Bab 1

Di tengah derasnya hujan, Novi wanita cantik berusia 30 tahun berstatus single tengah menyeduh teh untuk menghangatkan tubuhnya. Samar-samar ia mendengar celoteh seorang bocah di dalam kamar. Ia pun mendekat perlahan dan menempelkan telinganya di pintu kayu.

“Kata Mama sama Papa, kamu itu bisa buat aku senang, bisa buat aku nggak kesepian, jadi kamu itu nggak boleh kotor, ngerti nggak Kelinci!” Novi yang mendengar celotehan si kecil jadi merasa sedih, ia tahu betul jika perasaan keponakannya yang baru berusia 8 tahun itu pastilah hancur.

Di usia sekecil itu ia harus menjadi yatim piatu. Kecelakaan beruntun yang mengakibatkan orang tua gadis mungilnya harus terenggut. Noelia Larissa yang waktu itu berusia tepat 6 tahun dihadiahi sebuah kabar buruk yaitu berita kepergian orang tuanya untuk selamanya. Kado terakhir yang sempat disiapkan oleh sang Ibu adalah sebuah boneka kelinci.

Boneka yang sudah diwasiatkan untuk menjadi teman Noe dikala sepi, dan Novi kini melihatnya sendiri, boneka itu benar-benar menemani kesepian Noelia. Hanya dirinyalah kerabat satu-satunya Noelia yang tersisa karena kedua kakek dan nenek Noe sudah lama tiada jauh sebelum dia lahir.

Ayahnya sendiri tak memiliki saudara kandung, sementara sang Ibu hanya memiliki Novi sebagai adik satu-satunya. Tentu saja, Novi yang selalu dibantu oleh kakaknya semasa sang kakak hidup akan merawat Noelia dengan baik semampu yang ia bisa. Walau kenyataannya ia terpaksa membuat Noelia terbiasa mandiri sejak dini karena Novi harus bekerja demi menghidupi dirinya dan keponakan cerdasnya.

Sungguh, Noe adalah anak yang sangat malang. Novi tahu jika Noe sangat butuh kasih sayang, tapi Novi belum bisa memberikan kasih sayang seutuhnya. Sebab dia harus fokus bekerja keras untuk menjamin masa depan Noe agar tak bernasib sama sepertinya. Gadis kecilnya harus kuat sendiri ditemani boneka kelincinya. Tanpa sadar air matanya menetes, kala mengingat kejadian nahas itu ...,

Novi tersenyum senang sembari memeluk kado berisi boneka untuk keponakan tercintanya. Padahal ia tahu jika sang keponakan tidaklah menyukai boneka, tapi kakaknya selalu saja memaksa untuk membelikan Noe boneka lucu. Kali ini di ulang tahun yang ke-6 lagi-lagi Noe mendapatkan boneka kelinci.

Novi hanya membayangkan wajah cemberut Noe yang seketika akan terganti dengan wajah senyum karena ia tak pernah mau membuat orang tuanya kecewa. Hanya Novi yang tahu jika Noe sang keponakan tidak menyukai semua boneka yang orang tuanya berikan. Noe itu gadis tomboy yang sukanya main kelereng dan sepak bola, bukan boneka.

Novi semakin erat memeluk kadonya karena sebentar lagi kakaknya akan datang untuk menjemput dirinya. Namun, setelah beberapa saat menunggu, sang kakak tak kunjung datang. Ia pun mencoba menelpon, tapi tak ada jawaban.

Novi mulai risau, haruskah ia pergi sendiri ke rumah kakaknya? Mungkin saja mereka sibuk sampai tak sempat menjemput dirinya. Namun, kenapa tak ada kabar jika memang seperti itu keadaannya?

Novi semakin risau, ia tak tenang. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah sang kakak seorang diri. Namun, di tengah perjalanan ponselnya berdering. Ia manyun karena sang kakak baru menghubungi saat ia sudah di tengah perjalanan.

“Hallo?” jawabnya ketus, tapi Novi langsung terdiam kala mendengar suara asing yang tak sama dengan suara sang kakak.

