Bab 1. Tak Percaya.
"Lan, itu kaya mobil laki gue, deh!" Nisa menunjuk sebuah mobil yang menyalip mobil yang Lana kendarai.
"Emang laki elo doang, yang punya mobil begituan?" canda Lana masih fokus pada jalan raya yang selalu padat merayap. Apalagi ini weekend. Daerah puncak sudah dipastikan sulit bergerak.
"Gue yakin itu mobil laki gue. Ada logo perusahaannya di kaca belakang," ujar Nisa masih kekeuh dengan penglihatannya.
Alfathunisa Dalilla berusaha melihat plat nomor mobil yang dia yakini milik suaminya yang berada setelah beberapa mobil di depannya. "Katanya, dia mau ke Semarang. Kenapa lewat arah Bandung ya?" gumam Nisa.
Mobil-mobil melaju perlahan. " Fix! Itu mobil laki gue!" seru Nisa. " Eehhh kok, dia belok? Mau ke mana dia, Lan?"
"Meneketehe!" sahut Lana mengendikan bahu.
"Ikutin, Lan!"
Sesuai perintah, Lana membelokkan mobil mengikuti mobil hitam milik Damar—suami Nisa. "Pelan-pelan aja, Lanaaa ...! Jangan deket-deket. Gak bisa banget jadi mata-mata, ih!" keluh Nisa karena mobil Lana berada pas di belakang mobil Damar. "Kaca mobil gak keliatan 'kan, dari luar? Damar kenal gak ama mobil elo yang ini? " Nisa khawatir.
"Amaaan ... ini kan, mobil baru. Makanya kita jalan berdua sekarang, buat ngetes mobil," ucap Lana lagi. Lana pun memperlambat laju kendaraan membiarkan mobil Damar melesat. Karna jalan yang dilalui kini lengang.
"Ini jalan tembusan ke Semarang kali, Nis? Positif thinking aja, lagian laki elo 'kan, gak pernah neko-neko selama ini," ucap Lana menenangkan sahabat karibnya yang terlihat gelisah sejak tadi.
Nisa hanya diam, dia terus memperhatikan laju kendaraan suaminya. "Eehhh ... kok, elo gak belok? Itu 'kan, mobil Damar belok kiri, Lanaaa ...! Oh my God! Darah tinggi gue kalo begini."
"Uuppss ...! Kebablasan. Sorry, gue mundur bentar." Lana menekan tuas transmisi otomatis dan perlahan mobil mundur. Setelah mengarah jalan yang tepat mobil berwarna merah ini kembali melaju.
"Ini udah rumah perkampung, Lan. Kita kehilangan laki gue. Ngapain dia ke tempat beginian ya?" tanya Nisa, dan yang ditanya hanya mengendikan bahu.
Nisa merogoh ponsel di dalam tas.
Semenit kemudian ....
"Hallo, Mas. Udah sampe mana?" tanya Nisa pada lelaki yang dia telepon.
"Ohhh ... ya sudah. Hati-hati ya, Mas." Nisa segera menutup ponselnya walau si lelaki di seberang sana masih berbicara. Nisa diam, melihat kosong ke depan.
"Nis, laki loe ngomong apa? Kok, bengong?" tanya Lana menggoyang-goyangkan telapak tangan di depan wajah Nisa.
"Laki gue bohong, Lan. Dia bilang udah mau nyampe Semarang." Nisa mendesah lirih. "Ya udah, kita pulang aja, Lan." suara Nisa pelan tak bergairah.
"Gak jadi, kita jalan ke puncak?" tanya Lana.
"Terserah lo, deh! Gue ngikut aja," ucap Nisa masih tak bergairah.
Lana menautkan alisnya.
"Adem banget di sini, ya?" Nisa membuka kaca mobil melihat ke kiri dan kanan.
Tiba-tiba netranya menangkap mobil Damar yang sudah terparkir di halaman rumah Sederhana. "Lan, Lan! Itu ... Itu ...!" Nisa berteriak sambil menepuk-nepuk lengan Lana. Netranya masih fokus menatap mobil hitam yang terparkir di halaman rumah berpagar pohon soka Jawa.
Ckiittt ...!
Suara ban mobil berdecit akibat rem mendadak.
"Apa sih, Niiis? Bikin kaget aja, udah tempat sepi gini. Elo teriak-teriak panik. Kaya liat hantu aja!"cerocos Lana.
"Auk, ah ...!" Nisa langsung turun dari mobil yang dia tumpangi. Kakinya melangkah cepat menuju rumah sederhana di mana mobil suaminya berada.
"Nis, gue parkir di sana ya!" Lana menunjuk arah di mana ada pohon besar tempat dia ingin memarkirkan mobil.
Perlahan tapi pasti kaki Nisa memasuki halaman rumah.
"Mas, minum dulu." Suara seorang wanita terdengar di gendang telinga Nisa.
Nisa yang masih berdiri di dekat undakan menuju pintu utama, urung memberi salam.
"Bagaimana kabarnya, Mas?" tanya wanita yang menawari minum, dengan suara lembut.
"Baik .... Sini duduk sini. Aku rindu."
Hah rindu?
'Itu suara Mas Damar, loh!' Nisa berbicara dalam hati.
Wanita itu masih mematung di tempat tadi dia berdiri. Ia memindai keadaan halaman rumah. Adem, asri, dan nyaman, pikir Nisa.
"Mas sampe kapan kamu mau begini terus?" tanya si wanita masih dengan suara lembut.
"Mas belum bisa pastikan. Kamu sabar dulu ya. Nanti kalau sudah waktunya, pasti Mas akan menceraikan Nisa."
Deg!
Jantung Nisa seakan berhenti berdetak.
"Apa maksud Mas Damar?" Nisa menutup mulut yang menganga akibat terkejut dengan perkataan Damar.
"Jangan-jangan, kamu juga sudah jatuh cinta sama adikmu itu? Jadi sampai sekarang kamu belum bisa menceraikan dia?" cecar si wanita dengan suara sedikit ditekan.
"Fix! Itu Mas Damar sedang membicarakan aku," bisik Nisa pada diri sendiri. Dengan dada berdegup sakit, Nisa menaiki undakan menuju ke pintu utama.
.
.
2. Uring-uringan
Tetapi sedetik kemudian dia mengurungkan langkah, Nisa berbalik meninggalkan rumah sederhana ini dengan perasaan campur aduk. Tanda tanya besar bersarang di kepala Nisa. Siapa perempuan itu, ada hubungan apa dengan suaminya, dan mengapa Damar ingin menceraikan dirinya.
Nisa melangkah lebar menuju tempat Lana menunggu. Pikirannya diliputi banyak pertanyaan.
Blugh!
"Baru gue mau turun! Beneran laki loe bukan?" tanya Lana dengan wajah bingung, karna penampakan Nisa yang tiba-tiba murung.
"Buruan jalan Lan, jangan sampe ada yang liat kita," ajak Nisa lemah.
.
.
"Nis, makan dulu bagaimana pun suasana hati elo, elo itu tetep harus kuat. Harus punya tenaga, biar bisa ngumpulin bukti perselingkuhan laki elo." Lana menyemangati Nisa.
"Tapi masa iya, Mas Damar selingkuh?" pikir Nisa, dia menggelengkan kepala samar. Selama ini perlakuan Damar terhadapnya begitu baik.
Damar cinta keduanya setelah ayahnya. Selama ini Damar terlihat begitu menyayanginya. Tidak pernah terbersit sedikit pun, dipikiran Nisa jika Damar bermain api, menjalin hubungan dengan wanita lain.
Nisa menelungkupkan kepala di atas meja. Lana hanya memandang sendu pada sahabat karibnya. Dia juga belum yakin kalau Damar memiliki Wil.
"Kita nginep daerah sini, Lan." Nisa mengangkat wajah lalu meraih piring dan memakan lahap isinya hingga tandas.
Malam kian larut. Hawa dingin puncak menusuk tulang, Nisa duduk di depan kolam renang memandang air yang hanya diam. Air bergerak pelan jika terkena hembusan angin. Hati wanita muda ini bimbang, bertanya apakah benar yang dia dengar tadi? tapi kenapa? Apa alasannya ?
Jari-jari lentik Nisa memutar-mutar gawai yang sejak tadi dia genggam. Nisa melirik jam pada ponselnya, jam sebelas, gumam Nisa. Mas Damar masih di sana atau memang pergi ke Semarang ya? tanya Nisa dalam hati.
"Kenapa dari tadi gak telpon ke Semarang?" Nisa memutar bola mata kesal pada diri sendiri. Nisa mulai mengotak ngatik gawai. Tapi dia tak memiliki satu pun nomor telpon perusahaan cabang semarang.
Jarinya menekan panggilan ke nomor Damar - suaminya. Lama, tak ada jawaban hingga. "Assalamualaikum Nisa? Ada apa? Tumben telpon." Nisa di berondong pertanyaan.
Memang selama ini dia tak pernah menelpon Damar, dia seperti tak peduli di mana atau kemanapun lelaki itu pergi. Nisa sibuk dengan dunianya, sibuk dengan kesenangannya, sibuk dengan masa muda yang ingin dia nikmati.
"Mas... Kamu lagi ngapain?" bukannya menjawab, Nisa palah memberikan pertanyaan.
"Mas udah tidur Nis, lelah banget hari ini," jawab Damar.
"Oohhh... coba Nisa mau liat, Mas Damar lagi nginep di mana? Vidio call Mas!!" Nisa langsung mengalihkan panggilan pada mode vidio.
Tetapi Damar langsung mematikan panggilan, pesan masuk di gawai Nisa. [ Nis, ko mati? jaringan gak bagus.]
[ Di sini bagus Mas]. Tetapi pesan Nisa sudah centang satu. Mungkin Damar mematikan data selularnya.
Hati Nisa panas membayangkan Damar bermain gila dengan wanita lain. Jari-jarinya meremas tisu yang sejak tadi dia genggam. Pikiran berkecamuk ingin rasanya dia datangi rumah itu saat ini juga.
****
Pagi menyingsing, matahari menampakkan sinar dengan pongah, memberikan kehangatan pada jiwa yang dilanda gamang.
Nisa sudah berpakaian rapih. Diambil bedak dari dalam tas. Netranya mencermati kelopak mata yang menghitam, wajah terlihat layu.
"Nggak banget muka gue, Lan," ujar Nisa masih mengamati wajah di cermin kecil yang dia pegang.
"Makanya jangan nangis terus, rugi Nis, nangisin cowok," ujar Lana, gadis ini pun sedang bersiap cekout dari kamar Hotel.
"Elo sih jomblo gak laku, makanya gak bisa ngerasain apa yang gue rasa." Nisa berucap masam.
Tak kalah masam wajah Lana, tapi kali ini dia hanya diam, kalau dilanjut akan semakin panjang urusan.
"Nis. Ntar elo jangan bar-bar ya!! Yang elegant, jangan bikin keributan, oke. Semalem gue liat youtub, tutorial ngelabrak pelakor, dan elo harus ngelabrak dengan cara elegant." Lana menasehati Nisa seperti seorang pakar perpelakoran.
Sepanjang perjalanan menuju tempat kemarin mobil Damar berada, Bibir Lana terus berbicara, tetapi Nisa seperti tak mendengar, dia bermain dengan pikirannya sendiri.
***
"Mas, jadi langsung ke Semarang?" tanya si wanita.
" Iya, 'kan memang harus ke sana. Secepatnya Mas selesaikan pekerjaan di sana. Nanti Mas ke sini lagi." Damar sudah rapih dengan setelan jas, duduk di bangku depan meja makan.
Wanita berparas ayu ini membawa piring kotor ke wastfel setelah mereka menghabiskan makan.
" Fattana hayfa." Gadis kecil yang sedang berbincang dengan bonekanya menengok pada asal suara. Damar merentangkan tangan ingin menggendong gadis kecil yang tersenyum menghampirinya.
"Anak ayah sudah besar. Berat sekarang," ucap Damar menciumi pipi tembem gadis kecil berkisar umur empat tahun itu.
"Sudah mau sekolah, Mas. Dia butuh akte lahir. Kamu tega? kalau nggak ada nama ayahnya di akte lahirnya." kirana berucap tanpa menoleh pada Damar.
"Semua sedang aku pikirkan," ucap Damar, "Bersabar sedikit lagi," ucapnya lagi.
Kirana mendecak. "Lima tahun kurang sabar apa aku, Mas." Suara sedikit di tekan agar tak menimbulkan kecuriagaan pada anaknya yang masih dalam gendongan Damar.
"Ayah kerja dulu ya, besok kita jalan-jalan ke Mall, beli banyak mainan," Lelaki berumur tiga puluh tiga tahunan itu masih menciumi putri kecil yang sangat menggemaskan.
Setelah puas menciumi putri cantiknya, mereka menuju halaman. "Kirana, Mas pergi dulu ya. Mas janji gak lama lagi masalah kita pasti bisa di selesaikan." Damar mengecup kening Kirana.
"Mas Damar!!!" Suara melengking, mengagetkan dua pasangan yang akan berpisah kembali ini.
Bab 3. Kejutan.
Seorang wanita bejalan tergesa dengan raut yang tak dapat di artikan. "Nisaaa!!!" Damar tak kalah tersentak mendapati istri kecilnya berada di hadapannya.
"Mas, siapa dia!?" dengan suara tersengal, entah karna berjalan terburu atau karna marah mendapati suaminya mencium wanita lain, Nisa bertanya.
Nisa menatap wanita yang begitu ayu, dewasa, dan sepertinya lembut. "Siapa dia Mas?" tanya Nisa lagi, dengan pandangan menatap tajam pada Kirana.
Kirana hanya diam mematung, mungkin ini memang sudah waktunya Damar mengakuinya sebagai istri pertama. ' batinnya.
Nisa beralih memandang putri kecil yang dalam gendongan Kirana. Lalu memandang Damar nyalang.
"Nisa ayo kita masuk dulu," ajak Damar menggenggam lengan Nisa. Mencoba menghindari keributan di luar rumah.
Dangan keras Nisa menepis genggaman tangan Damar. "Jelasin di rumah!!" Nisa berbalik menuju mobil Lana yang terparkir agak jauh.
"Nisa!!" Damar memanggil, tetapi Nisa tetap acuh.
"Ini sudah waktunya kamu menyelesaikan semuanya. Jangan kembali ke sini kalau belum ada titik penyelesaian." kirana berlalu dari hadapan Damar, setelah mengucapkan kata itu.
Damar menatap kedua wanitanya yang belalu pergi meninggalkannya di halaman rumah sendiri dengan kebingungan.
Lana yang baru saja mendekat, kembali berbalik mengikuti Nisa yang berjalan terburu. "Aduuhhh... Ketinggalan mengikuti drama rumah tangga lagi gue." keluh Lana berjalan cepat mengikuti Nisa.
Blugh....
Pintu mobil ditutup keras. Lana yang melihat dari belakang terbelalak "Busyeett, mobil baru gue remuk deh." Lana bergumam, dia langsung masuk dan menjalankan mobil Toyota Yaris keluaran terbaru itu.
Nisa mengepalkan tangan, rahangnya terlihat mengerat, giginya bergemelutuk. Lalu menyandarkan kepala pada kaca samping mobil. "Gue harus gimana Lana...." Nisa merengek frustasi.
Mereka diam dalam waktu lama, Lana pun tak tau harus berbuat apa? Punya pacar aja belum apa lagi mengatasi masalah seperti ini.
"Kalo gue sih, yang utama kesetiaan, Nis. Tapi gue gak mau jadi kompor buat elu. Untuk masalah ini gue gak punya solusi, dan gak tau harus kasih masukan apa?" jawab Lana dengan ekspresi bingung.
Setelah tiga jam perjalanan, karna weekend memang macet, akhirnya Nisa sampai di rumah megahnya. "Nis gue anter sampe sini aja, ya? Gak enak sama laki elo nanti."
Nisa mengangguk, dia keluar dari mobil berlari kecil ke dalam rumah. Membanting pintu dan berlari naik ke dalam kamarnya. " Non, ada apa? " Mbok Darmi terjingkat kaget mendengar pintu di banting.
Tak lama mobil Damar masuk ke halaman, pun sama Damar masuk dengan tergesa. "Den, ada apa? Itu Non Nisa kenapa?" Mbok Darmi yang sudah seperti orang tua mereka, memberondong pertanyaan.
"Nanti saya jelaskan, Mbok." setelah mengucapkan kata itu, lelaki berperawakan atletis ini menaiki anak tangga dengan tergesa.
Suara bantingan benda terdengar di dalam kamar. "Tok tok tok, Nis...." sebelumnya Damar mengetuk pintu, walau pintu sedikit terbuka, khawatir Nisa melempar benda ke arah pintu.
Perlahan Damar membuka pintu.
Blugh ....
Sebuah bantal mengenai muka Damar. Nisa berdiri di hadapan Damar dengan wajah merah padam, marah.
"Siapa dia!?" tanya Nisa lantang, tangannya terkepal.
Kamar sudah seperti kapal ancur. Damar tak heran memang kebiasaan Nisa bila marah akan seperti ini, terlalu kanak-kanak, tetapi entah kenapa saat orang tua Nisa menyuruhnya menikahi Nisa, dia mengagguk patuh, padahal bisa saja Damar mengatakan, tidak.
Damar mendekat memeluk Nisa sekuat tenaga, Nisa berusaha berontak, dia mencium bau parfum yang tak biasa, dia yakin ini bau parfum wanita itu. Bodohnya Nisa dia tak pernah mengetahui, mungkin karna tak pernah peduli selama ini.
"Nis dengerin Mas Damar dulu, tenang dulu, oke." Damar terus mengeratkan pelukan ketika tubuh Nisa hampir berhasil lolos dari dekapannya.
Setelah Nisa tenang, dan tak ada perlawanan. Damar membereskan sofa, mengajak Nisa duduk di sana. "Dia juga istri Mas Damar, Nis. Namanya Kirana."
Bola mata Nisa membola sempurna, mulutnya ternganga. "Anak dalam gendongannya, anak Mas Damar." Mendengar pengakuan Damar Nisa makin terkejut. Se-gentle ini ternyata Damar, mengakui semuanya, Pikir Nisa.
"Ketika Papa meminta Mas menikahi kamu, Mas sudah merencanakan menikah denga Kirana saat itu, Mas ingin mengatakan ingin melamar gadis, tetapi Papa terlebih dahulu mengutarakan niat ag -- "
"Kenapa Mas gak nolak?" tanya Nisa memotong ucapan Damar.
"Banyak faktor hingga Mas gak bisa nolak. Dan kamu juga begitu berharap aku menerima mu ' kan." Damar mengangkat tubuhnya menuju kaca melihat ke arah luar. Ada tatapan aneh terpancar dari netra Damar.
"Ceraikan Nisa, Mas!?" Alfathunisa menatap nyalang pria di hadapnnya.
Damar hanya menatap tegas pada wanita yang terlihat begitu terluka. Dari tatapan wanita muda ini, Damar bisa melihat jelas jika Nisa terluka. Begitiu pun Kirana, setiap Damar mengunjunginya ada tatapan terluka di sembunyikan rapi, Damar bisa melihat ketika mereka bertatap lama.
"Mas gak bisa, Nis. Mas gak akan menceraikan kamu." Damar menggeleng pelan penuh penekanan.
"Kenapa!?" Nisa berteriak!!"Aku gak mau berbagi!! Mas tau kan siapa aku!? " Nisa mengahampiri Damar dan memukuli tubuh lelaki dihadapannya. Dan Damar hanya diam menerima setiap pukulan yang Nisa layangkan.