Bab 1

Aku Mundur, Mas!

#1

...

Click

Bunyi pemberitahuan dari mobile banking yang ada dilayar gawaiku, yang mana tertulis sejumlah nominal yaitu 5.500.000, dari uang tabungan yang selama ini aku dan suamiku kumpulkan.

Tercengang.

Bagaimana mungkin, uang yang bertahun-tahun kami kumpulkan dan jika aku ingat-ingat jumlah terakhir ketika aku mencetaknya di buku ATM milikku adalah 60.500.000.

“Ada yang tidak beres sepertinya, pasti ada hubungannya dengan keluarga mas Guntur!” gumamku.

Tangan ini masih bergetar memegangi kartu ATM, degupan kencang sangat terasa hingga menimbulkan guncangan naik turun pundak ini, sampai-sampai putri kecil yang masih tertidur dalam gendonganku ini terbangun, karena kerasnya suara deruan napas yang memburu.

Segera aku lajukan motor yang kukendarai dengan kecepatan lebih dari biasanya, tujuanku tidak lain adalah agar bisa segera sampai di rumah.

Untung saja segera aku mengetahuinya sebelum terlambat.

Akhirnya aku sampai di halaman rumah kontrakan yang selama beberapa bulan ini kami tempati.

Aku masuk ke dalam rumah, selepas mengembalikan motor yang baru aku pinjam pada tetangga sebelah rumah.

Setelah selesai aku memandikan Zaskia, putri kecilku, aku pun gegas untuk bersih-bersih usai merapikan rumah ini.

Kini saatnya aku menunggu kepulangan dari mas Guntur, laki-laki yang meminangku lima tahun yang lalu, aku Syahfitri 26 tahun. Seorang ibu rumah tangga yang terkadang ikut andil membantu suami mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi merajut masa depan yang lebih baik lagi.

Sengaja aku mencari kesibukan dengan berbekal hobi memasakku yang diwariskan oleh ibuku sendiri.

Awalnya iseng dengan mengunggah hasil foto masakan yang baru selesai aku buat dan tetangga sekitar tempat tinggalku sebagai penguji rasa dari hasil olahan tanganku tersebut.

Akhirnya aku pun mulai memberanikan diri untuk menawarkan jasa melayani pesanan nasi kotak melalui akun biru dan hijau yang aku punya.

Dari mulut ke mulut juga dari sosial media yang aku punya. Akhirnya rasa dari masakanku itu cocok dengan lidah para konsumenku.

Karena sebagian besar dari konsumen yang memesan akan menanyakan DP untuk pesanan mereka. Karena dunia sudah canggih, mereka pun bisa lebih mudah melakukan pembebasan via transfer tanpa susah-susah keluar rumah. Oleh karena itulah aku berinisiatif untuk membuka rekening sendiri.

*

Sembari menunggu kedatangan ayah dari putriku tersebut, aku bersiap membuatkannya segelas kopi panas yang menjadi minuman favoritnya.

Tak berselang lama yang ditunggu pun sudah tiba, suara deru motor yang kukenali milik dari mas Guntur itu terdengar dari dalam rumah kami.

Seperti biasanya, aku akan menyambutnya dengan senyum manis, seperti tidak terjadi apa-apa, karena aku yakin, ia sengaja menyembunyikan hal tersebut dari istrinya.

“Assalamualaikum.” Terdengar suara suamiku mengucapkan salam dari balik pintu.

“Waalaikumsalam, sudah pulang mas?” Aku menjawab salamnya.

Kusambut uluran tangannya dan menciumnya dengan takzim.

“Mas, diminum kopinya mumpung masih panas.” Kuserahkan secangkir kopi yang telah kubuat beberapa saat sebelum kedatangannya.

“Kamu masak apa hari ini, Dek?”

“Aku gak masak, mas, itu di meja dapur masih ada sisa ayam bakar, sayur urap sama lalapan pesanan ibu-ibu PKK tadi pagi,” Aku menyiapkan makanan untuk suamiku itu,“ Ini makan dulu, baru aku angetin juga.”

Mendengar jawaban dariku, segera suamiku itu beranjak dari tempat duduknya. Segera ia berjalan ke arahku yang berada di dapur rumah ini.

“Ini nasinya, mas mau aku ambilin apa dulu?” Aku menyerahkan sepiring nasi dan menawarkan lauk yang ada di hadapannya.