“Ini siapa?” tanya Novi hati-hati, perasaannya sudah benar-benar tak tenang. Saat ia mendengar sang penelpon mengutarakan maksudnya, wajahnya langsung pucat pasi. Bibirnya bahkan sampai gemetar, ia bingung harus bagaimana merespon penelpon itu. Sampai akhirnya ia sadar dan buru-buru menanyakan alamat rumah sakit di mana sang kakak dan kakak iparnya dibawa setelah mengalami kecelakaan beruntun.

Di rumah sakit itulah ia melihat kondisi sang kakak yang begitu parah, tapi ia bersyukur karena sang kakak masih sadar hingga ia bisa berbicara dengannya. Satu kalimat penting yang membuat dirinya harus siap untuk menjadi wali Noelia sang keponakan.

“Tolong, jaga Noelia, rawat ia, karena hanya kamu yang ia miliki di dunia ini. Berikan boneka kelincinya dan katakan bahwa boneka itulah yang akan menemaninya di kala sepi. Novi, Kakak percayakan Noe padamu.”

Derit suara pintu menyadarkan Novi dari ingatan masa lalu, ia segera menyeka air matanya dan berusaha untuk bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Karena ia tahu keponakannya tak menyukai dirinya yang menatap dengan iba. Noe si kecil berusia 8 tahun itu tumbuh menjadi pribadi yang hangat, humoris, dewasa, dan juga cerdas. Ia mampu menyikapi segala hal dengan tenang juga mampu menutupi kesedihannya selama 2 tahun terakhir dengan baik.

****

Komplek perumahan yang biasanya sepi terlebih selepas hujan sedari malam nampak riuh dengan keberadaan mobil truk pengangkut barang dan satu buah taksi yang berhenti di depan sebuah rumah yang lama kosong. Rumah itu berdempetan tepat dengan rumah Novi dan Noelia.

Novi keluar rumah saat melihat sebuah mobil berhenti di halamannya, karena ia mengira bahwa ada tamu datang. Ternyata justru ia memiliki tetangga baru. Seorang pemuda nampak keluar dari dalam taksi dan terlihat membawa tas ransel besar. Ia bahkan langsung membantu orang-orang yang menurunkan barang-barangnya untuk dibawa masuk ke dalam.

Saat hendak membuka pintu, ia melihat wanita cantik yang tengah berdiri di depan teras rumahnya. Pemuda itu pun tanpa sungkan tersenyum sopan.

"Permisi, Mbak. Saya Wisnu tetangga baru," ujarnya ramah. Wanita cantik itu pun menyambut senyumnya dengan sama ramahnya.

"Saya Novi, kamu tinggal sendiri nanti?"

"Eum, saya sama istri nanti." Novi nampak terkejut mendengar itu karena melihat perawakan Wisnu yang nampak muda, membuatnya mengira Wisnu adalah mahasiswa.

"Oh, aku kira kamu masih pelajar."

"Saya memang masih kuliah. Baru masuk kuliah tepatnya, Mbak, tapi saya sudah menikahi pacar saya." Wisnu nampak malu-malu mengatakan hal itu.

"Oh, baguslah daripada pacaran kelamaan ya kan?" Wisnu hanya tersenyum kecil dan pamit untuk masuk ke rumahnya. Saat wisnu sudah berada di dalam rumah, munculah Noelia yang sejak tadi mengintip dari dalam rumah.

"Ada apa, Tante?" tanya Noe sambil membawa boneka kelicinya.

"Ada tetangga baru, Sayang."

"Oh ya?" Novi mengangguk dan menunjuk truk juga rumah yang terbuka lebar di samping rumah mereka. Noe memerhatikan rumah itu sejenak sampai ia tersentak saat melihat Wisnu keluar dari sana.

"Itu Om yang punya rumah, Tante?" Novi mengangguk dan Wisnu kembali menyapa Novi.

"Wah, Mbak Novi udah punya anak toh?" tanya Wisnu ramah. Ia bahkan sampai mengusap rambut Noe. Noe nampak mundur karena takut dengan orang baru. Wisnu tersenyum kecil dan berusaha bersikap seramah mungkin pada Noe.

"Kenapa anak manis? Om nggak jahat kok, ayo kenalan. Nama Om, Wisnu, nama adik kecil siapa?"

