidak terima dengan Zee yang tersenyum sinis.
“Ya ... ucapkan terima kasih padanya. Semoga cepat hamil.” Zee semakin berkata sinis pada Melvin.
“Kamu jangan berkata sinis! Seharusnya kamu mendoakan!” Melvin semakin kesal dengan ucapan Zee yang sinis. Sebelumnya Zee adalah orang yang sangat penurut. Apapun yang dikatakan Melvin selalu ia turuti. Tapi mendengar kata - kata sinis dari Zee membuat Melvin tidak rela.
“Ya, aku doakan. Sudahlah, lebih baik kamu pulang saja ke rumah MISYA! Cepatlah membuat anak!” Teriak Zee yang sudah tidak tahan dengan perlakuan Melvin yang semakin menghinanya.
“Dasar wanita tak tahu diri!” Melvin melenggang pergi dari kontrakannya yang sempit menuju ke kontrakan Misya.
“Haha ... Kita lihat siapa yang akan menderita disini kak. Kamu atau aku?” Zee mengucap sangat sinis melihat kepergian Melvin. Memandang punggung Melvin yang semakin lama semakin menghilang.
***
Ish ... kesel gak si sama si Melvin? Belaga banget gak si jadi orang? Pengen bejek-bejek gak.
Apakah Zee harus sabar dengan kelakuan minus Melvin?
Jawab di komentar ya readers ...
Muach
Masa lalu
Pernahkah kamu dinyatakan cinta oleh pria paling populer di sekolah? Pria yang kamu sukai selama 1 tahun tiba-tiba menyatakan cinta di depan semua murid sekolah. Kamu tahu rasanya bagaimana? Berbunga-bunga dan berbangga hati. Itulah yang dirasakan oleh Zeline Jovanka atau yang biasa disebut Zee . Dinyatakan cinta oleh seorang Melvin Vincent yang merupakan pria klasifikasi tertampan di sekolah SMA Harapan Bangsa. Melvin juga ketua tim basket di SMA Harapan Bangsa.
"Please jadi pacar aku Zee." Pinta seorang Melvin Vincent dengan berlutut di depan banyak orang. Hati siapa yang tidak berbunga-bunga jika dinyatakan cinta dengan begitu romantis. Begitulah hati Zee saat itu.
Melvin adalah pria blasteran Jerman dan Indonesia, matanya biru, kulitnya putih, tubuhnya tinggi menjulang, mungkin sekitar 180 cm dan tentu saja tampan. Semua anak perempuan di SMA Harapan Bangsa selalu luluh jika melihat kedua lesung pipi pada Melvin jika ia tersenyum.
Saat orientasi siswa SMA Harapan Bangsa, Zee melihat seorang pria tampan untuk pertama kalinya dan membuat hatinya berdegup kencang. Melvin adalah seniornya sewaktu masa orientasi sehingga hubungan mereka bisa dibilang dekat. Melvin yang selalu ramah dan manis terhadap Zee membuat Zee memiliki perasaan lain terhadap Melvin.
Zee sendiri merupakan wanita tercantik ketiga di sekolah. Klasifikasi tercantik dan tertampan selalu ada di sekolahnya yang merupakan voting dari seluruh siswa dan siswi di sekolahnya. Entah mengapa mereka selalu membuat klasifikasi tersebut bahkan Zee sendiri risih dengan klasifikasi yang dibuat pada aplikasi sekolahnya.
Banyak kakak kelas dan teman seangkatan yang selalu mencoba menarik perhatian Zee . Tapi sayangnya, perhatian Zee hanya tertuju pada Melvin seorang. Jika sudah jatuh cinta, Zee menjadi seorang yang bodoh dan buta. Menurut Zee , semua tentang Melvin adalah indah dan tidak bisa digantikan oleh orang lain. Mungkin ini yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama dan tak akan berganti.
Zee selalu memperhatikan Melvin, kakak kelasnya sendiri. Bahkan Zee selalu mencari tau tentang biodata Melvin, apakah ia punya kekasih? Apakah makanan kesukaannya? Apa minuman kesukaannya? Apa olahraga favoritnya? Semua hal tentang Melvin sudah diketahui oleh seorang Zee Jovanka.
Jadi jika seorang Melvin bertanya apakah Zee atau panggilannya Zee mau menjadi pacarnya? Tentu saja jawabannya “Iya ka … Aku mau jadi pacar kakak.” Begitulah awal mula kisah cinta Melvin dan Zee dimulai.
oooOOOooo
“Zee, kamu nanti mau melanjutkan sekolah lagi atau bagaimana jika nanti lulus SMA?” Tanya Melvin yang sedang bersantai di sebuah kursi taman sekitar rumah Zee.
“Kuliah sih harusnya, Kak.” Jawab Zee santai sambil menyedot minuman sodanya.
“Kuliah apa, Zee?”
“Aku mau kuliah dua bahasa, Inggris dan Mandarin, Kak.”
“Wah, banyak sekali jurusan yang kamu ambil? Apa tidak bermasalah nanti? Biayanya kan besar sekali, Zee.” Melvin mengernyitkan dahinya. Ia sendiri bingung mengapa Zee bisa mengambil terlalu banyak jurusan kuliah. Bukankah satu jurusan saja sudah mahal, apalagi dua.
“Ah, Kakak tenang saja. Zee pasti akan mendapat beasiswa dan semoga saja Zee tidak akan membayar sepeserpun untuk berkuliah.” Ucap Zee tersenyum bangga.
“Wah, pacar kakak ini pintar sekali ya. Kakak tidak menyangka. Kakak doakan ya, semoga keinginan kamu berhasil.” Melvin mengelus kepala Zee. Rasanya memang bangga melihat pacarnya bisa mendapatkan beasiswa, tapi di hati kecil Melvin, ia merasa iri dan rendah diri terhadap prestasi yang dimiliki oleh Zee. Selain itu, Zee juga berasal dari keluarga yang bisa dikatakan mampu. Hal itu tentu semakin membuat Melvin tidak percaya diri untuk berpacaran dengan Zee.
“Amin. Terima kasih, Kakak.” Zee dengan cepat mencium pipi Melvin. Ia senang karena merasa Melvin akan mendukung semua keputusannya.
“Kalau Kakak bagaimana?” Tanya Zee penasaran sambil memeluk Melvin.
“Kayaknya Kakak langsung cari kerja. Kakak tidak sepintar kamu, jadinya Kakak tidak mendapatkan beasiswa.” Melvin menundukkan wajahnya. Ia murung. Tuntutan hidup membuatnya tidak bisa melanjutkan sekolah kembali. Ia harus puas hanya dengan bersekolah SMA saja. Melvin berasal dari keluarga kurang mampu jadi tidak ada uang untuk membiayainya bersekolah lebih tinggi. Ia juga harus memperhatikan kedua adiknya yang masih membutuhkan sekolah. Jadi Melvin tidak boleh egois.
“Kita punya prestasi di bidang berbeda. Kakak tidak perlu berkata seperti itu. Aku akan selalu mendukung Kakak, apapun yang Kakak akan lakukan kedepannya. Aku akan selalu ada di samping Kakak.” Zee semakin memeluk Melvin untuk memberikan semua dukungan kepada Melvin.
“Terima kasih, Zee. Aku sayang sekali sama kamu.” Melvin menambah pelukannya lebih erat. Ia bersyukur mendapatkan Zee sebagai kekasihnya yang bisa menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Mereka yang selama ini mengidolakan Melvin tidak pernah tahu bagaimana kondisi keluarga Melvin. Mereka melihat Melvin hanya sebagai seorang yang tampan dan mungkin juga kaya karena pakaiannya termasuk rapi dan bersih. Tapi sebenarnya Melvin bukanlah dari keluarga mampu, dan bukanlah hal yang tidak mungkin jika semua teman mengetahui tentang kehidupan Melvin sebenarnya, mereka bisa saja meninggalkan Melvin. Berbeda dengan Zee yang menerima semua yang Melvin miliki, bahkan Zee sangat ramah terhadap semua keluarga Melvin tanpa memandang rendah mereka. Zee memang orang yang sangat lembut dan rendah hati. Membuat semua orang menyayanginya.
oooOOOooo
Setelah satu tahun berpacaran dengan Zee, akhirnya hari ini adalah hari wisuda untuk Melvin. Semua perasaan para murid bercampur, bersedih dan bahagia karena lepas dari julukan anak berseragam. Tapi tidak dengan Melvin, ia sangat murung karena di saat semua teman akan melanjutkan sekolah, ia hanya bisa mencari pekerjaan untuk membantu kehidupan orang tua dan adiknya.
“Kak, selamat ya. Akhirnya Kakak lulus.” Ucap Zee bersemangat.
“Terima kasih, Zee.” Balas Melvin datar.
“Kenapa Kak? Kelihatannya Kakak kurang bersemangat.” Zee memperhatikan wajah Melvin yang sedikit murung.
“Aku sudah diterima kerja.” Ucap Melvin singkat.
“Wah, hebat banget. Aku salut sama Kakak.” Zee berjingkrak - jingkrak senang karena mendengar pacarnya telah mendapatkan pekerjaan. Sebetulnya Zee sangat bangga terhadap Melvin yang kuat dan menjadi salah satu tulang punggung keluarganya. Zee sangat berharap nanti suatu saat jika mereka menikah, Melvin akan bertanggung jawab dan sayang pada keluarga kecilnya bersama Zee.
“Tapi aku harus kerja di luar kota.“ Melvin bertambah murung karena harus berpisah dengan Zee.
“Keluar kota? Kemana Kak?” Zee jadi khawatir dengan perubahan wajah Melvin yang bertambah murung.
“Karawang.”
“Ah, Karawang dekat koq, Kak. Nanti kita bisa sering bertemu jika hari libur.” Zee mencoba menghibur Melvin.
“Tapi akan sangat sulit dan terbatas untuk bertemu kamu.”
“Sekarang kan sudah ada video call, Kak. Kita pasti masih bisa berhubungan.”
“Tapi … bagaimana jika ada pria lain yang mendekati kamu. Aku gak rela.”
“Kakak tenang saja. Hatiku hanya untuk Kakak. Selama Kakak setia padaku, aku akan menjaga hatiku hanya untuk kakak saja.” Zee memeluk Melvin untuk meyakinkannya. Ia tidak mau Melvin goyah karena harus bekerja di luar kota. Zee harus memberikan semangat kerja agar Melvin bisa bekerja dan berprestasi di perusahaan barunya.
“Kamu janji?”
“Aku janji.” Zee mengaitkan kelingkingnya untuk pinky promise dengan Melvin.
Masih Masa Lalu
Melvin saat ini bekerja di Karawang sebagai seorang staf operasional di sebuah perusahaan bernama PT YMH Corp. Gaji Melvin saat ini adalah UMR yaitu sebesar 4.3 juta rupiah. Lumayan besar untuk seorang anak lulusan SMA. Melvin sangat berusaha bekerja dengan keras untuk mengumpulkan uang demi masa depannya nanti dan keluarganya di Jakarta.
Selama bekerja di Karawang, Melvin masih sering berhubungan dengan Zee malah mereka semakin mesra. Terkadang Melvin yang datang ke Jakarta ataupun Zee yang datang ke Karawang. Mereka selalu membuat waktu khusus untuk pertemuannya.
Setelah 2 tahun berpacaran, akhirnya Zee melanjutkan kuliahnya di sebuah universitas ternama dengan mendapatkan beasiswa. Maklum, Zee adalah seorang siswa teladan di sekolah SMA Harapan Bangsa, jadi sangat tidak aneh ia bisa mendapatkan beasiswa. Bahkan Zee mengambil 2 jurusan sekaligus yaitu sastra Mandarin dan sastra Inggris.
Dengan mengambil 2 jurusan sekaligus tentu saja Zee menjadi semakin sibuk, perkuliahannya sangat padat bahkan untuk menyelesaikan semua tugas, Zee harus begadang sehingga semakin sulit bagi Zee untuk berkomunikasi dengan Melvin.
“Zee, kamu sibuk apa saja sih? Sepertinya kamu melupakan aku?” Protes Melvin di video call.
“Aku sedang kejar deadline tugas, Kak. Bahkan hampir setiap hari aku harus begadang untuk menyelesaikannya.” Ucap Zee yang sudah mulai lemas dan malas bertengkar.
“Memang kamu sudah tidak sayang sama aku ya? Sudah dapat pria yang lebih mapan di sekolah kamu?” Ledek Melvin yang terlihat cemburu buta.
“Enggaklah Kak. Aku kan sudah pernah bilang sama Kakak kalau aku akan setia selalu sama Kakak. Jadi aku harap Kakak tidak berpikir aneh-aneh tentang aku. Aku saat ini sedang fokus menyelesaikan kuliah. Itu saja.” Zee mulai emosi mendengar ucapan Melvin. Dalam beberapa minggu ini, ia hanya video call dengan Melvin dan hasilnya selalu bertengkar. Zee mulai lelah bertengkar dengan Melvin.
“Aku harap kamu memegang janji kamu ya.” Ancam Melvin. Wajahnya mengeras dan sangat kesal karena Zee tidak mempedulikannya, tidak menomorsatukannya seperti dulu. Bahkan sudah hampir 6 bulan Zee tidak pernah pergi ke Karawang untuk menemui Melvin dan saat Melvin ke Jakarta untuk bertemu Zee, ia malah mendapati Zee sedang kerja kelompok bersama temannya. Alangkah kesalnya Melvin melihat tindakan Zee.
“Kamu itu dunia aku, Kak. Tidak mungkin diganti oleh orang lain.” Zee menitikkan air matanya. “Kenapa kamu bisa tidak percaya kepadaku? Kapan aku pernah berselingkuh? Tidak pernah kan? Satu kali pun tidak pernah!” Antara emosi dan sedih yang dirasakan oleh Zee, tidak terasa air mata Zee semakin deras mengalir di kedua pipinya. Ia kecewa karena Melvin tidak percaya pada cintanya yang tulus.
“Maafkan aku, Zee. Aku terlalu cemburu.” Melvin menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena tidak percaya dengan Zee yang selama ini selalu ada untuknya bahkan membantu masalah keuangan keluarga Melvin di Jakarta.
“Aku hanya mau Kakak menjadi pendampingku di masa depan. Bukan orang lain. Aku harap Kakak bersabar. Karena memang sekarang tugas sekolahku sedang banyak.” Zee menarik nafas dalam dan menghapus air matanya.
“Maafkan aku, Zee.” Melvin tidak tahan jika harus melihat Zee menangis. Ia menurunkan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Ia merasa sudah keterlaluan dalam mengintimidasi dan mencurigai Zee.
“Iya … iya … aku maafkan. Sudah dulu ya, Kak. Aku mau mengerjakan tugas. Nanti lagi kita video call.” Tutup Zee. Ia menutup wajahnya dengan bantal dan menangis sekeras-kerasnya. Zee sangat kesal terhadap Melvin yang sudah beberapa bulan ini selalu cemburu dan menuduhnya berselingkuh atau ada pria lain. Padahal sama sekali tidak terpikir oleh Zee untuk melakukan hal itu. Melihat pria lain? Tidak pernah terpikir oleh Zee. Yang menjadi pikiran Zee saat ini hanyalah menyelesaikan kuliahnya dengan cepat agar bisa bersama Melvin selamanya. Tapi apa yang dipikirkan Melvin tadi membuat Zee sangat kesal. Banyak pria yang datang kepada Zee untuk menyatakan cinta tapi selalu Zee tolak karena ia sudah terlalu cinta kepada Melvin, tidak ada pria lain lagi untuknya yang pas selain Melvin.
Besok adalah deadline pengumpulan tugasnya Inggris dan Mandarin. Zee sendiri tidak menyangka akan sesibuk ini mengambil 2 jurusan perkuliahan. Terkadang Zee merutuki diri sendiri karena terlalu sombong mengambil 2 jurusan bahasa yang sulit itu.
“Zee … ” Panggil Zidan, kakak kandung Zee yang berbeda 3 tahun dari Zee. Sedari tadi ia berada di samping Zee dan mendengarkan semua ucapan Melvin di video call. “Apakah kamu tidak sebaiknya mencoba dengan pria lain saja? Melvin sepertinya sangat posesif dan terlalu cemburu.” Zidan mengelus-elus kepala Zee dengan lembut. Ia sangat menyayangi adik semata wayangnya.
“Aku sudah terlalu cinta sama Melvin, Kak. Sulit bagi aku untuk berpindah pada pria lain.” Zee menangis tersedu. Ia sakit hati karena Melvin menuduhnya macam-macam. Menutup wajahnya dengan bantal karena air matanya tidak berhenti mengalir.
“Kakak rasa kamu bukan sulit berpindah, tapi tidak mau mencoba.” Ucap Zidan lembut. “Ini cinta pertama kamu makanya kamu berkata seperti itu. Kakak juga pernah merasakan seperti kamu, tapi lihat, sekarang bahkan kakak sudah beberapa kali mengganti pacar.” Zee tersenyum dengan perkataan Zidan. Kakaknya ini selalu bisa menghiburnya di kala Zee sudah pusing atau marah pada Melvin.
“Itu karena kakak playboy!” Ledek Zee melemparkan bantal basahnya kepada Zidan.
“Dih! Kamu itu! Masa kamu menghina kayak sendiri!” Zidan sebal melihat adiknya yang ia hibur malah balas meledeknya.
“Abis kakak memang suka pacaran tanpa perasaan. Coba nanti kalau kakak sudah serius terhadap satu wanita, pasti berbeda rasanya deh! Pasti kakak akan melakukan apa saja untuk dia.”
“Ampun deh adik kakak yang cantik. Sekarang malah menceramahi kakaknya sendiri!” Zidan menjewer telinga Zee.
“Ish, jangan jewer telinga Zee! Zee sudah bukan anak kecil!” Protes Zee. Ia bahkan memajukan bibirnya beberapa cm untuk protes kepada kakaknya.
“Hmm … Kakak rasa kamu boleh mencoba membuka hati untuk orang lain. Jangan terlalu cinta pada seseorang yang belum menjadi suami kamu. Nanti penyesalan kamu lebih besar.” Zidan mengelus kepada Zee dengan lembut. Ia sangat menyayangi adiknya satu-satunya. Ia tahu Melvin pekerja keras dan sangat mencintai Zee, tapi yang ia tidak suka adalah Melvin terlalu cemburu dan cemburunya sangat tidak masuk akal.
“Tapi, Kak … ” Zee sudah tidak bisa berpikir. Ia selalu membela Melvin di depan keluarganya, bahkan tidak jarang Zee membangkang terhadap ayah dan ibunya karena ingin terus bersama Melvin.
“Sudahlah Zee, sekarang lebih baik kamu pikirkan terlebih dahulu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari karena memaksa harus menikah dengan Melvin. Kakak merasa ada yang tidak baik di dalam diri Melvin.”
“Iya, Kak. Zee akan berpikir ulang lagi. Terima kasih support kakak.” Zee memeluk Zidan dengan erat. Hanya Zidan yang mengerti tentang cintanya Zee terhadap Melvin dan Zidan selalu mendukungnya. Ia tidak pernah berkata kasar atau memarahi Zee karena terlalu cinta terhadap Melvin. Zidan hanya memberikan nasihat yang lembut yang dapat memberikan kesejukan kepada Zee saat mendengarnya.