“Campur in semuanya aja, dek. Tahu kamu masak enak hari ini, aku minta kamu buat nganter juga ke rumah ibu.”

Bruak!

Ku letakkan piring berisi nasi dan lauknya di hadapan suamiku dengan kasar dan sedikit membuatnya tersentak.

Kalau yang enak-enak saja Ibu dan juga saudaranya langsung diingat. Coba dengan keluargaku. Mimpi saja gak bakalan kesampaian bisa kalau semuanya masih dal kendali ibu mertua. Lebih tepatnya mas Guntur itu pilih kasih orangnya, antara keluarganya dan keluargaku beda cara dia memperlakukan kami.

Bukan aku tak mau menghormati Ibu juga saudara-saudaranya. Melainkan merekalah yang memang tidak menginginkan diri ini dan seolah aku akan menguasai putra mereka. Aku akan bersikap sewajarnya jika memang mereka pun berlaku wajar kepadaku.

“Ups...maaf mas, ini kesandung kaki kursi.” Ucapku ngeles, aku dapati tatapan melotot dari suamiku itu. “Mas bilang apa tadi?” aku ingin ia mengulangi ucapannya.

“Itu loh, kalo kamu masak enak, mbok ya ingat sama ibu, kamu sisihin kek, biar aku antar ke rumahnya.” Ucapnya dengan santai sambil menikmati hidangan dipiringnya.

“Itu kan pesanan orang, mas, jadi aku masaknya juga ya sesuai dengan jumlah yang dipesan, dan disesuaikan sama ada budgetnya, mana ada sih orang berbisnis itu punya cita-cita buat rugi.” Ucapku sewot menanggapi perkataan suamiku.

“Iha...kok kamu perhitungan, itu kan ibu aku, berarti ibu kamu juga, kasih ke orang tua itu sama dengan menabung pahala.” Dia berucap dengan mulut penuh makanan yang dikunyahnya.

“Iya, nanti, nunggu bulan depan, nunggu kamu gajian dulu, ntar aku masak in, kamu bawah tuh ke rumah ibumu, biar saudara-saudaramu juga gak perlu repot-repot masak dan ngeluarin uang belanja.” Ucapku sewot dan seolah-olah meninggikan keluarganya itu.

“Nah gitu dong, kan keluargaku berarti keluargamu.” Aku menanggapinya dengan menyebutkan bibirku ini.

Selesai makan, dan aku membersihkan bekas makan dari suamiku, kususul dia untuk masuk ke dalam kamar. Kulihat dia mencium pipi gembil putri kami yang terlelap setelah kumandikan dan kuberi makan tadi.

“Mas, kartu ATM kita, kamu simpan di dompetmu?” tanyaku ketika ia hendak meletakkan celana yang tadi dipakainya kerja.

“Iya, dek, aku yang bawah, memang ada apa?” tanyanya tanpa ada sedikit pun rasa bersalah.

Aku mencari cara untuk bisa mendapatkan kartu ATM-ku yang dibawa olehnya.

Bukan tanpa alasan aku menyarankan begitu saja benda yang berisi uang hasil kerja kerasku itu kepadanya. Aku berpikir karena kami adalah suami istri yang tak harus menutupi sesuatu dari pasangan kita. Termasuk juga ATM yang dipegang oleh mas Guntur.

Tidak hanya uang hasil penjualan makanan milikku. Di situ juga terdapat sebagian dari gaji suamiku yang tujuan kami akan pergunakan untuk keperluan masa depan kami, termasuk untuk biasa pembangunan rumah impian kami berdua.

“Mas di situ kan ada tabungan kita yang jumlahnya juga lumayan, kalo kamu simpan di dompetmu, terus dompetmu ada yang mengambilnya, gimana nasib kita, kan otomatis pencurinya bisa menguras habis isi dalam kartu ATM itu.” Mendengar ucapanku, seketika air muka suamiku berubah, dia nampak gugup dan menyembunyikan sesuatu dariku.

“Eh—anu, aku hati-hati kok menyimpannya.” Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal.

“Ya, sudah mas mandi dulu sana, bau asem.”

Sesaat sebelum suamiku beranjak menuju kamar mandi, aku sengaja mengawasinya saat dia menyimpan di mana dompetnya, sengaja aku berpura-pura sibuk dengan gawaiku. Selain berjualan makanan secara online aku juga berjualan online segala macam kebutuhan fashion para kaum hawa, seperti baju, kerudung, tas dan kosmetik yang memiliki standar BPOM.