"Aku udah besar, udah 8 tahun bukan adik kecil lagi," ketus Noe yang membuat Wisnu tergelak. Ia tak sangka jika bocah imut di depannya bisa setegas itu.

"Ya deh, Om minta maaf ya. Adik besar ini namanya siapa?" tanya Wisnu yang membuat Novi terkekeh. Wisnu hanya melirik Novi sekilas.

"Noe."

"Wih namanya bagus, Noe siapa ya panjangnya?"

" Noelia Larissa."

"Namanya cantik, persis wajahnya."

"Aku imut." Lagi-lagi Wisnu tergelak dengan jawaban spontan Noe. Novi yang melihat itu hanya tertawa karena ponakannya memang agak frontal dan ketus, tapi anak ini baik dan ceria. Mungkin karena Wisnu adalah orang baru hingga Noe merasa harus jaga jarak.

"Pak Wisnu, ini ditaruh di mana?" tanya salah seorang yang membantu membawakan barang-barang Wisnu.

"Oh, ya. Sebentar, Pak," jawab Wisnu, ia kemudian menatap Novi dan Noe.

"Mbak aku urus barangku dulu ya, biar cepet selesai."

"Iya, sudah sana."

Wisnu tersenyum dan berlari kecil ke arah halaman dan mulai mengarahkan mereka untuk menyusun barang-barang. Noe yang melihat itu hanya menarik kaos sang Tante. Novi menoleh.

"Kenapa?" tanya Novi.

"Om itu baik?" tanyanya.

"Baik, kok. Tadi aja mau kan sapa Noe dan senyum ke Noe?" Noe mengangguk dan memegang erat boneka kelincinya. Ia terus melihat punggung Wisnu yang membantu mengangkat barang-barang untuk dimasukkan ke dalam rumahnya.

Novi tersadar lalu melihat jam tangannya, ternyata benar sudah waktunya ia bekerja.

"Noe, Tante mau siap-siap dulu ya."

"Mau kerja ya?"

"Iya, Noe juga harus siap ke sekolah kan?"

"Enggak. Noe masuk siang, Tante."

"Oh, ya Tante lupa. Oke deh kalau gitu. Tante masuk ya mau siap-siap." Noe mengangguk dan tetap duduk di teras dengan bonekanya. Ia terus melihat ke rumah sebelah ketika orang-orang masih sibuk membawa barang-barang masuk sampai tak lama truk pun akhirnya pergi. Wisnu keluar untuk menutup pagar dan kaget melihat Noe sudah ada di depan rumahnya dengan membawa satu buku.

"Noe, ada apa?" tanya Wisnu.

"Buku Om?" tanya Noe. Wisnu memerhatikan buku itu, ia tak merasa memiliki buku seperti itu sih, tapi ia tetap ambil dan coba buka. Ternyata itu diary milik istrinya.

"Ini punya istri, Om. Makasih ya udah diambilin."

"Iya." Noe lantas balik badan dan kembali ke rumah dengan cueknya.

"Noe, Noe, gemesin banget sih," gumam Wisnu dan ia pun masuk ke dalam rumahnya untuk melanjutkan menata barang-barang di tempatnya.

Traktiran Pertama Noe untuk Om

Di rumah Wisnu, istrinya tengah duduk

Bab 2

Di rumah Wisnu, istrinya tengah duduk sembari memijit kepalanya. Wisnu menghampiri sang istri.

"Kamu pusing lagi, San?" tanya Wisnu sembari membantu memijit kepala sang istri.

"Aku capek ngerasain mual dan pusing, Nu."

"Aku minta maaf, ya. Maafin aku."

"Aku harus berhenti sekolah karena hamil, dan sekarang aku cuma berdiam diri di rumah ngerasain mual muntah tiap hari, capek aku." Santi nampak menangis karena merasa lelah. Wisnu mengecup kening Santi dan meminta maaf berkali-kali.

"Aku tahu aku salah. Aku khilaf, San."

"Kalau tahu begitu aku nggak mau dulu pacaran sama kamu, kamu itu buat hidupku jadi hancur. Rumah ini aja kalau bukan Papaku yang belikan mana mungkin kamu sanggup beli?"

"San, aku minta maaf, tapi aku janji aku akan kerja dan buat kamu bahagia."

"Kerja? Kamu aja masih kuliah siapa yang mau nerima kamu?"

"Aku akan berusaha kok, San. Kamu dukung aku aja, ya?" Santi tak menjawab ia malas berdebat dengan Wisnu yang keras kepala. Ia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan menenangkan pikirannya.

Ia merasa kesal karena harus mengalami hal ini. Kenapa dulu ia mau dibujuk rayuan setan Wisnu sampai mereka harus melakukan hal itu? Begini sekarang akibatnya. Santi benar-benar menyesal telah kenal dengan Wisnu. Padahal banyak hal yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kesuksesan, tapi lihat sekarang. Ia hamil dan harus tinggal di rumah yang berdempetan dengan tetangga. Jelas membuat Santi tak nyaman berada di sini.

Sementara Noe baru pulang sekolah jam 11 pas. Ia tidak pulang bersama keempat sahabatnya melainkan pulang sendiri karena para sahabatnya masih bermain di sekolah. Ia jadi bingung sendiri, entah kenapa hari ini rasanya dia ingin segera pulang dibanding bermain dengan para sahabatnya seperti biasa. Noe sudah mengganti pakaian setelah mandi dan langsung mencari makanan. Namun, saat membuka tudung makanan malah meja nampak kosong tak terisi apa pun. Noe menghela napas karena harus menahan lapar sampai sang tante pulang dari kerjanya. Ia lupa jika tantenya pulang dalam kondisi mabuk maka tidak akan ada makanan yang tersaji di meja makan. Noe turun dari kursi dan keluar rumah, berniat mencari teman-temannya yang siapa tahu sudah pulang dari sekolah. Saat ia baru berada di halaman rumahnya ia kembali mendengar sebuah pertengkaran dari rumah Wisnu. Kali ini pertengkaran mereka terdengar sangat jelas.

"Ngojek?! Kamu gila ya?! Kamu mau kasih makan aku pakai uang hasil ngojek??" teriak istri Wisnu.

"Ya nggak ada masalah kan, cuma buat sementara juga kok."

"Nggak!! Apa kata temenku nanti kalau kamu ngojek!! Aku ini orang kaya masa suaminya ngojek sih?!"

"Ya emang kenapa? Kamu harus mengerti, San. Aku ini masih kuliah jadi belum bisa kerja full time. Kamu harus ngertiin kondisiku juga lah."

"Mau sampai kapan? Hah!! Sampai kapan?!"

Noe yang ada di luar nampak tersentak dan buru-buru masuk ke dalam rumahnya lagi karena tak mau mendengar pertengkaran dua orang yang baru saja mengisi rumah kosong di samping rumahnya.

Beberapa jam kemudian Noe terbangun karena rasa lapar yang teramat sangat. Ia memutuskan untuk meminum banyak air putih agar bisa mengganjal rasa laparnya sebelum menunggu sang tante pulang di teras depan. Dia menutup pintu dan melihat sekeliling, komplek nampak sepi seperti biasanya dan hanya beberapa motor dan mobil yang lewat itu pun jarang. Merasa bosan, akhirnya Noe melangkahkan kakinya untuk menunggu di depan pagar rumah.

Saat baru sampai di depan pagar ia mendengar suara motor mendekat dan ia pun menoleh karena penasaran. Saat ia melihat ke arah motor ternyata ada Om Wisnu. Ia nampak memakai jaket warna hijau terang seperti para abang-abang ojol yang sering dipesan oleh sang Tante.

Begitu Wisnu melihat Noe ia menghentikan laju motornya. Ia sebenarnya masih kesal dengan istrinya tapi melihat Noe membuat emosi Wisnu mereda.

"Mau ke mana, Noe?" tanya Wisnu.

"Nungguin Tante."

“Tumben pake acara ditunggu segala?” ledek Wisnu. Noe manyun dan melipat kedua tangannya di dada.

“Aku laper tahu, Om,” ujarnya yang membuat Wisnu terkesiap.

“Laper?” ulangnya, apa ia tidak salah dengar? Sialnya Noe mengangguk membuat Wisnu menelan ludah. Noe kecil lapar, Wisnu jadi bimbang. Anak sekecil ini mengeluh lapar pada orang dewasa masa tidak ditawari makan, tapi ia tak ada uang lebih untuk membelikan Noe nasi bungkus juga. Bagaimana ya?

“Biasanya Tante suka kasih uang jajan lebih kalau pulang telat gini, Om. Kayaknya Tante gak sempat masak deh hari ini,” jelas Noe lalu ia menatap Wisnu. “Om, mau anter Noe beli makan di depan situ, nggak? Noe nggak bisa pesen makanan sendiri soalnya nggak punya hape, ada juga telpon rumah. Mau jalan ke luar komplek depan juga nggak kebayang capeknya. Soalnya Noe udah laper berat nih, Om.”

“Tapi ….”

“Gini aja deh, kalau Om mau nganterin aku beli makan ntar bakalan Noe traktir deh, gimana?” ujarnya membuat Wisnu berfikir ulang.

“Emang kenapa tiba-tiba mau traktir Om?” tanya Wisnu mengernyitkan dahi.

“Kebetulan tadi pas di sekolah aku makan ditraktir sama Reno CS. Jadi, hari ini aku kaya raya. Udah duit jajan ditambahin Tante, dua kali istirahat dijajanin sama Reno CS meskipun sekarang aku udah laper lagi sih. Lagian kata Tante, kita gak boleh lupa mengucapkan terima kasih setiap sudah ditolong seseorang. Jadi, karena Om udah mau bantuin biar Noe gak kelaperan sampai malem, makanya Noe ikhlas traktir Om.” Wisnu tergelak. Dia tak habis pikir, pintar juga bocah kecil ini tawar-menawar. Akhirnya ia menyanggupi ajakan Noe. Bukan karena tawaran traktiran, tapi tak tega melihat gadis kecil di depannya ini kelaparan lebih lama lagi seperti pengakuannya.

Dengan senang hati Noe naik ke boncengan motor Wisnu setelah mendapatkan kode untuk segera naik ke motor, lalu mereka pun pergi ke warung makan sesuai petunjuk dan pilihan Noelia

.

****

Wisnu dan Noe mengusap bibir mereka dengan tisu secara bersamaan. Lalu mereka saling lempar senyum. Noe bersiap untuk keluar dari warung setelah selesai membayar, tapi ia melihat Wisnu tengah memesan satu bungkus untuk sang istri dengan double ikan. Noe geleng-geleng kepala melihat itu.

‘Banyak juga makannya si istri Om,’ pikir Noe.

Sementara Wisnu tersenyum melihat bungkusan nasi dengan isi dua ikan di dalamnya. Dalam hati ia berkata, ‘Asik, istriku nggak akan ngambek lagi hari ini.’

Mereka pun kembali berkendara menuju ke rumah. Dalam perjalanan mereka hanya saling diam saja membuat jiwa iseng Wisnu kembali muncul. Ia langsung menghentikan laju motornya tiba-tiba, membuat Noe kaget dan hampir terjungkal karena tak berpegangan dengan benar. Karena shock ia pun memukul punggung Wisnu dengan kencang membuat Wisnu kaget tak terkira sekaligus menahan sakit.

“Kok mukul sih, Noe?” tanyanya menahan sakit.

“Lagian, ngapain berhenti mendadak, kalau Noe jatuh gimana coba?!” hardiknya kesal yang membuat Wisnu mati-matian menahan tawanya.

“Ya, maaf. Habis gimana dong? Motornya mogok,” jelasnya membuat Noe yang tadinya marah jadi kasihan.

“Eh, beneran mogok?”

“Iya.”

“Kok bisa?”

“Nggak tahu.”

“Terus gimana?”

“Ya terpaksa dorong mau nggak mau.”

“Siapa yang dorong?”

“Ya Noe lah, masa Om?”

Noe mengerutkan keningnya nampak berfikir, dan entah bagaimana bocah kecil itu mengangguk setuju untuk mendorong motor Wisnu. Dengan senyum tersembunyi Wisnu menaiki motor, kedua kakinya ikut mendorong motor yang sedang didorong oleh Noe karena ini memang akal-akalannya saja.

Sialnya dalam perjalanan mendorong motor, perut Noe mulai mulas karena tadi kekenyangan. Namun, ia gengsi untuk mengatakannya pada si Om. Pasalnya ia tengah terlihat keren dengan mendorong motor, tapi perutnya tak bisa diajak kompromi lagi dan ia pun kentut dengan suara yang nyaring sampai membuat Wisnu kaget dan menghentikan motornya lalu menoleh.

“Noe kentut ya?” tuduhnya dengan tepat. Noe salah tingkah, tapi berusaha menutupi rasa malunya.

“Iya, kentut sekaligus kecepirit!” jawabnya ketus dan Wisnu langsung tergelak mendengar pengakuan Noe. Perutnya sampai sakit karena tak kuasa menahan tawanya. Noe tentu saja kesal bukan main karena Wisnu justru menertawainya.

"Gara-gara Om nih," tuduh Noe pada Wisnu.

"Dih, kenapa jadi salah Om?"

"Ya salah Om, ngapain tadi pakai suruh Noe dorong motor segala?!"

“Ya karena Om pengen ngerjain Noe kalau motornya mogok, hahaha,” jawab Wisnu membuat Noe melotot tak percaya.

“Jadi, Om bohong sama Noe?!” tanyanya kesal.

"Ya kenapa kamu percaya?"

"Ya karena Om orang dewasa yang bisa dipercaya, tapi ternyata salah. Huh! Noe sebel sama Om Wisnu." Noe langsung bergegas pergi meninggalkan Wisnu. Untung rumah mereka sudah dekat, ia pun bergegas masuk ke rumah setelah mengambil kunci dengan tergesa dari dalam tas selempangnya, meninggalkan Wisnu yang bengong seorang diri karena ditinggal pergi seorang bocah setelah dimarahi. Ini yang bocah siapa sih sebenarnya?!

Bab 3

Hari ini Novi pulang lebih awal karena kemarin malam ia tak pulang ke rumah. Ia membawa bahan makanan yang lumayan banyak untuk masak hari ini. Ia merasa bersalah pada Noe yang sering kali ia tinggal. Padahal Noe masih kecil dan tentu saja tidak bisa masak sendiri.

Novi melihat rumah sudah rapih seperti biasa, tidak pernah sekalipun rumah nampak berantakan. Noe benar-benar menjaga amanahnya di mana rumah harus selalu rapih. Novi tahu Noe anak yang patuh walau di sekolah ia suka mencari masalah. Tapi Novi tahu kenapa Noe seperti itu, ia butuh perhatian yang tidak ia dapat di rumah.

Novi menaruh bahan belanjaan di dapur lalu ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri sejenak. Setelah itu ia langsung masak untuk makan siang Noe. Novi begitu serius saat memasak dan memang hasil masakannya sangatlah enak. Noe adalah penggemar masakannya yang selalu bilang enak setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya itu.

Novi sudah tidak sabar untuk melihat Noe makan dengan lahapnya. Ia juga menggoreng ayam kesukaan Noe dan sayur sop ceker. Ia juga menumis dan lainnya. Pokoknya hari ini penuh makanan enak kesukaan Noe.

Selesai memasak Novi merasa lelah dan ia pun istirahat di teras rumahnya. Melihat tanaman yang tidak pernah ia rawat dengan tangannya sendiri karena sudah ada Noe yang merawatnya. Sisa-sisa air yang disiram Noe masih terlihat jelas di pot-pot masing-masing.

Saat tenang seperti inilah yang ia ingin rasakan. Bukan melulu dunia malam yang membuatnya kadang lupa diri untuk pulang. Saat menikmati keheningan sebuah suara bantingan terdengar dari rumah sebelah. Novi sampai tersentak kaget dan bangun dari duduknya.

Ia menuju rumah sebelah dan berharap tak terjadi apa-apa. Novi mengetuk pintu rumah Wisnu namun tak ada jawaban, ia ketuk sekali lagi sampai pintu terbuka. Seorang wanita muda dengan wajah cantik nan jutek tengah menatap dirinya dengan sinis.

“Siapa?” tanya Santi ketus.

“Novi tetangga sebelah.”

“Ada perlu apa?”

“Hanya khawatir, tadi aku dengar suara barang jatuh?”

“Bukan urusanmu.”

“Urusanku kalau sampai mengusik ketenanganku.”

“Maaf kalau mengusikmu.”

“Aku tanya ada apa?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Kita tetangga, wajib saling tahu.”

“Itu namanya kepo dan mencampuri urusan orang lain.”

“Angkuh sekali.”

“Siapa yang angkuh, kamu yang tiba-tiba ketuk-ketuk rumah orang.”

“Terserah.” Novi lantas pergi sudah tak ada respeck lagi terhadap istri Wisnu itu. Begitu sombong dan angkuhnya jadi orang. Masih muda tidak tahu tata krama. Mood Novi hancur seketika.

****

Noe yang sudah pulang dari sekolah merasa heran melihat Novi tengah berwajah masam di depan tv. Noe pun menghampiri Novi dan duduk di sebelahnya.

“Tante kenapa?” tanya Noe. Novi melirik Noe sekilas lalu berpaling kembali.

“Kamu bener Noe, tuh orang sebelah cantik doang, tapi nggak punya etika.” Noe berfikir sejenak. Apa yang dimaksud tantenya adalah istri Wisnu?

“Istri Om Wisnu ya?”

“Iya.”

“Emang kenapa, Tan?”

“Udah nggak usah dibahas lagi, males Tante, anggap aja tuh orang nggak ada sekalian.”

“Ih, Tante kenapa deh?”

“Intinya Tante nggak suka, itu aja.”

“Iya deh.”

Noe menghela nafas dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Saat itu Novi baru ingat kalau ia belum memberitahu Noe soal masakannya.

“Noe!!” seru Novi

“Ya?” jawabnya dari dalam kamar.

“Tante masak kesukaanmu, tuh.” Di dalam kamar Noe langsung sumringah dan kembali keluar kamar.

“Beneran Tante?”

“Iya, tuh di meja makan.” Noe langsung mengangguk cepat dan menuju ke ruang makan. Noe langsung ngiler liat makanan kesukaannya. Ia pun dengan cepat mengambil piring dan makan dengan lahap. Saat Noe makan dengan lahap Novi justru menerima telepon yang membuat wajah Novi kesal.

Novi nampak masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu, Noe hanya mengelus dada karena sempat kaget mendengar suara bantingan pintu. Tak lama Novi keluar dengan pakaian rapih beserta tasnya.

“Tante, mau kerja?” tanya Noe yang sudah selesai makan. Novi mengangguk malas.

“Tante nggak pulang 3 hari ya.” Noe kaget mendengar itu. Tapi apa yang bisa Noe lakukan, ia hanya mengangguk saja dan tersenyum seperti biasanya.

“Uang jajan dan makan kamu di tempat biasa ya.”

“Ya, Tan.”

“Tante berangkat dulu.” Noe langsung menghampiri Novi dan mencium punggung tangannya.

“Hati-hati, Tan.” Novi mengangguk dan melangkah pergi. Ia bahkan membawa tas yang lumayan besar yang dipakai untuk menaruh pakaian gantinya.

Noe melihat sang tante yang sudah berjalan semakin jauh dari rumahnya. Ia pun duduk di teras dan merasa kembali sepi. Baru saja ia makan enak besok harus makan seadannya lagi. Ia berfikir makanan sebanyak itu siapa yang akan memakannya?

Saat tengah berfikir begitu ia mendengar suara motor dan ia pun bangun. Terlihat Wisnu baru pulang kerja. Noe langsung punya ide untuk membagikan makanan yang ia punya kepada Wisnu, ia pasti suka.

“Om Wisnu!!” seru Noe. Wisnu yang baru turun dari motor langsung menoleh. Ia nampak senang karena Noe sudah mau menegurnya duluan.

“Ya Noe imut?” goda Wisnu. Noe cuek.

“Om udah makan belum? Aku punya banyak makanan, Tante yang masak, kalau Om mau aku bawain nih ya.” Noe begitu ceria saat mengatakan hal itu. Wisnu pun tak mampu untuk menolak kebaikan Noe. Ia mengangguk tanda setuju dan Noe pun langsung berlari ke dalam dan menyiapkan semuanya untuk dibawa oleh Wisnu.

Wisnu yang melihat Noe kesulitan membawa makanan langsung bergegas membantunya.

“Tolong bawa ini ya, Om.” Noe memberikan nasi dan sayur. Sisanya Noe yang bawa.

“Banyak banget, Noe. Kamu makan apa nanti?” tanya Wisnu heran.

“Masih banyak kok,” jawab Noe.

“Tante mu nanti makan apa?”

“Tante kerja lagi, pulangnya 3 hari kemudian.”

“Ha? Serius?” Noe mengangguk.

“Kamu sendirian dong?”

“Udah biasa kok.”

“Astaga, tapi kamu kan masih anak kecil.”

“Anak kecil yang kuat dan berani.”

“Hufh … Noe, Om nggak tega lihat kamu sendirian di rumah kaya gini. Gimana kalau kamu tidur di rumah Om aja?” Noe langsung menolak mentah-mentah.

“Kenapa?” tanya Wisnu heran.

“Ada istri Om, nggak mau.”

“Dih, justru karena ada istri Om kamu boleh nginep, kalau nggak ada istri Om malah nggak boleh lah.”’

“Emang kenapa?” tanya Noe polos. Saat itulah Wisnu bingung bagaimana menjelaskannya. Lagipula kenapa ia berfikir begitu? Bukankah Noe hanya anak usia 8 tahun yang mungil. Kenapa ia sampai khawatir begitu. Aneh.

“Ya nggak apa-apa sih, kalau ada istri Om kan lebih enak lagi.”

“Enggak, enggak enak.”

“Kenapa enggak enak?”

“Nggak apa-apa.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa, Om.” Noe mencoba mencari cara agar tidak ditanya terus. Ia pun memilih untuk keluar dari rumah dengan membawa makanan ditangannya. Wisnu pun mengikuti Noe.

“Noe, taruh sini dulu aja makanannya, Om panjat dulu, nanti kamu oper satu-satu ya.” Noe mengangguk. Walau sebenarnya ia ingin mengantar ke rumah Wisnu lewat jalan yang seharusnya. Mungkin Wisnu sudah kelaparan jadi tak sabar.

“Sini Noe.” Wisnu meminta Noe untuk memberikan makananya. Ia pun memberikannya dan Wisnu membawanya masuk ke dalam rumah hingga dua kali bolak-balik.

“Udah Om.”

“Iya, makasih ya, bilang makasih juga untuk Tante mu.”

“Siap.”

“Om masuk dulu ya.”

“Iya.”

“Kamu beneran nggak apa-apa di rumah sendiri?”

“Nggak apa-apa kok, udah biasa.”

“Hufh, kalau ada apa-apa kasih tahu ya.”

“Ya, Om.” Wisnu mengusap rambut Noe dan masuk ke dalam rumahnya.

Noe menghela nafas, sekarang ia merasa lebih aman karena ada Wisnu di samping rumahnya. Setidaknya ia tak harus begadang karena merasa takut tidur sendirian. Anggap saja rumah sebelah itu sama seperti kamar sebelah tantenya yang tengah tidur.

Ya, anggap saja seperti itu. Noe pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan lega. Namun, saat hendak menutup pintu ia mendengar suara piring pecah. Noe terkejut bukan main dan kembali lari ke dinding pembatas dan tak lama keluar Wisnu dengan wajah super kesal dan marah.

“Om ….”

Wisnu tak mendengara Noe karena ia langsung pergi dengan motornya. Noe melihat pintu yang terbuka di mana terlhat istri Wisnu tengah duduk di ruang tamu dengan lantai penuh makanan berserakan. Noe langsung sedih, ia paham sekarang. Istri Wisnu pasti tidak mau menerima makanan dari dirinya.

Noe memberikan makanan itu untuk dimakan agar tidak mubazir. Tapi sekarang lebih mubazir karena dibuang begitu saja. Bukan Noe yang masak tapi Noe tau rasa sakitnya bila makanan yang kita berikan tidak dihargai.

Jangan sampai tante tahu tentang hal ini. Noe melangkah gontai dan masuk ke dalam rumahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED