"Papa mau ke mana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Tiara kepada Reno
"Papa ada keperluan mendadak. Klien Papa tiba-tiba menghubungi Papa. Sudah ya, Papa harus ke sana." Reno meninggalkan Tiara begitu saja.
"Ini sudah malam. Memangnya tidak bisa besok lagi!" teriak Tiara kepada Reno yang sedang berjalan.
Sementara Reno tetap saja berjalan tanpa peduli ucapan sang istri.
Tiara hanya bisa menghela napas kecewa. "Ini bukan jam kerja dan juga sudah malam. Masa jam segini klien menghubungi." Tiara melihat jam dinding di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. "Awas saja kalau kamu bohong!"
***
"Ma. Papa ke mana? Kok tidak ada?" tanya Maura di sela-sela sarapan.
"Papamu ada perlu, Sayang," jawab Tiara, "sudah habiskan sarapannya."
"Iya, Ma."
***
Tiara sedang membantu karyawannya membungkus pakaian yang akan di kirim ke pembeli. Di rumahnya Tiara menyediakan satu ruangan untuk tempat berjualan pakaian online dan dia mempunyai lima karyawan.
Ponsel Tiara tiba-tiba berdering ketika sedang membungkus pakaian. Dia kemudian mengangkatnya.
"Hallo, Ma. Maaf, ya. Papa tidak langsung pulang. Papa sekalian saja ke kantor. Sekarang Papa mau jemput Maura dulu, baru Papa ke kantor lagi. Mama tidak usah jemput Maura. Biar Papa saja, ya," ucap Reno dan langsung mematikan ponselnya.
"Hallo, Pa!" teriak Tiara, "kenapa langsung ditutup sih? Aku belum bicara juga," gerutu Tiara lalu menyimpan benda pipih di saku bajunya sambil menghela napas kecewa.
***
"Papa!" Maura berlari mendekati sang ayah yang sudah menjemputnya.
"Hai, Sayang." Punggung tangan Reno sedang dicium oleh Maura.
Ayo, kita ke mobil." Reno meraih tangan Maura.
Maura menganggukkan kepalanya sambil berjalan. "Papa kok, tadi pagi tidak ada?" tanya Maura.
"Papa ada perlu. Ada pekerjaan yang tidak bisa Papa tinggalkan," jelas Reno, "oh, iya, Maura. Di dalam mobil ada teman Papa. Eemm, kamu jangan bilang mama ya kalau Papa menjemputmu sama teman Papa." Reno jongkok menghadap Maura tepat di dekat mobilnya.
"Memangnya kenapa, Pa?"
"Tidak apa-apa. Papa cuma tidak mau nanti Mamamu salah paham sama Papa. Oke, Sayang. Kamu jangan bilang, ya!" perintah Reno lalu bangun dari jongkoknya.
"iya, Pa."
"Ya sudah. Ayo, masuk." Reno membuka pintu mobil untuk Maura.
Maura kemudian masuk. Dia duduk di kursi belakang. Sementara wanita yang bernama Vega duduk di depan bersama Reno.
"Hai, cantik. Siapa namamu?" Vega membalikkan badan ke arah Maura.
"Namaku Maura, Tante."
"Nama yang cantik. Sama seperti orangnya," ucap Vega lalu tersenyum dan kembali duduk seperti semula.
Maura kemudian memperhatikan wanita tersebut dari belakang. Dia teringat sang mama dan hatinya seakan tidak terima melihat sang ayah duduk berdua dengan wanita lain. Umur Maura sudah menginjak tujuh tahun.
"Sayang. Kita antar Tante dulu, ya. Baru Papa antar kamu pulang."
"Iya, Pa."
***
Reno sudah mengantar Vega. Maura duduk di depan bersama sang ayah.
"Kamu benar janji, ya. Jangan bilang mama kalau Papa mengantar Tante Vega." Reno menoleh sesaat lalu kembali fokus menyetir.
"Memangnya kenapa Mama tidak boleh tahu? 'Kan Tante cuma teman Papa doang."
"Iya, memang cuma teman Papa doang. Cuma tetap saja nanti Mama marah sama Papa."
"Kata Mama jangan suka bohong. Papa juga pernah bilang jangan suka bohong. Kenapa, Papa malah bohongin Mama?"
"Bukan begitu, Maura. Ini berbohong demi kebaikan. Kamu mau nanti Mama sama Papa berantem gara-gara Mama marah karena Papa antar teman Papa?"
Maura menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan sang ayah yang sedang fokus menyetir.
"Nah, berarti kamu jangan bilang sama Mama. Oke, Sayang," pinta Reno.
"Oke, Pa."
"Anak pintar." Reno mengusap-usap pucuk kepala sang anak menggunakan tangan kiri. "Tapi Papa tidak akan turun. Soalnya Papa masih ada kerjaan."
"Oke deh, Pa."
***
"Assalamualaikum, Ma." Maura menghampiri Tiara lalu meraih tangan Tiara.
"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Tiara, "kamu di jemput Papa, 'kan?"
"Iya, Ma di jemput Papa," jawab Maura lalu memperhatikan wajah sang mama.
"Papanya lansung pergi lagi?" Tiara melihat-lihat ke arah depan.
"Iya, Ma. Kata Papa masih ada pekerjaan."
Tiara menganggukkan kepalanya. "Ya sudah sana kamu ganti baju dulu."
Maura menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan ruangan sang mama.
***
Reno kembali lagi ke tempat di mana Vega di turunkan. Vega kemudian menaiki mobil Reno.
"Aku tidak lama, 'kan?" tanya Reno kepada Vega yang sudah menaiki mobil Reno.
"Ya, lumayanlah," jawab Vega, "Mas. Kamu yakin anakmu tidak akan mengatakan apa pun sama istrimu?" tanya Vega kepada Reno yang sedang fokus menyetir.
"Kamu tenang saja. Anakku tidak akan berkata apa-apa."
"Bagus deh," ucap Vega lalu tersenyum.
***
"Malam, Ma." Reno mencium kening sang istri.
"Jam berapa sekarang?" Tiara bangun dari tidurnya.
"Sudah jam sepuluh."
"Papa lembur lagi? Kenapa akhir-akhir ini, Papa sering lembur?"
"Ya mau bagaimana lagi. Bekerja di lapangan kadang ada sesuatu yang tidak beres. Jadi mau tidak mau Papa harus lembur." Reno menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.
Reno bekerja sebagai manajer kontruksi di perusahaan besar. Dia selalu sibuk di lapangan dan memang harus bertemu dengan tim.
"Ya sudah kalau, Papa memang benar-benar lembur. Mama takut saja Papa bilang lembur, tetapi, Papa malah sama wanita lain!" ketus Tiara.
"Ngaco kamu ini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang Papa."
"Bagaimana tidak berpikiran yang aneh-aneh. Papa akhir-akhir ini sering lembur. Tidak seperti biasanya. Papa selalu pulang tepat waktu, tetapi sekarang ...."
"Sudahlah! Buang jauh-jauh pikiran itu! Ayo, tidur lagi." Reno menarik tangan Tiara.
Tiara pun berbaring kembali.
"Mama tidak kangen sama Papa?" Reno menggeserkan tubuhnya ke arah Tiara.
"Kalau Mama tidak kangen sama, Papa. Tidak mungkin Mama kesal karena Papa pulang lembur. Itu berarti Mama kangen. Papa juga terkadang tidak pulang. Gimana Mama tidak kangen," ujar Tiara lalu memajukan bibirnya.
Reno tertawa mendengar ucapan sang istri. "Sama Papa juga kangen." Reno memeluk tubuh sang istri lalu mencium bibir sang istri.
Tiara membalas ciuman sang suami. Tidak bisa dipungkiri Tiara menantikan hal seperti ini. Sudah tiga minggu sang suami tidak menjamahnya karena alasan lembur dan capek dan terkadang tidak pulang.
Namun, ketika mereka sedang bercumbu. Tiba-tiba ponsel Reno berdering. Mereka berhenti sejenak. Akan tetapi, Reno kembali mencumbui sang istri dan menghiraukan panggilan tersebut.
"Pa! suara ponselmu mengganggu. Kamu angkat saja dulu. Malam-malam begini siapa yang menghubungimu sih, Pa?!" marah Tiara.
Reno bangun dari kasur lalu mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubunginya. Nama samaran Vega muncul dengan nama Pak Tio.
Dia kemudian mengerutkan keningnya dan berbicara dalam hati. "Aku, 'kan sudah bilang. Jangan menghubungiku!"
Reno memperhatikan sang istri dari sudut matanya. Sementara ponselnya masih berdering. Dia berusaha tenang agar Tiara tidak mencurigainya.
Reno kemudian mengangkatnya. " Iya, halo, Pak. Ada apa?" tanya Reno.
"Mas! Bagaimana ini? Di rumahku mati lampu. Aku takut, Mas," rengek Vega.
Reno menggelengkan kepalanya. "Memangnya tidak ada yang lain? Gunakan perlengkapan yang lain!" Suara Reno meninggi.
"Kamu membentakku, Mas! Mentang-mentang kamu lagi sama istrimu. Aku juga ...."
"Ya sudah saya ke sana sekarang, Pak," ucap Reno lalu mematikan ponselnya.
Tiara yang mendengarkan merasa kecewa. "Papa mau ke sana? Memangnya tidak ada hari esok! Ini sudah malam, Pa."
"Mau bagaimana lagi, Ma. Terpaksa Papa harus ke sana." Reno beranjak dari kasur lalu memakai pakaian.
Tiara hanya bisa mendengkus kesal sambil memperhatikan sang suami bergegas keluar kamar.
***
Reno sudah sampai di depan rumah Vega. "Katanya mati lampu! Kenapa ini terang?" Reno berjalan ke arah pintu lalu mengetuk pintu.
"Mas Reno," ucap Vega setelah membuka pintu.
Reno masuk ke rumah Vega. "Kamu bilang mati lampu. Mana rumahmu terang benderang begini? Kamu mau membohongiku?" kesal Reno lalu duduk di sofa sambil menggelengkan kepalanya.
Vega duduk di samping Reno lalu memeluk Reno. "Maaf, Mas. Aku membohongimu. Habisnya aku kangen kamu, Mas."
"Tapi bukan begini caranya, Vega! Aku sedang bersama istriku!'
"Aku juga istrimu, Mas! Memangya hanya Tiara saja istrimu. Mentang-mentang aku istri kedua! Kamu lebih mementingkan istri pertamamu dibanding aku," marah Vega, "walaupun kita hanya menikah siri. Ingat aku juga istrimu!"
"Kamu lupa aku pernah bilang apa sama kamu dan kamu pun menyetujuinya. Kenapa sekarang kamu malah minta waktu lebih? Harusnya kamu lebih mengerti dibanding Tiara!"
"Oh, jadi kamu lebih membela Tiara daripada aku!" Vega menatap tajam Reno.
"Bukan maksudku membela Tiara, Vega. Tiara belum tahu aku menikah lagi, tetapi kamu tahu kalau aku sudah beristri. Makanya kamu harus lebih mengerti," perintah Reno, "kamu bilang iya, tetapi kenyataannya malah kaya begini! Aneh kamu ini. Sampai harus bohong segala!"
"Iya, iya maaf, Mas." Vega memeluk tubuh Reno lalu membelai wajah Reno agar Reno tergoda oleh belaiannya.
Reno tidak kuasa mendapat belaian dari tangan Vega. Vega memang sengaja melakukan hal itu. Dia pun sengaja memakai pakaian tidur berbahan satin tipis hingga terlihat miliknya yang begitu menggoda.
Apalah daya Reno yang seharusnya bercinta dengan istri pertamanya. Dia kini harus terjebak dengan Vega sang istri kedua yang membuat hasratnya ingin melakukan kembali ritual yang belum selesai. Walaupun pikirannya kepada Tiara tetap saja dia tergoda oleh tubuh sang istri kedua.
Hasrat kelelakiannya sudah tidak bisa tertahan. "Kamu sengaja menggodaku?" Reno memperhatikan bibir Vega lalu mel*matnya secara buas.
Vega pun membalas ciuman Reno. Akhirnya, mereka melakukannya di ruang tamu. Sejenak Reno benar-benar melupakan Tiara karena dia sedang berada di surga dunia bersama Vega.
***
Reno bangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan mata lalu melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Tiara!" guman Reno lalu bangun dari sofa sambil mengusap wajahnya secara kasar.
"Kamu sudah bangun, Mas?" Vega membawa satu cangkir teh hangat lalu menyimpannya di atas meja.
"Kenapa kamu tidak membangungkanku?" kesal Reno.
"Aku tidak membangunkanmu karena kamu terlihat sangat capek, Mas. Ya sudah aku biarkan saja kamu tidur pulas," jawab Vega dengan entengnya.
Reno hanya bisa mendengkus kesal lalu minum teh hangat. Setelah itu dia beranjak ke kamar mandi.
***
"Papa tidur di mana?" Tiara memperhatikan Reno yang sedang memakai pakaian untuk bekerja.
"Papa tidur di rumah teman," jawab Reno, "sudah ya Papa berangkat. Papa sudah kesiangan." Reno mengecup pipi sang istri.
"Iya, Pa." Tiara mengikuti Reno berjalan.
***
Tiara sedang memasukkan cucian pakaian ke mesin cuci. Namun, ketika Tiara akan memasukkan pakaian Reno. Dia mengendus pakaian tersebut.
"Kenapa wangi parfummu berbeda? Ini bukan wangi parfummu? Wanginya seperti parfum wanita dan ini bukan wangi parfumku?" monolog Tiara lalu kembali mengendus pakaian tersebut berulang-ulang. "Apa jangan-jangan semalam ... tidak ... tidak mungkin kamu begitu. Aku percaya kamu Pa. Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?" Tiara memegang dadanya kemudian kembali mencium pakaian sang suami.
Tiara kemudian memasukkan pakaian tersebut lalu pakaian yang lainnya. Dia berusaha membuang jauh perasaan curiga terhadap sang suami. Namun, tetap saja dia malah mengingat kembali karena aroma wangi parfum tersebut.
Tiara menggelengkan kepalanya. "Sudah Tiara jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang suamimu," monolog Tiara.
***
"Mas, kamu tidak ada keperluan, 'kan nanti sore?" tanya Tiara, "Ingat, Mas! Kamu sudah janji akan menemaniku ke pesta pernikahan teman sekolahku."
"Iya, Sayang. Aku akan menemanimu."
Tiara tersenyum mendengar jawaban sang suami. "Nah gitu dong. Awas saja kalau tiba-tiba ada keperluan mendadak!"
"Tidak akan. Kamu tenang saja," timpal Reno lalu tersenyum.
"Makasih ya, Pa."
***
Tiara dan Reno sudah sampai di pesta pernikahan. Mereka sedang mengantri untuk bersalaman dengan pengantin. Tangan Reno tidak pernah lepas dari genggaman sang istri.
"Hai, Tiara. Terima kasih ya, sudah datang ke pesta pernikahanku yang kedua kalinya," bisik teman Tiara.
"Selamat, ya. Mudah-mudahan ini yang terakhir. Jangan bercerai lagi," bisik Tiara.
"Mudah-mudahan, Tiara."
Reno kemudian bersalaman dengan teman Tiara. "Selamat, ya."
"Iya, terima kasih."
***
Reno sedang mengambil makanan. "Kamu mau apa, Sayang? Biar aku ambilkan."
"Emm, itu saja, Pa." Tiara menunjuk krim sup makaroni keju.
Mereka pun menikmati makanan masing-masing. Namun, dari jauh ada yang sedang memperhatikan mereka.
"Itu, 'kan Mas Reno. Jadi yang kita datangi itu sama. Oke, Mas. Kamu memang tidak berbohong sama aku. Kamu memang benar-benar ke acara pernikahan." Vega memperhatikan Reno dan Tiara sambil berbicara dalam hati lalu menyunggingkan senyumnya. "Aku ke sana saja. Aku ingin tahu reaksimu seperti apa Mas." Vega berjalan ke arah Reno dan Tiara sambil tersenyum senang.
Reno dan Tiara masih asyik menikmati makanan sambil berbincang santai.
Vega sudah dekat ke arah mereka sambil matanya tidak lepas memperhatikan Reno dan Tiara.
"Hatiku benar-benar cemburu melihatmu Mas. Harusnya aku yang berada di sampingmu. Bukan Tiara," batin Vega.
Reno masih belum menyadari. Namun, ketika dia menoleh ke arah kiri dia langsung membelalakkan matanya. Reno yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak dan batuk.
"Kamu kenapa, Pa?" Tiara langsung panik dan mengambil piring dari tangan sang suami lalu mengambil air minum di atas meja. "Ini minum dulu, Pa. Hati-hati dong makannya." Tiara mengusap punggung sang suami.
Sementara Reno masih terbatuk. Wajah dan kedua matanya memerah. Pandangannya tidak luput ke arah Vega yang kini sudah berada di hadapannya.
"Hai, Reno," sapa Vega.
"Vega! Kamu ... kamu ada di sini?" Reno bertanya terbata dan berusaha untuk tenang.
"Iya," jawab Vega lalu menoleh ke arah Tiara.
"Oh, iya. Vega kenalkan dia istriku." Reno melihat sang istri.
Tiara langsung tersenyum lalu mengulurkan tangan. "Hai, saya Tiara."
"Saya Vega." Vega meraih tangan Tiara.
"Kalian sudah lama datangnya?" tanya Vega.
"Lumayan, Vega," jawab Reno.
Vega menganggukkan kepalanya lalu berucap. "Emm, saya boleh tidak bergabung di sini?" Vega memperhatikan Tiara lalu Reno.
"Boleh-boleh. Silakan. Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Tiara.
"Saya datang sendiri. Kebetulan suami saya lagi ada keperluan. Jadi tidak bisa ikut ke sini," jawab Vega lalu menoleh ke arah Reno.
"Oh, begitu," ucap Tiara.
Iya, Tiara."
Ketika Tiara sudah mendengar jawaban Vega. Dia tiba-tiba mencium aroma wangi parfum yang tidak asing. Hidungnya langsung menghirup aroma tersebut sambil menoleh ke arah Vega.
""Kenapa wangi parfumnya sama di pakaian suamiku?" batin Tiara lalu memperhatikan Vega, "Emm ... oh, iya kamu bekerja juga? Apa kalian satu kerjaan?" tanya Tiara kepada Vega.
"Vega ...," ucap Reno dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Suami saya satu kerjaan sama Reno. Kebetulan mereka berteman. Suami saya pernah beberapa kali mengajak Reno ke rumah saya," timpal Vega.
"Oh ...." Tiara menganggukkan kepalanya lalu tersenyum dan berbicara dalam hati. "Berarti kemarin suamiku habis dari rumahnya."
"Memangnya kenapa?" tanya Vega.
"Tidak apa-apa saya hanya bertanya saja." Tiara kembali mencium aroma wangi parfum tersebut. "Pa. Mama ke toilet dulu, ya," ucap Tiara.
"Iya, Ma," jawab Reno lalu memperhatikan sang istri berjalan.
"Istrimu di lihat-lihat ternyata cantik juga," celetuk Vega, "Cantikan siapa? Istri muda atau istri tua?" bisik Vega.
"Kamu apaan sih! Jangan bicara sembarangan kamu! Ini tempat umum!" Reno melihat sekitar lalu menatap tajam Vega.
"Memangnya kenapa kalau ini tempat umum? Mentang-mentang aku istri simpananmu. Semua orang tidak boleh tahu kalau aku istrimu juga. Curang sekali!" Vega menyilangkan kedua tangan di depan dadanya sambil menahan kekesalan.
"Ya mau bagaimana lagi. Kenapa kamu tidak mengerti?"
"Aku mengerti, kok. Cuma aku merasa cemburu melihat kalian. Di depanku kalian bisa bermesraan sementara aku ...."
"Diam kamu! Istriku sedang berjalan ke sini." Reno memperhatikan Tiara lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya.
"Oke, Mas Reno, Sayang." Vega sengaja meninggikan suaranya.
Reno langsung menatap tajam wajah Vega sambil mengepalkan kedua tangannya.
Vega malah merasa tidak bersalah. "Suamimu ternyata perhatian, ya," kata Vega kepada Tiara yang sudah berada di hadapannya.
Reno tersentak kaget lalu mengerutkan keningnya sambil memperhatikan Vega.
"Perhatian?" bingung Tiara.
"Iya, perhatian." Vega mencolek tangan Tiara. "Masa aku mau ngambil makanan. Suamimu membantuku mengambilkannya. Aku jadi tidak enak jadinya." Vega berbicara dengan rasa tidak bersalah.
Tiara tersenyum dipaksakan setelah mendengar perkataan Vega lalu menoleh ke arah suami dengan tatapan marah.
"Iya ... iya, Ma. Papa hanya ... eemm, mengambilkannya saja," bingung Reno.
Sementara Vega dalam hatinya tersenyum senang melihat reaksi Tiara seperti tidak suka.
"Sialan kamu Vega!" Reno mengumpat dalam hati.
"Aku ingin melihat Tiara cemburu. Sama seperti aku yang cemburu melihat kalian," batin Vega.
***
"Maksudnya apa, Papa membantu Vega mengambil makanan? Papa ini ada-ada saja!" marah Tiara kepada Reno yang sedang fokus menyetir.
"Tidak maksud apa-apa, Ma. Papa cuma menawarkan makanan saja. Ya sudah sekalian saja Papa ambilkan."
"Tapi tidak harus begitu, Pa!" kesal Tiara.
"Sudahlah, Ma! Ngapain masalah ngambilin makanan harus diperdebatkan!" marah Reno.
"Ini bukan masalah mengambilkan makanan! Tetapi, papa ...." Tiara memperhatikan Reno lalu tidak melanjutkan kata-katanya.
Tiara menghela napas lalu memperhatikan kaca jendela mobil. Dadanya kembang kempis masih menahan amarah. Akhirnya, mereka saling terdiam selama perjalanan.
Reno menoleh sesaat kepada Tiara lalu kembali fokus menyetir. "Dasar kamu Vega bisa-bisanya kamu mengarang cerita," umpat Reno dalam hati lalu menggelengkan kepalanya.
Reno dan Tiara sudah sampai di rumah. Tiara langsung turun dari mobil dengan wajah marah. Dia meninggalkan Reno begitu saja.
Reno kemudian menghela napas setelah Tiara masuk ke rumah. "Begini saja kamu sudah marah. Bagaimana reaksimu kalau seandainya kamu tahu kalau aku sudah menikah dengan Vega?" monolog Reno lalu mengacak-acak rambutnya.
Reno diam sejenak di dalam mobil sambil menyandarkan kepalanya. Kedua matanya dia pejamkan. Entah apa yang ada di pikirannya.
***
Reno menaiki kasur lalu memeluk sang istri yang sudah tertidur membelakanginya. "Aku sayang Mama. Mama jangan marah lagi, ya." Reno mencium belakang kepala Tiara.
Tiara langsung membuka mata tanpa membalikkan badan dan berbicara dalam hati. "Aku pikir Papa perhatian hanya sama Mama saja. Ternyata dengan wanita lain pun Papa perhatian."
***
"Mas Reno." Vega tersenyum ketika Reno pulang ke rumahnya.
Reno baru saja pulang dari kerjanya.
"Maksudmu apa kemarin malam mengatakan hal itu sama istriku?" marah Reno.
"Mas ini datang-datang langsung nodong pertanyaan. Duduk dulu, Mas. Mas tidak capek." Vega menarik tangan Reno untuk duduk di sofa.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan kamu!" bentak Reno lalu duduk di sofa.
"Tidak usah bentak-bentak aku, Mas. Salah aku melakukan hal itu?" kesal Vega.
"Istriku marah Vega!" jelas Reno.
"Marah? Aku pun sama, Mas! Aku marah, kesal, dan cemburu melihat kemesraan kamu, Mas!" Vega menatap tajam wajah Reno.
Reno menghela napas lalu menggelengkan kepalanya. "Berapa kali harus aku jelaskan Tiara istriku dan kamu ...."
"Aku hanya istri simpanan! Aku yang harus mengerti? Aku tahu, Mas, tetapi tetap saja. Jika aku melihat kalian berdua bermesraan hatiku cemburu, Mas. Hatiku tidak terima." Vega mengusap-usap dadanya dan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Reno langsung terenyuh mendengar ucapan Vega. Dia langsung memeluk tubuh Vega.
"Maafkan aku, Sayang. Aku juga tidak berharap untuk membuatmu cemburu, tetapi mau bagaimana lagi."
Vega langsung tersenyum mendengar ucapan Reno. "Mas menyayangiku, 'kan? Aku tidak mau karena Tiara cemburu sama, Mas. Terus Mas Reno jadi berubah sama aku. Aku tidak mau, Mas. Aku tahu. Aku hanya istri simpanan, aku hanya istri keduamu. Tetap saja aku sama seperti istri pertamamu. Aku juga cemburu," kata Vega lalu melepaskan pelukan Reno.
"Iya aku tahu, Vega. Sekali lagi aku tekankan. Aku bukan membela istri pertamaku. Kalian berdua sama-sama istriku. Aku ingin bersikap adil sama kalian dan sekali lagi aku bilang sama kamu. Kamu yang harus lebih mengerti." Reno meraih kedua tangan Vega lalu mengecupnya.
"Aku ... ya aku yang harus mengerti. Aku pun ingin istri pertamamu mengerti, Mas. Biar sama-sama adil. Mas Reno harus katakan sama Tiara. Bahwa kita sudah menikah!"