Setelah kurasa, mas Guntur sedang sibuk dikamar mandi, cepat-cepat aku menuju tempat di mana suamiku itu meletakkan dompetnya, segera aku bukan dompetnya dan ku ambil apa yang ku cari, yaitu kartu ATM ku yang di jadikan santapan pesta oleh keluarga suamiku.

Sebelum ia selesai dari mandinya, segera aku rapikan dompet tersebut, dan meletakkannya seperti semula.

Untung saja aku masih bisa mengamankan sedikit dari sisa tabungan yang entah ke mana arahnya ia digunakan.

Aku sudah mempunyai rencana untuk itu, setelah sekian lama dan tekat yang sudah bulat, akan aku buat perhitungan untuk mereka semua.

Mungkin mas Guntur pun keluarganya tidak akan pernah mengira bahwa aku akan mengetahui permainan mereka di belakangku. Sebenarnya sudah ada kecurigaan sebelumnya namun tak bisa asal menuduh sebelum adanya bukti yang kutemukan. Tuhan maha adil akhirnya aku diberi-Nya petunjuk.

Aku memang baru saja memasang aplikasi mobile banking karena dirasa perlu. Dan salahku memang tidak sedari awal pembuatan buku tabungan. Dan memang ternyata benar. Aku bisa mengetahui kecurangan atas tabunganku melalui aplikasi yang telah terpasang di ponsel milikku ini.

Akun: Muninggar88

Judul : Aku Mundur, Mas!

Bab 2

#AKU MUNDUR, MAS! 2

Nampak suamiku belum menyadari bahwa kartu ATM yang selama ini selalu ia bawah kemana saja, karena tidak pernah tertinggal dari dalam dompetnya, namun kini telah berpindah tangan.

Sampai saat ini, ketika ia hendak berangkat bekerja, nampak sikapnya yang biasa-biasa saja, justru sangat ceria seperti habis menang undian.

Selepas ia berangkat ke tempat kerjanya, tanpa sengaja ada yang menarik netra ini, sebuah benda pipih yang tergeletak di atas rak sepatu yang berada di sudut ruangan tamu. Karena penasaran tanpa pikir lama segera ku ambil, dan benar saja ada beberapa pesan masuk, yang tidak lain berasal dari komplotan keluarga benalu.

“[Gun, Minggu besok jangan lupa kamu datang ke rumah ibu, sendiri saja, gak usah bawah anak sama istri kamu]” bunyi pesan pertama dari mbak Mila, kakaknya mas Guntur, sekaligus anak sulung dari ibu mertua, iya karena bapak mertua telah lebih dahulu meninggal, bahkan sebelum aku menjadi menantu di keluarga tersebut.

“[Gun, Minggu besok pulang, jangan lupa janji kamu kemarin]” bunyi pesan kedua, yang ternyata dari ibu mertua.

Aku mengerutkan dahi ketika membaca pesan dari ibu mertua, dan janji apa yang diberikan oleh mas Guntur pada ibu mertuanya tersebut.

Awas saja, kita lihat saja nanti. Apa yang sudah ia janjikan kepada ibunya tersebut. Haruskah itu ia sembunyikan dari aku, istrinya. Ataukah ini pula ada kaitannya dengan terkurasnya uang yang ada di kartu ATM milikku.

Terlintas dibenakku, apa baiknya aku cetakkan kembali buku tabungan milikku tersebut. Yang aku tahu melalui buku tabungan yang dicetak kita bisa mengetahui keluar masuknya uang yang ada di sana, termasuk juga tanggalnya.

Setelah menimbang-nimbang ide tersebut. Baiknya aku lakukan saja tinggal menunggu waktu yang pas, waktu Linggar ketika tidak berbenturan dengan waktu mengerjakan pesanan konsumen.

Segera ku letakkan kembali gawai itu pada tempatnya semula, sebelum si empunya menyadarinya dan mungkin saja berbalik arah dan kembali pulang untuk mengambilnya.

Ternyata suamiku selain lugu atau pintar sekali untuk dibodohi keluarga, ternyata ia juga seorang yang sembrono dan pelupa.

