Hujan turun deras sore itu. Langit kota dipenuhi abu keabu-abuan yang menggantung rendah, menekan bumi dengan hawa dingin dan sunyi.
Di depan panti asuhan kecil di pinggir kota, seorang anak perempuan berusia delapan tahun duduk di bawah beranda kayu yang sudah lapuk. Rambutnya yang hitam kusut menempel di pipi, bajunya kebesaran dan basah karena hujan.
Namanya Alea.
Sudah seminggu ini ia tahu, seseorang akan datang untuk menjemputnya. Bukan untuk dikunjungi seperti biasa oleh donatur, tapi menjemputnya. Membawanya pergi.
"Alea," suara lembut itu memanggil dari dalam ruang utama. "Nak, ayo masuk dulu. Kamu bisa pilek kalau terus duduk di situ."
Itu suara Suster Berta, pengurus panti yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Alea bersandar.
Alea menoleh, senyumnya tipis. "Katanya hari ini mereka datang, Suster. Kalau aku masuk nanti mereka enggak lihat aku."
Suster Berta tersenyum pahit. Ia sudah mendengar cerita dari kepala panti - pasangan suami istri yang ingin mengadopsi anak perempuan. Mereka kaya, terhormat, dan tampak begitu baik. Tapi entah kenapa, ada kekhawatiran kecil di hati wanita tua itu.
"Orang baik pasti tahu caranya menemukanmu, meski kamu enggak duduk di depan pintu," katanya lembut sambil menyelimutkan jaket tipis ke bahu Alea. "Tapi kalau kamu kedinginan dan sakit, nanti mereka malah enggak bisa bawa kamu pulang."
Alea menatap jalanan yang becek dan sunyi. Ia tidak tahu seperti apa "rumah" baru yang akan menerimanya nanti. Tapi di dalam hatinya yang kecil, ia berdoa - semoga rumah itu hangat, tidak seperti panti yang selalu dingin di malam hari.
Dua jam kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di halaman panti. Dari dalam keluar dua orang dewasa - pria dengan jas abu-abu dan wanita dengan gaun pastel yang sopan.
Alea menatap mereka dari jendela.
Mereka tampak seperti dari dunia yang berbeda. Bersih, tenang, dan penuh wangi bunga.
"Selamat sore," Suster Berta menyambut ramah. "Anda pasti Tuan dan Nyonya Pradipta?"
Pria itu mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ya, saya Reynald Pradipta, dan ini istri saya, Marina."
Suara Reynald tenang, dalam, seperti orang yang terbiasa memberi perintah dan dihormati.
Sementara Marina terlihat lembut, dengan mata cokelat hangat yang langsung mencari-cari sosok kecil di balik Suster Berta.
"Di mana Alea?" tanya Marina lembut. "Kami ingin bertemu."
Alea menatap mereka dari balik pintu, jantungnya berdegup kencang. Ia ingin lari, tapi kaki kecilnya seolah terpaku.
Suster Berta menoleh ke arah pintu. "Alea, sini nak. Mereka sudah datang."
Perlahan, Alea melangkah keluar. Langkahnya kecil dan ragu. Matanya menatap wajah dua orang itu, dan entah mengapa, Marina langsung meneteskan air mata.
"Cantiknya..." Marina berbisik. "Tuhan... dia persis seperti yang aku bayangkan."
Reynald menatap Alea cukup lama. Tatapannya tidak setulus Marina, tapi lebih dalam - menilai, menelusuri. Seolah sedang memastikan sesuatu.
Alea menunduk, merasa malu sekaligus takut.
"Namamu Alea?" tanya Reynald akhirnya.
"Iya, Pak."
"Mulai sekarang, kamu boleh panggil aku Papa, dan ini Mama."
Alea menatap Marina. Perempuan itu tersenyum, lalu berjongkok dan memeluknya. "Mulai hari ini kamu enggak sendirian lagi, sayang. Kami akan jadi keluargamu."
Pelukan itu... hangat. Sesuatu yang belum pernah Alea rasakan seumur hidupnya. Ia memejamkan mata, air mata kecil mengalir di pipinya.
Sore itu, hujan berhenti. Dan bersama itu pula, hidup baru Alea dimulai.
Rumah keluarga Pradipta jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Dindingnya berwarna putih bersih, dengan halaman luas dan taman bunga di belakang. Setiap langkah Alea terasa kecil di tengah kemegahan itu.
Namun, di balik kemewahan, Alea merasakan sepi yang aneh. Rumah itu terlalu hening.
Hari-hari pertamanya berjalan hati-hati. Alea belajar memanggil "Papa" dan "Mama" dengan kaku, belajar makan dengan garpu, dan tidur di kamar yang terlalu besar untuknya.
Marina selalu berusaha mendekat. Ia menyisir rambut Alea setiap pagi, menemaninya belajar, bahkan menidurkannya di malam hari.
Tapi Reynald... selalu menjaga jarak.
Pria itu sibuk bekerja, jarang berbicara banyak. Namun kadang, tatapan matanya pada Alea terasa sulit dijelaskan.
Suatu sore, ketika Alea sedang menggambar di ruang keluarga, Reynald datang dari kantor lebih awal. Marina sedang keluar bersama rekan yayasannya.
Alea tidak sadar saat Reynald berdiri di ambang pintu memperhatikannya.
"Bagus gambarnya," ucap Reynald datar.
Alea menoleh, tersenyum sopan. "Terima kasih, Pa."
Reynald berjalan mendekat, lalu jongkok di sampingnya. "Itu gambar siapa?"
"Aku dan Mama... dan Papa juga."
Reynald menatap gambar itu - tiga sosok tersenyum di bawah sinar matahari. Ada tulisan kecil di bawahnya: Keluarga Bahagia.
Senyum tipis muncul di wajah pria itu. "Kamu cepat sekali menyesuaikan diri."
Alea mengangguk. "Mama baik banget. Papa juga."
Reynald terdiam beberapa detik, lalu menyentuh kepala Alea dengan ragu. "Kamu anak yang pintar, Alea. Papa bangga."
Alea menatapnya heran. "Papa jarang di rumah, tapi aku tahu Papa sayang aku."
Reynald tersenyum samar. Ada sesuatu di hatinya yang berubah hari itu - sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, tapi perlahan tumbuh di antara rasa iba dan kagum.
Tahun demi tahun berlalu.
Alea tumbuh menjadi remaja yang sopan dan cerdas. Ia disekolahkan di tempat terbaik, diajari seni, bahasa, dan tata krama.
Marina mencurahkan seluruh kasihnya, sementara Reynald menjadi sosok ayah yang jarang bicara tapi selalu ada di balik layar.
Namun, kehidupan mereka tidak selalu damai. Marina mulai sering jatuh sakit karena stres menjalani terapi kehamilan. Tekanan keluarga besar Reynald yang terus menuntut keturunan membuat suasana rumah kian tegang.
Suatu malam, Alea mendengar pertengkaran hebat dari kamar orang tuanya.
Ia berdiri di tangga, menahan napas.
"Berhentilah menyalahkan aku, Reynald!" suara Marina pecah. "Aku sudah mencoba bertahun-tahun. Kalau Tuhan belum memberi, apa itu salahku?"
"Aku tidak menyalahkanmu, Marina," jawab Reynald dingin. "Aku hanya... lelah. Rumah ini terlalu sunyi. Kau bahkan sibuk dengan yayasanmu sampai lupa aku ada di sini."
"Tapi aku lakukan itu untuk kita! Untuk mengisi kekosongan ini."
Alea menggigit bibir. Ia ingin turun, ingin memeluk mereka berdua. Tapi langkahnya terpaku.
Pertengkaran itu terus berlanjut, lalu sunyi.
Keesokan paginya, Marina pergi ke luar kota untuk pengobatan. Reynald tinggal di rumah, diam, nyaris tak bicara.
Hari itu hujan lagi. Alea duduk di perpustakaan, membaca buku, ketika Reynald datang dengan ekspresi lelah.
"Kamu enggak sekolah hari ini?" tanyanya.
"Aku libur, Pa."
Reynald mengangguk, duduk di kursi seberang. "Mama berangkat pagi ya?"
"Iya. Katanya seminggu baru pulang."
Sunyi beberapa saat. Reynald menatap gadis itu - rambut hitam panjang, kulit pucat, mata tenang seperti Marina di masa muda.
Ia sadar, Alea bukan lagi anak kecil. Dan itu membuat hatinya bergetar aneh.
Alea menyadari tatapan itu, tapi mencoba tetap tenang. "Papa kelihatan capek. Mau aku buatin teh?"
Reynald mengangguk pelan. "Boleh."
Alea pergi ke dapur, membuat teh hangat, lalu membawanya kembali. Saat ia menaruh cangkir di meja, jari mereka bersentuhan.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat keduanya saling terdiam.
Reynald segera menarik tangannya. "Terima kasih."
Alea menunduk. "Sama-sama, Pa."
Kejadian itu berlalu tanpa kata, tapi meninggalkan rasa canggung yang tidak bisa dijelaskan. Sejak hari itu, Alea mulai menjaga jarak.
Namun Reynald - semakin hari semakin sulit mengabaikan kehadirannya.
Suatu sore, beberapa tahun kemudian, Alea berusia dua puluh dua tahun. Ia baru lulus kuliah dan bekerja di yayasan milik Marina. Hidupnya terlihat sempurna: mapan, cerdas, disayangi. Tapi di balik itu, hubungan di rumah mulai terasa retak.
Marina semakin sibuk dengan program sosial, jarang di rumah. Reynald lebih sering bersama Alea, menemani rapat, menjemputnya, bahkan mengajarinya hal-hal tentang bisnis.
Suatu malam, mereka berdua makan malam di rumah karena Marina sedang di luar kota.
"Papa enggak ikut Mama?" tanya Alea sambil menata piring.
"Tidak. Aku lebih nyaman di rumah." Reynald tersenyum kecil. "Lagi pula, kalau aku pergi, siapa yang jagain kamu?"
Alea terkekeh gugup. "Aku udah dewasa, Pa. Enggak perlu dijagain."
"Tetap saja. Kamu masih putriku."
Kata itu membuat Alea terdiam. Putriku.
Tapi entah kenapa, ada nada berbeda di suara Reynald yang membuat hatinya gelisah.
Beberapa hari kemudian, Marina pulang lebih cepat dari rencana. Tapi malam itu, sesuatu membuatnya tidak bisa tidur.
Ketika ia hendak turun ke dapur mengambil air, ia mendengar suara samar dari ruang kerja Reynald.
Langkahnya berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka. Di dalam, Reynald duduk menatap layar komputer. Ia tidak sadar sedang direkam oleh kamera keamanan yang terpasang di sudut ruangan.
Di layar itu... tampak video lama - rekaman dari CCTV rumah, memperlihatkan Alea di taman belakang, tertawa saat bermain hujan.
Reynald menatapnya lama, tersenyum samar.
Marina terpaku. Ia tak tahu harus merasa apa. Marah? Curiga? Takut?
Tapi sesuatu di dalam dirinya berbisik: ada yang tidak beres.
Malam itu, tanpa sepengetahuan Reynald maupun Alea, Marina memanggil teknisi rumah dan meminta salinan semua rekaman dari kamera keamanan.
Dan di sanalah semuanya dimulai -
kebenaran yang selama ini tersembunyi perlahan membuka dirinya, satu demi satu, menunggu saatnya menghancurkan segalanya.
Malam itu, Marina tidak tidur sama sekali.
Cahaya dari layar laptop di pangkuannya memantulkan wajah pucatnya, sementara jari-jarinya bergetar halus di atas tombol play.
Rekaman itu masih berulang - adegan dari taman belakang rumah mereka beberapa bulan terakhir.
Semula tampak biasa: Alea sedang membaca di bawah pohon, menyiram bunga, atau bermain dengan kucing peliharaan mereka. Tapi yang membuat jantung Marina berdegup cepat adalah siapa yang selalu muncul di rekaman itu - Reynald.
Selalu ada Reynald.
Selalu berdiri terlalu dekat.
Selalu menatap Alea terlalu lama.
Dan dalam beberapa rekaman, Reynald tidak sadar kalau kameranya aktif. Tatapan itu... bukan tatapan seorang ayah terhadap anaknya.
"Ya Tuhan..." bisik Marina serak. Tangannya menutup mulut sendiri, air matanya jatuh tanpa sadar.
Ia tahu suaminya sudah berubah sejak beberapa tahun lalu - lebih pendiam, lebih gelisah, tapi ia pikir itu hanya karena tekanan pekerjaan atau usia.
Namun kini, setiap potongan video yang ia tonton terasa seperti luka baru yang menusuk jantungnya.
Apakah aku buta selama ini?
Ataukah aku terlalu percaya pada seseorang yang tidak lagi sama?
Pagi harinya, Marina mencoba bersikap biasa. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, menyapa Reynald dan Alea dengan senyum yang nyaris hancur.
Namun dalam diam, matanya terus meneliti - setiap gerak, setiap tatapan.
"Aku buatkan kopi, Pa?" tanya Alea lembut sambil menata roti di meja.
"Seperti biasa, dua sendok gula," sahut Reynald sambil membuka surat kabar.
Alea mengangguk dan berjalan ke dapur.
Marina menatap punggung suaminya lama. Lalu pelan-pelan, ia berkata, "Aku lihat kamu tidur larut semalam."
Reynald menoleh sekilas, suaranya datar. "Ada laporan yang harus aku selesaikan."
"Laporan atau... sesuatu yang lain?" tanya Marina dengan nada halus tapi mengandung duri.
Reynald menurunkan surat kabar. "Apa maksudmu?"
Marina menatapnya tajam, namun hanya sejenak. Ia tersenyum samar. "Tidak. Hanya bertanya."
Alea kembali membawa kopi. "Ini, Pa."
"Terima kasih, sayang," ucap Reynald.
Kata "sayang" itu membuat hati Marina bergetar aneh. Dulu Reynald hampir tak pernah memanggil Alea begitu, bahkan saat gadis itu masih kecil. Tapi belakangan, seolah sudah menjadi kebiasaan.
Marina menggenggam sendoknya erat-erat. Suara logam beradu pelan dengan piring, menggema di ruang makan yang terlalu sunyi.
Hari berganti hari, dan Marina mulai menyelidiki dalam diam. Ia meminta bantuan kepercayaannya, Dewi, seorang staf di yayasan sekaligus teman lamanya, untuk membantu memeriksa rekaman lama.
Mereka duduk di ruang kecil di kantor yayasan sore itu, menatap layar komputer yang menampilkan deretan video keamanan rumah.
"Bu, ini semuanya dari tiga bulan terakhir," kata Dewi hati-hati. "Apa Ibu yakin ingin lihat semuanya? Mungkin tidak semua penting."
Marina menggeleng pelan. "Aku harus tahu."
Mereka menonton dalam diam.
Beberapa video memang biasa - Reynald di ruang kerja, Alea membaca di taman, kadang mereka berbicara di dapur. Tapi semakin lama ditonton, semakin jelas pola yang sama: Reynald selalu mencari alasan untuk dekat dengan Alea.
Dan di beberapa rekaman malam hari...
Tampak Reynald berdiri di depan kamar Alea, hanya berdiri diam beberapa menit sebelum pergi.
Dewi menatap layar dengan wajah tegang. "Bu Marina..."
"Sst..." Marina menahan napas. Ia tak sanggup mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.
Setelah beberapa menit, Marina menutup laptop dengan gemetar. "Cukup."
"Bu, apa yang sebenarnya-"
"Cukup, Dewi. Tolong jangan ceritakan pada siapa pun."
Dewi mengangguk pelan. Ia tahu batasannya. Tapi dari sorot mata Marina, ia tahu - sesuatu yang besar sedang bergejolak di balik wajah tenang wanita itu.
Malamnya, Marina duduk sendirian di taman belakang. Angin malam berembus lembut, membawa aroma melati yang baru mekar. Di pangkuannya, ada secangkir teh yang sudah dingin.
Ia menatap ke arah kamar Alea yang jendelanya masih terang.
Alea memang bukan darah dagingnya. Tapi cinta Marina padanya tulus, bahkan lebih besar dari apa pun di dunia ini. Ia membesarkan gadis itu dengan kasih, dengan keyakinan bahwa ia sedang menebus kekosongan hidup yang tak bisa diisi oleh keturunan sendiri.
Dan kini... semua cinta itu terasa diuji dengan cara paling kejam.
Langkah pelan terdengar mendekat. "Mama belum tidur?"
Alea berdiri di belakangnya dengan wajah cemas.
Marina tersenyum lembut, menyembunyikan guncangnya hati. "Mama cuma butuh udara segar. Kamu belum tidur juga?"
"Aku sedang baca, tapi tadi dengar suara di taman. Kukira Mama kedinginan."
Marina menepuk kursi di sebelahnya. "Duduk sini."
Alea duduk, menggigit bibir. "Mama kelihatan capek. Ada masalah di yayasan?"
Marina memandang gadis itu lama sekali. Senyum di bibirnya nyaris pudar.
"Kadang, orang bisa menyembunyikan sesuatu yang sangat besar... di balik senyum yang kelihatan tenang," ucapnya pelan.
Alea menatap bingung. "Maksud Mama?"
"Tidak apa-apa." Marina menggeleng, lalu mengusap kepala Alea lembut. "Kamu tumbuh jadi gadis yang baik. Mama bangga sekali."
Alea tersenyum, lalu memeluknya. "Aku sayang Mama."
Pelukan itu hangat, namun di dada Marina terasa seperti bara. Ia ingin percaya semuanya masih seperti dulu, tapi potongan-potongan kebenaran itu terus menampar pikirannya.
Beberapa hari kemudian, Marina memutuskan untuk berbicara langsung pada Reynald.
Ia menunggu hingga malam, ketika Alea sudah tidur, lalu masuk ke ruang kerja suaminya.
Reynald sedang membaca berkas, tapi matanya menatap kosong. Ketika Marina masuk, ia mendongak.
"Kamu belum tidur?" tanyanya.
"Belum. Aku ingin bicara."
Nada suara Marina tegas.
Reynald menutup berkasnya, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Tentang apa?"
Marina mendekat, berdiri tepat di depan meja. "Tentang Alea."
Tatapan Reynald berubah sekilas. "Alea kenapa?"
"Harusnya aku yang tanya. Alea kenapa?"
Hening panjang. Hanya suara jam di dinding yang berdetak.
"Aku tidak mengerti maksudmu," Reynald akhirnya menjawab, berusaha terdengar tenang.
Marina menatap langsung ke matanya. "Aku sudah lihat rekamannya, Reynald."
Wajah suaminya membeku. "Rekaman apa?"
"CCTV rumah. Kau tahu betul apa yang kumaksud."
Reynald bangkit dari kursi, matanya membulat. "Kau mengawasi aku?"
"Tidak," suara Marina bergetar. "Aku hanya ingin tahu kenapa suamiku menatap anak kami seperti itu. Kenapa kau berdiri di depan kamarnya tengah malam. Kenapa kau menatapnya seolah-"
"Cukup!" Reynald membentak, menghantam meja dengan kepalan tangan.
Suara itu menggema di ruang kerja. Marina tersentak, tapi tak mundur.
"Jawab aku, Reynald! Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?"
Reynald memejamkan mata, menarik napas panjang. "Tidak ada apa-apa. Jangan bicara seolah aku monster."
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau sembunyikan ini? Kenapa aku harus tahu dari kamera, bukan dari suamiku sendiri?"
Reynald menatap istrinya dalam-dalam. Ada kelelahan, ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang gelap di balik matanya.
"Aku hanya... bingung," katanya akhirnya. "Alea tumbuh begitu cepat. Dia mengingatkanku pada masa muda kita, Marina. Aku tidak pernah-"
"Berhenti!" Marina menjerit pelan, suaranya pecah. "Jangan samakan anak itu dengan aku!"
Reynald terdiam.
Air mata Marina jatuh. "Aku percaya padamu, Reynald. Aku mempercayakan Alea padamu. Tapi sekarang, aku bahkan takut memandangmu."
Tanpa menunggu jawaban, Marina pergi meninggalkan ruangan. Pintu tertutup keras di belakangnya.
Reynald berdiri di sana, wajahnya tenggelam dalam bayangan lampu redup. Suara napasnya berat. Ia tahu - sejak malam itu, segalanya tidak akan sama lagi.
Keesokan paginya, Alea menyadari perubahan aneh di rumah.
Mama tidak banyak bicara, Papa tampak gelisah. Suasana yang dulu hangat kini seperti ladang es.
Saat sarapan, Marina hanya berkata singkat. "Alea, minggu depan kamu ikut Mama ke yayasan. Ada program baru yang butuh pengawasan langsung."
"Tapi aku masih bantu Papa di kantor."
"Papa bisa urus sendiri," potong Marina tanpa menatap.
Alea menatap keduanya bergantian, bingung. "Ada yang salah, Ma?"
"Tidak ada, sayang," jawab Marina sambil tersenyum kaku. "Mama cuma ingin kamu dekat Mama dulu."
Reynald hanya diam, menatap piringnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, meja makan keluarga Pradipta terasa seperti medan perang yang sunyi.
Hari-hari berikutnya menjadi berat. Marina membawa Alea lebih sering bekerja di yayasan, menjauhkan gadis itu dari rumah.
Sementara Reynald, yang biasanya sibuk, kini sengaja pulang larut malam. Rumah itu terasa hampa.
Namun suatu sore, ketika Marina sedang rapat, Alea pulang lebih dulu untuk mengambil dokumen. Ia tidak tahu bahwa Reynald juga ada di rumah.
"Pa?" panggilnya dari pintu depan.
Reynald muncul dari ruang kerja. "Kamu belum ikut Mama?"
"Rapatnya belum selesai. Aku cuma ambil map biru yang tertinggal."
Reynald mengangguk. "Baik. Silakan."
Saat Alea menaiki tangga, matanya menangkap pantulan wajah Reynald di kaca lemari - menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Ia menahan napas, lalu pura-pura tidak melihat. Tapi langkahnya semakin cepat.
Di kamar, Alea menutup pintu dan bersandar di baliknya, jantungnya berdegup tak karuan. Ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini tatapan Papa membuatnya tidak tenang.
Namun sebelum sempat menenangkan diri, terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Alea?" suara itu berat. "Kamu baik-baik saja?"
Alea menelan ludah. "Iya, Pa. Aku cuma cari map."
"Boleh Papa bantu?"
"Enggak usah, Pa! Aku sudah ketemu!"
Sunyi. Reynald tidak menjawab, tapi bayangan kakinya terlihat di celah bawah pintu beberapa detik sebelum akhirnya pergi.
Alea menatap pintu itu lama.
Sesuatu di dalam dirinya berkata: ada yang berubah. Dan perubahan itu menakutkan.
Malamnya, Marina pulang. Ia melihat sepatu Alea di depan kamar dan mengetuk pintu perlahan.
"Alea? Sudah tidur?"
Tidak ada jawaban.
Ia membuka sedikit, dan melihat Alea tertidur di atas meja belajar, masih dengan pakaian kerja dan dokumen berserakan.
Marina mendekat, menyelimuti putrinya, lalu memandangi wajah itu dengan air mata yang menetes diam-diam.
"Maafkan Mama, sayang," bisiknya lirih. "Kamu tidak seharusnya terjebak di antara kami."
Ia menatap keluar jendela - ke arah ruang kerja Reynald yang masih menyala.
Wajahnya berubah keras.
Ia tahu, cepat atau lambat, semuanya harus diakhiri.
Dan ketika pagi datang, keputusan besar sudah ia buat.
Di meja sarapan, suasana kembali tegang.
Marina berbicara tanpa basa-basi. "Reynald, aku ingin bicara setelah ini."
Reynald menatapnya dingin. "Tentang apa lagi?"
"Perceraian."
Alea yang baru duduk langsung menatap keduanya. "Mama!"
Marina menoleh cepat. "Kamu makan dulu, sayang."
"Tidak! Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"
Reynald berdiri, nada suaranya meninggi. "Kau sudah gila, Marina?"
"Tidak," jawab Marina tegas. "Aku hanya ingin kita berhenti menyakiti satu sama lain. Dan aku ingin Alea hidup di lingkungan yang sehat."
Alea menatap keduanya, kebingungan dan ketakutan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Marina menatap anaknya dengan mata berkaca. "Kamu terlalu baik untuk tahu semua ini sekarang, sayang."
Reynald menatap Alea sekilas, lalu kembali ke arah istrinya. "Kau tidak berhak memisahkan aku dari Alea."
"Dia bukan milikmu, Reynald," jawab Marina dingin. "Dia manusia, bukan pelarian dari kesepianmu."
Ucapan itu seperti tamparan keras.
Reynald terdiam. Alea menatap antara keduanya, air matanya jatuh. "Mama, Papa, tolong... jangan bertengkar."
Tapi semuanya sudah terlambat.
Retakan yang dulu kecil kini membesar, tak bisa ditutup lagi.
Malam itu, Marina membereskan barang-barang Alea.
Ia sudah memutuskan untuk pindah sementara ke rumah ibunya.
Namun saat ia membuka laci meja Alea, ia menemukan sebuah surat kecil tertulis tangan.
Mama dan Papa, aku minta maaf kalau aku jadi alasan kalian bertengkar. Aku enggak tahu apa salahku. Aku cuma mau keluarga kita seperti dulu lagi. Tapi kalau aku yang harus pergi supaya Mama dan Papa bahagia, aku akan pergi.
Surat itu membuat Marina terjatuh berlutut.
Tangisnya pecah, menggema di kamar yang sunyi.
Namun di ruang sebelah, Reynald berdiri di depan pintu, mendengarkan.
Matanya merah, wajahnya hancur. Tapi bukan karena penyesalan semata - lebih karena kehilangan sesuatu yang bahkan ia tak bisa definisikan.
Dan malam itu, satu rumah besar yang dulu penuh tawa kini tenggelam dalam senyap yang nyaris menyeramkan.
Di luar, hujan kembali turun, persis seperti malam ketika Alea pertama kali datang ke rumah itu.
Namun kali ini, air hujan tidak membawa harapan baru - hanya kenangan yang perlahan larut bersama penyesalan dan cinta yang tak seharusnya tumbuh.
Hari itu langit mendung. Awan kelabu menggantung di atas rumah besar keluarga Reynald. Di luar, daun-daun jatuh terbawa angin sore, menciptakan suasana muram yang entah kenapa terasa cocok dengan suasana hati Alea hari itu.
Sudah beberapa hari ia merasa ada yang berubah di rumah itu. Reynald jarang bicara. Marina lebih banyak diam, seperti sedang menahan sesuatu yang tak ingin diucapkan. Dan Alea... hanya berusaha bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Ia duduk di tepi jendela kamarnya, menatap taman kecil di bawah sana. Dulu, waktu kecil, tempat itu menjadi saksi tawa mereka bertiga. Reynald mengajari Alea bersepeda, sementara Marina dengan tawa hangatnya menyemangati dari bangku taman. Tapi kini semuanya terasa jauh.
Suara ketukan di pintu memecah lamunannya.
Tok. Tok. Tok.
"Alea?" suara lembut itu terdengar dari balik pintu. Marina.
Alea segera berdiri dan membuka pintu. "Iya, Mama. Ada apa?"
Marina tersenyum kecil, tapi mata itu tampak lelah. "Mama buatkan teh hangat. Kamu kelihatan pucat sejak kemarin."
Alea tersenyum menenangkan. "Aku baik-baik saja, Ma. Hanya kurang tidur."
"Kenapa kurang tidur?" Marina menatapnya penuh perhatian. "Mimpi buruk lagi?"
Alea menggeleng. "Tidak juga. Cuma... aku sering kepikiran kuliah, tugas-tugas, dan mungkin... hal-hal lain."
Marina menatapnya lebih lama, lalu menghela napas pelan. "Alea, kamu sudah dewasa sekarang. Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Mama harap kamu bisa cerita. Jangan dipendam sendiri, ya?"
Alea mengangguk pelan, namun tak ada kata yang keluar. Ia tahu Marina tulus, tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu bagaimana harus memulainya.
"Baiklah," ucap Marina akhirnya. "Kalau begitu, turunlah nanti makan malam. Papa-mu ingin bicara dengan kita."
Alea mengernyit sedikit. "Bicara apa, Ma?"
Marina tersenyum samar. "Entahlah, dia tidak bilang. Tapi sepertinya penting."
Malam datang dengan cepat. Hujan turun deras, membuat udara di rumah terasa dingin dan sepi. Di ruang makan, Reynald duduk dengan ekspresi tenang, meski sorot matanya tampak berat.
Marina duduk di sampingnya, sementara Alea di seberang. Meja makan yang biasanya terasa hangat kini sunyi. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar.
"Papa mau bicara sesuatu?" tanya Marina, memecah hening.
Reynald meletakkan garpunya perlahan. "Iya." Ia menatap keduanya bergantian. "Aku berpikir... sudah saatnya Alea punya kehidupan sendiri."
Alea menghentikan gerak tangannya. "Maksud Papa?"
Reynald menatapnya dengan lembut, tapi ada nada tegas di balik suaranya. "Kamu sudah dewasa, Alea. Sudah cukup mandiri. Papa berpikir mungkin kamu sebaiknya mulai tinggal di apartemen dekat kampus. Lebih mudah untuk belajar, dan kamu bisa mulai belajar hidup mandiri."
Ucapan itu seperti angin dingin yang menerpa dada Alea. Ia menunduk, mencoba menutupi keterkejutannya.
Tinggal sendiri? Kenapa tiba-tiba?
Marina terlihat kaget juga. "Rey, kenapa tiba-tiba membicarakan ini? Bukankah rumah ini luas? Lagipula Alea belum pernah hidup sendiri."
Reynald menatap istrinya sekilas, lalu kembali pada Alea. "Aku hanya ingin dia belajar. Aku juga tidak ingin ada gosip aneh. Kamu tahu sendiri, orang-orang suka bicara macam-macam tentang hubungan di rumah kita."
Marina mengerutkan dahi. "Hubungan apa maksudmu?"
Reynald menghela napas. "Kamu tahu, dia sudah dewasa. Orang luar mungkin salah paham kalau melihat aku terlalu dekat dengannya. Aku hanya ingin melindungi nama baik keluarga kita."
Suasana meja makan seketika membeku. Alea menunduk lebih dalam, menatap piringnya yang sudah dingin. Kata-kata Reynald terasa seperti jarum halus yang menusuk jantungnya.
Apakah Papa merasa aku membuatnya malu? Atau... apakah benar Papa ingin menjauh dariku?
Marina mengangguk pelan. "Aku mengerti, tapi sebaiknya kita bicarakan nanti. Tidak sekarang."
Malam itu, Alea tidak banyak bicara lagi. Ia kembali ke kamarnya dengan kepala penuh pikiran.
Beberapa hari kemudian, Reynald benar-benar menyuruh Alea melihat apartemen yang telah ia sewa.
Alea menatap bangunan tinggi itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia tahu ini kesempatan untuk belajar mandiri. Di sisi lain, entah kenapa terasa seperti diasingkan.
"Papa yakin aku harus pindah ke sini?" Alea bertanya dengan suara pelan.
Reynald yang berdiri di sampingnya hanya menatap lurus ke depan. "Papa hanya ingin kamu punya ruang sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Tapi aku suka di rumah. Aku bisa bantu Mama, dan-"
"Tidak perlu, Alea," potong Reynald lembut, tapi nadanya membuat Alea tak bisa membantah. "Kamu bisa pulang kapan saja. Tapi biarkan Papa merasa tenang."
"Tenang?" gumam Alea nyaris tak terdengar. "Apakah Papa... merasa terganggu kalau aku ada di rumah?"
Reynald menatapnya saat itu juga. Tatapan yang sulit diartikan - campuran antara kasih sayang, penyesalan, dan sesuatu yang disembunyikan. "Tidak. Justru sebaliknya."
Alea menunggu kelanjutan kata-kata itu, tapi Reynald tidak menambah apa pun.
Hari-hari berikutnya terasa hampa. Alea mulai beradaptasi di apartemen barunya, tapi setiap kali malam tiba, ia selalu merasa sepi. Tak ada suara langkah Marina, tak ada aroma kopi dari dapur, tak ada suara Reynald memanggil namanya dari ruang kerja.
Hanya dirinya dan kesunyian.
Suatu malam, hujan deras mengguyur kota. Alea duduk di balkon apartemennya, memeluk lutut sambil menatap lampu-lampu kota yang berpendar samar di bawah sana.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Papa Reynald:
Sudah makan malam? Jangan lupa istirahat cukup, sayang.
Alea menatap layar ponsel lama sekali. Kata "sayang" itu terasa sederhana, tapi di dadanya, kata itu memantik sesuatu yang tak bisa ia pahami.
Ia mengetik balasan perlahan.
Alea:
Sudah, Pa. Terima kasih. Mama gimana kabarnya?
Balasan datang cepat.
Papa Reynald:
Mama baik. Sedang rapat yayasan. Kamu jangan khawatir. Kalau butuh sesuatu, bilang ke Papa saja.
Alea tersenyum samar, tapi matanya terasa panas. "Kenapa rasanya seperti Papa menjauh, tapi tetap menahanku dengan perhatian kecil?" bisiknya sendiri.
Keesokan harinya, Marina datang menjenguk. Ia membawa bekal masakan rumah - sup ayam hangat dan sambal kesukaan Alea.
"Wah, apartemen kamu bagus, ya," ucap Marina sambil memandangi ruangan itu. "Papa-mu yang pilih?"
Alea mengangguk. "Iya. Katanya biar aku lebih fokus belajar."
Marina tersenyum, tapi tatapannya penuh sayang. "Kamu tahu, Alea, waktu Papa-mu pertama kali memutuskan mengangkatmu dulu, aku takut. Takut kamu tidak bisa mencintai kami seperti orang tua sendiri. Tapi ternyata... justru kamu yang membuat rumah itu hidup."
Alea menunduk. "Mama jangan bilang begitu. Aku yang berutang segalanya pada Mama dan Papa."
"Tidak, sayang. Kamu yang menyembuhkan luka kami. Kalau bukan karena kamu, mungkin pernikahan ini sudah lama hancur karena tekanan dan kesedihan. Kamu datang di saat yang tepat."
Kata-kata itu membuat Alea menahan napas. Ia tahu ada banyak hal di balik rumah besar itu - tekanan, rasa bersalah, cinta yang tak selesai antara Marina dan Reynald. Dan entah kenapa, ia mulai merasa menjadi bagian dari masalah itu.
Malamnya, setelah Marina pulang, Alea membuka laci meja belajarnya. Di dalamnya ada sebuah foto lama - dirinya kecil bersama Reynald dan Marina di taman belakang rumah.
Ia menatap wajah Reynald di foto itu lama sekali. Lelaki itu tampak muda, bahagia, dan penuh kasih.
"Papa dulu tersenyum seperti ini," gumamnya pelan. "Tapi kenapa sekarang terasa berbeda?"
Sebuah ketukan lembut di pintu membuat Alea tersentak. Ia bangkit dan berjalan ke arah pintu. Begitu dibuka, sosok yang sama berdiri di sana.
"Papa?" suaranya hampir bergetar.
Reynald berdiri di depan pintu apartemen dengan jas hitamnya yang masih basah karena hujan. "Maaf datang tanpa kabar. Papa sedang lewat dan... ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Alea menatapnya ragu. "Aku baik, Pa. Tapi Papa kenapa basah begini?"
Reynald tersenyum samar. "Tidak apa-apa. Papa hanya tidak ingin menunda-nunda. Entah kenapa... Papa merasa harus melihat kamu malam ini."
Alea terdiam. Ia membiarkan Reynald masuk, lalu mengambil handuk kecil untuknya. "Papa duduk dulu, aku ambilkan teh."
Reynald memperhatikan setiap gerakannya dengan tatapan lembut, tapi mata itu menyimpan beban berat. Saat Alea kembali dengan secangkir teh, ia berkata pelan, "Alea, Papa minta maaf."
Alea mengerutkan kening. "Untuk apa, Pa?"
"Untuk membuatmu merasa diasingkan. Untuk semua kebingungan ini. Papa hanya... takut kehilangan kendali atas sesuatu yang seharusnya Papa jaga."
Alea tidak langsung mengerti. Tapi nada suara Reynald membuat jantungnya berdetak cepat. Ada sesuatu dalam cara lelaki itu berbicara - seolah berusaha mengakui sesuatu tapi menahannya di tengah jalan.
"Papa tidak pernah benar-benar ingin menjauh," lanjutnya. "Papa hanya ingin melindungi kamu... dan Mama."
Alea menunduk, menatap uap teh yang menari di udara. "Aku juga takut kehilangan Papa dan Mama," ucapnya lirih. "Kalian keluarga yang aku punya."
Reynald tersenyum samar. "Kamu anak yang kuat, Alea."
Mereka terdiam lama. Hanya suara hujan di luar yang terdengar.
Dalam diam itu, ada perasaan yang menggantung - tidak terucap, tidak diakui, tapi jelas terasa.
Hujan makin deras. Reynald akhirnya berdiri. "Sudah malam. Papa pulang dulu."
Alea mengantarnya sampai pintu. Tapi sebelum pergi, Reynald menatapnya lagi. Tatapan itu begitu dalam, membuat Alea menahan napas.
"Jaga dirimu baik-baik," katanya.
Begitu pintu tertutup, Alea menatap kepergian itu lama sekali.
Untuk pertama kalinya, ia sadar: ada sesuatu yang sedang berubah - bukan hanya dalam keluarganya, tapi juga di dalam dirinya sendiri.
Sesuatu yang tak seharusnya ada, tapi tak bisa ia hentikan.
Dan di luar sana, di balik kaca jendela apartemen, hujan terus turun tanpa henti - seolah menjadi saksi dari rahasia yang mulai tumbuh di antara mereka.
Sudah seminggu sejak malam hujan itu, saat Reynald datang ke apartemennya tanpa kabar.
Alea masih bisa mengingat setiap detailnya-aroma jas basah yang melekat di udara, tatapan mata yang sulit dijelaskan, dan kata-kata samar yang terus bergema di kepalanya:
"Papa hanya takut kehilangan kendali atas sesuatu yang seharusnya Papa jaga."
Sejak saat itu, suasana hatinya tidak pernah benar-benar tenang.
Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat.
Setiap kali mendengar suara mobil berhenti di parkiran bawah, pikirannya langsung membayangkan satu sosok-Reynald.
Namun, lelaki itu tidak datang lagi. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan.
Seolah malam itu hanya mimpi singkat yang menimbulkan luka samar di hatinya.
Suatu sore, Alea duduk di ruang tamu kecil apartemennya, menatap setumpuk buku kuliah yang belum disentuh. Pikirannya melayang jauh, sampai suara ketukan di pintu membuatnya tersadar.
Tok. Tok. Tok.
Ia segera berdiri, membuka pintu, dan menemukan Marina berdiri di sana dengan senyum hangat.
"Ma?"
Marina mengangguk pelan, memeluknya begitu pintu terbuka. "Kamu sibuk, sayang?"
Alea balas memeluk, menahan air mata yang tiba-tiba ingin keluar. "Enggak, Ma. Aku kangen."
Marina tersenyum lembut. "Mama juga. Kamu terlihat kurus. Kamu makan benar nggak, hm?"
Alea hanya tertawa kecil. "Masih makan kok, Ma. Cuma kadang lupa."
Marina menatap wajah putrinya itu lama, lalu berkata pelan, "Alea, boleh Mama tanya sesuatu?"
"Boleh, Ma. Ada apa?"
Marina menarik napas pelan. "Beberapa hari ini Papa-mu kelihatan aneh. Dia diam, banyak bengong di ruang kerja. Kalau Mama tanya, dia selalu bilang 'nggak apa-apa'. Tapi Mama tahu, pasti ada sesuatu."
Alea menelan ludah. "Mungkin Papa cuma capek, Ma. Urusan kantor, mungkin."
Marina menggeleng pelan. "Tidak. Ini bukan tentang kantor. Tatapan matanya... seperti menyimpan sesuatu yang berat." Ia berhenti sebentar, lalu menatap Alea lebih dalam. "Kamu tahu sesuatu, Alea?"
Pertanyaan itu seperti pisau tipis yang menyentuh nadi. Alea ingin menjawab, tapi lidahnya kelu.
"Enggak, Ma," jawabnya akhirnya. "Aku... nggak tahu apa-apa."
Marina menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau kamu nggak mau bicara, Mama nggak akan memaksa. Tapi ingat, apa pun itu, kamu bisa cerita. Mama di sini, selalu."
Alea mengangguk pelan, mencoba menahan getaran di suaranya. "Aku tahu, Ma."
Beberapa hari kemudian, Alea memutuskan untuk berkunjung ke rumah.
Bukan karena alasan tertentu-ia hanya merasa rindu. Tapi saat sampai di gerbang besar rumah itu, perasaannya mendadak berat. Seperti ada sesuatu di udara yang berbeda.
Begitu masuk, ia disambut oleh suara pelan dari ruang tamu. Reynald sedang berbicara lewat telepon, suaranya rendah tapi tegas.
"Ya, aku tahu. Tolong jangan sebut nama dia. Ini urusan pribadi."
Alea berhenti di balik dinding, tak sengaja mendengar.
Ia menelan ludah, menahan napas.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi," lanjut Reynald. "Aku hanya ingin memastikan semuanya tetap seperti semula. Tidak ada yang berubah."
Seketika, langkah kaki terdengar dari arah belakang. Alea buru-buru mundur. Marina muncul dari dapur sambil membawa nampan buah.
"Alea!" serunya senang. "Kamu datang tanpa kabar!"
Alea memaksa tersenyum. "Iya, Ma. Kangen rumah."
Reynald yang mendengar suara itu menoleh. Seketika ekspresinya berubah. Dari tegang menjadi datar, tapi mata itu masih menyimpan sesuatu yang berat.
"Kamu datang sendiri?" tanya Reynald, mendekat.
Alea mengangguk. "Iya, Pa. Tadi selesai kuliah langsung ke sini."
Reynald tersenyum tipis. "Baiklah. Papa senang kamu datang."
Marina memandangi keduanya bergantian. "Aku siapkan makan malam, ya. Sekalian kumpul bertiga."
"Boleh, Ma," jawab Alea lembut.
Makan malam malam itu terasa aneh.
Reynald jarang bicara. Ia hanya sesekali menatap Alea dari ujung meja, tatapan yang membuat Alea tidak nyaman.
Marina mencoba mencairkan suasana dengan bercerita tentang proyek yayasannya, tapi suasana tetap berat.
"Papa," ucap Alea akhirnya, "minggu depan aku ada presentasi besar. Kalau sempat, datang ya."
Reynald menatapnya. "Tentu. Papa akan datang."
Marina tersenyum. "Papa-mu pasti datang. Dia bangga padamu."
Namun, di balik kata-kata itu, ada sesuatu yang retak.
Reynald memalingkan wajah, menyembunyikan sesuatu di balik senyum tenangnya.
Setelah makan malam, Marina menerima telepon dan meninggalkan meja. Alea dan Reynald tinggal berdua.
Keheningan terasa menyesakkan.
"Papa," ucap Alea pelan, "malam itu... Papa datang ke apartemen. Kenapa Papa bilang takut kehilangan kendali?"
Reynald menatapnya lama. "Kamu masih ingat?"
Alea mengangguk. "Bagaimana aku bisa lupa?"
Reynald menunduk, mengusap pelipisnya. "Papa hanya manusia, Alea. Kadang perasaan dan pikiran bisa kabur batasnya. Papa tidak seharusnya membiarkan itu terjadi."
Alea menatapnya, perasaannya campur aduk antara marah, sedih, dan bingung. "Kalau Papa merasa bersalah, kenapa malah menjauhiku? Aku tidak pernah melakukan apa pun."
Reynald mengangkat wajahnya perlahan. "Justru itu, Alea. Karena kamu tidak melakukan apa-apa. Karena kamu terlalu murni. Papa takut merusak sesuatu yang tidak seharusnya disentuh."
Kata-kata itu membuat dada Alea sesak. Ia berdiri cepat, menahan air mata. "Papa... jangan bicara begitu."
Reynald bangkit juga, berusaha menenangkannya. "Alea, dengarkan Papa dulu-"
"Tidak!" Alea melangkah mundur. "Aku nggak mau dengar! Aku nggak mau Papa bicara seolah aku penyebab semuanya!"
Suara mereka cukup keras hingga Marina muncul di ambang pintu. "Ada apa ini?"
Alea segera menghapus air matanya. "Nggak ada apa-apa, Ma. Aku cuma mau pulang."
"Pulang? Tapi malam masih hujan, Alea-"
"Tidak apa-apa. Aku naik taksi."
Sebelum siapa pun sempat menahan, Alea sudah berlari keluar rumah, meninggalkan keduanya dalam kebisuan yang menyakitkan.
Malam itu, Marina berdiri di ruang tamu menatap suaminya lama.
"Rey," ucapnya dingin, "aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu."
Reynald mendesah berat. "Marina, jangan mulai-"
"Jangan mulai?" Marina menatapnya tajam. "Kamu pikir aku buta? Aku bisa melihat caramu menatap Alea. Seperti ada sesuatu di matamu yang tidak seharusnya ada."
Reynald terpaku. "Kamu salah paham."
"Tidak," Marina menggeleng. "Kali ini aku tidak salah." Ia menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku mencintaimu, Rey. Tapi kalau memang kamu... kalau kamu sudah tidak bisa membedakan batas, katakan padaku sekarang sebelum aku kehilangan rasa hormat."
Reynald menunduk, suaranya bergetar. "Aku tidak pernah... menyentuhnya. Tidak pernah."
"Tapi kamu memikirkannya?" suara Marina pecah.
Reynald menutup matanya. Ia tak sanggup menjawab.
Marina menahan napas lama, lalu berjalan pergi tanpa berkata apa pun lagi.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, rumah itu benar-benar sunyi.
Di apartemen, Alea menangis sepanjang malam.
Bukan karena benci, tapi karena kecewa.
Ia tidak tahu harus marah pada siapa-pada Reynald yang berubah, atau pada dirinya sendiri yang tanpa sadar membiarkan perasaan aneh itu tumbuh di sela kasih sayang keluarga.
Keesokan harinya, Marina datang ke apartemen. Wajahnya lelah, tapi tatapannya lembut.
"Alea," ucapnya, "Mama mau kamu jujur sama Mama. Ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Papa?"
Alea menggeleng cepat. "Tidak ada, Ma. Aku bersumpah. Tidak ada apa pun."
Marina menatapnya lama, seolah mencoba mencari kebenaran di matanya. Tapi akhirnya ia hanya menghela napas. "Baiklah. Mama percaya. Tapi untuk sementara... biarkan Papa sendiri dulu. Dia butuh waktu."
Alea menunduk. "Aku juga."
Hari-hari berikutnya berjalan lambat.
Reynald jarang ke kantor. Ia banyak mengurung diri di ruang kerja. Marina sibuk dengan kegiatan yayasan, berusaha menutupi kegelisahannya dengan pekerjaan.
Dan Alea-ia menenggelamkan diri dalam kuliah, tapi setiap kali malam tiba, bayangan rumah itu terus menghantui pikirannya.
Suatu sore, teleponnya berdering. Nomor tak dikenal.
"Hallo?"
"Ini aku," suara itu berat, familiar. Reynald.
"Papa?" Alea terdiam beberapa detik. "Kenapa telepon?"
"Apa kamu baik-baik saja?"
Alea menelan ludah. "Iya. Papa juga?"
Reynald tertawa pelan, getir. "Tidak terlalu. Rumah terasa kosong tanpa kamu."
"Papa... jangan bilang begitu."
"Maaf," ucap Reynald cepat. "Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya... ingin bilang kalau apa pun yang terjadi, kamu tetap anakku. Tidak akan berubah."
Alea menggigit bibirnya, matanya panas lagi. "Aku tahu, Pa. Tapi biarkan semuanya tenang dulu."
"Baiklah," suara itu lirih. "Jaga dirimu, Alea."
Telepon terputus, tapi dada Alea masih sesak. Ia menatap ponselnya lama. Di antara semua rasa sakit itu, ada kasih sayang yang aneh-tidak salah sepenuhnya, tapi juga tidak bisa dibenarkan.
Beberapa minggu kemudian, Marina datang menemuinya lagi.
Wajahnya lebih tenang, meski ada bayang lelah di matanya.
"Papa-mu berangkat ke luar kota," ucapnya. "Dia bilang ingin menenangkan diri."
Alea hanya mengangguk pelan.
Marina duduk di sampingnya, menggenggam tangan anak angkatnya itu erat. "Alea, apa pun yang terjadi, jangan merasa bersalah. Kamu tidak salah. Semua ini hanya kesalahan hati manusia yang terlalu rapuh."
Alea akhirnya menangis di pelukan Marina. Tangis yang menahan segalanya-rasa takut, cinta, kehilangan, dan kerinduan yang tak tahu arah.
Malam itu, setelah Marina pulang, Alea duduk di balkon, menatap langit kota yang gelap.
Ia berbisik pelan, seperti berbicara dengan angin,
"Papa... aku harap ketika semuanya tenang, kita bisa kembali seperti dulu. Karena aku rindu keluarga kita. Rindu rasa aman yang dulu Papa berikan tanpa keraguan."
Dan jauh di tempat lain, Reynald menatap layar ponselnya yang gelap-menyimpan pesan yang belum sempat ia kirim.
"Maaf, Alea. Papa hanya ingin melindungimu, tapi malah membuatmu terluka."
Langit di atas kota tetap kelabu, seperti menyimpan rahasia yang belum selesai.
Namun satu hal pasti: hubungan mereka bertiga tak akan pernah sama lagi.
Mereka masih keluarga-tapi keluarga yang kini belajar berdiri di atas luka, diam-diam berdoa agar waktu bisa memperbaiki yang telah retak.
Dan di suatu tempat di dalam hatinya, Alea tahu: ini bukan akhir.
Ini baru permulaan dari perjalanan panjang menuju kebenaran yang belum terungkap.