"Aaaaa ... aaaa ... aaaa ...." Teriak ibu saat aku melintas di depan kamar beliau yang pintunya terbuka lebar.
Seperti biasanya, itu kode jika ibu menginginkan sesuatu. Bukan ingin BAB atau BAK karena jika ingin melakukan dua hal itu, ibu cukup membuangnya di tempat tidur lalu Andin akan buru-buru membersihkan.
Kode itu berarti ibu ingin minum atau makan, yang kedua-duanya harus disuapkan dengan telaten.
Mendengar teriakan ibu itu, bergegas aku memanggil Andin yang barusan kulihat sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Aku sendiri sedang buru-buru karena Mila sudah menungguku di apartemen, hendak mengajakku sama-sama hunting baju baru di butik.
"Din, Andin. Ini ibu manggil-manggil. Pengen makan mungkin!" teriakku pada Andin yang masih berada di dalam kamar mandi.
Mendengar teriakanku, Andin diam saja. Tumben? Biasanya istri penurutku itu akan cepat-cepat datang untuk melaksanakan perintahku. Tapi kali ini kelihatannya tidak meski aku yakin Andin pasti mendengar seruanku.
"Din? Andin?"
Ceklek. Pintu kamar mandi terkuak. Andin muncul dengan handuk melilit kepalanya.
"Ada apa, Mas?" tanyanya datar sambil dengan acuh tak acuh mengeringkan rambut lalu menggantung handuk di kapstok.
"Itu ibu manggil-manggil. Mungkin minta makan, Din," jawabku.
"Terus?"
"Terus? Maksudnya?" Aku mengernyitkan kening. Merasa heran dengan pertanyaan istriku itu. Apa perlu aku mengingatkannya untuk memberikan ibu makan?
Selama ini toh ia sudah tahu dan paham tugas itu tanpa harus diingatkan lagi?
"Kalau ibu minta makan terus kenapa? Hari ini Mas libur kerja kan? Apa nggak bisa Mas yang suapin ibu makan?" tanya Andin sembari membuka lemari pakaian lalu memilah-milih baju.
Lho, memangnya ia mau ke mana? Biasanya di rumah juga cuma dasteran. Tapi kenapa sudah dasteran kok masih mencari baju yang lain lagi?
"Mas yang suapin? Kan biasanya juga kamu yang nyuapin? Kok jadi mas?" Aku kembali mengernyitkan dahi menatap bingung istriku.
"Iya, itu kan kalau mas kerja. Kalau mas libur, apa salahnya gantian? Toh, itu ibu mas sendiri kan? Aku mau jalan sekali-kali Mas, suntuk di rumah terus. Hidup kan harus seimbang. Ada saat capek ada saatnya refreshing. Lagipula sudah lama aku nggak keluar. Pengen beli baju, Mas," ucap Andin sembari mengambil selembar gamis dan mematutnya di depan cermin.
Gamis itu seingatku dibelinya dua tahun yang lalu saat hendak lebaran. Masih terlihat baru karena memang jarang dipakai. Meski harganya tidak mahal, tetapi karena jarang dipakai jadi masih terlihat bagus. Lalu untuk apa lagi Andin ingin beli baju baru kalau yang lama juga masih bagus?
"Tapi, mas juga mau keluar, Din. Mas ada janji sama rekan bisnis, ada tender yang mau dibicarakan siang ini. Kamu aja urus ibu, ya?" kelitku beralasan supaya Andin batal keluar sehingga acara jalan-jalanku bersama Mila tidak terancam gagal.
Namun, melihat ekspresi datar wajah Andin, aku terpaksa menelan ludah.
Aku tahu watak istriku yang tidak banyak bicara dan tidak banyak permintaan ini.
Namun, jika ia sudah punya keinginan, pantang ditolak. Kalau tidak, bisa sebulanan ia ngambek hingga bisa-bisa ibu terlantar karena Andin tak mau lagi mengurus beliau.
"Setiap hari Mas keluar, sedangkan aku? Coba Mas hitung dalam satu tahun ini pernah nggak aku keluar dan ninggalin ibu sendirian? Aku juga manusia biasa, Mas. Punya rasa capek dan lelah. Pengen refreshing sekali-kali. Aku sudah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik di rumah ini. Tapi, kalau Mas nggak puas juga silahkan Mas cari yang lain. Aku nggak masalah dan nggak keberatan sama sekali kok," ujarnya datar lalu tanpa menghiraukan protes dariku, Andin membuka dasternya dan menggantinya dengan gamis di tangannya.
Mendengar perkataannya, aku hanya bisa menutup mulut dengan rasa kaget yang tidak bisa kusembunyikan.
Andin, ada apa dengan istriku itu hingga tiba-tiba sikapnya berubah dingin dan ketus seperti ini???
"Mas, aku pergi dulu ya. Tolong jaga Sekar dan Seruni. Aku nggak akan lama. Paling mau ke butik Jeng Dina aja. Lihat-lihat koleksi terbarunya yang kemarin dipajang di Instagram," ucap Andin sembari menyampirkan tas di pundak lalu bersiap pergi.
Aku yang sedang menyuapi ibu bubur nasi, hanya bisa melongo heran.
Aneh.
Tak biasa-biasanya Andin begini, ingin pergi ke butik segala untuk belanja pakaian.
Biasanya ia hanya akan menunggu setahun sekali untuk beli baju baru, itu pun cuma beli di kios kaki lima pinggir jalan, bukan di butik seperti ini. Apalagi butik milik Jeng Dina, seleb kompleks perumahan yang punya bisnis toko pakaian besar di kota ini.
Satu pertanyaan lagi, alasan apa sih yang tiba-tiba membuat istriku berubah drastis secepat ini? Dari istri kampungan dan tak bisa dandan, menjadi istri yang tiba-tiba peduli fashion, sampai hendak ke butik segala.
Ya. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri Andin hingga dia yang biasanya penurut dan tak pernah menuntut apa-apa kini seolah menjelma menjadi istri yang banyak maunya. Belum lagi sikapnya yang mendadak jadi dingin, sedingin salju dan ketus dalam berbicara. Ada apa ini???
Dan ... si*l! Harusnya aku yang pergi ke butik bersama Mila, bukan dirinya. Tapi apa daya, karena sibuk memikirkan perubahan sikap Andin yang begitu luar biasa ini, aku jadi luput mencegah kepergiannya sehingga jadilah rencanaku pergi bersama Mila gagal total.
"Oh ya, aku boleh pinjam ATM-nya Mas? Karena ATM-ku nggak berlaku lagi, harus ganti yang baru dulu baru bisa digunain lagi. Masalahnya aku belum sempat ke bank, Mas. Jadi, sementara aku bawa ATM mas aja ya buat belanja. Tenang, nggak akan habis dua puluh juta kok," ucapnya datar.
"Maksudnya?" Aku memicingkan mata, tak suka dan merasa semakin aneh mendengar perkataannya itu.
Ah, apa jangan-jangan Andin tahu ya kalau aku baru saja mentransfer uang pada Mila sebesar nominal itu hasil dari menang tender proyek kemarin ya?
Tapi tidak mungkin! Andin tak pernah sekalipun menyentuh ponselku apalagi mengetahui sandinya. Lalu bagaimana bisa ia tahu kalau aku baru saja memberi Mila sejumlah uang sebanyak itu?
Ia istri yang polos dan tak banyak menuntut. Tak mungkin berbuat macam-macam seperti kebanyakan perempuan lain. Jadi, tak perlu rasanya aku menjatuhkan rasa curiga secara berlebihan kepadanya.
"Nggak papa, Mas. Ya, sudah ya. Aku pergi dulu. Nanti nggak selesai-selesai kalau nggak pergi-pergi. Mana ATM-nya, nanti aku kembalikan lagi," ujarnya sembari mengulurkan telapak tangan hingga aku terpaksa merogoh dompet dan mengeluarkan benda itu dari dalamnya.
Andin menerima dengan wajah datar tetapi netranya fokus menatap ke arahku.
"Password-nya? Masih yang lama, Mas?" tanyanya.
Ya, Tuhan. Bagaimana ini? Password-nya baru saja kuganti!
Password lama ATM itu adalah tanggal pernikahan kami, tetapi sejak menikah dengan Mila sebulan lalu, password itu sudah kuganti menjadi tanggal pernikahanku dengannya, atas permintaan Mila.
Ah, bagaimana ini? Gawat kalau Andin sampai marah dan curiga akibat password ATM itu telah kuganti menjadi tanggal pernikahanku dengan Mila. Bisa-bisa ia ngambek dan tak mau lagi merawat ibu selama-lamanya.
"Kenapa, Mas?"
"Emm ... password-nya udah kuganti, Din. Kan kita disuruh sering-sering ganti password supaya nggak dibobol orang," kelitku berusaha membuatnya tidak curiga.
"Oh. Jadi berapa nomornya?" tanyanya dengan suara datar.
Aku menyebutkan sederet nomor yang kuingat di luar kepala yang membuat sejenak wajah Andin berubah.
"Oh, itu bukannya tanggal saat Mas pamit keluar kota kemarin terus nggak pulang-pulang ya? Tahu-tahu posting foto lagi di Bali? Ya, udah. Aku bawa dulu. Jangan lupa kalau ibu BAB dan BAK, tolong dibersihkan ya!"