Setelah persiapanku mantap, segera aku melajukan motor yang tadi aku pinjam pada mbak Mamik tetangga sebelah rumah kontrakan dan untung saja beliau bersedia untuk aku mintai tolong menjaga Zaskia selama aku pergi untuk urusan yang sangat penting.

Setelah aku sampai pada tempat tujuanku, aku sampaikan keperluanku pada customer servis dari sebuah bank yang menjadi tempat di mana aku menyimpan tabunganku.

Aku utarakan niatku untuk mengganti nomer pin, juga membuat buku tabungan yang baru serta mencetakkan buku tabungan yang lama. Tidak sebentar memang perlu antre beberapa nomer yang ada di depanku. Untung saja aku tidak terlalu siang sehingga bisa mendapatkan nomer antrean yang tidak terlalu jauh.

Sebenarnya mas Guntur sudah memiliki kartu ATM sendiri dari tempatnya bekerja. Karena melaui ATM tersebut suamiku menerima upahnya dari tempatnya bekerja.

Aku percayakan suamiku untuk menyimpankartu ATM milik bersama kami, karena tiap gajian pun mas Guntur selalu menyisihkan sebagian dari gajinya sebagai operator produksi di sebuah pabrik untuk kami tabung. Dan di ATM bersama itulah ia menyimpan uang tabungannya tersebut.

Selama lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, tak sekalipun suamiku itu memberi tahukan berapa besaran dari gaji yang diterimanya. Hanya saja ia selalu rutin memberiku dua juta setiap bulannya. Sebagian untuk ditabung, untuk ibunya, juga untuk pegangannya sendiri.

Setiap kali aku tanya berapa gaji yang ia peroleh tiap bulannya, dan jawaban yang aku dapat selalu sama. “Itu urusan laki-laki, pokok aku kasih kamu uang belanja tiap bulannya!” seperti itu jawaban yang selalu aku dapatkan.

Mas Guntur cenderung tertutup untuk urusan gaji ada istrinya.

Selesai mengurusi kepentinganku itu, segera aku menuju rumah, mengembalikan motor, dan mengambil Zaskia, tak lupa aku memberikan sedikit oleh-oleh sebagai tanda terimakasih pada mbak Mamik.

Sebelum mas Guntur menyadari dan pulang ke rumah, lebih baik segera aku meletakkan kartu ATM itu pada posisi seolah-olah terjatuh dari dalam dompetnya.

Benar saja dugaanku, ternyata deru suara motor milik mas Guntur sudah berada di halaman.

“Loh, mas, jam segini kok sudah pulang?” tanyaku basa-basi.

Aku mengekor dibelakang suamiku. Untung saja pesanan makan untuk hari ini masih kosong, sehingga aku bisa segera mengurusi tentang tabungan yang raib entah kemana. Dan sebagai bukti, tak lupa aku mencetakkan buku tabungan ku tersebut, guna mengetahui detailnya.

“Iya, ada yang kelupaan.” Jawabnya.

Sambil terus berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar kami, dia membuka lemari tempat dimana ia biasa meletakkan dompetnya.

“Kamu nyari apa, mas?”

“Anu—Hp sama ATM mas ketinggalan.” Ucapnya sambil celingukan dan membolak-balikan baju yang telah aku tata rapi di rak lemari.

“Kamu lupa kali narohnya.” Ucapku, dengan sedikit berakting peduli dan ikut mencari. “Ini apa, mas.” Ku tunjukkan kartu tersebut yang terselip diantara tumpukan celana dalamnya.

“Oh, iya, mas ngak kelihatan nyelip disitu.” Jawabnya sambil nyengir. “HP-nya sudah ketemu belum?” tanyaku.

“Belum, masih mau mas cari, mas lupa naroh tadi pagi.”

Setelah menemukan apa yang di cari, bergesas ia kembali ke tempatnya bekerja.

Ada yang sedikit mencubit hati ini, ternyata yang ia dan keluarganya perlukan saja yang diingatnya.

Ku kira selain keperluan mencari barangnya yang tertinggal, ia juga akan menghampiri putrinya yang sudah tertidur atau menanyakan tentang putrinya.

Hari Minggu pun tiba, seperti pesan yang telah dikirimkan oleh ibu mertua dan kakaknya, selepas menjalankan kewajibannya, suamiku buru-buru untuk bersiap, dan ketika aku tanya mau kemana dan ada urusan apa jawaban mengecewakan yang aku dapat.

Dia beralasan bahwa hari Minggu ini, ia ada kerja lembur.

Tak ingin membuatnya menaruh curiga karena aku juga, telah membaca pesan yang dikirimkan di hpnya tersebut.

Selepas kepergian suamiku ke rumah ibunya, aku menyibukkan diri dengan mempersiapkan bahan-bahan untuk pesanan hari esok, karena sebelumnya aku sudah meminta tolong pada mbak Tatik, seseorang yang biasa aku mintai bantuan untuk membantuku mempersiapkan orderan makanan yang dari para pelanggan.

Terbesit olehku untuk menyadap HP yang selalu digunakannya untuk berhubungan dengan keluarganya.

Ingin mengetahui seperti apa kelakuan keluarga suamiku di belakangku, yang dengan tega memanfaatkan kebaikannya.

Ataukah aku yang salah melangkah hingga terjebak di kandang serigala yang berbulu domba.

Mengingat kejadian di waktu yang lalu.

Bagaimana aku bisa mengetahui bagaimana aslinya tabiat mereka.

Masih membekas di ingatan, ketika awal-awal aku tinggal bersama mereka sewaktu aku hamil Zaskia.

Bagaimana tidak, ibu mertua menuduhku tanpa bukti telah mencuri makanan yang kita dapatkan dari hajatan salah satu dari saudara mertua, betapa perih tuduhan tersebut yang jelas-jelas mbak Mila-lah, anak selungnya yang sudah mengambil bagianku, dan itupun telah diketahui oleh bulek Sri, yang merupakan adik kandung dari ibu mertua.

Bukan hanya itu, seorang ibu yang tega mengadu domba anaknya sendiri, dengan menuduhku telah menelantarkan dan tidak merawat nya sewaktu dia sakit serta menuduhku yang katanya aku tidak memberinya makan. Suamiku tanpa bertanya padaku, ia memarahiku dengan mengatakan menyesal telah menjadikanku istrinya, tetapi untung saja kejadian tersebut diketahui oleh bulek Sri, yang mana tempat tinggalnya adalah berada bersebelahan dengan rumah ibu mertua. Beliau mengatakan pada suami ku jika semua yang diadukan ibunya itu tidak benar adanya, justru ibunya-lah yang membuang-buang makanan.

Tak ingin terpuruk dalam rasa sakit dari masa lalu.

Aku sebagai istri ingin meluruskan kewajiban suamiku sebagai anak terhadap ibunya, juga sebagai seorang suami kepada istrinya.

Aku masih berharap suamiku tersebut masih bisa menyadari akan perbuatannya itu.

Jika memang pilihannya adalah tetap maka pilihan untuk mundur yang akan aku pilih.

Karya: Muninggar88

Judul: Aku Mundur, Mas!

Bab 3

AKU MUNDUR, MAS!

#3

Jam dinding menunjukkan pukul lima sore ketika suamiku tiba di rumah.

Apa dia telah lupa akan alasannya sendiri?

Harusnya jika ia tadi beralasan untuk pergi bekerja, maka harusnya pukul empat sore dia sudah berada di rumah, dikarenakan jarak kontrakan kami dengan tempat kerjanya adalah hanya memerlukan waktu sepuluh menitan.

"Assalamualaikum," suamiku mengucapkan salam ketika berada didepan pintu.

"Wassalamu'alaikum, iya sebentar." jawabku dari dalam rumah seraya aku berlari kecil menghampiri pintu rumah untuk membukanya. "Kok tumben, mas, baru pulang?" tanyaku pura-pura.

Dia kira aku orang bodoh yang gampang dikibuli.

"Eh... anu, tadi mas mampir ngopi diwarung dekat tempat kerja mas, gak enak nolak ajakan temen, rame-rame pula tadi ngopinya." jawaban yang tidak sinkron dengan raut muka yang menampakkan kegugupan.

"Wah, beneran, berarti aku gak perlu buatin kopi buat mas, lumayan buat pengiritan." kuberikan senyuman mengejek untuknya.

Mulai saat ini, aku pastikan akan memantau kelakuan kalian di belakangku.

Untung saja tadi pagi sewaktu mas Guntur mandi dan meninggalkan gawainya di tempat biasa ia meletakkannya, aku mendapat kesempatan untuk mempraktikkan cara mensadap HP dari tutorial yang telah aku pelajari melalui sebuah aplikasi yang bernama you***e, dan tak perlu memakan waktu lama, akhirnya berhasil, otomatis segala aktivitasnya yang berhubungan dengan benda pipih bernama HP itu pun akan tampil pula di layar HP-ku.

===

Keesokan paginya, hari ini aku disibukkan dengan rutinitas ku melayani pesanan online, yang harus terselesaikan pada siang hari ini.

Lima puluh box paket nasi kuning beserta Snack boxnya untuk acara rapat di balai desa.

"Dek, nanti jangan lupa disisihin sebagian lauknya, biar nanti aku antar ke rumah ibu, jangan lupa ada Rosi yang lagi hamil, kan perlu tu makan makanan yang bergizi, jangan lupa sama mbak Mila juga, kita itu berhutang Budi pada keluarga gak Mila, kalo bukan karena suaminya, belum tentu aku bisa kerja seperti ini." selepas sarapan dan mengenakan sepatunya, mas Guntur menghampiriku yang tengah berkutat dengan aneka macam bumbu-bumbu.

"Hmm!" Ku tanggapi hanya dengan deheman.

Percuma ngomong sama suamiku ini, orang yang ngeyelnya gak ketulungan, mau menangnya sendiri, dan baru sadar kalo dia sudah kena batunya.

Baru lima tahun membina rumah tangga dengannya saja, rasanya sudah seperti ini, bagaimana dengan kedepannya nanti.

Tak pernah putus aku mendoakan suamiku agar diluruhkan dan diluruskan hati dan pikirannya. Dan untuk keluarga suamiku, mudah-mudahan mereka segera mendapatkan teguran dari yang Mahakuasa, dan segera insyaf.

Malas menanggapi ocehan suami, apa lagi yang menyangkut kepentingan keluarganya.

Aku tahu, suamiku bisa bekerja seperti saat ini berkat informasi lowongan pekerjaan yang dibuka, di mana suami mbak Mila juga bekerja di sana. Namun tanpa usaha suamiku sendiri ketika menjalani seleksi dan interview gak akan ada gunanya juga informasi itu. Karena suami mbak Mila juga hanya bekerja sebagai buruh biasa, di bagian gudang, berbeda dengan mas Guntur yang mendapatkan posisi lebih baik, yaitu di bagian Quality Control.

Oleh karena itu, sampai sekarang mbak Mila dan suaminya mengganggap bahwa mas Guntur itu berhutang budi pada mereka.

Sedangkan Rosi yang notabenenya adik ipar, istri dari Yoga adiknya mas Gutur juga mendapatkan prioritas dari ibu mertua, iya aku tahu beliau lebih menyayangi Rosi dari pada aku, meski dalam ucapannya selalu mengatakan bahwa beliau menganggap anak dan menantu itu sama, tapi kenyataannya terlihat berbeda.

Adik iparku tersebut terlalu manja dan terlalu dimanja oleh ibu mertua, sangat berbanding terbalik sikapnya padaku.

Aku bisa menilai kelicikan dari saudari iparku ini, ia memanfaatkan kasih sayang ibu mertua untuk keperluan dirinya sendiri.

Jika mengingat kembali dengan kondisi dan posisi ku yang dulu, yang sama dengannya, terasa darah ini mendidih hingga ke ubun-ubun.

Sebelum aku memutuskan memaksa keluarga dari neraka yang diciptakan oleh keluarga suamiku. Aku pernah tinggal serumah dengan ibunya juga adiknya, sedangkan posisi rumah mbak Mila sendiri letaknya bersebelahan dengan ibu mertua, rumah ibu mertua berada diapit oleh rumah bulek Sri dan rumah mbak Mila.

Ibu mertuaku hanya bersikap manis di depan suamiku saja. Dan aku juga bisa bertahan selama dua tahun itu, berkat dukungan dari bulek Sri yang merupakan adik dari ayah mertua.

Iya, dan seperti saat ini, suami mengingatkan ku untuk menyisahkan sebagian lauk dari menu orderan makanan yang dipesan melalui jasa katering kecil milikku ini, untuk diberikan pada keluarganya, harusnya yang harus memenuhi gizi istri dan anaknya itu kan, Yoga, adiknya, bukan aku, enak saja, kita lihat saja nanti.

Aku lebih ikhlas memberi pada orang lain dari pada keluarga suamiku, bukan karena apa, tapi karena mereka yang terlalu memanfaatkan dan membodohi ku.

===

Akhirnya sudah beres semua, dan orderan pun sudah diambil oleh si pemesan, setelah mbak Tatik membantuku beres-beres, bergegas beliau pamit kepada ku, tak lupa keberikan upah dan juga membagi sisa dari lauk tadi dengannya, aku tahu beliau hanyalah seorang janda dengan dua orang anak yang masih bersekolah, dan memenuhi kebutuhan mereka dengan menjadi buruh tenaga serabutan.

Jika aku kuwalahan maka aku akan memanggil beliau untuk membantuku, meski tidak setiap hari ada orderan, namun bagi ku dan mbak Tatik tetap bisa mensyukuri dari apa yang telah kami peroleh.

Tak berselang lama dari kepulangan mbak Tatik, terdengar deru motor yang mirip dengan deru motor mas Guntur.

Tidak biasanya, karena ini terlalu siang untuk dia pulang dari tempat kerjanya.

"Assalamualaikum," terdengar suara orang mengucap salam.

Benar saja yang kudengar adalah suara dari mas Guntur.

"Waalaikumsalam," aku bergegas membukakan pintu yang sebelumnya aku berada didalam kamar untuk membaringkan dan meluruskan otot, setelah berkutat dengan olahan pesanan customer ketring kecil milikku yang baru kurintis, tepatnya satu tahun yang lalu.

Berawal dari ide ingin membagikan sedikit makanan untuk tetangga sekitar dalam acara memperingati hari lahir putri kecilku Zaskia yang kedua.

Karena mendapat banyak respon positif, dan menyarankanku untuk coba-coba berjualan online, akhirnya aku pun mencoba untuk menjajal menjajakannyabm secara online.

Karena sebelum-sebelumnya aku sudah berjualan online, maka tidak terlalu sulit bagiku untuk menawarkan produk baru dari toko online ku.

Mulai dari tetangga kanan kiri, hingga akhirnya sampai dikenal banyak orang meski dengan skala yang masih kecil.

"Loh, mas kok tumben, jam segini sudah pulang?" tanyaku ketika mas Guntur mulai masuk kedalam rumah dan beranjak menuju dapur rumah kami. "Kamu lagi nyariin apa mas?"

"Mana makanan yang tadi aku pesan untuk ibu dan mbak Mila?" tanyanya tanpa rasa berdosa.

"Emang kapan kamu pesannya? Ada uangnya gak?" tanyaku jengah dengan pola pikir suamiku.

"Kamu kan sudah dapat bayaran dari pemesan makanan yang masak tadi."

"Iya lah, kan DP yang dikasih sudah aku belanjaan sesuai dengan porsi makanan, dan bayaran penuhnya baru aku terima setelah makan itu diambil orangnya." jawabku.

Ekspresi mata yang membelialak dengan gigi-gigi yang saling bergemeletuk yang ditunjukkan oleh suamiku setelah mendengar penuturanku.

"Kamu kok perhitungan gitu sama keluargaku!" sungutnya.

"Mas, keluargamu aja perhitungan sama kita, khususnya aku."

"Perhitungan gimana?" tanya.

Munkin karena otak dan hati suamiku sudah dicuci oleh keluarganya.

"Ya kamu pikir sendiri lah, terus kamu perhitungan gak sama keluarga ku, coba kamu inget-inget ucapaku ada benarnya apa tidak!" sungutku. "Jangan kamu kira aku gak tahu, kamu kemaren kerumah ibumu kan? bukan kerja seperti yang kamu ucapkan sebagai alasan."

"Ka--kamu kok tahu," ucapnya tergagap.

"Iya aku sudah tahu dan sudah kuduga, bukan cuma itu, aku juga tersadarkan kalo selama ini kamu dan Keluargamu itu bekerja saja membodohi aku!" pungkasku. "Ingat mas, meski aku gak tahu kecurangan kalian dibelakangku, tapi Allah itu Mahs tahu, mas! Ingat itu."

Ku tinggalkan saja suamiku itu yang masih berada pada tempatnya.

Biar dia mikir, yang sudah dilakukannya itu sudah betul apa tidak.

Sepandai-pandainya menyimpan bangkai maka akan tercium juga, dan seperti kelakuanmu juga keluargamu pasti akan tercium juga olehku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED