Bab 1

Sena mengguap, ia pulang pagi lagi tadi. Syuting benar-benar memakan waktunya seharian. Ia bahkan tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri--bahkan untuk gosok gigi seorang asisten menunggu di depan pintu kamar mandi.

"Mbak Sena!"

Sena menghembuskan napas kasar. Baru saja ia berpikir, asisten yang diperkejakan Mama sudah memanggil di luar pintu kamar. Ingin Sena diam saja, berpura-pura tak mendengar. Namun, kasus terakhir kali membuat nyalinya ciut.

"Ya!" serunya. Ia masih ingin menarik selimut dan kembali melanjutkan tidur.

"Mbak, inget jadwal hari ini, kan?" tanya asistennya--Rayna namanya.

Sena memutar kembali ingatannya. Tadi malam saat makan, Rayna sudah membacakan jadwal untuk hari ini. Ia hanya ingat jadwal pemotretan jam tiga sore nanti, selebihnya suara Rayna mengambang tak tentu arah.

Malas, Sena beringsut pelan menuju tepi ranjang. Langkahnya terasa begitu berat saat turun dari ranjang dan mendekati pintu. Ia ingin berteriak, 'biarkan aku sendiri saja hari ini.'

Akan tetapi, entah karena telah terbiasa tersenyum palsu di depan kamera, ia melakukan hal yang sama menghadapi semua orang termasuk Rayna.

"Maaf, Ina, aku lupa. Apa jadwal pagi ini?"

Katakan tidak ada jadwal, kumohon! Biarkan aku tidur di ranjang hari ini!

Rayna--asisten manis yang memakai jilbab lebar itu tersenyum. Tentu ia maklum.

"Hari ini jam sepuluh Mbak Sena harus mengikuti pertemuan alumni SMA. Kan sudah jauh-jauh hari pihak sekolah menghubungi, Mbak."

Mata Sena mengerjap. Otaknya kembali berusaha keras mengingat. Hatinya menyangkal telah menerima undangan pertemuan para alumni SMA. Ia tak mau pergi. Namun, bolehkah ia tak pergi.

Bahkan jika kamu tidak suka dengan yang sedang dilakukan, tersenyum terus Sena. Bukannya ini yang kamu inginkan?

Kalimat Mama yang memarahinya saat mengadu dua tahun lalu tentang pelecehan yang diterima dari Sutradara terngiang di telinga.

Sena tersenyum dan mengangguk, berkata akan bersiap-siap. Sementara hatinya menjerit meminta pertolongan seseorang. Ia benar-benar tak mau melakukan ini.

***

Aditya terpana. Anak-anak mulai lagi, gumamnya dalam hati sambil geleng-geleng kepala.

Walau ia mengeluh dengan kelakuan teman-temannya yang gesreknya minta ampun, tetapi sama sekali tak berniat menolong. Santai, pemuda bekulit hitam manis itu melengang di samping kumpulan murid lelaki dan perempuan yang tengah menjadikan seorang gadis menjadi olok-olokan.

Ia bahkan sempat melakukan high-five sebelum akhirnya masuk ke dalam kelas lalu duduk manis di kursinya. Teriak-teriakan keras dan juga hinaan sampai juga ke telinganya. Sekali lagi, Aditya hanya melirik sedikit dan kemudian memasang headseat untuk menghentikan suara yang sama tertangkap telinganya lagi.

Bruk!

Aditya tersentak kaget. Matanya yang sedari tadi terpejam, kini terbuka lebar. Ia melotot memandang gadis yang tadi menjadi bulan-bulannya di depan kelas. Bukan karena niat membantu, apalagi memberikan sedikit rasa prihatin melalui tatapan mata. Hal tersebut dilakukan karena headseatnya yang tadinya terpasang, kini lepas. Salah satu ujungnya putus.

"Buset, dah! Lo bener-bener, ya?!"

Aditya naik pitam seketika. Langsung saja ia berdiri dan dengan kejam ditendangnya kaki gadis itu. Tak keras memang, tetapi wajah si gadis langsung berubah ketakutan.

"Ma-af," desis gadis tersebut.

Kakinya yang tadi ditendang Aditya ditarik dengan cepat. Wajahnya menunduk, tak ingin memandang pemuda yang kini telah berdiri. Earphone yang sejak tadi di telinga juga telah ditarik dengan kasar.

"Bisa nggak, sih, lo berhenti bikin gue kesal."

Gadis itu semakin menciut. Wajahnya yang sudah putih semakin pasi. Ia hanya berharap segera menghilang dari kelas dan tidak pernah kemari lagi.

"Ma-af." Air mata si gadis jatuh berurai. Ia tak pernah menyangka kehidupan SMA-nya akan sekelam ini.

***

"Mikirin apa Aditya."

Aditya yang tengah fokus menatap siaran televisi layar lebar yang ada di dinding kafe langsung menoleh. Ia tersenyum dan menyisir rambutnya dengan jari-jari.

"Nggak ada."

Pesanan cappucino yang sudah mulai dingin diaduk sebelum disesap pelan. Kini ia lebih memilih memperhatikan layar ponselnya, bukan layar televisi lagi.

Gantian teman Aditya, Reno menatap layar. Seorang gadis cantik yang cukup dikenal tersenyum di sana. Ia sedang beradu akting dengan aktor kawakan dalam sebuah drama. Wajahnya penuh penghayatan, dan gerakannya terlihat begitu alami.

"Kamu ingin bertemu Sena?"

Mata Aditya langsung melirik Reno.

"Tidak," jawabnya cepat.

"Semua orang ingin bertemu dengannya. Hanya saja aku khawatir dia tidak akan datang." Reno menduduki kursi di sebelah Aditya. "Kamu pasti tahu jika dia tidak pernah datang sekalipun ke reuni."

Aditya tahu. Semua orang juga tahu apa alasannya. Ia mendesah, kembali menatap layar ponsel.

"Kita semua berdosa padanya, kan?"

Reno tersenyum kecut. Beberapa orang yang baru datang menyerukan nama Reno di depan pintu masuk. Pria muda pemilik kafe tersebut mengangkat tangan. Ia kembali menepuk bahu Aditya sebelum akhirnya turun dari kursi dan beranjak pergi.

Aditya sendirian lagi kini. Drama yang dibintangi Sena telah berganti dengan iklan produk perawatan rambut. Aditya mengeser layar ponselnya, gambar paling lama yang bisa ditangkap muncul sebagai walpaper. Hari itu dia jatuh cinta, pada Sena yang tertidur di kursi taman setelah puas menangis dengan senja bersinar sangat cantik di belakangnya.

"Mungkin aku sudah tidak punya kesempatan lagi," gumamnya pelan.

Saat teman-temannya mendekati, cepat Aditya memasang pengunci layar.

***

"Kamu yakin proses syuting tidak ada hari ini?" Sena bertanya untuk terakhir kalinya pada Rayna.

Rayna mengangguk cepat. Ia tahu keengganan yang dirasakan gadis cantik berusia 24 tahun tersebut. Bukan tanpa alasan sikap Sena yang biasanya begitu manis terlihat cukip kesal saat ini. Ada sesuatu yang berusaha Sena hindari dan itu pasti hal yang buruk.

"Apa aku benar-benar harus pergi?"

"Jika kamu hanya gadis biasa seperti dahulu, aku pasti akan mengatakan terserah padamu. Namun, saat ini kamu telah menjadi publik figur. Kamu harus menjaga nama baikmu, Sena."

Sena membuang napas kasar. Ia lalu berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya. Ia benar-benar tidak suka, tetapi tak punya pilihan untuk menolak. Semua karena pekerjaan yang dilakoni penuh dengan kepalsuan.

Sena memasuki mobil yang sudah sejak tadi menunggu di depan rumah. Sopir yang bekerja sejak ia menjadi artis mengangguk dan tersenyum saat membukakan pintu. Ia selalu bersyukur Sena menjadinya sopir sejak setahun lalu.

Rayna yang menyebutkan alamat lengkap tempat pertemuan pada Pak Sarmin. Lelaki berusia 35 tahun tersebut langsung memacu mobil cepat keluar dari halaman apartemen. Ia selalu saja tak banyak bicara saat melakukan pekerjaannya. Begitu fokus dan hati-hati, tak mau mencelakakan majikan yang sudah membuat kehidupannya lebih baik.

"Di sini, Mbak?" tanyanya pada Rayna.

Rayna mengangguk dan merapikan kembali dandanan Sena. Setelah semuanya siap, Sena menunggu Rayna turun terlebih dahulu kemudian baru menyusul.

Baru saja dua langkah Sena berjalan, Sena sudah diserbu para pengemarnya. Ia kewalahan meloloskan diri dari kepungan kalau saja beberapa orang alumni dari SMA yang sama tak membantu menghalau.

"Sena? Sena yang artis itu?" tanya mereka tidak percaya setelah para fans berhasil dibubarkan.

Sena memaksakan diri untuk tersenyum manis dan mengangguk pelan seperti biasa. Ia melangkah memasuki kafe yang sudah disewa para alumni.

Mata Sena langsung tertumbuk pada rombongan penghuni kelasnya dahulu. Mereka tampak sangat terkejut dengan kedatangan Sena. Orang-orang yang dulunya menjadikan Sena cemoohan diam saja dan menunduk.

"Kamu datang, Sena! Ya Tuhan, aku nggak nyangka!"

Reno hanya karena pemuda itu saja Sena mau datang. Ia masih ingat dengan Reno yang tak pernah sekali pun ikut dalam aksi membully, walau juga tak pernah punya kebeRaynan melerai. Reno hanya seperti dirinya, takut jika melakukan sesuatu hal yang buruk juga terjadi padanya.

"Tentu." Senyum manis diberikan Sena dengan tulus kali ini. Wajahnya yang putih, merona cantik.

Sepasang mata memperatikan saja Sena dari kejauhan. Ia tahu jika mendekat Sena akan lari. Maka, ia hanya bisa menatap jauh-jauh seperti ini.

Bab 2

Reno mempersilakan Sena duduk. Meja yang terletak di depan dekat panggung. Setelah itu ditinggalkan Sena begitu saja, ia lalu mendekati Aditya.

“Kamu nggak mau ngobrol, Dit?”

Aditya menyesap cappucino lagi dan melirik ke arah meja. Walau sedikit ia masih bisa melihat wajah Sena. Gadis itu semakin cantik saja. Pertemuan terakhir mereka setahun lalu, tepat pada hari kelulusan. Hari itu Sena menangis, terluka karena sikap teman-temannya dan Adit. Andai saja Adit ikut menangis dan bukannya tertawa, hubungannya dengan Sena saat ini mungkin tak buruk.

Mungkin ia bisa seperti Reno, disambut dengan senyuman dan rona merah jambu di pipi.

“Cobalah mulai, Adit. Mungkin saja Sena telah lupa.”

Aditya membiarkan Reno pergi ke balik meja, menyiapkan minuman. Barulah ia bisa mendesah dan memejamkan mata. Jika Reno tahu apa yang sudah diperbuat Adit pada Sena, maka temannya itu pasti membencinya.

Adit melirik lagi. Mata Sena kini sedang berbinar memandang punggung Reno. Ada kebahagian yang terpancar. Dulu pancaran seperti itu hanya milik Adit.

Sena menekuri ponsel yang baru dikeluarkan. Beberapa teman SMA mulai mendekatinya. Seketika ia merasa risih. Ia benci mereka yang sok baik saat keadaannya telah menjadi seperti sekarang.

“Aku senang bisa bertemu denganmu,” kata gadis yang lebih dikenal Sena bernama Ratu.

Ia otak dari setiap perlakuan buruk pada masa putih-abu abunya.

“Benarkah? Aku sama sekali tidak merasa seperti itu.” Sena tersenyum miring.

Ratu terdiam sebentar dan melirik ke samping, meminta bantuan. Namun, bukan mendapatkan bantuan, ia malah ditolak dengan siku untuk tetap bicara.

“Ah, jangan berkata begitu. Saat itu kami hanya bercanda.” Ratu memukul bahu Sena pelan.

Kontak fisik itu membuat Sena merasa tak nyaman. Ia mengirimkan pesan pada Rayna yang duduk di meja lain, masih di dalam kafe, untuk mendekat. Basa-basi menjijikan ini harus segera disudahi. Sena tak ingin kehilangan kendali dan menghilangkan pamor cantik diri sendiri.

“Kalian melemparkan tasku ke atap. Menyiramku dengan air bekas pel dan menuduhku melakukan banyak hal yang tidak kumengerti. Jika ini candaan, maka sungguh buruk efek pendidikan yang kalian terima. Maaf, aku tidak menganggap perlakuan kalian sebagai candaan.” Tidak ada lagi senyuman di bibir Sena. Ia telah terlanjur kesal.

“Sena.”

Rayna telah sampai di sisi Sena. Ia menatap para gadis yang tengah berdiri di dekat majikannya yang lebih sensitif sejak kemarin.

Reno juga sampai dengan minuman untuk Sena. Ia kebingungan karena sang artis sudah bersiap pergi.

“Maaf, ya, Ren. Aku ada jadwal siang ini, senang bisa bertemu lagi denganmu.” Sena baru berniat berbalik saat ingat sesuatu yang menurutnya penting. “Boleh minta nomor ponselmu?”

“Ah, tentu.” Reno meletakan minuman di atas meja dan menerima ponsel yang diulurkan Sena.

Tak lama ia memasukan nomor ke ponsel dan kembali menyerahkan pada Sena.

“Kuharap aku tidak menganggumu nanti.” Sena tersenyum dan melirik sekitar sebelum berputar.

Ia terhenti melangkah saat menemukan siluet seseorang yang dikenal. Matanya menyipit, berusaha menilai. Namun, tarikan tangan Rayna menyentak dan membuyarkan konsentrasinya.

Reno diserbu dengan banyak pertanyaan tentang Sena yang tak bisa dijawab.

***

“Maafkan aku memaksamu untuk datang.”

Rayna akhirnya berani bicara setelah menimbang-nimbang cukup lama. Ia merasa bersalah karena pemaksaan yang dilakukan. Apalagi setelah menerima pesan dari adiknya. Sungguh sebuah keputusan yang tidak tepat membawa Sena berinteraksi dengan orang-orang di masa lalunya.

Mobil yang mereka naiki melaju melintasi jalanan yang sama sekali tak macet. Padahal jam istirahat kerja sedang berlangsung.

“Tidak apa. Aku senang karena ikut. Aku bisa mendapatkan nomor Reno.”

Walau suara Sena pelan, tetapi bisa didengar Rayna.

Rayna mengernyit mendengar nama Reno disebut-sebut. Reno? Ia lekas menoleh, tapi menghentikan dirinya untuk bertanya tentang hubungan Sena dan nama baru tersebut.

Tak lama mereka sampai di gedung lantai tiga tempat pemotretan akan diadakan. Saat pintu terbuka, Sena berlari lebih dulu melintasi orang-orang. Ia tidak ingin dikerubungi dan terlambat ke studio di lantai tiga. Rayna di belakangnya berusaha menyusul dengan kecepatan yang sama, walau sama sekali tak pernah berhasil.

Dua perias telah menanti Sena di ruang make up. Fotografer yang bertugas berteriak pada semua orang untuk bekerja lebih cepat. Seorang penata busana langsung menilai tubuh Sena dan merencanakan pakaian apa yang cocok untuk dipakai.

Sena duduk tenang di depan cermin persegi yang disekelilingnya lampu pijar putih bersinar. Wajahnya pertama disemprot dengan air mawar bercampur satu persen alkohol. Setelah kering, alas bedak ditambahkan terlebih dahulu secara merata. Tak lupa alisnya dilukis dengan cantik. Lipstik dipilih dengan warna natural berikut dengan perona pipi dan perangkat lainnya.

Satu jam kemudian, Sena telah mengatur gaya di latar dengan blitz yang berpijar setiap kali tombol kamera ditekan. Ia tersenyum dan memamerkan deretan deretan giginya yang telah diputihkan satu bulan sekali oleh dokter gigi langanan. Senyumnya yang menawan, membuat siapapun merasa tenang.

Rayna melirik jam. Pemotretan yang dilakukan Sena biasanya tak lebih dari dua jam. Sebentar lagi, majikannya bisa menghapus riasan dan pulang. Kadang-kadang ia merasa kasihan pada Sena yang sejak enam bulan lalu tak memiliki waktu istirahat cukup.

[Dia baik-baik saja, kan, Kak?]

Pesan Whatsapp dari adiknya membuat Rayna mengalihkan pandangan sebentar.

[Ya, sepertinya Sena tidak terpengaruh.]

Rayna rupanya tak perlu menunggu lama. Pesan balasan langsung muncul.

[Syukurlah. Aku sempat khawatir tadi.]

Rayna mencebik geli. Ia selalu ingin tahu kenapa adiknya memiliki ketertarikan pada Sena. Hari ini terjawab sudah pertanyaan tersebut. “Kita memang memiliki pikiran yang sama,” gumamnya.

Sena telah selesai kini. Fotografer bertepuk tangan dan mengatakan pekerjaan Sena sangat baik. Tak lupa lelaki berperut buncit yang telah membidik Sena sejak dua jam lalu memuji para krunya. Sena juga melakukan hal yang sama dan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada semua orang.

Gadis cantik dengan gaun warna biru—Sena hampir mencoba seluruh baju saat fitting dan akhirnya memutuskan empat pakaian yang ia kenakan—mendekati Rayna. Ia menadahkan tangan.

“Kenapa malah bengong, haus!” serunya.

Rayna mengangguk-angguk dan mengambil botol minuman dengan irisan lemon di dalamnya. Botol tersebut dengan cepat berpindah tangan. Isinya tandas setelah bibir Rayna menempel di mulut botol.

“Tidak ada jadwal lagi, kan, Mbak?” tanya Rayna.

Sena menyerahkan kembali botol pada Rayna dan menunggu jawaban dengan sabar.

Rayna membuka ponsel dan melihat cacatan di aplikasi jadwal. Tidak ada jadwal lagi sampai besok siang.

“Tidak ada Mbak. Besok siang harus berangkat ke lokasi syuting. Mmm … jam dua.”

Rayna mengangguk dan menjatuhkan diri di kursi samping. “Ah, aku ingin libur,” keluh Sena.

Wajahnya yang cantik terlihat cemberut. Ia tak duduk lama, sebab harus berganti pakaian dan pulang ke rumah.

Ia ingin lekas menjatuhkan diri di atas kasurnya. Tadi pagi jadwal tidurnya telah diganggu dengan keresahan keharusan pergi mengunjungi teman-teman lama.

Bab 3

Sena tidak buruk. Ia memiliki tinggi 165 centimeter, tubuh yang langsing, wajah bulat telur, hidung mancung, bibir tipis, rambut ikal bergelombang, mata yang jenih, serta berkulit putih. Ia adalah boneka cantik.

Namun, entah kenapa ia selalu menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya sejak SMA. Ia tak tahu persis kesalahan apa yang sudah diperbuat. Sebab begitu naik ke kelas dua, semuanya menjadi mimpi buruk.

"Sena!"

Teriakan itu yang pertama kali didengar saat memasuki halaman sekolah pada awal tahun pelajaran.

Sena tersenyum. Sebab sebagai teman, ia merasa perlu bersikap demikian.

Namun, ketika ia diapit dan di seret menuju samping sekolah, senyumnya menghilang. Pikirannya mulai berisi dugaan apa yang akan terjadi. Juga memikirkan berbagai alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Seember air berpindah dari wadahnya, membasahi tubuh sena. Seluruh seragamnya basah, begitu pun dengan buku-buku di dalam tasnya.

"Kamu tahu apa yang sedang terjadi?"

Sena tak menjawab, air matanya sudah mengantung, siap terjun. "Bukannya kalian yang harus jelaskan padaku apa yang terjadi?" Sena menjawab dengan suara bergetar.

Para siswa yang ada di sekitarnya tertawa. Tepatnya menertawakan Sena, entah untuk alasan apa.

"Masih saja songong dia!"

Dari arah lain seorang siswa menimpali dan diiringi seruan orang-orang.

Sena melirik tag name gadis yang bicara dengannya. Namun, diplester. Maka dengan saksama dierhatikan wajah gadis itu.

"Sampai kamu sadar apa yang sudah terjadi, setiap hari akan seperti ini."

Kedua tangan Sena yang sejak tadi dipegangi kini dilepaskan. Mereka semua mengelilingi Sena dua kali seperti pemangsa yang tengah menandai buruannya sebelum berlalu pergi.

Sena terduduk lemas di lantai beton. Ia mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Saat tersadar karena bunyi bel, lekas diperiksa buku-buku dalam tasnya. Ia bersyukur karena semua selamat.

Ia kumpulkan keberanian untuk tetap masuk dengan keadaan pakaian separuh basah. Pasti nanti saat pelajaran kedua, pakaiannya akan kering. Syukur-syukur Adit akan meminjaminya jaket.

Sampai di kelas, suasana masih seperti biasa. Hanya saja tidak ada Adit di sana. Meja belajarnya juga hilang.

“Kalian lihat mejaku ke mana?” tanyanya.

Namun, tidak ada yang menjawab. Semua teman sekelas Sena menganggap Sena tidak ada. Mereka masih ayik berbincang atau menyalin tugas yang harus diserahkan hari ini.

“Dit?” Sena menyentuh bahu Adit yang duduk dua meja di depannya.

Adit menepis tangan gadis itu. Ia menatap Sena penuh kemarahan, seolah Sena sudah melakukan kesalahan yang fatal.

“Dit, kamu lihat mejaku nggak? Kok, mejaku kok nggak ada?”

Adit mendesis. Ia melihat sekeliling sebelum kembali menoleh pada Sena. “Kenapa nanya padaku?”

“Dit, kamu kenapa?” tanya Sena tidak paham.

Ia jelas tidak melakukan kesalahan. Ia bahkan baru sampai ke sekolah dan belum berbicara dengan siapapun—kecuali beberapa anak yang baru memperingatinya entah karena apa.

“Kenapa wajah kamu mengatakan seolah kami yang salah? Kamu nggak mau tahu apa salahmu?”

Sena mengernyit. Tiba-tiba teman-temannya berdiri semua dan berdiri mengelilingi. Sena mundur karena takut. Saat berbalik untuk lari keluar kelas, tiba-tiba pintu menghilang. Teman-temannya juga hilang. Ia kini sendirian ditemani suara-suara yang bertanya tentang kesalahan yang diperbuat.

“Tidak! Tidak!” Sena berteriak keras.

Sena kembali ke kamarnya. Ruangan besar yang terang benderang yang ditempati setiap malam. Piala-piala penghargaan dari kontes model dan lainnya masih tersusun rapi di rak dekat pintu masuk. Meja belajar yang telah beralih fungsi menjadi tempat meletakan berkotak-kotak hadiah yang belum sempat dibuka tetap di tempat semula. Isi kamar masih sama. Hal ini membuat Sena bernapas lega.

“Sena … Sena!”

Sena menghapus peluh di keningnya. “Ya, Ma!”

Sena beringsut pelan menuju tepi ranjang. Namun, tidak lantas berdiri dan membuka pintu. Ia duduk saja di tepi ranjang mendengar dan siap menjawab setiap pertanyaan.

“Kamu kenapa teriak? Ada apa?”

Pintu diguncang beberapa kali dan dipukul. Namun, Sena tetap saja duduk di tepi ranjang. Ia tak mau membiarkan Mama masuk dan mulai mengomel segala hal. Itu tidak akan membantunya keluar dari mimpi buruk. Yang jelas sekarang ia sudah bangun dan tidak ada hal buruk yang terjadi.

“Tidak ada, Ma. Sena baik-baik saja.”

“Buka pintunya Sena. Kamu kenapa sih kebiasaan kunci pintu gini?”

Belum pintu terbuka lebar, Mama sudah berencana mengomel. Sena hanya bisa mendesah dan beringsut mundur lagi ke tengah tempat tidur, menarik selimut. Ia berharap bisa kembali tidur. Besok, akan ada banyak jadwal menanti.

‘Ma, Senam au tidur!” seru Sena.

“Biar Mama temani kamu tidur malam ini. Sena, kamu dengar, kan?”

Sena segera menyuarakan ketidak sukaannya atas permintaan Mama. Ia menarik selimut hingga ke atas kepala.

Mama belum berhenti berusaha untuk membuat Sena membuka pintu. Lalu kemudian ia menyerah setelah lama tak ada jawaban.

Sena menarik selimutnya hingga dada saat suara Mama menghilang. Ia lega. Bukannya Sena tak mau ditemani Mama. Ia hanya takut menyebut nama-nama yang akan menyulut kebencian Mama lagi.

Masih ingat dalam ingatan Sena, bagaimana Mama menyusul ke sekolah dan membuat perhitungan dengan setiap nama yang pernah melakukan perundungan padanya. Mama menanyakan apa kesalahan putri satu-satunya pada tiap orang dan tidak satupun dari mereka menjawab tanya Mama.

***

Apa kabar?

Pesan dari nomor Reno membuat Sena langsung berdiri dari duduknya siang itu. Ia sama sekali tak menyangka jika Pemuda tersebut akan membalas pesannya. Pesan pertama yang dikirimkan Senas ama sekali tidak digubris. Pesan kedua juga begitu. Karena itu Sena malas berharap. Mungkin Reno terlalu sibuk mengurus kuliah dan restorannya dalam waktu bersamaan. Atau Reno menganggap pesan dari Senas ama sekali tidak penting.

Baik.

Pesan balasan dari Sena singkat, tetapi dilengkapi emoticon senyum. Namun, pada akhirnya Sena menyesali pemberian emoticon karena dianggap terlalu berlebihan. Ia kemudian menunggu balasan selanjutnya dengan tak sabar. Sayang sekali, sampai Sena dipanggil untuk pengambilan gambar selanjutnya untuk drama televisi yang dibintangi, pesan yang ditunggu tak pernah sampai.

Karena hal tersebut mungkin, Sena melakukan kesalahan beberapa kali dalam pengambilan gambar. Wajahnya tampak kesal saat kembali ke ruang tunggu.

Apa yang sedang kamu lakukan?

Sena tak kuasa menahan senyum saat mengetahui pesannya telah dibalas Reno. Ia segera menanyakan kenapa lama sekali pesan balasan sampai. Rono menjawab jika ia sedang di kampus dan tadi baru saja selesai perkuliahan.

Aku senang kamu datang ke acara reuni kemarin. Senang melihatmu baik-baik saja.

Sena tak bisa membalas ungkapan Reno. Ia lebih senang bisa menemukan satu-satunya orang yang peduli padanya saat SMA. Walau kepedulian Reno sama sekali tidak membuat perlakukan perundungan terhadap Sena pudar. Akan tetapi, tahu ada satu orang di luar sana yang peduli, membuat ia menjadi kuat.

Aku ingin bertemu denganmu.

Reno sudah off saat Sena menyampaikan keinginannya untuk bertemu. Sena pikir mungkin pemuda itu sudah masuk ke kelas kembali. Sena mulai berkhayal bisa bersama Reno saat ini. Namun, semua itu hanay dalam bayangannya saja. Sebab ia masih duduk kembali menunggu giliran pengambilan gambar hari ini.

***

Apa sebenarnya cinta?

Jika di dalam hati sendiri berisi keraguan.

Apa itu cinta?

Jika hanya bisa saling menyakiti saat saling bersama.

Hari ini Adit tidak tahu kenapa membuat sebuah status galau seperti ini. Ia bahagia, tetapi juga ragu. Senang saat perasaannya bersambut dengan Sena.

Namun, Sena adalah gadis populer. Bukan hanya di sekolah saja, tetapi sampai di luar. Sena gadis yang ramah. Ia bisa cepat akrab dengan orang yang baru saja ditemui. Itu sedikit membuat khawatir Adit.

Hari ini Adit membuktikannya. Sena bertemu dengan pemuda dari sekolah saingan mereka. Gadis yang disukai Adit itu dengan cepat terlibat pembicaraan seru. Bahkan sesekali pemuda dari sekolah saingan mereka mengacak rambut Sena, seolah telah lama bertemu.

“Sena, kamu tahukan siapa orang itu?”

Sena mengangguk. Kepalanya menoleh pada Adit yang duduk di hadapannya. Sena dan pemuda itu akhirnya berpisah beberapa menit lalu. Kini Adit dan Sena duduk di sebuah kafe kecil di dalam mall tempat mereka sedang jalan-jalan.

“Terus kenapa kamu bisa akrab dengan dia?” tanya Adit geram.

“Loh, kan teman. Kenapa tidak boleh akrab?” Sena mengerjap.

Wajahnya yang polos menampakan kejujuran.

Hanya Adit yang merasa khawatir. Tiba-tiba ia mendapat firasat jika Sena sudah menyampaikan sesuatu yang tidak seharusnya.

“Dia nanya apa tadi?”

Sena menerawang sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Dia tanya soal perlombaan ilmiah. Terus aku bilang kalau kita sudah siap.”

“Kamu bilang kita sedang bikin apa sama mereka?”

Sena diam lagi. “Mungkin tanpa sadar aku kasih tahu, tapi tenang saja mereka nggak akan niru kok.”

“Tahu dari mana kamu kalau mereka nggak akan jiplak ide kita.” Suara Adit kini meninggi.

Ini yang sejak awal dicemaskan Adit. Kepolosan Sena selalu bisa dimanfaatkan. Adit lalu berdiri dan mulai menelepon teman-teman satu timnya, meminta bertemu kembali.

“Kita balik sekarang!” seru Adit sambil menarik Sena untuk lekas mengikuti.

Sena berseru keberatan, tetapi tetap mengikuti Adit. Ia bingung kenapa obrolan tentang perlombaan ilmiah itu menjadi masalah. Padahal dari obrolan tadi, pemuda temannya itu sudah menyelesaikan proyek mereka seminggu lalu dan yakin akan menang.

“Kalau kita sampai kalah, kamu pasti bakal disalahin anak-anak.”

Adit mengatakan itu kepada Sena.

Sena mengernyit tidak mengerti. Kalau mereka kalah, itu pasti bukan keberuntungan mereka. Bagaimana hal itu menjadi kesalahan Sena.

***

Kamu sedang apa?

Mendapat pesan seperti itu saja sudah membuat Sena bagai terbang di langit yang tinggi. Perasaan yang lebih hebat dari saat mendengarkan namanya dipanggil karena memenangkan penghargaan sebagai artis pendatang baru tahun lalu. Kegembiraan itu bahkan tidak hilang padahal Mama sedang mengeluh soal banyaknya kesalahan Sena selama pengambilan gambar tadi.

“Mama bingung kamu hari ini kenapa?”

“Manusia itu banyak salah, Ma.” Ia menjawab sambil terus membalas pesan-pesan dari Reno.

Tindakannya itu memicu keinginantahuan Mama. Wanita yang melahirkan Sena tersebut berdiri dan mencoba mencari tahu apa yang membuat putrinya demikian aneh. Namun, tidak berhasil.

“Sudah jangan main ponsel terus, sana bersihkan badanmu dan tidur.” Mama merengut kesal.

Ia lantas berdiri dan menuju kamar utama yang terletak di depan ruang tengah.

Sena sendiri mencebik dan memeluk ponsel di dadanya sebelum berdiri dan naik ke lantai dua. Rayna mengikuti Sena dari belakang dengan sebuah tas besar di tangan.

“Mbak Sena ingat jadwal besok, kan?” tanya Rayna lepas menata kembali beberapa barang yang baru keluar dari tas—baju, sepatu, dan aksesoris untuk rambut dan baju.

Sena tak menoleh, kepalanya hanya mengangguk. Ia lalu menjatuhkan diri di atas kasur dan menyuruh Rayna keluar.

Sebelum Rayna menutup pintu, didengarnya suara Sena yang mengucapkan terima kasih dengan keras. Hal yang jarang dilakukan Sena.

“Ada baiknya juga Sena dan Reno bertemu.” Rayna bergumam di depan pintu kamar Sena yang telah tertutup. Di dalam didengarnya Sena tertawa kecil.

Kamu masih jadi Sena yang ceria ternyata.

Untuk Reno Sena sama sekali tak ingin menjadi orang yang berbeda. Ia menemukan dirinya yang dulu saat berbicara dengan pemuda teman SMAnya ini.

Aku selalu menjadi orang yang sama.

Sena menendang-nendang udara untuk menjaga kewarasannya. Ia lalu berpikir untuk lekas membersihkan riasan dan kembali menikmati obrolan dengan Reno setelahnya.

Benar. Sena melakukan semua yang diniatkan. Ia meloncat kembali ke atas kasur beberapa saat setelah mendengar notifikasi pesan masuk. Tak sabar untuk membaca apalagi yang akan dikatakan Reno padanya.

Tidak bisakah kamu memaafkan semua orang, Sena. Aku pikir mereka menyesal sudah memperlakukanmu dengan buruk. Kamu tahu, Adit cukup khawatir mendengar kabar terakhir tentangmu.

Suasana hati Sena memburuk membaca nama Adit dalam pesan terakhir Reno. Ia senang bertemu dengan Reno, bahkan bahagia saat mengobrol. Akan tetapi untuk kembali bersikap baik-baik saja bertemu dengan lainnya, terutama Adit, entah kapan Sena bisa siap.

Ada banyak alasan kenapa aku membenci Adit. Aku capek, maaf.

Sena memutuskan untuk menyelamatkan hatinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED