Bab 1

"Yunus ... kalau sekarang aku merestui hubunganmu dengan Naya, apa kamu bersedia menikah dengannya?"

Degh!

Jantung Yumna seolah berhenti sejenak mendengar kata-kata tersebut. Langkahnya yang semula bersemangat menuju restoran untuk menyusul suaminya, tiba-tiba terhenti. Dia merasa seperti ditampar oleh realitas yang tak terduga.

Naya adalah perempuan yang dulunya menjadi calon istri Ustad Yunus melalui proses ta'aruf. Namun, sayangnya, mereka tidak berhasil mendapatkan restu dari kedua orang tua Naya dan membuatnya terpaksa mengakhiri hubungan.

Hal ini terjadi karena Ayah Cakra menganggap Ustad Yunus tidak memenuhi kriteria menantu idamannya, terutama setelah mengetahui bahwa Ustad Yunus bekerja sebagai marbot masjid.

Selain itu, Ayah Cakra juga pernah menghinanya sebagai pria miskin.

Sejak awal, Yumna telah memiliki firasat buruk saat melihat kedatangan Ayah Cakra—pria yang dulunya pernah menjadi calon mertua suaminya. Pria itu datang dengan permintaan untuk berbicara secara empat mata dengan suaminya, dan seketika itu juga, firasat buruk Yumna semakin kuat.

Rasa sakit di dadanya semakin terasa, saat dia melihat ekspresi suaminya. Wajah Ustad Yunus tampak berbunga, meski ada sedikit kejutan di matanya. Yumna memutuskan untuk berdiam diri sejenak, memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.

Dia berdiri di sana, hatinya berdebar-debar, menunggu jawaban dari suaminya.

"Menikah dengannya?!"

"Iya, Nus," sahut Ayah Cakra. "Dan aku yakin ... kamu pasti masih sangat mencintai Naya, begitu pun sebaliknya."

Air mata Yumna mulai mengalir. Rasa sakit dan kebingungan melanda hatinya secara bersamaan.

"Tapi Bapak 'kan tau saya sekarang sudah punya istri. Saya juga sudah mengakhiri ta'arufan saya dengan Naya, Pak."

"Itu sama sekali nggak masalah, Nus!" balas Ayah Cakra cepat. "Aku juga nggak akan memintamu untuk menceraikan istrimu. Sekarang yang perlu kamu lakukan hanya menjadikan Naya istri keduanya."

Kedua mata Yumna sontak membulat. Dia terkejut bukan main, mendengar permintaan konyol itu.

Tidak ada perempuan di luar sana yang rela menjadi bagian dari poligami. Begitu pun dengan Yumna.

Rasa takut tiba-tiba melanda diri Yumna, karena dia menyadari bahwa suaminya mungkin akan menuruti permintaan tersebut. Dia bisa merasakan bahwa Ustad Yunus masih menyimpan perasaan terhadap Naya, dan itu membuatnya semakin terluka. Dengan keberanian yang dia miliki, Yumna langsung melangkah mendekati mereka.

"Aku nggak mau dimadu, Mas!" teriak Yumna dengan suara yang penuh emosi, mencerminkan ketegasan dan keberanian hatinya.

Ustad Yunus dan pria di depannya itu terkejut dan segera berdiri dari tempat duduk mereka.

"Tolong jangan lakukan itu, Mas! Aku mohon..." tambah Yumna dengan air mata yang semakin deras.

"Dek... bagaimana kamu bisa ada di sini?" Ustad Yunus mendekatinya dengan cepat.

"Mas nggak perlu tahu bagaimana aku bisa ada di sini! Intinya, aku nggak ingin menjadi istri yang kedua! Aku ingin menjadi satu-satunya istri Mas!" tegas Yumna sambil memeluk tubuh Ustad Yunus.

'Ah sial!! Kenapa coba istrinya si Yunus pakai acara samperin ke sini?! Bisa gagal kalau begini ceritanya!' Ayah Cakra menggerutu dalam hati, sambil menggertakkan giginya.

"Ayo, cepat katakan kepada Ayah Naya bahwa saya tidak ingin berpoligami. Saya hanya ingin menjadi suami satu-satunya!" Yumna memohon dengan suara lantang, suaranya penuh keputusasaan.

"Tapi, Dek, saya—"

"Dih, Mas... jadi Mas ingin berpoligami, ya?" potong Yumna, lalu langsung mendongakkan wajahnya, menatap sendu sang suami dengan air mata yang masih berlinang. "Mas kok tega sih sama aku? Katanya Mas mencintaiku, apa rasa cinta Mas sekarang berkurang, ya? Hikkssss ... Mas jahat!!" tambahnya berteriak, tapi Yumna makin mempererat pelukan.

"Bukan, Dek! Bukan begitu maksud saya," balas Ustad Yunus seraya mengelus punggung sang istri untuk mencoba menenangkannya. Kemudian dia menatap kembali ke arah Ayah Cakra yang sedari tadi diam ditempat. "Maaf, Pak, saya nggak bisa. Nggak bisa menuruti permintaan Bapak. Dan kalau begitu ... saya permisi pamit pulang duluan sama istri saya. tambah Ustad Yunus.

Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Ustad Yunus sudah lebih dulu pergi dari sana bersama Yumna.

Karena tangis perempuan itu semakin kencang, hal itu menjadi tidak nyaman bagi pengunjung lain. Ustad Yunus tentunya tidak ingin menciptakan keributan di tempat orang.

***

"Deeekk ... udahan nangisnya."

Selama dalam perjalanan pulang menaiki mobil taksi, Yumna terus menerus menangis.

Diminta berhenti oleh Ustad Yunus pun nyatanya dia seolah tak mendengar. Jadi pria itu merasa bingung sendiri harus berbuat apa.

Dan disisi lain, seketika saja Ustad Yunus jadi mengingat momen pertemuannya tadi dengan Ayah Cakra.

Aneh sekali rasanya, mengapa pria itu tiba-tiba memintanya untuk menikahi Naya. Apalagi sampai menjadikannya istri kedua?

'Apa ada sesuatu yang terjadi sama Naya, ya?' batinnya berpikir.

Sepertinya tidak mungkin pria itu melakukan hal semacam itu jika tidak ada penyebabnya. Ustad Yunus pun tahu betul, bagaimana Ayah Cakra yang dulunya tidak menyukainya.

'Ah semoga saja nggak ada apa-apa. Ya Allah ... tolong lindungi Naya. Kalau misalkan dia sedang sakit tolong sembuhkan lah. Naya adalah perempuan yang sangat baik. Aku akan ikut bersedih jika melihatnya sakit,' batinnya berdo'a.

*

"Udahan, Dek, nangisnya. Ini sudah sampai rumah ... nggak enak kalau Umi tau," tegur Ustad Yunus dengan lembut, saat tak terasa akhirnya mobil taksi yang mereka tunggani berhenti di depan rumah.

'Memang kenapa kalau Umi tau?! Apa Mas takut?' batinnya kesal.

Setelah membayar ongkos taksi, Ustad Yunus lantas mengajak istrinya masuk ke dalam rumah. Dan bertepatan sekali dengan Umi Mae yang baru saja keluar dari dapur.

"Ehhh ... ternyata kalian pergi berdua? Umi kira ke mana. Tapi kenapa nggak pamit dulu?"

Saat Yumna berhasil menyusul Ustad Yunus, perempuan itu memang tidak pamit kepadanya. Jadi wajar Umi Mae bertanya demikian.

"Iya, Umi, Maaf," jawab Ustad Yunus. "Eemmm ... Kalau begitu aku sama Dek Yumna masuk dulu ke kamar, ya? Ini juga sudah mau Magrib."

"Ya udah. Tapi itu Yumna nggak kenapa-kenapa, kan, Nus?? Kok kayak nangis?" tanya Umi Mae yang memerhatikan menantunya.

Perempuan itu masih bersembunyi dibalik kaos suaminya. Pelukannya pun masih belum terlepas sama sekali.

"Dek Yumna hanya sedang salah paham padaku, Umi. Biar aku jelaskan padanya. Kami mau masuk dulu ke kamar, ya?"

"Ya udah sana." Umi Mae langsung mengelus rambut menantunya, kemudian membiarkannya masuk bersama sang anak. "Apa mereka ada masalah? Tapi semoga sih benar apa yang dikatakan Yunus benar ... itu hanya salah paham. Dan kira-kira ... Apa, ya, yang sempat Ayahnya Naya obrolkan dengan Yunus? Apa itu sesuatu yang penting?" Monolognya penasaran.

Umi Mae lantas berlalu keluar dari rumah, hendak menuju ke warungnya sebab ingin dia tutup.

"Sekarang kamu mandi, Dek, biar kita bisa sholat Magrib bareng," titah Ustad Yunus saat keduanya duduk di atas kasur.

Perlahan, kemudian akhirnya Yumna melepaskan pelukannya.

"Bukannya tadi pas Mas bilang sama Umi, kalau Mas mau jelaskan padaku, supaya nggak salah paham? Kok nggak langsung menjelaskan sekarang sih, Mas?" tanya Yumna menagih. Kedua tangannya itu langsung mengusap kedua pipinya yang basah.

##

Hallooo ... selamat datang di novel keduaku di Bakisah. Jangan lupa masukkan ke dalam rak dan kasih ulasan terbaik bintang 5.

Komentarnya jangan lupa, biar nggak jadi pembaca ghoib. Hehehehe...

Follow juga Intagraam-ku @rossy_dildara

Karena ada banyak visual dan info lainnya di sana.

Terima kasih ◉‿◉

Bab 2

"Oh iya, kamu nggak perlu salah paham dan berpikir seperti itu, Dek. Karena saya disini nggak ada niat untuk berpoligami."

"Seriusan 'kan, Mas?" Meskipun sudah mendengar pertanyaannya, nyatanya Yumna belum bisa percaya sepenuhnya.

"Serius lah, Dek. Tapi saya meminta syarat padamu. Apakah bisa?"

"Syarat??" Kening Yumna seketika mengerenyit. "Syarat apa, Mas?"

"Berhentilah ber-KB, karena saya ingin punya anak, Dek."

"KB?!" Yumna masih terlihat bingung. "Lho ... memang siapa yang KB, Mas?"

"Kok kamu nanya balik, sih, Dek?" Tatapan mata Ustad Yunus seketika menajam. Dia merasa tak puas dengan jawaban Yumna. "Kamu pikir saya nggak tau, ya, kalau selama ini kamu minum pil KB?"

Yumna sontak membulatkan matanya. Segera dia pun berlari menuju nakas untuk mengambil tas jinjingnya kemudian merogoh ke dalam.

Sepertinya apa yang suaminya maksud, itu berhubungan dari benda di dalam tasnya.

"Apa Mas lihat pil KB yang ada di sini?" Yumna langsung menunjukkan selembar pil KB yang tak ada satu pil disana.

"Iya." Jawaban Ustad Yunus membuktikan kalau memang itu benar. Sebelumnya dia sempat tak sengaja melihat pil KB itu dan meyakini bahwa itu bukti dimana Yumna ingin menunda kehamilan. "Selama ini kamu minum pil, kan, karena nggak mau punya anak dari saya?" tebaknya yang tampak kesal.

"Dih, Mas, bukan begitu kok." Yumna menggeleng cepat. Jangan sampai karena perkara ini hubungannya dengan sang suami kembali tak baik.

"Lalu??"

"Pil KB ini memang punyaku, dan aku pernah meminumnya. Tapi hanya sekali, Mas ... setelah kita berhubungan badan."

Yumna ingat, pil KB itu dibeli dan diminum dihari setelah keduanya melakukan malam pertama. Dan yang membelinya pun Nadia, asistennya. Tapi atas permintaan Yumna.

"Kita juga 'kan berhubungan badan cuma sekali, Dek."

"Iya, itu benar." Yumna mengangguk cepat. "Tapi aku nggak akan meminumnya lagi, Mas. Kan aku ingin memperbaiki rumah tangga kita."

"Kalau nggak akan meminumnya, terus kenapa masih kamu simpan?" Ustad Yunus terlihat tak percaya. Wajar saja karena dia sudah sering dibohongi, jadi tak mudah baginya untuk semudah itu percaya.

"Aku hanya lupa membuangnya, dan sekarang aku akan buang pil KB ini, Mas." Yumna langsung menuju tempat sampah yang berada dipojok ruangan, lalu melemparkan benda itu.

"Bagaimana bisa saya percaya kalau kamu nggak akan memunggutnya lagi, Dek?!"

"Apa Mas mau pil KB ini aku bakar?"

"Terserah."

"Ya udah aku bakar sekarang." Supaya Ustad Yunus percaya, Yumna akan langsung melakukannya.

Segera dia pun memungut benda itu, kemudian melangkah membuka pintu kamar.

"Mau ke mana?"

Pertanyaan dari Ustad Yunus seketika menahan langkah kaki Yumna. Dia juga langsung menoleh. "Kan aku mau bakar pil KB ini, Mas. Dan nggak mungkin juga aku membakarnya didalam kamar. Iya, kan?"

"Kalau misalkan sudah dibakar, tapi nanti kamu membelinya lagi ... itu bukannya akan jadi sia-sia saja, ya??" Tampaknya, Ustad Yunus masih belum percaya.

"Lho, siapa juga yang mau beli pil KB lagi, Mas?"

"Ya kamu, Dek. Saya 'kan nggak tau. Bisa saja kamu membelinya secara diam-diam."

"Enggak, Mas." Yumna menggeleng. "Aku nggak akan membelinya lagi."

"Bagaimana bisa saya percaya?"

"Lho, Mas ... jadi aku musti gimana dong supaya Mas percaya padaku?" Yumna jadi bingung sendiri, karena nyatanya pria itu masih tidak percaya padanya.

Memang, awalnya Yumna terpaksa mau menikah dengan Ustad Yunus, bahkan menikahnya pun bisa dibilang secara dadakan.

Itu semua demi menuruti permintaan kedua orang tuanya dan tak tega melihat Papinya yang bernama Yohan menderita virus tekotok.

Meskipun nama virus itu terdengar aneh dan tak masuk akal, tapi Yumna mempercayai ucapan dokter kalau memang virus tekotok itu benar-benar ada dan mungkin masih saudara dari virus Corona.

Perjalan rumah tangga keduanya pun terbilang sangat berliku, karena diawal-awal pernikahan Yumna dan Ustad Yunus sempat berkeinginan untuk berpisah.

Alasan Yumna tak mencintai suaminya dan tak mau menerima pernikahan paksa adalah faktor utama. Selain itu, karena hadirnya Glenn yang merupakan mantan pacar Yumna.

Mengetahui hal tersebut, Papi Yohan langsung menindak tegas. Dia meminta Yumna untuk berpikir secara matang-matang tentang keputusan yang akan dibuat.

Tapi dia sudah berpesan, jika keputusannya nanti mereka adalah bercerai, Papi Yohan berencana mengangkat Ustad Yunus menjadi anak angkatnya yang berarti akan menjadi kakak angkat Yumna. Kemudian, dia akan membantu Ustad Yunus untuk bisa bersatu dengan Naya.

Kasih sayang Papi Yohan memang begitu besar kepada Ustad Yunus, yang selalu dia panggil dengan sebutan "Boy". Semuanya karena diawal pertemuan pria itu dengan baik hati mendonorkan darah untuknya tanpa pamrih, sampai mampu membimbingnya menjadi mualaf seperti sekarang ini.

Namun, mendengar nama Naya kembali disebutkan. Yumna merasa tidak suka dan tak rela melepaskan suaminya.

Dia merasa bahwa Ustad Yunus sekarang adalah miliknya, dan tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya.

Dengan tekad yang bulat dan hasil pemikiran secara matang-matang, Yumna memutuskan untuk mempertahankan rumah tangganya dan melupakan Glenn.

"Aku berjanji, Mas. Eh, maksudnya aku akan membuktikan jika aku nggak akan membeli pil KB lagi apalagi sampai meminumnya. Kan katanya tadi Mas kepengen kita punya anak," tambah Yumna yang masih berusaha menyakini.

"Tapi kamu nggak keberatan, kan?"

"Enggaklah, Mas." Yumna menggeleng dan perlahan mendekat ke arah sang suami lalu meraih tangannya. "Tapi Mas harus janji sama aku, ya... jangan sampai Mas mendua. Jadikan aku istri Mas satu-satunya."

Meskipun Ustad Yunus sudah menolak untuk berpoligami atas permintaannya, tapi entah mengapa Yumna masih merasa takut. Karena bisa saja Ayah Cakra kembali menawarkannya lagi hingga pria itu luluh.

"Iya, Dek." Ustad Yunus mengangguk. Dan tampak jelas sebuah senyuman tipis itu terbit diwajah tampannya. "Terima kasih, ya? Ya sudah .... biar saya saja yang bakar pil KB ini." Ustad Yunus lantas mengambil benda itu dari tangan Yumna, kemudian melangkah keluar dari kamar.

"Sama-sama, Mas." Yumna pun buru-buru mengambil handuk dari dalam lemari, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

Seluruh tubuhnya itu langsung dia guyur dengan air, dan berlanjut untuk menyabuninya.

'Kalau Mas Boy ingin punya anak sekarang-sekarang ... berarti tandanya nanti malam kita akan unboxing dong, ya?'

Yumna membatin. Kedua pipinya pun langsung jadi merona, dan segera dia menggelengkan kepala.

"Ih mana ada unboxing, orang kita udah pernah melakukannya. Masa kedua kali dibilang unboxing? Aneh-aneh saja, deh!"

Bicara sendiri menjawab sendiri juga. Aneh sekali memang, bahkan sekarang Yumna pun sudah tertawa entah apa yang lucu.

Bab 3

"Mas ... Umi, aku duluan masuk ke kamar, ya?" pamit Yumna seraya berdiri.

Baru lima menit mereka makan malam seusai sholat Isya, tapi Yumna sudah lebih dulu menyelesaikan makanannya dan sekarang justru ingin langsung masuk ke dalam kamar.

"Habis makan jangan langsung tidur, Nak, nggak boleh," tegur Umi Mae menasehati.

Ustad Yunus hanya menatap istrinya sebentar sambil masih mengunyah nasi didalam mulut.

"Enggak kok, Umi, aku nggak mau langsung tidur," jawabnya yang terlihat malu-malu. Lalu menatap sebentar ke arah suaminya. "Mas juga jangan lama-lama makannya, aku tunggu Mas di dalam kamar, ya??" pintanya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

"Uhuk! Uhuk!" Ustad Yunus yang melihatnya langsung tersendak, buru-buru dia pun menenggak segelas air yang baru saja Umi Mae tuangkan.

"Kenapa sih kamu, Nus, kok enggak pelan-pelan makannya?"

"Enggak kenapa-kenapa kok, Umi." Ustad Yunus menggeleng, lalu mengulas sisa air yang membekas dibibir atasnya.

"Nggak usah grogi gitu kali, Mas. Kan Mas yang pengen," goda Yumna sambil terkekeh.

Melihat suaminya tersendak tadi bukannya kasihan, dia justru merasa itu adalah hal yang lucu.

"Pengen apa sih, Nak?" tanya Umi Mae penasaran.

"Ini ... Mas Boy kepengen ngajakin aku bikin cucu buat Umi. Do'ain kita, ya, Umi?"

Mendengar itu, Umi Mae langsung membulatkan mata dengan binar kebahagiaan. Sedangkan Ustad Yunus sendiri sudah tepok jidat.

'Bisa-bisanya Yumna enteng banget ngomong ke Umi. Apa dia nggak malu, ya?' batinnya dalam hati. Dia juga membuang napasnya dengan kasar lalu kembali menenggak sisa air pada gelas.

"Benarkah, Nak? Syukurlah kalau gitu. Semoga lancar, ya ... Umi do'akan yang terbaik pokoknya."

"Iya, Umi, aamiin ... terima kasih. Kalau begitu aku duluan ke kamar, ya?"

"Ya udah."

"Dahhh, Mas!!" Yumna melambaikan tangannya ke arah sang suami, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.

"Manis banget si Yumna ya, Nak," puji Umi Mae sambil tersenyum kepada sang anak. Entah yang dia maksud manis itu orangnya atau sikapnya, tapi sepertinya dua-duanya. "Kayaknya sih dia udah beneran jatuh cinta deh sama kamu."

"Umi jangan langsung percaya. Nanti yang ada sakit hati."

Ustad Yunus sendiri terlihat biasa saja, karena bisa saja apa yang Yumna lakukan hanya dibuat-buat atas permintaan Papinya.

Dia juga tentu ingat, saat siang tadi kedua mertuanya pamit pulang—mereka sempat mengharapkan Yumna untuk segera hamil.

"Berharap sedikit 'kan enggak apa-apa, Nak. Lagian Umi perhatikan ... selama kamu sakit, Yumna sudah banyak berubah. Dia juga lebih perhatian sama kamu. Kamu pasti sadar itu, kan?"

"Iya, aku sadar." Ustad Yunus tak mengelakkan hal itu. Yumna memang sangat perhatian padanya, sampai sempat ingin menyuapinya makan meskipun ditolak. "Tapi Umi juga harus sadar kalau di rumah sakit ada Papi sama Maminya Yumna. Bisa saja mereka yang meminta Dek Yumna untuk melakukan hal itu."

"Tapi 'kan kalau sekarang mereka nggak ada, Nak. Jadi otomatis Yumna bersikap seperti itu karena memang keinginannya sendiri."

Meskipun sudah pernah dikecewakan, tapi nyatanya sikap Umi Mae masih sama seperti dulu terhadap Yumna. Terlihat jelas jika dia menyayangi menantu perempuan semata wayangnya itu.

"Bisa saja Papi atau Mami sempat telepon Dek Yumna, Mi, tanpa sepengetahuan kita. Kita 'kan enggak tau."

"Kamu nggak boleh berpikir seperti itu, Nak. Dan sejak kapan juga kamu ini su'uzon sama orang? Kan nggak boleh." Nasihat Umi Mae.

"Maaf ...." Dia akui, benar memang apa yang dikatakan Umi. "Bukan maksud mau su'uzon Umi ... cuma memang aku belum percaya sama Dek Yumna."

"Enggak apa, Nak." Perlahan lengan Umi Mae terulur, lalu menyentuh punggung tangan Ustad Yunus. "Umi maklum kok. Seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa percaya padanya."

*

*

"Ohya, Papi sama Mami 'kan waktu itu sempat membelikan aku baju seksi. Apakah bajunya dibawa kesini dan ada dilemari?"

Seusai gosok gigi, Yumna melangkah menuju lemari kayu. Kemudian membuka salah satunya yang berisikan semua baju miliknya.

Dia memilah-milah baju yang dicari, dan akhirnya ketemu juga.

Ada tiga lingerie yang berhasil dia temukan. Dengan tiga model berbeda dan tiga warna. Tapi dari ketiganya itu sama-sama tipis dan berlubang pada area tertentu.

"Aku pakai yang warna hitam aja kali, ya?? Laki-laki 'kan suka warna gelap biasanya dan pastinya Mas Boy suka dengan warna baju ini."

Setelah dirasa sudah mantap dengan pilihannya, Yumna pun langsung mengganti pakaian. Kemudian menatap tubuhnya sendiri dari pantulan cermin.

Seketika wajahnya pun merona. Entah mengapa dia jadi grogi sekarang, ditambah jantungnya ikut berdetak lebih cepat.

"Seksi banget, ya, ternyata. Semoga Mas Boy suka deh." Buru-buru Yumna naik ke atas kasur, lalu duduk selonjoran seraya menyelimuti seluruh tubuhnya sampai leher.

Yumna sengaja, memilih untuk menyembunyikannya dulu. Biar nanti saat akan memulai, Ustad Yunus terkejut dan pasti keinginannya jadi makin menggebu.

"Mana, ya, Mas Boy? Kok lama banget, kenapa dia nggak masuk-masuk ke kamar?"

Sudah setengah jam menunggu sambil memerhatikan pintu, tapi rupanya belum ada tanda-tanda suaminya masuk ke dalam kamar.

*

*

Ustad Yunus secara tidak sengaja menemukan sebuah kotak bergambar wanita berbaju seksi di dalam dasbor mobil. Kotak tersebut berisi tissue magic yang pernah diberikan oleh Papi mertuanya pada hari pernikahannya dengan Yumna.

'Apa aku perlu menggunakan tissue magic untuk malam ini? Tapi bagaimana cara menggunakannya??' Ustad Yunus bertanya-tanya dalam hati, lalu membalik kotak itu untuk membaca petunjuk penggunaannya.

"Ustad Yunus. Assalamualaikum!"

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang sangat familiar. Suara itu datang dari depan rumahnya dan orang tersebut sedang mengetuk pintu.

Ustad Yunus segera turun dari mobilnya, lalu mendekati sumber suara dan ternyata dia adalah Pak RT.

"Walaikum salam, Pak RT," jawabnya.

Pak RT terkejut, lalu menoleh ke arah Ustad Yunus. "Eh, Ustad. Bolehkah saya meminta bantuan Ustad, nggak?" tanyanya dengan wajah yang tampak cemas.

"Bantuan apa, Pak?"

"Adik ipar saya kesurupan, Tad. Tolong bantu untuk meruqiahnya." Pak RT langsung memegang lengan kanan Ustad Yunus, lalu tiba-tiba menariknya dan membawanya menuju motornya.

"Tunggu dulu, Pak, saya mau pamit dulu sama Umi dan istri saya!"

Ustad Yunus sudah langsung dibonceng dan dibawa pergi dari rumahnya. Pak RT tampak sangat panik.

"Ini darurat, Ustad, harus cepat. Saya takut adik ipar saya makan lemari. Soalnya dia ngamuk-ngamuk."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED